WUMMM

WUMMM
11. Era Modern Berbasis Internet



Milyaran tahun sejak pemusnahan kaum naga dan kaum alien telah berlalu. Tidak ada lagi manusia yang mengetahui sejarah tersebut akibat campur tangan kelompok yang telah menyembunyikan kedua pusaka itu.


Mereka membuat sejarah konspirasi tentang dinosaurus yang punah akibat jatuhnya meteor bahkan tentang asal usul manusia yang merupakan evolusi dari kera.


Dengan menggunakan kedua pusaka itu yang saat ini mereka gabung menjadi sebuah helm logam dengan batu teleportasi yang menempel dikening helm tersebut beserta kalung rantainya melingkari helm. Mereka menghias dan mewarnai helm tersebut dengan warna hitam, merah gelap dan hijau gelap dengan corak seperti baju tentara.


Mereka juga memasang batu-batu pengukur disekeliling helm tersebut sebagai penghias karena dianggap sudah tidak berfungsi akibat punahnya manusia yang mampu berkultivasi selain kelompok mereka yang terdiri tidak lebih dari dua ratus orang.


Mereka masih menunggu sang pewaris sesuai dengan cerita dari leluhur mereka dan burung phoenix yang datang setiap seribu tahun lewat mimpi.


Dengan helm pusaka, mereka mampu teleportasi dan bersembunyi mencuri rahasia suatu perusahaan. Mereka mengetahui bila helm tersebut sudah tidak berfungsi lagi berarti sang pewaris telah menyerap inti phoenix dan mereka harus mencari dan menguasai anak tersebut dengan bantuan batu pengukur.


Kelompok tersebut menamakan organisasi mereka dengan kelompok "Bunga Matahari" dengan harapan kelompok mereka akan senantiasa indah dan wangi layaknya bunga serta hangat dan cerah layaknya mentari.


[Sementara itu di sebuah negeri yang menggunakan bahasa persatuan, bahasa indonesia]


Di sebuah panti asuhan, seorang anak kecil berumur enam tahun, harus berjuang mencari tambahan biaya sekolah dengan memulung sampah di jalan. Anak tersebut saat ini kelas dua sd dan sering di bully oleh teman-temannya karena miskin dan kondisi fisiknya sangat kurus dan lemah.


Anak tersebut bernama Elte Yawarakai, anak dari pasangan guru sma yang terlibat cinta lokasi sejak kuliah. Walaupun mereka aslinya dari suku campuran MaJaBu yakni Makassar, Jawa dan Bugis. Namun mereka sepakat memberi nama anaknya dengan nama jepang karena suatu alasan dimana sang suami pernah memergoki siswanya akan menonton di kelas dengan judul cd film "video cabul".


Setelah menyita cd film tersebut, pasangan suami istri tersebut sepakat nonton bersama nanti malam sebagai pemanasan karena mengira cd film tersebut berisi film porno.


Ternyata setelah diputar, cd film tersebut berisi film-film kartun jepang seperti dragon ball, naruto dan one piece.


Kecewa dengan film yang diputar, besoknya sang suami menyidang siswa yang membawa cd film tersebut.


"Hai, kenapa kamu memberi nama cd film kemarin dengan nama folder video cabul" ucap sang guru kepada siswanya.


"Maaf pak, soalnya film-film kartun di dalamnya bisa membantu pengembangan karakter anak-anak dalam menghargai persahabatannya pak, layaknya naruto kepada sasuke atau luffy kepada crewnya" ucap siswa dengan kaki gemetar.


"Lah trus apa hubungannya dengan judul folder kamu cabuk... hah" bentak sang suami kepada siswanya.


"Cabul itu kepanjangan dari Character Building pak, yang artinya pengembangan karakter" jawab sang siswa sambil mulai terisak ketakutan.


"Oooooooooo" sang guru hanya bisa mengangguk malu.


"Baiklah kalo begitu, kamu silahkan kembali ke kelas dan jangan ulangi perbuatanmu lagi ya" ancam sang guru


"Baik pak" ujar siswa sambil lari kembali ke kelas.


Dari kejadian memalukan tersebut sang guru beserta istrinya pun mulai terjebak karena penasaran dan akhirnya kecanduan membaca komik manga dan nonton anime jepang.


 


Itulah alasan kenapa pasangan suami istri yg keduanya mengajar sebagai guru memberikan nama anaknya dengan nama yang mirip nama jepang. Dan nama itulah juga yang menjadi salah satu alasan sang anak kelak sering jadi bahan ejekan karena namanya jepang tapi mukanya pribumi asli MaJaBu.


[Lima tahun pun berlalu kembali ke saat ini]


Saat Elte berumur lima tahun, ayah elte mengalami kecelakaan karena mencoba membantu seorang nenek pengemis yang mencoba menyeberangi jalan tanpa mengikuti lampu lalu lintas. Kecelakaan tersebut menyebabkan si pengendara motor yang ternyata anak dari seorang dewan menuntut ibu elte untuk bertanggung jawab.


Karena ibu elte tidak bisa mengganti pengobatan si pengendara motor tersebut, orang tua dari pengendara tersebut menyewa preman peliharaannya untuk membakar rumah elte dan rumah si nenek pengemis.


Ibu elte mengorbankan dirinya terbakar api demi menyelamatkan anaknya.


"Nak, tetaplah menjadi manusia yang Baik, Benar dan Bermanfaat bagi masyarakat nak.


Kamu harus bisa bersikap lembut kepada orang lain tapi dapat bertindak tegas terhadap orang yang salah" pesan ibunya sebelum meninggal


"Ibuuu.... jangan tinggalkan elte bu, bagaimana sekarang dengan hidup elte. Huu huu huu" ratap elte yang sangat sedih melihat ibunya yang telah terpejam


Para tetangga saling bahu membahu menyiram api yang telah membesar sambil menunggu pemadam kebakaran.


"Kasihan ya pak, padahal suami istri yang juga guru dari anak kita di sekolah adalah sosok tetangga yang sangat baik" ucap tetangga elte


" iya bu, kasihan elte sekarang diumurnya yang masih lima tahun sekarang dia harus menjadi anak yatim piatu." Balas suami dari wanita tersebut


"Padahal orang tuanya adalah anak tunggal sehingga tidak ada lagi sanak family yang dapat menampung elte" ratap tetangganya yang perempuan sambil memandang haru ke elte


Kabar kematian ayah elte akibat kecelakaan ditabrak motor, dan ibu elte akibat kebakaran, menjadi bahan cerita para tetangga.


Elte yang saat itu baru kelas satu sd kini hanya bisa menatap rumahnya yang sudah hangus terbakar.


Saat ini lokasi sisa kebakaran itu telah dipasangi police line untuk membatasi akses warga ke lokasi tersebut


"Dari hasil penyelidikan kami, bahwa kebakaran terjadi akibat kelalaian dari korban" kata seorang polisi ke depan wartawan yang sedang datang meliput


"Kebakaran rumah juga merembet ke rumah tetangga sekitar, setidaknya ada sepuluh rumah yang ikut terbakar atas insiden ini" ucap polisi tersebut menambahkan penjelasannya


"Jadi bagaimana dengan kondisi korban pak" tanya para wartawan yang mulai ramai mendatangi lokasi sisa kebakaran


"Korban jiwa hanya satu orang  yang diduga lalai menyebabkan kebakaran akibat tabung gas bocor dan ditemukan ada bekas puntung rokok di meja tamu" jawab sang polisi yang sebenarnya telah diatur oleh ayah dari pengendara motor yang menabrak ayah elte


"Maaf pak, kenapa bisa ditemukan bekas puntung rokok sebagai pemicu kebakaran dalam kondisi tidak gosong pak padahal rumah yang terbuat dari kayu dan tembok bisa hangus terbakar pak" tanya seorang wartawan


"Oh, untuk itu akan kami selidiki" kaget polisi karena tidak siap menjawab pertanyaan dari wartawan


Apakah ada hubungan kedua insiden ini pak" tanya salah seorang wartawan membuat warga kaget tidak percaya


"Untuk kabar itu akan kami selidiki lebih lanjut" jawab sang polisi mulai kesal.


"Terus bagaimana dengan nasib dari anak korban pak" tanya wartawan lainnya


"Kami akan bawa ke panti asuhan untuk dititipkan sampai ada salah seorang keluarganya mau datang menjemput" balas polisi


"Jika masih ada yang mau bertanya  silahkan ke kantor polisi, karena kami akan melanjutkan tugas kami" lanjut polis tadi segera menambahkan


"Sialan...!!! sengaja undang wartawan agar membuat warga antipati kepada korban, eh ada wartawan yang terlalu kepo atau ingin tahu" jengkel sang polisi di dalam hatinya


[Esok hari kemudian...]


Elte saat ini telah berada di panti asuhan, berkat dorongan dari guru-guru sekolah, elte tetap melanjutkan sekolahnya dengan bantuan sumbangan dari bantuan tetangga dan rekan kerja dari orang tua elte sesama guru.


Elte juga mendapatkan beasiswa untuk keringanan biaya sekolah karena elte adalah anak yang pintar dan disukai oleh para guru di sekolah.


Di dalam panti, elte diharuskan bekerja sebagai pemulung untuk membantu biaya sekolahnya sendiri. Elte juga diberikan tugas rumah seperti mencuci pakaian dan piring kotor, menyapu halaman dan mengepel lantai serta membantu memasak di dapur.


Kesehariannya bekerja bersama para anak-anak di panti asuhan, tidak terasa berat karena elte menyadari bahwa dia hanya bisa pasrah menerima keadaannya, dengan keadaan panti yang mengharapkan sumbangan dari para dermawan menyebabkan kondisi anak-anak panti menjadi kurus karena makan apa adanya.


Pengurus panti adalah seorang wanita tua yang sangat menyayangi anak-anak asuhan terkadang tidak tega menyuruh anak-anak tersebut bekerja keras namun dia harus mendidik anak-anak asuhan untuk bekerja keras demi kelangsungan hidup bersama.


[Setahun kemudian...]


Elte telah berumur enam tahun dan naik ke kelas dua, dengan statusnya sebagai juara sekolah karena kecerdasannya dan juga karena murid kesayangan semua guru dan kepala sekolah, membuat banyak teman teman elte merasa cemburu dan tidak suka.


Sewaktu pulang sekolah, elte sering dihadang oleh teman teman sekolahnya untuk menghina dan memukuli elte.


"Dasar anak miskin bau..." bentak salah seorang anak yang sangat kesal dengan elte


"Buukk....buukk...buukk..."


Perut elte dipukul oleh anak yang kesal tadi


"Ha ha ha ha  .... rasain tu anak miskin" ucap teman temannya menyaksikan elte dipukul


Setelah puas membully elte, anak-anak itu pun lalu meninggalkan elte.


Elte hanya bisa diam menerima kondisinya karena elte tidak bisa melawan. Bukannya karena elte takut, tapi elte sadar jika dia melawan maka orang tua anak tersebut bisa datang melapor ke sekolah dan beasiswa bantuan dari sekolah bisa terancam dicabut.


"Ayah...ibu..., tolong doakan elte agar bisa kuat menerima cobaan ini." Ratap elte dalam doanya


Setiap pulang sekolah, elte selalu menyempatkan untuk ke kuburan kedua orang tuanya untuk membersihkan dan menceritakan pengalamannya.


Setelah puas berkeluh kesah di depan nisan kedua orang tuanya, elte pulang untuk makan siang yang sederhana seperti nasi putih dan dua potong tempe ditambah sejumput kecil garam kasar.


Setelah meminum dua gelas air minum agar kenyang, elte melanjutkan keluar panti untuk mulai mencari barang bekas


Tempat yang paling sering didatangi elte adalah di depan museum, karena banyak anak-anak muda nongkrong dan membuang bekas minuman mereka sembarangan.


Kebiasaan buruk anak-anak tersebut menjadi sumber rejeki bagi elte.


Elte juga tidak lupa untuk memeriksa tempat sampah di samping museum untuk mencari barang-barang bekas yang bisa dijual.


Walaupun elte mencari barang bekas di tempat sampah, namun elte akan selalu menjaga kebersihan sekitarnya termasuk pakaiannya sendiri karena setiap masuk waktu beribadah, elte akan selalu mencari tempat sepi untuk ikut beribadah.


Elte tidak berani masuk ke tempat beribadah karena elte takut para jamaah nanti jijik beribadah didekatnya. Meski pun pengurus tempat ibadah sangat baik dan kadang memberikan makanan ke elte, namun elte menyadari kondisinya dan tidak ingin merepotkan pengurus itu


Elte akan kembali ke rumah saat malam sekitar pukul 19.30, lalu ikut serta bekerja membantu membersihkan panti hingga pukul 22.30, kemudian tidur bersama anak-anak panti, di lantai beralaskan kasur yang sudah sangat tipis.


Elte akan bangun pukul 04:00 lalu beribadah di waktu subuh, setelah itu, elte kembali bekerja menyapu halaman dan mencuci pakaian yg kotor, setelah pukul 06:00, elte pergi mandi menggunakan sabun batang untuk menyabuni badan dan sabun itu juga berfungsi sebagai sampo. Sabun ini juga digunakan untuk mencuci pakaian elte yang dicuci saat mandi.


Elte tiba di sekolah lima belas menit sebelum jam tujuh. Sambil menunggu waktu belajar, elte menyempatkan diri untuk membaca buku tentang materi yang akan diajarkan oleh guru.


Seperti itulah keseharian elte di hari sekolah. Jika akhir pekan tiba maka waktu liburnya digunakan lebih banyak untuk memulung sampah dan membersihkan jalan.


Di akhir semester setelah pembagian rapor, anak-anak siswa akan mendapatkan hari libur selama sebulan. Elte lebih banyak menggunakan waktu liburnya dengan bekerja memulung sampah.


Elte tidak bisa mencari pekerjaan tambahan karena selain usianya masih sangat muda, orang-orang juga takut menerima elte bekerja karena bisa dilaporkan di Komnas perlindungan anak dengan tuduhan menpekerjakan anak di bawah umur.


Elte merasa aturan tersebut sangat membatasi dirinya untuk mencari penghasilan tambahan. Hanya memulung sampah bekas yang bisa dia kerjakan.


Seperti inilah era jaman sekarang, era teknologi modern berbasis internet yang dikatakan sudah tidak mengenal lagubsistem perbudakan dan sistem kasta.


Namun justru di era ini masih banyak terjadi kesenjangan sosial.


Anak-anak yatim piatu yang harusnya menjadi tanggung jawab negara.


Namun ternyata masih harus berjuang menyambung hidup dengan memulung sampah bahkan ada yang mengemis di jalanan dekat lampu lalu lintas. 


Seperti kisah elte yang akan menjadi tokoh prontagonis dalam cerita ini.