
Setelah polisi tersebut pergi dari rumah pak jaya, elte lalu menghampiri yuni yang masih menenangkan ibunya yang sedang menangis.
"Yuni.... ada apa dengan tante yeyen, kenapa beliau bisa dituduh malpraktek" tanya elte yang kurang percaya dengan informasi polisi tadi.
"Sepertinya seseorang telah menjebak tante yeyen... ayah dari bapak gubernur ibu kota negara sedang sakit gigi dan memutuskan untuk memeriksakan diri di rumah sakit milik ayah" kata yuni mulai menceritakan kejadian sebenarnya.
"Lho cuman sakit gigi kok sampe urusannya ke polisi, emang tante yeyen salah cabut gigi ya?" Kata elte masih belum mengerti penyebab tantenya dibawa ke kantor polisi.
"Bukan bu yeyen yang mengurusi pasien tersebut, tapi anak magang yang baru masuk" kata yuni melanjutkan penjelasannya.
"Sepertinya anak magang itu salah kasih obat sehingga pasien yang awalnya cuman sakit gigi kini malah koma tidak sadarkan diri."
"Keluarga pasien dalam hal ini anak dari bapak gubernur ibu kota negara tidak menerima dan melaporkan kejadian tersebut."
"Saat anak magang itu diinterogasi oleh polisi, ia mengaku kalau disuruh oleh tante yeyen. Makanya saat ini tante dimintai keterangan di kantor polisi. Hal yang memberatkan tante karena ada surat kaleng masuk ke rumah gubernur yang menyatakan kalau tante yeyen sedang mencoba formula obat barunya." Kata yuni menjelaskan penyebab tuduhan tersebut.
Pak jaya yang mendengar cerita yuni melanjutkan penjelasannya : "hal yang memberatkan yeyen, karena anak magang itu menyuntikan formula obat yang sedang menjadi riset penelitian yeyen di kampus."
"Obat itu sebenarnya obat penenang yang mempengaruhi syaraf otak dan belum selesai di riset, kami sendiri heran mengapa anak magang itu bisa mendapatkannya."
"Wah... ribet juga ya" kata elte dalam hati.
"Sayang.... bukannya kamu punya kemampuan menyembuhkan orang sakit, kenapa tidak kamu sembuhkan saja orang tua dari bapak gubernur agar ia tidak menuntut tante yeyen" kata yuni yang keceplosan menyebutkan kemampuan elte di depan orang tuanya sendiri. Elte sempat terkejut melihat tunangannya yang keceplosan.
"Oh iya benar.... tolong nak bantu tantemu nak.... saat ini ia sedang hamil muda dan ini adalah kehamilan pertamanya, kasihan nak kalo bu yeyen sampai stress berlebihan" kata bu yuyun tiba-tiba bersemangat.
Elte hanya menghembuskan nafasnya sesaat dan mendengar permohonan dari perempuan yang sudah menolongnya dan mengangkatnya jadi anak asuh bahkan calon menantu.
"Baiklah bu... tapi kita perlu kamuflase, tidak mungkinkan mereka akan sudi diperiksa oleh anak sekolah sepertiku." Kata elte setelah diam sejenak.
"Kau benar nak.... bagaimana pa solusinya" kata bu yuyun menatap suaminya yang hanya terdiam.
"Begini saja yah... Kita jemput saja tante yeyen di kantor polisi kemudian berpura-pura menyembuhkan pasien, nanti elte yang menyembuhkannya" kata yuni memberikan sarannya.
"Ide yang bagus... kalau begitu mari kita semua ke kantor polisi menjemput karya dan yeyen, lalu kita ke rumah pak gubernur untuk menyembuhkan pasien." Kata pak jaya sambil bergegas ke kamar untuk bersiap-siap.
"Ke rumah pak gubernur ? Apakah pasien tidak beristirahat di ruang ICU ?" Tanya elte
"Mereka sudah kehilangan kepercayaan dengan rumah sakit kita nak, mereka masih trauma dengan kasus dugaan malpraktek" jawab bu yuyun yang sudah mulai tenang.
Beberapa saat kemudian pak jaya turun dari kamarnya lalu membawa istrinya, anak perempuannya dan calon menantunya ke kantor polisi.
"Untung yuna saat ini sedang jalan ke mall bersama ibu mertuanya yang datang berkunjung tadi pagi" kata bu yuyun di dalam mobil dan diangguki oleh suaminya.
Beberapa menit kemudian elte tiba di kantor polisi yang tadi siang baru ia tinggalkan. Mereka lalu ke ruang informasi untuk menanyakan posisi bu yeyen dan suaminya.
Setelah mendapatkan penjelasan dari seorang polisi di ruang informaai tersebut, pak jaya dan keluarganya menuju ruang interogasi. Beberapa menit kemudian setelah bernegosiasi, bu yeyen dapat dilepaskan dengan uang jaminan dan tidak boleh keluar kota serta tetap harus melapor tiap hari ke kantor polisi.
Mereka lalu bersama-sama menuju rumah jabatan Gubernur ibu kota negara. Dalam perjalanan yuni bertanya ke ayahnya : "ayah apakah kedatangan kita akan disambut baik oleh mereka. Bukankah mereka berpikir bahwa tante yeyen yang menciderai keluarga mereka".
Pertanyaan yuni yang blak-blakan tidak mengingat keberadaan yeyen yang sedang duduk dibelakang bersama suaminya. Tangan yeyen hanya mencengkeram kuat lengan suaminya karena ikut merasa tegang. Sang suami pun membelai perut istrinya dan memberi kode agar tidak stress. Yeyen lalu mengatur nafasnya agar lebih tenang.
"Pak gubernur bukanlah tipe pemimpin yang otoriter, beliau adalah sosok yang tidak tumbang karena cacian dan tidak terbang karena pujian." Kata pak jaya menenangkan yuni dan yeyen yang ada dibelakangnya. Saat ini pak jaya duduk di depan, disamping pak jarwo yang sedang bekerja mengendarai mobil supaya baik jalannya. Dibelakangnya, ada yuni duduk di tengah diapit oleh bu yuyun dan elte. Sedangkan dibagian paling belakang, ada bu yeyen dan pak karya.
Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di rumah pak gubernur. Di depan pagar rumah tersebut, terdapat sebuah mobil yang menandakan bahwa ada tamu yang sedang berkunjung.
Pak jaya lalu mengajak keluarganya ke dalam rumah tersebut dan menekan bel pintu yang ada di pintu rumah.
Setelah beberapa saat menunggu, pintu pun terbuka dan seorang pria muda terlihat dan menyapa mereka semua dengan sopan : " iya selamat siang semua.... kalau boleh tahu dengan siapa dan cari siapa".
"Begini nak, apakah bapak gubernur ada di rumah, kami berencana mau menjenguk ayah beliau yang telah koma akibat kelalaian dokter magang di rumah sakit kami" kata pak jaya tidak kalah sopannya.
Sang pemuda itu terkejut mendengar kata-kata pak jaya, ia kemudian menatap mereka satu persatu. Saat matanya menatap bu yeyen tiba-tiba amarahnya memuncak.
"Oohhh.... kamu ya dokter malpraktek yang sudah bikin kakekku koma... mau ngapain kau ke sini...." kata pemuda itu menunjuk muka bu yeyen.
"Security.... usir mereka..." teriak pemuda itu memanggil security di rumahnya. Security yang saat itu sedang membantu tamu pak gubernur untuk membawa perlengkapan pengobatan terkejut mendengar suara tuan mudanya.
Pak gubernur dan dokter pengobatan tradisional itu saling menatap dengan heran. Pak gubernur lalu ijin keluar sebentar untuk melihat apa yang sedang terjadi di luar. Dengan diikuti oleh security rumah, pak gubernur menghampiri pak jaya dan keluarganya.
"Eehhh.... ada pak jaya silahkan masuk pak..." kata pak gubernur sopan mempersilahkan salah satu tim suksesnya untuk masuk ke rumah. Pak jaya adalah salah satu tim sukses yang membantu biaya kampanye sang gubernur tanpa meminta proyek balas budi kepada gubernur.
Pak jaya dan beberapa pengusaha jujur lainnya mendorong sang gubernur untuk tetap mencalonkan dirinya kembali karena beberapa lawan politiknya di support oleh beberapa investor asing dan menuntut proyek balas budi untuk menggerogoti kekayaan alam negara indonesia.
Sang gubernur lalu menatap anaknya dan berkata : "anakku jaga sikapmu terhadap tamu kita nak"
"Tapi yah itu dokter yang sudah melakukan malpraktek terhadap kakek" kata pemuda itu menatap benci terhadap bu yeyen.
"Bukan nak.... pelaku malpraktek itu adalah dokter magang dan saat ini ia sudah ditahan....biarkan proses hukum yang berjalan nak, jika bu yeyen memang terbukti sebagai otak pelaku malpraktek maka ia pasti akan mendapatkan ganjarannya. Namun bagaimana jika itu hanyal fitnah dari lawan bisnis dari pak jaya." Kata sang gubernur dengan bijak.
Pemuda itu diam sejenak berpikir lalu berkata : "maafkan aku bapak ibu, aku hanya terbawa emosi melihat kondisi kakekku yang awalnya cuman sakit gigi kok malah jadi koma"
"Tidak apa-apa nak, kami maklum dengan sikapmu... dan buat bapak gubernur, terima kasih atas kesabaran dan kebijakan bapak" kata pak jaya.
"Oh iya silahkan masuk pak untuk berbicara sambil duduk di ruang tamu" kata sang gubernur, ia juga meminta security yang sedang asyik menonton kisah drama tersebut untuk masuk dan memberitahu pembantu di dapur untuk membuat teh.
Saat pak gubernur hendak membuka pembicaraan, security itu kembali dan bertanya : "Maaf pak, kata mbok di dapur, mau bikin berapa gelas teh pak"
Sang gubernur hanya menarik lalu menghembuskan nafasnya. Ia lalu menghitung jumlah tamunya dan memberitahukan jumlah gelas teh yang akan dibuat.
"Tidak usah repot-repot pak gubernur, kami hanya ingin menawarkan kembali bantuan untuk memeriksa ayah dari pak gubernur" kata pak jaya dengan sopan
"Jadi bagaimana pak tehnya, jadi dibuat tidak" tanya security itu dengan bingung.
Sang pemuda, anak gubernur yang tadi memarahi bu yeyen lalu berdiri mohon ijin pamit dan segera menarik security itu kembali ke dapur. Ia menyuruh security itu kembali ke pos jaganya lewat pintu samping. Sebelum keluar rumah ia kembali bertanya : "jadi bagaimana dengan teh nya tuan"
Security tersebut lalu didorong oleh pemuda itu agar segera ke pos jaganya. Sang security itu pun kembali ke pos jaganya dengan membawa rasa penasaran tentang jumlah teh dan kepastian apakah teh itu jadi dibikin atau tidak.
"Oh terima kasih banyak pak jaya atas niat baiknya.... kebetulan saat ini pak Halim drajat selaku dokter pengobatan tradisional sedang memeriksa kondisi ayah saya. Kita tunggu saja hasilnya" kata sang gubernur dengan sopan.
Sang gubernur memang orang yang selalu bersikap sopan dengan siapa saja. Dengan orang kaya, dengan orang miskin, dengan orang tua, dengan anak muda, dengan kawan kerabat dan bahkan dengan lawan politiknya.
Beberapa menit kemudian, pak halim drajat keluar dengan kening yang penuh keringat. Pak gunernur lalu menghampiri dokter tradisional tersebut.
Walaupun demikian, saat ayah sang gubernur sedang sakit gigi, cucunya lebih memilih membawa kakeknya ke rumah sakit daripada pengobatan tradisional milik halim drajat.
"Bagaimana dokter dengan kondisi ayahku di dalam?" Tanya sang gubernur terlihat khawatir.
"Maafkan aku pak gubernur, aku sudah mencoba memeriksa kondisi pasien dengan tenaga dalamku namun aku belum bisa mendapatkan penyebab penyakitnya." Kata halim drajat sambil memohon maaf atas kegagalannya.
Sang gubernur hanya dapat menghembuskan nafasnya sambil memijit sendiri keningnya.
"Maaf pak gubernur, apakah boleh adik iparku memeriksa kondisi ayah anda? Bagaimanapun obat yang diberikan oleh anak magang itu adalah hasil riset penelitiannya, siapa tahu adik iparku bisa memberikan solusi" pak jaya merangkai kata dengan sebaik mungkin agar tidak menyinggung sang gubernur maupun dokter tradisional itu.
"Ciihhhh...." halim drajat sang dokter tradisional sedikit kesal dengan ucapan pak jaya. Selama ini jika pengobatan modern tidak berhasil menyembuhkan pasiennya, barulah ia dipanggil sebagai alternatif. Halim drajat menilai masyarakat sekarang kurang percaya dengan pengobatan tradisional yang ia tekuni. Seingatnya selama ini ia tidak pernah gagal menyembuhkan pasiennya. Baru kali ini ia menemukan penyakit aneh yang ia tidak kenali.
Mendengar cibiran sang dokter tradisional tersebut, pak gubernur merasa tidak enak dan mencoba menolak tawaran pak jaya.
"Maaf pak.... bukannya kami tidak percaya dengan bu yeyen, namun yang aku dengar dari penjelasan para polisi bahwa riset penelitian bu yeyen belum selesai dan masih dalam tahap riset. Aku takut jika terjadi apa-apa dengan ayahku akan berimbas terhadap masa depan bu yeyen" pak gubernur mencoba menolak dengan sopan karena tidak ingin menyinggung halim drajat.
Elte sedikit mengkerutkan keningnya melihat halim drajat, ia merasa seperti pernah melihat kakek itu, namun ia lupa dimana. Halim drajat adalah orang yang pernah ditolong oleh elte saat di tembak dan kedua cucunya hampir diperkosa. Namun karena saat itu elte lebih fokus dengan luka sang kakek daripada menyimak wajah pucat pasi kakek tersebut, makanya elte tidak lagi mengingat dengan jelas wajah kakek tersebut.
Pak jaya hanya menghembuskan nafasnya sambil menatap elte dan bu yeyen. Saat ia hendak ijin pamit pulang ke rumah, yuni kembali keceplosan dan berkata ke pak gubernur : "Sayang sekali pak kalau ayah pak gubernur tidak sempat diperiksa, selain tante yeyen, tunanganku juga sangat ahli dengan pengobatan tradisional, siapa tahu ia lebih hebat dari kakek tua ini."
Pak jaya tersentak mendengar ucapan putri bungsunya, ia lalu memarahi yuni dan berkata : "Jaga bicaramu nak, sangat tidak sopan berbicara seperti itu."
Halim drajat yang merasa ditantang oleh gadis muda itu, tidak menerima kalimat gadis itu.
"Eh benarkah kalo tunanganmu mengetahui pengobatan tradisional, jenis pengobatan apa yang bisa dilakukan tunanganmu itu ? Apakah ia ikut di rombongan kalian saat ini" halim drajat berkata sambil mempelajari wajah keluarga pak jaya, ia lalu memperhatikan wajah dan tubuh elte.
"Apakah kau tunangan gadis muda ini" tanya halim drajat ke arah elte.
Elte dan yuni hanya bisa tertunduk diam tidak berani menjawab pertanyaan dokter tradisional itu.
"Aahhhh iya anda benar pak.... pemuda ini adalah calon menantuku, maaf atas kelancangan putri bungsuku." Kata pak jaya yang sedikit khawatir kemampuan calon menantunya akan terungkap.
"Calon menantuku sedang belajar tentang kedokteran dengan adik iparku dan kebetulan ia juga banyak membaca buku-buku soal pengobatan tradisional, tentunya keahliannya tidak sehebat pak halim yang sudah banyak makan asam garam" kata pak jaya mencoba meralat ucapan putrinya.
"Aku sangat berharap pak gubernur dan pak halim drajat berkenan mengizinkan adik iparku beserta calon menantuku selaku asistennya untuk memeriksa sang pasien" kata pak jaya sambil menunjuk bu yeyen dan elte bergantian.
Halim drajat masih mempelajari wajah dan tubuh elte. Ia mencoba merasakan dari tubuh elte apakah ada jejak tenaga dalam ditubuhnya atau tidak. Kemampuan untuk membaca tenaga dalam adalah salah satu metode pengobatan tradisional yang ia pernah pelajari dari buyutnya.
Setelah yakin tidak menemukan jejak tenaga dalam atau ki atau chi di tubuh elte, ia kembali memandang rendah anak muda di depannya. Dokter tradisional itu lalu berkata ke pak gubernur : "hhmmmm..... berikan saja mereka kesempatan. Tidak ada salahnya mencoba".
Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter tradisional tersebut, pak gubernur lalu mengajak pak jaya, bu yeyen dan elte untuk memeriksa ayahnya. Saat tiba di kamar ayahnya, bu yeyen terlihat kebingungan karena baru sadar bahwa saat ini ia tidak membawa tas dokternya yang berisi perlengkapan untuk memeriksa pasien.
Elte yang menyadari hal itu lalu meminta ijin ke pak gubernur untuk memulai proses pemeriksaannya. Setelah mendapatkan ijin, elte lalu berpura-pura memeriksa nadi pasien seperti yang pernah ia tonton di internet. Ia lalu mengaktifkan kemampuan persepsinya untuk memeriksa kondisi pasien.
Elte sangat terkejut dengan kondisi tubuh pasien karena ia menemukan elemen kegelapan di dalam otak pasien.
Melihat kening elte mengkerut, pak jaya dan bu yeyen sedikit khawatir. Elte lalu membuka matanya dan menatap pak jaya dengan tatapan pusing.
"Waduh... apa yang harus aku lakukan nih, satu-satunya cara menyembuhkan pasien ini adalah dengan menyerap elemen kegelapan itu dan mengalirkan elemen cahaya ke otak pasien. Tapi bagaimana dengan pak gubernur, pak jaya dan bu yeyen, mereka bisa melihat kemampuanku." Elte berkata dalam hatinya.
"Ehem.... apakah pak gubernur memiliki sebuah tanaman akar atau umbi-umbian yang berwarna jingga atau orange dan biasa kita kenal dengan nama wortel" kata elte kepada pak gubernur.
Kening pak gubernur mengkerut mendapatkan pertanyaan elte yang tidak biasa, dokter tradisional yang ia undang biasanya berbicara soal tanaman langkah seperti gingseng seratus tahun, persik seribu tahun, akar teratai yang tumbuh di danau di atas gunung bersalju dan sejenisnya. Namun anak muda ini malah minta wortel dengan bahasa yang berbelit-belit.
"Ehem mungkin juga kita perlu sebuah tanaman akar atau umbi-umbian yang berwarna coklat dan bentuknya seperti batu sebesar kepala tangan anak kecil. Tanaman itu biasa dikenal dengan sebutan kentang" kata elte yang makin berbelit-belit.
"Iya kami punya wortel dan kentang di dapur, apakah kau membutuhkannya untuk mengobati ayahku" tanya sang gubernur kepada elte.
"Oh baguslah... bisakah kau meminta orang di dapur untuk mencari seekor ayam hitam atau ayam putih atau terserah warna apa saja lalu menyembelihnya menghadap kiblat kemudian masaklah ayam tersebut dengan wortel, kentang dan beberapa bumbu yang ada untuk membuat sup kaldu ayam" kata elte yang berharap agar pak gubernur mau meninggalkan dirinya dikamar untuk menyembuhkan sang pasien.
"Dan untuk siapakah sup kaldu ayam itu" tanya pak gubernur kepada elte.
"Untuk pasien tentunya... saat ia bangun nanti pasti ia akan merasa kelaparan setelah koma" kata elte sambil mengingat pengalamannya saat sadar dari koma. Untung saja ia punya kemampuan untuk mengembalikan stamina.
Elte lalu menggunakan kemampuan hipnotisnya kepada pak gubernur agar segera ke dapur membuat sup kaldu ayam. Setelah pak gubernur ke dapur, elte lalu menghipnotis pak jaya dan bu yeyen agar mengantuk dan tertidur di kursinya masing-masing.
Setelah yakin merasa aman, ia lalu mengaktifkan kultivasi pelahap kilat untuk menyerap elemen kegelapan di dalam tubuh kakek itu. Kemudian ia mengaktifkan kultivasi nasi pepes untuk menggunakan elemen cahaya serta kemampuan persepsinya untuk menyembuhkan sang pasien. Selain koma, elte juga menyembuhkan penyakit sang pasien yang lain seperti sakit gigi, hipertensi, diabetes, panu dan prostat.
Beberapa menit kemudian sang pasien mulai sadar kembali. Elte segera membangunkan pak jaya dan bu yeyen agar membantu mendudukkan si pasien di atas ranjangnya.
Beberapa saat kemudian pak gubernur masuk kembali ke ruangan karena sup kaldu ayam yang dipesan elte sedang dibuat di dapur. Pak gubernur sangat terkejut melihat ayahnya sedang berbicara santai dengan pak jaya.
"Ayah.... ayah... kau sudah sadar yah.... syukurlah..." pak gubernur berteriak gembira melihat ayahnya yang sudah pulih. Anak pak gubernur dan dokter tradisional yang mendengar teriakan pak gunernur lalu ikut masuk ke dalam kamar.
"Kakeekkk....." teriak sang pemuda itu sambil berlari memeluk kakeknya. Halim drajat sangat terkejut dan menggosok matanya beberapa kali.
"Bagaimana anda dapat menyembuhkan pasien" tanya halim drajat masih tidak percaya dengan penglihatannya.
Bu yeyen menatap elte, sedangkan elte menatap pak jaya. Mendapatkan tatapan dari calon menantunya, pak jaya mengerti dan berkata : "Oohhh itu karena hasil pemeriksaan bu yeyen, mungkin bu yeyen bisa membantu menjelaskannya"
Bu yeyen terkejut mendapatkan todongan dari kakak iparnya, ia sekilas melihat kakak iparnya mengedipkan sebelah matanya untuk memberi kode.
"Eh.....sebenarnya salah satu efek obat hasil riset kami adalah membuat pasien tertidur pulas seperti terlihat koma. Mungkin saja setelah mendapatkan perawatan dari dokter halim drajat, efek obatnya melemah dan akhirnya pasien pulih sendiri." Kata bu yeyen menjelaskan dan sedikit menyesalkan pemilihan alasan yang terdengar asal-asalan itu. Bu yeyen berpikir bahwa siapa juga yang akan percaya dengan alasan tersebut.
"Oh begitu ya.... baguslah...." kata sang gubernur percaya dengan alasan bu yeyen.
"Tapi kami mohon pak gubernur, agar kesembuhan ayah anda dapat disembunyikan terlebih dahulu serta proses hukum tetap berjalan... aku yakin pasti ada pihak yang sengaja menjebak adik iparku agar nama rumah sakit kami rusak di mata masyarakat" kata pak jaya meminta tolong ke pak gubernur.
"Baiklah pak jaya... aku sepakat dengan usulanmu, ia pasti sengaja untuk menargetkan keluargaku karena aku selaku publik figure" kata pak gubernur yang setuju dengan permohonan pak jaya.
"Siapa sih yang berani menargetkan kakek" kata si pemuda itu masih geram dengan kejadian tadi pagi.
Beberapa menit kemudian, sup kaldu ayam pesanan elte sudah datang dan dihidangkan untuk sang pasien. Kakek tua yang memang belum sarapan dari tadi pagi akhirnya dengan lahap menghabis sup kaldu ayam tersebut. Setelah tambah dua piring barulah ia menyadari bahwa sakit giginya sudah sembuh.
Sementara itu pak jaya dan keluarganya ijin pamit untuk pulang ke rumah.
"Pak gubernur.... apakah kau percaya dengan alasan mereka." Kata halim drajat setelah kepergian pak jaya dan keluarganya.
"Tentunya tidak pak.... tapi tenang saja, dikamar tadi sebenarnya sudah ada CCTV yang selalu memonitoring kondisi ayahku... kita bisa segera ke ruang atas untuk melihat rekamannya" kata pak gubernur yang tidak sadar bahwa rekaman CCTV hari itu, sudah dihapus oleh elte yang menyadari keberadaan CCTV dengan bantuan kemampuan zona persepsinya.