
"Menjelajah hutan dengan bekal, itu adalah analogi untuk kultivasi pada umumnya. Kaum naga dan manusia yang dapat berkultivasi, akan bersemedi atau bertapa, untuk menyerap energi alam semesta, sehingga dantiannya akan mulai aktif dan menyimpan energi kehidupan itu di dalam dantiannya."
"Semakin lama ia berkultivasi dengan menyerap energi alam semesta, maka dantiannya akan semakin berkembang, dan tingkat kultivasinya semakin tinggi. Tingginya tingkat kultivasi seorang kultivator, akan menentukan kemampuan sihirnya saat mengendalikan sebuah elemen atau unsur."
Elte terus menyimak penjelasan sang leluhur sambil terus mengangguk paham.
"Menjelajah hutan tanpa bekal, itu adalah analogi untuk metode kultivasi yang akan aku ajarkan."
"Kelemahan terbesar metode ini adalah, jumlah energi kehidupan yang terbatas sehingga kemampuan sihir pengendali elemennya juga akan terbatas."
"Untuk menghadapi manusia biasa, itu tidak akan menjadi masalah. Namun untuk menghadapi seorang kultivator yang telah memiliki pengalaman mengendalikan elemen, langkah paling bijak adalah melarikan diri."
Sang leluhur berkata memberikan saran kepada elte.
"Kelemahan lain metode ini adalah, tidak bisa melakukan sihir pengendalian beberapa elemen bersamaan."
"Misalnya, seorang kultivator dengan cadangan energi yang cukup besar, ia bisa bertarung dengan menggunakan elemen tertentu untuk menyerang, sambil menggunakan elemen cahaya untuk menyembuhkan dirinya."
Sang leluhur menjelaskan kekurangan metode kultivasi yang akan diajara ke elte.
"Namun, jika sudah tiba waktunya, untuk mulai menyimpan energi dan meningkatkan kultivasi, elte bisa menggunakan metode kultivasi ini sambil tetap beraktifitas secara normal."
"Walaupun metode ini lebih lambat dari metode kultivasi lainnya, namun metode ini sangat cocok dengan kondisi manusia sekarang yang tidak mungkin mengurung dirinya berbulan-bulan untuk bersemedi."
"Metode kultivasi ini juga sangat baik digunakan saat bertarung sehingga tidak perlu khawatir kehabisan energi karena penggunaan energi dan penyerapan energi terus mengalami rotasi bersamaan."
Sang leluhur menutup penjelasannya dengan kembali terdiam mengamati wajah elte dan ia tersenyum melihat elte yang mengangguk paham dengan mata bersemangat.
............ ............ ............
Sementara itu, tiga hari setelah minibus yang dikendarai oleh elte menabrak mobil patroli polisi, di sebuah ruangan VIP tempat elte dirawat, bu yuyun dan adiknya, bu yeyen, asyik bergosip tentang kondisi elte yang masih koma. Mereka asyik bergosip sambil sesekali mata bu yeyen melirik ponakannya, yuni, yang dengan setia duduk disamping calon suaminya sambil menatap wajahnya yang sedang tertidur.
Bu yeyen menghembuskan napasnya agak kesal melihat suasana romantis dari dua anak kecil yang baru lulus SD.
Bu yeyen hanya bisa menyalahkan konten sinetron yang saat ini banyak menyesatkan pikiran anak-anak dengan adegan kurang mendidik.
Mendengar hembusan napas kesal dari adiknya, bu yuyun hanya tersenyum menyalah-artikan makna hembusan tadi sebagai rasa rindu ke pak karya yang sudah seminggu ini masih di ibu kota negara.
Yuni yang masih menatap wajah calon suaminya, teringat dengan pengorbanan tunangannya itu saat mengendarai minibus dengan kondisi lengan terluka. Ia yakin bahwa elte lah yang telah menyelamatkan mereka dari penculikan empat hari yang lalu.
Senyum bangga kembali terpasang di wajah manis yuni, dan hatinya terasa hangat. Yuni merasakan bahwa cerita kehidupan mereka bagaikan novel-novel romantis yang ia pernah baca saat mengerjakan tugas sekolah.
Tanpa sadar ia tidak mengetahui bahwa genre cerita ini adalah cerita action, fantasi dan petualangan.
......... ......... .........
Sang leluhur mulai mengajarkan elte, tentang Metode kultivasi, yang bernama Nafas Suci Pemicu Perasaan atau bisa disingkat "NaSi PePes".
Metode kultivasi Nafas Suci Pemicu Perasaan atau Nasi Pepes merupakan metode pernapasan suci sambil memicu emosi positif atau emosi negatif yang sesuai dengan elemen yang ingin dikembangkan.
Untuk mengembangkan sihir pengendali elemen api maka digunakan pernapasan api dan berkonsentrasi memicu emosi kemarahan, kebencian, semangat dan ambisi atau harapan.
Untuk mengembangkan sihir pengendali elemen air maka digunakan pernapasan air dan berkonsentrasi memicu emosi kesedihan, putus asa, kesabaran atau ketabahan.
Untuk mengembangkan sihir pengendali elemen tanah maka digunakan pernapasan bumi dan berkonsentrasi memicu emosi ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, kegelisahan, kepanikan, sikap pesimis, rendah diri, keberanian, keikhlasan atau kerelaan berkorban.
Untuk mengembangkan sihir pengendali elemen angin maka digunakan pernapasan angin dan berkonsentrasi memicu emosi kekecewaan, kehampaan, keraguan, optimis atau spontanitas.
Jika ingin menggunakan dua elemen atau lebih maka digunakan pernapasan-pernapasan unsur pembentuk secara bergantian sambil memicu emosi yang sesuai.
Misalnya pengendali es melakukan pernapasan air dan pernapasan angin secara bergantian sambil memicu emosinya masing-masing.
Metode ini hanya berlaku sesuai jenis elemen yang dimiliki. Misalnya contoh kasus, ada orang pengendali elemen api tidak akan berhasil menggunakan pernapasan yang lainnya seperti pernapasan air, pernapasan bumi dan pernapasan angin.
"Bagaimana apakah kamu sudah mengerti....?" Sang leluhur bertanya ke arah elte yang keningnya sedang mengerut berpikir tentang nafas suci.
"Guru leluhur..... bagaimana caranya orang jaman dulu bisa mengetahui elemen yang dimilikinya ? Apakah harus menggunakan batu pengukur." Elte bertanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya ada beberapa cara, yang dapat digunakan, untuk mendeteksi jenis elemen para kultivator. Namun dijaman era kultivasi, manusia lebih senang menggunakan batu pengukur karena lebih instan."
"Bagi beberapa wilayah yang tidak memiliki batu pengukur, proses pendeteksian dapat dilakukan dengan pembangkitan darah atau formasi kultivasi garis keturunan (Bloodline Cultivation Formation)."
"Untuk dapat melaksanakan metode pendeteksian ini, diperlukan formasi enam orang, dengan tingkat kultivasi di atas seratus tahun."
"Empat orang masing-masing dengan elemen dasar api, air, angin dan tanah, yang bertugas untuk mendeteksi jenis elemen dari anak yang akan diukur."
"Satu orang dengan elemen kegelapan, yang bertugas untuk melakukan pemurnian jiwa melawan iblis hati melalui serangan rasa takut dan mimpi buruk kepada sang anak"
"Serta satu orang dengan elemen cahaya yang bertugas untuk menjaga kesadaran anak tersebut serta menyembuhkan stamina para kultivator lainnya yang kelelahan.
"Di kerajaan-kerajaan yang tidak memiliki batu pengukur, metode pendeteksi elemen dengan formasi ini, cukup banyak peminatnya, sehingga banyak dibuka tempat-tempat usaha sejenis."
"Namun salah satu kekurangan metode ini adalah, tidak bisa membedakan elemen gabungan murni dan elemen gabungan tidak murni."
Sang leluhur menjelaskan metode formasi bloodline sambil sesekali mengelus janggut putihnya. Elte yang terus mendengar, sesekali mengangguk dan menyerap informasi yang didengarnya.
"Apa maksud dengan elemen gabungan murni dan elemen gabungan tidak murni" elte bertanya sambil menggaruk kembali kepalanya yang tidak gatal.
"Elemen gabungan murni adalah elemen gabungan yang masih disertai elemen-elemen dasarnya."
"Sedangkan elemen gabungan tidak murni adalah elemen gabungan yang sudah tidak disertai dengan elemen-elemen dasarnya."
Elte terlihat mengkerutkan keningnya karena belum menangkap maksud dari penjelasan sang leluhur. Leluhur yang menyadari arti tatapan elte, kembali melanjutkan penjelasannya.
"Misalkan elemen es yang merupakan hasil gabungan elemen air dan elemen angin. Kultivator dengan elemen gabungan murni adalah kultivator dengan tiga elemen yakni elemen es, elemen air dan elemen angin. Sedangkan kultivator dengan elemen gabungan tidak murni adalah kultivator dengan satu elemen saja yakni elemen es." Sang leluhur menjelaskan dengan memberikan contoh dan disambut dengan anggukan elte.
"Guru leluhur,..... Ada berapa banyak elemen gabungan yang bisa muncul dari keempat elemen dasar itu ?" elte kembali bertanya ke sang leluhur.
"Sepengetahuanku, kurang lebih, ada sepuluh elemen. Untuk gabungan dua elemen, ada enam jenis elemen yakni, elemen ES dari air dan angin, elemen PETIR dari api dan angin, elemen GRAVITASI dari tanah dan angin, elemen KAYU dari air dan tanah, elemen LOGAM dari api dan tanah, dan elemen LAVA dari api dan air."
"Untuk gabungan tiga elemen, ada empat jenis elemen yakni, elemen CAHAYA dari api, air dan angin, elemen KEGELAPAN dari air, angin dan tanah, elemen LEDAKAN dari api, air dan tanah, serta elemen KRISTAL dari api, angin dan tanah."
Sang leluhur terdiam sesaat, setelah menjelaskan tentang jenis-jenis gabungan elemen dasar. Elte terlihat masih berpikir berusaha menyerap penjelasan yang disampaikan oleh sang leluhur.
"Apakah selain raja naga, masih ada peluang manusia untuk memiliki empat jenis elemen dasar." Tanya elte setelah cukup lama terdiam karena berpikir.
"Sepengetahuanku, tidak mungkin ada orang yang memiliki, empat elemen dasar kecuali sang pewaris atau jika orang itu memiliki dua dantian." Jawab sang leluhur yang mengingat kondisinya yang juga memiliki dua dantian."
"Dua dantian...? Apakah mungkin juga ada orang yang bisa memiliki tiga dantian atau lebih." Kembali elte bertanya ke sang leluhur.
"Entahlah....selama aku hidup, aku belum pernah menemukan manusia dengan tiga dantian atau lebih. Manusia dengan dua dantian saja sudah merupakan kasus yang sangat langka. Itupun, manusia tersebut kemungkinan besar adalah keturunanku, karena yang aku ingat, aku adalah manusia pertama dengan dua dantian berkat bantuan dari sang phoenix." Jawab sang leluhur.
"Saat hidup, di tubuhku terdapat dua dantian masing-masing dengan tiga elemen yakni dantian dengan elemen tanah, api dan air serta dantian dengan elemen angin, api dan air."
"Dengan adanya dua dantian tersebut, aku bisa mengendalikan empat belas elemen yakni TANAH, API, AIR, ANGIN, ES, PETIR, GRAVITASI, KAYU, LOGAM, LAVA, CAHAYA, KEGELAPAN, LEDAKAN dan KRISTAL secara bergantian."
Sang leluhur menjelaskan tentang jenis elemen yang ia kuasai.
"Apa-apa saja kekuatan dan kelebihan dari tiap elemen tersebut ? .....elemen mana yang paling kuat?..... dan elemen apa saja yang membutuhkan energi yang paling sedikit ?......" Elte bertanya terus karena semakin tertarik dengan penjelasan dari sang leluhur.
"Kekuatan dan kelebihan tiap elemen tergantung dari jumlah energi atau tingkat kultivasi orang itu. Selain itu, ditentukan juga oleh pengalaman bertarung serta kreatifitas dan inovasi dalam mengembangkan kemampuan pengendaliannya."
"Banyak kultivator yang belajar dari alam kemudian membuat jurusnya sendiri. Misalnya mengembangkan kekebalan tubuh dengan elemen yang keras seperti tanah, logam, atau kristal."
"Kami juga para manusia mencoba menyontek kemampuan para alien, misalnya, kemampuan telepati untuk komunikasi, kami menggunakan elemen udara untuk mentransmisikan suara saat berbicara di depan podium."
"Kami juga memodifikasi kegelapan dan gravitasi menjadi aura naga, menggunakan elemen cahaya untuk regenerasi sel, menggunakan angin dan gravitasi agar bisa terbang, dan banyak lagi."
"Ada juga kultivator yang memodifikasi elemen air dan kegelapan menjadi pengendali darah lawan sehingga kami bisa mengendalikan gerakan lawan secara paksa, seperti kemampuan ilusi dan hipnotis milik alien."
"Ada juga kultivator yang menggunakan kemampuannya untuk mengejar kekayaan karena berhasil membuat emas dengan menggabungkan logam dan cahaya, membuat intan dan berlian dengan menggabungkan elemen kristal dan cahaya. Dan masih banyak lagi" sang leluhur menjelaskan kekuatan dan kelebihan elemen pada elte
"Elemen yang paling kuat tergantung dari tingkat kultivasi atau jumlah energi dan tingkat penguasaan elemen atau pengalaman bertarung."
"Namun jika tingkat kultivasi dan tingkat penguasaan elemen berada pada level yang sama, aku memilih elemen kegelapan dan elemen cahaya sebagai elemen terkuat." sang leluhur menjelaskan elemen terkuat kepada elte.
"Untuk pertanyaan terakhirmu tentang elemen mana yang paling sedikit mengonsumsi energi,...... menurut pengalamanku, sebagai pengguna elemen gabungan murni,...... elemen dengan gabungan tiga elemen, menyerap energi hasil kultivasi lebih sedikit dari pada elemen dengan gabungan dua elemen..... dan elemen dengan gabungan dua elemen menyerap energi hasil kultivasi lebih sedikit dari pada elemen dasar." Kata sang leluhur menjelaskan tentang serapan energi pada tiap elemen kepada elte yang kembali mengkerutkan keningnya
"Kok bisa elemen dengan banyak gabungan membutuhkan serapan energi lebih sedikit ? " tanya elte
"Elemen hasil gabungan berbeda dengan menggabungkan elemen. Elemen hasil gabungan adalah suatu elemen sendiri yang telah tercipta di dalam dantian seorang kultivator. Sedangkan menggabungkan elemen adalah suatu usaha memodifikasi dua elemen atau lebih sebagai sebuah jurus baru."
"Sebagai contoh misalnya elemen gravitasi adalah elemen hasil gabungan angin dan tanah, sedangkan menggabungkan elemen angin dan tanah akan menghasilkan jurus pengendali pasir."
"Contoh lain misalnya elemen kayu adalah elemen hasil gabungan air dan tanah, sedangkan menggabungkan elemen air dan tanah akan menghasilkan jurus pengendali lumpur."
"Memodifikasi atau mengembangkan suatu elemen atau lebih akan membutuhkan energi lebih besar."
Sang leluhur berusaha menjelaskan maksudnya kepada elte dengan contoh analogi yang dia anggap lebih sederhana. Elte terdiam sejenak berusaha memahami penjelasan sang leluhur.
"Hmmmmhhh.... jadi mungkin bisa juga dianalogikan dengan garam atau NaCl akan lebih mudah ditemukan dari pada unsur Na dan Unsur Cl, atau H2O akan lebih mudah di dapatkan dari pada unsur Hidrogen dan oksigen" Elte berusaha menarik poin-poin dari penjelasan sang leluhur dengan pemahamannya sendiri.
Sang leluhur hanya terdiam tidak mengerti maksud elte karena di jamannya belum mengenal unsur-unsur atom.
"Yaahhhh..... seperti itulah kira-kira." Kata sang leluhur yang pura-pura mengerti demi menjaga harga dirinya sebagai guru dan orang yang lebih tua.