
"Teretetetetete...." seperti itulah kira-kira suara senapan mesin FN FAL yang ditembakkan oleh para penjahat.
"Jleb.... jleb... jlebb.... duaaaarrrrr" serangan bongkahan es yang tajam dan sambaran petir, mewarnai suara tembakan senapan tersebut.
"Klink...klink....klink... " beberapa shinobi mencoba menghalau peluru yang dikeluarkan oleh senapan mesin itu namun mereka kemudian terlempar kebelakang saat bongkahan es menusuk perutnya.
Hanya dalam waktu dua menit, puluhan shinobi telah terbujur kaku di tanah. Beberapa lubang kecil tercipta di atas tanah beserta kepulan debu akibat sambaran petir.
"Clap... " sebuah jarum beracun keluar dari kepulan debu menusuk leher dari kultivator es dan petir.
"Clap..." sebuah jarum yang ditiupkan dari sebuah senjata tiup ninja bernama Fukedake & Fuki-ya, kembali menancap di kening kultivator tersebut.
Dalam sekejap kultivator itu terjatuh ketanah dengan mulut berbusa dan wajah menghitam. Ia menggelepar-gelepar dengan mata melotot dan tidak menerima kematian yang akan menjemputnya.
Kultivator kegelapan hanya bisa menghembuskan napas kesal, mengingat dua kultivator cahaya yang tidak dapat menyembuhkan kultivator yang sedang keracunan itu karena telah tewas sebelumnya.
Setelah beberapa saat, kultivator yang keracunan itu menghembuskan nafasnya yang terakhir dan menyusul kedua temannya yang telah tewas.
Dari balik kepulan debu muncul sushi tetsu teriyaki bersama beberapa shinobi dengan membawa sebuah pedang katana di kedua tangannya.
"Klink...klink....klink... " suara dentingan peluru beradu dengan pedang dimana tetsu dan beberapa shinobi berlari sambil menghalau peluru yang dikeluarkan oleh senapan mesin.
"Jleb... jleb... jleb..." beberapa shinobi berhasil menusuk perut para penjahat setelah berhasil mendekat.
"Dasar bodoh..." umpat kultivator kegelapan dan gravitasi sambil melihat para penjahat itu menerima serangan balasan.
Tiba-tiba para shinobi termasuk para penjahat terjatuh ke tanah karena merasakan gaya gravitasi meningkat berlipat-lipat.
Mereka semua kebingungan karena merasakan ketakutan yang menyerang mereka tiba-tiba.
Beberapa bola kegelapan kembali dilemparkan ke beberapa shinobi dan menyebabkan mereka berubah menjadi kurus kering dengan tubuh sedikit hitam lebam.
"Boommm...." tiba-tiba tangan kanan kultivator itu meledak terkena paku ledakan dari seorang ninja biru berkacamata hitam.
Dengan sebuah tombak sepanjang dua meter ia berlari menyerang kultivator tersebut.
Mendapatkan serangan tiba-tiba dari belakang, kultivator itu sangat murka dan menyelimuti dirinya dengan sebuah jubah kegelapan. Enam buah lengan tentakel berwarna hitam dari aura kegelapan, terbentuk di punggungnya. Ia kemudian berlari dengan cepat menyerang elte menggunakan keenam lengan tentakelnya.
Rerumputan dan mahluk hidup lainnya yang terkena serangan dari lengan itu, berubah menjadi hitam dan membusuk karena energi hidupnya terserap hingga habis.
Dengan konsentrasi tinggi, elte lalu menyelimuti dirinya dengan shield pelindung, dan memanipulasi shield tersebut, agar mampu mengirim serangan ke tempat lain, yakni sebuah portal kecil dibelakang kepala kultivator tersebut.
Saat kultivator itu menyerang tubuh elte dengan lengan tentakelnya, lengan tersebut masuk ke sebuah portal teleportasi dalam wujud shield dan keluar menusuk kepalanya sendiri dari belakang.
"Jleb..... ppsssttttt" seperti itulah kira-kira suara tusukan dari lengan tentakel ke kepala lalu kepala tersebut mengeluarkan suara desis karena mulai membusuk.
"Elte segera tusuk perutnya dan serap kultivasinya menggunakan metode kultivasi pelahap kilat" suara sang phoenix terdengar di pikiran elte, dan segera ia menusuk perut kultivator itu dengan lengannya yang dilapisi elemen logam. Selanjutnya kultivasi dari pengguna elemen kegelapan itu terserap habis dengan cepat.
Tubuh kultivator itu menjadi kurus kering dan sedikit hitam legam karena terkena serangannya sendiri. Untungnya elte sudah selesai menyerap seluruh kultivasi orang itu sebelum aura kegelapan turun ke perut kultivator tersebut.
Setelah menghabisi pengguna elemen kegelapan, elte lalu melepaskan aura naga khusus ke para penjahat. Ia lalu melemparkan paku ledakan ke kepala para penjahat itu satu-persatu.
"Boom.... boomm... boomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm... boomm... boomm... bomm... boomm..."
Elte mulai kelelahan karena terlalu banyak menggunakan energinya. Namun senyum dibibirnya sedikit berkembang karena melihat sisa para penjahat sedang dibantai habis oleh para shinobi.
"Clap..." Saat elte akan membuat portal untuk pulang ke kamarnya, sebuah jarum dengan obat bius kadar tinggi tertancap di lehernya. Ia sedikit kebingungan melihat gurunya beserta para shinobi menghampiri dirinya dengan penuh kewaspadaan.
"Sial...." elte hanya bisa mengumpat dalam hatinya sebelum jatuh pingsan.
......... ......... .........
"Guru apa yang terjadi dengan diriku, kenapa aku bisa kembali ke alam bawah sadarku dan tidak bisa kembali ke alam sadarku segera" tanya elte kepada sang phoenix dengan bingung. Ia kemudian terdiam mengingat kejadian sebelum pingsan.
"Ah sial..... sepertinya shifu sensei dan para shinobi mengira aku adalah musuh mereka." Elte menjawab sendiri pertanyaannya setelah mengingat kembali peristiwa yang menimpa dirinya sebelum pingsan.
Dua jam kemudian, elte telah kembali ke alam sadarnya. Masker bandana dan kacamata hitamnya kini telah terbuka. Saat ini ia sedang berbaring diatas ranjang pembaringan. Disamping ranjang tersebut sedang duduk gurunya bersama seorang pemimpin desa yang disebut Kage.
"Shifu sensei.... apa yang terjadi... mengapa kau menyerangku juga" kata elte ke gurunya dalam bahasa jepang.
"Elte... akhirnya kamu sudah sadar..... maaf aku tadi sempat ragu apakah kamu kawan atau lawan.... untung bukan jarum beracun yang kugunakan untuk menyerangmu hahahahaha..." kata gurunya dengan bahasa jepang sambil memasang muka bahagia bertemu dengan murid pertamanya.
"Maaf menyela percakapan kalian, bisakah anda menjelaskan siapa para penyerang itu dan mengapa mereka bisa tahu lokasi desa kami" kata sang kage dengan sedikit tatapan curiga.
Elte menghembuskam napas kesal karena bisa menangkap kecurigaan orang tua itu tanpa perlu membaca pikirannya.
"Aku juga kurang kenal dengan para penyerang itu, teman-teman mereka menahan salah satu keluargaku di kanada. Setelah menyelamatkan keluargaku dan beberapa tahanan lainnya, aku mendapatkan informasi bahwa para penyerang itu menuju desa shinobi dengan menyandera empat shinobi sebagai penunjuk jalan, karena khawatir dengan shifu sensei, aku mengikuti mereka dari kanada ke desa ini." Elte menjelaskan alasan para penyerang itu mengetahui lokasi desa.
"Maaf tapi aku kurang percaya... masyarakat desa shinobi tidak mungkin berkhianat memberitahu lokasi desa ini ke para penyerang" kata sang kage sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Dalam kondisi normal, keempat shinobi itu tidak akan berkhianat"
"Tapi beda ceritanya jika mereka dalam pengaruh ilusi dari aura kegelapan"
Elte lalu bercerita tentang sekumpulan orang yang memiliki kekuatan yang diluar logika.
"Jika anda tadi ikut bertarung melawan para penyerang itu, anda pasti sudah melihat dengan kepala anda sendiri tentang kekuatan mereka yang dapat mengeluarkan es dan petir serta tekanan gravitasi yang meningkat" kata elte menyindir sang kage yang memang tidak ikut bertarung.
Mendengar sindiran elte, sang kage mengepalkan tangannya menahan amarah. Setelah terdiam sejenak ia kembali berbicara dalam bahasa jepang : "Baiklah.... karena kamu adalah murid tetsu dan telah mempelajari seni bela diri kami, maka kau sekarang adalah masyarakat desa ini dan harus mengabdi melindungi desa ini."
"Kage.... aku kurang setuju dengan perintahmu... muridku memiliki keluarganya sendiri dan tidak punya kewajiban untuk tinggal disini."
"Lagi pula seni bela diri yang kuajarkan kepada elte adalah warisan kedua orang tuaku dimana masyarakat disini tidak mau mempelajarinya." Kata tetsu menyampaikan ketidaksetujuannya.
"Masyarakat disini tidak mau berguru denganmu karena cara mengajarmu yang membosankan dan tidak dimengerti oleh masyarakat" potong sang kage.
Suasana kembali hening karena ketiga orang itu larut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Oh iya... sebenarnya apa penyebab para shinobi bisa berada di kanada sampai berurusan dengan para penyerang itu" elte seketika mengingat rasa penasarannya tentang keterlibatan para shinobi di kanada sampai-sampai yuda ingin membalas budi mereka.
"Itu karena gurumu mendapatkan informasi tentang keberadaan salah satu sepupunya di texas dan kanada."
"Ia membawa sepuluh shinobi dengan alasan liburan ke texas dan kanada. Siapa sangka saat pulang, ada empat shinobi yang masih ingin tinggal karena jatuh cinta dengan seorang polisi wanita asal indonesia bernama dian askar."
Sang kage menjelaskan alasan keempat shinobi dapat berada di kanada. Namun alasan mengapa para shinobi dapat tertangkap oleh para penyerang dan alasan para penyerang ingin menyerang desa shinobi, belum diketahui.
"Jadi, kapan kau akan balik ke indonesia" tanya tetsu ke muridnya.
"Bagaimana jika para penyerang datang lagi menyerang desa" kata kage memotong pertanyaan tetsu.
"Melihat lokasi desa kita, mereka tidak akan mungkin bisa menemukan desa ini kecuali bersama para shinobi."kata tetsu yang diangguki oleh muridnya karena sudah tidak ingat lagi jalan masuk ke desa. Jika tidak ada teleportasi, dipastikan elte tidak bisa pulang.
"Aku harus segera pulang shifu sensei, keluargaku pasti sudah menunggu di rumah" kata elte yang mulai sadar bahwa ia sudah tidak bertemu tunangannya hampir dua hari. Untungnya dua hari ini lagi libur sekolah karena akhir pekan.
"Bagaimana jika kamu membuat keluarga baru disini, di desa ini banyak kunoichi yang cantik dan ahli mengurus rumah tangga" bujuk sang kage masih berusaha menahan elte.
"Maaf tuan.... aku sudah punya tunangan atau calon istri" jawab elte menolak bujukan kage.
"Tidak apa-apa, kunoichi ini siap menjadi istri yang kedua" kata kage mempromosikan para kunoichinya.
Elte kurang tertarik karena ia pernah membaca sebuah tulisan di internet tentang kunichi yang menggunakan tipuan feminin guna mencapai tujuan mereka. Mereka bahkan rela menjadi selir untuk jangka waktu lama. Keindahan dan seksualitas adalah senjata utama kunoichi, namun mereka juga mempunyai senjata sungguhan. Senjata itu seringkali samar dan jarang menarik perhatian, seperti penjepit rambut, atau kipas lipat dengan pisau tersembunyi.
Elte tentunya tidak ingin diserang oleh mereka secara licik. Misalnya dalam kondisi lemah, tidur atau berhubungan intim dengannya.
"Begini saja.... aku akan datang tiap akhir bulan membantu shifu sensei mengajarkan kungfu ninja" kata elte
"Tiap bulan kau akan pulang pergi antara jepang dan indonesia naik pesawat ? apakah uangmu sangat banyak" kata kage tidak percaya
Elte sempat gelagapan tidak memikirkan hal itu, yang ada dipikiran elte adalah ia akan pulang pergi dari kamarnya ke desa shinobi melalui teleportasi. Tentunya cara tersebut tidak mungkin ia ungkapkan ke kage dan gurunya.
"Ehh... kebetulan tiap bulan aku dikirim ke jepang mengurus bisnis keluarga, aku juga memiliki penghasilan dari bermain trading." Kata elte sedikit berbohong.
Ia lalu memasukkan tangannya di dalam bajunya dan membuat sebuah portal kecil untuk mengambil cincin giok dari ruang dimensinya. Cincin giok itu memiliki segel penanda dan telah diprogram untuk memberi sinyal ke elte jika pengguna cincin mengalami rasa takut atau marah.
"Shifu sensei... ini ada sedikit pemberian dari murid. Mohon shifu sensei berkenan memakainya" kata elte dengan sopan.
"Baiklah... terima kasih... aku akan mengantarmu ke bandara, jika nanti kau ingin kembali ke desa ini, kau bisa menghubungi nomor telepon guru" kata tetsu kepada muridnya sambil mengambil dan mengenakan cincin giok di jari manis di tangan kanannya.
"Shifu sensei punya nomor Handphone !!!... apakah desa ini mendapatkan sinyal ???... bukannya desa ini diapit oleh hutan, sungai, gunung dan lembah. Desa ini juga tidak dapat ditemukan di Doodle map." Kata elte kurang percaya dengan ucapan gurunya.
"Ohhh.... itu karena jasa dari anak perempuanku yang telah mengarahkan beberapa shinobi untuk menanam kabel Fiber optik multi mode dari pusat kota tokyo ke hutan aokigahara di bagian barat laut kaki gunung fujiyama menuju desa shinobi ini."
"Di ujung terminasi kabel fiber optik multi mode yang ada di desa ini, anakku menghubungkannya dengan teknologi Manet atau Mobile Ad-Hoc Network. Teknologi tersebut merupakan sebuah jaringan wireless dari sekumpulan node yang tidak memiliki tabel routing tetap serta tidak bergantung pada infrastruktur yang ada."
"MANET dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan, karena hampir tidak membutuhkan support dari infrastruktur yang telah ada. Antar node akan terhubung sebagai jaringan ad hoc sebagai autonomous system of mobile hosts (MH) yang juga bertindak sebagai router dan terhubung menggunakan jaringan wireless. Hal ini kontras dengan jaringan seluler single hop yang membutuhkan BTS ( Base Tranceiver Station) sebagai akses poin."
"Pada kondisi bencana alam dan perang ketersediaan infrastruktur jaringan (BTS) dalam menjembatani komunikasi jarak jauh sangatlah minim, dikarenakan keterbatasan sumber daya listrik atau terjadinya kerusakan pada infrastruktur jaringan tersebut. Oleh karena itu diperlukan teknologi Manet yang sangat mendukung dengan kondisi desa ini, pembuatan BTS sendiri seperti open BTS memerlukan perangkat dengan daya listrik yang cukup besar."
Sang kage menjelaskan tentang alasan desa shinobi dapat berkomunikasi dengan dunia luar kepada elte menggunakan istilah-istilah teknologi yang sebenarnya ia sendiri tidak paham. Ia hanya mengingat kalimat tersebut saat anak kebanggaannya, hampir tiap hari, menjawab pertanyaan para shinobi tentang teknologi yang dibawa masuk oleh anaknya itu.
Dengan teknologi tersebut, para kunoichi kini dapat menonton sinetron dan telenovela dari channel youtube yang ada.
Elte terpukau dengan kreativitas desa shinobi yang mampu memodifikasi kemajuan telekomunikasi untuk kebutuhan desa mereka yang terisolasi. Selama ini ia hanya mempelajari tentang Manet dan open BTS dari internet tanpa melihat implementasinya dengan mata kepalanyanya sendiri. Ia juga salut dengan beberapa shinobi yang tidak hanya fokus mempelajari ninjutsu dan mengerjakan misi dari pimpinannya, tetapi juga mau belajar kemajuan teknologi di kota besar seperti di tokyo.
Setelah berpamitan dengan beberapa shinobi di desa, elte lalu berangkat menuju bandara yang ada di kota tokyo melewati hutan aokigahara yang sunyi dan bisa membuat orang tersesat. Dalam perjalanan di dalam hutan, elte kerap kali melihat beberapa tulang belulang dari jenasah manusia yang konon kabarnya mati bunuh diri. hutan ini memang dianggap sebagai situs bunuh diri terpopuler setelah Golden Gate Bridge yang ada di san francisco.
Elte lalu teringat dengan artikel di internet tentang Kehidupan yang sulit serta kemiskinan, membuat para anak tega membuang orang tua mereka ke hutan ini. Hal tersebut dilakukan karena zaman dahulu, orang-orang miskin tak memiliki cukup makanan yang bisa diberikan pada seluruh anggota keluarga. Biasanya orang-orang tua yang ditinggalkan akan perlahan meninggal karena kelaparan dan dikabarkan akan menghantui hutan tempat ia meninggal. Di Jepang, kebiasaan kuno ini disebut ubasute.
Sewaktu diperjalanan elte dan gurunya juga menemukan jasad empat shinobi yang telah dibunuh oleh para penyerang. Mereka singgah untuk menguburkan mayat mereka pemakaman yang layak.
Setelah keluar dari hutan aokigahara, tetsu dan elte melihat beberapa mobil milik para penyerang itu. Elte lalu membuka pintu mobil dengan bantuan persepsi dan telekinesis lalu menjalankan mobil tersebut menuju bandara terdekat.
"Seperti yang sudah kuduga saat pertama kali mengawasimu sedang berolahraga.... ternyata kamu memang seorang kultivator ya" kata tetsu dalam bahasa jepang yang melihat elte menggunakan pengendali ledakan.
"Dalam ilmu ninjutsu kami, tidak ada jenis senjata yang dapat meledakkan kepala lawan dari dalam kepalanya" lanjut tetsu
"Apakah kau memiliki kemampuan elemen cahaya dan elemen ledakan" kata tetsu kepada elte yang sedang membawa mobil.
Elte hanya terdiam memikirkan alasan apalagi yang dapat ia gunakan untuk membohongi gurunya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab rasa penasaranku... tapi aku mohon agar kau tidak sembarangan memperlihatkan kemampuanmu di depan umum, aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi akibat keserakahan keluarga inti di organisasi SFO yang ingin menguasai orang-orang dengan kemampuan kultivasi hanya di keluarga mereka." Kata tetsu yang sudah menganggap muridnya sebagai anaknya sendiri.
Elte hanya bisa terdiam sambil merasakan perasaan hangat akibat kata-kata gurunya.
Setelah tiba di bandara, mereka sempat berpelukan dan berpisah di pintu bandara. Melihat gurunya pulang kembali dengan menaiki taksi, elte memutuskan untuk mencari toilet umum agar dapat berteleportasi kembali ke kamarnya.