
Seorang gadis manis dengan rambut sebahu dan diikat ekor kuda sedang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain di hutan aokigahara. Hari ini selama tiga minggu, sekolahnya sedang berlibur jadi ia ingin berkumpul dengan keluarganya di desa shinobi. Gadis manis dengan gigi gingsul itu bernama Ayumi farayaka, anak tunggal dari kage di desa shinobi.
Selama tinggal di area kota tokyo, dirinya kerap kali mendengar suara kendaraan lalu-lalang, suara kereta api, serta suara hiruk pikuknya masyarakat yang sedang beraktivitas. Berbeda halnya dengan saat ini, ia merasakan keheningan yang sunyi senyap tanpa suara hewan sedikitpun. Hanya suara jejak kaki yang beradu dengan batang pohon saat gadis itu menapakkan kakinya di batang tersebut.
Setelah beberapa saat melompati pepohonan, mendaki gunung lewati lembah dan sungai, gadis manis itu pun tiba di desa shinobi. Keningnya sedikit mengkerut melihat ada beberapa perubahan di desanya. Ia melihat gerbang desanya sudah berubah seperti habis diganti, ia melihat juga beberapa gundukan tanah di sekitar gerbang seperti habis mengubur sesuatu.
Ayumi farayaka segera bergegas masuk ke dalam desa untuk bertemu dengan ayahnya yakni sang kage desa yang bernama yagura tamagotchi. Setelah tiba di ruangan ayahnya, ia melihat ayahnya dan beberapa shinobi senior termasuk Sushi tetsu teriyaki sedang berdiskusi. Ia lalu berlutut memberi hormat kepada ayahnya yang juga kage atau pimpinan di desa tersebut.
"Ayumi melapor kepada kage" kata ayumi dengan suara tegas dalam bahasa jepang.
Sang kage dan beberapa shinobi senior yang sedang berdiskusi melirik ke arah ayumi dan tersenyum senang.
"Bagus... bagus.... kau sudah pulang, bagaimana dengan misimu untuk mengembangkan ilmu teknologi di desa kita?" Kata sang kage berbasa-basi di depan shinobi lainnya. Sebenarnya ia sangat ingin memeluk anak perempuannya satu-satunya, anak yang dilahirkan oleh almarhum istrinya yang sangat ia sayangi, dan juga cucu dari kage sebelumnya.
"Ayumi telah melakukan pedalaman ilmu di bidang telematika atau telekomunikasi dan informatika. Untuk ke depannya ayumi memutuskan ingin fokus mendalami ilmu di bidang energi terbarukan dan teknologi robot."
"Dengan ilmu pengetahuan tentang energi terbarukan, desa kita dapat menghasilkan listrik tanpa perlu lagi mendengarkan suara bising dari Genset atau generator set yang saat ini masih kita gunakan. Seperti yang kita ketahui bahwa genset bekerja dengan bahan bakar solar atau bensin yang dapat menghasilkan asap polusi. Bunyi bising dan asap polusi dapat mengancam eksistensi desa kita terhadap dunia luar walaupun genset sudah kita sembunyikan di dalam goa bawah tanah."
"Dengan ilmu pengetahuan tentang teknologi robot, kita dapat membuat robot mata-mata dalam ukuran kecil dan membantu misi-misi kita ke depannya."
Ayumi menjelaskan tentang misi berikutnya belajar di kota tokyo. Walaupun saat ini ia masih di tingkat sebelas atau kelas dua SMA, namun kerap kali ia menyusup untuk belajar ke kelas di universitas dekat sekolahnya.
Dengan memikul beban tanggung jawab sebagai generasi muda yang harus memajukan desa shinobinya tanpa membuka eksistensi desanya, ayumi belajar mati-matian memahami ilmu-ilmu pengetahuan teknologi yang dianggap sebagai teknologi tepat guna untuk desanya.
"Bagus... bagus... lanjutkan misimu setelah menikmati masa libur musim semi" kata sang kage sambil menganggukkan kepalanya dengan bangga setelah mendengar penjelasan putrinya yang sebenarnya tidak ia pahami.
"Kage... mohon ijin untuk bertanya" kata ayumi kepada ayahnya.
"Oh... silahkan.... pertanyaan apakah yang ingin kau tanyakan, silahkan tanyakan pertanyaanmu itu" kata sang kage dengan suara tegas.
"Saat pulang dan melewati gerbang desa, ayumi melihat beberapa perubahan kecil di gerbang desa, ayumi juga melihat beberapa gundukan tanah di dekat gerbang tersebut... apakah ada yang terjadi selama ayumi melaksanakan misi tugas belajar ke kota tokyo" tanya ayumi yang masih penasaran saat memasuki gerbang desa.
Sang kage dan beberapa shinobi senior, kompak menghembuskan nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sang kage lalu menatap ke para shinobi senior dan berkata, "untuk para tetua... aku mohon maaf.... Para tetua dapat beristirahat dan kembali ke rumah masing-masing. Sepertinya akan panjang jika menceritakan cerita yang akan aku ceritakan kepada ayumi tentang kejadian penyerangan tempo hari. "
Para shinobi senior mengerti bahwa itu hanya alasan sang kage yang ingin melepas rindu kepada putri semata wayangnya. Mereka pun menunduk hormat kepada kagenya dan ijin keluar dari pintu. Mereka tidak melompat dan menghilang lewat jendela seperti pada film-film kartun shinobi karena jendelanya sedang tertutup rapat.
Setelah yakin dengan kepergian para shinobi tersebut. Sikap tegas dan wibawanya sebagai kage seketika lenyap berganti sikap hangat dan lembut sebagai seorang ayah. ia lalu menghampiri putrinya lalu memeluk erat dan mencium kening dan pipi putrinya. Sang kage lalu berkata "Ayah sangat merindukanmu nak... apakah kau sehat-sehat saja selama belajar di kota tokyo nak. Jangat terlalu pelit mengeluarkan uang nak... ingat untuk selalu menjaga pola makan dan pola istirahat. Jangan lupa untuk makan secukupnya minimal tiga kali sehari, bangun tidur jangan lupa untuk menggosok gigi dan membersihkan tempat tidur sehabis mandi. Kalau tidur jangan lupa untuk mencuci muka dengan sabun dan jangan lupa mencuci kaki sebelum naik ke tempat tidur.... agar selalu...."
"Iihhh.... ayah apaan sih.... ayumi kan sudah bukan anak kecil lagi... " kata ayumi memotong penjelasan ayahnya yang masih sangat panjang untuk menasehati anaknya.
"Lanjut cerita dong tentang kondisi gerbang dan gundukan tanah itu, ayumi juga tadi mendengar dari ayah barusan tentang adanya penyerangan di desa kita" lanjut ayumi mendesak ayahnya agar segera mengobati rasa khawatir dan penasarannya itu.
"Hhmmm.... baiklah-baiklah ayah akan ceritakan semuanya" kata sang kage lalu diam sejenak menghembuskan nafasnya. Ia lalu mulai bercerita tentang penyerangan mendadak dari sekumpulan orang yang telah menewaskan banyak shinobi dan merusak gerbang desa. Sang kage menceritakan bahwa ada seratus lebih penyerang menggunakan senjata senjata mesin yang mampu melesakkan 700 butir peluru dalam waktu 1 menit.
Sang kage menyatakan bahwa para shinobi sebenarnya mampu menghadapi mereka semuanya. Namun dari beberapa penyerang tersebut, ada sekitar dua orang penyerang yang memiliki kekuatan diluar imajinasi yang mampu membekukan sesuatu dan menembakkan petir. Yang satunya lagi memiliki kemampuan untuk membuat semua orang disekitarnya terjatuh akibat tekanan gravitasi yang tiba-tiba meningkat bahkan ia mampu melemparkan sebuah material hitam dan membuat apapun akan mengering dan membusuk jika terkena serangan dari material hitam tersebut.
"Tapi untunglah datang seorang pemuda dari indonesia yang ternyata murid dari tetsu salah satu tetua kita. Dengan menggunakan sebuah tombak petir ia menyerang para penjahat itu, ia juga membunuh salah satu penjahat yang menyebabkan para shinobi ketakutan dan jatuh karena tekana gravitasi. Dengan tewasnya penjahat itu, para shinobi dapat bangkit kembali melawan."
"Dari laporan salah satu shinobi, ia melihat para penjahat itu tiba-tiba terjatuh tidak bisa bergerak dan satu persatu kepalanya meledak akibat serangan senjata lempar dari pemuda tersebut."
"Tetsu yang saat itu tidak menyadari bahwa pemuda itu muridnya memutuskan untuk menyerang pemuda itu dengan senjata bius."
Sang kage terus menceritakan kejadian penyerangan itu seakan-akan ia ikut bertarung di tempat tersebut. Sang kage tidak ikut berperan bukan karena takut mati, namun posisinya sebagai pemimpin desa harus selalu bisa mengatur strategi dari balik layar. Sang kage juga bercerita bahwa pemuda tersebut telah berjanji bahwa tiap akhir bulan, ia akan berkunjung ke desa ini untuk membantu gurunya mengajari kungfu ninja kepada para shinobi muda.
Ayumi farayaka mengepalkan tangannya mendengar cerita ayahnya tentang penyerangan desa shinobi. Ia juga sangat penasaran dengan sosok pemuda yang juga murid dari salah satu tetuanya yang telah datang ke desanya untuk membantu melawan para penjahat itu.
"Untunglah aku memiliki jatah libur musim semi selama tiga minggu, jadi dua minggu nanti di akhir pekan, aku bisa melihat sosok pemuda yang telah membantu desa shinobi ini" kata ayumi dalam hatinya.
Sang kage dan putrinya pun kembali melepas rindu dengan menceritakan pengalaman masing-masing selama berpisah cukup lama.
Sementara itu di sebuah kamar VIP di rumah sakit milik pak jaya, halim drajat dan keluarganya, beserta guru matematika dan anaknya yang mahasiswa, masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sang guru matematika sudah bersabar menahan rasa penasaran ingin bertemu dengan sosok pembimbing yang telah memotivasi anaknya sehingga menyukai matematika melalui programming dan robotika. Saat pintu terbuka dan dirinya telah berada di dalam, kedua matanya mencari sosok orang tua yang sesuai dengan ekspektasinya. Ia lalu melihat sosok anak muda sedang duduk di atas pembaringan sambil menonton film kartun. Mata mereka saling bertemu dan kening mereka mengkerut karena merasa saling mengenal.
Setelah berpikir sejenak, kedua mata sang guru membulat dan mulutnya terbuka. Ia sangat terkejut melihat murid yang pernah ia tuduh menyontek. Elte yang melihat gurunya terkejut juga ikut terkejut karena tidak menyangka guru yang pernah menuduhnya menyontek akan datang menjenguknya. Mahasiswa yang juga anak dari guru tersebut, ikut terkejut melihat ayahnya terkejut dan pembimbing robotnya terkejut.
"Eh.. pak geo..." kata elte yang masih terkejut sambil menyapa guru matematikanya yang bernama geo petri aritmawan.
"Loh... elte.... kenapa kau bisa ada di kamar ini?" Kata guru matematika itu
"Ih... ayah gimana sih... kan sudah kuceritakan tadi siang kalo dek elte ini cidera saat mengikuti pertandingan karate" kata sang mahasiswa kepada ayahnya.
"Eh... benarkah.... jadi elte ini adalah pembimbing robot yang kau maksud" kata pak geo masih tidak percaya dengan realita yang tidak sesuai dengan ekpektasinya.
"Iya benar yah.... dek elte ini adalah pembimbing yang ditunjuk oleh dosen kami, pak karya, untuk mengajari kami membuat robot wireless beserta strategi untuk menang lomba.
Penjelasan mahasiswa itu membuat halim drajat dan keluarganya ikut terkejut. Elte yang baru menyadari kehadiran kakak seniornya beserta keluarganya lagi-lagi ikut terkejut.
"Eh... kak santi" kata elte yang masih terkejut dengan suara sengau sambil menyapa seniornya yang bernama diah sinta risanti.
Saat ekor matanya melihat dan mengenali pak halim drajat beserta cucu pertamanya yang pernah ia temui di laborarorium bu yeyen, elte hanya bisa pasrah untuk kembali terkejut.
"Eh... silahkan duduk semuanya" kata elte yang masih terkejut dan berusaha menjadi tuan rumah yang baik di kamar VIP tersebut. Beberapa saat kemudian ia menyadari kalau jumlah kursinya tidak cukup dan kembali berkata : "eh... maaf jumlah kursinya tidak cukup.... hehehehehe"
Melihat pujaan hati yang diakuinya sedang salah tingkah, diah tersenyum gemes dan memilih ikut duduk di pinggir tempat tidur.
Pak halim dan pak geo juga memilih duduk di sofa terdekat sedang ibunya diah dan ibunya ardha duduk di kursi plastik yang telah disediakan oleh suster sebelumnya.
Pak surya, pak salim, ardha dan mahasiswa tersebut lebih memilih berdiri karena memang sudah tidak mendapatkan kursi untuk duduk.
Pak geo sang guru matematika masih terdiam karena mencoba mencerna kejadian tentang sembilan orang mahasiswa yang dibimbing untuk membuat robot oleh anak kelas satu SMA yang pernah ia tuduh menyontek. Pak halim drajat yang duduk disampingnya mulai berbicara untuk menghapus keheningan ruangan yang mulai menyerang.
"Eh nak elte.... kami sebelumnya mengucapkan banyak terima kasih karena telah membantuku dan kedua cucuku dari para penjahat itu di pinggir hutan tempo hari"
Elte hanya menganggukkan kepalanya tiga kali sebagai tanda bahwa ia telah menerima ucapan terima kasih dari pak halim.
"Eh iya... aku mendengar dari diah kalau kau saat ini mencari dokter pengobatan tradisional untuk menyembuhkan hidungmu yang sedang cidera ya..."
"Kebetulan, aku ini adalah seorang dokter pengobatan tradisional, bolehkan aku mencoba memeriksa hidung nak elte"
Pak geo mengkerutkan keningnya mendengar perkataan pak halim, ia lalu mengamati wajah pak halim, setelah beberapa saat berpikir, kedua matanya membulat dan berseru, "eh... anda pak halim drajat kan.... dokter pengobatan tradisional legendaris yang tidak pernah gagal mengobati pasiennya..."
"Eh... pak geo ini hanya melebih-lebihkan, baru-baru ini, aku gagal menyembuhkan ayah dari pak gubernur dari suatu penyakit aneh yang belum pernah kutemui" kata pak halim merendah sambil mengingat identitas orang tua disampingnya dari percakapan cucunya dengan guru matematikanya saat di ruang informasi.
Sang guru matematika sempat tertegun mendengar dokter legendaris itu mengetahui namanya. Sesaat kemudian ia menyadari bahwa mungkin saja dokter legendaris itu mendengar sapaan elte saat baru masuk ke ruangan tersebut.
Elte yang penasaran dengan pengobatan tradisional lalu mengaktifkan kemampuan persepsinya untuk membaca pikiran pak halim dan membaca aura di sekitar dokter legendaris tersebut. Ia bisa melihat bahwa dokter tersebut menyerap aura sekitar dan mulai mengalirkan aura tersebut ke tubuh elte. Walaupun sang prontagonis mampu melihat aura tersebut, ia tidak merasakan adanya aliran aura mengalir di tubuhnya.
"Hhmmmm..... apakah kakeknya kak santi memiliki dantian dan bisa berkultivasi ? Apakah aku harus menanyakan hal tersebut ke beliau agar dapat mengobati rasa penasaranku ? .....tidak.... itu hanya akan membuatnya curiga. Lebih baik nanti aku konsultasi ke guru phoenix."
Setelah beberapa saat memeriksa pergelangan tangan elte, pak halim lalu memegang kening elte dekat pangkal hidungnya dengan hati-hati. Sesaat kemudian, pak halim menghembuskan nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
"Sepertinya hantaman dari tendangan orang itu sangat kuat, aku mendeteksi bahwa keretakan hidungmu cukup parah... pasti sangat menyakitkan ya kalau bernafas atau berbicara... seharusnya nak elte dioperasi untuk mengeluarkan pecahan kecil dari tulangmu yang retak. Dengan kondisi hidungmu yang seperti itu, aku tidak merekomendasikan pemijatan di area tersebut. Proses pemijatan hanya boleh dilakukan jika keretakan itu ada di tangan atau kaki atau tulang belakang."
"Aku akan membuatkan resep khusus agar mempercepat penyembuhanmu. Dengan rutin meminum obat ini maka pecahan dari retakan tulangmu akan dikeluarkan dari tubuhmu. Efek samping dari obat ini adalah muntah darah jika pecahan itu akan dikeluarkan dari tubuhmu. Tidak usah kaget apalagi khawatir karena itu adalah proses penyembuhan. Aku memprediksi hidungmu akan kembali normal dalam waktu dua bulan."
Sang dokter legendaris menjelaskan hasil analisisnya kepada sang pasien. Elte hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan pak halim.
Salim wicaksana yang mendengar hasil diagnosa ayahnya, mengepalkan tangannya lalu berkata, "tenang saja nak elte, aku adalah seorang hakim yang sudah biasa menghadapi kasus penganiayaan seperti yang nak elte hadapi. Aku akan membantu kasusmu dan menghukum orang itu dengan hukuman maksimal lima tahun penjara sesuai dengan pasal 351 KUHP."
Elte terkejut mendengar pernyataan dari ayahnya ardha, setelah diam sejenak ia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mulai berkata, " terima kasih banyak om atas niat baiknya, tapi sebelumnya aku sudah memohon kepada para polisi agar tidak membawa kasus ini sampai ke persidangan, cukup memberinya sedikit hukuman penjara selama beberapa hari. Bagaimanapun kita juga harus memikirkan masa depan anak dan istri dari orang tersebut."
Pak halim, pak salim, pak surya dan pak geo tertegun dengan permohonan elte, mereka sebenarnya kurang sepakat dengan keputusan elte. Sementara itu diah dan ardha beserta ibu mereka kagum dan salut dengan kelembutan sang prontagonis, di dalam benak mereka terbayang kembali sosok wanita tabah dan baik hati di dalam tayangan film sinetron yang mereka nonton di rumah. Sang mahasiswa yang menyimak kejadian yang sedang terjadi itu, hanya bisa diam mengikuti alur kejadian tersebut.
Setelah diam sejenak, salim wicaksono menggelengkan kepalanya dua kali lalu menerima permohonan sang prontagonis tersebut.
"Ayah.... mungkin nak elte akan kesulitan mencari bahan dan meracik resep obat yang ayah berikan tadi. Apalagi dengan kondisinya yang masih cidera, bagaimana jika diah dan ardha membantu nak elte membawakan racikan obat sesuai resep yang ayah berikan tadi" kata ibunya diah yang makin tertarik dengan kepribadian elte.
"Eh... nggak usah tante, nggak usah... yang sakitkan hidungku bukan kakiku, jadi kalo mencari bahan dan meracik obat ini, aku pikir tidaklah merepotkan" potong elte yang merasa kurang enak hati jika terlalu merepotkan.
"Hhhmmmm.... baiklah...eh, ngomong-ngomong aku mendengar kemarin saat dirumahnya pak gubernur kalo kamu jadi asistennya dokter ya" kata pak halim kepada elte
"Iya pak.... kebetulan dari kecil sudah disuruh ibu belajar jadi dokter, cuman ayah ngotot agar aku jadi pengusaha sedangkan paman ingin aku jadi dosen dan ilmuwan" kata elte sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hhmmmm.... apakah kau ingin mencoba belajar pengobatan tradisional ? Siapa tahu kedepannya kita bisa bekerja sama mengembangkan kembali bisnis pengobatan tradisional dari cina tiongkok, pengobatan tradisional dari arab dan pengobatan tradisional dari india." Kata pak halim yang menangkap maksud dan tujuan ibunya diah.
Setelah berpikir sejenak, elte tersenyum dan menganggukkan kepalanya dua kali sambil berkata, "aku mau pak, aku memang sangat penasaran dengan akupuntur dan beberapa pengobatan tradisional. Aku sudah berusaha belajar lewat internet namun pengobatan tradisional sangat langka berbeda dengan pengobatan modern dari barat yang referensinya sangat banyak diinternet dalam bentuk teks, gambar bahkan video tutorial."
Pak halim dan ibunya diah hanya tersenyum senang mendengar persetujuan dari pemuda yang membuat mereka simpatik.
"Baiklah kalau begitu... kami mohon pamit ijin pulang kembali ke rumah.... jaga kesehatan nak elte, jaga pola makan, jaga pola istirahat, dan jangan banyak pikiran" kata pak halim lalu mengajak seluruh keluarganya untuk pulang bersama.
"Oh iya.... kami juga ijin pamit nak elte.... aku juga secara pribadi ingin mengucapkan banyak terima kasih karena telah membimbing dan memotivasi anak saya agar mau belajar programming dan robotika" pak geo petri aritmawan juga ijin pamit sambil mengajak anaknya yang lebih banyak diam menyimak kejadian yang sedang terjadi dan hanya bisa diam mengikuti alur kejadian tersebut.
"Oh iya.... terima kasih banyak atas kunjungannya bapak ibu serta kakak-kakak sekalian" jawab elte.
Setelah keluarga pak halim dan keluarga pak geo menutup pintu ruangan kamar VIP, mereka lalu pulang kerumah mereka masing-masing.
Elte mengaktifkan hotspot dari smartphonenya dan melihat catatan resep dari pak halim. Ia lalu mengaktifkan kemampuan persepsinya untuk berselancar di dunia maya melalui hotspot wifi dari handphonenya.
Setelah memahami bentuk fisik dan kegunaan dari tiap bahan racikan obat tersebut, elte lalu kembali menonaktifkan kemampuannya dan hotspot wifi di smartphonenya.
Saat akan melanjutkan tontonannya, pintu kembali diketuk dari luar, "tok... tok... tok..."
Setelah suara ketukan pintu tiga kali, gagang pintu bergerak dan pintu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda masuk kedalam. Elte mengkerutkan keningnya berpikir dan merasa tidak mengenali keduanya.
Sang wanita paruh baya itu lalu menangis dan berlutut di samping tempat tidur elte, pemuda disampingnya terkejut melihat tindakan ibunya namun setelah beberapa detik ia juga ikut berlutut di samping ibunya.
Elte terkejut melihat sikap kedua orang itu, ia lalu segera beranjak dari tempat tidurnya dan mengangkat tangan sang wanita paruh baya itu.
"Ada apa bu... aku mohon jangan berlutut seperti itu bu, aku mohon agar ibu jangan menangis. Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi" kata elte yang tidak tahan mendengar suara tangis sang wanita paruh baya tersebut.
"Tolong nak.... jangan tuntut suamiku...
Tolong maaf kan suami ku, aku akui suamiku memang salah, tapi itu juga karena kami hanyalah orang miskin nak. Suamiku hanya tidak rela jika anak kami kehilangan beasiswa berprestasi jika kalah dalam pertandingan kemarin nak" kata sang ibu terdengar mengiba dan menyayat hati elte.
"Baik bu... aku tidak akan menuntut suami ibu, aku akan meminta agar pihak polisi membebaskan suami ibu" kata elte yang akhirnya menyadari sosok wanita paruh baya itu sebagai istri dari orang yang telah menciderainya. Ia lalu menatap pemuda disamping wanita itu dan mencoba mengingat sosok yang masih berlutut menemani ibunya.
Pemuda tersebut adalah lawan elte yang ditendang hingga pingsan saat pertandingan terakhir elte. Elte tidak mengenali pemuda tersebut karena juara bertahan karate tiga kali berturut-turut itu selalu mengenakan pengaman termasuk face protector yang tidak transparan. Ia juga sering menyerang KO lawannya agar mental dan psikologi lawan tersebut ikut terpengaruh dan tidak konsentrasi melawan pemuda tersebut akibat citra kasar dari pemuda itu.
Dengan bantuan telepati pembaca pikiran, elte mengetahui bahwa wanita paruh baya itu berkata jujur dan meminta maaf dengan tulus. Ia juga mengetahui rasa sedih pemuda itu melihat ayahnya masuk penjara dan ibunya kini berlutut di depan orang lain.
Walaupun elte tidak mengenali pemuda tersebut, tetapi ia mengetahui bahwa anak itu adalah anak kandung dan atlit yang dilatih oleh orang yang sudah membuat hidungnya cidera.
Elte lalu mengangkat lengan wanita itu agar berdiri tegak. Ia juga mengangkat lengan pemuda itu agar ikut berdiri tegak. Ia lalu berkata dengan lembut, "Tenang saja bu, aku akan menelpon kakakku, ia adalah teman dari polisi yang telah menangkap suami ibu karena terprovokasi dengan sikap kasar suami ibu"
Elte lalu mengambil smartphonenya dan menelpon suami dari kakak dari calon tunangannya. Elte mengaktifkan speakernya agar wanita itu dapat mendengar pembicaraan mereka. Setelah panggilannya diangkat, ia lalu memohon agar orang yang telah menciderainya dapat dibebaskan besok pagi.
Yuda tentu saja menolak permohonan elte karena masih ingin memberi pelajaran buat orang itu, ia mengingatkan elte akan kondisi hidungnya yang cukup parah bahkan terancam harus dioperasi agar pecahan tulang dan darah beku di pangkal hidung elte dapat segera dikeluarkan.
Setelah bernegosiasi cukup lama, yuda akhirnya menyetujui permohonan elte dengan syarat agar keluarga orang itu datang menjemput tersangka dan membuat perjanjian untuk tidak membalas atau menuntut balik.
Elte hanya bisa melihat wanita paruh baya dan pemuda itu. Istri dari tersangka itu lalu menganggukkan kepalanya menyetujui persyaratan yang menurutnya tidak terlalu susah. Elte lalu mengiyakan persyaratan yuda dan menutup teleponnya.
Sang wanita paruh baya beserta anaknya lalu mengucapkan banyak terima kasih berulang-ulang
"Jadi bu.... selanjutnya bagaimana dengan beasiswa anak ibu ?" Tanya elte yang merasa simpatik setelah membaca pikiran pemuda itu yang memikirkan beasiswanya.
"Yah... apa boleh buat nak.... mungkin bukan rejeki anak kami. Setidaknya suamiku selaku pencari nafkah sebagai pengajar seni bela diri karate aliran black panther dapat bebas dan kembali menafkahi kami" jawab wanita paruh baya itu.
"Black panther ?" Kata elte sambil mengkerutkan keningnya, ia lalu melanjutkan ucapannya, "Aku kok baru dengar perguruan black panther"
Wanita paruh baya yang kurang mengerti karate lalu melihat anaknya. Pemuda itu pun menjelaskan bahwa sampai saat ini ada dua puluh lima perguruan karate yang telah terdaftar di Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia atau FORKI yakni AMURA (Karate-Do Indonesia), BKC (Bandung Karate Club), BLACK PANTHER KARATE INDONESIA, FUNAKOSHI, GABDIKA SHITORYU INDONESIA (Gabungan Beladiri Karate-Do Shitoryu), GOJUKAI (Gojuryu Karate-Do Indonesia), GOJU RYU *** (Gojuryu Association), GOKASI (Gojuryu Karate-Do Shinbukan Seluruh Indonesia), INKADO (Indonesia Karate-Do), INKAI (Institut Karate-Do Indonesia), INKANAS (Intitut Karate-Do Nasional), KALA HITAM, KANDAGA PRANA, KEI SHIN KANK, KNSI (Kesatuan Karate-Do Naga Sakti Indonesia), KKI (Kushin Ryu M. Karate-Do Indonesia), KYOKUSHINKAI (Kyokushinkai Karate-Do Indonesia), LEMKARI (Lembaga Karate-Do Indonesia), SHOTOKAI, PORBIKAWA, PORDIBYA, SHINDOKA (Shito-ryu Karate-Do Indonesia), SHI ROI TE (SHIROITE Karatedo), TAKO INDONESIA (Karate-DO TAKO Indonesia), dan WADOKAI (Wadoryu Karate-Do Indonesia).
Dari kedua puluh lima perguruan tersebut yang paling dikenal dan sering mengikuti kejuaraan hanya ada enam perguruan yakni Lemkari, Inkanas, inkado, Inkai, Gojukai, dan BKC. Adapun beberapa perguruan lainnya kadang dilarang ikut kejuaraan karena dalam pelatihannya masih menerapkan sistem full body contack yakni sistem yang diterapkan dalam sebuah teknik kumite, dimana seorang karateka, diperbolehkan memukul dan menendang keras sesama rekan seperguruannya tanpa pelindung sehingga lawan latih tanding terjatuh atau KO.
Mata elte membulat lebar karena kagum. menurutnya selama ini karate hanya banyak gaya dan banyak teriak tidak jelas.
Elte lalu mengingat kondisi pemuda tersebut yang terancam putus bantuan beasiswa di tahun terakhirnya sekolah. Setelah berpikir sejenak ia pun mendapatkan ide untuk membantu biaya sekolah pemuda tersebut tanpa menyinggung harga dirinya.
"Hhmmmm.... aku sepertinya tertarik dengan karate aliran black panther, bagaimana jika anda dan ayah anda memperkenalkan dan mengajarkanku karate black panther selama setahun tanpa perlu terdaftar dalam perguruan tersebut. Aku akan membayar kalian sepuluh juta tiap bulan" kata elte menawarkan bantuan yang sifatnya simbiosis mutualisme atau win win solution.
Mata wanita paruh baya itu tiba-tiba membulat dan bersinar terang secerah mentari yang baru bangkit dari peraduannya. Ia lalu menganggukkan kepalanya tiga kali dan melihat anaknya. Setelah melihat ekspresi anaknya yang juga merasa senang dengan tawaran elte. Ia pun lalu mengucapkan banyak terima kasih.
Setelah beberapa saat mereka berbicara, wanita paruh baya dan anaknya itu lalu ijin pamit untuk pulang ke rumahnya.
Elte lalu ke kamar mandi di ruangan VIP untuk berwudhu semampunya lalu menyenpatkan dirinya untuk beribadah malam. Setelah itu ia menuju pembaringan dan masuk ke alam bawah sadarnya untuk berdiskuai dengan sang phoenix.