WUMMM

WUMMM
64. Pertandingan Karate (2)



"Hhiiiiaatttt..." teriak sang lawan kembali melakukan teknik tendangan mawashi ke arah kepala elte. Elte kembali melakukan hal yang sama, ia menangkis tendangan lawan menggunakan tangan kirinya lalu kaki kanannya kebelakang kaki kiri lawan sambil mendorong tubuh lawan keluar Tatami.


"YAME"  sang wasit kembali berteriak sambil memberi kode ke elte agar kembali ke posisi awalnya di sisi biru. Setelah sang lawan telah kembali ke posisinya di sisi merah, sang wasit lalu mengangkat tangannya serong ke atas ke arah elte sambil berteriak : "AO SANBON."


Elte melihat scorenya berubah menjadi enam poin. Sang wasit lalu kembali berteriak : "HAJIME"


Sang lawan kembali melakukan kuda-kuda seperti sebelumnya. Kali ini ia tidak menyerang seperti sebelumnya. Ia hanya memutari elte yang tetap berdiri dengan kuda-kuda karate tanpa bergerak seperti sang lawan. Tanpa terasa pertandingan telah berjalan selama satu menit. Elte merasa bosan melihat sang lawan yang hanya memutarinya sambil banyak gaya seakan-akan mau menyerang. Ia lalu melompat mendekati sang lawan dan menendang wajahnya.


Sang lawan yang kaget, tidak sempat menghindari tendangan elte. Sekejap pandangannya berkunang-kunang dan ia jatuh pingsan.


"YAME"  sang wasit kembali berteriak lalu memanggil tim medis. Tim medis lalu memeriksa kondisi lawan yang sedang pingsan. Mereka lalu mengambil tandu untuk membawa sang lawan untuk ke ruangan khusus. Sang wasit lalu mengumumkan jika elte di posisi AO sebagai pemenang.


Elte lalu kembali ke tempatnya sambil melepaskan pengamannya seperti hand protector, shin guard, gumshield, Face Masker, Body Protector dan Groin Protector serta sabuk birunya.


Sang guru BK datang membawa air mineral botol dan memberikannya kepada sang prontagonis. Elte lalu meminum setengah botol lalu menyimpan minumannya di sampingnya.


Guru BK tersebut memberitahukan kepada elte bahwa hasil pertandingan dapat dimonitoring di website portal karate secara realtime. Elte lalu mengeluarkan smartphonenya dan mengakses alamat situs sesuai info dari guru BKnya. Sambil berpura-pura mengamati smartphonenya, ia lalu mengaktifkan kemampuan persepsinya untuk menganalisa website tersebut.


Dari hasil analisanya bahwa website portal karate atau K-Portal adalah sistem informasi berbasis web application yang dibangun dengan database  terpusat. K-Portal merupakan website yang menampilkan data schedule, data team, data result dan statistik pertandingan. Selain K-Portal, database tersebut juga terkoneksi dengan aplikasi web K-Measure, aplikasi web K-Champ dan beberapa aplikasi web lainnya.


K-Measure adalah website yang digunakan untuk menampilkan dan menginput data hasil tes pemeriksaan fisik seperti berat badan dan tinggi badan. Website ini dapat terkoneksi dengan interface controller berupa sistem mikrokontroller untuk menarik data dari timbangan digital dan sensor ultrasonik.


K-Champ atau K-Champion adalah website yang digunakan untuk menampilkan dan menginput data score pertandingan. Website ini terhubung ke tatami manager untuk memilih wasit dan juri secara online, website ini juga terhubung ke operator sistem scoring yang memiliki tampilan extended ke LCD Monitor di lapangan atau Tatami.


Elte lalu mendeteksi posisi database berada di luar ibu kota negara di sebuah perusahaan brilyan sport. Elte lalu melihat beberapa panitia dengan baju berbeda dengan logo brilyan sport. Salah satu panitia tersebut sedang berjalan mengawasi proses penginputan nilai score di tiap meja operator scoring.


Panitia tersebut memiliki rambut ikal keriting dengan kulit sawo matang dan perut sedikit buncit. Sebuah ta*i lalat kecil menghias di bawah bibirnya dengan posisi sedikit ke kanan.


Saat panitia itu melewati tempatnya beristirahat, elte lalu menyapa panitia yang bernama syahri insan madani. Panitia itu memiliki sikap yang sangat supel dan mudah bergaul. Ia diminta dipanggil dengan sebutan kak dani.


Kak dani bercerita bahwa dirinyalah yang membangun sistem K-Portal, K-Measure, K-Champ dan beberapa aplikasi web lainnya beserta database dari seluruh aplikasi web tersebut.


Programmer dari perusahaan Brilyan Sport itu bercerita bahwa aplikasi web buatannya itu pernah digunakan saat Sea Games Indonesia untuk cabang olahraga karate dan menang tender saat bersaing dengan perusahaan besar asal cina dan kanada. Dari tiga perusahaan IT dibidang olahraga itu, aplikasi Web dari indonesia dalam hal ini perusahaan Brilyan Sport dapat memenangkan tender proyek karena mereka menggratiskan biaya sewa penggunaan aplikasi web selama pertandingan dua hari berturut-turut. Tidak tanggung-tanggung, mereka juga bahkan mensupport dengan perangkat keras pendukung seperti delapan buah LCD Monitor 50 inch beserta Stand monitornya, dua buah timbangan digital beserta sensor ultrasoniknya, delapan buah Laptop untuk operator scoring dan operator tes pemeriksaan, Enam buah tablet android untuk para pengawas pertandingan yang ada di meja Tatami Manager, serta dua puluh perangkat switch Access Point untuk meningkatkan kualitas Wifi Internet di lokasi pertandingan.


Elte yawarakai merasa bingung dengan keputusan programmer itu yang telah menggratiskan penggunaan sistem mereka. Kalau digratiskan berarti mereka tidak mendapatkan keuntungan malah kerugian dari sisi waktu, tenaga, pikiran, biaya bahkan perasaan.


Kak dani menjelaskan bahwa itu adalah trik marketing pimpinan mereka. Dengan menggunakan event Sea Games sebagai batu loncatan, kini sudah banyak pertandingan karate yang menyewa sistem mereka dengan bayaran yang kecil tetapi jika dikalikan dengan banyak peserta maka akan menjadi keuntungan yang besar.


Selain karate, perusahaan mereka juga membuat sistem yang serupa untuk olahraga futsal, basket, bulu tangkis dan olah raga Golf.


Untuk sistem aplikasi web pada olahraga futsal, perusahaan mereka sudah beberapa kali disewa oleh Event Organizer untuk pertandingan futsal di malaysia, thailand bahkan di taiwan.


Panitia dari perusahaan Brilyan Sport itu sangat bangga menceritakan pengalamannya membangun sistemnya sejak sebelas tahun yang lalu. Sebelum berpisah, mereka saling bertukar nomor Handphone.


Setelah panitia itu pergi untuk kembali bekerja mengawasi para operator pada proses pertandingan, elte duduk kembali menunggu gilirannya. Setelah beberapa menit, para polisi yang ingin menonton pertandingan, menghampiri elte dengan menggunakan baju biasa.


Saat sedang asyik berdiskusi tentang pertandingan yang mereka tonton, sang guru BK datang  menghampiri elte dan menyuruhnya bersiap-siap maju ke pertandingan berikutnya. Elte kembali mengenakan pengamannya seperti hand protector, shin guard, gumshield, Face Masker, Body Protector dan Groin Protector. Untuk pertandingan berikutnya elte akan mengenakan sabuk merah dan akan berdiri di sisi AKA. Ia pun menuju ke  arbitrator untuk diperiksa. Setelah namanya dipanggil, ia pun menuju ke sisi merah atau AKA.


Saat wasit akan mengumumkan pemenangnya. Pelatih dari pihak lawan maju dan protes kepada wasit. Ia menuduh elte telah melakukan kecurangan dan ia juga menemukan bukti bahwa elte telah melanggar persyaratan untuk dapat mengikuti pertandingan. Menurut pelatih tersebut bahwa dalam salah satu syarat menjadi peserta adalah calon peserta harus terdaftar sebagai anggota perguruan yang ada di FORKI. Pelatih itu juga menjelaskan bahwa elte hanya pengganti dadakan dari peserta sebelumnya yang sudah lolos syarat.


Pelatih itu sangat tidak senang dengan hasil pertandingan tadi karena anak didiknya yang menjadi lawan elte adalah juara bertahan tiga tahun berturut-turut. Ia selalu menang KO dan membuat lawannya mengalami cidera di wajah bahkan ada yang sampai masuk rumah sakit karena patah tulang atau cidera pada organ dalam. Dengan kalahnya anak didik yang selalu ia banggakan dalam waktu lima detik dengan kondisi pingsan, membuat sang pelatih merasa malu dan tidak terima.


Wasit lalu meminta waktu untuk berdiskusi dengan para pengawas di meja tatami manager beserta seluruh wasit dan juri. Pertandingan kumite dan kata di kedua lapangan juga ikut dihentikan karena wasit dan jurinya dipanggil untuk rapat mendadak.


Setelah berdiskusi beberapa menit, salah satu pengawas mewakili para wasit dan juri untuk menyampaikan hasil diskusinya. Ia memanggil kedua pelatih dari masing-masing peserta yang bertanding.


Sang pengawas menyatakan bahwa walaupun elte tidak terdaftar di perguruan manapun, namun sekolah elte telah terdaftar dan bekerja sama dengan salah satu perguruan yang telah terdaftar di FORKI atau Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia.


Pengawas itu juga memperlihatkan aturan secara keseluruhan bahwa ada satu poin selanjutnya yang menyatakan bahwa pihak sekolah dapat mengirimkan utusannya selama utusan itu adalah murid tetap sekolah tersebut. Pengawas itu kembali mengingatkan bahwa pertandingan ini bukanlah pertandingan antar perguruan tetapi pertandingan antar sekolah.


Sang pelatih tetap protes dan menyalahkan aturan yang multi tafsir. Ia menyatakan bahwa kedua aturan itu saling berlawanan dan membuktikan bahwa pihak panitia sengaja mencari celah agar dapat menghasut para pelatih dan peserta. Beberapa rekan pelatih dan murid mereka ikut berteriak memanas-manasi keadaan.


Pengawas itu lalu menatap guru BK disekolah elte dan meminta bagaimana pendapatnya. Guru BK itu sebenarnya ingin ngotot berdebat namun ia merasa kalau dirinya juga salah dengan menukar pesertanya. Ia lalu memanggil elte untuk mendekat dan meminta pendapatnya.


Elte diam sejenak dan berkata bahwa pelatih di pihak lawan melakukan tindakan nepotisme. Ia menyatakan bahwa dirinya telah maju dua kali bertanding dan kenapa pelatih tersebut baru melakukan protes setelah pesertanya dikalahkan. Kenapa tidak sebelumnya.


Pernyataan elte diterima oleh semua wasit dan juri dengan mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali. Melihat suasana debay yang tidak memihak dirinya, pelatih di pihak lawan kehilangan kendali dan menendang wajah elte. Sang prontagonis yang tidak siaga tidak sempat lagi menghindari tendangan pelatih tersebut. Hidungnya mengeluarkan darah akibat tendangan yang tepat memgenai batang hidungnya. Elte merasa sangat kesal karena tidak bisa menggunakan kemampuannya untuk menyembuhkan diri akibat banyaknya mata yang sedang melihatnya.


Rian askar yang sedari tadi menyimak kejadian itu lalu mengeluarkan pistol dan berteriak "POLISI.... JANGAN BERGERAK"  ia lalu menodonglan pistol itu di kepala sang pelatih.


"ANDA TELAH TERTANGKAP TANGAN MELAKUKAN TINDAKAN PIDANA PENGANIAYAAN DI DEPAN UMUM.... ANDA KAMI TAHAN SAAT INI JUGA, ANDA MEMILIKI HAK UNTUK DIAM DAN MENDAPATKAN PENGACARA".


Selain Rian Askar, beberapa polisi juga ikut mengeluarkan pistolnya. Salah satu polisi lalu mengeluarkan borgol dari tasnya dan memborgol tangan sang pelatih. Ia lalu dibawa ke kantor polisi. Beberapa polisi juga pergi ke ruang kontrok untuk meminta salinan rekaman CCTV. Sementara itu dian askar dan hera iskandar datang menghampiri elte yang masih kesal dengan banyaknya tatapan mata ke arahnya. Tim medis datang menghampiri lalu memberikan pertolongan pertama. Ia lalu dibawa ke rumah sakit terdekat karena dicurigai tulang hidungnya retak.


Elte kembali merasa kesal karena tidak bisa menyembuhkan dirinya, ia sadar bahwa sebentar lagi ia akan divisum sebagai bukti kekerasan sang pelatih. Jika dirinya sudah sembuh, dan tidak terbukti adanya kekerasan pada dirinya, maka para polisi tadi bisa dituntut balik dengan ancaman pencemaran nama baik.


Elte lalu teringat dengan janjinya kepada para mahasiswa yang sedang mengikuti Wireless Fighting Robot Contest. Ia lalu mengirimkan chat ke para mahasiswan tersebut dan menceritakan kronologisnya secara singkat, padat dan jelas.


Sembilan mahasiswa yang dikirimi chat, sedang euforia karena telah memenangkan lomba robot sebagai juara satu, juara dua dan juara tiga. Kampus mereka merebut semua piala juara tanpa ada yang bisa melakukan protes karena lomba dilakukan secara transparan di depan semua penonton.


Saat mereka membaca chat dari pembimbing robot mereka tentang permintaan maaf tidak dapat menonton perlombaan akibat cidera, mereka sepakat untuk segera menjenguk  elte di rumah sakit.


Salah satu orang tua dari mahasiswa tersebut adalah guru matematika elte yang pernah mencurigai sang prontagonis melakukan tindakan curang saat ujian. Ia sangat penasaran dengan orang yang telah membimbing anaknya menjadi juara. Ia lalu memutuskan untuk mengantar anaknya beserta teman-temannya ke rumah sakit tersebut.


sang guru matematika itu juga ingin mengucapkan terima kasih karena anaknya yang sebelumnya sangat lemah dengan logika dan matematika, kini sangat menyukai materi matematika dan bahasa pemrograman.


ia sangat penasaran dengan sosok yang sudah sukses membimbing anaknya yang sangat lambat dengan materi hitungan, bahkan dirinya pun sudah menyerah untuk mengajari anak kandungnya itu.


sang guru matematika menduga bahwa pembimbing anaknya adalah seorang dosen yang seumuran dengannya. terlintas dipikirannya sesosok dosen yang sedikit botak dan ubanan dengan perut buncit serta kacamata berlensa bifokal.


Lensa bifokal merupakan jenis lensa kacamata yang sering direkomendasikan untuk mengoreksi gangguan penglihatan akibat usia. Lensa ini memiliki dua titik fokus, yaitu pada bagian atas lensa untuk memperjelas penglihatan jarak jauh, dan pada bagian bawah lensa untuk memperjelas pandangan jarak dekat.


Tidak ada sedikitpun pikiran yang melintas dikepalanya tentang sosok pembimbing anaknya adalah siswanya sendiri yang masih tingkat sepuluh atau kelas satu SMA di sekolah tempatnya mengabdi selama bertahun-tahun.