WUMMM

WUMMM
14. Terpilihnya Sang Pewaris (2)



[ FLASHBACK ON ... ]


Beberapa jam setelah kabar tentang penemuan candi dan informasi lelang tentang sebuah kalung mutiara yang mampu berkedip-kedip.


Sebuah organisasi kuno di luar negeri tepatnya di negeri cina bernama SFO atau Sun Flower Organization atau Organisasi Bunga Matahari mengadakan rapat pimpinan membahas tentang berita lelang tersebut


"Cerita ramalan dari leluhur kita dan dari phoenix lewat mimpi, tentang kemunculan candi yang di dalamnya ada sembilan mutiara, sepertinya sesuai dengan kejadian dengan berita lelang yang akan dilakukan bulan depan di sebuah museum di indonesia"


"Dari berita yang telah dikumpulkan oleh para anggota bahwa sepertinya mereka memodifikasi ke delapan mutiara menjadi sebuah kalung tasbih yang sangat cantik."


"Sepertinya mereka tidak mengetahui tentang keajaiban inti phoenix karena saat ini inti phoenix hanya seperti sebuah batu mutiara bening biasa yang terlihat seperti batu imitasi biasa"


"Hal itu diperkuat karena mereka tidak mampu melubangi atau memodifikasi mutiara bening itu sehingga tidak ada dalam berita lelang tersebut mengenai batu mutiara bening."


Seorang pria tua dengan rambut putih dan janggut putih yang panjang mulai berbicara menjelaskan hasil investigasi terhadap  berita yang telah menarik perhatian organisasi mereka.


"Jadi apa rencana penatua ke tujuh" tanya salah satu anggota rapat ke pria tua yang membuka rapat pimpinan tersebut


Organisasi Bunga Matahari atau Sun Flowee Organization atau disingkat SFO merupakan organisasi kuno dimana seluruh angotanya memiliki kemampuan kultivasi mengendalikan beberapa elemen.


Organisasai tersebut  memiliki sebuah pusaka peninggalan keluarga mereka yang bisa membuat seseorang tampak kasat mata dan pusaka tersebut dapat membuat portal dimensi untuk teleportasi.


Organisasi Bunga matahari memiliki sebuah ketua yang dipanggil Patriach dan sembilan orang dewan penasehat yang dipanggil penatua satu, penatua dua, penatua tiga, penatua empat, penatua lima, penatua enam, penatua tujuh, penatua delapan dan penatua sembilan


"Sebaiknya besok kita mengirim salah satu anggota kita untuk menyusup diam-diam ke museum tersebut menggunakan pusaka keluarga"


"Sebaiknya kita tidak usah mengambil kalung tasbih dari delapan mutiara karena itu akan membuat heboh dan bisa menimbulkan kecurigaan"


"Kita cukup fokus merebut inti phoenix dan menghalanginya menemukan sang pewaris agar pusaka keluarga kita tidak rusak."


"Kedelapan mutiara berwarna yang dimodifikasi menjadi kalung tasbih tidak lebih hanyalah sebuah perhiasan biasa yang tidak memiliki kemampuan yang berguna  buat organisasi kita, jadi kita tidak perlu mencari masalah dengan kehilangan kalung tersebut"


Pria tua yang dipanggil penatua ketujuh menjelaskan usulannya terhadap berita lelang di indonesia


"Bukankah kedelapan mutiara itu bisa kita jadikan segel untuk menyembunyikan keberadaan inti phoenix" kata salah satu penatua yang kurang sepakat dengan masukan dari penatua ketujuh


"Berdasarkan cerita leluhur, kedelapan mutiara tersebut hanya berfungsi untuk menyembunyikan inti phoenix agar tidak dapat dideteksi oleh kaum naga dan alien, dengan musnahnya kedua kaum itu berarti kedelapan mutiara itu sudah tidak ada gunanya lagi buat kita simpan"


"Saya sepakat dengan usulan penatua ketujuh agar tidak perlu membuat kepanikan, tentang kehilangan kalung dari delapan mutiara tersebut"


"Informasi yang didapatkan dari salah satu anggota kita menyatakan bahwa pada awal mereka ingin melelang inti phoenix karena di dalam otak mereka hanya keuntungan, mereka berencana membodohi para peserta dengan melebih-lebihkan kemampuan mutiara bening tersebut"


"Namun walikota setempat mengeluarkan undang-undang tentang perlindungan konsumen, yang dapat mengancam integritas musemlum tersebut."


Pria tua berbadan kekar dan terlihat masih muda karena kemampuan kultivasinya mengeluarkan pendapatnya mendukung penatua ke tujuh


"Tapi patriach, kenapa kita tidak sekalian ikut saja pelelangan tersebut dan membeli inti phoenix itu" tanya penatua kesembilan kepada pria tua tadi yang sudah mendukung penatua ketujuh.


"Waktu pelelangan masih lama sekitar bulan depan lagi, aku tidak ingin ada oknum yang datang merampok sehingga kita akan kehilangan jejak inti phoenix."


"Kita tidak memiliki sistem yang dapat melacak keberadaan inti phoenix kecuali inti phoenix tersebut telah memilih pewaris dan pewaris tersebut telah berkultivasi sehingga kita bisa lacak dengan batu pengukur yang saat ini hanya ada dua buah"


"Dan pelu diingat kembali jika inti phoenix telah berhasil mendapatkan pewaris maka kekuatan pusaka kita akan menghilang dan kita tidak akan punya kemampuan kasat mata dan teleportasi"


"Tentunya hal itu akan sangat merugikan organisasi kita karena kita terancam tidak bisa menghabisi musuh-musuh kita dengan sembunyi-sembunyi lagi".


Patriach menjelaskan alasannya menyetujui usulan penatua ketujuh tentang kekhawatirannya jika ada yang merampok kalung mutiara dan inti phoenix sebelum waktu pelelangan.


"Baik lah patriach.... kekhawatiranmu ada benarnya juga." Jawab si penatua kedelapan yang tadinya kurang setuju terhadap penatua ketujuh.


Setelah terjadi mufakat dari para peserta rapat. Mereka pun mengakhiri rapat mereka.


Patriach lalu memanggil salah satu anggotanya yang sudah berpengalaman menyusup ke perusahaan musuh-musuhnya. Anggota itu terbiasa mencuri data perusahaan bahkan tidak segan meracuni musuhnya diam-diam.


Walaupun seluruh anggota organisasi bunga matahari atau SFO memiliki kekuatan kultivasi atau kemampuan sihir pengendali elemen, namun mereka lebih memilihi membunuh musuhnya dengan cara diam-diam.


Mereka ingin menyembunyikan fakta tentang kekuatan mereka yang sudah dianggap sebagai cerita dongeng atau komik bagi para manusia saat ini.


Esok pagi kemudian, dengan menggunakan pusaka keluarga, anggota SFO yang telah ditunjuk sebelumnya berteleportasi ke museum tujuan di indonesia.


Setelah tiba di museum, anggota tersebut menyusup ke dalam museum mencari informasi dengan kondisi tubuh yang terlihat kasat mata. Dari informasi yang didapatkan bahwa, nanti siang kotak peti berisi mutiara-mutiara tersebut akan tiba.


Sambil menunggu kedatangan pemilik museum yang saat ini menjemput temannya sang arkeolog dengan kotak peti temuannya, anggota SFO lalu pergi ke tempat makan di sekitar museum untuk menikmati kuliner lokal.


Setelah melepas pusaka ajaibnya agar tidak kasat mata dan menyimpannya di tas, anggota tersebut memesan makanan-makanan yang katanya cukup favorit di tempat makan itu.


Ada coto, pallubasa, pallu mara, pallu kalua, pallu butung, konro, kapurung, mie titi, ikan woku-woku, binte jagung dan masih banyak lagi kuliner khas bugis makassar yang terlihat di menu makanan yang ada.


Anggota tersebut memesan semuanya dan penasaran ingin mencobanya. Dengan kemampuan kultivasi yang dimilikinya sehingga dia mampu makan tanpa khawatir sakit perut.


Setelah menunggu beberapa lama, sebuah portal dimensi muncul dan dari portal tersebut keluarlah utusan yang mereka tunggu dengan wajah pucat.


"Gawat patriach....gawat..... tolong maafkan keteledoran saya patriach....tolong hukum saya patriach" sang utusan datang sambil menangis pucat dan membuat para pimpinan yang hadir saat terkejut.


"Ada apa ... ? Kenapa kamu datang dengan panik ? Bagaimana dengan inti phoenix yang ingin kita curi ? Apakah ada perampok yang mendahului kita" kata patriach ikut panik


"Sebelumnya saya telah berhasil mencuri inti phoenix itu patriach ... bahkan saya mendengar pembicaraan mereka bahwa mereka tidak jadi melelang inti tersebut karena menganggap mutiara bening itu tidak lebih berharga dari mainan perhiasan imitasi yang dipake anak-anak" jawab utusan itu menjelaskan sambil terisak karena merasa berdosa terhadap organisasinya


"Tolong bunuh aku patriach... aku telah berdosa kepada organisasi dan keluarga kita...." ratap utusan itu


"Kalau memang kamu telah berhasil mencuri inti phoenix itu kenapa kamu panik dan menangis seperti ini?" Tanya patriach diikuti dengan tatapan bingung para penatua.


"Tadi siang sambil menunggu kedatangan pemilik museum itu membawa inti phoenix, aku mencoba kuliner lokal patriach."


"Ada coto, pallubasa, pallu mara, pallu kalua, pallu butung, konro, kapurung, mie titi, ikan woku-woku, binte jagung dan masih banyak lagi kuliner lokal yang saya lihat di menu itu patriach."


"Karena ketagihan makan coto dengan banyak ketupat, tanpa sadar aku menambah banyak sambal lombok ke dalam coto karena rasa pedasnya bikin mau nambah terus."


Sang utusan menjelaskan pengalamannya menikmati kuliner lokal saat sedang menunggu tadi siang


"Loh terus apa hubungannya rasa panik yang kau perlihatkan dengan pengalamanmu menikmati kuliner lokal ?"


"Apakah saat ini kamu ingin melakukan PRANK atau lelucon kepada kami ?" Selidik sang patriach sambil menengok kiri dan kanan mencoba memeriksa lingkungan sekitarnya, jangan sampai ada kamera yang tersembunyi dan sedang merekam aksi utusan yang dianggap sedang melakukan PRANK.


"Tidak patriach... cerita saya belum usai, setelah mencuri inti phoenix itu, perutku sakit terasa melilit padahal sebelumnya aku selalu kuat jika makan banyak" kata utusan itu melanjutkan ceritanya


"Sepertinya itu mungkin karena sambal lombok yang mengandung bahan rempah-rempah pilihan seperti cabe, merica, kayu manis, bawang merah, bawang putih dan bumbu lainnya ditambah terasi udang" potong penatua kedelapan sambil mengingat pengalamannya yang pernah sakit perut melilit karena memakan sambal lombok tersebut.


"Itu mungkin saja penatua kedelapan, tetapi aku yakin sambal lombok itu tidak menggunakan kayu manis dan terasi udang, penatua" jawab sang utusan itu sambil mencoba mengingat rasa sambal lombok yang membuatnya ketagihan jika dicampur dengan coto dan ketupat.


"Sudah-sudah ..... hentikan pembicaraan tidak jelas ini dan lanjutkan ceritamu" kata patriach yang sebenarnya masih berharap ini adalah PRANK dari anggota-anggota SFO.


"Baiklah patriach.... setelah mencuri inti phoenix, perutku terasa melilit jadi aku memutuskan untuk buang air besar di toilet yang sedikit jauh dari ruangan pemilik museum."


"Aku cukup kaget melihat toilet mereka yang mengharuskan aku jongkok saat ingin buang air besar. Mereka tidak menggunakan toilet duduk seperti yang ada di mall tempat belanja"


"Mereka juga tidak menyiapkan tisu untuk membersihkan diri kecuali sebuah ember berisi air dan gayung."


"Aku akhirnya membersihkan diri dengan menyiram bokongku dengan air sambil menggosoknya dengan tangan kiri agar bersih."


"Saat aku selesai membersihkan diri, aku melihat kotoranku masih berada di dalam closet dan tidak ada tuas yang bisa ditekan agar dapat membersihkan kotoran itu dengan aliran air. Aku terpaksa menyiramnya dengan manual"


Sang utusan menceritakan pengalamannya saat buang air besar


"Bisa kau langsung ke intinya" kata patriach mulai gelisah


"Baik patriach ... aku menyiram kotoran itu sambil berdiri agak membungkuk karena saat mengambil air di ember yang tingginya hanya selutut orang dewasa. Ketika aku sudah selesai membersihkan diri, aku pun keluar toilet dengan hati lega" kata sang utusan


"Apakah kamu teledor saat keluar toilet dan ketahuan oleh orang-orang yang ada di museum, kamu kan bisa melumpuhkannya dengan kemampuanmu jika harus memang terpaksa" tanya patriach


"Tidak patriach.... setelah keluar dari toilet dan ingin kembali ke markas menggunakan pusaka, aku memeriksa kembali inti phoenisx yang aku letakkan di saku kemeja depan dada. Ternyata inti tersebut sudah hilang kemungkinan terjatuh di toilet waktu menyiram sambil membungkuk menimba air di ember"


"Aku kembali ke toilet dan memeriksa di dalam tetapi aku tidak menemukan inti phoenix itu lantai toilet dan sekitarnya"


"Dengan menggunakan pusaka, aku berpindah tempat mencari tempat septic tank dari museum itu"


Kata utusan itu menutup penjelasannya dengan muka sedih dan takut


Utusan itu mengira jika inti phoenix terjatuh ke closet dan berakhir di septic tank. Tetapi sebenarnya mutiara bening yang menjadi wadah untuk inti phoenix tersebut hanya terjatuh di lantai toilet.


Saat utusan itu selesai menyiram kotorannya, dia lalu mencuci kakinya dengan air dan tanpa sadar membuat mutiara bening berbentuk telur puyuh kecil itu terseret oleh air ke lubang pembuangan air kotor yang tidak dilengkapi filter penutup.


Inti phoenix itu pun ikut mengalir melalui pipa pembuangan air kotor ke selokan besar dekat museum


Saat elte terjatuh ke selokan yang sama, mutiara itu menyentuh tubuh elte sehingga membuka kesadaran phoenix. Dan berusah mengendalikan mutiara inti phoenix itu masuk ke kantong bajunya.


Setelah elte dibawa ke rumah sakit, beberapa wartawan datang meliput kejadian anak walikota yang jatuh bersama elte.


Para wartawan cukup terkejut dan tahu bahwa elte adalah anak dari ayah yang mati ditabrak oleh anak pertama sang walikota.


Mereka lalu bergosip di dekat elte menceritakan tentang perjuangan elte sebagai anak yatim yang membantu kondisi panti dengan memulung sampah, tentang kebakaran rumah yang menyebabkan kematian ibunya, dan tentang bantuan beasiswa dari sekolah. Wartawan senior menutup pembicaraan mereka dengan mengatakan bahwa elte dan ayahnya, yang menyebabkan kedua anak walikota menjadi cacat, bukanlah sebuah kebetulan saja, tapi bisa jadi ini adalah takdir yang sedang berjalan untuk melawan walikota kelak.


Kesadaran phoenix yang berada di kantong baju elte, menyimak cerita tersebut, merasa terharu dan memutuskan untuk menunjuk elte sebagai pewaris kekuatannya.


Saat sepi, inti phoenix itu melayang ke arah mulut elte dan masuk menuju perut elte. Tubuh elte kemudian mengeluarkan cahaya terang beberapa saat menandakan proses penggabungan inti phoenix dengan elte telah berhasil


[ FLASHBACK OFF ... ]