WUMMM

WUMMM
25. Bertemu Sang Leluhur



Saat mobil ambulance datang dengan dikawal beberapa polisi, para polisi itu segera mengamankan warga sekitar agar pihak medis dapat membawa penumpang yang terluka.


Polisi sempat tertegun melihat seorang anak kecil berumur sekitar sepuluh atau sebelas tahun sedang dalam kondisi kritis dengan luka tembak di lengan kanannya.


Terlihat pintu samping kanan terbuka memberi kesan bahwa orang yang mengendarai minibus telah melompat kabur.


Beberapa polisi diutus untuk segera mencari dan mengejar pengendara minibus di semak-semak pinggir jalan.


Para tim medis segera mengevakuasi elte yang terluka. Sedangkan penumpang yang ada di belakang terlihat sehat, hanya nampak syok dengan kejadian tersebut.


Semua murid yang tadinya masih tertidur selain yuni, lani dan lina, terbangun dengan tabrakan kecil dari minibus yang telah membawa mereka kabur dari markas penculik.


Kesepuluh murid itu dinaikkan di mobil polisi, untuk dibawa serta ke rumah sakit terdekat.


Saat diperjalanan, tubuh elte sedikit bercahaya tanpa diketahui oleh supir dan para tim medis yang menemani.


Elte tanpa sadar mengaktifkan kekuatan elemen cahaya, untuk mengobati dirinya sendiri, wajah pucat elte kembali terlihat segar, karena kondisi tubuh elte yang tadinya kekurangan darah, memicu sumsum tulang belakang untuk memproduksi sel-sel darah merah.


Di dalam mimpinya, elte melihat seorang pria tua dengan rambut, kumis dan janggutnya berwarna putih dan panjang ke bawah.


..........


"Bagaimana keadaanmu nak ?" Terdengar suara berat dari seorang pria tua itu


"Siapa kamu..... apakah kamu adalah guru phoenix" elte bertanya berharap bahwa gurunya telah kembali


"Aku adalah leluhur dari keluarga penjaga pusaka yang pernah diberikan amanah oleh sang phoenix untuk menjaga batu teleportasi." Jawab leluhur itu membuat elte ketakutan.


"Apa yang kamu inginkan ? Apakah kamu ingin menculikku dan membawaku ke keluarga penjaga pusaka?" Suara elte terdengar gemetar


"Aku tidak punya niat sedikitpun untu menculikmu, aku hanya ingin menebus kesalahanku milyaran tahun yang lalu karena tidak bisa menjaga kepercayaan sang phoenix" leluhur itu menjawab sambil mengingat masa lalunya.


"Saat umurku telah mencapai ribuan tahun, aku sebagai penjaga batu teleportasi sering didatangi oleh sang phoenix kala itu, ia menceritakan kilasan masa depan yang ia lihat tentang keserakahan umat manusia yang ingin merebut batu pusaka itu"


"Pada pertemuan terakhirku dengan sang phoenix, ia menyimpan sebagian kesadaranku sehingga kelak aku bisa mendatangi dan membimbing keturunanku dan sang pewaris dalam mimpi."


"Aku hanya bisa menggunakan kesempatan ini dua kali saja, dan setiap kesempatan itu, aku bisa bertahan selama seminggu, di alam bawah sadar, dari orang yang kudatangi dalam mimpinya."


"Ini adalah kesempatanku yang terakhir karena jutaan tahun yang lalu, aku telah menggunakan kesempatan pertamaku untuk membimbing keturunanku."


Sang leluhur memberikan penjelasan dan membuat elte menghembuskan nafas lega. Elte takut jika ia akan di bawah ke keluarga penjaga pusaka dengan kondisinya yang belum bisa menggunakan telepati dan telekinesis.


"Baiklah .....leluhur..... jadi apa yang selanjutnya akan leluhur lakukan di dalam alam bawah sadarku" tanya elte


"Aku akan membimbingmu untuk memahami cara berkultivasi dan menguasai kemampuan sihir untuk mengendalikan elemen" jawab sang leluhur membuat kedua bola mata elte membesar.


"Karena ini adalah kesempatan terakhirku dapat berkomunikasi di alam bawah sadar manusia, maka saya berharap bisa kita maksimalkan untuk seminggu." Sang leluhur menyampaikan keinginannya dan disetujui oleh elte.


......... ......... .........


Sementara itu, para medis yang telah membawa elte ke ruang gawat darurat, merasa bingung karena luka tembak elte telah sembuh dan anak itu dalam kondisi koma.


Bu yeyen yang saat itu telah dikabari oleh pak jaya, segera mengambil alih pasien ke ruang ICU, dan meminta para tim medis tersebut agar merahasiakan fenomena ini.


Pak jaya terkejut saat menerima telpon dari wartawannya tentang kondisi elte dan anak bungsunya, telah ditemukan di sebuah minibus.


Pak jaya lalu segera memerintahkan para wartawan untuk tidak memuat berita tersebut dengan alasan dapat memicu pembalasan dari penculik.


Pak jaya lalu ke rumah sakit untuk menjemput anak bungsunya, ia juga menghubungi adik iparnya agar mengamankan kondisi elte.


Ia yakin kalo luka elte akan sembuh sendiri dan bisa menghebohkan kembali rumah sakit dan masyarakat luar.


Setelah tiba di rumah sakit, pak jaya menunggu di depan ruangan bangsal VIP rumah sakit, tempat anak-anak itu sedang dinterogasi bersama oleh polisi.


Kata interogasi mungkin kurang tepat dengan apa yang sedang terjadi di dalam ruangan tersebut. Para polisi saat ini sedang bercanda sambil membujuk anak-anak agar mau bercerita. Beberapa permen dan mainan sengaja dibeli untuk membuat anak-anak, agar mau dengan suka rela  berbagi cerita pengalamanya saat penculikan.


Cara Polisi menginterogasi anak-anak yang telah menjadi korban, memang harus lebih lembut, untuk melancarkan proses interograsi, para polisi dengan sengaja mendatangkan seorang psikolog anak yang cukup terkenal.


Yuni, lina dan lani sepakat untuk tidak menceritakan tentang elte yang membawa mobil untuk kabur. Tidak akan ada orang yang akan percaya begitu saja dengan cerita tentang sebuah minibus yang dikendarai oleh seorang anak kecil berumur sekitar sepuluh atau sebelas tahun.


Polisi sedikit kecewa dengan hasil interogasi terhadap anak-anak. Dari cerita mereka, anak-anak diculik dari bus terus di bawah ke truk. Sampai di truk di kurung dalam kamar. Terus saat malam diberi makan malam. Lalu tidur dan terbangun saat terjadi tabrakan minibus dengan mobil patroli polisi.


Polisi merasa perlu menggali informasi ke anak laki-laki yang sebelumnya diduga habis kena tembakan, namun menurut dokter yang menangani anak tersebut, bahwa lengannya tidak terluka, hanya darah yang menempel.


Polisi tidak bisa menggali langsung ke anak tersebut karena saat ini sedang anak itu sedang koma.


.........


"Kamu pasti telah mendengar cerita dari phoenix sang burung api keabadian, dengan tugasnya menjaga serta memelihara alam dan umat manusia."


"Setiap seribu tahun, sang phoenix akan membakar dirinya agar dapat lahir kembali dari abu bekas tubuhnya."


"Hingga hari naas saat tubuhnya di serang dan dibunuh oleh seekor kadal dan seekor kodok."


"Setelah jutaan tahun, si kadal berevolusi menjadi manusia naga dan si kodok berevolusi menjadi manusia alien"


Sang leluhur membuka kembali pembicaraannya setelah terdiam beberapa saat, dengan mengingatkan kembali cerita tentang asal-usul manusia naga dan manusia alien.


"Sang phoenix dianugrahi kekuatan pikiran dari akalnya dan kekuatan perasaan dari hati dan jantungnya."


"Sedangkan kadal yang memakan badan beserta hati dan jantung phoenix, akhirnya memiliki kemampuan sihir pengendali empat elemen."


Sang phoenix melanjutkan penjelasannya yang masih disimak oleh elte.


"Kamu pasti sudah tahu dari phoenix bahwa kekuatan telepati dan telekinesis dapat dibangkitkan dengan memusatkan pikiran pada satu atau beberapa titik fokus."


"Kekuatan mental dan jumlah titik fokus yang dapat kamu gunakan, akan menentukan banyaknya kemampuan yang dapat dibangkitkan."


"Dan untuk melatih pikiran agar kekuatan mental dan jumlah titik fokus meningkat, adalah dengan melakukan olahraga otak, dan banyak beristirahat agar otak dapat kembali rileks kembali"


"Kaum alien lebih banyak hibernasi atau tidur panjang untuk melatih pikirannya, karena saat itu belum mengenal olahraga otak.


"Berbeda dengan kaum naga, untuk dapat meningkatkan kemampuan sihir pengendali elemennya, kaum naga harus berkultivasi"


"Kultivasi adalah suatu sistem perangkat latihan yang dapat memperbaiki dan meningkatkan moral, tubuh dan spiritual mahluk itu menuju ke tingkat yang lebih tinggi."


"Kultivasi terbagi atas dua yakni kultivasi raga dan kultivasi jiwa." Sang leluhur terus melanjutkan penjelasannya.


"Kultivasi raga terdiri dari latihan gerakan-gerakan lembut yang menyerupai senam, yoga dan juga meditasi. Latihan gerakan tersebut berfungsi mengolah potensi tubuh, membangkitkan energi dalam tubuh dan menyerap energi alam semesta, juga untuk memperkuat sistem mekanisme energi yang kuat di sekujur tubuh."


"Sedangkan kultivasi jiwa bertujuan mempertajam perasaan serta meningkatkan watak dan kualitas moral dengan jalan menyelaraskan diri dengan karakteristik alam semesta."


"Karakter alam semesta hadir dalam elemen-elemen utama yakni air, api tanah dan udara. Seperti halnya jiwa ditanam dalam sifat-sifat yang sama dengan elemen utama."


"Elemen Air, dalam jiwa, laksana darah yang dipompa oleh jantung, mengaliri tubuh, pemberi warna merah dan kehidupan. Keping-keping darah mengalir seperti air. Mengisi setiap ruang-ruang kosong demi menjaga hidup sebuah jiwa. Berkat air, rasa dingin menjalari kalbu hingga jiwa tetap dalam ketenangan. Jiwa dingin dan tenang begitulah elemen air bermulah. Emosi negatif untuk elemen air adalah kesedihan dan putus asa sedangkan emosi positif untuk elemen air adalah kesabaran dan ketabahan."


"Elemen Api, dalam jiwa, laksana gairah yang membutuhkan rasa hangat juga membakar seperti cinta, membakar jiwa memberikan nuansa panas merata. Memerahkan pipi, mendebarkan jantung dan membuat hati berbunga-bunga. Betapa penting elemen api dalam diri. Meski panas matahari menyengat kulit tetap saja api dibutuhkan untuk mendidihkan air. Membuat gejolak jiwa menjadi lebih bermakna. Emosi negatif untuk elemen api adalah kemarahan dan kebencian sedangkan emosi positif untuk elemen api adalah semangat dan ambisi atau harapan."


"Elemen Tanah, dalam jiwa, laksana bumi tempat menyemai dan menuai. Jiwa menyemai bibit kebaikan dan menuai kebahagiaan. Tanah berwarna coklat kehitaman seperti jiwa yang subur dalam serbuan hijau pepohonan. Pepohonan jiwa manusia untuk keteduhan. Emosi negatif untuk elemen tanah adalah ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, kegelisahan atau kepanikan serta sikap pesimis atau rendah diri sedangkan emosi positif untuk elemen tanah adalah keberanian dan keikhlasan atau kerelaan berkorban."


"Elemen Udara, dalam jiwa, laksana Oksigen yang diperlukan oleh sel-sel tubuh untuk mengubah nutrisi menjadi energi, yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas, membangun kekebalan tubuh, pemulihan kondisi tubuh, juga penghancuran beberapa racun sisa metabolisme. Udara adalah media pengantar unsur-unsur yang lain, seperti suara, cahaya, gerak, dan sebagainya. Udara adalah elemen pesan tak tertulis dan elemen kata yang mendiami rasa di jiwa. Udara yang melayang membuat jiwa terbang menjarah tempat yang tak bisa dijangkau oleh raga. Dengan sifat udara, jiwa mampu menyelusup ke dalam jiwa. Merasakan desiran nestapa atau letupan bahagia. Kehalusan udara menyamai halusnya jiwa. Emosi negatif untuk elemen udara adalah kekecewaan, kehampaan dan keraguan atau plin-plan, sedangkan emosi positif untuk elemen udara adalah optimis dan spontanitas."


Sang leluhur terus menjelaskan tentang hubungan antara kekuatan emosi dan perasaan, dengan filosofi elemen-elemen dasar.


"Manusia yang memiliki dantian, akan berkultivasi mengendalikan emosi dan perasaannya, yang sesuai dengan elemen mereka melalui latihan pernapasan dan konsentrasi."


"Jika emosi pemicu yang sesuai dengan elemen dasar, bersinkronisasi secara harmonis, terhadap alam semesta, maka tingkat kultivasi akan meningkat seiring dengan jumlah energi yang bisa di serap dari alam semesta."


"Di waktu aku masih hidup dan berada di puncak kejayaanku, telah terbentuk lima kerajaan dengan masing-masing penyebutan mereka terhadap energi alam semesta itu."


"Kerajaan utara dan barat menyebut energi kehidupan dengan istilah Mana, kerajaan timur dan selatan menyebut energi kehidupun itu dengan istilah chi atau qi, sedangkan kerajaan tengah menyebut energi kehidupan itu dengan istilah chakra dan tenaga dalam."


"Dengan perkembangan ilmu kultivasi yang terus berkembang saat itu, tiap-tiap wilayah mulai mengembangkan metode-metode kultivasi, dengan penyebutan istilah untuk energi kehidupan atau energi semesta alam yang berbeda-beda sesuai lingkungannya masing-masing."


"Ada banyak sekali metode yang dapat digunakan untuk berkultivasi sesuai jenis elemen atau unsur yang ingin dikendalikan."


"Pengendalian elemen merupakan suatu bentuk ilmu sihir, dimana orang tertentu mampu mengendalikan dan memanipulasi suatu elemen."


Elte yang tadinya merasa bosan dengan penjelasan filosofi sang leluhur, mulai tertarik mendengar penjelasan tentang tenaga dalam dan cara meningkatkan kultivasi. Namun sesaat dia terdiam mengingat sesuatu dan bertanya kepada sang leluhur.


"Guru leluhur,......sang phoenix pernah menyarankan agar jangan terburu-buru berkultivasi, sebelum menguasai teleportasi dan segel penanda. Hal itu agar para penjaga pusaka tidak dapat mengukur kultivasi dan jenis elemen yang saya miliki" elte bertanya ke sang leluhur yang telah mulai dianggapnya seorang guru.


Elte kemudian bergidik karena mengingat kekacauan yang telah terjadi di museum, hal ini membuktikan, bahwa para penjaga pusaka, sudah ada disekitar kota ini mencari sang pewaris.


"Sang phoenix memberikan informasi, bahwa ia telah menyembunyikan batu pengukur, ke dimensi khusus miliknya. Namun walaupun demikian sang phoenix tetap menyarankan agar tidak gegabah, karena tidak ada jaminan saat phoenix menyusup, ada utusan yang sedang melakukan misi keluar markas membawa batu pengukur." Lanjut elte


"yah... kau benar, jika kau berkultivasi dan mengaktifkan kemampuan sihir pengendali elemenmu, maka dantianmu akan berkembang, dan para penjaga pusaka ,dengan menggunakan batu pengukur akan dapat  mendeteksi keberadaanmu."


"Namun ada sebuah metode kultivasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan sihir pengendalian elemen yang tidak bisa dideteksi oleh batu pengukur."


Sang leluhur memberikan harapan dan disambut antusias oleh elte.


"Metode apakah itu wahai guru leluhur ?" Elte bertanya dengan sangat sopan agar sang leluhur mau mengajari metode tersebut.


"Cukup sulit menjelaskannya, tapi aku akan mencoba menjelaskannya dengan sebuah contoh analogi sehari-hari."


"Misalkan kamu sedang menjelajah di hutan belantara selama setahun, untuk memenuhi kebutuhan makanmu, ada dua cara yang bisa kamu lakukan."


"Pertama, kamu bisa mengumpulkan bekalmu selama seminggu, sehingga jika dalam perjalananmu, kamu kelaparan, kamu tinggal makan bekalmu saat itu juga.


"Kedua, kamu bisa langsung melakukan perjalanan tanpa mengumpulkan bekal, namun, jika dalam perjalananmu, kamu kelaparan, kamu harus mencari makan saat itu juga barulah kamu bisa makan."


"Kelebihan cara pertama adalah, kamu punya bekal setiap saat untuk kamu konsumsi kapan saja. Namun, Kekurangannya adalah, para perompak dapat mendeteksi bahwa perjalananmu memiliki bekal yang cukup banyak.


"Kelebihan cara kedua adalah, kamu tidak perlu khawatir dengan incaran para perompak yang akan merampok bekal. Namun, kekurangannya adalah, kamu hanya bisa menikmati bekal jika kamu berburu dan mengolahnya terlebih dahulu. Jadi tidak bisa langsung digunakan karena mengandalkan keberuntungan akan kondisi alam sekitar."


Sang leluhur mencoba menjelaskan metode kultivasi dengan bahasa yang sangat sederhana kepada elte yang belum pernah melihat atau merasakan proses kultivasi.


Elte terdiam sejenak berusaha mencerna maksud dari contoh analogi sang leluhur.


"Hmmmmhhh.... jadi mungkin bisa juga dianalogikan dengan laptop yang memiliki baterai yang sudah di charger, dengan laptop yang tidak punya baterai jadi harus senantiasa dikoneksikan dengan sumber listrik." Elte berusaha menarik poin-poin dari penjelasan sang leluhur dengan pemahamannya sendiri.


Sang leluhur hanya terdiam tidak mengerti maksud elte karena di jamannya belum ada laptop dan baterai.


"Yaahhhh..... seperti itulah kira-kira." Kata sang leluhur yang pura-pura mengerti demi menjaga harga dirinya sebagai guru dan orang yang lebih tua.