
Sang rembulan kembali menguasai malam bersama sejuta bintang di langit yang tinggi amat banyak menghias angkasa. Beberapa penghuni di rumah pak jaya telah terlelap dalam mimpi dan dibuai oleh bunga tidur seakan terbang dan menari jauh tinggi ke tempatnya berada.
Elte yang masih terjaga di dalam kamarnya membuka history chat dan melihat foto sang anak magang yang telah menuduh bu yeyen. Ia berencana ingin menginterogasinya malam ini dengan berpura-pura menjadi polisi.
Elte berasumsi jika yuda dan istrinya telah terbuai dalam mimpi indah. Ia lalu membuat portal teleportasi menuju ke kamar yuda untuk meminjam seragam polisinya diam-diam. Saat tiba di kamar yuda, ia sangat terkejut melihat yuda tanpa sehelai benang sedang berdiri di pinggir tempat tidur sambil memompa tubuh istrinya yang sedang berbaring di ujung tempat tidur dalam kondisi mengangkang. Terlihat yuda sangat berhati-hati memompa istrinya tanpa menindis perut yuna yang sedang hamil.
Elte yang dalam kondisi tidak kasat mata segera kembali ke kamarnya melalui portal teleportasi yang belum ia tutup. Setibanya dikamar, peristiwa dikamar yuda terus melintas dipikiran elte dan selalu mengingatkannya akan tubuh polos yuni serta sikap pasrah dari tunangannya di episode empat puluh sembilan saat yuni menggoda dan membujuknya untuk wik wik kikuk kikuk.
Kepala atas elte kembali di serang oleh tiga kekuatan besar yakni bisikan kepala bawah, godaan dari testoteron serta tekanan dari adrenalinnya.
"Hhmmmm.... apakah aku ke kamar yuni saja ya, mungkin saja tawarannya saat itu masih berlaku." Elte berharap dalam pikirannya.
Sesaat kemudian, wajah kedua orang tuanya melintas di pikiran elte. Ia lalu menampar pipinya sendiri dan berkata dalam hatinya : "Aahhhh.... kenapa bisa muncul pikiran bejat seperti ini."
Elte lalu memutuskan untuk mandi air dingin di kamar mandi untuk meredam serangan tiga kekuatan besar yang masih berusaha menyerang akal sehatnya. Setelah mandi, ia lalu berwudhu dan melakukan ibadah malam.
Setelah kepala atasnya sudah tenang kembali. Elte memutuskan untuk beristirahat saja malam ini dan proses interogasi ke anak magang yang ada di penjara akan ia laksanakan besok malam saja. Elte pun naik ke tempat tidurnya dan tertidur dengan lelap.
Tengah malam elte terbangun karena mendengar suara getaran dari smartphonenya, elte lalu mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat layar handphonenya. Dari ujung teleponnya ia mendengar suara yuni memohon agar dirinya datang ke kamarnya segera. Kesadaran elte langsung terkumpul seratus persen dan melompat dari tempat tidur. Dengan rasa khawatir, ia lalu membuat portal teleportasi ke kamar tunangannya. Saat tiba di kamar yuni, ia melihat yuni dibalik selimut sedang menatap kedatangannya.
"Ada apa sayang.... kenapa kamu memanggilku tengah malam begini" kata elte khawatir sambil mendekati tunangannya dan membelai rambutnya. Ia terkejut saat yuni menangkap tangannya dan menarik tubuh elte ke dalam selimutnya.
Kepala elte kembali menerima tiga serangan besar setelah melihat tubuh polos yuni tanpa sehelai benang di balik selimutnya.
"Sayangku.... aku tadi kehausan dan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Saat melewati kamar kak yuna, aku mendengar suara desahan kak yuna disertai suara tikus berdecit."
"Karena penasaran aku mencoba membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci. Aku terkejut ternyata kak yuda sedang menciumi seluruh tubuh kak yuna sambil menggenjot tubuh istrinya."
"Sayangku... tunanganku.... tolong puaskan aku malam ini" ratap yuni kepada tunangannya.
Kepala atas milik elte pun menyerah menghadapi pelukan dan ciuman dari tunangannya. Ia lalu berinisiatif membuka pakaiannya dan naik ke atas pusar tunangannya. Malam itu elte memutuskan untuk menjebol kehormatan tunangannya.
Rasa sakit dan nikmat yang dirasakan oleh yuni membuatnya mengerang dan mendesah akibat goyangan elte yang makin buas. Saat mereka akan mengalami acara puncak bersama. Pintu kamar yuni digerebek paksa dari luar. Elte yang sedang memuncratkan sesuatu, terkejut dan melihat ke arah pintu yang sudah rusak digerebek dari luar.
Elte ketakutan melihat pak jaya, bu yuyun, pak karya, bu yeyen, yuda, yuna, bu ani mirani, dan pak jarwo sukoco yang sedang menatap mereka dengan wajah marah. Elte juga terkejut karena di belakang mereka ada kedua orang tuanya, gurunya sang phoenix, gurunya sang leluhur, gurunya sang shinobi yakni shifu sensei, wali kelasnya saat SMP termasuk pak toni bintang, wali kelasnya saat SMA yakni bu tari mentari, guru matematikanya yang terkenal suka marah dan guru BKnya.
Yuni yang ada disampingnya lalu menangis ketakutan dan menuduh elte telah memperkosanya. Yuni lalu menendang elte dari tempat tidurnya.
"Gedebuk....." seperti itulah kira-kira suara orang yang jatuh dari tempat tidur.
Elte terkejut mendapatkan dirinya sudah ada di lantai. Ternyata kejadian wik wik kikuk kikuk bersama tunangannya hanyalah mimpi belaka. Saat akan berdiri ia terkejut merasakan sesuatu yang lengket di dalam celananya. Ia lalu memasukkan tangannya di balik celananya dan memegang kem**uannya sendiri. Ia lalu melihat tangannya sendiri dan melihat sebuah cairan putih yang sangat kental.
"Eh... apaan nih.... apakah ini yang dinamakan dengan mimpi basah" kata elte dalam hatinya. Ia pernah membaca tentang remaja pria yang memasuki masa pubertas, akan mengalami mimpi erotis dan ejakulasi saat tertidur.
"Kok aku bisa mimpi basah ya.... bukannya aku kalau tertidur akan bertemu dengan guru phoenix di alam bawah sadarku." Kata elte dalam hati sambil merasakan kekhawatiran terhadap gurunya sang phoenix.
Merasa tidak nyaman sesuatu yang terasa lengket di dalam celananya, elte lalu memutuskan untuk kembali mandi air dingin di kamar mandi. Setelah mandi ia kembali berwudhu dan melaksakan ibadah tengah malam atau lebih tepatnya dini hari.
Setelah beribadah, elte melihat jam dinding dan waktu menunjukkan pukul 03:00 WIB. Ia lalu memutuskan untuk masuk ke alam bawah sadarnya bertemu dengan sang phoenix.
"Ciieee.... yang kini sudah menjadi pria dewasa" kata sang phoenix menyambut kedatangan murid dan pewarisnya.
"Eh guru, kok bisa sih saat malam tadi aku tidak bertemu dengan guru." Tanya elte langsung ke pokok permasalahannya dan sekalian mengalihkan candaan gurunya.
"Oohhh... itu karena kondisi tubuhmu akan mengalami perubahan, sehingga kesadaranmu tidak masuk ke alam bawah sadar dimana aku berada. Kesadaranmu masuk ke alam bawah sadarmu yang lebih privasi." Kata sang phoenix menjelaskan kejadian semalam.
"Apakah guru dapat melihat mimpiku semalam" kata elte bertanya ke gurunya dengan wajah yang pemuh rasa malu.
"Sayangnya aku tidak bisa melihatnya... tapi aku bisa menebak kalau mimpi itu adalah mimpi yang erotis" kata sang phoenix membuat elte makin merasa malu.
"Karena kini kau sudah memasuki masa pubertas maka kau harus segera mencari banyak sumber daya untuk berkultivasi. Selama setahun ini kau harus dapat menyusup ke keluarga penjaga pusaka dan menyerap kultivasi mereka dengan diam-diam" kata sang phoenix.
"Dan juga mulai sekarang kau harus kembali rutin melakukan kultivasi pelahap kilat untuk menyerap energi alam di hutan. Kau sebaiknya belajar menggabungkan Kultivasi Pelahap Kilat dengan Kultivasi Nafas Suci Pemicu Perasaan untuk memperkuat dantian eksternalmu." Lanjut sang phoenix.
"Baik guru" kata elte dengan singkat, padat dan jelas.
............ ............ ............
Suasana pagi di meja makan terdengar hening tidak seperti biasanya. Pada pukul 06:00 WIB, wijaya sriwijaya, kakek yuna dan yuni datang dari kampung untuk menjenguk keluarganya.
Sang kakek merasa tidak enak dengan suasana saat sarapan. Ia menyadari bahwa keluarganya pasti sedang merasa tegang karena sejak kecil, pak jaya dan pak karya selalu diajarkan tidak boleh berbicara saat makan.
Jaman dulu saat sang kakek masih kecil, ia diajarkan hal serupa oleh orang tuanya untuk tidak berbicara saat makan. Baru-baru ini ia bertemu teman lamanya dan menceritakan masa kecil mereka. Teman sang kakek memberi informasi bahwa jaman dulu mereka tidak boleh banyak bicara saat makan karena orang tua takut jika anaknya tidak merasa kenyang. Padahal jaman dulu nasi dan beras sangat sulit didapatkan. Banyak larangan dan pantangan dari orang tua yang dihubungkan dengan hal-hal mistis untuk menakut-nakuti anak-anak mereka agar patuh dan tidak banyak tanya. Larangan dan pantangan itu biasanya dikenal dengan istilah pamali.
Contohnya anak-anak yang tidur tidak cuci kaki maka akan diculik setan. Padahal orang tua mereka hanya tidak ingin sprei tempat tidur mereka cepat kotor akibat kaki anak-anaknya yang belum dicuci setelah bermain di tanah.
Anak-anak tidak boleh menduduki bantal, nanti pant*tnya bisulan. Padahal orang tua mereka hanya tidak ingin bantal cepat rusak karena jaman dulu masih menggunakan kapuk atau jerami sebagai pengisi bantal.
Anak-anak tidak boleh memakai payung di dalam rumah karena akan selalu terkena cobaan yang berat. Padahal orang tua mereka hanya tidak ingin lantai rumah basah jika anak-anak memakai payung yang sudah digunakan dari luar saat hujan.
Dan masih banyak lagi pamali atau pantangan yang sebenarnya tujuannya baik namun alasannya belum bisa dimengerti oleh anak-anak sehingga agar mereka mau mendengar larangan orang tuanya maka dihubungkan dengan hal-hal mistis dan menakutkan.
Wijaya sriwijaya lalu mencoba membuat sebuah lelucon dan berkata : "Kalian tahu tidak, ternyata Jeruk Nipis itu dapat menyebabkan kolesterol dan hipertensi."
Pak jaya dan yang lainnya terkejut mendengar sang kakek berbicara saat makan. Wijaya sriwijaya yang mengira mereka sedang penasaran dengan kelanjutan leluconnya lalu meneruskan kalimatnya : "yah benar.... ternyata menurut penelitian dari para ahli bahwa ketika orang sedang makan coto, konro, pallu basa, rendang, opor ayam dan makanan sejenisnya yang berisiko, ternyata mereka selalu mencampur makanan mereka dengan jeruk nipis"
Seingat sang kakek, banyak yang tertawa termasuk dirinya saat mendengar guyonan tersebut. Guyonan itu ia dengar dari seorang ustaz yang diundang oleh tetangganya saat mengadakan acara tahlilan. Namun sayangnya guyonan itu terdengar jayus dan garing di meja makan saat itu.
"Bu ani..... untuk ke depannya jangan hidangkan jeruk nipis saat makan ya" terdengar suara bu yuyun memberikan perintah kepada pembantunya. Wijaya sriwijaya hanya dapat terdiam saat mengetahui guyonannya tidak berhasil.
Setelah sarapan bersama, wijaya lalu bertanya ke anaknya : "Aku mendengar jika kau telah melakukan pertunangan terhadap cucu keduaku dengan anak angkatmu."
"Iya ayah" kata pak jaya dengan singkat dengan wajah tegang
"Apakah cucuku tidak keberatan dengan keputusanmu" tanya sang kakek
"Tidak kakek" kata yuni dengan singkat dengan wajah tegang
"Terus kenapa kalian tidak memberitahuku tentang acara pertunangan yang telah terjadi delapa tahun yang lalu" tanya wijaya ya g sebenarnya sudah tahu dari TV delapan tahun yang lalu.
"Maaf ayah, kami lupa" kata pak jaya dan bu yuyun dengan singkat dengan wajah tegang.
Wijaya sriwijaya hanya menghembuskan nafasnya dengan kesal. Pak jaya dan bu yuyun mengira jika ayah mereka kesal dengan jawaban mereka. Sang kakek sebenarnya kesal karena guyonannya dianggap garing dan basa basinya membuat anak-anaknya tegang. Ia sebenarnya hanya ingin menggoda cucunya yang dari kecil sudah tunangan.
Ayah dari jaya wijaya dan karya wijaya merasa sedikit menyesal karena selama ini bersikeras tidak mau ikut ke kota dan lebih memilih untuk tinggal di kampung menjaga rumah, kebun dan sawahnya.
Istrinya yang sudah lama meninggalkannya karena komplikasi penyakit diabetes dan hipertensi dikubur di belakang rumah dan juga menjadi penyebab dirinya tidak mau ikut ke kota untuj menjaga kuburan istrinya.
Namun setelah mengikuti banyak acara tahlilan dan mendengar ceramah ustaz, ia memutuskan untuk menjenguk anak dan cucunya. Alangkah sia-sia hidupnya jika hanya fokus menjaga harta dan kuburan istrinya yang sudah meninggal namun tidak peduli dengan kedua anaknya, kedua menantunya, kedua cucunya dan calon cucu ketiganya serta calon cucu dari anaknya atau calon anak dari cucunya.
"Anakku jaya, apakah boleh ayah ikut tinggal di rumahmu.... ayah merasa lelah hidup sendiri." Kata sang kakek sambil menundukkan kepalanya karena merasa sedikit malu.
"Aayyyyaaaaaahhhhh....." pak jaya dan pak karya yang sangat mencintai dan menghormati ayahnya berteriak sambil memeluk ayahnya. Mereka sudah ribuan kali membujuk ayah mereka agar mau ikut ke kota namun ayah mereka ribuan kali menolak permintaan mereka.
Bu yuyun dan bu yeyen yang sangat mengenal ayah mertuanya sebagai sosok yang sangat tegas namun perhatian, ikut meneteskan air matanya karena kedua perempuan yang sudah lama yatim piatu itu kini hanya memiliki ayah mertuanya sebagai tempat berbakti selain suami mereka.
Yuna dan yuni ikut terisak mendengar permohonan kakeknya yang sudah lama mereka harapkan untuk mau tinggal bersama.
Yuda, elte, bu ani mirani dan pak jarwo sukoco hanya terpelongok melihat adegan sinetron di depan mereka. Hanya mereka berempat yang tidak meneteskan air mata karena masih belum mengerti dimana letak sedihnya kejadian tersebut.
Setelah beberapa menit ayah dan kedua anak itu berpelukan disertai derai air mata dari bu yuyun, bu yeyen, yuna dan yuni, Serta disertai wajah bingung dari yuda, elte, bu ani mirani dan pak jarwo sukoco, adegan pelukan itupun berakhir.
Yuni lalu pamit ke sekolah diantar oleh pak jarwo. Sedangkan elte ijin pamit ke gedung pusat konvensi karena telah mendapatkan ijin dan amanah dari sekolah untuk ikut serta dalam pertandingan karate.
Yuda ijin pamit ke kantor polisi untuk mengabsen dan berencana menonton elte di pertandingan karate bersama rekan kantornya. Yuna dan bu yuyun ijin pamit ke kamar mereka masing-masing.
Pak karya dan bu yeyen ijin pamit ke kampus untuk mengajar di fakultas masing-masing.
Bu ani mirani ijin pamit ke dapur untuk memasak dan menonton sinetron lewat smartphone barunya.
Pak jaya dan ayahnya berencana kembali ke kampung untuk menyewa orang menjaga rumah, kebun dan sawah milik pak wijaya.