
Pada akhir pekan, elte menggunakan waktunya untuk berolahraga di taman. Setelah lari mengelilingi taman tanpa menggunakan energi kultivasi, elte duduk melatih kemampuan persepsinya. Ia tidak lagi berenang di kolam renang seperti biasanya.
Sudah seminggu elte melatih kemampuan persepsinya di taman dan ia selalu merasakan bahwa ada seorang pria tua cebol yang selalu memperhatikannya. Pada awalnya ia tidak terlalu peduli karena menganggap pria itu hanya menikmati pemandangan di taman.
Namun setiap elte pulang, ia merasakan bahwa pria tua itu ikut pulang dengan cara melompati atap-atap gedung.
"Hai.... apa yang kamu inginkan..." elte yang sudah penasaran, mencoba mendatangi pria itu. Ia lalu sengaja bertanya agar pria itu memikirkan jawabannya sehingga elte bisa membacanya
Belum sempat elte membaca pikiran orang tua itu, pria itu menyerang elte menggunakan pisau yang disebut kunai. Ia juga sesekali melempar sebuah shuriken dan mengenai lengan elte.
Elte yang diserang mendadak, tidak sempat berkonsentrasi menggunakan shield pelindung maupun kultivasi nasi pepes. Ia hanya bisa melawan balik dengan kemampuan tinju dan silat merpati putihnya.
Saat elte terkejut kesakitan karena lengannya terkena shuriken, pria tua itu melemparkan sebuah bom asap dan kemudian menghilang.
Elte yang masih terkejut karena serangan mendadak. Segera tersadar dan menyembuhkan luka di lengannya dengan elemen cahaya dan persepsi internal tubuh.
Setelah sembuh, ia menggunakan persepsi eksternal untuk mendeteksi posisi pria tua itu. Karena elte belum menguasai teleportasi, ia lalu mengaktifkan tubuh kapas dan berlari melompati atap-atap gedung untuk mengejar pria itu.
Lima menit kemudian, elte melihat pria itu berlari menuju hutan di atas gunung yang ada di luar ibu kota negara.
Saat tiba di dalam hutan, elte berhasil mencapai posisi pria tua itu dan mengaktifkan tubuh baja dan pukulan ledakan untuk menyerang pria tua itu.
Pria tua itu terkejut dengan perubahan kekuatan elte, ia lalu mengeluarkan sebuah rantai besi yang diujungnya terdapat sabit besi.
Dengan gerakan seni bela diri yang aneh dan keahlian menggunakan senjata rahasia, pria itu membuat elte merasa kesulitan.
Kekuatan dan kelincahan elte, berada di atas pria tua itu, namun pengalaman pria itu dalam menggunakan senjata dan seni bela dirinya jauh di atas kemampuan elte, pria tua itu mampu menangkis dan menyerang elte secara tidak terduga.
Pria tua itu kerap mengeluarkan gerakan tipuan yang menyulitkan elte dalam bertahan. Belum lagi beberapa bom asap yang mengandung obat tidur sering dilempatkan ke tubuh elte.
Walaupun elte mampu menyembuhkan dirinya dengan elemen cahaya dan persepsi internal, namun pria itu seakan tidak memberikan elte kesempatan untuk menggunakan kemampuannya.
Setelah beberapa menit bertarung, elte mulai merasa ngantuk dan akhirnya terjatuh tidur.
"Lho.... kok saya bisa masuk ke alam bawah sadar saya, dan kenapa saya tidak bisa kembali ke alam sadar saya" elte merasa heran dengan kondisinya
"Itu karena barusan kamu menghirup obat tidur khusus yang dapat melumpuhkan syaraf di tubuhmu." Suara sang phoenix terdengar dalam kegelapan alam bawah sadar elte
"Jadi apa yang harus saya lakukan guru ? " tanya elte sedikit takut mengira ia sedang diintai dan diculik oleh keluarga penjaga pusaka.
"Tenanglah nak..... aku bisa melihat pria itu tidak memiliki niat jahat kepadamu. Walaupun pria itu bukan kultivator, namun ia lebih hebat dari kamu hanya dengan menggunakan kemampuan seni bela diri dan keahlian bersenjata."
"Aku sarankan kamu bisa mendekati pria itu, dan belajar kepadanya tentang bagaimana cara bertarung menggunakan senjata" sang phoenix memberikan saran kepada elte yang masih berpikir.
Dua jam kemudian, elte tersadar dalam kondisi terikat, ia terkejut karena tidak bisa melakukan kultivasi nasi pepes untuk menggunakan elemen cahaya menyembuhkan syarafnya yang masih sedikit terasa lumpuh. Ia lalu menggunakan persepsi internal untuk mempelajari kondisi tubuhya.
"Dari hasil persepsinya, ia menyadari bahwa tali yang digunakan untuk mengikat dirinya telah dilumuri oleh sesuatu yang mampu mengacaukan kemampuan dirinya mengendalikan elemen"
"hOohhh ..... akhirnya khamu sudah sadar khaaa" terdengar suara parau khas kakek-kakek dengan aksen campuran cina dan jepang dari belakang elte
"Apa yang kamu inginkan dengan selalu mengawasiku saat berolahraga" elte berkata kembali memancing alasan pria itu yang mungkin ia rahasiakan
Ia lalu mencoba kembali membaca pikiran pria itu. Dan dari apa yang dipikirkan pria tersebut, pria tua itu penasaran karena stamina elte saat berlari dan berenang seperti seorang kultivator. Karena ia sendiri bukan seorang kultivator ia tidak bisa membaca tingkat kultivasi anak itu.
Pria tua itu pernah mendengar dari pamannya bahwa kultivator di atas seratus tahun memiliki kemampuan membaca tingkat kultivasi dari kultivator yang ada di bawahnya. Namun untuk mengetahui jenis elemennya hanya bisa dilakukan dengan batu pengukur.
"Apa khah khamu seorang khultivator khhaahh ?" Tanya pria itu
Elte hanya terdiam terus membaca pikiran pria itu.
Ia bisa membaca kilasan pengalaman pahit yang sedang dipikirkan pria itu. Dari apa yang dipikir oleh pria tua cebol itu, ia sedang mencari paman dan kelima sepupunya yang mencoba mengambil kembali kalung permata yang dianggap bisa mengembalikan posisi mereka di keluarga penjaga pusaka.
"Khenapa khamu diam saja khhaahh, ... owe liat tadi khamu luka di lengan kena shurikhen khhaaahhh " pria tua itu mencoba menjelaskan bahwa ia curiga elte seorang kultivator karena lengan elte bisa sembuh setelah terluka kena shuriken atau sejenis senjata lempar milik ninja.
"Apa yang kamu inginkan dengan selalu mengawasiku saat berolahraga" elte mengulangi pertanyaannya karena mulai waspada mengetahui pria itu memiliki hubungan dengan keluarga penjaga pusaka.
"Owe cuma mau khumpul sama kheluarga owe... kheluarga inti owe sudah usir papi owe karna papi owe bukan khultivator" jawab pria itu dengan jujur.
Elte sedikit terkejut dengan jawaban pria tua itu. Elte merasa geli mendengar sebutan papi dari mulut pria tua dengan aksen campuran cina-jepang.
Pria tua itu lalu menceritakan pengalaman hidupnya yang sudah diketahui oleh elte setelah membaca pikirannya.
Pria itu bernama "Sushi Tetsu Teriyaki" anak dari pasangan blasteran cina dan jepang. Ayahnya berasal dari cina tepatnya adalah anggota keluarga inti dari organisasi bunga matahari atau SFO yang dikenal oleh elte sebagai keluarga penjaga pusaka. Sedangkan ibunya berasal dari jepang dan seorang Kunoichi atau ninja perempuan dari klan kuno desa shinobi.
Karena ayah dari pria tua itu tidak memiliki dantian dan tidak bisa berkultivasi, maka ia dianggap sampah dan diusir dari keluarga inti. Orang tua dan kakaknya menentang pengusiran itu dan berniat ikut menemani ayahnya tetsu yang masih berumur sepuluh tahun.
Organisasi SFO dipimpin oleh patriachnya yang memiliki dua dantian dan masing-masing memiliki tiga jenis elemen gabungan murni dengan tingkat kultivasi sebanyak sembilan ratus tahun lebih. Patriach yang bernama "Lam Xiao Long" itu, telah menanamkan doktrin pada anggotanya bahwa hanya organisasi mereka yang layak memiliki kekuatan kultivasi.
Jika ada orang di luar organisasi mereka, mampu berkultivasi, maka orang itu akan diculik dan dijadikan anggota keluarga mereka dengan ikatan pernikahan. jika mereka menolak, mereka akan dibunuh .
Jika ada anggota keluarga mereka yang tidak bisa berkultivasi, sampai berumur sepuluh tahun, maka anak itu akan diusir seperti halnya yang dialami oleh ayahnya sushi tetsu teriyaki.
Kakek dan nenek tetsu akhirnya bertarung melawan keluarga inti mereka. Menyadari jumlah yang tidak seimbang, kakek dan nenek tetsu berniat mengulur waktu agar ayahnya dan pamannya tetsu dan kabur dan bersembunyi. Dengan mengorban jiwa mereka, kakek dan nenek tetsu berhasil menghalangi keluarga inti untuk membunuh kedua anaknya.
Setelah kabur dari keluarga inti, kedua anak itupun pergi merantau mencari guru untuk berlatih seni bela diri agar menjadi lebih kuat.
Puluhan tahun pun telah berlalu, kedua anak itu kini sudah menikah dan memutuskan untuk berpisah mengikuti istrinya masing-masing yang rindu untuk pulang ke kampung halaman mereka.
Sang kakak yang seorang kultivator, pergi ke taiwan menemani istrinya kembali ke keluarganya yang memiliki usaha akrobat seni bela diri. Sedangkan sang adik memutuskan untuk menemani istrinya pulang ke desa shinobi yang ada di jepang.
Tiga tahun lalu, ayahnya tetsu meninggal menyusul ibunya yang telah pergi duluan empat tahun sebelumnya. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan agar menyempatkan dirinya untuk mengunjungi pamannya yang ada di taiwan. Sejak kecil tetsu sering diajak ayahnya berlibur ke taiwan menjenguk pamannya.
Setelah setahun lebih mengurus desa shinobi, tetsu lalu ijin menjenguk pamannya di taiwan. Betapa terkejutnya tetsu saat melihat kondisi rumah pamannya yang sudah tidak terurus.
Setelah setahun mencari pamannya di taiwan, ia akhirnya bertemu dengan bibinya, istri pamannya. Bibinya bercerita bahwa pamannya mendapatkan kabar tentang adanya pelelangan kalung mutiara di indonesia yang diyakini oleh pamannya sebagai harta pusaka yang diinginkan oleh keluarga inti.
Pamannya berharap agar dapat menjemput orang tuanya yang diduga masih hidup dan dikurung dalam penjara keluarga. Oleh karena itu ia ingin berpura-pura sadar dan kembali ke keluarga inti untuk menjemput kedua orang tuanya. Ia yakin bisa diterima kembali karena ia adalah seorang kultivator.
Namun setelah setahun tidak ada kabar, beberapa orang asing dari amerika datang mengancam keluarga pamannya dan meminta informasi tentang keluarga penjaga SFO.
Beberapa waktu kemudian datang lagi orang-orang dari rusia melakukan hal yang sama. Namun perilaku mereka lebih kejam karena mereka memperkosa dan membunuh anggota keluarga tetsebut lalu membakar rumah dan peralatan akrobatnya. Bibinya tetsu saat itu, berhasil bersembunyi dan kabur ke rumah temannya.
Bibinya tetsu sangat merindukan suami dan kelima anaknya, ia termasuk perempuan yang susah hamil disaat masih muda karena rahimnya sedikit bermasalah saat sering berakrobat.
Namun setelah belasan tahun menunggu, akhirnya keajaiban menghampirinya dan ia bisa mengandung bahkan tiap tahun hamil dan melahirkan.
Sampai saat anak kelima dilahirkan, sang dokter menutup kandungannya dengan alasan program pemerintah.
Saat melihat keanehan pada stamina elte, tetsu lalu mengingat kondisi pamannya yang bisa menyembuhkan sendiri lukanya. Tetsu mengingat cerita pamannya tentang doktrin dari patriach SFO yang akan menculik anak-anak yang mempunyai bakat kultivasi.
Elte hanya bisa terdiam mendengar cerita pria tua itu sambil membaca pikirannya. Setelah berpikir sejenak, elte mengingat pesan sang phoenix untuk belajar dengan senjata. Ia lalu mencoba melakukan negosiasi.
"Nama saya Elte Yawarakai, saya memiliki elemen cahaya." Kata elte yang mengagetkan tetsu. Pria tua itu kaget bukan karena elte memiliki elemen cahaya, tetapi karena nama elte yang tidak sesuai dengan wajah pribumi elte.
"Apakha... khamu juga ada kheturunan japanese" tanya tetsu
"Oh... kalo itu....... saya tidak punya garis keturunan jepang... suku saya campuran bugis makassar jawa.... orang tua saya memberi nama ini karena beliau adalah salah satu penggemar manga dan anime jepang" jawab elte dengan wajah sedikit tersinggung.
"Lima tahun lalu di kota asal saya di bagian regional tengah indonesia, pernah terjadi penyerangan museum oleh para kultivator. Saat itu semua orang pingsan karena pengaruh aura naga dari para kultivator tersebut."
"Dengan kemampuan tertentu, saya masih bisa menjaga kesadaranku dan pura-pura pingsan. Saya melihat lima orang mengeroyok seorang pria tua botak yang juga seorang kultivator. Sedangkan lima orang lainnya mengambil kotak peti berisi kalung mutiara dan membawa lima orang anak yang sepertinya keluarga dari pria tua botak itu." Kata elte yang membuat tetsu terkejut kaget
"Apa yang terjadi pada pria tua yang dikheroyokh itu khhaaaa" tanya tetsu khawatir
"Yang saya lihat, pria tua itu di bunuh oleh para kultivator yang tadi menyerang kemudian mengubur jasadnya jauh ke dalam tanah menggunakan pengendalian elemen bumi." Jawaban elte membuat tetsu tertunduk lalu menangis tersedu-sedu.
"Ojisan.... cheng xiao ha... cheng xiao hi... cheng xiao hu... cheng xiao he... cheng xiao ho.... Gomen nasai huhuhuhuhu" tangis tetsu tersedu-sedu sambil memanggil paman dan kelima nama sepupunya.
Elte hanya bisa diam menunggu tetsu yang terus menangis, ia juga menonaktifkan kemampuannya membaca pikiran karena pikiran tetsu dipenuhi kesedihan dan rasa bersalah.
Elte lalu menggunakan kekuatan telekinesisnya untuk membuka tali yang mengikatnya. Ia kemudian menengok ke kanan dan ke kiri memeriksa gubuk kecil yang diperkirakan tersembunyi di dalam gua di hutan tempat mereka bertarung.
Elte bisa melihat beberapa jenis senjata seperti sebuah pedang panjang yang disebut katana, sebuah pisau kecil yang disebut kunai, sebuah rantai besi dengan sabit diujungnya yang disebut kusarigama, berbagai senjata lempar berupa bintang bergerigi yang disebut shuriken, sebuah senjata cakat yang di sebut tekko-kagi, senjata tiup atau sumpitan yang disebut fukiya, dan masih banyak lagi jenis senjata khas ninja.
Beberapa menit kemudian setelah tetsu berhenti menangis, ia kemudian ingin bertanya ke elte yang sedang duduk santai menunggu dirinya tenang. Tetsu sangat terkejut melihat ikatan tali yang sudah terlepas. Ia secara refleks melompat mundur mengeluarkan dua buah pisau kecil di kedua tangannya yang disebut kunai.
"ochitsuite kudasai (tolong tenanglah)" kata elte dalam bahasa jepang
"Nihongo o hanashimasu ka? (Apakah kamu berbicara bahasa jepang? ) " tanya tetsu yang tercengang mendengar bahasa yang familiar di telinganya
" Nihongo ga sukoshi shika hanasemasen ( Saya berbicara hanya sedikit bahasa jepang )" elte mencoba merendah dan tidak sombong
"ochitsuite kudasai (tolong tenanglah)" elte kembali meminta tetsu agar tidak kaget dan tidak menyerangnya.
" Gomen nasai (maaf) " tetsu menjawab setelah terdiam beberapa saat. Ia lalu menurunkan senjatanya tanpa menurunkan kewaspadaannya
"Daijoubu da, mondai nai. (Tidak apa-apa, tidak masalah)" kata elte sedikit lega melihat respon pria tua itu.
Selanjutnya elte dan tetsu mulai berbicara kembali dengan bahasa jepang karena bahasa indonesia dari pria tua itu kurang lancar dan tidak enak didengar.
"Kenapa kamu bisa bahasa jepang" tanya tetsu dalam bahasa jepang ke elte
"Saya belajar bahasa jepang sejak kecil, selain bahasa jepang saya juga belajar bahasa asing lainnya seperti bahasa inggris, jerman, rusia, prancis, spanyol, latin, arab, cina, korea dan thailand" jawab elte dalam bahasa jepang.
" Nǐ huì shuō zhōngwén ma ? (bisakah kamu berbicara bahasa cina ?)" tetsu yang terkejut tidak percaya mencoba bertanya dengan bahasa cina
" Shì de, wǒ huì shuō zhōngwén ( ya, saya bisa berbicara bahasa cina? )" jawab elte dalam bahasa cina.
Tetsu terdiam sejenak, ia hanya bisa menggunakan dua bahasa yakni bahasa jepang dan bahasa china, ia baru belajar bahasa indonesia setahun yang lalu. Namun walaupun bahasa indonesia tetsu belepotan atau berantakan, elte bisa mengerti karena membaca pikiran tetsu.
"Aku sudah menceritakan alasanku mengawasimu selama ini, sekarang giliranmu, tolong jelaskan alasan mu mengejarku" tanya tetsu dalam bahasa jepang.
"Awalnya saya penasaran dan ingin tahu alasanmu mengawasiku. Namun setelah kita bertarung tadi, saya sangat tertarik untuk belajar kepadamu tentang bagaimana caranya menggunakan senjata" jawab elte dalam bahasa jepang.
" apa alasanmu ingin belajar denganku, bukankan masih banyak tempat belajar yang lain" tanya tetsu kembali dalam bahasa jepang.
"Tahun lalu, orang yang saya sangat sayangi diculik bersama sembilan teman kami oleh lima belas penculik profesional. Saya berhasil menyelamatkan mereka tetapi saya mengalami koma selama seminggu."
"Saya menguasai tinju dan pencak silat yang diajarkan oleh seorang taruna dari polisi militer"
"Saya ingin lebih kuat untuk bisa melindungi diri dan orang-orang yang kusayangi"
Elte menjawab pertanyaan tetsu dalam bahasa jepang dengan sedikit memberi bumbu dramatis agak dapat menarik simpatik pria tua cebol itu.
"Maaf, aku tidak bisa mengajari kemampuan itu pada orang luar karena seni bela diri kungfu ninja adalah warisan kedua orang tuaku."
"Sejak ayahku dan pamanku diusir dari keluarga inti mereka banyak merantau untuk berguru pada beberapa pendekar kungfu saat itu. Mereka belajar dan membuat seni bela diri baru dengan menggabungkan beberapa kungfu aliran selatan dan aliran utara."
"Saat ayahku tinggal di desa shinobi, beliau bersama ibuku mencoba menggabungkan seni bela diri ayahku dengan kemampuan ninjutsu ibuku yang kemudian mereka sebut seni bela diri kungfu ninja."
Tetsu menolak permintaan elte dengan menggunakan bahasa jepang, tetapi tanpa sadar, ia memamerkan asal-usul lahirnya seni bela diri yang ia banggakan.
Ayah dan paman dari tetsu telah belajar beberapa seni bela diri kungfu dari Kung Fu aliran Utara seperti Chang Chuan, Cang Chorang (jurus belalang sembah), Hao Kun, Jurus Rajawali, Hsing I, Pa Kwa (ba gua), dan Tai Chi Chuan. Serta kung fu aliran selatan seperti Hung Gar, Lau Gar, Choy Gar, Li gar, Mok Gar, Wing Chun, Choy Li Fut, bangau putih dan alis mata putih.
Ayah dan paman tetsu kemudian terinspirasi dengan Jeet Kune Do, yang diciptakan oleh bruce lee, dan mencoba menciptakan seni bela diri mereka sendiri dengan menggabungkan beberapa kungfu aliran selatan dan aliran utara.
Seni bela diri itu kemudian mereka gunakan untuk mencari uang dengan mendemonstrasikannya pada akrobat seni bela diri. Hal itu menyebabkan pamannya tetsu bertemu istrinya untuk pertama kali sebagai saingan sesama atlet akrobat seni bela diri.
Setelah pamannya tetsu dan istrinya menikah, mereka ikut rombongan atlet ke taiwan untuk mengembangkan akrobat seni bela diri menggunakan seni bela diri ciptaan mereka.
Di taiwan, ayahnya tetsu dan istrinya bertemu pertama kali saat ibunya tetsu sedang menjalankan misi mencari seni bela diri yang sesuai dan dapat digunakan untuk mengembangkan taijutsu (seni bela diri tangan kosong) di desa shinobi.
Setelah ayahnya dan ibunya tetsu menikah, merekapun bersama-sama ke desa shinobi di jepang untuk mengembangkan kungfu ninja.
Elte membaca pikiran tetsu tentang asal-usul kungfu ninja yang diceritakan oleh kedua orang tuanya. Elte melihat dalam pikiran tetsu, betapa dia sangat bangga dengan warisan orang tuanya.
"Hmmmmm baiklah kalo kamu tidak mau... saya tidak akan memaksa anda untuk mengajari saya teknik bertarung dengan senjata.... mungkin saya akan mencari orang lain yang mau .... saya mendengar bahwa selain ninjutsu dari jepang, masih banyak teknik bertarung dengan menggunakan senjata.... "
"Ada seni bela diri anggar dari eropa barat, ada seni bela diri pisau suku apache dari suku apache di amerika, ada seni bela diri tongkat nguni dari suku zulu di afrika, ada seni bela diri arnis-eskrima-kali dari filipina, dan masih banyak lagi."
Elte mengatakan permohonan maafnya dalam bahasa jepang dan memohon ijin untuk pulang ke rumahnya. Ia pun mulai jalan keluar gubuk dengan sengaja melambatkan langkahnya.
Tetsu sangat terkejut dengan sikap elte yang tidak sesuai ekspektasinya, ia berpikir bahwa anak itu akan memohon belas kasihnya untuk berkenan mengajarinya.
Tetsu juga merasa kesal karena seni bela diri warisan orang tuanya dibandingkan dengan seni bela diri lainnya.
"Hhhmmmm..... baiklah... baiklah..... mungkin aku bisa mengajarimu seni bela diri kungfu ninja, jika kamu mau menjadi muridku dan menjadi seorang shinobi" tetsu memotong langkah kaki elte dengan pernyataannya dalam bahasa jepang
Elte pura-pura diam berpikir beberapa saat kemudian dia bertanya tentang syarat dan kewajibannya selama menjadi murid dan shinobi.
"Untuk bisa menjadi muridku kamu harus menjadi seorang shinobi dan harus bersujud tiga kali sebagai formalitas bahwa kamu mengakuiku sebagai gurumu."
"Kewajiban seorang shinobi adalah siap menerima dan menjalankan misi dari tuannya atau masternya dalam hal ini adalah saya sendiri sebagai gurumu... karena itulah jalan ninjamu" kata tetsu dalam bahasa jepang