
"Baiklah... aku rasa penjelasan teorinya cukup sampai disini saja... kita langsung saja ke skenario lomba dan praktek membuat robot" kata elte lalu mengambil buku panduan dan membacanya sekilas dengan kemampuan persepsi internalnya.
"Dari aturan dan tata tertib di buku panduan lomba ini, tiap tim yang terdiri dari tiga orang akan diminta membuat sebuah robot mobil dengan ukuran dimensi, berat dan daya baterai telah ditentukan."
"Robot mobil ini akan dikendalikan dari luar lapangan oleh para peserta dan berlomba mengumpulkan bola pinpong yang ada di dalam lapangan ke markas masing-masing. Sang robot mobil juga harus melindungi sebuah balon yang menempel di body robot tersebut. Setiap robot diperbolehkan saling menyerang maupun saling mencuri bola dari markas masing-masing."
"Di beberapa titik lapangan akan ada beberapa halangan berupa palang pintu yang cukup tajam untuk memecahkan balon. Bagi robot yang sudah selesai mengumpulkan minimal enam bola pinpong dan ingin menyatakan telah menyelesaikan misi maka harus kembali ke markasnya dan membunyikan alarm yang ada di dalam markasnya. Jika tanpa sengaja alarm tertekan sebelum misi selesai maka robot dianggap gagal."
Elte menjelaskan tentang aturan lomba ke para mahasiswa. Ia lalu mulai menjalankan laptop pamannya dengan LCD proyektor yang memperlihatkan display laptop tersebut ke dinding putih.
"Baiklah.... langkah awal mari kita kumpulkan fitur dan kelebihan robot kita tanpa melanggar aturan lomba. Pertama-tama aku sangat menyarankan agar komunikasi yang digunakan adalah komunikasi wifi agar dapat dipasangi proteksi. Jika kita menggunakan komunikasi bluetooth infra red atau komunikasi gelombang radio biasa, maka jalur komunikasi robot kita bisa diganggu oleh tim lawan. Jika itu terjadi dan kita tidak bisa mengendalikan robot kita maka sama saja kita sudah kalah di awal lomba" elte mulai menjelaskan fitur dari desain robot yang ingin mereka kembangkan.
"Bagaimana jika di body robot itu kita meletakkan sebuah kotak penampung sehingga robot tidak perlu bolak-balik mengumpulkan bola pingpong" usul seorang mahasiswa.
"Aku setuju... ada lagi?" Kata elte mulai membangkitkan semangat para mahasiswa karena merasa dilibatkan dari awal perancangan.
"Apakah mungkin robot kita bisa dilengkapi senjata untuk menyerang lawan" tanya mahasiswa lainnya memberikan masukan.
"Hhmmmm..... masukan yang sangat bagus, menurut kalian senjata apa yang bagus kita pasangkan ke robot kita" jawab elte memancing inovasi para mahasiswa.
"Sebuah senjata yang bisa meletuskan balon lawan dan kalau bisa juga mengacaukan gerak lawan" jawab salah satu mahasiswa
"Hhhmmm bagaimana jika robot itu dapat menembakkan sebuah jarum" tanya mahasiswa itu melanjutkan penjelasannya.
"Aku setuju dengan senjata yang dapat meletuskan balon lawan dan yang bisa mengacaukan gerak lawan.... tapi kalo menembakkan jarum apakah tidak membahayakan para peserta lomba" tanya mahasiswa yang lain.
"Tidak akan selama jarum yang digunakan tidak menembak ke atas... lapangan pertandingan akan dikelilingi oleh dinding kaca dan kawat besi" jawab elte menjelaskan kembali tentang kondisi lapangan pada lomba nanti.
"Untuk mengacaukan gerak lawan, bagaimana jika robot kita bisa menyemprotkan air ke sistem elektronik robot lawan" kata mahasiswa lainnya mencoba memberikan usulan.
"Yah... usulan ya bagus... aku juga menyarankan agar robot kita dapat menciptakan Jamming yakni cara melumpuhkan komunikasi elektronik dengan cara menimpa atau menutupi sinyal dari suatu pemancar dengan sinyal lain. Jika komunikasi lawan terganggu maka otomatis mereka tidak akan dapat mengendalikan robotnya" kata elte sambil ikut mengusulkan sebuah senjata yang dapat mengacaukan komunikasi lawan.
Setelah beberapa menit berdiskusi tentang desain fitur dan kelebihan robot mereka, elte lalu kembali berkata : "baiklah... selanjutnya kumpulan fitur ini akan kita definisikan kembali untuk menentukan perangkat input output apa yang akan gunakan dalam robot kita."
"Untuk gerak robot mobil kita akan menggunakan dua buah motor gearbox dengan driver L293D. Untuk lengan robot saat mengambil bola pingpong maka kita akan gunakan dua buah motor servo yang posisi sudutnya dapat digerakkan seratus delapan puluh derajat. Untuk senjata jarum kita akan menggunakan pneumatik dengan konsep seperti senjata tiup. Untuk penyemprot air, kita akan menggunakan sistem hidrolik dengan bantuan spuit atau suntik bekas. Kita juga membutuhkan sebuah motor untuk membuat mini compressor pada sistem pneumatik dan hidrolik robot."
"Untuk controller, kita akan gunakan arduino wemos d1 mini yang telah dilengkapi dengan esp8266 sebagai wifi controller. Kita akan menggunakan sebuah speaker untuk membangkitkam gelombang jamming. Agar daya pada controller tidak terganggu oleh fenomena transient dari pergerakan motor, maka kita akan menggunakan dua buah mini powerbank yang dapat di charger ulang kapan saja."
Setelah melakukan definisi dan analisis kebutuhan, elte lalu mengajarkan penggunaan simulasi rangkaian dan program menggunakan aplikasi simulator seperti proteus. Setelah mahasiswa memahami prinsip kerja robot lewat simulasi, elte lalu membuat layout PCB dengan simulator tersebut sehingga didapatkan estimasi dimensi ukuran dari semua komponen dan papan pcb.
Setelah itu elte membantu membuat desain mekanik robot yang sederhana menggunakan aplikasi seperti autodesk inventor. Kelebihan aplikasi ini dapat melakukan simulasik fisik dan perhitungan torsi.
Setelah semua desain mekanik dan desain PCB telah selesai, mereka selanjutnya melakukan fabrikasi dengan menggunakan 3D printing untuk mekanik robot dan menggunakan PCB CNC untuk mencetak jalur PCB sendiri dan melubanginya secara otomatis.
Laboratorium milik pak karya memang cukup lengkap untuk masalah desain manufaktur dan fabrikasi robot.
Setelah PCB CNC telah selesai, elte dan para mahasiswa mulai memasang dan menyolder masing-masing komponen sesuai posisinya. Setelah selesai, mereka melakukan pengujian akurasi, presisi dan korelasi dari sistem elektronik robot tersebut.
Dua jam kemudian, mekanik robot mereka akhirnya selesai. Mereka lalu melakukan instalasi pemasangan semua bagian robot menjadi satu sesuai desain dan rancangan telah mereka diskusikan sebelumnya.
Elte lalu mengajari para mahasiswa untuk membuat aplikasi interfacing di smartphone android mereka agar dapat berkomunikasi dengan robot mereka masing-masing. Elte memasang pengaman pada jalur komunikasi agar tidak mudah di hack oleh pihak lawan.
Setelah pekerjaan rancang bangun robot mereka sudah jadi, mereka kemudian membuat lapangan tiruan di atas lantai dengan bantuan isolasi listrik 3M.
Setengah jam kemudian, sepuluh buah robot mobil kini sedang bertanding mengumpulkan bola pingpong. Suasana laboratorium begitu heboh dan meriah karena ke sembilan mahasiswa itu sangat senang dapat membuat sendiri robotnya walaupun masih dalam bimbingan elte.
Pak karya dan beberapa timnya yang berada di ruangan sebelah menjadi penasaran dan mencoba menghampiri ruangan laboratorium. Mereka cukup terkejut karena saat ini sudah ada sepuluh robot mobil yang sedang bertanding di atas lapangan buatan.
"Wow... cepat sekali robot kalian jadi" kata salah satu tim melihat kesepuluh robot itu
"Iya paman.... ini berkat fasilitas alat dan bahan yang sangat lengkap di laboratorium ini" kata elte.
"Oh iya paman.... waktu sudah mau menjelang sore jadi aku ingin ijin pamit pulang ke rumah" kata elte ke pak karya
"Untuk selanjutnya, kakak-kakak mahasiswa dapat mengulangi kembali pembuatan robot tadi agar tidak lupa bagaimana cara melakukan rancang bangun robot mobil" kata elte mengingatkan kepada para mahasiswa
Para mahasiswa lalu berterima kasih kepada elte karena telah sudi memperlihatkan cara membuat robot dengan cara cepat dan menarik dibandingkan dengan kuliah mereka selama dua tahun. Mereka berjanji untuk terus latihan agar dapat mengantongi juara pada lomba robot nanti.
Setelah pamitan dengan para mahasiswa dan tim penelit di laboratorium tersebut. Elte lalu mengikuti pak karya yang ingin mengantarnya pulang karena motor elte masih di titip di bengkel.
Sebelum pulang, pak karya menuju ke fakultas kedokteran untuk menjemput istrinya yang masih mengajar. Perjalanan dari fakultas teknik ke fakuktas kedokteran hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.
Di fakultas kedokteran, ardha pitaloka bersama teman-temanya baru keluar dari ruangan kuliah setelah mendapatkan materi kuliah dari bu yeyen. Saat melihat ke bawah, tanpa sengaja ia melihat elte sedang duduk di bawah pohon menunggu pamannya yang sudah naik ke lantai atas menjemput istrinya.
Melihat pemuda yang pernah menolongnya dari ancaman pemerkosaan, ardha tersentak kaget dan segera berlari ke lantai satu. Tanpa sadar, ia memasuki lift yang ternyata malah naik ke atas terlebih dahulu. Saat tiba di lantai paling atas, kondisi lift sempat menunggu cukup lama karena salah seorang pegawai kampus sedang menunggu kereta dorong yang diambilkan oleh temannya.
Ardha merasa kesal karena pegawai itu sangat lama menekan tombol untuk menahan lift bergerak. Ia sedikit menyesal kenapa tadi ia tidak lewat tangga saja. Setelah hampir lima belas menit menunggu, akhirnya lift tersebut menuju ke bawah. Setiap lantai, ada saja orang yang keluar dan masuk lift sambil menunggu temannya. Lima menit kemudian, ardha telah tiba di lantai satu dan setelah keluar lift, ia segera berlari menuju pohon tempat elte tadi bernaung. Namun sayang saat tiba di lokasi, elte sudah pulang bersama pak karya dan bu yeyen.
Ardha hanya bisa mendengus kesal karena kehilangan jejak elte.
"Apakah mungkin pemuda itu adalah mahasiswa di sini ya" tanya ardha dalam hatinya.
"Yah sudah pulang aja deh... besok aja dicari lagi.... sapa tau jodoh" harap ardha dalam hatinya. Ia lalu menuju parkir dan menaiki mobil sedannya dan melaju pulang ke rumah.
Di rumah ia tinggal bersama kakeknya dan kedua orang tuanya. Disamping rumahnya, ada rumah adik sepupunya yang tinggal bersama paman dan tantenya. Ayah dan pamanya memang kompak menikahi tetangganya yakni ibu dan tantenya. Sang kakek melamar kedua wanita itu untuk anak-anaknya saat kedua orang tuanya meninggal karena pekerjaan.
Kasihan melihat kedua wanita itu sebagai anak yatim piatu maka sang kakek meminta kedua anaknya untuk menikahi mereka. Kedua anaknya pun setuju karena sejak kecil mereka memang sudah menyukai tetangganya yang selalu lembut dan terlihat ceria.
Di rumahnya dan di rumah adik sepupunya, masing-masing terdapat dua orang pembantu dan seorang supir. Namun karena tiap anggota keluarga lebih suka membawa sendiri mobilnya maka sang supir lebih banyak merawat kebun herbal milik sang kakek.
"Kakek... kakek... tadi di kampus aku sempat melihat pemuda itu kek..." kata ardha dengan semangat.
"Oh benarkah.." kata sang kakek
"Iya kek... tapi sayangnya aku kembali kehilangan jejaknya" kata ardha.
"Besok aku akan mencoba mencarinya kembali setelah kuliah kek... mungkin saja pemuda itu adalah mahasiswa di kampus ardha kek" kata ardha kepada kakek.
Kakeknya hanya menganggukkan kepalanya lalu membelai rambut cucunya.
.........
Sementara itu elte yang baru tiba di rumah segera masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian ia mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Eh kak yuda.... ada apa kak" kata elte yang terkejut melihat yuda sedang berdiri di depan kamarnya segera mempersilahkan yuda untuk masuk ke kamar.
"Begini dek.... beberapa teman-teman memutuskan untuk mempercepat latihannya... mereka selalu teringat dengan kejadian di kanada dan merasa tidak berguna melawan para penjahat itu." Kata yuda menceritakan kondisi teman-temannya kepada elte.
"Apakah aku boleh tahu kak sebenarnya apasih yang terjadi di kanada" elte berpura-pura tidak tahu dan bertanya kejadian di kanada.
"Hhmmmm..... baiklah aku akan menceritakan kejadian sebenarnya, tapi aku harap kau bisa menjaga rahasia ini" kata yuda setelah berpikir sesaat.
"Akhir-akhir ini sering terjadi penculikan anak-anak di bawah umur, menurut informasi dari intel bahwa mereka diculik untuk dilatih khusus agar bisa mengikuti pertarungan ilegal sampai ada yang mati"
"Menurut intel bahwa saat ini para organisasi dunia bawah tanah telah bergabung menjadi sebuah organisasi dunia bahkan dapat mengatur PPB"
"Salah satu bisnis dari organisasi baru itu adalah pertarungan ilegal sampai mati. Pertarungan itu direkam dan diputar secara online dan dapat ditonton setelah membayar sejumlah uang yang cukup besar."
"Hampir semua negara merasa kesulitan akibat adanya penculikan anak dan pertarungan ilegal itu. Termasuk indonesia. Oleh karena itu sebelumnya kami dikirim untuk memata-matai operasi mereka dan kalau bisa merebut kembali anak-anak yang sudah mereka culik."
"Setelah beberapa hari di kanada, kami pun bekerja sama dengan kepolisian kanada untuk menyusup ke lokasi pertandingan. Kami mencoba menggrebek aktifitas mereka agar dapat langsung menjebloskan mereka ke penjara."
"Kami tidak menyangka bahwa di lokasi tersebut ada ratusan penjaga yang sangat ahli bela diri dan penggunaan senjata api. Di lokasi itu pun terjadi perang antara gabungan polisi indonesia dan kanada dengan para penjahat itu"
"Saat peluru kami sudah habis, mereka memutuskan untuk menyerang kami dengan perkelahian tangan kosong."
"Pada awalnya kami mampu menghadapi mereka menggunakan seni bela diri kami yaitu tinju dan silat merpati putih. Namun sayangnya teknik perkelahian mereka cukup kotor dengan menyerang kami dengan senjata tajam dan titik ******** kami"
"Saat kami kewalahan menghadapi mereka, muncullah empat orang shinobi membantu kami melawan para penjahat itu."
"Kami kurang mengerti kenapa mereka membantu kami dari indonesia padahal polisi dari kanada juga kerepotan melawan para penjahat itu."
"Menyadari bahwa para penjahat itu tidak bisa melewati para shinobi mereka lalu memutuskan untuk kembali menggunakan senjata api menembaki kami. Kami sempat putus asa melihat kenyataan itu namun ternyata keempat shinobi itu mampu menghadang serangan peluru hanya dengan menggunakan dua buah pedang katana."
"Para penjahat itu lalu memasang bom peledak dan kabur dari ruangan dengan mengunci pintu dari luar. Kami yang tidak bisa mematikan waktu pemicu ledakan hanya bisa kembali pasrah terduduk dalam ruangan yang terkunci itu"
"Keempat shinobi itu lalu menuju ke posisi dian askar dan memberikan sebuah nomor handphone dan kode untuk ditelpon balik. Setelah itu mereka melemparkan senjata peledak ke pintu yang terkunci dan membuat pintu itu terbuka."
"Saat pintu itu telah terbuka kami kembali diserang oleh senjata api namun dapat dihadang oleh keempat shinobi itu. Mereka menghadang serangan peluru sambil berlari ke arah para penjahat itu. Mereka berempat lalu membantai ratusan penjahat yang sedang menyerang kami."
Yuda terdiam sejenak lalu menghembuskan nafasnya mengingat kejadian berikutnya.
"Saat ratusan penjahat itu sedang terluka parah oleh sabetan pedang para shinobi, tiba-tiba tekanan gravitasi meningkat dan membuat para shinobi termasuk kami para polisi dari indonesia dan kanada terjatuh ke lantai dan tidak bisa bergerak."
"Kami melihat seseorang datang lalu membuat gumpalan asap hitam dan menyedot ke empat shinobi itu. Di belakangnya dua orang sedang mengeluarkan cahaya dari kedua tangan mereka dan mulai menyembuhkan ratusan penjahat yang sedang sekarat terkena sabetan pedang yang ternyata sudah diluluri dengan racun."
"Para polisi kanada mencoba mengambil senjata api milik para penjahat yang berada di dekat kepala mereka dan mulai menembaki para penjahat itu sekuat tenaga."
"Tiba-tiba sebuah dinding es terbentuk dan menghalangi serangan senjata api dari para polisi kanada itu. Beberapa bongkahan es lalu menyerang mereka dan menembus kepala para polisi tersebut."
"Kami para polisi dari indonesia hanya bisa terkejut diam menyaksikan kematian rekan kami dari kanada. Kemudian salah satu orang tadi kembali membuat gumpalan hitam besar dan menyedot kami semuanya ke dalam gumpalan tersebut."
"Setelah tersedot, kami hanya bisa melihat kegelapan dan merasa tubuh kami lemas tidak berdaya, kami juga tiba-tiba merasa ketakutan sehingga kami mengompol di kegelapan itu."
Yuda menceritakan pengalamannya yang ia anggap sangat tidak masuk akal.
"Hhmmm.... sepertinya itu adalah penjara dimensi kegelapan milik kultivator elemen kegelapan" ucap elte dalam hatinya.
"Setelah beberapa jam dalam kegelapan, kami lalu dikeluarkan ke dalam penjara."
"Beberapa penjahat meminta orang tersebut untuj menginterogasi kami dengan kekuatannya, namun mereka tidak tertarik dengan para polisi. Mereka lebih tertarik untuk mencari asal usul para shinobi dan ingi merekrutnya menjadi anggota mereka, jika para shinobi tidak tertarik maka mereka akan membantai habis desa shinobi." Kata yuda mengingat kembali alasan mereka bisa ditahan di dalam sel tahanan.
"Selanjutnya selama dua minggu kami selalu disiksa dan dipukuli agar membocorkan target dan misi kami. Saat mereka ingin mengganti model siksaan mereka dengan lebih ekstrim, seorang ninja biru berkacama hitam datang menolong kami." Yuda menceritakan pengalamannya tanpa membahas ancaman siksaan berupa serangan segel belakang dari para penjahat.
"Sayangnya ninja biru terlihat plin-plan, kadang ia datang membantu kami, tapi kadang juga ia hilang tiba-tiba. Jika saja saat itu ia tidak hilang cukup lama, mungkin beberapa teman kami masih hidup" kata yuda yang membuat elte kembali menyesal atas sikapnya yang kurang pandai mengatur prioritas saat itu.
"Saat kami sadar, kami semuanya sudah ada di rumah sakit. Atas bantuan pihak intel dari kanada, berita tentang keberadaan kami serta kepulangan kami dapat disembunyikan dari media." Kata yuda menutup ceritanya.
Yuda kembali menghembuskan napas panjangnya mengingat peristiwa hidup dan matinya selama di kanada.
"Jadi bagaima dek... besok bisa dimulai pelatihannya" kata yuda setelah diam sejenak.
"Bisa kak... besok pulang sekolah... kirim saja alamat lokasinya lewat chat" jawab elte dan diangguki oleh yuda.
Setelah mendapatkan jawaban elte, yuda lalu ijin pamit kembali ke kamarnya.