
[Sementara itu di dalam museum]
"Bagaimana dengan hasil penggalian di sekitar candi yang baru ditemukan" tanya seorang pemilik museum kepada temannya yang bekerja sebagai arkeolog
"Tim penggali menemukan sebuah kotak peti kecil" jawab sang arkeolog
"Oh ya, apa isinya ? " seru si pemilik museum karena penasaran
"Sembilan buah batu mutiara berbentuk telur puyuh yang kecil dengan beraneka warna" ujar si arkeolog menjelaskan
"Ada mutiara berwarna merah, biru, hijau, kuning, jingga, ungu, hitam, putih dan bening atau tanpa warna" lanjut sang arkeolog mulai serius
"Dan menurutmu apakah mutiara mutiara tersebut akan menarik perhatian pengunjung jika mutiara mutiara tersebut dipamerkan di museum ini ?" Tanya pemilik museum mulai semangat
"Hei, emang siapa yang mau memamerkan mutiara itu di museum ini" gurau sang arkeolog
"Oh ayolah kawan, jangan pelit begitu, apakah kau sudah tidak mau membantu kawanmu ini" ratap sang pemilik museum
"Aku berencana mau membuat pelelangan bulan depan, aku berharap dapat ikut serta memamerkan mutiara-mutiara tersebut" lanjut sang pemilik museum mulai merengek
" ish... jangan sok manja begitu deh, nggak sesuai umur bos" jawab sang arkeolog sambil berusaha menahan tawanya
Melihat kawannya yang berusaha menahan tawa, si pemilik museum sadar bahwa temannya hanya bercanda, namun dia pura-pura mengikuti alur yg telah diciptakan kawannya sejak kecil
"Ayolah kawan, berapa yang harus saya bayarkan agar kau sudi menitipkan mutiara-mutiara yang kau ceritakan sebelumnya" rengekan si pemilik museum makin terdengar manja
"Ha ha ha ha, kau sungguh menjijikkan kawan, kau merengek seperti gadis kecil tapi suara dan penampilanmu tidak sesuai" ejek si arkeolog
"Tapi sebenarnya tidak ada yg menarik dari mutiara mutiara tersebut" lanjut si arkeolog
"Maksudnya ?" Tanya si pemilik museum
"Kami mencoba melubangi mutiara mutiara tersebut untuk digabung menjadi sebuah kalung tasbih agar terlihat lebih antik " jawab si arkeolog
"Terus apa yang terjadi" tanya si pemilik musem
"Mutiara mutiara tersebut sangat keras lebih keras dari baja maupun intan berlian" jawab si arkeolog
"Setelah seharian mencoba dengan berbagai teknologi pemotong, akhirnya dengan menggunakan sinar laser khusus, delapan mutiara dapat dilubangi" jawab si arkeolog
"Delapan mutiara? Bukannya tadi katamu ada sembilan mutiara ?" Tanya si pemilik museum
"Iya benar, tapi mutiara yang bening tdk dpt kami lubangi walau sudah seminggu lebih kami coba lubangi dengan sinar laser khusus" jawab si arkeolog
"Oh ya ? Emang apa kelebihan dari mutiara bening itu" tanya si pemilik museum
"Hanya lebih keras saja, selebihnya tidak ada." Jawab di arkeolog
"Tahu tidak, ternyata kedelapan mutiara berwarna itu kalo diletakkan berjauhan dengan mutiara yang bening tadi maka kedelapan mutiara akan menyala terang berkedip-kedip sesuai warnanya masing masing, dan setelah dibuat menjadi kalung tasbih akan menghasilkan kombinasi warna yang sangat indah dan harmonis" lanjut si arkeolog dengan semangat
"Jadi apa rencanamu terhadap sisa mutiara yang bening tadi ?" Tanya si pemilik museum
"Entahlah, jika memang kamu mau lelang kalung mutiara tadi, mungkin kamu bisa ikut melelang mutiara tersebut secara terpisah, katakan saja bahwa mutiara tersebut adalah mutiara antik yang memiliki nilai history dan nilai spiritual" ujar di arkeolog
Si pemilik museum termenung sesaat mencoba memahami kondisi yang baru diceritakan
"Ok ... aku akan mencoba saranmu" si pemilik museum kembali berujar
"Apakah bulan depan kamu bisa membawakanku mutiara mutiara tersebut?" Lanjut si pemilik museum
"Kenapa harus bulan depan, kapanpun aku bisa membawakan mutiara-mutiara itu untuk kau simpan dan pamerkan nanti."
"Tapi tolong agar saat pelelangan, agar kalung mutiara tadi dapat dipromosikan mulai besok atau lusa" jawab si arkeolog
"Aku berharap, tim kami dapat keuntungan besar dari pelelangan bulan depan" ujar di arkeolog
"Ok, saya akan mulai promosi tentang keberadaan kalung mutiara antik tersebut beserta kelebihannya" kata di pemilik museum dengan semangat
[Esoknya di kantor walikota]
"Ayah.... apakah kamu sudah dengar kalau bulan depan museum akan melelang sebuah kalung mutiara yang unik" tanya seorang pemuda dengan kaki pincangnya
"Oh iya nak, saya juga sudah membaca beritanya di koran pagi tadi" jawab sang ayah yang saat ini menjabat sebagai walikota
"Ayah bisakah kau membelikannya untuk ku ayah?" Rengek si pemuda pincang itu
"Akan ayah usahakan nak, ayah akan menggunakan koneksi ayah di rapat dewan untuk membuat undang-undang khusus menekan museum itu" jawab sang ayah
Walikota itu memang memiliki koneksi di anggota dewan karena sebelumnya ia pernah menjabat sebagai anggota dewan yang punya pengaruh politik cukup besar.
Pengaruh politiknya sangat besar karena ia juga adalah seorang pengusaha yang memonopoli banyak bidang usaha seperti bidang pertambangan, perminyakan, pengobatan, perikanan dan perkebunan.
Dengan kekayaannya ia mampu memelihara beberapa preman yang terkenal sangar dan berbahaya. Preman-preman itu ia gunakan untuk menekan lawan bisnis dan lawan politiknya.
Setahun lalu sebelum menjadi walikota, ia menculik beberapa wartawan yang hampir membongkar kelakuannya yang membakar dua buah rumah akibat ingin membalas keluarga yang menyebabkan anaknya terjatuh dari motor saat sedang ugal-ugalan di jalan. Orang yang ditabrak itu adalah ayah elte yang berniat membantu seorang nenek pengemis yang hampir ditabrak.
Para wartawan pria yang diculik akan dibunuh dan dijual organnya sedangkan para wartawan wanita akan dijual ke tempat-tempat prostitusi milik preman peliharaannya
"Terima kasih ayahku sayang" kata pemuda pincang yang juga pernah menabrak ayah elte setahun lalu
"Apa yang ingin kau lakukan dengan kalung itu nak ? Bukannya kau bukan penggemar barang antik ?" Selidik sang ayah
"Aku ingin menjadikannya hadiah untuk ulang tahun calon mertuaku ayah" jawab sang anak dengan muka memerah karena malu
"Ha ha ha, ternyata anakku ingin mencari perhatian calon ayah mertuanya, aku jadi cemburu nih" kata sang ayah dengan berpura-pura merajuk
"Tidak ayah, aku hanya ingin segera menikahi anak gadisnya yang sangat cantik dan ingin merebut dan menguasai bisnis ayahnya di bidang entertainment"
"Ayah tetaplah nomor satu bagiku" bujuk sang anak
"Bukankah ayah juga ingin memperluas bisnisnya di bidang entertainment kan yah ? Jika aku sudah menguasai bisnis entertainment maka tentunya ayah akan memiliki power untuk mengatur opini publik lewat media" lanjut sang anak
"Ha ha ha, anakku sekarang makin hebat, sekali melempar batu, dua tiga ekor burung dapat dijatuhkan" balas sang ayah
"Dapat istri cantik sekaligus mewarisi bisnis ayahnya" lanjut sang ayah
"Ha ha ha, siap ayahku sayang" kata sang anak dengan senang
[Sementara itu di sebuah rumah mewah milik pengusaha di bidang entertainmen]
"Ayahku sayang apakah kamu sudah membaca berita di koran tadi pagi perihal kalung mutiara antik yang akan dilelang bulan depan oleh museum" kata seorang gadis manis bersuara merdu
"Bukankah ayah sangat senang mengoleksi benda-benda antik dan unik" lanjut gadis itu.
"Iya nak, ayah sudah membacanya dan rencana akan ikut pelelangan tersebut" jawab sang ayah sambil menatap anak gadisnya dengan tatapan sayang
"Jika berita tentang kalung mutiara yang dapat bersinar di waktu gelap itu memang benar maka tentunya akan banyak para pengoleksi barang antik yang ikut datang di pelelangan tersebut" lanjut sang ayah dengan suara lembut
"Walaupun ayah sangat menyukai barang antik namun ayah tidak akan membuang uang berlebihan jika harganya sudah diluar kemampuan ayah" ujar sang ayah sambil membelai kepala anak gadis kesayangannya
"Ayah memang hebat, walaupun ayah memiliki banyak uang sebagai pemilik bisnis entertainment terkenal, namun ayah tidak pernah mau memaksakan diri berlebihan untuk hal yang tidak perlu" puji sang anak
"Semua kekayaan dan popularitas ini hanya titipan dari sang pencipta nak, kita memang kadang harus terlihat mewah di depan client dan masyarakat tapi itu hanya karena tuntutan kerja. Di luar dari pada itu kita harus senantiasa bersyukur dan banyak bersabar menghadapi godaan dunia" kata sang ayah menasehati anak gadisnya
"Ngomong-ngomong, mana ibu dan adik perempuanmu nak" tanya sang ayah
"Ibu dan adik sudah masuk duluan ke kamarnya masing-masing ayah" jawab sang anak
"Mereka tadi kecapean bermain di game zone ayah" lanjut sang anak menjelaskan
"Baiklah nah, pergilah juga ke kamarmu sekarang untuk beristirahat, rencana besok ayah mau mengawasi persiapan pesta syukuran kantor, kantor akan mengundang anak-anak panti asuhan untuk ikut serta meramaikan acara kantor ayah" kata sang ayah
[Pada malam hari sekitar pukul 22:00]
"Anak-anak tolong kumpul dulu sebentar di ruang tamu nak, ibu mau ngomong" kata ibu pengasuh panti
Setelah anak-anak panti yang berjumlah sembilan belas orang telah berkumpul di ruang tamu. Selanjutnya ibu pengasuh mulai menjelaskan rencana panti untuk menghadiri undangan syukuran dari seorang pengusaha terkenal.
"Anak-anaku sayang, besok malam ada undangan syukuran untuk kita datangi, tolong besok jangan malu-malui ya nak" ujar sang ibu pengasuh menggoda anak asuhnya semua
"Hoorreeee... besok kita bisa makan ayam dan daging" beberapa anak lompat kegirangan karena sudah hampir setahun tidak merasakan nikmatnya daging dan ayam.
Anak-anak panti bisa merasakan makan enak jika mendapatkan undangan syukuran dari para dermawan. Namun hampir setahun ini sudah tidak ada undangan syukuran, kebanyakan orang kaya sekarang lebih senang mengundang badut untuk acara ulang tahun atau artis-artis terkenal jika ada acara syukuran
"Nak Elte, besok walaupun sedang libur sekolah, tidak usah pergi memulung ya nak, tolong bantu saudara-saudaramu untuk mempersiapkan dirinya" kata ibu pengasuh dengan tatapan sendu
Walaupun elte yang paling muda dari segi umur namun ia anak yang paling tegar dan mandiri, hati ibu pengasuh kadang meringis saat melihat wajah elte babak belur karena sering di bully oleh teman sekolahnya, tapi elte selalu melarang ibu pengasuh untuk meminta pertanggung jawaban sekolah dan orang tua murid yang sering membully elte
"Kenapa nak kamu tidak ingin menuntut keadilan" tanya ibu pengasuh suatu waktu
"Jangan bu, tanpa kekuatan, kita hanya bisa melawan dalam hati, ayah saya meninggal karena membantu seorang nenek pengemis yang hampir ditabrak oleh pengemudi ugal-ugalan. Dan ibu saya meninggal karena rumah kami dibakar oleh ayah anak tersebut." Jawab elte dengan nada sendu.
"Sudah menjadi rahasia umum bu, bagi tetangga sekitar rumah, tentang siapa pelaku kebakaran rumah kami" lanjut elte
"Preman lorong yang sering mabuk-mabukan adalah pelakunya, karena saat kejadian ada beberapa tetangga yang melihatnya, awalnya para warga ingin melapor ke kantor polisi, tetapi polisi dan preman tersebut adalah peliharaan seorang pejabat yang juga ayah dari pemuda pelaku penabrak ayah saya" ujar elte mulai terisak
Elte sangat menyadari bahwa melawan ketidakadilan tanpa kekuatan sama saja dengan bunuh diri dan elte tidak ingin pengorbanan ibunya menjadi sia-sia.
Ibu pengasuh panti sampai tidak kuasa menahan air matanya setelah mendengar pengakuan elte, sang ibu pengasuh sangat kagum dengan ketegaran dan kesabaran elte.
Elte kemudian banyak menyibukkan dirinya bekerja karena tidak ingin menyusahkan ibu pengasuh. Elte juga dapat merasa dengan bekerja keras dapat menjadi sarana untuk pelarian dari kenangan yang sangat menyakitkan.
Elte bertekad menjadi orang yang kuat sehingga bisa melawan ketidakadilan tidak hanya dengan hati, tapi juga dengan mulut dan perbuatan.
[Esok malam di waktu pesta syukuran]
"Anak-anak, ingat ya jangan malu malui kalo makan nanti, tunggu instruksi dari ibu ya" pesan ibu pengasuh
"Siap bu" jawab anak-anak panti
Acara syukuran pun berlangsung dengan lancar hingga salah satu tamu, datang yang membuat beberapa tamu lainnya sedikit tidak nyaman.
Elte yang melihat kedatangan pemuda pincang tersebut berusaha menahan kepalan tangannya, dengan sorotan mata antara amarah, sedih dan takut akan sosok pemuda yang pernah menabrak ayahnya, elte kembali mengingat kisah pilu setahun lalu.
Sang pemuda pincang yang berjalan masuk ke pesta syukuran tersebut terlihat menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari gadis pujaan hatinya, tanpa sengaja, pandangannya menangkap sorotan mata tajam dari seorang anak kurus dan terlihat kumuh, sang pemuda merasa jijik dan balas menatap mata anak tersebut.
Di dalam hatinya ia ingin mencungkil bola mata anak tersebut tapi ia tahan karena berada di tengah tamu dan media.
"Awas saja ya nanti" ujar pemuda pincang itu dalam hatinya
Merasa tatapannya bisa menyinggung perasaan pemuda pincang itu, elte segera menundukkan wajahnya ketakutan. Ia takut jika pemuda pincang itu akan membakar kembali panti asuhan tempatnya bernaung.
Melihat anak panti yang menjijikkan itu tertunduk ketakutan, si pemuda pincang tersenyum mengejek.
"Tahu diri juga kamu anak bau, ... aku hampir buat perhitungan kalo tidak ingat hatiku lagi bersemi mencari gadis pujaan hatiku" ujar si pemuda pincang itu dalam hati
Tidak lama kemudian sang tuan rumah pemilik bisnis entertainment datang ke ruangan bersama keluarganya. Bersama istri dan kedua putrinya ia menyambut para tamu dan mempersilahkan untuk segera mencicipi makanan yang telah disajikan. Anak-anak panti pun juga di persilahkan menikmati hidangan dan disambut suka cita oleh anak-anak panti.
"Selamat malam om jaya" kata si pemuda pincang ke pemilik hajatan
"Oh ada nak sugeng" jawab tuan jaya wijaya sang pemilik hajatan dan pemilik dari bisnis entertainment
"Bagaimana kabar tuan anto wiranto" tanya si pemilik hajatan ke pada si pemuda pincang
"Sehat om, beliau sekarang masih sibuk di kantor walikota mengurus kesejahteraan masyarakat" jawab si pemuda pincang dengan sedikit mengeraskan suaranya karena bangga dengan posisi ayahnya
Sugeng wijaya si pemuda pincang kemudian melirik anak gadis tertua si pemilik hajatan, gadis pujaannya itu terlihat sangat cantik dan membuat kedua bola matanya hampir keluar. Terbentuk senyum lebar di bibir tebalnya dan menyapa gadis pujaannya
"Hai yuna, kamu cantik sekali malam ini" gombal si pemuda pincang itu
Yuna sukma wijaya tersenyum mendengar gombal si pemuda pincang itu tetapi di dalam hatinya merasa jijik dan jengkel karena pemuda itu sudah terkenal dengan sifat brengseknya.
Mengerti dengan ketidaknyamanan putri sulung dan para tamunya dengan kehadiran si pemuda pincang itu, tuan jaya wijaya selaku pemilik pesta lalu mengalihkan perhatian semuanya dengan mengumumkan ke para tamu undangan agar berkenan mengaji bersama anak-anak panti asuhan setelah makan malam bersama.
Si pemuda pincang yang memang malas beribadah sejak kecil menjadi tegang dan berkeringat karena merasa takut dan malu jika nanti diundang mengaji bersama.
Selesai makan malam bersama, si pemuda pincang itu ijin pamit duluan dengan alasan kurang sehat ingin mengobati kakinya agar cepat sembuh.