
Sementara itu di SD Negeri 98765, sekolah sedang menerima para orang tua wali untuk mengambil ijasah anaknya yang telah dinyatakan lulus dari evaluasi belajar tahap nasional.
Sehubungan dengan kondisi elte masih koma di rumah sakit, pak jaya selaku orang tua asuh datang mewakili elte dan yuni mengambil ijasah mereka.
Para guru dan kepala sekolah menyampaikan salam dan terima kasih buat elte yang selama ini selalu menjadi juara nasional. Mereka juga mendoakan semoga elte segera sembuh.
Para guru, kepala sekolah dan beberapa murid masih merasa trauma dengan kejadian yang menimpa mereka.
Untungnya dua jam setelah ditinggal penjahat, sebuah mobil sedang melintas dan mau singgah membantu menghubungi pihak kepolisian.
Mereka semua sangat terkejut, saat esok sore mendengar berita tentang kondisi anak-anak didik mereka yang telah diculik, ditemukan dalam minibus yang menabrak mobil polisi.
Walaupun media TV dan media cetak tidak memberitakan hal tersebut, namun berkat media sosial dan para netizen, berita tersebut berkembang, walaupun dengan versi cerita yang berbeda yakni tentang perjuangan para murid menyelamatkan guru kesayangan mereka yang akan dinikahi secara paksa oleh orang tua yang sudah beristri.
Para guru dan kepala sekolah serta beberapa murid secara bergantian, menjenguk elte yang sedang koma. Lani dan lina yang sebelumnya kurang menyukai elte, akhir-akhir ini mulai memikirkan anak yang telah menjadi pahlawan mereka.
[Sementara itu di kantor polisi]
"Bagaimana hasil investigasi kalian terhadap kasus penculikan kesebelas anak murid SD Neg. 98765 ?"
Seorang pria paruh baya bertanya ke anggota timnya dengan sebatang rokok yang masih menempel diantara bibir atas dan bibir bawahnya.
"Kami telah menemukan dan memeriksa lokasi penyekapan kesebelas anak itu pak" jawab salah satu anggota tim
"Dan .... bagaimana hasil penyelidikan kalian di lokasi penyekapan" pria paruh baya itu kembali bertanya setelah menghembuskan asap rokoknya sesaat.
"Kami menemukan lima belas mayat dari orang-orang yang di duga sebagai buronan polisi selama lima tahun ini pak."
"Mereka diduga buronan yang sering melakukan penculikan, perampokan, pemerkosaan, pemerasan dan pengancaman dengan menggunakan kekerasan."
"Kelima belas mayat tersebut diduga meninggal sehari setelah kasus tabrakan minibus."
Seorang wanita yang juga menjadi salah satu anggota tim dari pria paru baya itu menjelaskan hasil temuan mereka.
Pria paruh baya itu kembali menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap rokok itu dengan pelan. Keningnya sedikit berkerut memikirkan dugaan arah laporan dari anggota timnya akan memperkuat kecurigaan mereka pada seorang anak yang saat ini sedang koma.
"Apakah kalian sudah mengetahui penyebab kematian dari para penculik itu" tanya pria paruh baya itu
"Kelima belas penculik itu meninggal karena ditembak dibagian kepalanya."
"Setelah memeriksa sidik jari dari senjata yang ada di sekitar situ, kami menemukan adanya kecocokan sidik jari dari anak yang sedang koma itu dengan beberapa senjata yang ada."
Pria paruh baya itu kembali menghembuskan asap rokopnya dengan agak keras setelah mendengar jawaban anggotanya. Ia sedikit kesal karena buronan yang ia kejar selama lima tahun ini harus mati ditangan seorang anak kecil yang baru lulus SD.
Harga dirinya sebagai polisi dan pria dewasa sedikit terluka. Dipandangnya keenam anggota timnya yang terdiri atas lima pria dan seorang wanita. Keenam anggotanya ini adalah tim elit polisi di kota itu dan sudah melalui pelatihan militer selama tiga tahun di lapangan.
Pria paruh baya itu kembali menyalakan sebatang rokok saat sadar puntung rokoknya sudah hampir habis.
"Apakah ada yang telah menyelidiki latar belakang anak ini ?" Tanya pria paruh baya itu setelah menghembuskan kembali asap pertama dari rokoknya yang baru dia bakar.
"Anak itu bernama Elte Yawarakai dengan suku campuran bugis, makassar dan jawa" wanita dalam anggota timnya kembali menjawab
"Namanya agak aneh seperti orang jepang, apakah anak itu punya darah jepang? Mungkin anak itu adalah seorang ninja atau shinobi" potong salah satu anggota termuda yang sering dipergoki membaca komik manga dan anime jepang.
Pria paruh baya itu menatap tajam anggota timnya yang telah berani memotong penjelasan dari wanita tadi. Melihat perubahan ekspresi wajah atasannya, wanita itu segera melanjutkan penjelasannya.
"Ada beberapa kejadian yang dicurigai memiliki hubungan dengan anak itu" sang atasan kembali memberikan tatapan fokus mendengarkan kelanjutan penjelasan dari wanita itu.
"Yang pertama adalah kasus tabrakan seorang guru, lima tahun lalu, oleh anak mantan walikota karena ingin menyelamatkan seorang nenek pengemis yang menyeberang."
"Kemudian, beberapa hari kemudian, istri dari guru itu meninggal dunia karena rumahnya dibakar oleh beberapa preman yang diduga adalah suruhan mantan walikota."
"Suami istri yang meninggal itu adalah orang tua dari anak yang sedang koma saat ini. Sejak orang tuanya meninggal, anak itu diasuh dipanti asuhan bersama delapan belas anak yatim lainnya."
"Setahun kemudian anak itu sempat koma selama sebulan karena terjatuh ke selokan dekat museum bersama anak mantan walikota yang sering membullynya."
Si wanita itu terdiam sejenak mengatur nafasnya, karena terburu-buru menjelaskan hasil penyelidikannya, agar sang atasan melupakan adiknya yang tadi memotong penjelasannya.
"Hal yang membingungkan adalah pemilik dari perusahaan entertainment, bapak jaya wijaya, yang tidak memiliki hubungan dengan anak itu, memutuskan untuk menanggung biaya perawatan anak itu saat koma dengan biaya lebih dari tiga ratus juta rupiah"
"Selama anak itu koma, ibu pantinya dimasukkan ke penjara, atas tuduhan terlibat sindikat penjualan anak kecil dimana ke delapan belas anak asuhnya diculik."
"Anak itu sembuh dari koma, bersamaan dengan fenomena sembuhnya semua pasien di hari itu."
Pria paruh baya itu kembali mengingat kejadian ajaib di rumah sakit tersebut, saat itu juga, istrinya yang sudah didiagnosa tidak bisa sembuh akibat kanker stadium akhir, secara ajaib sembuh total, dan kini istrinya di rumah sedang mengasuh anak keduanya yang baru berumur tiga tahun.
"(Apakah anak itu adalah malaikat yang telah menyelamatkan istriku)" sang atasan berpikir sesaat namun kemudian menggelengkan kepalanya.
"Baik.....lanjutkan penjelasanmu" perintah sang atasan
"Selanjutnya skandal memalukan sang mantan walikota dan sekretarisnya terjadi. Sampai saat ini belum ada yang mengetahui penyebab bocornya aib sang mantan walikota di media sosialnya sendiri."
"Kemudian beberapa hari setelahnya, secara mengejutkan, pak jaya wijaya mengumumkan bahwa anak itu diangkat menjadi anak asuh dan kelak akan menjadi menantunya."
Salah satu anggota tim yang masih jomblo terdengar menghembuskan nafas kesal karena merasa dikalahkan dengan seorang anak kecil yang kini sudah punya tunangan.
"Selanjutnya terdengar kabar bahwa pak jaya melatih anak itu sebagai penerusnya dengan membawa anak itu ke perusahaannya dua kali seminggu"
"Selain pak jaya, istri dan adik kandung pak jaya juga terdengar sering membawa anak itu untuk belajar."
Sang atasan sedikit terkejut karena baru mendengar kejadian itu.
"Maksud kamu, anak yang baru kelas dua SD, selama seminggu dilatih belajar manajemen di perusahaan pak jaya, belajar memasak di restauran dan belajar mesin di ibu kota negara" sang atasan kembali memperjelas informasi yang didengarnya
"Bukankah itu sama saja dengan eksploitasi anak di bawah umur" lanjut sang atasan
"Sayangnya kita tidak bisa membuktikan hal itu..... anak itu belajar secara suka rela dan tidak ada surat kontrak bekerja yang bisa menjadi bukti eksploitasi.... semuanya hanya terlihat seperti orang tua yang mempersiapkan anaknya menerima warisan karena akan meneruskan perusahaan" jawab wanita itu sambil menggelengkan kepalanya
Sang atasan menatap kosong dinding di depannya seakan bisa menembus apa yang ada dibaliknya. Rokok yang ada di sela bibirnya memperlihatkan abu rokok yang semakin panjang karena belum dibuang ke asbak.
"Kasihan anak kecil itu..." gumam sang atasan yang mengagetkan semua bawahannya. Pria paruh bayah yang saat ini ada di depan mereka adalah orang yang terkenal tidak pernah memperlihatkan rasa simpatiknya selama ini bahkan kepada anak-anak kecil atau nenek tua yang pernah jadi korban bencana alam.
Setelah diam sejenak pria paruh bayah itu meminta anggotanya untuk melanjutkan penjelasannya.
"Saat kekacauan di museum terjadi, pak jaya dan keluarganya termasuk anak itu juga ada di lokasi kejadian. Aku tidak tahu apakah fenomena di museum ini memiliki hubungan dengan keberadaan anak ini."
"Dan yang terakhir.....kasus penculikan yang baru terjadi, dari laporan hasil penyelidikan, bahwa terdapat sepuluh foto murid yang menjadi incaran para penculik." Kata sang wanita itu
"Sepuluh.....? Bukannya korban penculikan ada sebelas termasuk anak yang sedang koma itu?" tanya sang atasan sambil mengerutkan kembali keningnya. Tanpa sadar, abu rokoknya yang sudah panjang, terjatuh ke lantai.
"Cuman ada sepuluh foto pak dan semuanya murid perempuan anak dari orang-orang terkaya di kota ini. Ada dugaan bahwa anak yang sedang koma itu sengaja menyusup ke truk untuk menyelamatkan tunangannya" jawab sang wanita itu.
"Terus bagaimana dengan supir minibus yang telah kabur saat tabrakan" sang atasan kembali bertanya ke wanita itu.
"Dari rekaman CCTV yang ada di lampu lalu lintas menunjukkan bahwa tidak ada orang yang keluar dari minibua tersebut. Sayangnya posisi CCTV tidak memungkinkan kita untuk melihat apa yang terjadi di dalam minibus. Kesaksian korban juga kurang memuaskan." Sang wanita itu menutup penjelasannya.
"Menurut kesaksian polisi yang saat itu sedang patroli, dia melihat dengan jelas bahwa anak itu memiliki luka tembakan di lengannya. Namun setelah sampai di rumah sakit, tidak ada luka tembakan di lengannya, kecuali sisa darah dari baju anak itu."
Anggota yang lain menambahkan hasil penyelidikan mereka yang belum disampaikan oleh sang wanita itu.
"Apa kata pihak rumah sakit ?" Tanya sang atasan
"Rumah sakit tidak memberikan penjelasan yang memuaskan, ia mengatakan kalo kemungkinan polisi yang patroli tadi hanya salah lihat."
"Dari hasil penyelidikan tim...... dokter tersebut adalah ibu yeyen sukma ayu, adik ipar dari pak jaya." Jawab anggota itu.
"Jika memang ada campur tangan rumah sakit dalam menutupi kesembuhan anak itu, aku yakin setelah anak itu sadar, dokter itu pasti akan bilang kalau anak itu mengalami amnesia jadi tidak bisa mengingat kejadian penculikan itu" adik sang wanita kembali memotong penjelasan temannya dengan dugaan yang ia pernah lihat di film-film anime.
Sang kakak merasa atasannya akan memasang wajah marah namun ternyata atasanya itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Prediksimu ada benarnya juga.... aku tugaskan kamu untuk ikut menjaga anak itu dengan alasan pengamanan saksi, kita tentunya tidak ingin menyinggung pak jaya yang juga calon besan walikota. Apalagi dengan apa yang telah dilakukan oleh anak itu, hanya sekedar menyelamatkan teman-temannya khususnya tunangannya."
Sang atasan itu menjelaskan perintahnya kepada adik sang wanita, dengan kata penutup yang kembali menggoreskan sedikit luka pada anggotanya yang masih jomblo dan sensitif dengan kata pacar dan kata tunangan.
"Aku juga pernah mendengar bahwa anak itu tiap minggu belajar bela diri pada anak walikota yang saat ini sedang magang di kantor kita. Mungkin kamu bisa mengajaknya agar tidak mencurigakan, dan pastikan mulut besarmu tidak bocor tentang pembicaraan kita"
Sang atasan menambahkan penjelasannya ke anggotanya yang akan menjaga elte dengan sebuah saran untuk mengajak yuda.
......... ......... .........
[Esok paginya di kantor polisi...]
"Haaiiii...... kamu yuda kan, anak magang yang sudah mengikuti wajib militer dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat..." salah satu anggota unit khusus yang telah mendapatkan tugas menjaga elte berusaha membuka komunikasi dengan anak sang walikota.
"eehhhh.... siap pak" yuda yang sempat bingung segera menjawab sapaam seniornya
"Kenalkan, namaku Rian askar adik dari Dian askar, kami bersaudara adalah bagian dari tim khusus kepolisian di unit penanganan kejahatan. tim kami beranggotakan enam orang di bawah asuhan bapak yusuf abdi negara sebagai pimpinan tim kami" Rian askar sang hacker andalan kepolisian mulai memperkenalkan diri dan timnya agat dapat menarik perhatian yuda.
"Siap pak.... " yuda masih bingung akan menjawab apa dan hanya bisa menjawab dengan jawaban yang sama.
"Yuda.... aku mendapatkan tugas menjaga seorang saksi penculikan, apakah kamu punya waktu untul menemaniku, nanti aku akan laporkan kinerjamu ke supervisormu." bujuk rian askar
"Siap pak...." yuda membalas ucapan seniornya denham jawaban yang sama.
"oke besok pagi kita mulai ke lokasi saksi itu ya menjaga....thanks" kata rian menutup pembicaraan mereka.
esoknya yuda hanya bisa terkejut karena saksi yang akan mereka jaga adalah elte, tunangan dari adik dari tunangannya sendiri.
Rasa terkejutnya bertambah dengan rasa tegang karena di kamar tempat elte berbaring, yuda dan rian bertemu dengan pak jaya, bu yuyun, pak karya, bu yeyen, bu ani mirani, yuna dan yuni. mereka semuanya menatap para polisi itu dengan tatapan kurang bersahabat.
"hehhehehe.....pagi om, pagi tante, pagi sayang, pagi dek..... yuda hanya bisa menyapa mereka dengan gugup.