
Tas-tas berjajar rapi di depan kelas, suasana hening dan sunyi senyap menghiasi tingkah laku para siswa. Beberapa siswa sedang duduk termenung di meja belajarnya. Jam dinding terus berdetak seirama dengan detak jantung para siswa yang sedang pasrah menghadapi ujian mendadak.
Yuni menatap kosong pintu kelas seakan-akan jawaban ujian akan datang mengetuk pintu dan menghampirinya. Sesekali gadis manis itu menghembuskan nafas kesalnya karena tidak sempat belajar di rumah. Sesekali juga ia menatap ke belakang melirik kursi dan meja tunangannya yang sudah kosong dari tadi. Tidak sampai lima menit, tunangannya itu telah menyelesaikan seratus soal pilihan ganda dan lebih memilih menunggu yuni di kantin sekolah.
"Yuni jangan ribut saat ujian.... kalau sudah menyerah, lebih baik keluar.." kata guru matematika menegur yuni yang sedari tadi menghembuskan nafas kesalnya.
Suasana kembali hening dan sunyi senyap karena para siswa belum ada yang melakukan pengisian lembar jawaban selain identitas mereka. Lembar soal berisi materi irisan kerucut pun sudah tidak dibuka lagi. Materi irisan kerucut merupakan salah satu materi pelajaran matematika tentang lokus dari semua titik yang membentuk kurva dua dimensi, yang terbentuk oleh irisan sebuah kerucut dengan sebuah bidang. Tiga jenis kurva yang dapat terjadi adalah Parabola, Elips, dan Hiperbola.
Lembar soal terdiri dari seratus soal cerita bergambar, dimana gambarnya adalah gambar irisan-irisan kerucut yang terlihat kompleks di mata anak-anak siswa SMA Kelas satu. Seharusnya materi tersebut adalah materi kelas sebelas atau kelas dua SMA, tapi sang guru tidak sadar jika soalnya tertukar.
"Baik.... waktunya sudah habis.... selesai tidak selesai kumpul lembar jawaban kalian di meja guru... aku hitung sepuluh hitungan mundur.... sepuluh, sembilan, delapan, lima, empat, tiga, dua, satu, setengah, seperempat....... kumpul." sang guru menghitung mundur dan membuat panik seluruh kelas karena belum ada siswa yang berhasil mengisi lembar jawaban walaupun cuman satu soal.
Para siswa makin panik, saat guru matematika tersebut mulai berdiri merapikan mejanya dan bersiap-siap keluar kelas. Semua siswa itu pun pasrah mengumpulkan lembar jawaban apa adanya.
Yuni dan ruri masruri berjalan dengan langkah gontai menuju ke kantin, mereka masih bingung mengingat soal ujian yang belum pernah ia pelajari sebelumnya. Namun mereka tidak berani protes karena mereka tidak ingat apakah mereka tidak tahu karena materinya belum diajarkan atau karena memang mereka malas belajar ulang materi yang sudah dipelajari. Matematika memang pelajaran yang paling dibenci oleh para siswa apalagi dengan karakter gurunya yang suka marah-marah dan menghukum siswa yang tidak bisa menjawab soal.
Saat yuni dan ruri tiba di kantin, mereka melihat elte sedang duduk sendiri menikmati bakso urat tanpa mie dengan sepiring nasi putih dan segelas es lemon tea.
"Wah... yang lagi asyik menikmati hidup tanpa mengingat tunangannya lagi..." kata yuni mengejutkan elte.
Ruri yang sudah mengetahui status elte dan yuni dari cerita teman sebangkunya sendiri ikut kesal melihat elte yang sedang asyik menikmati baksonya sambil nonton video online.
"Eh yuni dan ruri.... bagaimana ujiannya.... lancarkan ?.... ayo ikut makan...nanti aku yang traktir" kata elte sambil menyimpan smartphonenya ke dalam saku bajunya.
Yuni dan ruri lalu ke ibu kantin untuk memesan bakso urat, bakso telur dan bakso biasa tanpa mie, tidak pake saos, tidak pake sambal, juga tidak pake kol.
Mereka lalu bergabung ke meja elte dan menikmati bakso bulat seperti bola pingpong. Yuni menikmati baksonya sambil menceritakan pengalaman horornya saat ujian di tegur oleh guru matematika. Ia menyesalkan selama SMA jarang belajar privat kepada tunangannya dan meminta tunangannya untuk mengajarinya kembali. Elte pun menyetujuinya. Ruri meminta ijin agar dapat ikut bergabung belajar bersama mereka. Elte dan yuni pun menyetujui permohonan ruri.
Setelah menikmati baksonya, mereka kembali ke dalam kelas untuk menunggu mata pelajaran berikutnya. Saat elte akan duduk ke kursinya, seorang senior kelas dua datang mengetuk pintu kelas dan menyampaikan bahwa siswa yang bernama elte, dipanggil ke ruang guru oleh guru matematika yang sebelumnya memberikan ujian mendadak di kelas mereka.
Elte hanya dapat mengerutkan keningnya sejenak lalu mengikuti seniornya ke ruang guru.
Setibanya di ruang guru, ia melihat para guru sedang beristirahat menunggu jam pelajaran berikutnya, ia juga melihat beberapa siswa senior sedang berkonsultasi dengan guru wali kelas mereka termasuk dian dan hera.
"Ehem.... " guru matematika berdehem menyadarkan elte agar duduk di depan mejanya. Saat elte akan duduk di kursi di depan meja, sang guru matematika menghempaskan sekumpulan lembar jawaban ke atas meja.
"Bbrraaaakkkkk....." seperti itulah kira-kira bunyi hempasan dari sekumpulan kertas lembar jawaban yang beradu dengan meja kayu milik guru tersebut. Beberapa guru dan siswa terkejut mendengar suara itu namun tidak berani menegur karena guru matematika adalah guru paling senior dan pernah menjabat sebagai kepala sekolah selama dua periode. Jika saja tidak ada aturan tentang regulasi jabatan yang melarang seseorang menjabat lebih dari dua periode, bisa jadi para guru akan tetap memilih guru senior itu untuk meneruskan posisinya.
"Kau tahu apa ini..." kata sang guru matematika sambil menunjuk ke tumpukan lembar jawaban yang ada di atas mejanya.
"Itu kertas pak..." kata elte singkat dengan kening yang masih berkerut.
"Buukkk...." guru matematika itu memukul tumpukan kertas lembar ujian dengan telapak tangannya.
"Anak SD juga tahu kalo ini kertas, kamu tahu ini kertas apa ?" Kata guru matematika sambil menatap tajam mata elte.
Elte yang merasa tegang mulai merasa gemetar, ia merasa lebih berani menantang puluhan preman yang bersalah daripada menghadapi guru matematikanya yang sedang marah.
"Itu kertas lembar jawaban hasil ujian pak" kata elte sambil menundukkan kepalanya.
"Buukkk...." guru matematika itu lagi-lagi memukul tumpukan kertas lembar ujian dengan telapak tangannya dan menghembuskan nafas kesal. Beberapa guru dan siswa yang ada di sekitar mereka berusaha menahan ketawanya mendengar jawaban elte yang terkesan polos apa adanya.
"Anak SMP juga tahu ini kertas lembar jawaban hasil ujian..... maksudku apakah kau tahu apa yang salah dengan tumpukan lembar jawaban ini?" Tanya sang guru sambil membulatkan kedua matanya menatap tajam ke elte.
Sang prontagonis hanya dapat menggelengkan kepalanya berulang kali karena tidak tahu maksud dari gurunya, ia juga tidak berani mengaktifkan kemampuannya untuk membaca pikiran sang guru. Aura sang guru begitu tegas dan berkharisma.
"Pagi tadi... aku memberikan kelas kalian sebuah ujian dadakan, aku merasa heran mengapa ada sembilan belas lembar jawaban ujian masih kosong tidak diisi, dan kau tahu apa penyebabnya" kata sang guru menatap tajam ke elte. Kening elte mulai berkeringat menerima tatapan tajam sang guru. Ia merasa tertekan kenapa dari tadi tatapan sang guru tajam terus.
Melihat muridnya hanya tertunduk diam, sang guru matematika pun melanjutkan kata-katanya : "Penyebabnya adalah karena soal ujian kelas kalian tertukar dengan soal ujian kelas dua yang telah aku siapkan sebelumnya."
"Aku akui keteledoranku dan aku maklumi jawaban dari sembilan belas siswa yang masih kosong karena materi ujiannya belum mereka dapatkan. Tapi aku tidak akan mentolerir ketidakjujuran. Aku sangat membenci dengan sikap menyontek. Aku sangat tidak menyukai dengan kebohongan atau ketidakjujuran siswa saat ujian."
"Bagaimana mungkin negara kita negara kesatuan republik indonesia akan dapat mempertahankan kemerdekaannya yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Jika generasi mudanya memiliki sikap tidak terpuji dan suka menyontek, salah satu presiden kita pernah berkata, Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.
"Banyak dari anak bangsa yang telah mengukir prestasi dibidang tekhnologi. Di antaranya bapak Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng, yang telah menciptakan empat puluh enam paten di bidang aeronautika. Desain dan konstruksi pesawat udara yang telah dipatenkan dan diakui oleh dunia internasional. Jajaran berikutnya bapak Prof Khoirul Anwar. Dia pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Belum sederet anak bangsa lainnya."
"Betapa pentingnya pelajar dalam berkiprah untuk kemajuan bangsa. Sehingga Pemuda di Indonesia ini sangat penting peranannya. Untuk itu, peran pendidik atau guru untuk mengembangkan potensi diri yang ada di para siswa bisa terus digalak. Sehingga mereka bisa menjadi generasi bangsa yang dapat berkompetisi dengan negara lain dalam segala bidang termasuk dengan teknologi.
"Para pendidik atau guru seperti kami dalam mengembangkan cita-cita Ki Hajar Dewantoro yakni membumikan pendidikan di se antero Bangsa ini. Dengan azaz menetapkan bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah, dalam arti lahir dan batin. Dalam azas yang ini telah ditegaskan Ki Hajar Dewantoro tentang kemerdekaan bagi anak didik, dimana kemerdekaan itu diaplikasikan kepada cara anak didik untuk berfikir, yaitu dengan cara jangan selalu dipelopori atau disuruh mengakui buah pikiran dari orang lain."
"Ingat Kejujuran Murni... Kini banyak pemuda ataupun pelajar yang berprestasi tetapi itu bukan karyanya. Mereka hanya memegang prinsip Nilaiku harus tinggi dan untuk mencapainya tak jarang menggunakan contekan. Mereka berprestasi, namun tak murni. Jika banyak generasi seperti itu, bisa hancur Indonesia. Dan di sinilah guru berperan, selain mengajarkan pendidikan umum layak sudah memberikan pelajaran moral dan kejujuran. Karena ketika apa yang kita hasilkan murni jerih payah kita, maka di masa depan kemungkinan kita untuk maju akan lebih besar."
Sang guru matematika memberikan banyak petuah kepada elte yang makin bingung dengan maksud dan tujuan guru tersebut. Ia tidak menyadari bahwa saat ini sang guru matematika telah mencurigai dirinya menyontek saat ujian. Para guru dan beberapa siswa yang ada di sekitar mereka, merasa prihatin melihat elte yang hanya pasrah menerima petuah-petuah yang terdengar berat.
Elte yang makin pusing dengan petuah dari guru tersebut mengangkat tangannya ingin bertanya.
"Iya... ada apa" kata sang guru matematika menghentikan petuahnya sambil mengkerutkan keningnya saat melihat siswanya mengangkat tangan. Sebenarnya masih sangat banyak yang ia ingin jelaskan secara panjang kali lebar dan luas kali keliling.
"Aku belum mengerti dengan tujuan bapak memanggilku dan juga kenapa bapak memarahiku" kata elte sambil menundukkan kepalanya.
"Buukkkkk...." lagi-lagi guru itu memukul tumpukan kertas lembar jawaban dari hasil ujian dadakan dengan telapak tangannya.
"Dari dua puluh siswa di kelasmu, sembilan belas siswa tidak mengisi lembar jawaban walaupun hanya satu soal. Aku maklum karena soalnya adalah materi kelas dua. Jadi kenapa kau yang hanya kelas satu SMA dan belum satu semester belajar di sekolah ini, dapat menyelesaikan seratus soal hanya dalam waktu lima menit dan semuanya benar seratus persen !!!... "
"Aku yakin, anak kelas tiga bahkan anak kuliah pun akan membutuhkan waktu setidaknya satu atau dua jam lebih. Kau pasti menyontekkan ? .... atau, mungkin kau sudah mencuri kunci jawaban dari soal ujian tadi."
Guru matematika itu menjelaskan alasannya memanggil elte dan memarahinya karena munculnya kecurigaannya kepada siswa yang bisa menyelesaikan soalnya dengan cepat dan tepat.
Elte mengkerutkan keningnya dan merasa kurang senang dengan tuduhan gurunya, rasa tegangnya berubah menjadi rasa kesal dan rasa takutnya berubah menjadi antipati.
"Jadi menurut bapak, karena aku bisa menyelesaikan semua soal ujian bapak dengan benar dalam waktu lima menit, bapak menuduhku menyontek bahkan mencuri kunci jawaban dari soal ujian bapak !?!?!?" Kata elte kepada guru matematikanya.
Elte hanya terdiam mendengar bentakan sang guru, ia lalu berkata dengan suara yang lebih lembut : "Maafkan aku pak jika sebuah pertanyaan atas sesuatu yang aku kurang pahami dianggap sebagai bentuk perlawanan, aku juga meminta maaf jika menjawab semua soal bapak dengan benar dianggap sebagai bentuk kecurangan. Mungkin ke depannya aku tidak perlu mengisi lembar jawaban dari soal ujian bapak agar tidak dicurigai menyontek bahkan mencuri kunci jawaban."
Walaupun suara elte lebih lembut, namun guru tersebut menyadari jika muridnya meminta maaf dengan menggunakan majas ironi yakni gaya bahasa yang menyindir secara halus.
"Jika kau memang yakin tidak melakukan kecurangan saat ujian, bagaimana kau membuktikan hal tersebut" kata guru matematika kepada elte yang terdiam memikirkan ucapan gurunya.
"Bagaimana jika bapak mengujiku sekarang dengan sebuah tes lisan " kata elte menantang gurunya untuk memberikannya ujian lisan saat itu juga.
Sang guru matematika itu diam sejenak, ia lalu mengambil buku andalannya yang berisi sekumpulan bank soal untuk pelajaran matematika. Guru tersebut lalu menanyakan beberapa soal lisan untuk materi matematika kelas sepuluh atau kelas satu SMA seperti Pertidaksamaan Linear, Sistem Persamaan Linear, Persamaan Garis Lurus, Persamaan Kuadrat, Fungsi Kuadrat, Trigonometri, Relasi dan Fungsi, Fungsi Komposisi dan Fungsi Invers, serta Eksponen dan Logaritma.
Elte mampu menjawab semua soal kelas satu SMA dengan sangat cepat. Sang guru sedikit terkagum dengan kemampuan siswanya. Ia lalu iseng mencoba melanjutkan tes lisannya dengan materi matematika kelas sebelas atau kelas dua SMA seperti Logika Matematika, Induksi Matematika, Pertidaksamaan Linear Dua Variabel, Program Linear, Matriks Dasar dan Operasi Matriks, Barisan dan Deret, Limit Fungsi Aljabar, Turunan Fungsi Aljabar, Integral Tak Tentu dan Trigonometri, Integral Substitusi dan Integral Parsial, Grafik Fungsi Trigonometri, Persamaan Trigonometri, Jumlah dan Selisih Sinus dan Cosinus, Irisan Kerucut, Suku Banyak, Persamaan Lingkaran, Irisan Dua Lingkaran, Integral Tentu dan Transformasi Geometri. Untuk membantu visualisasi gambar soal, ia menggunakan bantuan papan tulis.
Elte kembali dapat menjawab semua soal kelas dua SMA dengan sangat cepat. Sang guru sangat kagum dengan kemampuan siswanya. Ia lalu lebih iseng lagi mencoba melanjutkan tes lisannya dengan materi matematika kelas dua belas atau kelas tiga SMA seperti Geometri Bidang Datar, Geometri Bidang Ruang, Statistika deskriptif, Kaidah Pencacahan, Peluang atau probabilitas, Permutasi, dan Kombinasi, Limit Fungsi Trigonometri, Turunan, Fungsi Trigonometri, Statistik Inferensial, Vektor, Bunga Tunggal Majemuk dan Anuitas.
Elte kembali dapat menjawab semua soal kelas tiga SMA dengan sangat cepat. Sang guru mulai percaya dan yakin dengan kemampuan siswanya.
Elte mampu menjawab semua soal dan pertanyaan guru dengan cepat karena sejak kecil waktu SD, ia mempelajari materi pelajaran matematika, bahasa dan ilmu pengetahuan alam (fisika, kimia, biologi dan geologi) untuk tingkat SD, SMP, SMA dan S1. Selain itu, elte juga mengaktif kemampuan telepati membaca pikiran, sehingga dapat membaca jawaban dari soal yang diberikan.
"Hhmmmm..... baiklah... sekarang bapak sudah percaya dengan kemampuanmu... bapak minta maaf karena sudah menuduhmu menyontek bahkan bapak juga menuduhmu telah mencuri kunci jawaban." Kata sang guru matematika dengan lembut dan tulus hati.
"Terima kasih banyak atas kesempatan bapak dan kepercayaannya pak." Balas elte dengan sopan, ia lalu meminta ijin untuk balik ke kelas. Setelah berdiri dan akan kembali ke kelas, salah satu siswa yang ternyata sudah menunggu mereka datang dan berkata : "maaf pak sebelumnya kalau mengganggu, aku cuman ingin memberitahukan kepada elte kalau dia dari tadi di cari oleh guru BK, kata guru BK kalau saat ini elte kedatangan tamu dari orang tua dan wali siswa yang ingin berdiskusi dengan elte".
Elte dan guru matematika hanya dapat mengkerutkan keningnya mendengar perkataan siswa tersebut. Elte lalu kembali ijin pamit ke gurunya dan pergi mengikuti siswa seniornya ke ruang BK.
Sesampainya di ruangan BK, siswa tersebut melaporkan alasan keterlambatannya karena elte sedang berdiskusi dengan guru senior. Guru BK lalu mengucapkan terima kasih ke siswa tersebut dan mempersilahkan siswa tersebut kembali ke dalam kelas.
"Begini nak elte.... ini adalah lima belas orang tua dan wali siswa yang anak-anaknya masih dipenjara akibat kasus pengeroyokan beberapa hari yang lalu.
Elte hanya terdiam mengangguk sopan dan melihat ke arah lima belas orang tua tersebut. Salah satu dari mereka pun mulai berbicara dengan lembut dan sopan : "Begini nak... kami minta maaf sebelumnya atas kelakuan anak-anak kami... kami memohon dengan sangat agar kiranya nak elte mau membantu anak-anak kami untuk tidak melanjutkan kasus pengeroyokan kemarin nak, demi masa depan anak kami.... tolong kami nak elte"
Elte hanya terdiam sejenak berpikir lalu berkata : "kalau aku sih sangat ingin berdamai pak, tapi kasus pengeroyokan tersebut adalah kasus pengeroyokan yang kedua kalinya. Jika nanti aku mencabut laporan pengeroyokan tersebut dan melepaskan mereka, aku takut pak jika mereka melakukan aksi balas dendam lagi dengan memanggil teman-teman mereka lebih banyak."
"Dari kecil sejak kelas dua SD, aku sudah sering di bully dan tahu persis karakter para pembully, mereka tidak akan senang jika kami korbannya melawan.... apa jaminannya kalo anak-anak bapak akan melepaskan rasa dendamnya dan tidak melakukan aksi pengeroyokan yang ketiga kalinya"
Para orang tua tersebut hanya terdiam karena memang selama ini mereka sangat memanjakan anak-anaknya. Dari kecil jika anak-anak mereka membully temannya dan dilaporkan ke polisi, mereka biasanya melakukan atur damai dengan polisi. Jika mereka mendapatkan polisi jujur dan tidak mau ikut bekerja sama, mereka akan menggunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk menekan polisi dengan jabatan kecil tersebut. Namun pada kasus kali ini, mereka tidak berkutik karena dibelakang elte ada pak jaya yang juga memiliki kekayaan bahkan pengaruh kuat sebagai publik figure.
"Kami akan berjanji untuk mendidik anak kami lebih baik lagi nak... dan kelak kami akan memindahkan anak kami untuk lanjut sekolah ke tempat lain agar menjadi efek jera bagi mereka" kata salah satu orang tua tersebut
Mendengar perkataan tulus dari orang tua tersebut, elte yang mengaktifkan kemampuan untuk membaca pikiran hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia lalu menelpon pak jaya dan menceritakan kedatangan kelima belas orang tua siswa dari pelaku pengeroyokan. Elte juga meminta pak jaya untuk mencabut laporannya dari kantor polisi agar para seniornya dapat lepas dari tahanan.
Setelah menelpon pak jaya, elte lalu berkata kepada lima belas orang tua itu : "Baik pak.... aku sudah menghubungi pak jaya dan meminta beliau untuk mencabut laporan kasus pengeroyokan tersebut. Untuk selanjutnya silahkan bapak-bapak untuk menjemput anak-anak bapak di kantor polisi"
Perkataan elte sangat mengejutkan mereka semuanya, mereka tidak menyangka bahwa proses negosiasinya akan semudah itu, salah satu dari mereka bahkan siap berlutut dan memohon pengampunan dari elte untuk masa depan anaknya. Jika kasus ini berlanjut ke persidangan maka anak-anak mereka akan memiliki catatan kejahatan secara permanen dan akan sulit mengurus SKCK untuk melanjutkan kuliah atau kerja di pemerintahan.
Para orang tua wali tersebut kemudian mengucapkan banyak terima kasih dan memohon maaf atas kelakuan anak-anak mereka.
Setelah beberapa saat mengobrol, para orang tua tersebut kemudian ijin pamit untuk ke kantor polisi menjemput anak-anak mereka. Saat elte juga akan mengundurkan diri kembali ke kelas, sang guru BK mengingatkan kembali dengan jadwal pertandingan karate yang dipercepat oleh panitia menjadi besok siang. Elte hanya mengangguk ke guru BKnya. Lalu ijin pamit kembali ke kelas.
Sementara itu hera dan diah sedang berbicara di kantin setelah melihat elte keluar dari ruang guru.
"Eh tahu tidak hera.... selama lo ijin beberapa hari kemarin.... gue denger berita bahwa ternyata bukan elte pemilik novel porno yang dituduhkan saat MOS kemarin" kata diah membuka pembicaraan mereka.
"Iya gue sudah tahu kok... kemarin saat ikut latihan di kantor polisi, gue mendengar cerita dari kakak iparnya yang bernama yuda" hera menceritakan pengalamannya selama ikut berduka di rumah, ia memutuskan setelah lulus SMA nanti, ia akan melanjutkan pendidikannya sebagai seorang polisi seperti kedua kakaknya. Oleh karena itu kakaknya mengajaknya untuk mulai latihan bela diri di kantor polisi.
"Gue tidak menyangka loh kalo elte akan menjadi pelatih bela diri di kantor kepolisian" kata hera mengagetkan teman dekatnya.
"Melatih bela diri.... elte melatih bela diri para polisi" kata diah dengan nada tidak percaya.
"Iya bener loh.... tuh anak bahkan mengajari kami cara menggunakan senjata lempar berupa paku... minggu nanti kami diajak latihan ke hutan" kata hera membuat teman sebangkunya terdiam dengan mata terbelalak, ia sangat kaget mendengar cerita temannya. Ia pun lalu menceritakan pengalaman traumatisnya saat hampir diperkosa dan ditolong oleh seorang pemuda misterius dengan kemampuan melempar senjata paku.
"Apakah lo curiga kalo elte yang nyelamatin lo dan keluarga lo" kata hera yang ikut kaget mendengar cerita traumatis teman sebangkunya.
"Iya.... bahkan ayah dan kakek gue mengadakan pesta ulang tahun gue minggu ini untuk mencari pemuda itu." Kata diah menjelaskan rencana keluarganya.
"Kakek gue sangat ingin menjadikan pemuda tersebut sebagai cucu menantu karena pemuda itu dicurigai memiliki kemampuan pengobatan tradisional dan diharapkan dapat melanjutkan warisan orang tuanya meneruskan bisnis pengobatan tradisional keluarga kami." Kata diah dengan wajah tertunduk malu.
"Wahh.... kalo tuh anak memang pemuda yang telah menolong lo, mungkin kakek lo tidak akan bisa menjadikannya cucu menantu, karena menurut cerita kak yuda, elte sejak kecil sudah ditunangkan dengan yuni teman sekelasnya" kata hera ke teman sebangkunya.
"Aahhh yang bener" kata diah kurang percaya
"Iya bener.... kakakku heri juga cerita kalo ia sudah kenal dengan elte sejak anak itu masih kecil. Kak heri bisa mengenal elte akibat kasus penculikan terhadap sepuluh anak kecil termasuk dengan tunangannya. Dan elte dicurigai sebagai penyelamat teman-temannya. Kakak gue juga cerita bahwa elte itu hanya anak angkat... sebelumnya ia itu anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan dan kerjanya hanya sebagai pemulung sampah." Kata hera menceritakan cerita yang diceritakan oleh kakaknya.
Diah hanya terdiam termenung dan merasa prihatin dengan pengalaman hidup elte, ia tiba-tiba bingung mengapa dadanya terasa sesak mendengar kabar jika anak itu sudah ditunangkan sejak kecil oleh orang yang mengangkatnya menjadi anak asuh.
Hera yang sepertinya dapat membaca pikiran teman dekatnya hanya dapat berkata : "walaupun tuh anak sudah tunangan.... tapi kan mereka belum menikah, masih ada kesempatan untuk menikung... gue aja mulai doyan sama tuh anak, bisa jadi nih nanti ke depannya kita akan jadi saingan memperebutkan anak itu"
"Aahhhh.... siapa juga yang mau merebut anak itu... kan belum tentu juga kalo tuh anak adalah pemuda misterius tersebut... bisa jadikan yang punya kemampuan melempar senjata paku tersebut bukan cuman satu orang saja." Kata diah dengan wajah merah karena sediki merasa malu mendengar kata-kata diah soal peluang menjadi Perebut Hati Orang (PHO).
"Wah asyik dong... berarti ke depannya gue kagak perlu saingan dengan sahabat gue sendiri" kata hera dengan menaik turunkan kedua alisnya menggoda sahabatnya.
Diah hanya tertunduk diam mendengar ocehan sahabatnya sendiri, wajahnya yang manis karena merupakan turunan campuran dari cina, arab dan india serta berbalut kulit yang putih bersih, terlihat memerah dan membuat hera menjadi gemes.
"Waduh... tuan putri gue makin cantik aja nih dengan wajah malunya..... andaikan gue itu cowok.... udah gue makan lo dari dulu" kata hera yang terus menggoda sahabat baiknya.
Mereka berdua terus mengobrol hingga masuk jam pelajaran berikutnya, setelah membayar makanan dan minumannya, hera dan diah kembali ke kelas mereka. Dalam perjalanan ke kelas, diah terus memikirkan kemungkinan kalau elte adalah penyelamatnya. ia juga mengingat pertemuan pertama mereka di toilet dan tindakan perpeloncoan yang mereka lakukan kepada sang prontagonis.
Diah hanya menghembuskan nafasnya dan berniat akan melaporkan kemungkinan tersebut ke keluarganya saat pulang nanti. apalagi dua hari kemudian adalah pesta ulang tahunnya. Ia menjadi grogi membayangkan kedatangan elte ke pesta ulang tahunnya nanti.