WUMMM

WUMMM
82. Kecurigaan yang mencurigakan



Elte menuju meja makan, saat ia membuka tudung saji, wajahnya terlihat sedikit kecewa karena tidak ada makanan tersaji di atas meja. Biasanya kalau ia datang terlambat, bu ani akan menyisihkan makan malam buatnya di atas meja. Namun sejak kakek tua berambut putih itu datang ke rumah, Beberapa kebiasaan lama ikut berubah.


Sebenarnya wijaya tidak pernah menegur anak cucunya untuk mengubah kebiasaannya karena ia tidak ingin terlalu mengekang anak cucunya. Namun pak jaya dan pak karya masih mengingat didikan masa kecil mereka. Salah satunya adalah agar makanan tidak boleh disisa saat makan malam. Elte yang belum sempat makan sejak siang lalu memutuskan untuk ke dapur mencari makanan di dalam lemari makan.


Hatinya sedikit lega saat melihat masih ada nasi di dalam rice cooker, ia lalu membuka kulkas dan mengeluarkan dua butir telur, sebuah wortel dan setangkai daun bawang.


Ia memutuskan untuk membuat nasi goreng sederhana yang pernah ia pelajari di restoran milik temannya bu yuyun yakni ibu saniah sri anjani dan ibu sherli silviana. Mereka juga adalah ibu dari kedua teman kelasnya saat SD yakni Lina serlina dan Lani sermani.


Sang pewaris inti phoenix itu lalu mengambil semangkuk nasi putih dari rice cooker, ia lalu memecahkan kedua telur ke atas nasi putih tersebut dan mengaduk nasi dan kedua butir telur itu hingga merata.


Setelah di rasa cukup, elte menuang sedikit minyak dan menyalakan kompor gas dengan api sedang. Sambil menunggu minyaknya panas, ia memotong wortel dan daun bawang hingga menjadi potongan kecil. Setelah minyak di atas wajan telah panas, ia lalu menuang nasi yang telah diaduk dengan kedua butir telur.  Sambil mengaduk nasi tersebut hingga mulai harum, ia lalu menuang potongan kecil wortel dan daun bawang. Ia juga memberikan saus tiram, lada bubuk, kecap asin, dan kecap manis secukupnya.


Aroma wangi nasi goreng buatan elte mulai tercium di seluruh dapur, tidak sampai lima menit, nasi goreng buatan elte kini telah terhidang di atas meja. Saat akan mulai menikmati santapannya, bu yeyen dan pak karya turun dari kamar mereka dan menghampiri elte.


“Wah... enak nih.... “ sapa pak karya kepada keponakan angkat andalannya.


“Eh, paman... tante.... ayo makan” kata elte berbasa basi.


“Emang bikinnya lebih dari satu ya ? masih ada yang bisa dibagi kah?” tanya pak karya bercanda.


“hehehe... cuman basa basi paman....bikinnya cuman satu porsi.... kalau mau, nanti aku bikinkan setelah makan” jawab elte sambil memperlihatkan senyumnya.


“Hahahaha.... kami semua sudah makan kok.... “ bu yeyen menjelaskan bahwa mereka semua sudah makan sambil mencubit perut suaminya.


“Eh iya tante... aku mendapatkan kabar dari petugas tentang dokter magang yang pernah menjebak tante yeyen dalam tuduhan malpraktek” kata elte sambil mulai mengambil sendok dan garpu kemudian mulai menikmati  santapan malamnya.


“Oh ya.... bisa kau ceritakan sambil menikmati makan malammu, mumpung kakek sedang asyik nonton drama laga kolosal di lantai dua” bu yeyen tidak bisa menahan rasa penasarannya dan meminta elte segera menyampaikan


informasi tersebut.


“Aku mendapatkan informasi jika ternyata dalang dibalik tuduhan itu adalah sugeng wiranto, anak mantan walikota tempat aku dibesarkan” elte mulai menceritakan informasi yang ia dapatkan.


“Aku dan teman-teman peneliti di lab memang sudah menduga hal tersebut, namun apa alasan dokter magang itu tega melakukan konspirasi dengan sugeng untuk menjebakku” tanya bu yeyen yang masih belum puas dengan


hasil informasi dari sang prontagonis.


“Yang aku dengar, sugeng diam-diam meracuni ibu dari dokter magang tersebut dengan racun yang dapat membuat korbannya mengalami koma kemudian menawari dokter magang itu untuk menjebak tante yeyen dengan imbalan biaya pengobatan bagi ibunya” elte menjelaskan alasan permadi menerima tawaran sugeng.


“Racun koma ? ... seperti yang menimpa pada ayah dari bapak walikota ya.... apakah kau memiliki sampelnya, aku ingin menelitinya dan segera membuatkannya obat penawar. Aku yakin sugeng itu pasti adalah saingan kak jaya di bisnis kesehatan” bu yeyen mengomentari hasil informasi dari elte.


“Seperti itulah kira-kira... sayangnya, aku tidak memiliki sampel racun tersebut, aku juga mendengar bahwa ibu dari dokter magang itu kini telah meninggal dan hal tersebut membuat dokter magang itu sangat terpukul... aku yakin dokter magang itu pasti akan memberikan kesaksian yang memberatkan sugeng dan dapat memulihkan nama baik tante yeyen” elte menyampaikan kabar kematian ibu dari pemuda yang telah menjebak yeyen tersebut.


“Baguslah kalau begitu, rabu nanti adalah sidang pertama untuk mengadili pemuda itu... aku harap ia dapat memberikan kesaksian sejujur-jujurnya.” Kata pak karya ikut mengomentari pembicaraan tersebut.


“Oh iya... ada satu info lagi yang belum aku klarifikasi kebenarannya..... sepertinya hari ini, sugeng sudah sembuh dari komanya.” Elte menyampaikan sebuah informasi yang tiba-tiba muncul di pikirannya tadi siang, Ia merasakan jika segel kegelapan yang ia tanam di tubuh sugeng telah dilepaskan. Namun ia juga belum yakin karena tidak sempat melakukan teleportasi ke lokasi sugeng di rawat. Walaupun ia tidak tahu dimana lokasi perawatan sugeng, namun ia yakin dapat menggunakan kemampuan persepsinya untuk menelusuri informasi keberadaannya di dunia maya.


“Eh benarkah.... semoga kita bisa segera mendapatkan video skandalnya bersama anggota tim di lab penelitianku. Baj*ngan itu sudah menhancurkan karir dan masa depan permadi, aku tidak ingin karir temanku juga rusak karena skandal itu.” Bu yeyen mengepalkan kedua tangannya sambil menyampaikan rasa kesalnya.


“Ehem...” saat elte, pak karya dan bu yeyen sedang asyik berdiskusi, yuda datang dan ikut bergabung ke meja makan.


“Eh kak yuda... bagaimana besok pagi kak, jadikan latihan di hutan ?... kita kumpul dulu ke kantor polisi atau kita barengan langsung ke hutan kak” tanya elte kepada yuda lalu memasukkan suapan terakhirnya ke mulutnya.


“Sepertinya besok dibatalkan dek... dan kemungkinan pelatihan rutin untuk ke depannya sudah diberhentikan oleh pusat” jawaban yuda mengejutkan sang prontagonis, ia lalu tersedak dan batuk sehingga elte refleks mengambil segelas air minum yang ia telah siapkan sebelumnya. Elte lalu meminum pelan-pelan air minum tersebut sambil memukul-mukul dadanya dengan pelan.


“Kok bisa kak... apakah pelatihan yang aku bawakan dinyatakan gagal atau kurang bisa mengembangkan potensi para polisi” tanya elte yang merasa kurang ikhlas kehilangan  salah satu pemasukannya.


“Aku tadi sempat mendengar pembicaraan kalian semua... aku ingin bertanya kepadamu .... tadi kau bilang telah mendapatkan informasi dari penjara... bagaimana bisa ? apakah kau mengenal  salah satu penjaga di penjara ?  dan bagaimana bisa kau mendapatkan detail informasi itu bahkan para petugas sampai saat ini tidak mendapatkan detail informasi tersebut setelah menginterogasi pemuda itu.


Elte terdiam sejenak tidak menyangka akan ditanya dengan pertanyaan seperti itu, dirinya mana bisa tahu kalau para petugas tidak berhasil mendapatkan informasi detail melalui interogasi. Dan kini yuda penasaran dengan sumber dan caranya mendapatkan informasi tersebut. Tidak mungkinkan kalau ia menceritakan kejadian sebenarnya jika ia mampu membaca pikiran pemuda itu saat sedang galau memikirkan kesalahan dan kematian ibunya.


Setelah berpikir sejenak ia lalu berkata, “Sebenarnya aku hanya melakukan interpolasi data yang sudah ada kak, aku menggunakan probabilitas dan statistika dalam menganalisid kejadian yang saling berhubungan, seperti kejadian skandal sugeng dengan anggota tim nya tante yeyen, kejadian skandal sugeng yang jatuh koma saat berada di atas pusar wanita penghibur, Ancaman-ancaman dari kelima orang tua murid yang ternyata mitra kerja sugeng, persaingan ketat sugeng dan ayah di bisnis kesehatan, dan yang terakhir kejadian wafatnya ibu dari dokter magang tersebut.”


Yuda terdiam sejenak mendengar jawaban dari calon suami dari adik dari istrinya tersebut, ia merasa ada yang janggal dengan penjelasannya, ia lalu mencoba bertanya, “terus tadi kau mengatakan bahwa informasi itu kau


dapat dari petugas, siapa nama petugas itu ? dan kenapa juga kau tidak menyampaikan hasil diskusimu dengan tante yeyen soal skandal sugeng bersama anggota timnya tante yeyen?”


“Glek...” elte tanpa sadar menelan ludahnya, keningnya mulai berkeringat karena mulai kehabisan alasan logis, ia tidak menduga jika yuda akan mendengar pembicaraan mereka.


“Loh...nak elte,... bukannya kau bilang jika kau akan melaporkan hasil survey dan wawancaramu saat di laboratorium ke kantor polisi khususnya ke yuda ?”  yeyen mulai bingung dengan sikap yuda yang memperlihatkan sikap bahwa informasi yang didapatkan elte tanpa sepengetahuannya. Selama ini yeyen dan anggota timnya berpikir jika elte akan dijadikan detektif cilik oleh para polisi.


“Glek...” elte lagi-lagi tanpa sadar menelan ludahnya, ia dapat mendengar suara detak jantungnya semakin cepat karena merasa bingung dengan alasan logis yang sampai saat ini belum terpikirkan. Ia tidak mungkin jika ia mengatakan kalau ia salah ngomong atau hanya berbohong, itu pasti akan menyinggung perasaan tante dan pamannya.


“Elte.... elte.... segera naik ke atas, kakek memanggil kamu ke kamarnya karena ada hal yang ia ingin bicarakan” terdengar suara yuni tiba-tiba dari belakang dan mengagetkan mereka semua. Yuni yang kebetulan keluar kamar ingin mengambil air minum di dapur, dimintai tolong oleh sang kakek.


Selama elte mengenal kakek wijaya, baru kali ini ia sangat bersyukur mendengar ada panggilan kakek berambut putih tersebut. Ia segera bangkit dari kursinya dan ijin pamit untuk ke dapur sebentar membawa piring, sendok, garpu dan gelas yang tadi ia gunakan saat makan malam. Ia dengan jelas dapat merasakan tatapan tajam dari kakak ipar dari tunangannya. Elte memilih untuk masa bodoh dan segera ke dapur mencuci semua peralatan makannya tadi. Setelah itu ia segera menuju ke kamar kakek tua berambut putih itu.


Yuda lalu bangkit dari duduknya dan ijin pamit naik ke kamarnya. Saat di depan kamarnya, yuda mengambil smartphone dari saku celananya dan menelpon Dian askar selaku pimpinannya saat ini. Setelah panggilannya tersambung, yuda lalu menceritakan kejadian tadi saat di meja makan. Ia menyampaikan bahwa elte telah mengetahui informasi dari seorang tahanan tanpa pernah mengunjunginya dimana informasi itu tidak pernah berhasil diungkap saat diinterogasi oleh para petugas profesional.


“Hmmmm.... apa mungkin dugaan Rian askar ada benarnya ya.... sampai saat ini aku juga tidak mengetahui motif dari pengirim unknown atau pengirim yang tidak dikenal itu untuk mengirimkan audio percakapan dalam bahasa


cina dimana hasil translatenya menyatakan bahwa ada kekuatan overpower yang sedang diselidiki oleh salah satu organisasi bawah tanah yang ternyata adalah dalang dari pertarungan ilegal” kata dian askar kepada yuda.


Tadi sore sebelum mereka pulang, para polisi tim khusus dipanggil mendadak untuk mengadakan rapat penting akibat masuknya sebuah email berisi audio percakapan dan video penyerangan organisasi SFO yang sempat viral


diinternet.


“Kenapa rian askar sangat mencurigai elte sebagai sosok pewaris yang dicari oleh orang-orang cina itu ?” tanya yuda yang belum paham cara berpikir kakak seniornya itu.


“Sebenarnya kecurigaannya sudah lama sejak Elte masih SMP... namun saat itu tidak ada bukti yang mendukung kecurigaannya. Kecurigaannya kembali muncul saat elte selaku pelatih kita memiliki bentuk fisik dan seni bela diri yang sama dengan ninja biru yang pernah menyelamatkan kita saat di kanada.” Jawab dian askar dengan suara pelan.


“kalau memang elte adalah orang yang menyelamatkan kita, bagaimana mungkin ia bisa bolak-balik ke indonesia dan kanada dengan cepat dan tanpa adanya catatan pernah terbang di semua maskapai penerbangan yang ada di indonesia ?... bukankah dari hasil penyelidikan rian askar setelah melakukan hacking ke database bandara dan semua maskapai, bahwa ternyata elte baru menaiki pesawat satu kali yakni dari bandara di makassar ke bandara di jakarta.” Yuda mencoba meyakinkan pimpinannya bahwa elte tidak mungkin sebagai ninja biru itu. Bentuk fisik dan seni bela dirinya mungkin saja ada yang kebetulan mirip.


“yah.. kau sangat benar, dan aku sepakat denganmu... tapi rian askar berkata jika kita kaitkan dengan hasil percakapan yang ada di audio yang tadi dikirimkan, maka bisa jadi elte adalah sang pewaris yang dimaksud".


"Sang pewaris yang katanya memiliki kemampuan sihir pengendali empat elemen dan kemampuan telekinesis, telapati dan teleportasi kemana saja.” Kata dian askar yang mulai kebingungan.


Para polisi sebenarnya menganggap bahwa email yang berisi audio itu mungkin saja hanyalah candaan atau guyonan semata. Bisa jadi email itu hanyalah prank dari pimpinan yang ingin mengerjai para bawahannya. Tapi sayangnya, email itu berasal langsung dari salah satu intel dari negara kanada yang saat ini sebagai mitra polisi indonesia. Intel tersebut berhasil menyusup dan mendapatkan informasi sebagai informasi valid.  Intel itu juga bahkan menceritakan tentang kejadian


penyerangan  seluruh organisasi bawah tanah dan organisasi PPB.


Intel tersebut menceritakan bahwa organisasi SFO dari cina memiliki sebuah racun yang dapat membuat manusia menjadi zombie.


Para polisi yang mendengar penjelasan pimpinannya saat membacakan email dari intel tersebut hanya dapat  menggelengkan kepalanya antara  ragu dan tidak percaya  dengan cerita tersebut.


“OK, baiklah... kita sudahi dulu pembicaraan kita, besok kita adakan rapat seluruh anggota tim khusus...” kata dian askar tanpa ada niat untuk melibatkan hera iskandar yang masih kelas dua SMA.


......... ......... .........


Sementara itu elte sedang duduk di kursi yang ada di dalam kamar wijaya, elte hanya terduduk diam dan merasa tegang mengingat kejadian saat di meja makan. Jantungnya makin berdetak cepat saat wijaya mengeluarkan sebuah


Badik atau senjata golok tradisional dari bugis makassar.


“kemana tadi gelang plastik yang aku berikan” kata wijaya sambil menengadahkan tangannya.


Elte lalu merogoh saku bajunya dan mengeluarkan gelang yang diminta, ia lalu meletakkan gelang tersebut ke atas tangan wijaya.


“oohhh.... maaf ... tadi aku keasyikan nonton dan salah memberikan barang... gelang ini adalah gelang buatan almarhum istriku, harusnya badik ini yang ingin aku berikan kepada halim drajat... sampaikan salamku... ia pasti paham maksud dari salam dan pemberianku ini” kata wijaya dengan entengnya tanpa melihat elte yang hanya terpelongok atas kekhilafan sang kakek.


“Baik kek....” kata elte lalu ijin pamit ke kamarnya.


......... ......... .........


Sementara itu di sebuah ruangan di kota texas.


Morgan duduk terdiam memikirkan ucapan paman dan adik sepupunya tentang asal-usul kekuatan para anggota SFO.... ia selama ini memang sering mendengar tentang kekuatan yang diluar logika tapi hanya sebagai konten dari film-film laga seperti kungfu shaolin dari cina, ninja shinobi dari jepang, penyihir jahat dari eropa, dan masih banyak lagi.


Morgan merasa sedikit ragu dengan penjelasan pamannya bahwa para organisasi SFO mendapatkan kemampuan tersebut karena melakukan yoga atau semedi yang dikenal dengan istilah kultivasi. Aneh tapi nyata... ia kembali mengingat tentang video penyerangan ke SFO dan serangan balik terhadap seluruh organisasi bawah tanah lainnya termasuk PPB.


“Bagaimana dengan instruksi yang telah aku sampaikan” tanya morgan kepada anggota kepercayaannya.


“Sudah dilaksanakan tuan... aku sudah memastikan kembali gerakan para organisasi bawah tanah lainnya. Organisasi LFO di afrika kini tidak memiliki pemimpin karena dibantai oleh organisasi SFO yang jengkel dengan


penyergapan anggota LFO karena ingin melakukan cuci otak kepada para kultivator.” Jawab sang pegawai dan dibalas dengan gelengan kepala dari ketua organisasi RFO.


“organisasi OFO di australia sedikit lebih beruntung karena banyak kultivator tidak tahan dengan godaan wanita muda dan tidak mempersulit organisasi OFO.


“Organisasi JFO di rusia lebih temperamental. Ia berencana mengirim seluruh tim khususnya asal indonesia setelah melakukan seleksi terakhir malam ini“


“Aku juga telah mengirim email notifikasi ke kantor kepolisian, menurut intel kita yang menyamar di indonesia, saat ini para polisi sedang melakukan rapat persiapan pengintaian dan bahkan menghapus kegiatan pelatihan rutin


mereka agar tidak ada yang cedera sebelum misi.


Morgan hanya dapat diam sambil menganggukkan kepalanya kepada anak buahnya, ia kemudian kembali merenung dan melihat anggotanya, “Baiklah mari kita laksanakan politik uang, politik adu domba, politik kompor, politik tarik ulur dan berbagai jenis politik lainnya. Dan ayo kita ambil segala keuntungan dari pertikaian mereka.”