
Pagi itu sang mentari di ufuk timur sedang malas menampakkan dirinya. Awan gelap menutupi langit dan menjadi tempat persembunyian sang mentari. Guyuran hujan pagi itu tidak membuat warga di ibu kota negara untuk bermalas-malasan. Mereka tetap menjalankan aktifitas paginya seperti biasa. Di beberapa ruas jalan, banjir setinggi mata kaki menghiasi kemacetan di jalan raya. Belum lagi para pengendara motor yang banyak singgah untuk berteduh di bawah fly over dan menambah antrian kemacetan.
Elte yang telah mendapatkan izin dari bu yeyen lewat telepon untuk keluar dari rumah sakit, kini duduk termenung di dalam taksi online sambil memandang rintik-rintik hujan yang mengguyur ibu kota negara. Kemacetan di jalan menimbulkan rasa bosan dan elte memutuskan untuk membuka social medianya dan melihat status keluarga dan teman-temannya yang kebanyakan dilanda galau dan melodrama.
"Yang.... hujan... turun lagi... di bawah payung hitam ku berlindung… basah tubuh ini... basah rambut ini... kau hapus dengan sapu tanganmu" seperti itulah status bu yuyun di media sosialnya. Beberapa detik kemudian pak jaya mengomentari status istrinya, "Hujan merupakan fenomena alam yang diberikan Tuhan sebagai karunia. Adanya hujan membuat setiap mahluk hidup tak kekurangan air. Karena itulah hujan merupakan salah satu sumber kehidupan yang patut disyukuri. Ketenangan bukanlah berdiri di bawah payung ketika hujan, tetapi ketika mampu menari dibawah hujan. Jika engkau menginginkan pelangi, engkau harus menerima hujan. Hujan punya alasan kenapa ia jatuh, tapi aku tidak punya alasan mengapa hatiku jatuh kepada kamu."
Setelah beberapa saat, bu yuyun membalas komentar suaminya, "Derasnya hujan yang setiap hari turun dari langit dengan memberikan sejuta manfaat bagi manusia, namun derasnya hujan sama halnya dengan cintamu kepadaku yang selalu memberikan berbagai macam cerita dalam hidupku. Hujan selalu kembali walau dia telah jatuh berkali-kali, seolah tidak peduli berapa banyak sakit yang dia rasakan. Kamu tahu hal yang paling romantis dari hujan? Dia selalu mau kembali meski tahu rasanya jatuh berkali-kali. Kedatangan hujan benar-benar menyejukkan hati, begitu juga padamu. Tapi ketika hujan pergi pamit, aku takut apakah kamu juga akan begitu?".
Tidak butuh waktu lama pak jaya mengomentari komentar istrinya yang sebelumnya mengomentari status istrinya, "Saat rintik hujan turun membasahi bumi jangan sampai tetesan air matamu juga membasahi pipi, kamu harus tahu, bahwa air matamu jauh lebih berharga. Sebab setelah hujan selalu ada aku yang akan datang sebagai pelangi, dan memelukmu. Aku ingin menjadi orang itu selamanya."
Elte hanya dapat tersenyum dan menggelengkan kepalanya membaca status dari orang tua angkatnya yang masih merasa bahwa dunia hanya milik mereka berdua. Ia lalu membaca status tantenya, bu yeyen.
"Hujan itu terdiri atas satu persen air dan sembilan puluh sembilan persen kenangan." Seperti itulah status bu yeyen. Setelah bu yeyen mempublish statusnya di media sosial, tidak lama kemudian pak karya mengomentari status istrinya, "Hujan sebenarnya bukanlah rindu yang menggebu di pagi hari. Hujan sebenarnya bukanlah nada rintik dawai sendu kehidupan. Hujan sebenarnya bukanlah penjaga rahasia dimana kita bisa menangis dibaliknya. Hujan sebenarnya bukanlah lukisan kenangan dari serpihan relung hati yang terluka. Hujan sebenarnya bukanlah rintik sedetik yang mengingatkan setumpuk kisah. Tapi sebenarnya ... Hujan adalah peristiwa turunnya butir-butir air dari langit ke permukaan bumi akibat terjadinya kondensasi di awan."
Elte kembali menggelengkan kepalanya membaca komentar pamannya yang kurang peka dengan status puitis dan romantis istrinya. Tidak lama kemudian bu yeyen membalas komentar suaminya, "Hujannya di beri formalin kali ya, awet banget seperti cinta aku ke kamu yang selalu awet tak pernah berhenti untuk mencintaimu."
Sang prontagonis hanya tersenyum karena ia yakin dipagi ini, paman dan tantenya pasti masih bersama di atas pembaringan di dalam kamar mereka sambil berbalas komentar dengan menggunakan kata-kata yang mereka searching di Doodle.
Elte kembali melihat taksi online yang ia tumpangi dan ia bisa melihat bahwa kendaraan-kendaraan itu telah PA MER PA HA atau PAdat MERayap tanPA HArapan. Elte menghembuskan nafas kesal kenapa tadi tidak menggunakan teleportasi. Ia kembali menyimak status teman-temannya di media sosial untuk menghabiskan waktu.
"Hujan turun pertanda bahwa ada yang diam-diam mengingatmu dan selalu merindukanmu. Aku berharap hujan ini segera reda, agar rindu ini tak terlalu dalam mengorek luka. Walaupun nanti hujan sudah berhenti, tapi tidak dengan rinduku." Seperti itulah status dari yuni sukma ayu. Elte tersenyum membaca status tunangannya.
"Biarkan derai hujan semakin deras, hingga ku dapat menitipkan rindu lewat air yang akan mengalir ke hatimu. Seharusnya, aku tak jatuh cinta saat hujan. Karena setiap hujan menyapa, sesak ku terulang bersama genangan yang bernama kenangan. Ketika hujan datang, ingin ku berjalan di antara tetesannya. Agar tak satu pun orang tahu, jika aku sedang menangis. Sungguh, hanya hujan yang kunanti. Sebab, hanya ia yang mampu untuk menyamarkan tetesan air mataku dari kesedihan ini. Hujan ialah tempat pelarian yang indah, tempat paling mudah untuk menyembunyikan perasaan yang membuncah ruah.” Seperti itulah status dari diah sinta risanti. Elte mengkerutkan keningnya, dan berpikir sejak kapan ia berteman dengan kakak seniornya itu. Ia lalu teringat saat MOS sebelumnya, seluruh kelas saat itu disuruh untuk memfollow para seniornya dan membuat status yel-yel kelompok.
"Hujan kembali turun, dengan kita yang tak lagi rukun. Dan rindu kembali singgah, dengan kita yang sudah berpisah. Siap-siap hujan akan turun dengan derasnya kenangan, dinginnya kerinduan, basahnya tangisan, dan butuh kehangatan dari seseorang." Seperti itulah status dari dudung raksadinata, sang murid mesum. Elte mendengus kesal membaca status dari orang yang pernah merusak citranya di sekolah.
"Masihkah kamu benci dengan hujan? Ketahuilah, bahwa pelangi datang setelah hujan. Hujan yang turun membasahi bumi, mampu memberikan faedah pada setiap makhluk-Nya. Masihkah kamu enggan untuk bersyukur ? Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja." Seperti itulah status dari ruri masruri sang ketua kelas. Elte membaca status dari teman dekat tunangannya. Ia lalu melanjutkan membaca status galau teman media sosialnya yang lain
"Janganlah selalu meminta redanya hujan, namun pakailah payung untuk menembus derasnya hujan hingga sampai kita pada tujuan. Hujan hari ini, masih menyirami bumi, semoga tersirami juga hati dan jiwa-jiwa yang tengah dirundung kegalauan. Bila diibaratkan, hujan bagaikan tirai yang memisahkan kamu dan rindu. Dan jika harus memilih, maka kupilih untuk membuka tirai, agar bertemu dengan dirimu. Aku ingin menjelma menjadi payung, Bukan berarti aku kuat menahan gigilnya hujan, aku hanya ingin kau selalu berteduh di dalam hatiku." Seperti itulah status dari Yuda prayudi nangkabrani. Elte kembali menggelengkan kepalanya setelah membaca status dari suami dari kakak dari tunangannya itu.
"Memilikimu itu ibarat mengharapkan tanah kering di musim hujan. Hujan, masih dengan air. Kamu, masih dengan dia. Mendung belum tentu hujan. Pdkt belum tentu jadian." Seperti itulah status dari hera iskandar. Elte tersenyum membaca status seniornya. "Wah sepertinya kak hera sedang pdkt atau pendekatan dengan orang lain."
“Ketika hujan turun, aku hanya ingat jemuran." Seperti itulah status dari bu ani mirani. Lagi-lagi elte tersenyum melihat status ibu pantinya yang kini ikut mengabdi di keluarganya pak jaya.
Setelah hampir dua jam terjebak dengan kemacetan, elte pun tiba di gedung pusat konvensi. Ia lalu segera ke parkiran untuk mengambil motor yang ia parkir saat mengikuti pertandingan kemarin. Ia cukup terkejut saat membayar biaya parkir sebesar tiga puluh ribu rupiah. Menurut penjelasan petugas yang berada di loket bahwa biaya itu sudah cukup murah karena motor elte sudah menginap lebih dua puluh empat jam.
"Hhhmmm..... pantas saja banyak masyarakat yang lebih memilih parkir di tempat parkir ilegal. Jika di tempat parkir legal, masyarakat dikenakan biaya parkir tiap jam. Tapi jika di tempat parkir ilegal, masyarakat hanya membayar parkir motor sebesar dua ribu rupiah tanpa melihat waktu parkir" Kata elte yang sebenarnya tidak ingin mempermasalahkan tentang besarnya biaya parkirnya, namun dengan adanya selisih harga parkir yang cukup jauh, menyebabkan masyarakat lebih senang parkir di tempat parkir ilegal.
Elte mengendarai motornya ke tempat sepi. Ia lalu mengaktifkan shield pelindungnya dan membuat dirinya dan motornya tidak kasat mata. Kemudian ia membuat portal dimensi ke lokasi yuda setelah memastikan keberadaan yuda sudah di kantor polisi. Ia takut jika ternyata yuda masih di rumah dan sedang wik wik kikuk kikuk dengan istrinya.
Setelah tiba di kantor polisi ia lalu menutup portalnya dan mencari tempat sepi. Karena tempat parkir sedang dijaga oleh petugas, elte memutuskan untuk menyimpan motornya di ruang dimensinya. Ia lalu ke toilet untuk menonaktifkan kemampuan tak kasat matanya.
Keluar dari toilet, elte menuju ke tempat latihan. Di dalam aula tempat latihan, ia melihat sembilan belas polisi sedang berlatih. Ada yang berlari mengeliling aula, ada yang berlatih melempar paku ke papan target dan ada juga yang berlatih memanjat dan berjalan di tali. Hera iskandar sebagai salah satu peserta pelatihan tidak dapat hadir pagi itu karena harus belajar di sekolah. Wanita manis itu akan bergabung ikut latihan setelah sepulang sekolah.
Elte lalu menghampiri yuda untuk menanyakan kondisi orang yang telah menciderai hidungnya. Dari penjelasan yuda, anak dan istri dari orang tersebut telah menunggu dari subuh di depan gerbang kantor polisi. Yuda prayudi menjelaskan bahwa orang itu sudah membuat surat pernyataan permohonan maaf dan berjanji tidak akan melakukan tindakan penganiayaan lagi. Dengan membawa anak dan istrinya, orang itu lalu keluar dari kantor polisi menuju rumah mereka menembus gerimis hujan yang masih setia menemani pagi di ibu kota negara.
......... ......... .........
Sementara itu di SMA Negeri 55555...
"Lho hera ? .... elo kok sudah masuk .... bukannya izin lo itu untuk dua hari menyaksikan pertandingan karate di gedung pusat konvensi" tanya diah kepada sahabat dekatnya.
"Iya nih... soalnya pelatih gue sedang cidera dan dianggap menggugurkan diri karena tidak bisa lagi mengikuti pertandingan." Jawab hera iskandar.
"Oh gitu ya... jadi lo tidak latihan dong selama dua bulan ke depan." Tanya diah yang mengingat hasil diagnosa kaleknya semalam saat menjenguk elte.
"Nggak kok... nanti siang masih lanjut" jawab hera sambil membuka tasnya dan mengambil buku dan alat tulis karena sebentar lagi guru pelajaran akan masuk.
"Emang pelatihnya diganti ya" tanya diah penasaran.
"Enggak kok... pagi ini elte sudah ada di kantor polisi untuk melanjutkan pelatihan. Nanti siang sepulang sekolah gue cabut ke sana" jawab hera.
"Lho bukannya hidung elte sedang cidera parah" kata diah terkejut mendengar penjelasan hera.
"Elte bilang kalau hidungnya tidak parah kok... katanya dokter yeyen sudah memeriksanya dan memperbolehkannya beraktifitas seperti biasa. Udah ah.... itu guru sudah masuk tuh" Jawab hera yang mulai bosan ditanya terus soal elte. Biasanya temannya itu selalu diam dan duduk tenang di sampingnya. Tapi akhir-akhir ini sahabat karibnya itu berubah cerewet dan banyak tanya soal pemuda yang kini menjadi pelatihnya itu.
Diah hanya bisa berwajah cemberut melihat kedatangan gurunya yang mengganggu dirinya yang sedang asyik berbicara dengan sahabat karibnya.... setidaknya itu yang ia yakini. Ia masih belum mau mengakui kalo dirinya sebenarnya khawatir dengan pemuda yang pernah melihat kem**luannya di toilet saat MOS.
......... ......... ........
Sementara itu di kota asal kelahiran elte, seorang wanita bertubuh bahenol sedang berjalan sambil membawa belanjaannya dari pasar. Hari ini adalah ulang tahun suaminya dan dia ingin membuatkan masakan kesukaan untuk pria yang sangat sabar dan mau memaafkan perselingkuhan yang pernah ia lakukan. Perselingkuhan itu pun terjadi bukan karena kemauannya tapi karena paksaan dan ancaman dari orang gila berkedok walikota. Setidaknya itulah yang ada di pikiran wanita itu. Ia tidak pernah menyangka saat itu akan menjadi budak s*ks dari pimpinannya saat kerja sebagai sekretaris walikota.
Setelah beberapa tahun ditemani suaminya konsultasi ke psikiater, ia akhirnya dapat kembali hidup tenang dan normal. Saat ini ia hanya fokus menjadi ibu rumah tangga. Dirinya kini tidak bisa memberikan anak buat suaminya karena sudah melakukan proses sterilisasi di bawah ancaman mantan walikota.
Hari ini ia ingin membuat Nasu Likku yakni masakan lauk dimana daging ayam kampung dibalut dengan rempah-rempah kuat berupa ketumbar, merica, dan lengkuas yang telah dirajang. Daging ayam kampung tersebut dicampur, lalu diaduk dimasak selama beberapa jam. Tujuannya agar kandungan air yang digunakan memasak tersebut mengering dan rempah yang digunakan melumuri ayam kampung tersebut telah meresap sempurna hingga ke lapisan terdalam dari daging ayam. Wanita itu sudah tidak sabar melayani suaminya yang sedang mengambil jatah cutinya di kantor.
"Ceklek" seperti itulah kira-kira suara pintu dibuka oleh wanita itu. Ia lalu menutup kembali dan mengunci pintu tersebut. Ia lalu berjalan ke dapur meletakkan belanjaannya. Saat sedang asyik memotong ayam kampung itu menjadi dua puluh empat bagian, ia penasaran dengan suasana yang begitu hening.
"Kok sepi banget ya.... biasanya suamiku asyik menonton TV di ruang tengah, apa mungkin ia sedang buang air di toilet ? Tapi suamiku biasanya kalo sedang buang air, ia akan membuka kran air agar suara air mengalir dapat meredam dan menyamarkan suara keras waktu buang air besar."
"Atau mungkin ia kembali tidur setelah kelelahan begadang membaca novel yang berjudul warisan untuk manusia masa depan yang lagi viral saat ini?"
Wanita berbadan semok atau s*ksi dan montok itu lalu melanjutkan aktivitasnya memasak nasu lilku kesukaan suaminya. Tanpa terasa waktu makan siang sebentar lagi akan tiba. Sambil bersenandung, ia lalu menata hasil masakannya di atas meja makan. Setelah semuanya dirasa telah selesai ia lalu menutupinya dengan tudung saji dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia ingin tampil cantik menawan untuk menyenangkan hati suaminya yang telah berbesar hati memaafkannya.
Sehabis mandi, dengan mengenakan handuk putih untuk menutupi tubuhnya dari paha ke atas buah dadanya serta sebuah handuk kecil yang menutupi rambutnya yang masih basah, ia lalu berjalan ke kamarnya untuk membangunkan suaminya dan berganti pakaian di depan suaminya.
Saat pintu kamar terbuka, matanya terbelalak kaget dan tangannya menutupi mulutnya yang terbuka lebar. Ia melihat suaminya sedang terikat di atas kursi dengan tubuh penuh luka dan darah, mulutnya tersumpal dengan kaus kaki yang belum sempat ia cuci. Saat ingin berteriak kaget, sebuah tangan kekar menutupi mulutnya dari belakang. Tubuhnya seketika bergetar hebat ketika mendengar suara yang sangat tidak ingin ia dengar lagi.
"Halo sayang.... sudah lama aku tidak mendapatkan pelayanan plus dari mulut atas dan mulut bawahmu" kata pria itu sambil tetap membekap mulut wanita semok itu yang hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meneteskan air mata.