
Langit malam ini nampak anggun bertabur jutaan bintang yang berdampingan dengan kilau keemasan dari sang rembulan.
Sebuah gedung aula mewah disamping rumah sakit tradisional nampak semakin mengagumkan dengan banyaknya lampu yang menyala di setiap penjuru bangunan.
Alunan musik ceria menambah kesan bahagia pada sebuah pesta ulang tahun dari seorang gadis manis turunan cina, arab dan india. Di sudut ruangan terdapat sebuah meja yang cukup panjang dan di atasnya beragam kue dan minuman telah tersaji. Disamping kue-kue tersebut, tidak lupa tersedia piring kecil dan sendok kecil sebagai wadah kue bagi tamu yang ingin mencicipi hidangan pembuka. Tersedia juga beberapa gelas kaca sebagai wadah dari minuman yang telah tersaji di atas meja tersebut.
Beberapa tamu undangan yang terdiri dari teman-teman SMP dan teman-teman SMA dari gadis yang sedang berulang tahun itu kini telah mulai berdatangan termasuk yuni dan ruri. Sedangkan para orang tua seperti sang kakek, sang ayah, sang ibu, sang paman dan sang bibi dari gadis yang sedang berulang tahun tersebut, lebih memilih menunggu acara inti dari ruangan kantor rumah sakit tradisional milik sang kakek, pak halim drajat.
Gadis manis yang sedang berulang tahun itu sesekali tersenyum memamerkan gigi putihnya kepada setiap tamu undangan yang telah datang ke acara pesta ulang tahunnya. Di sampingnya, kakak sepupunya terus setia menemani adik sepupunya menerima tamu. Saat yuni dan ruri datang menghampiri gadis manis itu untuk mengucapkan ucapan selamat ulang tahun, senyum manisnya sejenak menghilang dan berganti dengan wajah sedih melihat gadis yang dianggapnya beruntung karena telah bertunangan dengan pemuda yang kini membuatnya bermimpi indah. Senyum manisnya kembali terukir saat kedua tamunya itu memberikan dua buah kado ulang tahun dan disimpan pada tumpukan hadiah di samping mereka oleh kakak sepupu dari gadis manis yang sedang berulang tahun itu.
Ada sedikit sesak di dada gadis berturunan cina, arab dan india itu melihat wajah yuni yang memberikannya senyum manis yang tulus. Ia lalu memeluk tunangan dari sang prontagonis dan berharap kelak mendapatkan restu darinya menjadi istri kedua dari sang prontagonis.
Diah sinta risanti lalu memukul pelan keningnya ketika menyadari pikirannya sendiri. Yuni dan ruri terkejut melihat aksi kakak senior mereka dan berkata secara bersamaan, "ada apa kak, apakah kepala kakak pusing."
"Oh tidak apa-apa dek, kakak hanya lupa memberi kabar ke teman dekat kakak" kata diah beralasan.
"Maksud kak diah tentang kak hera ya?" Tanya ruri kepada kakak seniornya.
"Eh iya... iya...." kata diah menjawab pertanyaan adik juniornya. Yuni dan ruri lalu ijin untuk bergabung dengan teman-teman kelas yang sedang duduk santai menikmati hidangan pembuka sambil bergosip tentang gosip yang sedang mereka gosipkan.
Saat sedang asyik bercengkerama dengan teman sekelasnya, yuni, ruri, diah, ardha, dudung dan beberapa teman sekelas yuni, terkejut melihat kedatangan sepasang pemuda dan pemudi dengan tuxedo dan gaun hitam dan terlihat couple.
Mata yuni terbelalak dan kedua tangannya mengepal menahan amarah karena melihat belahan hatinya memasuki gedung aula tempat acara pesta ulang tahun tersebut bersama seorang wanita yang ia kenal sebagai seniornya di sekolah. Tanpa menghiraukan pandangan teman-temannya yang masih terkejut, ia bergegas mendatangi tunangannya yang masih memasang wajah polos tak berdosa. Terlihat wajah elte dengan perban putih yang masih menghiasi hidung mancungnya melirik ke kanan dan ke kiri mencari seseorang. Saat pandangannya bertemu dengan sosok yuni yang sedang bergegas ke arahnya, ia mengembangankan senyumnya dan berjalan menghampiri tunangannya.
"Halo sayang,.... kesini tadi dengan siapa" tanya elte ke tunangannya dengan mata berbinar cerah. "Yuk temani aku ke meja makan".
Yuni terdiam sejenak tidak mengerti. harusnya pemuda itu terlihat kaget atau panik karena kepergok datang bersama wanita lain. Ia lalu berkata "tadi aku datang sama ruri ke sini.... kau sendiri, kenapa kau bisa datang bersama kak hera".
"Ooo.... tahu nggak... kak hera itu ternyata adiknya kak heri yang rekan kerjanya kak yuda. Ia selama ini ikut pelatihan bersama kak yuda dan beberapa polisi lainnya." Kata elte memberi penjelasan ke tunangannya tanpa sadar bahwa wanita yang saat ini diajaknya berbicara sedang dalam mode terbakar oleh rasa cemburu.
"Oh ya....terus kenapa kau bisa datang kesini bersamanya dengan baju couple bukannya kau bilang ada urusan penting. Jadi ini yang kau maksud penting" kata yuni mengejar penjelasan dari tunangannya
"Kak hera tadi mau barengan pulang agar bisa hemat biaya taksi online, ternyata ia mengajakku ke rumahnya untuk bersiap-siap ke acara pesta ulang tahun kak diah. Tadinya aku sempat menolak karena hidungku masih cidera, tapi kak hera ternyata anak yatim piatu, sama sepertiku. Ia sangat ingin mengajakku ke pesta ulang tahun kak diah sesuai permintaan kak diah. Karena kak diah adalah sahabat terbaiknya" kata elte menjelaskan tanpa menutupi kebenarannya sedikit pun.
"Baju ini adalah bajunya almarhum kak heru yang dipinjamkan oleh kak heri karena aku tida ada persiapan" lanjut elte.
Yuni akhirnya menyadari bahwa tunangannya hanya ingin membantu hera iskandar. Sikap lugu tunangannya yang gampang dimanfaatkan wanita lain, membuat yuni menjadi was-was. Wanita yang menjadi pujaan hati sang prontagonis sejak kelas dua SD itu pun menghampiri hera sambil berkata, "wah... makasih banyak kak sudah mengantar tunanganku ke sini, jadi nanti pulang ada yang bisa mengantarku"
Hera hanya tersenyum melihat sikap posesif dari juniornya. Ia lalu mengajak yuni dan elte untuk menghampiri gadis yang sedang berulang tahun.
Melihat sikap posesif yang ditunjukkan oleh tunangan dari pemuda yang selalu merasuki pikirannya itu, diah merasa sedikit patah hati. Ia menjadi panik saat hera mengajak mereka untuk datang menghampirinya. Ia lalu menengok kesamping untuk meminta bantuan ke kakak sepupunya, namun ternyata ardha, sang kakak sepupu, sudah menghilang tanpa jejak karena bergegas ke rumah sakit tradisional di samping aula untuk memberitahu keluarganya jika pahlawan yang mereka cari sebelumnya sudah tiba.
"Diah..... nih gue udah nepatin janji gue membawa elte ke acara ultah lo...katanya kalo elo mau ngucapin terima kasih ke elte" tanya hera yang tak peka dengan perasaan panik dari diah dan perasaan curiga plus cemburu dari yuni.
"Eh...iya.....iya... iya.... makasih" kata diah sedikit tegang. Ia sendiri bingung kenapa dirinya bisa tegang menghadapi wanita yang menjadi tunangan dari pemuda yang selalu mengganggu pikirannya itu. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa tapi kenapa adrenalinnya memacu jantungnya berdetak kencang. Ia merasa seperti kepergok selingkuh padahal ia sendiri belum pernah mempunyai pacar apalagi tunangan.
"Kalau boleh tahu terima kasihnya karena apa kak" kata yuni penasaran.
Hera lalu mendekati yuni dan berbisik ke telinga gadis itu, "diah itu sama kakaknya pernah hampir diperk*sa sama penjahat di pinggir hutan saat cari bahan herbal, untung ada tunangan lo lewat situ dan nyelamatin mereka. "
Penjelasan diah membuat yuni terkejut, ia jadi merasa simpatik kepada seniornya karena dirinya juga dulu pernah hampir diperk*sa. Ia lalu mendekati diah dan memeluknya untuk memberi semangat agar tidak trauma dengan masa lalunya.
Diah dan hera tersenyum melihat sikap simpati yuni terhadap seniornya. Ternyata selain posesif dan cemburuan, yuni juga memiliki sifat lembut dan mudah terharu.
Tiba-tiba lampu di ruangan aula tersebut padam dan hanya menyisakan beberapa cahaya remang dari beberapa lampu kecil yang dilengkapi dimmer. Dimmer merupakan sebuah rangkaian elektronika yang berguna menurunkan daya (watt) yang mengakibatkan lampu bisa redup.
Tidak lama kemudian orang tua diah beserta kakeknya, pamannya, bibinya dan kakak sepupunya masuk ke dalam gedung dengan mendorong meja beroda yang di atasnya terdapat kue ulang tahun yang cukup besar dengan lilin kecil yang sedang menyala sebanyak tujuh belas buah sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan lagu panjang umurnya. Beberapa teman-teman SMP dan teman-teman SMA diah ikut bertepuk tangan dan bernyanyi. Sedangkan beberapa teman yang lain ikut bertepuk tangan sambil tetap mengunyah makanannya.
Orang tua diah, terus mendorong meja beroda tersebut hingga ke depan anak gadisnya. Setelah lagu selamat ulang tahun dan lagu panjang umurnya telah habis dinyanyikan, semua lampu di ruangan aula kembali menyala disertai tepukan tangan meriah oleh para kerabat dan sahabat. Ibunya diah lalu meminta anaknya untuk berdoa dan meniup ke tujuh belas lilin kecil yang masih menyala di atas kue ulang tahun tersebut.
Setelah berdoa dan meniup lilin tersebut, bibinya diah lalu memberikan sebilah pisau untuk memotong kue dan sebuah piring kecil. Setelah diah memotong kuenya dan meletakkannya di piring kecil. Ia lalu memberikan piring kecil beserta potongan kue tersebut ke sang prontagonis. Sang ibu yang biasanya mendapatkan potongan kue pertama hanya bisa menurunkan kembali tangannya karena mengira akan diberikan potongan kue pertama tersebut.
Yuni dan beberapa teman-teman SMP dan teman-teman SMA diah yang datang ke pesta ulang tahun itu sangat terkejut dengan pemberian potongan kue tersebut. Elte terkejut melihat ekspresi orang-orang sekitarnya yang terkejut melihat dirinya mendapatkan potongan pertama. Sang prontagonis tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya sehingga tidak paham bahwa dalam perayaan ulang tahun terdapat beberapa tradisi dan makna yang masih dipercaya sebagian orang, misalnya seperti orang yang mendapatkan potongan pertama kue ulang tahun itu berarti orang yang 'spesial' bagi orang yg berulang tahun.
Kebiasaan populer menyalakan lilin pada kue dikatakan berasal dari Yunani yang menggunakan lilin pada kue yang akan dipersembahkannya kepada Artemis agar membuatnya bersinar seperti bulan. Beberapa yang lainnya percaya secara turun-temurun, bahwa penyalaan lilin berasal dari keyakinan mereka bahwa para dewa yang tinggal di langit menyalakan lilin untuk membantu mengirim doa. Orang Jerman dipercaya telah menempatkan sebuah lilin besar di tengah kue untuk melambangkan 'terang hidup'.
Namun Sebagian masyarakat modern hingga sekarang lebih meyakini kalau tradisi meniup kue lilin saat perayaan ulang tahun sebenarnya adalah makna dimana asap lilin dapat membawa doa dan harapan mereka kepada Tuhan. Bahkan sekarang orang-orang melakukan ritual make a wish dan mengheningkan cipta saat akan meniup lilin. Meniup semua lilin dalam satu nafas juga dipercaya dapat membawa keberuntungan.
Diah sinta risanti yang baru menyadari perbuatannya yang tanpa sadar memberikan potongan kue pertamanya ke elte, kembali merasa panik, malu dan canggung kepada semua orang. Wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus, tangannya memainkan ujung bajunya lalu kepalanya tertunduk karena tidak tahu mau berbuat apa.
Hera yang merasa kasihan bercampur gemes karena melihat ekspresi dari sahabatnya, lalu berinisiatif menghampiri elte dan mengambil potongan kue tersebut kemudian memakannya dengan santai.
Semua orang kembali terkejut melihat aksi sahabat baik dari gadis yang sedang berulang tahun itu. Adik kandung dari heru iskandar dan heri iskandar itu kemudian meminta diah untuk kembali memotong kuenya.
Diah lalu kembali memotong kuenya sebanyak dua potong dengan pisau kecil dan menyimpannya di dua piring kemudian memberikan piring-piring berisi potongan kue tersebut kepada kedua orang tuanya. Ia lalu melakukan hal yang sama dengan kembali memotong kuenya sebanyak beberapa potong dengan pisau kecil dan menyimpannya di beberapa piring kemudian memberikan piring-piring berisi potongan kue tersebut ke kakeknya, pamannya, bibinya dan kakak sepupunya.
Hera lalu meminta panitia dari event organizer (EO) untuk melanjutkan pesta ulang tahun tersebut dengan acara hiburan. Ia lalu mengajak elte dan yuni untuk kembali bergabung dengan teman-teman sekelasnya.
Dudung yang menyaksikan kejadian tersebut mendengus kesal dan tidak suka dengan keberuntungan elte yang didekati oleh tiga gadis impiannya yakni yuni sukma ayu, diah sinta risanti dan hera iskandar. Selain ketiga gadis itu sebenarnya ia juga menjadikan seluruh gadis di sekolahnya sebagai gadis impian. Setidaknya beberapa foto dari gadis impiannya dapat menjadi bahan materi untuk melakukan olahraga lima jari.
Saat matanya melihat aksi penyanyi panggung yang ditemani suara piano. Tiba-tiba terlintas ide dalam pikirannya untuk mempermalukan tunangan dari salah satu gadis impiannya. Ia lalu menuju ke atas panggung dan hendak membisik ke telinga MC atau master of ceremony yang artinya pembawa acara atau pranatacara atau presenter atau host. Namun aksi dudung yang dianggap kurang sopan itu malah di dorong pelan oleh pembawa acara berjenis kelamin perempuan itu. Dudung lalu meminta maaf dan menyampaikam maksud hatinya. Setelah mendapatkan persetujuan dari sang MC, dudung lalu kembali ke bawah panggung dan bergabung dengan teman-temannya.
Setelah penyanyi panggung menuntaskan lagunya. Ia lalu ingin melanjutkan aksinya dengan lagu berikutnya, namun sebelum ia memulai aksinya, sang MC menghampiri penyanyi tersebut dan meminta agar penyanyi itu turun sebentar karena akan ada persembahan dari salah satu tamu.
Padangan mata semua peserta pesta beralih ke sang MC saat ia menyampaikan bahwa akan ada seorang tamu dan peserta pesta yang ingin mempersembahkan sebuah lagu. Sang MC lalu mengundang elte agar naik ke panggung memberikan persembahan lagunya.
Melihat ekspresi kaget elte, beberapa peserta pesta termasuk yuni, diah dan hera menyadari bahwa elte sedang dikerjai oleh dudung yang tadi terlihat naik ke atas panggung berbicara dengan sang MC. Apalagi dengan aksi dudung yang begitu bersemangat memprovokasi para tamu untuk bertepuk tangan dan menyoraki sang prontagonis agar naik ke panggung.
Atas desakan sang MC dan para tamu, elte akhir memberanikan dirinya untuk naik ke panggung. Dengan sebuah perban di hidung elte, pak halim, pak salim dan pak surya merasa prihatin dengan kondisi elte yang sangat jelas sedang dikerjain oleh temannya.
Elte merasa sedikit grogi karena tidak pernah memberikan persembahan sebuah lagu di atas panggung. Pengalamannya di atas panggung baru tiga kali yakni saat mengikuti pengajian bersama di episode tiga belas, saat mengikuti olimpiade fisika kimia di episode tiga puluh empat dan saat mengikuti pertandingan karate di episode enam puluh tiga dan episode enam puluh empat.
Diah merasa kasihan dengan sang prontagonis karena mengingat suara elte yang masih sengau saat berkunjung di rumah sakit. Ia menatap dudung dan berdengus kesal.
Elte lalu menerima mikrofon dari sang MC lalu menghampiri orang yang sedang mengoperasikan piano.
"Mau lagu apa bang" tanya sang pianis menanyakan judul lagu yang akan dinyanyikan oleh elte.
"Maaf pak, apa boleh aku meminjam piano bapak, sebenarnya aku belum pernah menyanyi di atas panggung dan khawatir jika aku tidak bisa menyamakan tempo lagu yang akan aku bawakan dengan kecepatan piano yang bapak bawakan." Kata elte dengan suara pelan
"Oh... tentu saja boleh bang.... silahkan bang" kata sang pianis sambil berdiri mempersilahkan elte untuk duduk di depan piano. Sang pianis lalu turun ke bawah untuk kembali menikmati hidangan kue dan minuman yang ia simpan sebelumya.
Elte lalu mengeluarkan smartphonenya dan mengaktifkan mode hotspot agar ia bisa berselancar di dunia maya melalui koneksi wifi internet dari smartphonenya. Ia belum menguasai cara menggunakan piano sehingga ia mencari cara cepat belajar piano. Dengan mengakses alamat website dari wetube, ia pun mencari contoh lagu yang cukup bagus beserta not pianonya.
Setelah mendapatkan beberapa lagu yang menurutnya cukup enak didengar, ia lalu mencoba melakukan kalibrasi nada piano. Elte lalu menekan tuts piano satu persatu dari nada do re mi fa sol la si do.
Dudung tidak dapat menahan ketawanya saat melihat aksi elte menperdengarkan tangga nada diatonik dasar yang merupakan komponen dasar teori musik dunia Barat.
Setelah mengetahui posisi tangga nada pada tiap tuts piano, elte lalu mengaktifkan persepsinya untuk menampilkan visualisasi tangga nada pada tiap tuts yang sesuai. Dengan bantuan not lagu yang sudah ia pilih sebelumnya, ia lalu membuat visualisai tutorial bermain piano dimana akan turun hologram not lagu sesuai tuts yang harus ditekan. Elte cukup mengikuti ketukan tuts dengan tempo dan ritme yang sesuai dengan hologram tersebut yang hanya dapat dilihat oleh dirinya.
Tidak lama kemudian terdengar sebuah musik klasik Canon in D Mayor karya Johann Pachelbel yang sudah begitu populer di seluruh dunia karena digunakan dalam upacara pernikahan dan iklan-iklan di TV.
Para tamu tertegun mendengar sebuah lagu klasik yang sangat menyentuh hati. Lagu itu terdengar sempurna layaknya sedang dimainkan oleh seorang pianis terkenal. Saat lagu tersebut selesai, belum sempat para tamu bertepuk tangan, elte berkata menggunakan mikrofon yang berada di atas piano dengan mengutip sebuah kalimat pada sebuah buku yang ia pernah baca sebelumnya, "Sebuah piano bukan benar-benar piano jika tidak pernah dimainkan dan didengarkan suaranya dalam melantunkan lagu-lagu yang merdu. Janganlah anda seperti botol madu, yang setiap waktu menyimpan madu, namun belum pernah merasakan betapa manis dan berkhasiatnya madu tersebut. Kebenaran merupakan tindakan yang bisa menular pada orang lain untuk melakukan hal yang sama."
Diah dan keluarganya sangat terkejut mendengat suara elte yang tidak sengau lagi. Mereka melihat elte menghembuskan nafasnya sesaat dan melanjutkan perkataannya, "Lagu ini aku persembahkan bagi siapa pun yang pernah mengalami kehilangan. Bagi orang-orang yang merasakan kerinduan pada sosok yang hilang di perjalanan karier mereka. Lagu ini aku persembahkan bagi kita semua. This song is for anyone who has ever experienced loss. In other words, this song is for all of us."
Dengan diiringi musik piano menggunakan bantuan hologram, elte lalu menyanyikan sebuah lagu berjudul memories.
Here's to the ones that we got
(Mari bersulang untuk orang-orang yang kita kasihi)
Cheers to the wish you were here, but you're not
(Bersulang untuk harapan berada di sini, tapi kau tak di sini)
'Cause the drinks bring back all the memories
(Karena minuman membawa kembali semua kenangan)
Of everything we've been through
(Tentang segala yang telah kita lewati)
Toast to the ones here today
(Bersulang untuk mereka yang hari ini ada di sini)
Toast to the ones that we lost on the way
(Bersulang untuk mereka yang tlah pergi mendahului)
'Cause the drinks bring back all the memories
(Karena minuman membawa kembali semua kenangan)
And the memories bring back, memories bring back you
(Dan kenangan membawa kembali dirimu)
There's a time that I remember, when I did not know no pain
(Ada saat yang kuingat, ketika aku tak kenal rasa sakit)
When I believed in forever, and everything would stay the same
(Saat aku percaya pada dongeng, dan segalanya akan tetap sama)
Now my heart feel like December when somebody say your name
'Cause I can't reach out to call you, but I know I will one day, yeah
(Karena aku tak bisa menghubungimu, tapi aku tahu suatu saat aku kan bisa)
Everybody hurts sometimes
Ada saatnya semua orang terluka
Everybody hurts someday, ayy-ayy
(Entah kapan waktunya semua orang 'kan terluka)
But everything gon' be alright
(Tapi segalanya akan baik-baik saja)
Go and raise a glass and say, ayy
(Bersulanglah dan katakan)
Here's to the ones that we got
(Mari bersulang untuk orang-orang yang kita kasihi)
Cheers to the wish you were here, but you're not
(Bersulang untuk harapan berada di sini, tapi kau tak di sini)
'Cause the drinks bring back all the memories
(Karena minuman membawa kembali semua kenangan)
Of everything we've been through
(Tentang segala yang telah kita lewati)
Toast to the ones here today
(Bersulang untuk mereka yang hari ini ada di sini)
Toast to the ones that we lost on the way
(Bersulang untuk mereka yang tlah pergi mendahului)
'Cause the drinks bring back all the memories
(Karena minuman membawa kembali semua kenangan)
And the memories bring back, memories bring back you
(Dan kenangan membawa kembali dirimu)
Doo-doo, doo-doo-doo-doo
Doo-doo-doo-doo, doo-doo-doo-doo
Doo-doo-doo-doo, doo-doo-doo
Memories bring back, memories bring back you
(Kenangan membawa kembali dirimu)
There's a time that I remember when I never felt so lost
(Ada saat aku ingat ketika aku tak pernah masa tersesat)
When I felt all of the hatred was too powerful to stop ooh, yeah
(Saat aku merasa semua kebencian terlalu kuat tuk dihentikan)
Now my heart feel like an ember and it's lighting up the dark
(Kini hatiku terasa bak bara dan bersinar dalam gelap)
I'll carry these torches for ya that you know I'll never drop, yeah
(Kan kubawa obor ini untukmu hingga kau tahu aku takkan pernah berhenti)
Everybody hurts sometimes
(Ada saatnya semua orang terluka)
Everybody hurts someday, ayy-ayy
(Entah kapan waktunya semua orang 'kan terluka)
But everything gon' be alright
(Tapi segalanya akan baik-baik saja)
Go and raise a glass and say, ayy
(Bersulanglah dan katakan)
Here's to the ones that we got
(Mari bersulang untuk orang-orang yang kita kasihi)
Cheers to the wish you were here, but you're not
(Bersulang untuk harapan berada di sini, tapi kau tak di sini)
'Cause the drinks bring back all the memories
(Karena minuman membawa kembali semua kenangan)
Of everything we've been through
(Tentang segala yang telah kita lewati)
Toast to the ones here today
(Bersulang untuk mereka yang hari ini ada di sini)
Toast to the ones that we lost on the way
(Bersulang untuk mereka yang tlah pergi mendahului)
'Cause the drinks bring back all the memories
(Karena minuman membawa kembali semua kenangan)
And the memories bring back, memories bring back you
(Dan kenangan membawa kembali dirimu)
Doo-doo, doo-doo-doo-doo
Doo-doo-doo-doo, doo-doo-doo-doo
Doo-doo-doo-doo, doo-doo-doo
Memories bring back, memories bring back you
(Kenangan membawa kembali dirimu)
Doo-doo, doo-doo-doo-doo
Doo-doo-doo-doo, doo-doo-doo-doo
Doo-doo-doo-doo, doo-doo-doo ooh, yeah
Memories bring back, memories bring back you
(Kenangan membawa kembali dirimu)
Yeah, yeah, yeah
Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah, no, no
Memories bring back, memories bring back you
(Kenangan membawa kembali dirimu)
Elte yang memiliki suara merdu sejak kecil menyanyikan lagu tersebut dengan menutup matanya. para tamu mengira elte sangat menghayati lagunya, padahal elte sedang berkonsentrasi menyimak lirik lagu memories di website wetube sambil memainkan tuts pianonya dengan bantuan hologram. ia juga mengaktifkan elemen angin dan memodifikasi sedikit suaranya agar sedikit lebih mirip dengan suara penyanyi aslinya.
Para tamu dan peserta pesta sangat menikmati pertunjukan tersebut. Beberapa diantarnya bahkan merekam aksi elte menggunakan smartphonenya dan menyiarkannya secara live di akun wetube dan festbook. Tidak butuh waktu lama, video itupun menjadi viral oleh komentar netizen.