WUMMM

WUMMM
23. Tekad Sang Pewaris



Sebulan telah berlalu dari kejadian penyerangan museum milik pak sermani. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Para tamu undangan dan polisi yang berjaga, hanya pingsan tanpa ada luka fisik sama sekali. Tapi justru para penjual dadakan dan masyarakat sekitar, banyak yang terluka parah, bahkan ada yang meninggal dunia akibat terlempar oleh gempa dan gerakan tanah yang sangat aneh.


Beberapa masyarakat kejauhan juga mengatakan bahwa ada sambaran petir dan suara ledakan terjadi berulang kali di museum itu.


Hal yang cukup aneh juga adalah pengakuan pihak museum bahwa muncul lubang besar di dinding museum dan hilangnya harddisc DVR sehingga pihak polisi tidak bisa melacak kejadian yang terjadi.


Sementara itu kelima anak yang telah berhasil dibawah ke cina daratan, di serahkan ke para penjahat sewaan berbahasa rusia.


Para anggota SFO telah berhasil melacak keberadaan delapan belas anak panti yang ternyata saat ini telah dilatih khusus ala militer oleh organisasi mafia terbesar di rusia.


Nama organisasi itu adalah organisasi bunga melati atau Jasmine Flower Organization atau disingkat JFO.


Organisasi JFO adalah organisasi yang pernah dihancurkan diam-diam oleh organisasi SFO, hal itu disebabkan karena JFO dianggap berbahaya karena memiliki senjata modern yakni beberapa senjata laser yang tidak membutuhkan peluru dan sebuah senjata pemusnah massal.


Utusan SFO ingin menanamkan kebencian kepada kelima anak itu terhadap JFO dengan cara menghasut secara tidak langsung melalui penjahat sewaan mereka.


Setelah disekap selama seminggu, para utusan SFO datang membunuh penjahat sewaan mereka sendiri dan pura-pura menyelamatkan kelima anak itu.


Setelah kelima anak itu dilepaskan, para utusan SFO membuat cerita palsu bahwa para penjahat dari rusia itu adalah anggota JFO yang sedang menculik anak-anak berbakat seperti kelima anak itu. 


"Kemungkinan besar orang tua kalian  telah dibunuh saat kalian diculik oleh anggota JFO dari rusia" salah satu anggota SFO mengakhiri ceritanya dengan kebohongan.


Sebelum berangkat ke cina, para utusan SFO memastikan Harddisc DVR telah mereka hancurkan dan mereka kubur dalam-dalam. Hal itu untuk menghilangkan bukti penyerangan mereka agar tidak ada yang tahu.


Tanpa mereka sadari bahwa elte yang tidak bisa kembali ke alam sadar saat itu, ternyata masih bisa menyaksikan kejadian yang terjadi di dalam radius 100 km dengan kemampuan persepsinya.


Elte menyaksikan pertempuran itu dengan ketakutan sambil mendengarkan penjelasan dari sang phoenix tentang tingkat kultivasi dan jenis elemen dari orang-orang yang sedang bertarung itu.


Setelah kelima anak itu tiba di markas SFO, mereka pun disuruh beristirahat. Para utusan tetap tinggal untuk melaporkan misi mereka.


Patriach dan kesembilan penatua yakin kesepuluh utusan itu tidak akan berkhianat membocorkan rahasia mereka karena kesepuluh utusan itu masing-masing adalah anak tunggal dari patriach dan kesembilan penatua.


Sementara itu, sebulan setelah penyerangan, seorang wartawan datang bertamu ke rumah pak jaya. Hari itu bertepatan dengan hari minggu, kebetulan elte istirahat di rumah dan memilih tidak ikut dengan pak jaya sekeluarga pergi berlibur.


Elte merasa penasaran dengan wartawan tersebut untuk ngotot menunggu pak jaya. Katanya sudah sebulan ia ketakutan dan ia memutuskan untuk berdiskusi dengan pimpinannya.


Karena dihantui oleh rasa penasaran, elte mengaktifkan kemampuan telepatinya dan membaca pikiran wartawan itu.


Setelah membaca pikiran wartawan itu, elte sangat terkejut. Ternyata selain dirinya, masih ada orang yang mengetahui kejadian penyerangan yang sebenarnya.


Saat itu, ia ditugaskan khusus untuk meliput suasana di acara pelelangan. Sehari sebelum acara, ia datang berkunjung ke museum untuk menganalisa spot-spot penempatan kamera.


Setelah melihat suasana di depan museum yang cukup ramai dengan penjual dadakan ia memutuskan untuk merekam kondisi di dalam acara pelelangan dan di luar pelelangan.


Wartawan itu meletakkan kedua kamera di sisi dalam dan luar ruangan. Dan dengan kendali bluetooth, ia bisa mengaktifkan daan mematikan kamera dengan jangkauan sepuluh meter.


Ia tidak menggunakan kendali kamera melalui internet dengan alasan hemat kuota data.


Esoknya saat acara pelelangan, ia lalu mengaktifkan kamera tersebut melalui bluetooth di hpnya. Kejadian penyerangan itu pun terekam tanpa ada orang lain yang sadari.


Setelah semua orang sadar dari pingsannya, wartawan itu mengamankan kameranya dan pulang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Saat menonton kejadian hari itu, sang wartawan sangat kaget dan ketakutan. Ia berusaha tidak percaya dengan apa yang ia tonton.


Ia menjadi paranoid dan yakin jika ia melaporkan kejadian ini maka ia akan menjadi sasaran penjahat itu, melawan mantan walikota saja membuat banyak temannya diculik, apalagi melihat kemampuan orang-orang super itu.


Butuh waktu sebulan lebih agar ia dapat menguatkan dirinya. Ia merasa punya kewajiban untuk menyebarkan kebenaran dari kejadian penyerangan di museum.


Selain terkejut, elte juga bingung harus berbuat apa. Ia lalu membaca kembali pikiran wartawan itu dan mencari lokasi file rekaman kejadian penyerangan.


Dari hasil telepati, ia mendapatkan informasi bahwa lokasi file rekaman itu masih ada di dua kamera yang ia gunakan saat merekam, di sebuah  harddisk laptop yang ia gunakan untuk memindahkan file rekaman dan di sebuah flashdisk yang saat ini ada dikantong bajunya.


Ia tidak bisa mengakses laptop wartawan itu karena selain ia tidak tau lokasi ip laptop tersebut, laptop itu juga kemungkinan tidak terhubung ke internet.


Elte kemudian memanipulasi shieldnya agar tak kasat mata dan tembus material padat, lalu ia keluar menghampiri wartawan tersebut.


Ia memanipulasi pikiran wartawan itu agar mau pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


Wartawan itupun lalu pamit pada pembantu yang ada dan menitipkan pesan kalo besok senin, ia akan melapor langsung ke kantor.


Elte mengikuti wartawan itu pulang ke rumah dengan menggunakan telekinesis untuk melayang di atas wartawan itu.


Setelah perjalanan menggunakan sepeda motor, wartawan itu lalu masuk ke kontrakannya dan tertidur pingsan akibat perbuatan elte.


Elte lalu memindai kondisi ruangan dengan persepsi untuk mencari laptop dan dua kameranya.


Setelah dapat, ia mengaktif kedua kamera itu dan menyentuhnya untuk di scanning atau dipindai menggunakan persepsi. Elte mencari semua file rekaman yang berhubungan dengan kejadian penyerangan museum dan menghapusnya.


Elte lalu mengambil flashdisc di saku baju sang wartawan dan menancapkannya ke dalam laptop. Ialu menyalakan laptop tersebut. Ia kemudian memindai kembali laptop  tersebut termasuk isi flashdisc.


Setelah terdiam sejenak berusaha menenangkan kepala atas dan kepala bawahnya, ia kembali berkonsentrasi untuk menghapus semua file rekaman kejadian penyerangan yang ada di laptop dan flashhdisc.


Tidak lupa elte juga menghapus seluruh video porno yang tanpa sengaja telah menodai pikiran suci elte. Ia jadi teringat dan paham tentang kejadian tikus berdecit di ruangan warnet yang pernah ia lihat dengan persepsi.


Setelah mematikan laptop dan kedua kamera serta mengembalikannya ke tempat semula. Elte menyimpan kembali flashdisc di saku baju sang wartawan.


Elte mencoba bereksperimen, untuk menggunakan telepati, menghapus ingatan sang wartawan, tentang kejadian penyerangan, dan membuat ingatan palsu, tentang alasan wartawan itu, yang akan bertemu pak jaya besok, dengan tujuan palsu berdiskusi tentang ijin cuti sebulan.


Setelah beberapa saat mencoba eksperimennya, elte gagal menghapus ingatan sang wartawan apalagi membuat ingatan palsu.


Khawatir wartawan itu akan melibatkan pak jaya dengan keluarga penjaga pusaka melalui cerita penyerangan. Ia pun memutuskan untuk duduk bersandar memasuki alam bawah sadarnya dan meminta saran dari sang phoenix.


Sang phoenix memberikan dua pilihan saran yakni membunuh wartawan itu dengan rapi, atau membiarkan sang phoenix mengambil alih kesadaran elte agar dapat meningkatkan kekuatan mental untuk menghapus ingatan dan membuat ingatan palsu ke wartawan tersebut.


Jika elte memilih pilihan kedua, maka akan berisiko menyebabkan sang phoenix akan tertidur di alam bawah sadar elte selama lima tahun penuh, sehingga elte tidak akan bisa menggunakan kekuatan telepati dan telekinesisnya selama waktu tersebut.


Elte merasa dilema karena elte tidak ingin kehilangan kekuatan supernya selama lima tahun, ia membayangkan akan kembali melakukan semuanya dengan manual dan tidak praktis.


Namun elte juga takut untuk membunuh orang untuk pertama kali. Apalagi wartawan itu bukanlah orang jahat.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya elte mengikhlaskan dirinya kembali menjadi orang biasa selama lima tahun. Ada kekhawatiran kalau phoenix akan mengambil alih pikirannya untuk selamanya.


Namun pikiran itu ditepisnya segera. Karena tanpa kehadiran pheonix di sisinya, elte pasti masih dalam keadaan koma bahkan mungkin sudah meninggal.


Elte kemudian terbangun dengan kesadaran phoenix. Ia segera menghapus ingatan wartawan itu tentang kejadian penyerangan dan membuat ingatan palsu sesuai dengan pesan elte yang asli.


Setelah itu elte dengan kesadaran phoenix lalu memanipulasi shield pelindungnya agar terlihat kasat mata dan dapat menebus material padat. Kemudian dengan telekinesisnya ia terbang melayang ke atas langit.


Sesaat elte dengan kesadaran phoenix, terdiam menggunakan persepsinya untuk mendeteksi lingkungan sekitarnya dengan radius satu juta kilometer. Setelah itu ia berteleportasi ke tempat tujuannya.


Tempat tujuan phoenix dengan tubuh milik elte adalah candi tempat ia menyembunyikan inti phoenix sebelumnya.


Lokasi goa tempat candi itu kini terlihat sepi karena kotak peti dan beberapa tugu pada candi tersebut telah di bawah tim arkeolog milik pak arya.


Phoenix dengan menggunakan tubuh elte lalu menggunakan telekinesis untuk mengangkat tanah-tanah bekas galian tempat kotak peti itu sebelumnya tersimpan.


Dari bawah tanah kemudian terangkat dua jenglot binatang, yakni jenglot menyerupai kadal dan kodok.


Kedua binatang itu adalah nenek moyang pertama kaum naga dan kaum alien yang telah mengkomsumsi tubuh abadi sang phoenix.


Kedua jenglot itu tidak ditemukan oleh tim arkeolog karena posisi kotak peti di atas altar yang posisinya lebih tinggi dari jasad kedua binatang itu.


Saat tim arkeolog menemukan kotak peti tersebut, mereka euforia dan tidak berpikir lagi untuk terus menggali.


Sang phoenix kemudian membuat sebuah portal dimensi khusus, tempat ia menyimpan barang-barang pribadinya. Kedua jenglot itu lalu ia masukkan ke ruang pribadinya dan menutup kembali portalnya


Sang phoenix lalu berteleportasi ke gedung milik tim arkeolog, untuk mengambil kembali semua tugu candi dan batu-batu mineral miliknya.


Ia bisa mengetahui posisi tugu karena milyaran tahun yang lalu, ia memberikan segel penanda pada semua barang pribadinya.


Setelah mengambil Tugu candi dan batu-batu mineral di gedung tersebut secara diam-diam, sang phoenix berteleportasi ke markas organisasi keluaraga penjaga pusaka atau organisasi SFO.


Sang phoenix lalu mengambil secara diam-diam, kotak peti berisi kalung mutiara, helm dengan batu teleportasi beserta seluruh batu pengukur yang ada di markas itu. Kemudian membunuh dan menculik beberapa penjaga di markas SFO.


Phoenix membawa mayat para penjaga ke negara lainnya, untuk dikubur agar tidak dapat dilacak oleh anggota SFO yang lain.


Hal ini ia lakukan, untuk menghasut para anggota SFO, agar mencurigai para penjaga itu, telah mengkhianati mereka, dengan mencuri pusaka keluarga dan kalung mutiara.


Dengan hilangnya batu pengukur, phoenix bisa lebih tenang meninggalkan elte untuk tertidur selama lima tahun.


Phoenix khawatir, selama lima tahun tertidur, kekuatan murni pengendali elemen milik elte dapat bangkit sendiri jika terpicu dengan emosi yang berlebihan.


Setelah yakin seluruh barang-barang yang telah ia beri segel penanda, milyaran tahun yang lalu, sudah ia dapatkan, ia kemudian kembali ke kamar elte di rumah pak jaya.


Phoenix kemudian membaringkan tubuh elte di atas ranjang dan kembali ke alam bawah sadar untuk bertemu kembali dengan elte.


"Kenapa guru phoenix tidak memutuskan mengambil alih tubuhku untuk selamanya" elte bertanya kepada phoenix dengan panggilan guru phoenix, sejak phoenix mengajarkan kemampuan telepati dan telekinesis waktu elte masih koma.


"Jika pun aku mau mengambil alih tubuhmu, aku hanyalah sebuah kesadaran dari inti phoenix, aku tidak akan bertahan selama dua puluh empat jam di tubuhmu."


"Aku pun hanya bisa merasukimu jika mendapatkan ijinmu, aku tidak punya kemampuan merebut tubuh orang tanpa seijin orang tersebut karena aku tidak bisa keluar dari alam bawah sadarmu."


"Jika saja kamu tidak memiliki inti kehidupanku di tubuhmu, mungkin aku akan tertidur lagi selama seribu tahun."


Phoenix menjelaskan alasan kenapa ia tidak berminat merebut tubuh elte.


"Waktuku tinggal lima jam lagi, sebelum aku tertidur panjang, aku akan menceritakan tentang rahasia dimana cuman aku dan manusia yang kuberi kan batu teleportasi itu, yang tahu kebenarannya."


"Rahasia itu tentang keberadaan sisa-sisa kaum naga dan alien yang telah kami buang ke dimensi alam semesta yang lain" kata phoenix mengejutkan elte.