WUMMM

WUMMM
31. Interogasi Para Polisi



Sekitar pukul 10:00 Wita, pak karya dan bu yeyen datang menjemput elte untuk pulang ke rumah, pak jaya tidak bisa datang karena harus ke kantor, sedangkan bu yuyun dan bu ani mempersiapkan makanan untuk acara syukuran kecil di rumah.


Yuna mengundang yuda untuk datang ke rumah karena kasihan melihat tunangannya merasa malu dan takut ke pak jaya. Sedangkan yuni mengundang lina dan lani beserta kedua orang tuanya.


Yuni sebenarnya tidak ingin mengundang lina dan lani, karena sejak peristiwa penculikan itu, lina dan lani sering menanyakan keadaan elte secara bergantian.


Insting wanita milik yuni mengatakan bahwa lina dan lani bisa menjadi saingan dan berpotensi menjadi Perebut Hati Orang atau PHO.


Namun lina dan lani menggunakan alasan bahwa orang tuanya lah yang khawatir karena elte sudah lama tidak datang membantu di restauran.


Pukul 13:00 wita, setelah beribadah, elte bergabung bersama keluarga pak jaya dan beberapa tamu di ruang makan. Suasana acara terasa hangat dan penuh suka cita.


Pak jaya menyampaikan rencananya bahwa bulan depan ia akan pindah membawa seluruh keluarganya ke ibu kota negara. Hal ini karena tiga alasan yakni, perusahaan cabang pak jaya di kota ini sudah bisa dilepas mandiri, yuni dan elte telah lulus SD dan bisa lanjut SMP di ibu kota negara, serta yuna, minggu depan akan di wisuda.


Ia menantang keberanian yuda agar segera melamar yuna, dan menakuti yuda, bahwa ia tidak akan bisa menjamin para pria di ibu kota negara, tidak akan merebut hati yuna.


Yuda yang merasa terancam segera memberikan keputusan pasti bahwa ia akan segera meminta orang tuanya agar datang melamar.


Lina dan lani segera membujuk orang tua mereka agar ikut pindah ke ibu kota negara tapi ditolak tegas oleh kedua orang tuannya karena usaha mereka hanya ada di kota itu.


"Yes.... akhirnya dua orang yang berpotensi menjadi PHO dapat dihilangkan..." senyum yuni dalam hati saat mendengar penolakan kedua orang tua lani dan lina.


Beberapa jam kemudian para tamu ijin pamit pulang ke rumah masing-masing. Elte kembali ke kamarnya kembali berlatih kultivasi nasi pepes.


Ia melatih kemampuan rotasi energi untuk menyuplai dirinya secara terus menerus saat berlatih mengendalikan elemen-elemen yang ia sudah pilih yakni elemen cahaya, elemen gravitasi, elemen kristal dan elemen ledakan.


"Sepertinya mulai besok pagi, saya harus rutin berolahraga, dan makan makanan yang mengandung banyak gizi seimbang." Kata elte dalam hati sambil mengusap keringat di keningnya.


"Di dalam tubuh fisik yang sehat dan kuat, akan tersimpan kemampuan menyerap energi yang lebih cepat dan lebih banyak." Tambah elte dalam hatinya.


Saat sore tiba kira-kira pukul 16:00 wita. Pak yusuf beserta kedua anggotanya, dian askar dan joy vijay, datang ke rumah pak jaya.


Ia dengan sopan meminta bertemu dengan elte membahas kasus penculikan dan ancaman balas dendam dari kawanan para penculik itu.


Melihat sikap sopan pak yusuf, dan kemungkinan adanya potensi balas dendam dari kawanan penjahat itu, pak jaya menyuruh bu ani untuk memanggil elte di kamar.


"Baiklah..... sebelumnya.... pak jaya.... nak elte..... saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas kesempatannya untuk menerima kami dan kami juga memohon maaf atas sikap buruk dari kawan kami kemarin di rumah sakit." Pak yusuf membuka pembicarannya dengan sangat sopan


"Saya tidak ingin berbasa-basi jadi saya langsung saja ke tujuan kami kesini. Kami sudah menemukan markas para penculik itu, dimana ada lima belas mayat yang diduga sebagai pelaku penculikan."


"Yang membuat kami terkejut adalah kelima belas mayat itu adalah buronan yang telah lama kami cari selama bertahun-tahun dan kami duga bahwa mereka masih mempunyai rekan kerja di luar sana yang akan menuntut balas."


"Hal yang mengejutkan lainnya adalah, beberapa senjata api di lokasi dekat mayat sudah kami periksa sidik jarinya dan ada kecocokan dengan sidik jari dari nak elte." Pak yusuf mengatakan hasil penyelidikannya sambil mempelajari reaksi muka dari elte.


Pak jaya yang mendengar cerita pak yusuf, sangat terkejut, bagaimana mungkin seorang anak kecil berumur sepuluh tahun diduga sebagai pembunuh dari lima belas penculik yang telah menjadi buronan selama bertahun-tahun. Dari kecil hingga sekarang, untuk menyembelih seekor ayam saja, ia tidak berani melakukannya.


"Kami juga sudah melihat adegan sebenarnya di rekaman CCTV yang ada di lokasi" kata pak yusuf yang sedikit berbohong setelah melihat wajah elte yang sedang berpikir.


Dalam melakukan interogasi, kadang pak yusuf dan tim melakukan tekanan berupa kebohongan atau ancaman, untuk menjebak saksi atau pelaku agar takut berbohong dan berkata jujur.


"Hhmmmmmhhh..... kalo memang pak polisi sudah melihat semua kejadian yang sebenarnya.... artinya sudah tidak ada lagi hal yang bisa saya ceritakan lagi, karena saat kejadian, saya hanya bergerak refleks mempertahankan diri akibat rasa takut dan marah yang berlebihan" elte yang sudah pernah membaca tentang trik polisi melakukan interogasi, menjawab pertanyaan pak yusuf dengan jawaban ambigu


Pak yusuf, dian dan joy sedikit kaget tidak menyangka dengan jawaban elte yang multitafsir.


"Bisakah kamu menceritakan apa yang terjadi saat itu sesuai ingatanmu,...... tentunya kamu tidak amnesia kan selama koma" sindir dian yang kurang suka dengan jawaban elte


"Sebenarnya saat kejadian saya merasa sangat tegang karena rasa takut dan amarah, saya hanya fokus bagaimana bersembunyi dan menghindari mereka hingga tanpa sengaja saya ketahuan" elte menjawab sindiran itu dengan sedikit berbohong juga, untuk membuktikan perkataan pak yusuf soal CCTV. Jika memang benar CCTV itu ada, mereka pasti akan melihat aksi elte saat masuk ventilator dan saat mengunci pintu para penjahat.


Selain itu, elte merasa cukup aneh kalo para penjahat itu memasang CCTV yang dapat merekam aksi mereka sedangkan handphone saja mereka hindari.


"Lalu apa yang terjadi saat mereka menemukanmu? .... apakah kamu menembak kepala mereka semuanya" tanya dian memancing elte


"Bagaimana mungkin bu polisi saya bisa menembak kepala mereka.... saya tidak bisa menggunakan senjata api yang saya temukan saat itu" jawab elte yang tidak terpancing dan mulai menyadari kebohongan pak yusuf.


"Oh yaa.... lalu mengapa kamu masih bisa selamat dan para penculik itu bisa mati tertembak" dian tidak percaya dengan jawaban elte


"Saya sendiri tidak mengerti kenapa senjata itu tidak bisa digunakan... para penjahat itu kemudian merampas senjata saya dan menertawakan kebodohan saya karena tidak melepaskan pengamannya terlebih dahulu.... saya yang hanya anak kecil dan belum pernah memegang senjata, mana mengerti soal adanya pengaman di senjata api" jawab elte sedikit menyindir dian askar.


"Kalian pastinya sudah melihat sendirikan kejadian sebenarnya di CCTV tersebut" elte kembali menyindir pak yusuf yang sempat berbohong tentang keberadaan CCTV.


Pak yusuf hanya bisa terdiam sejenak mendengar sindiran anak kecil yang berumur sepuluh tahun itu, ia sedikit menyesalkan sikap dian yang mudah terpancing untuk ikut campur, padahal anggota yang paling ia akui dalam menginterogasi korbannya itu, sebelumnya tidak mudah terpancing.


Pak yusuf sedikit kagum dengan jawaban cerdas dan sikap tenang yang elte tunjukkan. Ia yakin bahwa anak itu pasti sudah menebak kebohongannya soal CCTV.


"Oke baiklah....apakah nak elte memiliki informasi tentang para penculik itu" pak yusuf mengalihkan sindiran elte dan memilih untuk tidak menanyakan penyebab terbunuhnya para penculik itu.


"Saya mendengar dua informasi yang sangat mengejutkan dan membuatku akhirnya ketahuan karena emosi" elte menjawap pertanyaan pak yusuf setelah sejenak terdiam berpikir.


"Yang pertama, para penculik itu berniat meminta tebusan sepuluh milyar kepada orang tua tiap murid, namun, walaupun nantinya anak-anak itu sudah ditebus oleh orang tuanya, para penculik itu tidak berencana mengembalikan mereka bahkan berniat menjual anak-anak itu ke sindikat prostitusi. Salah satu penculik yang memiliki penyakit pedofil malah berniat ingin bersenang-senang terlebih dahulu."


"Yang kedua, para penculik itu ternyata pelaku penganiayaan ibu panti dan penculikan kedelapan belas saudara angkat saya di panti asuhan. Salah satu anggota penculik itu memiliki penyakit oedipus complex dan menceritakan kejadian itu kepada temannya, ia juga mengatakan bahwa kedelapan belas saudara angkat saya, telah ia jual ke kelompok mafia rusia bernama JFO." Jawab elte yang mengejutkan pak yusuf, dian dan joy.


Pak yusuf dapat melihat muka dian dan joy cemberut marah menahan dendam masa kecil mereka. Keenam anggota unit khusus yang dipimpin oleh pak yusuf adalah anak angkatnya yang ia selamatkan dari serangan kelompok mafia rusia bernama JFO.


Dian askar sang negosiator ulung, Rian askar sang hacker handal, Arif bijaksana sang sniper jarak jauh, Heru Iskandar dan heri iskandar sikembar ahli peledak serta Joy vijay sang pembalap liar, kini mereka semua sudah beranjak dewasa dan memilih menjadi seorang polisi dan tim khusus, seperti orang tua mereka yang juga dulunya rekan kerja dari pak yusuf, orang tua angkat mereka.


"Apakah adik kecil mengetahui alasan anggota JFO itu membeli anak-anak." Dian askar bertanya dengan sedikit memperbaiki nada bahasanya. Walaupun pertanyaannya keluar dari topik pembicaraan, tapi dian penasaran tujuan JFO menculik anak-anak, yang ia tahu bahwa sindikat mafia itu memiliki bisnis narkoba dan prostitusi.


"Saya mendengar bahwa saat ini pimpinan JFO berniat membuat pasukan khusus dari anak kecil dan akan diberikan pelatihan khusus." Jawab elte.


"Oh iya ... terus bagaimana para penculik itu bisa mati tertembak, apakah kamu memang yang membunuh mereka." Pak jaya tiba-tiba bertanya karena masih penasaran dengan apa yang terjadi. Ia kurang tertarik tentang JFO dari rusia, ia hanya kesal dengan niat para penculik itu yang ingin menjual anak bungsunya ke sindikat prostitusi.


Pak yusuf, dian dan joy juga ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan pak jaya, mereka tidak tahu kejadian sebenarnya karena tidak ada rekaman CCTV yang bisa ia lihat.


Elte sedikit kebingungan tentang alasan yang akan ia ceritakan. Ia segera berusaha mengingat semua cerita film sinetron dan anime yang pernah ia tonton, mungkin saja ada adegan dalam film-film itu yang bisa menjadi inspirasi kebohongannya.


"Hhmmmmmhhh..... sejujurnya saya juga tidak tahu apa yang terjadi.... saya pingsan ketakutan setelah lengan saya tertembak."


"Saya hanya sempat melihat sekilas seorang pria tua cebol bertopeng datang menghampiri." Jawab elte


"Aahhhh....sial..... alasan macam apa ini.... mereka pasti tidak akan percaya." Elte berkata dalam pikirannya, menyesali alasan yang keluar dari mulutnya.


"Akhir-akhir ini memang banyak kejadian aneh di kota ini, fenomena sembuhnya semua pasien dan penyerangan museum yang terjadi empat tahun lalu." Kata pak jaya yang terlihat menerima jawaban elte.


"Mungkin kalian tidak bisa lagi melanjutkan  interogasi ini untuk mencari informasi lebih banyak lagi.... tidak mungkin kan kalian menuduh anak kecil ini yang membunuh para penculik itu hanya dengan alasan sidik jari elte ada di gagang senjata itu."


"Apa lagi kalian sudah tahu sendiri kejadian sebenarnya dari rekaman CCTV"


Pak jaya mencoba mengikuti alur jawaban elte, ia yakin bahwa dengan kemampuan elte menyembuhkan luka, ada kemungkinan besar bahwa dialah pahlawan yang telah menyelamatkan anak bungsunya.


Mendengar sindiran pak jaya, pimpinan unit khusus kepolisian itu hanya bisa menghembuskan napasnya. Ia tak menyangka bahwa kebohongannya tentang CCTV bisa menjadi boomerang bagi kelompoknya.


Tidak mungkin juga ia mengakui kebohongannya karena pak jaya adalah orang besar di kota ini yang memiliki media tv dan surat kabar serta calon besan dari walikota yang pernah jadi pimpinannya.


"Baiklah.... setidaknya kami mendapatkan informasi baru tentang keberadaan JFO dan tujuannya membentuk unit khusus dari anak-anak." Pak yusuf berkata dengan harapan bisa menenangkan anggotanya yang masih ingin mengorek lebih banyak informasi tentang JFO.


"Atas informasinya... kami ucapkan banyak terima kasih nak elte.... kami mohon pamit undur diri..." pak yusuf memutuskan untuk balik ke markas untuk mengevaluasi hasil interogasinya bersama timnya.


Sepulang dari rumah pak jaya, unit khusus kepolisian itu kemudian berkumpul bersama untuk mengevaluasi hasil interogasi mereka.


Dian askar menceritakan proses interogasi itu beserta informasi tentang kelompok mafia yang telah membunuh orang tua mereka.


"Rian askar.... apakah kamu sudah berhasil menjebol komputer yang ada di markas JFO" pak yusuf sebelumnya saat diperjalanan pulang telah memberikan tugas untuk menjebol komputer JFO.


"Cukup sulit pak untuk masuk ke komputer mereka.... firewall mereka cukup sulit ditembus. Namun baru-baru ini aku berhasil melakukan Sniffing ke salah satu anggota mereka dan berhasil masuk ke media sosialnya."


"Aku menemukan sebuah chat di media sosial itu, tentang rencana instruksi  penyerangan ke organisasi bawah tanah bernama SFO yang ada di cina daratan" jawab rian askar menyampaikan hasil pekerjaannya


"SFO ? ...... setahuku organisasi bawah tanah dunia cuman ada dua yakni JFO dari rusia dan RFO dari texas, apakah mungkin itu cuman jebakan" dian askar menyampaikan rasa ragunya atas informasi itu.


"Bukan cuman SFO.... dari hasil chat mereka, masih ada juga organisasi bawah tanah lainnya seperti LFO dari negara kongo afrika dan OFO dari negara tasmania australia." Rian askar memperbaiki ucapan kakak kandungnya


"Terlalu berisiko saat ini untuk ikut campur dengan urusan dari organisasi bawah tanah dunia, ...... rian, tolong kamu terus memantau pergerakan JFO dan juga organisasi bawah tanah lainnya."


"Kita perlu banyak bukti untuk dapat meminta bantuan polisi khusus di negara-negara tersebut"


"Untuk dian dan joy, aku minta kalian mengawasi elte, aku yakin masih ada hal yang ia sembunyikan"


"Arif, heru dan heri... kalian berkoordinasi ke kantor pusat tentang kabar organisasi bawah tanah."


Pak yusuf menutup rapat evaluasi dan membubarkan rapat agar mereka dapat kembali beristirahat ke kamarnya masing-masing.


Sementara itu, elte di dalam kamarnya mencoba mengevaluasi hasil interogasi para polisi tadi sore. Ia menyayangkan kemampuan telepatinya untuk membaca pikiran belum bisa ia gunakan


"Hhmmmmhhhhh..... dari hasil interogasi tadi, ada dua kesalahan fatal yang terjadi akibat keteledoranku." Kata elte dalam hati.


"Yang pertama adalah tentang sidik jari di genggaman senjata api itu dan yang kedua adalah rekaman CCTV yang untungnya hanya kebohongan polisi itu."


"Seandainya rotasi energi saat melakukan kultivasi nasi pepes cukup besar, mungkin saya bisa mencoba membuat bom Gelombang Elektro Magnet dari modifikasi elemen petir dan elemen gravitasi."


"Bom Gelombang ini bisa saya gunakan untuk menyerang CCTV dan perangkat elektronik lainnya seperti Handphone atau komputer."


Elte hanya bisa menggelengkan kepalanya menyadari dirinya yang masih sangat lemah jika dibandingkan dengan para kultivator yang menyerang di museum.


"Yaaahh.... setidaknya, saat ini saya lebih percaya diri jika harus kembali melawan para penculik walau dengan tangan kosong" senyum elte menghibur dirinya.