WUMMM

WUMMM
81. Kemampuan Pengendali Bayangan



“Lingkaran kecil lingkaran kecil lingkaran besar... Diberi pisang diberi pisang tak mau makan... Enam enam berliku berliku... Enam enam diberi sudut...” Seperti itulah kira-kira bunyi suara ringtone smartphone milik elte yang menandakan adanya panggilan masuk khusus dari tunangannya.


“Iya halo sayang...?” Kata elte setelah menepikan motornya ke pinggir jalan.


“Sayang...sayang... Ini aku wijaya sriwijaya, kakeknya yuni, dimana sekarang, ini sudah mau masuk maghrib, kenapa belum pulang ke rumah ?” Terdengar suara pria tua dari ujung telepon sedang marah-marah.


“Eh iya... Iya... Kek... Ini lagi di jalan menuju rumah...” Elte terkejut dan secara refleks menjawab pertanyaan dari pria tua itu. Ia tidak menyangka jika smartphone tunangannya digunakan oleh kakeknya untuk meneleponnya.


“Kakek ?.... Sejak kapan aku nikah sama nenekmu.... Segera pulang sekarang... Aku ingin menanyakan sesuatu hal secepatnya” pria tua yang juga kakek dari tunangan sang prontagonis lalu memutuskan panggilannya secara sepihak, elte yang masih terkejut mulai merasa panik.


“Wah... Gawat nih... Mudah-mudah kakek wijaya tidak meminta kepada pak jaya untuk memutuskan pertunanganku.... Jangan sampai kakek tidak setuju dengan ikatan pertunangan ini” elte merasa khawatir dengan statusnya dan segera melajukan motornya menuju rumah. Seorang warga di pinggir jalan sempat terkejut saat motor elte melaju sangat kencang di depannya, “wah... Ada pembalap” kata warga tersebut. Pembalap yang  dimaksud bukanlah ‘Pemuda Berbadan Gelap’ tetapi pengendara yang mengendarai motornya dengan membalap.


Karena kondisi jalan sedan macet maka dua jam lebih kemudian, elte baru tiba di depan sebuah gedung apartemen kecil yang diubah menjadi rumah kediaman milik pak jaya wijaya.


Motornya ia masukkan ke bagasi di lantai satu di samping mobil pak jaya yang telah terparkir rapi. Ia lalu menutup pagar rumah dan bagasi, kemudian segera beranjak menuju ruang tengah


yang ada dilantai dua.


Seorang pria tua dengan rambut putih sedang duduk santai di sofa panjang sambil menonton tayangan drama


laga kolosa nusantara dengan banyak adegan CGI.


Computer Graphic Images atau CGI adalah teknologi grafis komputer yang digunakan untuk membuat efek visual pada video, baik untuk film, siaran televisi, video games, iklan, media cetak, hingga perangkat simulator. CGI adalah salah satu jenis special effect (SFX) yang banyak dijumpai di industri perfilman. Efek yang diciptakan dari pengaplikasian CGI dapat berupa gambar dinamis atau statis, hingga ke bentuk dua dimensi (2D). Tapi efek CGI yang sekarang banyak dikenal adalah grafis komputer yang digunakan untuk membuat suatu adegan atau menambahkan special effect pada film dan televisi.


Teknologi CGI sekarang banyak dipakai di industri film untuk membuat berbagai karya blockbuster dengan efek visual yang bisa membuat para penonton terpanah dengan adegan yang menyajikan visual fantastis bak dari fantasi. Misalnya adegan di mana ada hewan yang bisa bergerak dan berbicara layaknya manusia, munculnya monster-monster dengan tampilan super nyata. Seperti halnya saat ini, sang kakek berambut putih itu sedang asyik menonton seorang pemuda naik motor sport dan dibelakangnya ia sedang dikejar oleh seekor ular besar dan di atas kepala sedang duduk bersila seorang wanita muda yang sedang memegang keris dengan sinar putih sambil tertawa terbahak-bahak.


Elte menatap bingung sang kakek berambut putih itu yang masih asyik menonton drama laga kolosal nusantara. Karena tidak ingin mengganggu sang kakek, ia pun memutuskan untuk kekamarnya terlebih dahulu. Saat akan menaiki tangga menuju ke kamarnya, terdengar suara sang kakek, “ehem... Seperti inikah etika dan tata krama anak muda sekarang ?... Masuk tanpa mengucapkan salam ?... Nyelonong ke kamar kayak kucing rumah ?... Kucing di rumah saja, masih punya etika mengeong saat masuk ke dalam rumah !!!”.


Sang prontagonis meneguk air ludahnya sendiri, keningnya sedikit mengkerut dan mengeluarkan keringat dingin. Bibirnya kelu tak bisa ngomong, kakinya sedikit bergetar menerima aura sang kakek.


“Sudah, sudah ... Masuk ke kamar sekarang... Ganti bajumu... Dan setelah itu, kembali kemari dan duduk di sini untuk membicarakan sesuatu hal.” Sang kakek kembali bersuara tanpa mengalihkan pandangannya dari tayangan drama kolosal yang kini memperlihatkan adegan dimana pemuda yang mengendarai motor tadi lalu melompat tinggi ke angkasa dan menendang kepala ular raksasa yang sedang mengejarnya.


Elte memutuskan segera berlari menuju ke kamarnya tanpa sempat mengucapkan salam. Ia sendiri heran kenapa saat itu ia terkesan tidak seperti biasanya. Ia merasa sang kakek memiliki aura khusus yang membuatnya sedikit tertekan.


Setelah berganti pakaian, ia segera kembali turun menuju ruang tengah dimana sang kakek masih asyik menatap drama laga kolosal yang kini memperlihatkan adegan dimana sang ular raksasa sudah terbaring tanpa nyawa dan sang pemuda tadi sedang memeluk dan mencium wanita muda yang tadinya tertawa di atas kepala ular.


Setelah beberapa saat, adegan drama laga kolosal tersebut dijeda oleh iklan, sang kakek lalu menolehkan kepalanya menatap elte yang masih berdiri menunggu sang kakek memulai pembicaraannya.


“Ehem... Aku dengar dari menantuku yeyen sukma ayu bahwa kamu akan belajar pengobatan tradisional kepada


halim drajat ?” Tanya sang kakek langsung ke poin pertanyaannya tanpa melakukan basa basi.


“Eh iya.. Kek... Eh... Pak... Eh om... Eh..eh...” Elte bingung menyebut sang kakek dengan panggilan yang


sesuai. Sang kakek kemudian tersenyum manis memperlihatkan sebuah gigi emas di bagian kanan atas. Pria tua itu lalu berkata, “kau boleh memanggilku kakek.... Bagaimana pun, kau adalah anak angkat anakku jaya wijaya, dan juga calon suami cucuku yuni sukma wijaya”


“Eh baik kek.... Apa yang dikatakan tante yeyen memang benar kek, beberapa hari yang lalu, pak halim drajat datang ke rumah sakit datang berkunjung bersama keluarganya. Ia menawarkan untuk mengajariku pengobatan tradisional, aku juga sudah melaporkan hal itu kepada bapaknya yuni dan beliau menyetujuinya selama tidak mengganggu waktu sekolah dan waktu belajar di perusahaan” elte menjelaskan secara singkat tawaran halim drajat serta persetujuan calon mertuanya yang ia panggil sebagai bapaknya yuni di depan sang kakek sebagai bentuk penghormatan.


Sang kakek lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, saat ia akan mulai ngomong ternyata iklan yang menjeda tayangan drama laga kolosal sudah selesai dan kembali melanjutkan adegan drama kolosal tersebut. Sang kakek lalu segera mengeluarkan sebuah gelang plastik kecil yang terbuat dari selang bekas dan di dalam terdapat beberapa akar rempah. Gelang tersebut juga dikenal dengan sebutan Gelang sambetan atau gelang rempah kekinian atau gelang sawan atau gelang bangle. Ia lalu berkata kepada elte tanpa mengalihkan tatapannya dari tayangan drama laga kolosal, “Ambil gelang ini dan berikan kepada Halim drajat lalu sampaikan salamku dan katakan kepadanya bahwa Rivalnya saat kecil, wijaya sriwajaya, kini sudah sukses menjadi seorang petani dan pekebun.”


Elte hanya menatap bingung tangan sang kakek, tangan itu kemudian berayun kecil menandakan bahwa ia menunggu gelang ditangannya segera diambil. Anak muda yang kini menjadi tunangan dari cucu sang kakek itupun lalu mengambil gelang tersebut dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.


“Ehem... Aku ingin melanjutkan tontonanku... Kau bisa kembali ke kamarmu atau turun kebawah untuk makan malam” sang kakek kemudian kembali berkata tanpa mengalihkan tatapannya dari tayangan drama laga kolosal yang kini memperlihatkan adegan dimana sang pemuda membonceng wanita muda dan dibelakangnya mereka dikejar oleh seekor harimau putih besar dan di lehernya sedang duduk seorang pria besar yang ternyata tunangan dari wanita muda tersebut. Elte lalu memutuskan untuk turun ke bawah untuk makan malam sendiri karena waktu makan malam telah lewat dan keluarganya yang lain sudah makan beberapa menit yang lalu sebelum ia tiba.


Sementara itu di sebuah restoran yang ada di lantai empat di hotel berbintang lima di ibu kota negara, seorang gadis muda cantik bermata sipit sedang menikmati makan malamnya bersama seorang pria tua berbaju tradisional china.


“Penatua kesembilan.... Bagaimana menurut anda tentang informasi dari mitra kerja kita yang baru sadar dari komanya” Lam Xiao Mei meminta pendapat penatua kesembilan tentang informasi dari sugeng wiranto siang tadi.


“Besok pagi kita akan kembali ke rumah wali kota dengan membawa penerjemah, kita harus segera memastikan siapa yang telah menyembuhkannya."


"Mengenai dokter wanita yang hendak dijebak oleh mitra kerja kita... Akan kita urus belakangan... Kita juga harus mendatangi dokter magang itu diam-diam karena saat ini ia pasti ingin membongkar rahasia mitra kerja kita... Kamu yakin kalau ibu dari dokter magang itu memang sudah meninggal?” Penatua kesembilan menjawab pertanyaan tuan putrinya, ia juga bertanya untuk memastikan kematian dari korban pertama sugeng wiranto.


“Aku memang merasakan jika elemen kegelapan yang pernah aku masukkan ke dalam racun koma, ada yang telah


lenyap karena faktor kematian. Awalnya aku kira itu adalah ayah dari walikota yang dijadikan tumbal oleh sugeng, tapi ternyata bukan...” Kata Lam Xiao Mei.


“Kalau begitu maka dapat dipastikan jika ibu dari dokter magang itu memang telah mati sehingga kamu dapat merasakan jejak elemen kegelapanmu lenyap. Kita harus segera menutup mulut dokter magang itu.”


“Kita juga harus menjenguk teman-teman dari mitra kerja yang juga ikut koma saat lagi ena’-ena’. Aku ingin


menyembuhkan mereka dan mengorek informasi dari mereka semua”


Penatua kesembilan memberikan masukannya kepada tuan putrinya.


“jadi penatua kesembilan,... Yang mana yang duluan yang akan kita lakukan, mendatangi ayah dari walikota, membunuh dan menutup mulut si dokter magang, menyembuhkan dan meminta informasi ke teman-teman sugeng yang ikut koma atau mendatangi dokter yang ingin dijebak oleh sugeng ? “ Lam Xiao Mei kembali bertanya untuk memperjelas langkah-langkah mana yang harus mereka lakukan terlebih dahulu.


Setelah berpikir sejenak, ia lalu berkata, “Karena jarak hotel ke rumah sakit lebih dekat, besok pagi, kita sembuhkan dan minta informasi dulu ke teman-teman dari mitra kerja kita yang ikut koma. Setelah itu, malamnya, kita bunuh dan tutup mulut dari dokter magang itu dengan diam-diam. Setelah itu besok paginya kita datangi rumah walikota dan pastikan jangan lupa membawa penerjemah. Dan terakhir kita datangi dokter yang ingin djebak itu.”


“Baiklah penatua kesembilan... Aku ikut dengan rencanamu.... Tapi untuk membunuh dokter magang itu diam-diam, bagaimana caranya penatua ?” Tanya sang putri dari patriach di organisasi SFO.


“Kita akan menggunakan kemampuan pengendali bayangan” kata penatua kesembilan


“kemampuan Pengendali bayangan ? ... “ tanya Lam Xiao Mei dengan mengkerutkan keningnya.


“Yah... Kemampuan pengendali bayangan,... Jika kamu memiliki tingkat kultivasi yang cukup tinggi, kamu dapat


mengembangkan kemampuan sihir pengendali elemen kegelapan menjadi kemampuan pengendali bayangan, kamu dapat mengendalikan korbanmu jika bayanganmu dapat bersentuhan dengan bayangannya. Agar kita dapat mengendalikan korban kita, maka kita harus pastikan ada penerangan yang cukup agar bayangan korban dapat muncul. Jika ditempat gelap dan tidak bayangan maka kemampuan ini tidak akan berguna. Namun walaupun


begitu, kita dapat melapisi tubuh kita dengan elemen kegelapan sehingga kita  tidak terlihat.” Kata penatua kesembilan dengan bangga akan kemampuannya.


“Tapi penatua kesembilan, jika ditempat gelap, bukannya kita memang tidak akan kelihatan, kenapa harus bersembunyi dengan menggunakan elemen kegelapan” tanya Lam Xiao Mei.


“Eh maksud saya, dengan menggunakan elemen kegelapan, maka kita dapat bersembunyi di bayangan kita


sendiri atau bayangan orang lain.... Elemen kegelapan itu seperti sebuah dimensi khusus dimana kita bisa menyembunyikan orang lain atau diri sendiri.... Menurut cerita leluhur, para kultivator pengguna elemen kegelapan, dapat menyerap tubuh lawan dengan memunculkan sebuah black hole di tangannya. Dengan bantuan elemen gravitasi, black hole tersebut dapat memiliki daya hisap atau daya dorong yang cukup besar.”


“jika kita mendapatkan kondisi dimana tidak ada cahaya, maka kita juga tidak dapat melihat apa-apa, tetapi dengan bersembunyi di dalam kegelapan, maka penglihatan kita akan lebih jelas dalam kegelapan... Eh... Gimana menjelaskannya ya” penatua kesembilan mulai kebingungan menjelaskan maksudnya.


“hhmm..... Mungkin seperti cahaya ya.... Cahaya lilin dapat menyinari kegelapan, namun cahaya lilin akan terlihat buram jika diterangi oleh cahaya lampu atau cahaya senter. Dan cahaya lampu atau cahaya senter tidak akan berfungsi maksimal jika dibandingkan dengan cahaya matahari saat siang hari. Atau dengan kata lain cahaya lilin, cahaya lampu atau cahaya senter tidak akan berguna saat siang hari. Begitu pula dengan kegelapan, segelap-gelapnya malam tak berbintang, segelap-gelapnya ruangan tanpa cahaya lilin, tanpa cahaya lampu atau tanpa cahaya senter, namun kegelapan itu tidak akan berguna jika dibandingkan dengan dimensi elemen kegelapan.” Kata Lam Xiao Mei mencoba menyimpulkan sendiri kemampuan dimensi elemen kegelapan yang dimaksud oleh penatua kesembilan.


“Anda hebat sekali tuan putri.... Kalau ingat dengan teknologi sekarang, dapat dianalogikan dengan kemampuan kaca film riben atau kaca gelap tembus pandang pada satu sisi. Saat siang hari orang tidak dapat melihat kita dari luar karena di luar lebih terang akibat cahaya mentari, namun pada malam hari, saat gelap di luar dan di dalam ruangan sedang dinyalakan lampu ruangan, maka orang dari luar ruangan dapat melihat kita seperti melihat aquarium.”  Kata penatua kesembilan dimana sempat terlintas pengalamannya membeli kaca riben untuk jendela rumahnya. Ia harus menutup gorden jendelanya saat malam agar aktifitasnya di dalam rumah tidak menjadi tontonan dari luar.


“Baiklah penatua kesembilan, malam ini penatua kesembilan istirahat dulu, besok pagi setelah sarapan di restoran hotel, kita akan kembali ke rumah sakit untuk menyembuhkan kelima teman dari mitra kerja kita yang ikut koma. Kemudian malamnya kita akan menyelinap ke penjara untuk membunuh dokter magang itu menggunakan kemampuan dimensi elemen kegelapan dan kemampuan pengendali bayangan milik penatua kesembilan.” Lam Xiao Mei menutup pembicaraannya dan setelah itu ia ijin pamit, ia segera menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan penatua kesembilan ke kamarnya namun lebih memilih untuk melakukan kultivasi sebagai pengganti tidur.