WUMMM

WUMMM
84. Selamat Jalan Saudara (1)



Matahari pagi sudah menampakkan sinarnya. Namun kehangatannya belum bisa mengusir dingin yang menyelimuti hutan. Kabut tipis masih engan beranjak. Hamparan tanah berumput masih diselimuti embun. Akan tetapi, dingin bukan alasan bagi elte untuk bermalas-malasan dan menunda kultivasinya. Ia tidak ingin disindir dan dimarahi oleh gurunya, sang phoenix.


Sejak tengah malam setelah menyabotase pertarungan ilegal di rusia. Ia memutuskan untuk melakukan kultivasi pelahap kilat hingga sang mentari menyambut pagi.


"Hhmmmm.... sudah pukul 05:30 WIB, sebaiknya aku kembali ke goa untuk melihat kondisi mereka" kata elte menyudahi kultivasinya. Ia ingin memeriksa kondisi keempat petarung yang ia culik kembali ke indonesia. Elte merasa yakin jika keempat petarung tersebut adalah saudara-saudara angkatnya yang pernah diculik waktu mereka kecil.


"Elte... walaupun mereka kemungkinan besar adalah saudara sepanti asuhan yang pernah diculik, jangan sekali-kali menceritakan kemampuanmu kepada mereka. Cukup sekali kau melakukan tindakan bodoh denganemceritakan kemampuanmu kepada tunanganmu itu" kata sang phoenix kepada eltr melalui pikiran elte.


"Baik guru... aku tidak akan bertindak teledor lagi seperti dulu."


"Aku sekarang akan kembali ke ruang dimensi milik guru untuk menyimpan kembali dantian eksternal lalu ke rumah untuk mrmpersiapkan sarapan bagi keempat saudaraku guru"


Elte menjelaskan rencananya kepada gurunya untuk mempersiapkan sarapan pagi sebelum menjenguk keempat saudaranya yang masih pingsan.


"Sebaiknya untuk sarapan pagi, kau berburu ayam hutan saja atau ikan di sungai, jika kau kembali ke rumah dan bertemu salah satu keluargamu disana, kemungkinan besar kau akan tertahan dan keempat saudaramu keburu sadar. Selain itu dengan berburu, itu bisa jadi latihan ketangkasan. Terlalu sering hidup nyaman bisa berpotensi membuat kemampuan seni bela dirimu kembali tumpuk" kata phoenix memberi saran.


"Baik guru... saran guru sangat benar, aku akan berburu ayam hutan dan ikan di sungai setelah menyimpan kembali dantian eksternal." Elte menanggapi saran gurunya dengan patuh. Ia lalu membuat portal dan berteleportasi ke ruang dimensinya untuk menyimpan dantian eksternal yang ia sudah kultivasi sejak tengah malam.


Setelah menyimpan dantian eksternalnya, ia lalu mengaktifkan zona persepsinya untuk mendeteksi keberadaan ayam hutan.


Tidak butuh waktu lama, ia telah berhasil menangkap dua ekor ayam hutan lalu segera menyembelihnya menggunakan pisau angin yang ia sudah latih sebelumnya.


Ia lalu menggunakan kemampuan sihir pengendali elemen tanahnya untuk membuat periuk atau panci dengan ukuran sedang. Dengan bantuan teleportasi, elte mengisi panci tersebut dengan air sungai. Setelah dirasa cukup, ia meletakkan beberapa kayu kering dibawah panci tanah tersebut dan menyalakan api untuk memasak air yang ada di panci itu.


Saat airnya mendidih, elte lalu memasukkan kedua ekor ayam yang sudah disembelih itu ke dalam air mendidih. Sambil tetap memegang kedua kaki ayam tersebut, elte memasukkan dan mengeluarkan kedua ayam itu dari air mendidih beberapa kali hingga bulu ayam tersebut dapat dikuliti dengan mudah.


Setelah dirasa ayam tersebut sudah bersih, elte lalu memotong kedua ekor ayam tersebut dengan pisau angin, masing-masing menjadi dua puluh potong.


"Hhmmmm..... oke, saatnya kembali ke goa" gumam elte. Sebelum kembali ke rumah gubuk miliknya yang ada di dalam goa, elte membuang air bekas rendaman kedua ekor ayam tersebut dan memasukkan empat puluh potong ayam ke dalan panci yang sudah kosong tersebut. Tidak lupa ia menaburi potongan-potongan ayam tersebut dengan beberapa bumbu yang ia ambil dari ruang dimensinya seperti garam halus, bubuk lada, dan beberapa bumbu lainnya.


Sambil menunggu bumbu-bumbu tersebut meresap ke dalam potongan-potongan ayam yang ada dipanci tanah itu, elte berteleportasi menuju goa tempat rumah gubuknya berada. Goa tersebut telah ia pasangai segel khusus sehingga tidak akan dapat dilihat oleh orang lain bahkan binatang pengganggu.


Di dalam rumah gubuk yang ia sudah perbaiki sebelumnya, keempat saudaranya masih terbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri. Elte menuju ke alat pemanggan daging dan kompor gas yang sudah ia siapkan sebagai kelengkapan masaknya di dalam goa. Elte lalu meletakkan sepuluh potong ayam ke atas pemanggang dan mulai menyalakan kompor gas.


Sambil menunggu ayam tersebut setengah matang, elte lalu memeriksa kondisi fisik saudara-saudaranya yang masih tidak sadarkan diri.


"Kalau tidak salah ingat, inikan kak lompo, kak tompo, kak nompo dan kak songkolo. Terus kemana saudara-saudara yang lain ya ?  mengapa mereka berkelahi ? Nanti akan kutanyakan setelah mereka sadar." Gumam elte lalu mulai memeriksa kondisi fisik saudara-saudaranya satu persatu.


Kening elte mengkerut saat menyadari kondisi keempat saudaranya. Dengan bantuan kemampuan persepsinya, ia mengamati kondisi anatomi tubuh saudara-saudaranya.


"Tulang belakang kak lompo ada sedikit keretakan akibat terjatuh dengan keras. Sedangkan kondisi fisik kak tompo, kak nompo dan kak songkolo baik-baik saja kecuali sistem syaraf mereka sedikit terganggu akibat pengaruh zat asing yang berpotensi menggangu ingatan mereka bertiga. Apakah mungkin selama ini saudara-saudaralu sepanti asuhan telah di cuci otaknya dengan sebuah serum ? Lalu mengapa sistem syaraf kak lompo tidak mengadung zat tersebut ? Apakah mungkin kak lompo selama ini tidak menjadi korban cuci otak ?"


"Hhmmm.... baiklah aku akan mencoba menyembuhkan mereka. Namun.... sebelum itu aku harus membalik kesepuluh potong ayam yang sedang kupanggang agar masaknya merata"


Elte lalu membalik alat pemanggang sehingga bagian potongan ayam yang sebelumnya di bawah, kini berada di atas. Dan bagian potongan ayam yang sebelumnya di atas, kini sudah ada di bawah.


"Hhmmmm... baunya enak" sang prontagonis memuji wangi masakannya sendiri.


Ia lalu kembali menuju ke tempat tidur dimana keempay saudaranya sedang terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri. Elte memulai menyembuhkan lompo dengan bantuan elemen cahayanya. Retakan-retakan halus yang ada di tulang belakang lompo perlahan kembali beregenerasi dan kembali normal.


Setelah elte menyembuhkan lompo, ia kembali menuju alat pemanggangnya untuk menyimpan sepuluh potongan ayam yang sudah matang sempurna ke atas piring plastik yang ada di samping kompor. Ia lalu memanggang kembali sepuluh potong ayam mentah yang sudah dibumbui.


Elte kembali berusaha menyembuhkan tiga saudaranya yang lain, ia mulai mencoba mengalirkan elemen cahaya ke dalam sistem syaraf milik songkolo.  Tidak cukup sampai disitu, elte juga menggunakan kemampuan telepati dan telekinesisnya untuk mencoba mengendalikan beberapa titik sel yang dapat mengunci pergerakan zat asing tersebut.


Dengan bantuan telekinesis dan kemampuan persepsi, elte memgendalikan pergerakan zat asing tersebut ke satu titik sambil mengalirkan elemen cahaya untuk tetap menjaga vitalitas songkolo.


Setelah yakin seluruh zat asing tersebut telah berkumpul di satu titik, elte lalu mencoba membungkus kumpulan zat asing tersebut dengan bantuan elemen cahaya dan mengarahkannya ke mulut songkolo. Beberapa detik kemudian, songkolo memuntahkan segumpal darah yang berisi elemen cahaya dan sekunpulan zat asing tersebut. Elte kembali mengalirkan elemen cahaya agar rubih songkolo kembali normal.


Setelah menyembuhkan kondisi syaraf songkolo, elte kembali membalik alat pemanggang daging ayam tersebut sehingga bagian bawah kini berada di atas dan bagian atas kini berada di bawah.


Elte kembali menyembuhkan kondisi syaraf tompo dengan metode yang sama saat elte menyembuhkan songkolo. Waktu yang dibutuhkan elte sedikit lebih lama karena stamina elte mulai terkuras. Jika elte menggunakan dantian eksternalnya maka mungkin energi kehidupan atau reiki atau qi yang sudah terkumpul akan memudahkan elte dalam menggunakan kemampuan sihir pengendali elemennya.


Namun saat ini, elte ingin melatih kultivasi nasi pepesnya dengan melakukan kombinasi nafas api, nafas angin dan nafas air. Elte sudah tidak perlu lagi berkonsentrasi penuh untuk memicu emosi kesabaran, optimis dan harapan, karena tubuh elte sudah terbiasa dan secara naluriah bekerja sendiri membantu proses nafas suci dengan elemen yang sesuai.


Dua jam kemudian... elte telah menyembuhkan semua saudaranya dan keempat puluh potong ayamnya juga telah masak sempurna. Keempat saudaranya pun mulai siuman dan kembali ke alam sadarnya.


"Uhuk...uhuk... uhuk" terdengar suara batuk dari songkolo, tompo dan nompo secara bersamaan.


Elte lalu mengambil empat gelas kosong dan sebuah cerek atau ceret atau ketel atau poci yang berisi air putih.


"Ehem... ini silahkan minun terlebih dahulu" elte memberikan ke empat gelas kosong ke masing-masing tangan saudaranya lalu mengisinya dengan air.


Lompo sedikit terkejut setelah menyadari bahwa dirinya berada di sebuah tempat yang ia tidak kenali ia juga merasa tulang belakangnya sudah tidak terasa sakit lagi.


Sementara itu, songkolo, tompo dan nompo, nampak kesakitan sambil memegang kepalanya. Beberapa kilasan ingatan yang sudah tersembunyi beberapa tahun yang lalu, mulai kembali menyeruak ke pikiran mereka masing-masing.


Lompo yang mendengar suara songkolo secara refleks melihat ke arah mereka dan sesaat kemudian ia mengingat jika sebelumnya ketiga saudaranya itu ingin membunuhnya.


Ia lalu secara refleks lompat menjauhi mereka dan mengambil posisi kuda-kuda siap bertarung.


"Kak lompo.... tenanglah.... mereka sedang mengingat kembali ingatan masa kecil mereka. Apakah mereka pernah diberi sebuah serum pencuci otak?" Elte menegur dan menanyakan pertanyaan kepada lompo.


Lompo terkejut melihat ke arah elte dan berkata, "siapa kamu... kenapa kamu bisa menggunakan bahasa indonesia ? Dimana ini ? Apakah kau yang telah menyelamatku ? Terus kenapa kau bisa mengetahui namaku".


"Satu-satu kak nanyanya.... jadi kamu memang lompo kan, salah satu anak panti asuhan yang pernah diculik saat kecil ?" Pertanyaan elte membuat kening lompo mengkerut.


Saat akan mengiyakan pertanyaan elte, lompo mendengar songkolo, tompo dan nompo bergumam tidak jelas sambil tetap memegang kepala mereka.


"Lompo.... kaukah itu.... aaaahhh... kepalaku sakit sekali, apakah benar jika aku sudah membunuh beberapa saudara-saudara kita termasuk sangkala? Oohhh.... kenapa ini semua seperti mimpi buruk" terdengar suara songkolo seperti menyesali perbuatannya.


"Apakah kau mulai mengingat semuanya" kata lompo ke arah songkolo sambil mengkerutkan keningnya.


"Entahlah.... aku  merasa seperti mimpi buruk, aku ingat ibu ani mirani, ibu pengasuh panti kita, aku ingat saat kita semua diculik lalu dijual dan kemudian di beri obat, setelah itu..... aku merasa seperti mimpi buruk, kita semuanya dipaksa hidup di hutan di musim dingin untuk bertahan hidup, kita juga dilatih menjadi pasukan khusus dan kita juga dipaksa ikut bertarung untuk saling membunuh." Songkolo berkata dengan suara terisak mencoba menjelaskan kilasan ingatan dan mimpi buruknya.


"Lompo.... apa yang terjadi...  seingatku terakhir kali aku diperintahkan untuk membunuhmu" terdengar suara nompo sedikit bergetar, ia kemudian menggelengkan kepalanya dan menutup wajahnya karena kilasan atas kematian sompo yang semalam menghembuskan nafas terakhirnya setelah dibunuh oleh dirinya.


Lompo terkesima melihat ketiga saudaranya yang telah sembuh dari pengaruh obat pencuci otak milik organisasi JFO di rusia. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah elte dan berkata, "bisa tolong jelaskan apa yang terjadi".


Elte yang berusaha mencerna kalimat songkolo dan nompo, mengalihkan pandangannya ke arah lompo. Ia lalu mengambil nampan atau baki plastik berisi dua buah piring plastik dan masing masing ada dua puluh potong ayam panggang. Setelah itu ia berkata, "sebelum aku menjelaskan apa yang sudah terjadi, ada baiknya kita sarapan pagi dulu dengan ayam panggan ini, munpung masih hangat.


Perut lompo, songkolo, tompo dan nompo memang sudah keroncongan karena sejak semalam belum sempat makan malam. Mereka lalu menyantap ayam panggang tersebut.


Beberapa menit kemudian, keempat puluh potong ayam panggang itu sudah ludes. Setelag minum segelas air, lompo kembali bertanya kepada elte, "sekarang.... bisa kau jelaskan apa yang sudah terjadi".


Elte menghembuskan nafasnya sejenak karena bingung harus menjelaskan dari mana. Setelah diam sejenak ia pun berkata, "apakah kalian tidak mengingatku ?" Elte hanya dapat bertanya balik kepada keempat saudaranya.


Lompo, songkolo, tompo dan nompo hanya dapat diam sejenak sambil mengamati wajah elte.


"Sekilas aku seperti mengenal wajahmu" kata tompo sambil mengkerutkan keningnya.


"Hhmmm  yang kau bayangkan sepertinya benar" kata elte sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi benar kau orangnya.... bagaimana dengan usaha es cendol milik orang tuamu? Apakah kau masih menjual es cendol meneruskan usaha cendol" kata tompo yang sepertinya salah mengenali elte sebagai tetangga mereka saat di panti.


"Eh.... jualan es cendol..... wah sepertinya kak tompi salah mengenaliku.... aku bukan mamat anak penjual es cendol itu.... " kata elte yang sedikit kecewa karena sudah dilupakan oleh tompo.


Tompo terkejut dengan ekspresi kecewa elte, ia jadi merasa tidak enak karena salah mengenali sosok yang sudah menolong mereka.


"Kaukah itu mappangile ? " tanya nompo yang juga ikut salah mengenali elte sebagai andi mappangile, salah satu tetangganya yang juga teman bermain mereka.


"Bukan kak nompo... aku bukan andi mappangile, aku elte yawarakai, adik bungsu kalian di panti asuhan milik bu ani mirani" kata elte yang menjelaskan identitas dirinya kepada keempat saudaranya.


"Oohhhh.... kaukah itu elte.... seingatku terakhir kali kau jatuh koma akibat dibully oleh si dadang, anak walikota kan?" Kata songkolo dengan mata membulat dan sedikit tidak percaya.


Elte hanya dapat menganggukkan kepalanya kearah songkolo.


"Jadi apa yang telah terjadi dengan panti asuhan selama kami diculik ? Bagaimana dengan kabar ibu panti" kata nompo


Elte lalu menceritakan kejadian setelah ia siuman dari koma. Ia menceritakan tentang kasus penculikan mereka, kasus fitnah yang menimpa ibu panti sehingga harus mendekam dipenjara, kasus skandal walikota, bantuan pak jaya kepada dirinya dan ibu panti. Tentunya elte tidak menceritakan tentang warisan phoenix dan pertungannya dengan yuni demi menjaga perasaan saudara-saudaranya


Lompo, tompo, nompo dan songkolo hanya dapat mendengar cerita elte. Sesekali mereka berdecak kagum dengan kebaikan hati pak jaya, sesekali mereka juga meringis kesal terhadap kasus fitnah yang menimpa ibu panti mereka.


"Jadi elte.... bagaimana bisa kami sekarang ada disini ? Dimana ini ? Masih di rusia atau di indonesia ?"


Pertanyaan lompo membuat kening elte kembali mengkerut, ia sedikit kelabakan merangkai jawaban atas pertanyaan tersebut. Ia tentunya ingin menjelaskan bahwa mereka kini di indonesia, namun elte dapat menebak bahwa mereka akan menanyakan cara mereka tiba di indonesia dari rusia dalam waktu semalam.


Jarak rusia ke indonesia sekitar 9307 Km, jika digunakan pesawat dengan rata-rata kecepatan 700 Km/jam maka waktu tempuhnya sekitar 13 jam 17 menit. Tidak mungkin kan kalau elte bilang jika ia punya pesawat pribadi sehingga tidak perlu repot lagi memesan pesawat komersial sambil membopong keempat orang yang sedang tidak sadarkan diri.


Melihat elte yang hanya dapat diam tidak bisa menjawab pertanyaan dari lompo, songkolo hanya dapat menganggukkan kepalanya seakan-akan mengerti dengan sesuatu hal yang pernah ia curi dengar saat masih di rusia.