
Sementara itu di sebuah planet yang menyerupai bumi yang lokasinya sangat jauh dari galaksi bima sakti. Di planet tersebut terdapat sebuah benua yang sangat besar dan terbagi atas lima kerajaan besar.
Di bagian barat benua itu, terdapat kerajaan Naga Merah dimana para manusia yang mampu berkultivasi dengan elemen api dan petir, hidup dengan damai menjalankan aktifitas mereka sehari-hari sebagai ahli penempa senjata.
Di bagian timur benua itu, terdapat kerajaan naga hitam dimana para manusia yang mampu berkultivasi dengan elemen tanah dan kayu, hidup dengan damai menjalankan aktifitas mereka sehari-hari sebagai petani dan ahli berkebun.
Di bagian utara benua itu, terdapat kerajaan naga biru dimana para manusia yang mampu berkultivasi dengan elemen air dan es, hidup dengan damai menjalankan aktifitas mereka sehari-hari sebagai nelayan dan ahli pengobatan.
Di bagian selatan benua itu, terdapat kerajaan naga putih dimana para manusia yang mampu berkultivasi dengan elemen angin dan gravitasi, hidup dengan damai menjalankan aktifitas mereka sehari-hari sebagai peternak dan ahli berburu.
Di bagian tengah benua itu, terdapat kerajaan naga langit dimana para kaum manusia naga hidup damai mengendalikan keempat kerajaan manusia di sekitarnya. Setiap bulan, keempat kerajaan naga merah, naga biru, naga hitam dan naga putih akan mengirimkan upeti sebagai pajak perdamaian.
Di benua itu, kaum manusia naga dan manusia yang mampu berkultivasi, hidup damai setelah berperang selama berabad-abad.
Awal munculnya kehidupan di planet itu adalah akibat campur tangan seorang mahluk bernama diavolo pithekos. Ratusan manusia yang mampu berkultivasi sangat terkejut ketika mereka terserap oleh sebuah lubang hitam dan terlempar ke planet itu. Mereka lebih terkejut lagi saat bertemu dengan kaum manusia naga yang mereka duga sudah punah jutaan tahun yang lalu.
Pertarungan antara kaum manusia naga dan manusia yang mampu berkultivasi pun terjadi selama ribuan tahun dan dimenangkan oleh kaum manusia naga.
Di galaksi yang sama dengan planet kaum manusia naga, terdapat juga sebuah planet yang menyerupai bumi dengan sebuah benua yang sangat besar. Di benua tersebut berdiri tiga buah dinding tembok setinggi dua puluh meter dengan lebar dua meter. Ketiga dinding tembok itu berdiri tegak membentuk lingkaran besar dengan radius yang berbeda dimana ketiga dinding tembok tersebut terlihat seperti benteng berlapis dan membentuk tiga wilayah yang terisolasi dari dunia di luar dinding tembok.
Di wilayah dinding tembok terdalam, terdapat sebuah kota sebagai pusat pemerintahan. Di tengah kota itu berdiri sebuah gedung tempat para kaum manusia alien bekerja. Di luar gedung, terdapat beberapa rumah bagi para manusia yang dapat berkultivasi.
Di wilayah antara dinding pertama dan dinding kedua, terdapat beberapa rumah bagi para manusia yang tidak dapat berkultivasi. Namun walaupun mereka tidak mampu mengendalikan satupun elemen, mereka memiliki kekuatan super berkat kemajuan teknologi nano hasil penelitian para alien. Manusia super itu memiliki kekuatan sepuluh kali lipat dari manusia pada umumnya, memiliki kemampuan beregenerasi jika terluka dan memiliki kemampuan untuk melayang di udara. Mereka juga dapat saling berkomunikasi lewat sistem nano yang terkoneksi secara terintegrasi. Mereka akan mendapatkan kekuatan super tersebut setelah di vaksin oleh alien pada umur tujuh belas tahun. Di wilayah tersebut juga berdiri beberapa lembaga berburu yang disebut dengan istilah Guild Hunter.
Di wilayah antara dinding kedua dan dinding ketiga, terdapat sekumpulan zombie setinggi dua hingga lima meter. Para zombie itu adalah sekumpulan manusia biasa yang gagal menerima vaksin teknologi sistem nano di tubuh mereka. Walaupun kegagalan vaksin itu menyebabkan manusia tersebut meninggal. Namun tubuhnya masih dapat beregenerasi berkat teknologi sistem nano dalam vaksin itu. Satu-satunya cara membunuh zombie itu adalah dengan menghancurkan seluruh tubuhnya hingga ke setiap selnya.
Di luar dinding ke tiga terdapat hutan lebat dan lautan berisi binatang buas dan beberapa diantaranya masih dapat berkultivasi.
Para manusia yang dapat berkultivasi bersama manusia super berteknologi nano, akan pergi ke dunia di luar dinding terluar setiap awal bulan untuk mencari persediaan makanan selama sebulan lebih bagi warga kota. Mereka akan bertarung melawan para zombie untuk bertahan hidup.
Awal munculnya kehidupan di planet itu adalah akibat campur tangan seorang mahluk bernama diavolo pithekos. Ratusan manusia yang mampu berkultivasi sangat terkejut ketika mereka terserap oleh sebuah lubang hitam dan terlempar ke planet itu. Mereka lebih terkejut lagi saat bertemu dengan kaum manusia alien yang mereka duga sudah punah beberapa jutaan tahun yang lalu.
Pertarungan antara kaum manusia alien dan manusia yang mampu berkultivasi pun terjadi selama ribuan tahun dan dimenangkan oleh kaum manusia alien. Para alien hanya menyisakan manusia biasa dan manusia yang mampu berkultivasi dengan elemen dasar seperti elemen api, air, angin dan bumi. Untuk elemen gabungan seperti elemen es, petir, lava gravitasi, cahaya, kegelapan, ledakan dan kristal akan dibunuh dan dijadikan objek penelitian oleh kaum alien. Selain manusia yang dapat berkultivasi dengan elemen dasar, alien juga hanya menyisakan manusia dengan elemen gabungan seperti elemen kayu dan elemen logam.
Para alien sangat suka bereksperimen hingga ribuan tahun pun berlalu, teknologi sudah sangat maju. Di planet itu sudah mengenal teknologi mesin uap, komputer, internet, smartphone, teknologi robot dan teknologi nano. Bisa dikatakan kemajuan teknologi di planet itu lebih maju dari pada teknologi di planet bumi.
Para alien mulai fokus mengembangkan teknologi nano ribuan tahun yang lalu dan mulai bereksperimen menggunakan manusia biasa. Pada awalnya mereka gagal dan hanya bisa mengubah manusia malang itu menjadi zombie yang cukup besar.
Demi keamaan para manusia yang dianggapnya sebagai subjek penelitian, para alien pun memerintahkan para kultivator untuk membangun tiga buah dinding setinggi dua puluh meter dan lebar dua meter untuk mengisolasi para manusia sesuai kastanya yakni kasta manusia yang mampu berkultivasi, manusia super dengan nano teknologi dan para zombie.
Selama proses kerja paksa membangun tembok tersebut, banyak kultivator yang meninggal karena kelelahan. Ketiga dinding tembok itu pun akhirnya selesai dengan memakan waktu tiga ribu lima ratus tujuh puluh sembilan tahun.
Dengan membandingkan kedua planet itu dengan planet bumi. Manusia yang ada diplanet bumi akan merasa seperti terlempar kembali ke masa lalu jika ia datang ke planet dari kaum manusia naga. Manusia yang ada di planet bumi juga akan merasa seperti terlempar ke masa depan jika ia datang ke planet dari kaum manusia alien.
Sementara itu, di antara planet dari kaum manusia naga dan planet dari kaum manusia alien, muncul retakan dimensi dan dari balik retakan itu keluar seekor kera kecil tanpa ekor, berkulit merah, berbulu hitam lebat, berhidung babi, bermata satu dengan ukuran kecil, bertanduk kambing, bertubuh gemuk dengan perut buncit.
"Hhoooaammmmm......... sepertinya aku terbangun puluhan tahun lebih cepat dari biasanya. Hhmmm..... aku yakin pewaris phoenix kali ini masih sangat lemah dan perlu berkembang.... Aku akan menjenguknya setelah mengunjungi kedua dimensi dari planet manusia naga dan planet manusia alien." Kata diavolo pithekos dalam pikirannya. Ia lalu membuat portal dimensi dan masuk ke dalamnya.
......... ......... ........
Sementara itu di ibu kota negara, matahari terbenam hari mulai malam, tidak terdengar burung hantu yang suaranya merdu, hanya suara bising kendaraan yang lalu lalang.
Taksi online yang membawa elte dan hera memasuki sebuah perumahan elite. Setelah beberapa saat, taksi itu pun berhenti di depan pagar dari sebuah rumah yang cukup mewah.
Hera lalu turun dari mobil taksi menuju pagar. Ia kemudian berhenti karena elte masih di dalam mobil dan meminta sang supir untuk melanjutkan perjalanannya. Sang supir menolak permintaan elte karena tidak sesuai dengan prosedur yang mengharuskan semua transaksi harus melalui aplikasi online.
"Woi.... napa lo tidak turun... udah nyampe nih... buruan gih turun" kata hera kepada elte yang masih kebingungan.
"Loh... kok aku juga di suruh turun kak... kan rumahku bukan disini." Kata elte dengan wajah polosnya.
"Udah.... lo turun aja deh... lagian nih taksi juga tidak bisa antar lo kalo tidak pakai aplikasi online.... nih taksi juga gue udah bayar lewat aplikasi online" kata hera sambil membuka pintu taksi dan menarik tangan elte.
"Neng... jangan lupa ya bintang tujuh" kata supir taksi online yang meminta penilaian layanan dari bintang satu hingga bintang tujuh.
"Siap bang... nanti gue kasih tips sama rate bintang tujuhnya" kata hera yang membuat sang supir taksi tersenyum senang.
Hera lalu menarik tangan sang prontagonis untuk masuk ke rumah yang terlihat mewah di mata elte.
"Eh... kak.... jangan tarik-tarik dong.... kalau nanti ada yang lihat kan bahaya, bisa jadi fitnah kak... Ingat kak, fitnah itu lebih kejam daripada tidak memfitnah." Kata elte yang merasa risih menyentuh tangan lembut dan hangat milik hera.
"Ih apaan sih lo.... kayak mau diapa-apain aja... polos amat jadi cowok... ayo cepat buruan masuk... ada yang ngebet banget ketemu sama lo" kata hera yang membuat elte menjadi penasaran. Ia pun hanya bisa pasrah menikmati kelembutan dan kehangatan dari tangan seniornya.
Setibanya di depan pintu, hera melepaskan tangan elte dan mengetuk pintu tersebut, "tok... tok... tok". Seperti itulah suara pintu diketuk oleh hera.
"Tok... tok... tok..." hera sekali lagi mengetuk pintu tersebut karena tidak ada yang buka.
"Tok... tok... tok... tok... tok..." hera lagi-lagi mengetuk pintu tersebut dan masih tidak ada yang buka.
Ia lalu menelpon teman dekatnya, diah. Namun panggilannya tidak tersambung dan kemungkinan handphonenya sedang lowbatt.
"Wah.... jangan-jangan chat gue tadi belum dibaca lagi." Kata hera sedikit panik. Ia lalu menelpon ardha, kakaknya diah.
"Iya... halo... hera.... napa dek...." terdengar suara ardha terdengar lembut dari ujung teleponnya.
"Oh.... diah ya.... tunggu ya....." hera lalu mencari diah dan memberikan teleponnya.
"Iya.... halo.... hera.... ada apa nih" kata diah dari ujung telepon.
"Ada apa... ada apa... eh... elo kemana sih,... rumah lo juga kok sepi amat... bukannya hari ini hari ultah lo..." kata hera sedikit kesal dengan nada bicara sahabatnya.
Elte yang mendengar pembicaraan hera jadi terkejut dan baru ingat kalau ia juga pernah diundang oleh kakak seniornya.
"Ih hera gimana sih.... emang lo kagak baca undangannya ya, kan pesta ultah gue bukan diadakan di rumah gue, tapi di gedung aula di rumah sakit tradisional milik kakek gue... jangan bilang ya kalo lo sekarang ada di rumah gue..." Kata diah kepada sahabatnya.
"Tadi sore gue sudah chat ke hape lo. Tapi kagak dibaca, kayaknya hape lo lagi lowbatt ya... ya udah, buruan share location posisi lo sekarang ke chat gue, sekarang gue sama elte nih... " kata hera lalu menutup panggilannya. Ia tersenyum melihat ada panggilan dari nomor ardha. Tapi hera selalu membatalkan panggilannya
"Mampus lo... penasaran kan... hehehe" kata hera dengan tersenyum puas. Tidak lama, ada chat masuk dan ternyata share location dari alamat lokasi pesta.
"Maaf kak.... aku pulang aja... hidungku masih cidera, aku juga belum mandi dan ganti pakaian." Kata elte sambil mulai berjalan meninggalkan seniornya.
Hera lalu kembali menarik tangan elte dan menggenggam erat tangannya dan berkata, "Teman yang tulus ibarat mata dan tangan. Saat mata menangis tangan mengusap. Saat tangan terluka mata menangis."
"Apaan sih kak, aku tidak mengerti" kata elte yang memang benar-benar tidak mengerti. Ia juga merasa tidak perlu menggunakan kekuatan telepatinya untuk membaca privasi seniornya.
"Elo tahu nggak.... diah sudah cerita soal elo yang sudah nyelamatin diah dan kakaknya saat hampir diperkosa di pinggir hutan. Gue itu anak yatim piatu dari kecil, gue diasuh oleh almarhum ayah angkat gue. Diah sahabat gue dari kecil yang menerima gue apa adanya dan bukan ada apanya." Kata hera
"Diah sudah nitip pesan tadi siang untuk ingetin lo ke acara ultahnya. Dan gue udah janji. Tapi gue udah yakin kalo lo akan malas datang ke acara kayak gituan" kata hera yang bisa menebak pikiran elte.
"Please.... tolong bantu gue menepati janji gue tadi siang... gue ini anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa kecuali rasa kesetiakawanan" kata hera dengan meneteskan air matanya
Elte hanya bisa menunduk terdiam mengingat masa lalunya sebagai anak yatim piatu. Ia pun lalu mengangguk dan berkata, "baiklah kak, aku akan menemani kakak ke acara ultahnya kak santi"
Seandainya elte menggunakan kemampuannya membaca pikiran, elte pasti akan merasa kesal karena saat ini hera mengusap air matanya sambil tersenyum licik. "Hehehehe.... mampus lo jadi korban gue si ratu drama"
Hera lalu mengajak elte singgah ke rumahnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Setibanya di rumah milik almarhum pak yusuf abdi negara, elte terkejut bertemu dengan dian askar, rian askar, dan heri iskandar. Dari cerita mereka bahwa mereka semua adalah anak yatim piatu yang dirawat oleh almarhum bapak yusuf abdi negara.
Istri almarhum keluar membawa segelas teh panas dan setoples kacang disco yakni kacang yang dibalut dengan tepung serta telur dan dipadukan dengan beragam rasa dan beragam warna.
Di teras rumah, sedang bermain tiga anak kandung almarhum pak yusuf abdi negara. Ketiga anak kecil sedang asyik bermain monopoli. Sambil menunggu giliran mandi, elte lalu mencoba bercanda dengan anak-anak tersebut.
"Wah adik kecil sedang main apa" kata elte berbasa-basi karena ia sudah tahu bahwa ketiga anak itu sedang bermain monopoli.
Anak yang paling kecil lalu berkata, "Jangan panggil aku adik kecil paman, namaku syifa."
"Wah nama yang sangat cantik, secantik wajahnya" kata elte kepada adik kecil tersebut. Ia lalu kembali bertanya, "nama lengkapnya siapa ?"
Anak yang paling kecil itu kembali berbicara, "nama kami syifa, kalau nama lengkapku, Alisya Syifa Kamila. Kalau kakak pertamaku, Talitha Syifa Raissa Cordona. Dan kalau kakakku yang kedua, Azahra Syifa Andara Saputri".
"Wah nama yang sangat cantik sekali, secantik wajahnya" kata elte kepada ketiga adik kecil tersebut. Ia lalu merasa mati gaya di depan ketiga anak kecil itu. Dalam hatinya ia sempat protes kenapa ketiganya harus dipanggil syifa. Kenapa mereka tidak dipanggil dengan panggilan Alisya, Talitha dan Azahra.
Setelah berpikir sejenak, ia mengingat kalo di laci kamarnya ada beberapa biskuit coklat keju. Ia lalu memasukkan tangannya ke dalam tas sekolahnya dan membuat portal teleportasi ke kamarnya, dengan bantuan dari kemampuan telekinesisnya ia mengambil semua biskuit coklat keju tersebut.
"Eh... ini kakak ada biskuit coklat keju, mau tidak...." kata elte sambil mengeluarkan dua belas bungkus biskuit coklat keju.
Ketiga anak kecil itu berbalik menatap wajah elte dan tersenyum senang.
"Mau... mau.. mau..." kata mereka sambil berlari ke arah elte.
"Ini buat syifa..." kata elte sambil memberikan empat bungkus biskuit coklat keju pertama ke Alisya Syifa Kamila.
"Nah... kalo yang ini buat syifa..." kata elte sambil memberikan empat bungkus biskuit coklat keju kedua ke Talitha Syifa Raissa Cordona.
"Dan yang terakhir, Ini buat syifa..." kata elte sambil memberikan empat bungkus biskuit coklat keju terakhir ke Azahra Syifa Andara Saputri"
Setelah mendapatkan biskuit coklat kejunya, ketiga syifa itu kembali ke teras untuk melanjutkan bermain monopoli tanpa menghiraukan elte yang kembali mati gaya.
Tidak lama kemudian, heri iskandar datang membawa handuk bersih dan sebuah tuxedo pria berwarna hitam beserta aksesorisnya termasuk sepatu pantofel berwarna hitam.
"Eh... tidak ada kemeja yang biasa aja kak" kata elte terkejut melihat pakaian yang akan dipinjamkan kepadanya.
"Ada sih... tapi hera bilang kalau kalian akan pergi ke acara formal. Ini pakaian juga hera yang siapkan. Pakaian ini adalah pakaian kakak pertama kami, heru iskandar, beliau telah gugur bersama ayah angkat kami saat bertugas di kanada." Kata heri lalu menghembuskan nafas panjang karena mengingat pengalaman pahitnya saat kehilangan kerabat dan sahabatnya saat bertugas. Ia lalu meletakkan tuxedo tersebut dan melemparkan handuk ke arah elte.
"Nih handuk bersih buat dek elte, hera sudah mandi barusan, dek elte bisa ke ke kamar mandi di belakang. Sabun dan sampo sudah tersedia di kamar mandi.... maaf ya kalau kamar mandinya sangat sederhana" kata heri dengan sopan
"Eh iya kak.... makasih banyak" kata elte kepada heri, saat ia akan bergegas ke belakang untuk mandi ia mendengar heri berkata ke arah teras, " Alisya,... Talitha,... Azahra... masuk ke dalam dek, ibu sudah memanggil untuk makan malam."
"Iya kak..." kata ketiga syifa lalu membereskan mainannya dan berlari ke ruang makan.
"Busyet... ternyata aku dikerjai sama ketiga bocah kecil itu" kata elte yang ternyata pikirannya sudah benar tentang nama panggilan ketiga syifa itu.
Sementara itu yuni yang sudah membaca pesan elte bahwa dirinya ada urusan penting, segera menelpon sahabatnya ruri masruri untuk menemaninya ke acara ulang tahun seniornya. Dengan membawa sebungkus kado ulang tahun ia pun alu diantar oleh supirnya untuk menjemput teman dekatnya yang sudah siap menunggu di teras rumahnya. Setelah pamitan dengan kedua orang tua dari ruri masruri, mereka lalu menuju ke lokasi pesta sesuai yang ada di undangan.
Yuni sebenarnya ingin berangkat ke pesta bersama tunangannya namun tidak jadi karena tunangannya memiliki urusan yang penting.