WUMMM

WUMMM
65. Menjenguk Sang Prontagonis



[Sementara itu di Texas]


"Bagaimana ?.... apakah kau sudah mengetahui sumber kekuatan mereka ?" Pimpinan Rose Flower Organization bertanya ke anggotanya menggunakan bahasa inggris.


"Maaf tuan morgan... selama aku melayani ketiga monster itu, aku tidak pernah mendengar mereka membahas kekuatan mereka" kata anggotanya yang selalu menjadi penerjemah bahasa inggris dan cina. Anggota tersebut juga diutus oleh tuannya, Morgan Rockefeller Rothschild, untuk melayani ketiga kultivator dari SFO yaitu Lam Pu Mu, Lam Yip Yip dan Cheng Xiao Hi.


Sang pemilik organisasi RFO itu menghembuskan nafasnya dengan kesal. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya sang elite global kini adalah budak dari orang lain. Ia lalu berpaling ke salah satu anggotanya yang bertugas sebagai koordinator tim riset dan pengembangan.


"Apakah kau sudah menemukan penawar untuk racun ini... aku sungguh  merasa sangat kesakitan jika salah satu monster itu menghukumku hanya karena tidak senang dengan nada bicaraku." Kata morgan sambil mengutuk ketiga kultivator tersebut.


"Kami sedang mengembangkan teknologi nano untuk menganalisa kondisi tubuh orang yang terkena racun tersebut. Kami mendeteksi ada sebuah material hitam di dalam tubuh di sekitar jantung orang tersebut." Koordinator tim riset itu menjawab kegelisahan pimpinannya.


"Kami lalu mencoba memutilasi tubuh orang itu agar dapat meneliti material hitam tersebut. Sayangnya saat kami hendak mengeluarkan material itu, material tersebut menguap dan menghilang seketika." Lanjut sang koordinator.


"Hhmmmm..... jadi, apakah tidak ada cara untuk membuat penawar dari racun ini" kata morgan dengan raut wajah kecewa.


"Maafkan aku tuan morgan.... tapi kami akan terus berusaha. Saat ini kami mencoba meneliti material tersebut dengan orang yang terkena racun tersebut dalam kondisi masih hidup." Kata sang koordinator memberikan secercah harapan bagi morgan.


Tidak hanya penguasa organisasi RFO saja yang berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang organisasi SFO. Penguasa organisasi lainnya seperti JFO, LFO dan OFO serta PPB juga berupaya meneliti dan menemukan obat penawar racun dengan cara mereka masing-masing.


......... ......... .........


Sementara itu di sebuah kamar VIP di sebuah rumah sakit milik pak jaya, elte sedang berbaring santai sambil menonton tayangan anime di TV.


"Ceklek" seperti itulah kira-kira suara gagang pintu di buka. Dari balik pintu tersebut, tunangan elte berjalan cepat menuju pembaringan. Di belakangnya masuklah pak jaya, bu yuyun dan bu yeyen.


"Sayang.... kau kenapa bisa terluka seperti ini, kenapa kau tidak menyembuhkan sendiri hidungmu." Yuni bertanya dengan nada khawatir.


Elte lalu menceritakan kronologis kejadian dengan suara sengau atau rhinolalia. Ia menjelaskan alasan dirinya belum bisa menyembuhkan luka dihidungnya. Ia tidak ingin membuat rian askar yang telah membelanya jadi terlihat konyol karena dianggap menangkap seseorang tanpa surat penangkapan dan tanpa bukti kejahatan.


Bu yeyen selaku dokter yang merawat elte menjelaskan bahwa dirinya telah melakukan visum dan memberikannya ke yuda dan beberapa polisi lainnya saat mengantar elte ke rumah sakit.


Elte memohon kepada pak jaya agar tidak membawa kasus ini sampai ke persidangan, cukup memberinya sedikit hukuman penjara selama beberapa hari. Ia juga mengatakan bahwa dirinya akan menyembuhkan hidungnya jika kasus ini sudah selesai.


Pak jaya kurang setuju dengan permohonan elte, ia menganggap tindakan kekerasan yang telah dilakukan oleh orang itu adalah tindak pidana. Melepaskan orang itu hanya akan membuat orang itu merasa kebal hukum dan akan terus bertindak semena-mena.


Elte setuju dengan pernyataan pak jaya, namun ia mengingatkan pak jaya agar memikirkan masa depan anak dan istri dari orang tersebut. Jika orang itu dinyatakan bersalah di persidangan maka nama baiknya akan rusak dan posisinya sebagai seorang sensei di sebuah dojo atau perguruan karate akan dipertaruhkan.


Setelah pak jaya berpikir sejenak, ia menyetujui permohonan elte dengan syarat jika orang itu atau keluarganya berinisiatif duluan datang sendiri dan meminta maaf.


Elte yang sudah mengenal sifat ayah angkatnya hanya bisa mengangguk setuju. Pak jaya sudah berpengalaman menghadapi beberapa tipe orang. Ayah kandung dari tunangannya sang prontagonis itu memiliki beberapa pengalaman buruk tentang sifat manusia. Jika kita berbuat jahat maka orang-orang akan membenci kita. Namun jika kita terlalu baik maka orang-orang akan memanfaatkan kita.


Pak jaya pernah membeli sebidang tanah untuk ia bangun tempat usaha. Namun karena saat itu modalnya masih kurang maka ia menunda pembangunan gedungnya. Beberapa masyarakat miskin menawarkan dirinya untuk menjaga tanah tersebut secara gratis dengan meminta ijin untuk menggunakan area tersebut sebagai area jualan. Pak jaya pun setuju dengan niat membantu masyarakat sekitar. Setahun kemudian modalnya sudah cukup dan ia berniat membangun gedung di tanah tersebut. Ia sangat terkejut saat menghadapi masyarakat yang berubah menjadi ganas karena tempat mereka mencari nafkah di gusur. Ia sangat kecewa dengan sifat masyarakat yang tidak tahu diri menuntut ganti rugi.


Pak jaya juga pernah menjadi donatur tetap di sebuah kampung dengan menyumbangkan bahan pokok seperti beras 25 kg, mie instan satu kardus, empat rak telur ayam, minyak kelapa dan beberapa lembar uang untuk beberapa kepala rumah tangga. Masyarakat kampung tersebut sangat berterima kasih dan mengelu-elukan pak jaya jika berkunjung ke kampung itu. Namun suatu waktu, usaha pak jaya merosot dan memutuskan untuk tidak menjadi donatur selama beberapa saat hingga usahanya kembali lancar. Namun sikap masyarakat sangat mengecewakan pak jaya. Mereka menganggap bahwa pak jaya kini pelit tidak membantu mereka, bahkan tidak sedikit masyarakat yang menyebarkan gosip jika pak jaya melakukan korupsi dengan tidak memberikan hak mereka seperti biasanya. Masyarakat kampung itu sudah keenakan dibantu tiap bulan sehingga menganggap bantuan itu menjadi hak mereka yang wajib pak jaya penuhi.


Selain dua kasus itu, sebenarnya masih banyak kasus-kasus lainnya yang lebih mengecewakan pak jaya. Pak jaya akhirnya lebih senang bersedekah melalui lembaga zakat milik pemerintah dari pada melakukan kontak langsung dengan penerima bantuan. Pak jaya lebih suka mengajari masyarakat memancing ikan dalam arti kiasan daripada langsung memberikan ikan tersebut ke masyarakat dalam arti kiasan. Pak jaya lebih suka menyumbang melalui tangan kanannya tanpa sepengetahuan tangan kirinya dalam arti kiasan.


Setelah berbicara beberapa menit bersama pak jaya dan keluarganya, mereka lalu ijin pamit meninggalkan elte. sang prontagonis sebenarnya merasa risih harus tinggal di rumah sakit, sepengetahuannya bahwa yang sakit cuma hidungnya, bukan kakinya. Ia merasa perlakuan bu yeyen sangat lebay dan berlebihan.


Beberapa saat kemudian, yuda dan beberapa perwakilan polisi seperti rian, dian, heri dan hera datang menjenguk elte dengan membawa beberapa buah-buahan.


Elte memohon kembali kepada para polisi agar tidak membawa kasus ini sampai ke persidangan, cukup memberinya sedikit hukuman penjara selama beberapa hari. Ia mengingatkan mereka agar memikirkan masa depan anak dan istri dari orang tersebut. Ia juga menceritakan tentang pandangan dan persyaratan dari pak jaya soal insiden tersebut.


Hera yang mendengar permohonan sang prontagonis hanya dapat menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Para polisi tidak menyadari alasan elte yang tidak ingin memperpanjang masalah tersebut. Selain karena kasihan dengan anak dan istri dari orang itu, ia juga ingin segera menyembuhkan hidungnya sendiri. Akan aneh jika saat persidangan nanti, hidungnya sudah sembuh dengan cepat.


Rian askar selaku pihak yang menangkap orang itu merasa jika pandangan pak jaya lebih logis dan masuk akal. Sangat tidak masuk akal elte yang sudah ditendang hingga tulang hidungnya retak malah tidak ingin pelaku tersebut di penjara. Ia menilai jika kelakuan elte hanya seperti para pemeran prontagonis dalam sinetron-sinetron di TV yang kebaikan dan kesabarannya lebih terlihat seperti penakut yang menjengkelkan dan bikin emak-emak yang nonton sering marah-marah. Rian askar lalu mengingat ibu angkatnya, istri dari almarhum yusuf abdi negara, suka marah-marah tidak jelas saat menonton salah satu dari sinetron dimana sang prontagonis adalah seorang istri yang sangat tabah menghadapi tetangganya yang sangat iri dan dengki hati.


"Jadi bagaimana hari minggu nanti... apakah latihannya di tunda" tanya dian askar kepada elte.


"Kebetulan saat diantar ke rumah sakit, guru BK di sekolah yang menjadi pelatih saat pertandingan tadi, memberitahukan kepadaku bahwa aku akan diberikan ijin sakit sampai akhir pekan. Jadi besok, kita bisa kembali melanjutkan latihan kita dari pagi hingga sore. Jadi hari minggu nanti aku harap kalian sudah punya pondasi untuk latihan di hutan." Jawab elte dengan suara sengau dan disambut dengan semangat oleh para polisi tersebut.


"Terus bagaimana dengan luka di hidungmu.... bukankah kau masih dalam kondisi cedera ?" Kata dian dengan nada khawatir.


Elte terdiam sejenak, setelah berpikir beberapa saat ia pun menjawab, "aku punya kenalan dengan seorang dokter yang menguasai pengobatan tradisional. Aku dengar ia sangat ahli mengobati patah tulang atau tulang retak."


Mendengar penjelasan elte, hera terdiam dan mengkerutkan keningnya. Setelah berpikir tentang kemungkinan dari sosok dokter yang dimaksud, hera lalu bertanya, "apakah dokter tersebut sudah berumur lanjut."


Elte yang hanya mencoba membuat alasan, sedikit panik, setelah diam sejenak ia menganggukkan kepalanya dua kali.


"Apakah dokter yang kau maksud adalah pak halim drajat" tanya hera yang penasaran.


Sang prontagonis terdiam, ia merasa pernah mendengar nama itu. Setelah berusaha membuka kembali memori ingatannya, ia lalu tersadar bahwa ia pernah mendengar nama itu saat di rumah pak gunernur.


"Apakah kau mengenal pak halim drajat" tanya elte ragu-ragu.


Wajah elte seketika menjadi merah karena malu. Melihat ekspresi wajah elte, para polisi hanya tersenyum gemes melihat pelatih mereka hanya bisa diam tidak berkutik.


"Jadi apakah memang pak halim drajat sebagai dokter yang kau maksud" tanya hera dengan penasaran.


"Eh... bukan-bukan.... bukan dokter itu tapi ada dokter lain yang juga ahli dengan pengobatan tradisional." Jawab elte sedikit panik.


"Apa perlu aku memanggil kakeknya diah untuk melihat kondisimu" kata hera dengan semangat. Ia sudah mendengar cerita temannya saat diselamatkan oleh elte dan besar kemungkinan jika elte adalah pemuda yang dicari-cari oleh keluarga diah.


"Eh... nggak perlu kok kak hera" kata elte memotong tawaran seniornya. Tanpa sadar hidungnya kembali berdarah karena tidak sadar menghembuskan nafas panjang lewat hidungnya.


Beberapa polisi terlihat panik dan segera memanggil dokter dan suster yang sedang siaga di ruang perawat dengan menggunakan alat Nurse Call.


Suster yang sedang siaga lalu segera ke ruangannya elte. Setelah mengetahui kondisi elte, ia lalu meminta para penjenguk agar pulang agar pasien dapat beristirahat. Suster itu pun lalu bergegas membuka perban di hidung elte dan memeriksa hidungnya.


Para polisi lalu ijin pamit setelah mendapatkan teguran dari suster untuk segera keluar. Setelah turun ke lobby yang ada di lantai satu, hera ijin untuk pergi sebentar ke toilet. Saat tiba di toilet wanita, hera lalu mengeluarkan smartphonenya dan menelpon teman dekatnya, diah sinta risanti.


"Iya... halo...." terdengar suara dari ujung telepon setelah beberapa kali panggilan.


"Halo... diah.... ada berita penting yang ingin gue beritakan kepada lo, gue harap berita yang akan gue beritakan ini, bisa menjadi berita penting buat lo" kata hera menjelaskan penjelasan yang ingin ia jelaskan.


"Eh.... kenapa lo... ngomong kok berputar-putar kayak odong-odong" balas diah yang ada di ujung telepon.


"Ya udah kalo nggak mau denger... gue matiin panggilan gue nih" kata hera menggoda temannya.


"Iihhhh.... apaan sih lo.... bikin penasaran aja.... ya udah, cepet sampaikan berita yang akan lo beritakan ke gue, yang katanya bisa menjadi berita penting buat gue." Kata diah sambil ikut-ikutan ngomong berputar-putar kayak odong-odong


Hera tertawa sejenak mendengar balasan dari temannya, setelah tertawa ia lalu mulai berbicara, "begini bosku... saat pertandingan tadi, elte cidera dan sekarang masuk ke rumah sakit.


"Apaa...." teriak diah kaget dan mengagetkan seluruh keluarganya yang kebetulan sedang ada di dekat diah.


"Diah.... apaan sih teriak-teriak bikin kaget saja" kata kakak sepupunya kesal sambil memegang dadanya mencoba menenangkan detak jantung yang sempat berdegup kencang.


Diah lalu meminta maaf kepada keluarganya lalu kembali bertanya ke teman dekatnya yang ada di ujung telepon, "Bagaimana ceritanya sampai bisa cidera.... bisa kau ceritakan detailnya."


Hera lalu menceritakan kronologis kejadian dari cideranya sang prontagonis saat mengikuti pertandingan karate di gedung pusat konvensi. Hera tentunya tidak lupa memberikan bumbu-bumbu cerita agar terdengar lebih dramatis dan menyedihkan. Diah yang hanya bisa mendengar cerita kronologis dari teman sebangkunya, menutup mulutnya yang sedang terbuka lebar karena terkejut. Keluarga diah seperti sang kakek, sang ayah, sang ibu, sang paman, sang bibi, sang kakak sepupu serta sang pembantu yang sedang mengintip tontonan sinetron di tv dari balik dapur, menjadi penasaran melihat ekspresi kaget dari diah sinta risanti.


Setelah mendengar cerita kronologis kejadian dari hera, ia pun lalu meminta nama rumah sakit dan nomor kamarnya. Diah juga diberitahukan oleh hera bahwa saat ini ia sedang mencari dokter pengobatan tradisional untuk menyembuhkan hidungnya yang cidera.


Setelah menutup teleponnya, hera kembali bergabung dengan kakaknya untuk kembali ke kantor polisi dan melanjutkan latihan mereka.


Diah yang juga menutup teleponnya lalu terdiam bengong setelah mendengar cerita dari hera.


"Diah... ada apa nak..... siapa yang tadi menelpon.... kenapa kau terlihat syok seperti itu" tanya ibunya diah dengan khawatir.


"Bu.... apa ibu ingat dengan pemuda yang telah menolong saat mobil kita mogok... pemuda yang telah menolong kakek saat sekarat.... pemuda yang telah menolongku dan kak ardha dari percobaan pemerkosaan ?" Kata diah dengan tatapan kosong karena syok.


Sang kakek, sang ayah, sang ibu, sang paman, sang bibi dan sang kakak sepupu menganggukkan kepalanya dan berminat mendengar kelanjutan penjelasan diah.


"Tadi yang nelpon hera bu.... ia bilang kalo pemuda itu saat ini sedang cidera saat pertandingan karate tadi siang." Kata diah yang membuat semua yang ada di sekitat situ terkejut kecuali sang pembantu yang masih asyik menonton dari balik dapur tanpa peduli dengan cerita diah karena sinetron telenovela kesukaannya sudah mulai kembali setelah tayangan iklan.


Diah sinta risanti kemudian menceritakan kronologis kejadian tersebut sesuai dengan cerita temannya lengkap dengan bumbu-bumbu dramatisnya. diakhir cerita diah menyampaikan pesan hera tentang keinginan elte yang ingin mencari dokter pengobatan tradisional.


Salim wicaksana yang juga ayah dari ardha pitaloka dan paman dari diah sinta risanti serta anak dari halim drajat dan juga kakak dari Surya chandra merasa kesal mendengar kelakuan pelatih yang telah melukai dan menciderai pemuda yang telah menyelamatkan ayahnya, anaknya dan keponakannya.


Sang pembantu ikut menyimak kembali respon dari keluarga diah karena tayangan sinetron kesayangannya kembali dipotong oleh iklan sponsor.


Anak dari halim drajat yang juga bekerja sebagai hakim itu menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan pelatih itu adalah tindak pidana kekerasan dan penganiayaan terhadap orang yang dilakukan di muka umum, hal tersebut diatur dalam Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) ayat dua yang berbunyi sebagai berikut, Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. Dan jika pelatih itu melakukan pengeroyokan maka akan dikenakan tindakan pidana yang diatur dalam Pasal 170 KUHP ayat satu yang berbunyi sebagai berikut, Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.


Ibunya ardha lalu menenangkan suaminya dan meminta pendapat mertuanya. Sang kakek terdiam sejenak dan berkata, "aku akan segera menjenguk pemuda itu saat ini juga siapa yang mau ikut"


Diah mengangkat tangannya agar dapat ikut menemani kakeknya. Ardha lalu ikut mengangkat tangannya. Ayah dan ibu diah juga ikut mengangkat tangannya menemani anaknya. Ayah ardha yang masih kesal dengan cerita ponakannya ikut mengangkat tangannya dan ingin membantu pemuda tersebut. Ibunya ardha juga ikut mengangkat tangannya mengikuti suaminya. Sedang sang pembantu mulai tersenyum licik memikirkan suatu rencana.


Halim drajat dan seluruh keluarganya lalu ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap-siap. Setelah mereka semuanya sudah siap, mereka pun menuju ke rumah sakit dengan sebuah mobil yang dapat menampung tujuh penumpang dan seorang supir. Mereka menyempatkan diri untuk membeli buah-buahan untuk pemuda itu.


Melihat kepergian tuan rumahnya sekeluarga, sang pembantu yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dari balik dapur segera beranjak ke ruang tengah dengan senyum liciknya. Ia sempat memeriksa kondisi di luar memastikan tian rumahnya telah jauh pergi meninggalkan rumah. Setelah yakin, sang pembantu itupun duduk dikursi sofa depan TV lalu menyalakan kembali TV tersebut dengan menggunakan remote TV. Sang pembantu itupun melanjutkan kembali menonton sinetron kesayangannya sambil berbaring menguasai sofa dan TV. Beberapa saat kemudian, sang pembantu itupun tertidur nyenyak di depan TV yang masih menampilkan adegan wanita yang sedang menangis dalam doanya karena difitnah oleh tetangganya yang iri dengki.


Saat halim drajat dan keluarganya telah tiba di rumah sakit, ia segera menuju ke ruang informasi. Setibanya di ruang informasi, diah sinta risanti melihat guru matematikanya dan sembilan orang mahasiswa sedang bertanya di ruang informasi. Gadis manis itu mendengar sang guru matematikanya menanyakan kamar pasien bernama elte. Diah lalu menyapa gurunya dan menyampaikan tujuan mereka juga ingin menjenguk sang prontagonis. Mereka pun bersama-sama menuju kamar elte.


Saat tiba di lantai yang mereka tuju. Suster yang sedang siaga di ruang perawat menegur para penjenguk agar menjenguk pasien tidak bersamaan. Sang suster membatasi maksimal empat orang untuk tiap kali menjenguk ke dalam kamar pasien. Itu adalah kebijakan rumah sakit tersebut.


Empat orang pertama dan yang kedua adalah pihak mahasiswa yang dibimbing oleh elte. karena waktu tunggunya lumayan lama, halim drajat lalu menelpon koneksinya, salah seorang direktur di rumah sakit tersebut. setelah mendengar tujuan sahabat lamanya, sang direktur lalu menelpon suster yang bertugas untuk memberikan kebijakan, sehingga seluruh keluarga halim drajat dan guru matematika beserta anaknya dapat masuk bersamaan pada antrian berikutnya.


Setelah keempat orang mahasiswa itu keluar, maka selanjutnya, kesembilan orang yang belum menjenguk itu pun mengetuk pintu dan memasuki kamar VIP tempat elte di rawat.