
Saat melihat respon para tamu terhadap lagu yang ia bawakan, dudung semakin semangat menyanyikan lagu kesukaannya sejak masih kecil. Ia lalu menutup matanya agar terlihat menghayati namun karena lirik dan nada pianonya makin kacau, dudung kembali membuka matanya sedikit untuk mengintip lirik lagu dan nada piano di smartphonenya. Para tamu menduga penghayatan dudung sebagai upaya berkonsentrasi menghapal lagu dan nada piano.
Melihat wajah tunangannya yang sudah tidak tenang menghadapi polusi suara yang menyerang tiba-tiba, elte lalu mengajak yuni untuk keluar aula ke samping teras rumah sakit tradisional milik kakeknya diah sinta risanti.
"Bagaimana.... sehat.... " tanya elte khawatir melihat kondisi tunangannya.
Yuni mengangguk kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.
Setelah tawanya mereda, ia lalu berkata, "pasti kau kan yang meminta MC untuk memanggil dudung ke atas untuk menyanyi"
Elte hanya tersenyum melihat tawa manis dari tunangannya. Ia membelai kepala yuni dan berkata, "aku hanya ingin membalas aksinya yang berniat mempermalukanku."
Mereka lalu terdiam sejenak sambil duduk di kursi panjang yang ada di teras rumah sakit tradisional milik pak halim drajat.
Mereka melihat suasana teras rumah sakit tersebut begitu asri dan terlihat sederhana namun elegan. Disekitar teras tersebut, terdapat taman kecil berisi rumput hijau dan beberapa bunga seperti bunga mawar, bunga melati, bunga anggrek, bunga lili dan bunga matahari. Di dalam pagar rumah sakit tersebut, terdapat sebuah kolam ikan yang sedikit memanjang mengikuti jalanan berlantai keramik tempat bagi para pengunjung untuk berjalan menuju ruang informasi. Di dalam kolam tersebut, terdapat beberapa ikan koi jenis kohaku yang memiliki warna dasar putih dan corak merah besar di atasnya, ikan koi jenis sanke yang memiliki warna dasar putih yang dikombinasikan dengan pola warna merah dan hitam, dan ikan koi jenis showa yang memiliki warna dasar putih yang dikombinasikan dengan pola warna putih dan merah yang menutupi warna dasar hitam.
"Elte.... boleh aku bertanya sesuatu" kata yuni kepada tunangannya.
Sang prontagonis lalu melihat tunangannya dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku pernah mendengar bahwa sebuah lagu memiliki arti atau makna atau sebuah pesan di dalam lirik dan nadanya sebagai ungkapan untuk memberitahukan hal baik atau buruk kepada pendengar tentang suatu kejadian dalam hidup sehari-hari. Apakah elte memiliki alasan mengapa memilih lagu 'memories' yang liriknya mengandung rasa kehilangan seseorang. Bukankan ini acara pesta ulang tahun, seharusnya lagu 'All of me' biar lebih kerasa, tapi lagu itu mah untuk pernikahan ya... hehehe.... atau lagu 'perfect' juga bagus."
Elte hanya tetap tersenyum mendengar pertanyaan dari tunangannya. Ia lalu menatap ke depan melihat taman dan menghembuskan nafasnya sejenak, ia lalu mulai berbicara, "Dulu sewaktu aku masih kecil saat kedua orang tua kandungku masih hidup, aku sering diajak oleh mereka untuk menghadiri undangan pesta pernikahan atau pesta ulang tahun temannya."
Yuni menatap mata tunangannya karena sebelumnya ia tidak pernah mendengar elte bercerita tentang masa kecilnya. Tunangannya itu adalah sosok pendiam yang hanya berbicara seperlunya saja. Pemuda yang telah merebut hatinya sejak masih kecil itu memiliki sikap yang sangat lembut dan perhatian walaupun kadang menjadi sangat tegas dan keras jika dirinya diperlakukan semena-mena. Namun ia tahu bahwa tunangannya memang sudah bertekad tidak ingin di bully lagi seperti waktu di SD.
"Ada salah satu acara pesta ulang tahun yang mereka hadiri dan sangat berkesan di hati dan pikiranku. Di acara pesta ulang tahun tersebut, kedua orang tuaku hendak dipermalukan oleh rekan kerjanya sesama guru dan juga teman sekolahnya dulu saat SMA. Orang itu menyuruh sang MC agar mengundang kedua orang tuaku naik ke atas panggung untuk memainkan sebuah musik sebagai persembahan bagi para tamu undangan."
"Atas desakan para tamu, kedua orang tuaku lalu menitipkanku yang masih kecil saat itu ke teman dekat mereka dan naik ke atas panggung dimana telah disediakan beberapa alat musik klasik dari keluarga biola seperti violin, viola, cello dan double bass, alat musik klasik yang ditiup seperti brass (sejenis terompet) dan flute (sejenis suling) dan alat musik klasik lainnya seperti Flamenco (sejenis gitar) dan Organ atau orgel (sejenis piano). Kedua orang tuaku hanya dapat menggelengkan kepalanya karena menyadari niat buruk teman kerjanya yang masih menyimpan dendam akibat kalah bersaing dalam memperebutkan cinta dan kasih sayang dari seorang wanita yang kini menjadi ibu kandungku. "
Elte menceritakan pengalamannya tentang kedua orang tuanya yang ingin dipermalukan oleh rekan kerjanya sendiri yang bekerja sama dengan pemilik pesta. Mereka menggunakan uang tabungan mereka untuk menyewa beberapa alat musik klasik yang cukup mahal dan cukup sulit digunakan agar kedua orang tua elte kesulitan menggunakannya. Yuni mengkerutkan keningnya dan kedua bibirnya cemberut karena kesal mendengar almarhum dari calon mertuanya akan dipermalukan.
Elte lalu melanjutkan ceritanya, "Kedua orang tuaku sempat berdiskusi sejenak dan kemudian ayahku berjalan menuju ke alat musik klasik piano orgel sedang ibuku mengambil alat musik violin sejenis biola dengan ukuran paling kecil. Tidak lama kemudian aku mendengar sebuah alunan musik yang sangat indah. Kata orang tuaku bahwa musik yang mereka bawakan berjudul Canon In D Major yakni salah satu karya klasik yang berhasil diciptakan oleh Pachelbel di zaman Barok Eropa. Musik yang sama dengan musik yang barusan aku mainkan dengan bantuan nada tuts piano dari internet di smartphone."
"Jadi kau menyanyikan lagu memories karena nadanya mirip dengan nada musik klasik itu ya ?" Tanya yuni yang mulai paham alasan elte memilih lagu tersebut.
Elte yang mendengar pertanyaan dari tunangannya hanya bisa kembali menghembuskan nafasnya. Ia lalu menganggukan kepalanya dan berkata, "Iya kau benar.... pengalaman masa kecilku tentang musik klasik itu adalah salah satu alasanku memilih lagi memories."
"Salah satu alasanmu ?... apakah masih ada alasan lain kau memilih lagu yang berjudul memories ? Apakah kau masih merasa kehilangan atas kepergian kedua orang tuamu?" Kata yuni sambil mengelus punggung tunangannya karena ingin memberikan semangat.
"Hhmmm..... memang sangat menyedihkan jika kita kehilangan orang yang kita yang sayangi karena ketidakmampuan kita melindunginya.... namun.... ternyata juga.... cukup menyesakkan jika kau kehilangan orang karena keteledoranmu" kata elte sambil mengambil tangan tunangannya dan menepuk-nepuk punggung tangan tunangannya yang tadi mengelus punggungnya.
"Apa maksud perkataanmu, aku kurang bisa memahaminya." Kata yuni sambil mengkerutkan keningnya karena khawatir.
"Saat aku ke rumah kak hera, aku bertemu dengan keluarga yang telah mengangkat kak hera beserta saudara kandungnya menjadi anak asuh. Kini kepala rumah tangga keluarga itu beserta salah satu kakak kandung hera telah tiada." Kata elte sambil melihat ke langit malam yang tinggi.
"Dan apa hubungannya dengan perkataanmu barusan" kata yuni masih penasaran.
"Jadi menurutmu lagu memories telah mengingatkanmu dengan kenanganmu bersama orang tuamu dan lagu itu juga mengingatkanmu akan kematian rekan kerjanya kak yuda" kata yuni menyimpulkan cerita dari tunangannya. Elte mengangguk dan membenarkan kesimpulan yuni.
"Sayangku..... orang-orang bijak pernah berkata, Seiring dengan kekuatan yang besar, datang juga tanggung jawab yang besar. Semakin tinggi pohonnya, semakin kencang angin berhembus. Jadilah seperti batu karang yang dihantam ombak, batu karang itu terus berdiri tanpa bergerak dan ombak masih terus menghantamnya. Setelah kehilangan, manusia tumbuh lebih rendah hati dan lebih bijaksana. Banyak yang berpikir mereka harus lebih kuat sebelum mereka mengambil langkah berikutnya, tetapi kenyataannya adalah, kita harus mengambil langkah berikutnya sebelum menjadi lebih kuat. Berdoalah bukan untuk beban yang lebih ringan, tetapi untuk bahu yang lebih kuat. Kekuatan sejati adalah keberanian untuk mengakui kelemahan kita. Tidak mungkin meningkatkan diri sendiri ketika kita melihat diri kita sebagai korban dalam setiap situasi."
"Aku mungkin tidak bisa mengubahmu menjadi lebih baik, tapi aku berharap, aku bisa menjadi alasan agar kamu menjadi lebih baik."
"Sesungguhnya, orang-orang yang berani mengambil resiko besar dalam hidup mereka, adalah orang-orang yang tidak takut mengambil resiko besar dalam hidup mereka"
Yuni berusaha memberikan semangat dan motivasi untuk tunangannya walaupun kebanyakan kalimat-kalimat tersebut ia kutip dari film-film di tayangan TV yang pernah ia tonton sebelumnya.
Elte merasa tergugah dengan seluruh kalimat motivasi dari tunangannya. Ia lalu kembali membelai kepala tunangannya, kemudian ia berkata dengan lembut, "sayang terima kasih atas motivasimu, aku merasa lebih baik.... apakah nanti saat pulang kita bisa mengantar kak hera ke rumahnya ? Ada hal yang ingin aku konsultasikan ke kak dian, kak rian dan kak heri."
"Boleh saja sayang.... namun apakah bisa aku mengetahui masalah yang ingin kau diskusikan ? Aku khawatir kalau kau tertarik dengan kak hera dan ingin mencari tahu lewat saudaranya" kata yuni sambil memonyongkan bibirnya yang cemberut.
"Hahahahaha.... kau lucu sekali sayang, untuk apa aku mengkhianati wanita sempurna sepertimu" kata elte sambil tertawa melihat tunangannya yang bermuka cemberut dan kening berkerut.
"Hhmmmm.... sayang, seberapa besar cintamu kepadaku" tanya yuni kepada tunangannya.
Elte diam sejenak berpikir lalu berkata, " Cintaku ke kamu,... seujung kuku..."
Yuni terperanjat kaget dan kesal mendengar jawaban dari tunangannya, "Lhoo kok cuma seujung kuku...??!!"
Elte tersenyum kembali melihat ekspresi tunangannya yang makin terlihat imut karena mulutnya cemberut dan keningnya mengkerut, ia lalu menjelaskan maksud perkataannya, "Sebentar sayang... jangan ngambek begitu dong.... Kalo cowok-cowok lain mungkin akan bilang kepada kekasihnya kalau cintanya setinggi gunung dan sedalam lautan.. tapi aku tidak... karena menurutku gunung bisa runtuh dan lautan bisa kering, tapi kuku ini, biar dipotong habis juga pasti tumbuh lagi... seperti cintaku padamu, takkan pernah habis..."
"Kadang aku pernah bingung juga, kok aku kadang bisa senyum-senyum sendiri. Namun aku baru tersadar kalau aku lagi mikirin kamu. Tahu nggak... saat Tuhan menciptakan kecantikan, DIA membagi kecantikan itu menjadi dua, satu untuk dirimu dan sisanya untuk dibagi-bagi lagi ke wanita yang lain."
Yuni makin merasa terbang dengan rayuan gombal dari tunangannya. Ia lalu berdiri dan menarik tangan tunangannya dan berkata, "Sudah ah... gombal melulu... tumben.... yuk kembali ke dalam, sepertinya dudung sudah selesai menyebar polusi suara di dalam gedung aula."
Mereka pun kembali ke dalam ruangan aula dimana acara pesta ulang tahun masih berlangsung dengan suasana tegang karena dudung berencana melanjutkan lagunya yang kedua. Dudung merasa senang dirinya tidak diinterupsi seperti dulu saat berkaraoke bersama temannya. Ia berpikir jika para tamu menyukai suaranya apalagi tadi banyak tamu yang merekam aksinya menyanyi.
Sang MC bergegas ke atas panggung dan merebut mikrofon yang ada di atas piano, ia lalu mengucapkan banyak terima kasih atas persembahan lagu dan musik dari dudung. Namun ia minta maaf jika tamu yang bernyanyi hanya dijatah satu lagu persembahan sesuai perintah dari yang punya acara karena ditakutkan acara pesta ulang tahunnya akan molor dan susunan acara jadi tidak karuan.
Sang MC hanya dapat bernafas lega melihat diah dan ardha terus menganggukkan kepalanya pertanda mereka sangat setuju dengan tindakan sang MC yang telah menyelamatkan mereka serta tamu undangan.
Dudung pun menerima alasan sang MC dan tidak ingin membuat pesta acara ulang tahun dari salah satu gadis pujaannya jadi tidak karuan. Ia tidak ingin teman-teman sekolahnya terlambat pulang ke rumah dan terlambat tidur sehingga besok pagi mereka terlambat bangun lalu terlambat masuk sekolah.
Dudung sangat tidak suka dengan orang-orang yang suka terlambat walaupun dirinya juga sering ngaret. Ngaret berasal dari kata dasar karet yang digunakan oleh kalangan anak muda untuk menggambarkan sesuatu yang melar atau molor dari waktu yang telah direncanakan. Kata ini kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak tepat waktu. Dudung memaklumi dirinya yang selalu ngaret karena menurutnya bahwa orang-orang ngaret adalah orang-orang on time yang tersakiti.
Dudung lalu turun dari panggung dan kembali ke tempat duduknya, beberapa tamu pria tersenyum dan berterima kasih kepada dudung atas aksinya tersebut. Dudung merasa sangat terharu dan bahagia menerima ucapan terima kasih dari para tamu tersebut. Ia tidak menyadari bahwa para tamu tersebut sangat senang karena video live streaming yang barusan mereka unggah ke media sosialnya termasuk aplikasi wetube kini penuh dengan jumlah view dan comment dari para netizen.
Dudung lalu melirik ke arah elte dan tersenyum mengejek karena saat elte turun dari panggung, tidak ada satupun tamu undangan yang mendatanginya dan mengucapkan ucapan terima kasih seperti dirinya.
Sang murid mesum itu pun lalu iseng membuka smartphonenya dan membaca media sosialnya. keningnya berkerut karena saat ini teman-temannya didunia maya sedang membahas dua buah video yang sedang viral dan trend saat ini. Ia pun mencoba membuka link wetube dari kedua video tersebut, namun sayangnya, belum sempat situs video itu muncul ke layar, smartphonenya tiba-tiba mati karena sudah lowbatt. Ia pun memutuskan untuk menontonnya besok pagi setelah smartphonenya di charger full.