
Detak jantung dari siswi yang berparas cantik dengan campuran cina, arab dan india, berdetak dengan sangat cepat. Ia sangat dilema di atas kursinya di dalam kelasnya. Ia sangat ingin menghampiri pemuda yang pernah menolongnya dari kasus percobaan pemerkosaan yang hampir menimpanya. Sedari tadi ia mondar-mandir di depan kelasnya dan di depan kelas pemuda itu sambil mengintip ke dalam mencari sosok pemuda yang kini membuat hidupnya tidak tenang. Ia sangat khawatir dan penasaran mengapa pemuda yang pernah melihat kem**uannya di toilet saat MOS belum juga menampakkan batang hidungnya.
Diah Sinta Risanti sangat ingin menanyakan keberadaan elte kepada yuni, namun dengan mengetahui posisi wanita itu sebagai tunangan dari pemuda yang selalu membuatnya gelisah, ia menjadi ragu dan merasa frustasi. Siswi kelas dua itu juga sedari tadi menunggu teman dekatnya untuk menemaninya bertanya ke yuni. Namun batang hidung dari hera iskandar belum terlihat sedari tadi.
Karena tidak tahan diterpa perasaan gegana atau gelisah, galau, merana, diah lalu memutuskan untuk menelpon sahabat baiknya.
"Iya halo diah, ada apa nih.... tumben lo nelpon pagi-pagi ke handphone gue" terdengar suara hera iskandar dari ujung teleponnya.
"Eh lo dimana sekarang.... ini sudah jam berapa lo belum nongol di sekolah" kata diah dengan kesal.
"Weits... santai bosku... gue kemarin udah minta ijin tidak masuk sekolah dengan alasan ada tugas latihan di kantor polisi.... kebetulan kakak gue mau diajak kerja sama membuat surat ijin" kata hera yang membuat kening diah berkerut.
"Eh lo ngapain ijin kagak masuk sekolah.... udah belajar bandel lo ya" kata diah khawatir dengan perilaku sahabat baiknya.
"Gini bosku... hari ini elte ditunjuk oleh guru BK untuk mewakili sekolah di pertandingan karate. Gue dan semua para polisi yang dilatih oleh elte sepakat mau menonton acara pertandingannya sebagai bentuk pelatihan kami." Jawaban hera membuat mata indah diah membulat karena terkejut.
"Oohhh.... gitu ya.... acaranya dimana nih.... share location dong di chat gue.... nanti gue mau pura-pura sakit supaya bisa pergi nonton." Kata diah dengan semangat.
"Waduh... jangan bosku... udah belajar bandel ya... hahahahahah" hera terkejut mendengar niat sahabatnya yang ingin bolos padahal selama ini ia terkenal selalu mengikuti aturan dan tata tertib sekolah.
Wajah diah seketika memerah saat menyadari niatnya, ia menjadi bingung kenapa akhir-akhir ini antara mulut, pikiran dan perasaannya tidak pernah akur dan sinkron ketika berurusan dengan pemuda yang telah menolongnya dari aksi bejat para penjahat yang hampir merebut kehormatannya.
"Ah sudah ya.... gue mau masuk ke kelas.... mau belajar dulu" kata diah lalu segera menutup handphonenya tanpa ijin pamit. Hera yang baru melihat aksi kocak sahabatnya hanya merasa gemes. Jauh di lubuk hatinya, ia juga sebenarnya mulai menyukai sang prontagonis, namun kehidupan masa kecilnya sebagai anak yatim piatu yang diasuh oleh almarhum ayah angkatnya serta tanggung jawabnya menjaga istri dan ketiga anak dari almarhum ayah angkatnya, membuatnya bersikap lebih dewasa dan realistis. Ia menyadari rasa sukanya ke elte hanyalah rasa kagum dan simpatik saja.
Sementara itu di gedung pusat konvensi, suasana di dalam dan di luar gedung sangatlah meriah. Di sekitar gedung telah berjubel dengan rapi, para penjual dadakan yang menggelar dagangannya. Ada makanan, minuman, pakaian, oleh-oleh dan berbagai merchandise lainnya. Baliho dan spanduk besar bertemakan Olimpiade Pendidikan Nasional, terpampang dan tergantung hampir di setiap penjuru gedung.
Elte yang telah berada di gedung pusat konvensi mengamati suasana sekitar dan mengingat pengalamannya saat mengikuti olimpiade fisika kimia yang ada di episode tiga puluh empat. Ia bisa melihat ada banyak perubahan fisik pada gedung tersebut.
Gedung itu kini memiliki jumlah lantai sebanyak enam lantai. Lantai satu dan lantai dua kini digunakan sebagai tempat berdirinya stand-stand pameran dari berbagai universitas dan politeknik yang telah diatur rapi sehingga masyarakat dapat mengelilingi setiap stand dengan nyaman.
Lantai tiga dan lantai empat kini digunakan sebagai tempat menonton pertandingan olahraga. Di lantai-lantai tersebut, terdapat kursi-kursi podium yang berjejer mengelilingi lapangan menyerupai tangga teater bioskop. Untuk di lantai tiga, lapangan dibagi menjadi tiga wilayah yakni untuk lapangan futsal, lapangan basket dan lapangan bulu tangkis. Sedangkan untuk di lantai empat, lapangan dibagi menjadi tiga wilayah yakni dua lapangan pertandingan kumite karate dan sebuah lapangan untuk lomba peragaan kihon dan Kata karate.
Lantai lima digunakan untuk lomba olimpiade matematika, fisika dan kimia serta debat bahasa inggris. Di lantai lima di buat sekat-sekat dinding sebagai pembatas ruangan lomba. Tiap lomba terdiri dari tingkat SD, SMP dan SMA. Sedangkan di lantai enam digunakan untuk perlombaan Wireless Fighting Robot Contest antar universitas dan Politeknik. Di lantai tersebut terdapat empat panggung yang dapat dibongkar pasang dengan tiap lapangan memiliki dinding kaca dan kawat pelindung setinggi satu meter. Di sekitar lapangan terdapat kursi yang di tata rapi untuk para penonton.
Adapun ruang administrasi gedung terdapat di tiap lantai dan berada diantara dapur dan mushollah. Disamping musholleh terdapat dua buah toilet untuk pria dan wanita. Diantara ruang administrasi dan mushollah terdapat lift dan tangga darurat yang dapat digunakan untuk menghubungkan tiap lantai.
Elte yang masih menikmati suasana gedung dengan melihat-lihat jajanan dari penjual dadakan, mendapatkan panggilan telepon dari guru BKnya. Ia lalu disuruh untuk naik ke lantai empat untuk persiapan.
Setelah tiba di lantai lima dengan menggunakan lift, elte diarahkan masuk ke ruang administrasi yang sedang digunakan untuk tes fisik seperti mengukur tekanan darah, tinggi dan berat badan. Di ruang administrasi tersebut terdapat sekat yang membagi dua ruangan untuk pemeriksaan atlit pria dan atlit wanita. Dari hasil tes pemeriksaan tersebut, atlit akan di kategorikan berdasarkan tiga kategori yakni kataegori usia, kategori berat dan kategori jenis kelamin.
Untuk kategori usia ada empat kategori yakni kategori usia kadet 14 dan 15 tahun, kategori usia junior 16 dan 17 tahun, kategori di bawah 21 tahun yakni usia 18, 19 dan 20 tahun serta kategori usia senior di atas +16 tahun.
Untuk pertandingan Kadet terbagi atas kategori kadet Kata Perorangan Putra dan Putri; kategori kumite putra : –52 Kg, –57 Kg, –63 Kg, –70 Kg, dan +70 Kg.; Serta kategori kumite kadet Putri : –47 Kg, –54 Kg, dan +54 Kg.
Untuk pertandingan junior terbagi atas kategori Junior Kata Perorangan dan Kata Beregu Putra dan Putri; kategori kumite putra : –55 Kg, –61 Kg, –68 Kg, -76 Kg, +76 Kg.; serta kumite junior putri: –48 Kg, –53 Kg, –59 Kg, dan +59 Kg.
Untuk pertandingan dibawah usia 21 tahun terbagi atas kategori Kumite Putra : –68 Kg, -78 Kg, +78 Kg.; serta kategori Kumite Putri –53 Kg, –60 Kg, dan +60 Kg.
Untuk pertandingan senior terbagi atas kategori Kata Perorangan & Beregu Putra & Putri; kategori kumite Putra –60 Kg, –67 Kg, –75 Kg, –84 Kg, dan +84 Kg.; serta kategori kumite Putri terdiri atas : –50 Kg, –55 Kg, –61 Kg, –68 Kg, dan +68 Kg.
Setiap peserta wajib menggunakan hand protector (pelindung tangan), shin guard (pelindung tulang kering) dan gumshield (pelindung gigi). Pada kategori Kadet pertandingan kumite wajib menggunakan Face Masker (pelindung wajah) dan Body Protector (pelindung badan) serta Groin Protector (pelindung kelamin).
Waktu pertandingan kumite untuk Kadet, Junior dan Under 21 tahun durasinya dua menit (putra/putri). Waktu pertandingan kumite senior meliputi: babak penyisihan durasinya tiga menit untuk putra dan dua menit untuk putri, pada babak final memperebutkan juara satu dan dua serta final reperchange memperebutkan juara tiga durasinya empat menit untuk putra dan tiga menit untuk putri.
Elte melihat sebuah timbangan digital yang telah dikalibrasi dan terhubung ke sebuah komputer dan sebuah layar monitor LCD 50 inch dengan tampilan biodata dan berat peserta yang sedang diukur.
Ketika giliran elte untuk mengukur tinggi dan berat badan, elte pun naik ke atas timbangan digital dan melihat layar monitor menampilkan biodata dan fotonya. Elte menduga bahwa data profil dan fotonya diurus oleh sang guru BK. Ia melihat tingginya sekitar 176 cm dengan berat badan 70 Kg. Menurut petugas medis yang mendampingi panitia bahwa nilai IMT nya sebesar 22,6 dan dengan umur elte sekitar empat belas tahun maka standar penilaian gizinya masuk dalam kategori lelaki normal yaitu diantara 15,6 hingga 25,8 IMT. Panitia lalu memilih Pertandingan Kadet untuk kategori kumite putra +70 Kg pada pilihan yang ada di Listbox Kategori di tampilan monitor.
Elte mendongak ke atas dan melihat sebuah sensor ultrasonik yang dapat mengukur jarak objek. Elte memastikan bahwa sensor jarak itulah yang telah mengukur tinggi badan atlit dengan cara menghitung selisih jarak saat tidak ada atlit dan jarak saat atlit sedang berada di atas timbangan.
Setelah melakukan pemeriksaan fisik, elte lalu diajak oleh guru BKnya untuk mengenakan seragam Karate berwarna putih. Elte sempat menanyakan tentang warna sabuk yang akan ia kenakan. Sepengetahuannya bahwa dalam karate ada delapan tingkat atau posisi dalam karate yang ditentukan oleh warna sabuk yakni Sabuk putih, Sabuk kuning, Sabuk hijau, Sabuk biru muda, Sabuk biru tua, Sabuk ungu, Sabuk coklat (strip 1-3), dan Sabuk hitam (Dan 1-11).
Menurut penjelasan guru BK bahwa dalam pertandingan hanya ada dua warna sabuk atau ikat pinggang atau obi yang digunakan yakni sabuk merah atau AKA dan sabuk biru atau AO.
Elte lalu disuruh duduk menunggu gilirannya bertanding. Sambil menunggu gilirannya ia mengamati suasana lapangan yang digunakan dalam pertandingan. Tiap lapangan terbuat dari matras pertandingan yang terbagi atas tiga jenis warna. Warna putih adalah area bebas bagi kontestan untuk bertanding (Luas 8 x 8 meter). Warna biru merupakan batas peringatan atau garis jogai. Warna merah merupakan garis tempat juri berada, pada peraturan yang baru juri harus berada diluar garis merah dan wasit pun ketika pertandingan berjalan sebelum jatuh poin mobilitasnya berada digaris merah. Luas total Matras adalah 10 x 10 meter.
Selain lapangan arena, elte juga mengamati fasilitas pertandingan serta para panitia dan tim penilai. Ia melihat dua buah LCD monitor terpasang di ujung lapangan. Karena ada tiga lapangan yang digunakan maka total LCD monitor ada enam buah.
LCD monitor tersebut digunakan sebagai pengganti papan scoring yang dioperasikan oleh seorang operator untuk tiap lapangan. Operator tersebut menggunakan sebuah laptop yang terhubung dengan dua buah monitor tersebut dengan bantuan HDMI Splitter dan mode extended. Operator akan menginput nilai score sesuai dengan kode dari wasit atau shushin. Wasit akan menilai pertandingan dengan bantuan empat juri atau fukushin yang duduk mengamati pertandingan di tiap ujung lapangan.
Nilai score terbagi atas tiga kategori yakni Sanbon yang bernilai tiga poin. Waza-ari yang bernilai dua poin dan Ippon yang bernilai satu poin. SANBON diberikan untuk teknik seperti Tendangan Jodan (atas) maupun teknik yang dapat menjatuhkan lawan seperti membanting, mendorong sambil mengaitkan kaki, atau lawan yang jatuh sendiri. WAZA-ARI diberikan untuk teknik seperti Tendangan chudan (tengah) seperti Maegeri (tendangan ke depan) atau Mawashi (tendangan ke samping). Dan IPPON diberikan untuk teknik seperti Chudan (tengah) atau Jodan tsuki (pukulan atas) serta Uchi (sentakan)
Selain ketiga score di atas, peserta juga dapat terkena hukuman jika melakukan pelanggaran yakni pelanggaran dengan kategori C1 yakni Melakukan teknik serangan sehingga menghasilkan kontak yang kuat dan keras, walaupun serangan tersebut tertuju pada daerah yang diperbolehkan. Selain itu dilarang melakukan serangan ke arah bagian vital seperti tenggorokan, persendian, atau pangkal paha. Melakukan sebuah serangan kearah muka dengan teknik serangan tangan terbuka. Dan yang terakhir melakukan teknik melempar atau membanting dengan cara terlarang dan dapat membahayakan atau mencederai lawan.
Ada juga pelanggaran dengan kategori C2 yakni berpura-pura atau terlalu lebay melebih-lebihkan cidera yang dialami; Berulangkali keluar arena (Jogai); Membahayakan diri sendiri (Mubobi) dengan membiarkan dirinya atau tidak memperhatikan keselamatan diri, atau tidak mampu menjaga jarak yang diperlukan untuk melindungi diri; Merangkul (memiting), bergulat, mendorong dan menangkap lawan serta mengadu dada yang berlebihan dengan tanpa mencoba untuk melakukan teknik serangan; Melakukan teknik alamiah yang tidak dapat dikontrol; Melakukan serangan secara bersamaan dengan kepala, lutut, sikut; Berbicara kasar atau tidak pantas kepada wasit ataupun lawan, serta melanggar etika karate.
"Elte.... sekarang kau bersiap-siap, tadi ada panitia memberitahukan bahwa setelah pertarungan di atas maka selanjutnya adalah giliranmu." Kata sang guru BK yang saat itu berubah fungsi menjadi pelatih.
Guru BK tersebut lalu menyerahkan sabuk berwarna biru, hand protector, shin guard, gumshield, Face Masker, Body Protector dan Groin Protector. Setelah mengenakan kelengkapan tersebut, elte lalu menuju arbitrator atau kansa yakni orang yang bertugas memeriksa kelengkapan kontestan diawal pertandingan.
Elte melihat selain tiga meja operator, terdapat juga tiga meja tim medis yang siaga mengikuti pertandingan. Selain itu juga terdapat sebuah meja untuk Tatami Manager yakni sekumpulan Pengawas dalam pertandingan yang terdiri dari para wasit senior sesuai grade sertifikasinya dan bertugas untuk mengatur rotasi, menunjuk wasit dan para juri yang bertugas dalam sebuah pertandingan.
Setelah nama elte dipanggil oleh panitia, elte maju ke lapangan yang disebut juga Tatami dan berdiri di sisi biru atau AO. Ia melihat foto dan nama dirinya dan lawannya di LCD monitor yang ada di ujung luar lapangan.
Terdengar suara yel-yel pemberi semangat dari pihak lawan. Elte melihat ke belakang namun tidak ada satupun yel-yel pemberi semangat yang ditujukan kepada dirinya. Para polisi yang dilatih elte sebenarnya sudah tiba dari tadi namun mereka terlena di bagian stand pameran dan penjual dadakan. Guru BK pun terlihat diam karena gengsi melakukan yel-yel.
Wasit kemudian memberi kode tangan agar kedua peserta mendekat saling memberi hormat.
"OSH..." teriak sang lawan yang ada di sisi merah atau AKA. Elte ikut menunduk memberi hormat.
"KUMITE HAJIME" teriak sang wasit menandakan pertandingan pun dimulai.
(Hajime : mulai)
Sang lawan lalu mengambil kuda-kuda karate yang telah dimodernisasikan dengan gaya kuda-kuda tinju yang bergerak maju mundur dan sedikit melompat-lompat. Elte yang juga pernah membaca teori kata dan kumite karate, meniru gaya kuda-kuda tersebut.
"Hhiiiiaatttt..." teriak sang lawan sambil melakukan teknik tendangan mawashi yakni teknik tendangan yang ditujukan ke arah kepala, leher, perut, dada, paha atau kaki lawan bagian samping. tendangan ini menggunakan punggung kaki yang diarahkan dari samping.
Elte menangkis tendangan lawan menggunakan tangan kirinya lalu kaki kanannya kebelakang kaki kiri lawan sambil mendorong tubuh lawan keluar Tatami.
"YAME (berhenti)" teriak sang wasit sambil memberi kode ke elte agar kembali ke posisi awalnya di sisi biru. Setelah sang lawan telah kembali keposisinya di sisi merah, sang wasit lalu mengangkat tangannya serong ke atas ke arah elte sambil berteriak : "AO SANBON."
Elte melihat scorenya berubah menjadi tiga poin. Sang wasit lalu kembali berteriak : "HAJIME"
Sang lawan kembali melakukan kuda-kuda seperti sebelumnya.