
Sang pemuda pincang itu sudah mengetahui bahwa tuan jaya wijaya membuat agenda baru dalam acaranya untuk mengusir dirinya.
Mengingat hal itu, ia semakin geram dan tidak sabar menguasai bisnis yang telah dirintis oleh ayah dari sang pujaan hatinya.
Sementara itu di pesta syukuran yang diadakan oleh tuan jaya wijaya, dengan pamitnya sang pemuda pincang, membuat atmosfer pesta kembali menjadi santai bagi para tamu undangan, apalagi buat yuna sukma wijaya yang selalu menjadi incaran pemuda pincang tadi.
Setelah makan bersama, selanjutnya diadakan mengaji bersama yang dipimping oleh anak-anak panti asuhan.
Yuni sukma wijaya, adik dari yuna melihat elte, sejak para anak panti naik ke panggung untuk membawakan acara pengajian bersama.
Gadis kecil berwajah manis dengan lesung pipi dan gigi ginsulnya sedikit terkejut karena elte adalah teman sekolahnya yang sejak kelas satu mendapatkan posisi juara sekolah.
Rasa terkejutnya juga muncul karena anak pendiam yang sering di bully itu adalah seorang anak yatim piatu yang memiliki suara yang sangat merdu saat melantunkan ayat-ayat suci di atas panggung.
Setelah anak-anak panti tersebut turun ke bawah panggung, tanpa rasa canggung dan malu, yuni mendatangi dan menyapa teman sekolahnya.
"Hai kamu elte yawarakai kan, anak kelas 2A SD Neg. 98765" tanya gadis kecil yang mengenakan pakaian berwarna putih cerah.
"Eh iya benar benar, saya elte yawaraki murid SD Neg. 98765" jawab elte sedikit terkesima melihat gadis manis itu mendatanginya.
"Hai aku yuni sukma wijaya, teman sekolahmu, kelas 2F" kata yuni melanjutkan sapaannya.
"Kapan-kapan boleh aku belajar sama kamu ?" Kata yuni
"Aku selalu dimarahi sama kakak, karena tidak pintar seperti kakak yang dari kecil selalu masuk kelas unggulan" lanjut yuni sambil memperlihatkan muka cemberutnya yang sangat lucu dan imut
"Aku hanya bisa masuk kelas 2F, kelas dengan urutan paling akhir" kata yuni menambahkan
"Eh iya baiklah baiklah, tapi kalo bisa waktu istirahat sekolah saja, soalnya pulang sekolah aku harus pergi memulung sampah" kata elte memelankan suaranya karena malu didengar tamu undangan
"Baiklah, kalo begitu aku balik ke ayahku dulu ya, sampai ketemu besok di sekolah" kata yuni lalu balik berjalan ke arah orang tuanya
Beberapa jam kemudian, acara pun berakhir dan para anak panti kembali ke rumah dengan membawa hadiah berupa uang amplop.
[Esoknya di sekolah...]
Pagi-pagi sekali, elte telah berada di kelas membersihkan ruangan kelas walaupun hari itu bukanlah jadwal piketnya. Sikapnya yang suka membantu menolong siapa saja membuat elte disayangi oleh para guru, kepala sekolah sampai para pekerja honor seperti security.
Namun sikapnya itu malah membuat beberapa anak-anak nakal menganggap bahwa elte hanyalah sosok munafik yang sedang cari perhatian agar bisa tetap dapat beasiswa di sekolah favorit di kota ini.
Pada jam istirahat yuni dari kelas 2F datang ke kelas elte untuk mulai belajar, yuni ingin mengajak elte ke kantin untuk jajan tetapi elte menolak karena sedang puasa. Elte hampir tiap hari puasa agar dapat menabung uang sakunya.
"Wah, kamu sudah kuat puasa ya?" Kata yuni merasa tidak enak telah menawarinya jajan
"Ayo kita ke perpustakaan saja untuk belajar" kata elte mencoba memotong pertanyaan yuni agar tidak bertanya tentang alasan berpuasa.
Setiba di perpustakaan, elte mulai mengajar yuni tentang trik-trik mengerjakan soal perkalian dan pembagian. Elte mengajari sempoa menggunakan jari-jari tangan.
Elte memahami sempoa karena kedua orang tuanya adalah guru sma yang mengajar matematika dan mereka menerima privat mengajar sempoa ke anak-anak orang kaya sejak masih kuliah.
Cara mengajar elte sangat mudah dipahami karena menggunakan permainan dan beberapa analogi sehari-hari. Tanpa terasa waktu istirahat telah selesai. Yuni pun kembali ke kelasnya.
Berita tentang elte yang dekat dengan yuni akhirnya sampai ke para murid yang sering membully elte. Mendengar tentang anak panti asuhan yang dekat dengan murid yang terkenal paling manis di SD Neg. 98765 membuat mereka akan memberi pelajaran khusus sehingga elte akan jera ke sekolah.
Waktu pulang sekolah akhirnya tiba, elte tidak sempat pulang ke panti terlebih dahulu karena tidak perlu makan siang. Ia berencana langsung bekerja memulung sampah.
"mudah-mudah hari ini bisa mendapatkan banyak botol atau kardus bekas" harap elte dalam hatinya
Ia singgah sebentar ke toilet untuk menukar pakaiannya dan mengeluarkan karung yang telah dipersiapkan di dalam tas. Pakaian sekolah dan sepatunya ia masukkan dalam tas, lalu tas tersebut ia bungkus plastik dan ia simpan dalam karung.
Elte pun mulai bekerja memulung sampah tanpa mengetahui kesialan yang sedang menunggunya.
"HEI ANAK HARAM..." Teriak salah satu anak di belakang elte saat berada di lorong yang cukup sepi.
"DASAR ORANG MISKIN, KAMU BOSAN YA HIDUP MISKIN JADI SEKARANG LAGI MAU MEREBUT YUNI CINTA PERTAMA DAN CALON ISTRI BOS KAMI YA..." ejek anak yang lain sambil berteriak tidak kalah kerasnya dengan teman yang tadi pertama teriak.
Elte bingung dengan ejekan anak-anak tersebut, masih kelas dua SD kok sudah bicara cinta-cintaan.
melihat elte yang sedang bengong, anak-anak itu pun makin panas dan mulai menghajar elte.
Elte hanya berusaha menghindar dan menangkis serangan anak-anak tersebut. Beberapa pukulan dan tendangan lolos menerjang perut dan wajah elte.
"AAHHH. BOSAN AAHHH KALO CUMAN MUKUL TERUS" kata dadang yang menjadi bos mereka.
"AYO BUANG KARUNG DAN TAS ANAK INI" lanjut si dadang yang masih kesal karena elte mendekati pujaan hatinya
Mendengar rencana dadang hendak membuang karung dan tasnya. Elte mulai panik karena di dalam tas tersebut juga ada pakaian sekolah beserta sepatu dan buku-buku pelajarannya.
Elte tidak mampu membeli baju sekolah baru karena uang yang ditabungnya rencana ia mau sumbangkan ke ibu panti untuk memperbaiki atap rumah yang sudah bocor.
Elte mulai melawan dengan cara memukul dan menendang wajah dan perut anak-anak yang menyerangnya
"ADUH... BRENGSEK... ANAK HARAM INI MULAI MELAWAN... AYO SEMUANYA KEROYOK DIA, PEGANG KAKI DAN TANGANNYA" kata dadang meringis karena pipinya lebam terkena pukulan nyasar dari elte.
Buukk...buukk...buukk, suara pukulan dan tendangan menghujam perut dan kepala elte. Dadang lalu merebut karung elte yang berisi tas dan botol-botol bekas yang sebelumnya sudah elte kumpul.
Bos dari anak-anak pembully itu lalu berjalan ke ujung lorong dan melempar karung elte beserta isinya ke selokan besar yang airnya sedang mengalir cukup deras menuju sungai.
Melihat kejadian itu, teman-teman dadang panik dan berteriak minta tolong.
Beberapa warga yang sedang tidur siang di rumah terbangun dan berlari menuji asal suara.
"Ada apa teriak-teriak minta tolong" kata seorang warga saat tiba di depan teman-teman dadang.
"Tolong pak teman kami hanyut di selokan" kata salah seorang teman dadang sambil menunjuk dua orang anak yang sudah pingsan karena kepala mereka terbentur saat hanyut.
Para warga kemudian bersama-sama menolong elte dan dadang kemudian membawa mereka ke rumah sakit
[Sementara itu di kantor walikota]
Kring...kring...kring, sebuah smartphone dengan nada dering telpon jadul berbunyi di atas meja walikota.
Walikota yang sedang di beri servis plus oleh sekertarisnya yang bahenol merasa terganggu. Namun melihat nama si pemanggil di smarphone tersebut, sang walikota segera menyuruh untuk menghentikan kegiatan mereka.
"Halo iya ma..." kata pak walikota menjawab panggilan telpon dari istrinya
"Pak... pak... si dadang pak" suara panik terdengar dari ujung panggilan
"Ada apa dengan dadang ma...?" Kata sang walikota ikut panik mendengar nama dari anak bungsunya disebut-sebut oleh sang istri
"Dadang masuk rumah sakit pak" kata istrinya mulai terdengar menangis.
"Kok bisa ma... dirumah sakit mana ma" pak walikota tedengar panik dan marah setelah mengetahui kabar anaknya masuk rumah sakit.
Sang istri memberitahu lokasi rumah sakit dan mengatakan kalau saat ini ia sudah di jalan menuju rumah sakit tersebut.
Setelah menutup smartphonenya, pak walikota lalu segera menuju rumah sakit. Namun sebelum keluar, sang sekretaris bahenol menegur atasannya karena resletingnya belum ditutup.
Ayah dari sugeng dan dadang itu pun menyuruh supirnya membawanya ke rumah sakit setelah memperbaiki pakaiannya.
Setibanya di rumah sakit, dia melihat beberapa wartawan keluar dari rumah sakit. Tidak ingin mengambil pusing, dia lalu menuju meja informasi untuk menanyakan kamar anaknya.
Setelah mendapatkan informasi tentang kamar anaknya, pak walikota itu lalu menuju ke sebuah kamar VVIP untuk melihat langsung kondisi anaknya.
Setiba di kamar VVIP tempat anaknya di rawat, walikota itu sangat terkejut melihat anaknya dalam kondisi sebelah matanya di perban dan pipi kirinya terlihat lebam habis dipukul.
"Kenapa dengan dadang ma" teriak pak walikota itu marah melihat kondisi anaknya
"Mana dokter... " lanjut sang walikota
"Tenang pak jangan marah-marah, bagaimanapun kamu itu sekarang publik figure jangan terlihat seperti orang kesurupan" kata istrinya mengingatkan suaminya namun suaranya masih serak karena habis menangis melihat anaknya
"Menurut dokter kalau dadang terjatuh di selokan besar dekat museum karena di dorong temannya" lanjut sang istri menjelaskan penyebab dari kondisi anaknya
"Saat terjatuh di selokan mata kirinya tergores pecahan botol kaca yang ada di dasar selokan"
"Dokter bilang kemungkinan mata kiri dadang tidak bisa diselamatkan lagi kecuali dengan operasi mata, itupun kalau dapat donor mata yang sesuai"
Istrinya mengulangi penjelasan dokter yang ia dengar sebelumnya.
"Dimana anak brengsek yang sudah mendorong dadang? Apakah kau mengetahuinya ?" Pak walikota berkata sambil berusaha menahan amarahnya
"Anak itu sekarang ada di ruang ICU karena sedang koma"
"Dari penjelasan dokter juga menyatakan bahwa kepalanya terbentur dengan keras di pinggir selokan"
"Kamu harus menahan keinginanmu untuk menghabisi anak itu saat ini karena tadi beberapa wartawan datang meliput berita tentang kasus pembullyan yang sering dilakukan dadang dan teman-temannya ke anak itu"
Istri walikota menjelaskan informasi yang mengagetkan suaminya
"Sepertinya beberapa wartawan menaruh rasa dendam karena kau pernah menculik dan menjual beberapa temannya sesama wartawan"
"Dari informasi yang aku dapatkan diinfotainment beberapa hari yang lalu kalau ada beberapa wartawan wanita yang telah kau jual sebelumnya berhasil melarikan dirinya dan melapor ke polisi"
"Untungnya polisi itu adalah peliharaan kita jadi dia berusaha menekan para wartawan yang emosi dengan alasan tidak ada bukti yang mendukung"
Lanjut sang istri menjelaskan sebuah informasi yang berhubungan dengan keteledoran suaminya
"Ingat... kamu harus segera menekan para wartawan itu, sepertinya beberapa lawan politikmu yang pernah kau jatuhkan melindungi identitas para wartawan tersebut"
Sang suami hanya bisa mendengar penjelasan istrinya dengan perasaan yang sedang bercampur antara rasa marah, rasa sedih, rasa jengkel, rasa kesal, rasa geram, rasa dendam, rasa takut, rasa khawatir, rasa cemas dan perasaan negatif lainnya.
Malam hari kemudian di sebuah ruang ICU, seorang anak bertubuh kurus dengan perban dikepalanya dan beberapa selang terpasang ditubuhnya mulai dari selang infus di tangannya, selang oksigen di hidungnya dan selang kateter di ***********
"Dimana ini.... kenapa gelap sekali" elter yang sedang dalam keadaan koma mulai memasuki alam mimpinya
"Bagaimana keadaanmu nak ?" Terdengar suara berat dari seorang pria tua dalam kegelapan mengagetkan elte
"Siapa kamu..... apakah kamu adalah malaikat pencabut nyawa" elte gemetar ketakutan mendengar suara dalam kegelapan
"Aku adalah titisan dari kesadaran phoenix sang burung api keabadian... aku telah memutuskan bahwa kau adalah sang pewaris untuk manusia masa depan" kembali terdengar suara berat dalam kegelapan yang membuat elte tidak paham maksud dari perkataan sang phoenix.