
Setelah seminggu elte berada dalam kondisi koma, elte akhirnya tersadar dan pelan-pelan membuka matanya. Saat penglihatannya telah jelas, ia melihat sepasang mata bulat dan senyuman manis dari tunangannya yang ada di sampingnya.
Elte yang melihat bidadari kecil itu tersenyum, merasa hatinya hangat dan bahagia atas penantian dari perempuan yang kini mengisi seluruh relung hatinya.
Senyumannya mulai memudar, saat elte menyadari kalau di ruangan itu juga ada pak jaya, pak karya, bu yuyun, bu yeyen, bu ani mirani, yuna, yuda dan seorang pria yang tidak dikenalnya.
"Ayah...ibu....elte sudah sadar...." teriak yuni memanggil kedua orang tuanya.
Bu yeyen yang mendengar teriakan yuni, segera menuju ke pembaringan elte untuk memeriksa tanda vitalnya. Ia lalu memanggil timnya dan meminta semua pengunjung untuk keluar kamar agar tim medis dapat membantu melepaskan alat bantu pernapasan, alat pendeteksi detak jantunt, selang infus dan selang kateter yang menempel di tubuh elte.
Rian askar sang hacker andalan di kepolisian kota itu menolak untuk ikut keluar dengan alasan keamanan saksi, ia yakin bahwa bu yeyen akan menyuruh elte pura-pura amnesia seperti di film anime yang pernah ia tonton.
Pak jaya yang sudah kesal dengan kedatangan anak muda itu, segera mengambil smartphone dan menelpon kantor polisi untuk mengklarifikasi kelakuan anggotanya yang dianggap sudah mempersulit tim medis dengan alasan keamanan saksi.
Kepala kepolisian yang mendapatkan kabar itu segera menelpon yusuf abdi negara selaku pimpinan rian askar.
Pak yusuf hanya bisa mengepalkan tangannya menahan rasa malu karena mendengar kelakuan rian askar yang sampai mengancam para dokter atas tuduhan mempersulit pekerjaan polisi.
Rian bahkan keceplosan menuduh bu yeyen yang akan menyuruh elte untuk berpura-pura amnesia, agar dapat menutupi kebohongan mereka.
Pak yusuf lalu menelpon rian askar dan memerintahkan untuk kembali ke kantor dengan ancaman mutasi ke indonesia bagian terpencil jika menolak.
Setelah mendapatkan ancaman dari atasannya, rian askar lalu pamit untuk ke kembali ke kantor. Yuda yang hanya bisa diam terpelongok, merasa sangat malu dengan kelakuan seniornya. Ia hanya bisa berharap agar tidak dipecat oleh pak jaya sebagai calon menantunya.
Setelah rian askar telah menghilang dari rumah sakit itu. Bu yeyen meminta agar semua pengunjung untuk pulang karena pasien baru sadar dan butuh istirahat. Kata bu yeyena bahwa elte besok pagi sudah bisa balik ke rumah.
Sementara itu di kantor polisi, pak yusuf mengumpulkan seluruh anggota timnya untuk kembali rapat membahas proses interogasi kepada elte selaku saksi dan pelaku penembakan.
Rapat itu dibuka terlebih dahulu dengan membahas kelakuan rian askar yang dianggap memalukan nama kepolisian.
Rian askar yang selama ini selalu bekerja dibalik layar sebagai hacker, sehingga kurang memiliki pengalaman untuk menghadapi saksi, korban atau pelaku kejahatan.
"Kelima belas para penculik itu telah mati dan kita tidak memiliki informasi tentang pimpinan, rekan kerja atau penadah hasil penculikan mereka. Aku berharap kita bisa mendapatkan informasi penting dari anak itu." Kata pak yusuf dalam rapat mereka.
"Dian dan joy, besok sore kita ke rumah pak jaya untuk meminta izin menginterogasi anak itu di rumahnya." Pak yusuf memberi perintah kepada dian askar dan joy vijay.
"Arif dan heru kalian tetap dikantor bersama rian" lanjut pak yusuf ke arah dua anggotanya yang bernama arif bijaksana dan heru iskandar.
Rian hanya mendengar kesal karena tidak lagi dilibatkan di lapangan bersama kakaknya. Pergi menjaga saksi yang sedang koma adalah tugas pertama rian di lapangan. Dan kini setelah apa yang terjadi, rian terancam akan selamanya bekerja di balik meja komputer.
.........
Pada malam harinya setelah makan malam, elte duduk sendirian di atas tempat tidur mencoba melatih kultivasi nasi pepes yang ia sudah pelajari sebelumnya saat koma.
Elte mulai mencoba menggunakan nafas api, beberapa saat kemudian elte merasa badannya hangat.
"Hhhmmmm.....sepertinya kalau musim dingin, nafas api bisa membantu menghangatkan badan sehingga tidak perlu memakai jaket tebal." Gumam elte sambil tersenyum sendirian.
Ia lalu mencoba memicu beberapa emosi yang berhubungan dengan elemen api, baik itu elemen positif dan maupun elemen negatif.
Api kecil mulai muncul di tangan kanannya sebesar bola pingpong.
"Api kecil.....belum bisa digunakan untuk melawan orang....tapi lumayan, tidak perlu beli korek api...." elte bergumam menghibur dirinya yang hanya bisa mengeluarkan api kecil.
"Dalam kondisi normal, sepertinya emosi positif gairah dan semangat, lebih mudah diatur dibandingkam emosi lainnya" elte mencoba dan membandingkan beberapa emosi yang dapat memicu elemen api.
Setelah puas dengan nafas api, elte lalu mencoba nafas air. Beberapa saat kemudian elte merasakan badannya dingin tapi tidak merasa kedinginan.
"Hhhmmmmmm, jika nafas api cocok di musim dingin, sepertinya nafas air cocok untuk musim panas." Gumam elte mengangguk sendiri karena mula memahami manfaat nafas api dan nafas air.
Elte lalu mencoba memicu beberapa emosi yang berhubungan dengan elemen air, baik itu elemen positif dan maupun elemen negatif.
Tidak lama kemudian, dari tangan elte, muncul uap-uap air lalu mengembun dan membentuk bola air seukuran kelereng.
"Pfffyyuuuhhhht..... menghasilkan bola air sepertinya lebih sulit..." gumam elte.
Ia mencoba memahami prinsip kerja pembuatan bola api dan bola air. Saat Ia membuat bola api, ia bisa merasakan partikel-partikel kasat mata di atas telapak tangannya saling bergesekan sehingga muncul percikan api yang sedikit panas dan memicu munculnya bola api tadi. Sedangkan saat ia mencoba membuat bola air, ia bisa merasakan kelembaban udara di atas tangannya meningkat dan kadar air dalam udara mengembun menjadi bola air. Elte berkesimpulan bahwa ukuran bola air akan tergantung dari nilai kelembaban udara.
Ia mencoba membuktikan hipotesanya dengan berdiri di dekat AC dan mencoba kembali membuat bola air. Beberapa saat kemudian bola air seukuran bola kasti berhasil di buat.
"Hmmmmhhh.....rupanya begitu ya.... ternyata keberhasilan pengendalian elemen juga tergantung dari lingkungan sekitar.
Setelah puas bereksperimen dengan bola api dan bola air, elte lalu mencoba nafas angin.
Beberapa saat kemudian elte merasakan badannya sejuk dan tubuhnya segar. Ia merasa bahwa setelah melakukan nafas angin lewat hidung, ia bisa melakukan nafas angin selanjutnya tanpa bernafas lewat hidung tapi bernafas melalui pori-pori kulitnya. Oksigen yang didapat melalui nafas angin melalui pori-pori kulit terasa lebih murni.
Elte sedikit terkejut saat melakukan eksperimen dengan nafas angin melalui pori-pori kulit. Setelah berpikir sesaat, sebuah ide terlintas di pikirannya. Ia lalu ke kamar mandi, membuka semua pakaiannya dan mencoba nafas angin, setelah beberapa tarikan nafas, ia mencoba masuk ke bak mandi dan bernafas di dalam air.
"Hhmmmmhhhh...... luar biasa, saya bisa bernafas dalam air.... metode kultivasi nasi pepes buatan guru leluhur sangat luar biasa" elte berkata senang dalam pikirannya.
Setelah puas dengan hasil percobaannya, ia keluar dari bak mandi dan mencoba kembali nafas api. Tubuhnya yang basah perlahan mengering dan mengeluarkan uap basah di sekujur tubuhnya.
"Wwaahhhhh....hebat.....nggak perlu pake handuk...." kaget elte dengan hasil percobaannya.
Setelah badan elte kering menggunakan nafas api, ia lalu kembali memakai pakaiannya dan kembali ke ruang pembaringannya.
Dari tangannya ia melihat ada bola angin berputar kencang
"Wahhhhh kayak ilmunya Narto..." elte teringat dengan film yang sempat ia nonton waktu kecil tentang seorang shinobi yang berpetualang mencari temannya yang tersesat bernama saskeh.
Elte lalu menghampiri jendela dan membuka jendela tersebut. Kamar elte yang saat itu berada di lantai tujuh gedung rumah sakit, menyebabkan angin malam terasa sangat kencang.
Elte lalu berteriak melempar bola anginnya sambil meniru gerakan si narto yang ia pernah tonton.
"Rantangan......" teriak elte mencoba meniru narto
Bola angin itu terlempar dan menghilang tertiup angin malam. Elte terkejut karena dampak bola angin itu sangat lemah tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Elte lalu kembali mencoba membuat bola angin dan berusaha membentuknya seperti pisau. Tapi tidak berhasil karena membutuhkan energi yang cukup banyak.
Elte lalu mencoba berkultivasi selama sejam untuk mengumpulkan energi di dalam tubuhnya. Setelah dirasa cukup, ia kembali membuat bola angin dan membentuknya seperti pisau yang sangat tajam.
Ia mencoba membela buah apel yang tadi dibawakan bu yuyun saat berkunjung. Dan apel itu terbelah dua. Beberapa detik kemudian energinya habis dan pisau angin itu menghilang.
Keringat elte berjatuhan karena memaksakan penggunaan energi berlebihan.
"Gila .... pisaunya tajam sekali.... tapi sepertinya sangat tidak efisien menggunakannya saat ini ....... dibutuhkan kultivasi selama sejam hanya untuk satu ayunan saja." Elte berguman dan sedikit menyayangkan hasil percobaannya.
Ia lalu beristirahat selama sejam untuk memulihkan energinya.
Saat tengah malam, elte kembali melanjutkan latihan dan percobaannya
Elte mencoba melakukan nafas bumi atau nafas tanah. Beberapa waktu kemudian, elte dapat merasakan perasaannya semakin sensitiv mendeteksi lingkungannya dengan radius sepuluh meter.
"Hhmmmmhhh ini seperti kekuatan persepsi lingkungan.... cuma tanpa visual... hanya feel saja." Gumam elte
Ia lalu mencoba memicu beberapa emosi yang berhubungan dengan elemen tanah, baik itu elemen positif dan maupun elemen negatif.
Setelah beberapa menit kemudian, di atas telapak tangan elte.... tidak terjadi apa-apa.... tidak ada bola tanah muncul seperti ekspektasi elte.
"Hmmmmh .... apa yang terjadi ya ? Apa energi yang dibutuhkan cukup besar ?"
Elte kemudian mencoba berkultivasi kembali selama satu jam, kemudian ia mencoba nafas bumi dan memicu emosi yang sesuai dengan elemen tanah.
"Aneh.... kok tidak ada muncul apa-apa ya ?" Gumamnya dalam hati
Ia lalu melihat dinding tembok pada rumah sakit dan mencoba berpikir untuk membuat lubang pada dinding tersebut. Tiba-tiba sebuah lubang sebesar bola basket terbentuk di dinding itu.
Sebelum energinya habis, elte kembali menghilangkan lubang itu seperti semula. Setelah kembali normal, elte beristirahat kembali selama sejam.
"Hhmmmmhhh...... untuk elemen tanah, saya tidak bisa membuat bola tanah di tangan saya seperti halnya bola api, bola air dan bola angin, tetapi saya bisa memanipulasi bentuk tanah dan tembok. Namun energi yang digunakan juga cukup besar" elte bergumam dan mengangguk paham atas hasil percobaannya.
Elte kembali beristrahat beberapa menit lalu melanjutkan pelatihannya. Setelah mencoba melakukan kutivasi nasi pepes untuk elemen dasar seperti elemen TANAH, API, AIR, dan ANGIN. Elte kemudian mencoba melakukan kombinasi nafas suci untuk mengendalikan elemen gabungan seperti elemen ES, PETIR, GRAVITASI, KAYU, LOGAM, LAVA, CAHAYA, KEGELAPAN, LEDAKAN dan KRISTAL.
Tanpa terasa waktu subuh telah masuk, elte menyempatkan dirinya melaksanakan kewajibannya beribadah sebelum naik ke pembaringannya untuk tidur.
Saat sudah di atas pembaringan, elte mulai mengevaluasi hasil pelatihannya. Dari keempat belas elemen yang ia coba keluarkan, ada sembilan elemen yang bisa ia keluarkan di atas telapak tangannya yakni bola api, bola air, bola angin, bola es, bola petir, bola lava, bola cahaya, bola kegelapan dan ledakan kecik.
Untuk lima elemen lainnya, bentuk pengendaliannya adalah dengan cara memanipulasi langsung ke elemen yang ada seperti elemen tanah, kayu, logam, kristal dan gravitasi.
Elte merasa sangat kelelahan dan mengantuk, terlintas dipikirannya, apakah elemen cahaya bisa ia gunakan untuk mengembalikan staminanya.
Ia lalu mencoba mengombinasikan nafas api, nafas air dan nafas angin dengan memicu emosi kesabaran, optimis dan harapan. Dari tangannya lalu muncul kembali bola cahaya berwarna putih transparan agak keemasan.
Ia lalu mencoba mengalirkan cahaya itu keseluruh tubuhnya sambil menggunakan rotasi energi yakni menyerap energi alam sambil menggunakan energi tersebut untuk mengembalikan staminanya.
Setelah beberapa saat berkonsentrasi, rasa lelah dan ngantuk elte menghilang dan staminanya kembali prima.
"Wowww.... luar biasa.... ternyata elemen cahaya bisa digunakan untuk menyembuhkan diri seperti halnya kemampuan persepsi internal tubuh. Mungkin suatu saat saya akan mencoba menggabungkan kedua kemampuan ini" elte bergumam dengan gembira.
Karena rasa lelah dan ngantuknya telah hilang, elte lalu melakukan evaluasi dan intropeksi diri tentang kemampuan dan renacananya ke depan.
"Kalau ingat kejadian malam itu saat di markas para penculik... suatu keajaiban saya masih hidup."
"Walaupun saya sudah belajar tinju dan silat dari kak yuda tapi kekuatanku masih sangat lemah dan tidak berdampak bagi orang bertubuh besar."
"Namun menggunakan kemampuan pengendali elemen, misalnya seperti bola petir, tentunya akan menarik perhatian."
"Saya harus melatih beberapa kemampuan elemen yang tidak menarik perhatian, tidak membutuhkan banyak energi serta mudah digunakan."
Elte lalu melatih beberapa gabungan elemen karena tidak membutuhkan banyak energi seperti elemen dasar. Setelah beberapa menit melakukan percobaan dan evaluasi diri, elte memutuskan untuk memilih elemen cahaya sebagai kemampuan penyembuh, elemen gravitasi untuk meringankan tubuh saat bergerak, elemen kristal untuk membuat tubuh kebal dengan serangan, dan elemen ledakan untuk memperkuat daya serangnya.
"Wah sayang ya..... saya belum bisa menggunakan kembali aura naga karena selain membutuhkan energi sangat besar, kemampuan ini juga menarik perhatian orang yang terkena aura." Elte bergumam sendiri, menyesalkan kemampuan yang bisa ia gunakan, masih sangat terbatas, namun untuk melawan manusia biasa, elte rasa sudah cukup.
Elte lalu mencoba memadukan tinju dan silat merpati putih dengan kemampuan tubuhnya yang seringan kapas, sekuat batu intan, serangan daya pukul ledakan serta stamina yang terus terisi.
Elte fokus melatih kemampuan rotasi energinya, karena kunci ketahanannya bertarung, ada pada energinya.
Setelah pukul enam pagi, elte mendengar suara kereta dorong dan langkah kaki perawat menuju kamarnya, ia segera merapikan ruangan tersebut, dan kembali menuju ke pembaringannya untuk pura-pura tidur.