WUMMM

WUMMM
77. Penjual Siomay Batagor



Pagi itu suasana kelas cukup menegangkan. Bapak Geo petri aritmawan, guru senior yang mengampuh mata pelajaran matematika, sedang mengadakan ujian ulang karena sebelumnya soalnya tertukar dengan soal kelas dua sehingga banyak murid yang tidak mengisi lembar jawaban selain identitas dirinya sendiri.


Walapun sang guru matematika meminta maaf atas kekeliruannya namun tidak ada murid yang bersuka cita dengan hal tersebut, mereka merasa tegang saat membaca soal ujiannya. Beberapa murid menghembuskan nafas lega karena masih mengingat materi yang pernah dijelaskan. Namun tidak sedikit murid yang sudah lupa dan tidak mengetahui satupun jawabannya. Termasuk yuni dan ruri masruri yang tidak sempat belajar karena kecapaian dari acara pesta ulang tahun semalam.


Kening pak geo mengkerut melihat elte tidak mengisi jawabannya hanya membaca soal ujian sambil sesekali melihat jam dinding. Pak geo hanya dapat menghembuskan nafasnya karena dapat menebak pikiran elte yang tidak ingin lagi dicurigai menyontek.


Sang guru matematika semakin yakin dengan pikirannya saat sepuluh menit sebelum waktu ujian habis, ia melihat elte mulai mengisi lembar jawaban tersebut hanya dalam waktu satu menit saja untuk menyelesaikan seratus soal pilihan ganda.


Setelah semua jawaban murid dikumpul di atas meja sang guru, ia lalu mencari lembar jawaban elte dan mencocokkannya dengan kunci jawaban yang sudah ia siapkan sebelumnya. Kekagumannya makin bertambah saat ia mengetahui bahwa seratus persen jawaban elte benar semua. Ia lalu merapikan lembar jawaban yang lain beserta barang-barangnya dan kembali menuju mejanya di ruang guru. Ia semakin bertambah kagum kepada sang prontagonis setelah memeriksa semua jawaban murid-murid lainnya dan tidak ada satupun yang nilai benarnya di atas tujuh puluh persen.


Beberapa saat kemudian kepala sekolah datang ke ruang guru dan mengundang pak geo serta seluruh guru untuk melakukan rapat sepulang sekolah nanti. Sebentar lagi beberapa pejabat dari dinas pendidikan akan datang berkunjung dan ingin membahas program kerja mereka tentang pertukaran pelajar antara bangsa indonesia dan korea selatan.


Program pertukaran pelajar merupakan program yang memungkinkan pelajar baik siswa sekolah maupun mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman belajar di sekolah atau universitas lainnya. Program dapat terlaksana atas kerja sama kedua sekolah atau universitas maupun diselenggarakan pihak ketiga yang menyediakan beasiswa atau fasilitas. Umumnya pertukaran pelajar terjadi antara institusi pendidikan di dua negara berbeda dengan salah satu misi untuk saling memperkenalkan budaya masing-masing negara. 


Penyelenggaraan pertukaran pelajar ke luar negeri di Indonesia umumnya sudah disertai dengan beasiswa dengan syarat dan ketentuan. Program ini ada yang bersifat tertutup yaitu hanya diberikan untuk sekolah-sekolah tertentu ada pula yang menyelenggarakan pendaftaran terbuka. Biasanya penyelenggaranya adalah lembaga-lembaga baik milik pemerintah maupun pun swasta yang memiliki fokus pada pendidikan. Lembaga-lembaga ini ada yang dari Indonesia dan ada pula yang dari luar negeri tempat pertukaran pelajar akan diadakan. Umumnya lembaga penyelenggara tersebut sudah menyediakan uang saku dan/atau akomodasi bagian setiap pesertanya. Namun tidak tertutup kemungkinan ada program yang tidak ditanggung atau disponsori oleh pihak manapun, sehingga berbayar.


Sebagai sebuah program yang diselenggarakan oleh penyelenggara tertentu, umumnya syarat pertukaran pelajar berbeda-beda, tergantung keputusan dari lembaga tersebut. Hanya saja, ada beberapa syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk dapat mengikuti program ini seperti Nilai akademik atau prestasi di bidang tertentu, Kemampuan bahasa asing, Kemampuan finansial, Kesehatan, serta Mengikuti tahapan seleksi dan wawancara.


Pak geo terdiam sejenak setelah melakukan eksplorasi tentang pertukaran pelajar di internet. Ia hanya dapat memikirkan satu sosok murid yang paling pantas mewakili sekolah ini dalam rangka pertukaran pelajar antar sekolah antar negara. Ia akan berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk mendukung pilihannya karena ia sadar bahwa akan banyak pihak yang akan melakukan tindakan nepotisme  seperti yang pernah terjadi saat olimpiade fisika kimia tingkat SMP beberapa tahun yang lalu saat ia menjadi salah satu juri penilai. Ia masih merasa bersalah karena tidak bisa bersikap jujur dan hanya bisa mengikuti alur skenario para juri senior yang kompak menyabotase hasil ujian salah satu peserta dari ibu kota di pulau sulawesi dan mendorong peserta yang terdiri atas anak-anak pejabat yang berprestasi agar mendapatkan juara olimpiade saat itu.


Sementara itu di kelas, sedang terjadi percakapan antara dua murid yang tidak penting dan tidak memberi kontribusi di dalam novel ini.


"Bro,... hari ini si dudung tidak masuk sekolah ya. Padahal gue mau ngucapin makasih karena sudah bikin jumlah like dan subscriber gue meningkat pesat" kata salah satu murid yang tidak penting itu.


"Ah... palingan juga si dudung lagi nangis dibalik selimutnya... kagak berani dia ke sekolah ketemu kite-kite... pasti tuh anak malu pake bangets." Jawab temannya yang juga kontribusinya tidak penting dalam novel ini.


"Hahahahahah" kedua murid tidak penting itu pun lalu tertawa bersama.


......... ......... .........


"Lam Xiao Mei, kita sudah tiba di indonesia, mengapa kita tidak langsung melihat kondisi rekan kerjamu yang sudah kau ceritakan sebelumnya. Aku sangat penasaran dengan tingkat kultivasi dari elemen kegelapan yang telah menyerang rekan kerjamu itu" kata penatua kesembilan kepada putri bungsu patriachnya.


"Tidak usah buru-buru penatua ke sembilan. Nanti sore kita akan mengunjunginya....". Balas Putri bungsu dari patriach organisasi SFO.


"Penatua kesembilan, sebelum balik ke cina daratan aku sudah mencari informasi tentang aksi rekan kerja kita terhadap racun koma... Aku mendengar jika ayah dari walikota di kota ini pernah mengalami koma dan gejalanya mirip seperti efek dari obat kita... Anehnya, aku mendengar jika orang tersebut kini sudah sembuh total". Lanjut sang putri.


"Mungkin saja rekan kerjamu sudah memberikannya obat penawar." Kata penatua sembilan.


"Awalnya aku juga berpikir seperti itu... tapi ternyata mitra kerja kita meracuni ayah sang walikota dengan diam-diam melibatkan dokter magang agar dapat menjatuhkan nama baik saingan bisnisnya dengan tuduhan malpraktek. Jadi, tidak mungkin kan kalau rekan dan mitra kerja kita yang memberikannya obat penawar agar sembuh." Lam Xiao Mei menjelaskan analisanya.


"Aku juga berasumsi bahwa mitra kerja kita itu tidak mungkin membawa racun koma kemana-mana apalagi sampai ke kafe malam. Jumlah obat penawar yang aku kirimkan pun ternyata masih utuh" lanjut sang putri menambahkan.


"Jadi maksud tuan putri ?...". Tanya penatua kesembilan belum menangkap maksud penjelasan dari putri bungsu patriach.


"Ada dua kemungkinan... salah satu anggota SFO ada yang berkhianat atau ada pihak yang sudah dapat membuat racun koma beserta penawarnya." Jawab sang putri sambil menyipitkan matanya yang sudah sipit.


"Aku yakin anggota SFO tidak ada yang mengkhianati keluarga... dulu memang beberapa tahun yang lalu kakek dan ayah dari Ha, Hi, Hu, He, Ho berkhianat terhadap keluarga tapi bukan karena alasan materi, tetapi untuk melindungi salah satu keluarganya yang cacat dan tidak punya dantian" kata penatua ke sembilan sambil mengingat kejadian masa lalu dari keluarganya cheng xiao ha, cheng xiao hi, cheng xiao hu, cheng xiao he dan cheng xiao ho yang juga sepupu-sepupu dari sushi tetsu teriyaki.


"Tapi penatua... aku juga yakin untuk membuat racun koma dan penawarnya bukanlah hal yang mudah dan tidak mungkin terjadi. Tidak hanya membutuhkan elemen kegelapan sebagai bahan pokok pembuatan racunnya, tetapi juga beberapa racun hewan, racun tumbuhan dan racun batuan mineral dengan jumlah komposisi yang tidak boleh asal-asalan".


"Jika komposisinya tidak pas maka korban bukannya koma malah langsung mati. Selain itu juga untuk membuat obat penawarnya sendiri, membutuhkan elemen cahaya, elemen air dan elemen kayu serta beberapa bahan herbal seperti akar ginseng, pucuk daun persik, inti sari bunga teratai dan hati ikan hiu dengan komposisi yang juga tidak boleh sembarangan dicampur".


"Kami sendiri membutuhkan waktu, tenaga, pikiran dan dana yang tidak sedikit untuk mengembangkan racun dan obat tersebut." Kata Lam Xiao Mei menjelaskan penjelasan tentang racun koma dan obat penawarnya kepada penatua kesembilan dengan jelas.


Setelah mendengar penjelasan sang putri, penatua kesembilan terdiam dan melebarkan senyum di bibirnya. Ia lalu berkata dengan pelan, "atau mungkin saja itu semua karena ada keterlibatan dari sang pewaris".


"Apakah sang pewaris memang sehebat itu ?" Tanya sang putri yang makin penasaran dengan ambisi keluarganya tentang sang pewaris.


"Menurut catatan leluhur yang dicatat oleh para leluhur kita saat mereka mendapatkan kunjungan dari sang leluhur dalam mimpinya, bahwa sang pewaris itu memiliki kemampuan sihir pengendali semua elemen dari kaum manusia naga dan kemampuan telepati, telekinesis dan teleportasi dari kaum manusia alien. Aku prediksi jika sang pewaris dapat mengetahui komposisi dan jenis bahan racun dan obat buatan kalian hanya dengan mengandalkan kemampuan persepsinya." Jawab sang penatua ke sembilan.


Kedua mata sipit Lam Xiao Mei terbuka lebar namun tidak terlalu lebar. Ia kagum dengan kemampuan sang pewaris yang diprediksi oleh penatua kesembilan. Pantas saja ayahnya dan para penatua sangat semangat mencari sang pewaris.


"Penatua kesembilan,... apa yang akan dilakukan oleh organisasi SFO jika sang pewaris itu sudah ditemukan... apakah kemampuannya itu dapat direbut atau diwariskan kembali" Kata sang putri kepada penatua kesembilan.


"Menurut catatan leluhur yang dicatat oleh para leluhur kita saat mereka mendapatkan kunjungan dari sang leluhur dalam mimpinya, bahwa kekuatan sang pewaris tidak dapat direbut atau diambil alih. Namun tidak ada catatan leluhur yang menyatakan jika kemampuan itu dapat diwariskan"


"Jika kita dapat menemukan sang pewaris maka kita akan memintanya bergabung di organisasi SFO melalui pendekatan tiga ujung"


Sang penatua kesembilan menjawab pertanyaan putri tuannya. Sang putri Lam Xiao Mei lalu kembali bertanya, "apa maksud penatua dengan pendekatan tiga ujung ?".


"Yang pertama adalah pendekatan dengan ujung lidah, kita akan berbicara baik-baik mengajak sang pewaris untuk bergabung dengan organisasi kita. Sang pewaris akan ditawari dengan harta dan jabatan agar tertarik".


"Yang kedua adalah pendekatan dengan ujung kem*luan, kita akan mencoba menjodohkan sang pewaris dengan salah satu gadis cantik di organisasi kita. Besar kemungkinan patriach akan menawarkan tuan putri Lam Xiao Mei untuk menikah dengan sang pewaris".


"Yang ketiga adalah pendekatan dengan ujung pedang, kita akan memaksa sang pewaris untuk bergabung dengan kita. Jika ia tidak mau, maka kita akan mengikatnya dan menyuruh beberapa gadis di organisasi kita termasuk tuan putri Lam Xiao Mei untuk memp*rkosa sang pewaris dan mencari tahu apakah kemampuan itu dapat diwariskan atau diturunkan ke anaknya kelak."


Penjelasan sang penatua terdengar sangat vulgar di telinga Lam Xiao Mei, kedua pipi dan telinga putri itu menjadi merah seperti kepiting rebus. Dengan perubahan warna kulit putihnya yang seperti susu berubah menjadi merah muda membuat penatua kesembilan tertawa terkekeh melihat wajah malu tuan putrinya.


"Penatua ayo kita ke rumah walikota sekarang untuk mencari tahu informasi tentang sembuhnya ayah walikota dari racun koma kita, siapa tahu nanti kita mendapatkan jejak sang pewaris" kata Lam Xiao Mei mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Weits.... kayaknya putri Lam Xiao Mei sudah nggak nahan ya bertemu dengan sang pewaris... lebih suka pakai ujung apa tuan putri ?" Kata penatua kesembilan menggoda putri bungsu dari patriachnya.


"Penatua kesembilan... hentikan omong kosong dan basa basi busukmu sekarang" kata Lam Xiao Mei dengan wajah cemberut karena semakin malu.


"Hehehehehehe...." sang penatua kesembilan hanya tertawa terkekeh-kekeh melihat wajah dari putri tuannya makin berwarna merah seperti kepiting rebus dan udang rebus.


Tiga jam kemudian sang putri dan penatua kesembilan telah tiba di depan rumah walikota.


"Ting tong..... ting tong.... ting tong..." seperti itulah kira-kira bunyi bel yang ada di pagar rumah pak walikota. Seorang security berlari dari dapur lewat samping rumah dengan mulut masih mengunyah dan sebutir nasi menempel di pipinya.


"Maaf.... dengan siapa.... mau bertemu siapa.... sudah janjian belum" kata sang security setelah menghabiskan sisa makanan yang tadi masih dikunyah. Sebutir nasi yang tadi menempel pun sudah ia telan setelah sempat bercermin dengan cermin yang ada di pos jaganya.


Lam Xiao Mei dan penatua kesembilan hanya dapat terdiam karena tidak mengerti dengan bahasa indonesia yang digunakan oleh security.  Mereka lupa membawa penerjemah cina -indonesia, karena sang putri terburu-buru ke rumah walikota untuk menghindari candaan dari penatua kesembilan. Sang putri kemudian mencoba memperkenal diri menggunakan bahasa inggris.


"Hei, my name is Lam Xiao Mei (hai...namaku Lam Xiao Mei)" kata sang putri kepada security tersebut menggunakan bahasa inggris dengan aksen cina.


"Oohhhh penjual siomay.... aduh sayang mbak... cantik-cantik kok jualan siomay" kata security yang tidak mengerti bahasa inggris apalagi bahasa cina.


"Yes... i'm Lam Xiao Mey... can we meet the mayor (ya... saya Lam Xiao Mey... bisakah kita bertemu walikota) ?" Kata sang putri memberitahu tujuannya.


"Oooohh... selain jualan siomay juga jualan batagor ya.... emang sih dimana ada siomay, disitu juga ada batagor, kentang rebus, kol gulung rebus, pariah dan kerupuk... biasa juga ada yang pakai telur rebus mbak" kata security yang salah dengar, kata 'the mayor' didengar sebagai batagor.


Lam Xiao Mey hanya dapat menghembuskan nafasnya dengan kesal. Ia tidak mengerti dengan maksud perkataan security tersebut. Sang putri itu lalu melihat ke arah penatua kesembilan dan berkata, "Penatua kesembilan... besok kita kembali ke sini membawa penerjemah.... aku tidak dapat menangkap maksud security ini"


"Hhmmmm.... baiklah.... aku juga kurang paham dengan pembicaraan kalian... sayang sekali kita tidak paham dengan arti perkataan security itu... sepertinya ia menyampaikan sesuatu yang sangat penting".


Lam Xiao Mei dan penatua kesembilan lalu ijin pamit ke security dan menaiki taksi yang masih menunggu.


"Wahh..... penjual siomay batagornya cantik banget.... jualan pakai bahasa inggris lagi. Jadi pengen belajar bahasa inggris juga nih... tapi susah... bahasa inggris kan tidak konsisten antara tulisan dan penyebutan.... masak bus dibaca bas artinya bis. Belum lagi beberapa huruf yang tidak konsisten cara bacanya... masak cut dibaca kat sedangkan put tidak dibaca pat, can dibaca ken tetapi car dibaca kar.... coca cola dibaca koka kola sedangkan coto tidak dibaca koto... bahasa yang sangat tidak konsisten" Sang security berkata dalam hatinya mengingat pengalamannya saat belajar bahasa inggris saat sekolah dulu.