
Pada pagi hari, di pekarangan rumah pak jaya sedang berdiri Yuda prayudi nangkabrani berhadapan dengan Elte yawarakai. Di teras rumah sedang duduk pak jaya, pak karya, bu yuyun, dan bu yeyen. Di depan mereka ada yuna dan yuni berlomba memberikan semangat pada pasangannya masing-masing.
Apartemen pak jaya memiliki teras khusus di samping pintu depan gedung apartemen pak jaya dan pak karya.
"Yuda prayudi nangkabrani... tinju dan silat merpati putih.... siap" kata yuda membuka pertarungan dengan melakukan etika perkenalan latih tanding.
"Elte yawarakai... GaSeBeDiKuNi DaSeBeDiMi SeTiDaSiMePu... siap" kata elte membalas perkenalan yuda.
Jarwo sukoco sang supir yang sudah lama mengabdi di keluarga pak jaya berteriak sebagai juri : "Are you ready... fight" kata sang supir dengan logat pribuminya.
Yuda melakukan kuda-kuda tinju dengan kaki kirinya di depan kaki kanan, kaki kanan sedikit menyudut ke luar, mengarah pada lawannya. Kedua tangannya mengepal melindungi dagunya, sikunya masuk ke dalam dibawah dagu dengan tangan kiri lebih di depan dari tangan kanan, kemudian pinggul yuda berada di atas kakinya.
Elte berdiri diam menundukkan kepala dan menutup kedua matanya sambil mengaktifkan persepsi lingkungan. Ia menggunakan tubuh kapas dan tubuh baja dan mempersiapkan seni bela diri andalannya yaitu GaSeBeDiKuNi DaSeBeDiMi SeTiDaSiMePu. Elte mengeluarkan kemampuan andalannya karena ingin sedikit pamer didepan tunangannya.
Yuda tersenyum melihat gaya elte yang terkesan tidak peduli. Ia sedikit terprovokasi mengira elte bersikap sombong. Ia lalu berjalan mendekati elte dan melepaskan sebuah pukulan jab ke muka elte. Namun pukulan yuda dihindari oleh elte dengan memiringkan sedikit kepalanya menjauhi pukulan jab tersebut.
Yuda penasaran lalu melepaskan beberapa pukulan jab dan pukulan hook maupun uppercut. Semua serangan tersebut hanya dihindari dan ditangkis oleh elte.
Merasa harga dirinya dipertaruhkan di depan istrinya, yuda kemudian menendang elte dengan menggunakan silat seperti jurus tendangan lurus, tendangan sabit, tendangan T, tendangan jejak, dan tendangan belakang. Namun serangan-serangan tersebut hanya dihindari dan ditangkis oleh elte.
Yuda semakin panas dan berusaha menjatuhkan atau merobohkan elte dengan teknik guntingan. Elte menghindari jepitan kaki yuda dan melakukan salto ke belakang yuda. Ia kemudian membalas serangan yuda dengan serangan yang lembut tapi cepat dan tegas.
Yuda yang sering nonton acara pertarungan seni bela diri merasa pusing dengan pola serangan elte. Jurus itu terlihat lembut seperti taichi, tapi tegas seperti hunggar yang dipopulerkan oleh Wong Fei Hung. Serangan itu juga sangat cepat seperti jurus wingchun yang dipopulerkan oleh yipman.
Menghadapi pola serangan itu sangat menyusahkan yuda. Ia menyangka yuda menggunakan kungfu tapi gayanya sangat sederhana namun mematikan karena menyerang titik vital lawan. Yuda sering tertipu oleh pola serangan elte yang kadang mau memukul, ternyata menendang. Dikira mau menendang ternyata mendorong dengan badan. Belum lagi lompatan salto seperti ninja. Namun dalam posisi di udara, elte masih bisa menangkis dan mengubah arah saltonya.
Kombinasi tinju dan silat yang digunakan yuda, seperti bisa ditebak oleh elte. Ia memaksimalkan tenaganya untuk memukul, menendang, menghindar dan sejenisnya.
Dalam waktu lima menit, sudah puluhan pukulan dan tendangan yang diberikan oleh elte dan membuat poin elte dan yuda makin tertinggal jauh. Setiap pukulan dan tendangan elte akan berhenti sekitar dua sentimeter dari tubuh yuda agar tidak melukai tubuh suami dari kakak iparnya.
Dalam lima menit itu, tetesan keringat dari tubuh yuda, berjatuhan dan membasahi bajunya. Sedangkan elte yang secara teratur menggunakan elemen cahaya untuk mengembalikan staminanya, terlihat masih segar, harum dan wangi, bahkan bedak di pipi elte pun belum luntur karena belum adanya keringat.
"Hosh...hosh...hosh..." seperti itulah kira-kira suara napas yuda yang kelelahan.
"Stop (berhenti) .... enough (cukup)..." kata jarwo sang supir menghentikan latih tanding yuda dan elte
"I say (saya bilang)... enough (cukup)" kata jarwo kembali sok menggunakan bahasa inggris
"Jarwo kenapa kamu menghentikan latih tanding yuda dan elte" tanya pak jaya kesal dengan supirnya.
"Dan kenapa juga kamu sok-sok pake bahasa inggris" lanjut pak jaya.
"Sorry sir, I'm just trying to apply my lesson (Maaf pak, saya hanya mencoba menerapkan pelajaran saya)" jawab jarwo sang supir yang baru seminggu ini privat bahasa inggris bersama elte.
Ia ingin pandai bahasa inggris karena dua minggu yang lalu ia bertemu dengan mantan pacarnya waktu sma di media sosial yang saat ini menjadi TKW di singapura. Walaupun cinta pertama jarwo saat ini sudah memiliki status janda cerai tanpa anak, namun cinta sucinya tak lekang oleh waktu.
"Terus kenapa kamu menghentikan latih tanding yuda dan elte" pak jaya mengulangi pertanyaannya dengan makin kesal.
"Nganu pak... hape mas yuda yang dititip ke saya, bergetar pak, saya lihat ada tulisannya pimpinan sedang memanggil" kata pak jarwo menyampaikan maksudnya dengan bahasa indonesia karena belum mengetahui bahasa inggris dari kalimat yang ia ingin sampaikan.
"Eh benarkah.... kalo begitu aku telepon balik dulu ya" kata yuda mengakhiri latih tandingnya.
Yuda dan elte kembali saling memberi hormat. Kemudian yuda menuju ke pak jarwo mengambil Hapenya dan menelpon kembali pimpinannya. Sedangkan elte menuju ke teras berkumpul bersama yuni dan yang lainnya.
......... ......... ........
Sementara itu di texas, seorang pria tua, Morgan Rockefeller Rothschild, sedang terduduk diam menonton rekaman dari penyerangan lima puluh anggotanya ke markas SFO di cina. Pimpinan elit global yang juga pemilik dari organisasi bunga mawar atau Rose Flower Organization atau RFO itu terlihat berdecak beberapa kali menggelengkan kepalanya saat ke lima puluh anggotanya dibantai habis oleh lima orang anak kecil dalam waktu singkat, tidak sampai lima belas menit.
Penyerangan itu merupakan operasi penyerangannya yang kedua setelah seratus anggotanya di penyerangan pertama hilang tanpa kabar. Ia kemudian memutuskan untuk melengkapi semua anggotanya di penyerangan kedua dengan helm khusus yang dilengkapi dengan CCTV portable yang melakukan perekaman online secara realtime.
Di dalam rekaman CCTV yang sudah ia tonton puluhan kali bersama para direksinya, ia melihat kelima puluh anggotanya berhasil masuk ke markas mereka. Di dalam ruangan tersebut, terdapat lima orang anak kecil yang sedang menunggu para anggotanya.
Saat masih berada dalam kebingungan, seorang anak maju menggerakkan tangannya melambai-lambai dan seketika semua senjata api terlepas dari tangan para penyerang dan terbang sendiri menuju ke anak tersebut dan jatuh di belakang anak-anak.
Satu orang anak maju membuat lubang gelap dari tangannya dengan radius satu setengah meter. Dua orang penyerang terhisap kedalam lubang kegelapan tersebut.
Seorang anak yang satu lalu menghentakkan kakinya di tanah dan memukulkan kedua tangannya pada angin kosong di depannya. Dari dalam tanah muncul beberapa akar kayu besar menjalar menuju para prajurit yang tersisa dan mengikat tubuh mereka yang masih terdiam karena terkejut.
Anak yang satunya menepuk angin kosong lalu meletakkan telapak tangannya disamping mulutnya yang sedang meniup kencang. Seketika uap es berhembus ke para prajurit dan membekukan mereka dari ujung kaki sampai leher.
"Blaarrrr.... Booommmm.... crackkkss" seperti itulah kira-kira bunyi petir yang menyambar tubuh para prajurit yang membeku dan meledak menjadi puing-puing lalu tampilan CCTV pun berakhir karena rusak terkena efek gelombang elektromagnet dari petir itu.
Morgan Rockefeller Rothschild dan para direksi kembali terpaku diam berdecak beberapa kali sambil menggelengkan kepala mereka. Suasana kembali hening karena larut dalam pikiran masing-masing.
"Tuan morgan..." salah seorang direksi mencoba mencairkan kekosongan diruangan tersebut. Ia kembali berkata :
"Kita telah kehilangan seratus lima puluh anggota kita untuk dua kali penyerangan. Mereka adalah pasukan ahli senjata api dan ahli bela diri tangan kosong Krav Maga."
"Setidaknya kerugian kita tidak sebesar aslan si pemimpin mafia dari JFO. Mereka harus menggigit jarinya karena telah kehilangan kurang lebih seribu anggota khususnya dalam sepuluh kali penyerangan tanpa tahu apa yang terjadi dengan semua anggota mereka." Kata salah satu direksi yang lain berusaha menenangkan pimpinannya.
"Kau benar.... keputusan untuk menghentikan penyerangan memang adalah keputusan yang bijaksana... tapi aku sangat tertarik memiliki kekuatan luar biasa itu." Kata morgan sedikit menyesali ketidakmampuannya merebut kekuatan tersebut.
"Bagaimana menurut kalian semuanya, apakah ada yang memiliki masukan saran tentang cara memiliki kekuatan tersebut" tanya morgan
"Mungkin kita tidak bisa menyerangnya dengan kekuatan kita sendiri. Bagaimana kalo kita menekan mereka dengan opini publik, kita sebar saja rekaman CCTV ini ke seluruh dunia" usul seorang direksi kepada morgan
"Aku kurang setuju usulan itu" potong seorang direksi lainnya, ia lalu melanjutkan alasannya : "Bukannya kekuatan itu harus kita sembunyikan. Bagaimana jika dunia tahu dan ingin memilikinya juga"
"Kau benar... tapi sayangnya dunia yang kau maksud sudah mengetahuinya lebih awal. Saat ini selain JFO, organisasi bawah tanah lainnya seperti LFO dan OFO kini mengetahui tentang alasan penurunan dari organisasi JFO." Kata direksi yang mengusulkan agar rekaman tersebut di publish
"Kita semua menyadari bahwa keluarga tuan morgan memiliki pengaruh besar atas tatanan perubahan dunia. Jika dunia bisa menekan SFO untuk menyerahkan kekuatannya, maka kita akan kembali menekan dunia dengan regulasi aturan yang menguntungkan kita atas alasan kemanusiaan" lanjut direksi yang sebelumnya memberikan usul.
Tuan morgan dan para direksi yang lain terdiam mencoba mencerna usulan dan alasan dari direksi tersebut.
"Hhmmmmm.... kau ada benarnya juga... walaupun kita berkolaborasi dengan JFO dari eropa, LFO dari afrika dan OFO dari australia, tapi kekuatan gabungan kita tidak akan mampu mengalahkan SFO dari china kecuali kalo kita mengetahui kelemahan mereka " kata morgan setelah memikirkan usulan direksinya
"Dan tentunya mereka tidak akan mungkin membocorkan kelemahan mereka. Jika kita tidak bisa memaksanya..... maka kita jadikan SFO sebagai musuh dunia, musuh semua umat manusia" lanjut morgan dan disetujui oleh semua direksinya.
"Segera sebarkan rekaman CCTV tersebut ke seluruh dunia dengan akun anonymous dan jangan lupa untuk menandai para kepolisian, pemilik media, kejaksaan, dan organisasi dunia seperti PPB, CYA, WHY, HOW, WHEN dan sejenisnya." Kata morgan menutup rapat direksinya.
Dua hari kemudian... media di seluruh dunia heboh dengan rekaman CCTV yang tersebar di internet. Sebagian dari mereka tidak sabar ingin menonton filmnya di bioskop karena mengira rekaman itu adalah trailer film yang sengaja disebar dengan strategi marketing tertentu. Beberapa orang lagi mengira itu hanya hoaks seperti kiamat 2012 yang sengaja disebar untuk lucu-lucuan menakuti masyarakat. Namun ada juga beberapa pihak yang mempercayai rekaman CCTV tersebut seperti pihak organisasi bawah tanah lainnya dan masyarakat di sekitar museum di kota asal elte yang pernah mengalami fenomena tersebut.
Elte dan keluarga pak jaya pun terkejut dengan rekaman CCTV yang sedang viral tersebut.
"Apa yang sudah kubilang pa... ternyata dunia kita memang dipenuhi beberapa metahuman" kata bu yuyun kepada suaminya mengingatkan percakapan mereka yang ada di chapter atau episode 17 di novel "warisan untuk manusia masa depan" karya Lutfi.
"Iya ma... kalo memang rekaman CCTV itu benar mungkin ke depannya akan dibuat sekolah khusus manusia super seperti di film-film anime hero yang sedang trend saat ini" kata pak jaya yang mencoba mengambil sisi positif kejadian tersebut dengan sebuah ide bisnis yang dapat mengantarkannya ke puncak kejayannya.
Elte memutuskan pergi ke kamar dengan alasan tidur siang dan pergi diskusi dengan sang phoenix.
"Sepertinya kamu harus mempercepat mempelajari cara memprogram segel penanda dan membuat dantian eksternal." Kata phoenix yang mendengar informasi dari elte tentang tekanan dunia pada keluarga penjaga pusaka.
Selama di alam bawah sadar, elte melanjutkan latihannya untuk memprogram segel penanda dengan rune atau pola dari elemen aether atau elemen langit.
Prinsipnya mirip dengan membuat program untuk mikroprosesor atau mikrokontroler. Program adalah kolaborasi antara Bahasa pemrograman dengan Teknik pemrograman. Jika program adalah sebuah masakan, maka bahasa pemrograman adalah alat dan bahan untuk membuat masakan. Sedangkan teknik pemrograman adalah resep masakan.
Dalam bahasa pemrograman berbasis prosedural ada tujuh poin yang perlu diketahui yakni struktur program, tipe data dan variabel (termasuk array), operator dan ekspresi, perintah input output, perintah penyeleksian atau percabangan, perintah pengulangan, serta fungsi dan prosedur.
Sedangkan untuk teknik pemrograman ada dua poin yang perlu diketahui yakni algoritma atau alur program atau standar operasional prosedur (termasuk konsep pewarisan, pengkapsulan, polimorph dan sejenisnya), dan yang kedua adalah struktur data (termasuk basis data).
Dengan mengikuti konsep pada pemrograman mikrokontroler, elte mempelajari cara memprogram segel penanda sesuai keinginan elte. Ia mencoba memasukkan elemen api secukupnya pada sebuah pisau dan memprogram sebuah segel penanda pada pisau tersebut sesuai imajinasi elte.
Jika pisau itu digenggam dengan erat maka pisau itu akan terbakar sendiri pada bilahnya sehingga lebih mematikan bagi lawan. Sayangnya kemampuan pisau itu terbatas waktunya, tergantung dari banyaknya elemen api yg dimasukkan.
Elte juga mencoba membuat beberapa bom gelombang elektromagnet dari elemen petir dan elemen gravitasi dan menyimpannya di ruang dimensinya.
Setelah merasa yakin kemampuan menempanya, elte mengetuk kamar yuni dan meminjam cincin gioknya untuk diupdate. Ia memprogram cincin tersebut agar mengirimkannya sinyal komunikasi saat pengguna cincin merasa ketakutan, sedih, marah dan saat pengguna terkena obat bius atau obat perangsang.
Setelah cincin itu di update, ia mengembalikan cincin tersebut ke yuni dan meminta tunangannya untuk mengingatkannya agar tiap bulan mengupdate cincin itu.
Pada malam hari saat semua telah tertidur, Elte pergi menuju ruang dimensinya untuk menempa logam dari batu meteor dengan pola enskripsi program sesuai dengan alur prosedur yang telah dijelaskan sebelumnya oleh sang phoenix.
Setelah memasang semua logam tersebut ke dalam peti batu dan memastikan semua bahan telah lengkap termasuk darahnya, ia mengaktifkan segel penanda agar berjalan sendiri dengan otomatis selama sebulan penuh.
Menurut penjelasan sang phoenix, darah elte dimasukkan sebagai bahan pembuatan dantian, agar dantian tersebut hanya akan mengenali pemiliknya melalui DNA elte yang ada di darah tersebut.
Setelah semuanya beres, sebelum tidur. Ia kembali ke kamarnya dan menyempatkan untuk mandi membersihkan dirinya dan beribadah lima waktu.