
Seminggu sebelum proses pembuatan dantian eksternal selesai, elte dan yuni diantar oleh supir keluarga ke SMA Neg. 55555 dalam rangka mengikuti Masa Orientasi Siswa atau MOS.
Elte dan yuni tiba di gerbang sekolah sebelum pukul 06:00 WIB. Mereka lalu berjalan masuk dan melihat dari kejauhan ada yang sedang ramai-ramai di dekat ruang Tata Usaha atau TU, akhirnya mereka menghampiri tempat tersebut, ternyata di papan pengumuman, sudah ada selembaran-selembaran kertas yang berisi nama nama siswa siswi baru, untuk pembagian kelas selama MOS.
Elte lalu mencari namanya dan nama tunangannya di selembaran tersebut dan akhirnya ketemu. Elte dan yuni ternyata bersama-sama di gugus tiga atau Gugus C.
Setelah mengetahui kelompok mereka, elte dan yuni menuju lapangan untuk bergabung dengan para siswa baru menunggu acara pembukaan MOS oleh kepala sekolah.
"Tes.. Tes.." Kepala sekolah mencoba mikrofonnya, setelah dikira cukup ia memulai pidatonya : "Selamat pagi anak-anak ku sekalian, selamat datang di sekolah yang sama sama kita cintai... bla...bla...bla...bla... " kepala sekolah memulai kata sambutannya yang cukup lama dengan inti pembicaraan bahwa dia cuma berpesan kepada kita semua untuk menjaga nama baik sekolah.
Setelah acara pembukaan MOS di lapangan telah selesai, acara dilanjutkan dengan kegiatan MOS. Elte dan yuni beserta para siswa baru dibawa oleh panitia ke kelas masing-masing sesuai kelompok gugus yang sudah dikelompokkan di papan pengumuman dekat ruangan TU.
Saat elte dan yuni masih SMP, kegiatan MOS diwarnai dengan kegiatan-kegiatan games dan hal-hal yang seru lainnya karena adanya pengawasan dari sekolah. Namun suasana SMa terasa sangat berbeda. Kegiatan ini cuma mengerjain junior doang, dimana pada kegiatan itu senior selalu benar, dan junior selalu salah.
Setiap kelas diawasi oleh lima orang senior. Dimana tugas mereka adalah, memberikan arahan terkait peraturan dan pengetahuan mengenai sekolah, itu kalau menurut aturannya, sedangkan pada kenyataanya, kerja mereka cuma menyuruh siswa baru yang tidak-tidak, siswa baru disuruh menyanyi, berjoget, pokoknya beberapa jenis perpeloncoan yang masih ringan.
Setelah semuanya selesai, guru wali kelaspun akhirnya pamit keluar. Baru sepuluh langkah guru wali kelas keluar, para senior sudah mulai kelihatan taring dan tanduknya. kalau ibaratnya versi siswa baru, sudah meninggal baru sepuluh langkah yang melayat meninggalkan makam kita, siksa kubur sudah dimulai.
"WOIII,... KALIAN PIKIR KALIAN SIAPA HAAA? ENAK AJA MILIH KURSI SAMA TEMEN SENDIRI" teriak salah satu senior kepada semua siswa baru di dalam kelas. Suasana seketika terasa mencekam di hati dan pikiran para siswa baru.
"Semuanya berdiri didepan. kita yang nentuin lo duduk dimana dan sama siapa" lanjut senior yang lain menimpali teriakan temannya.
Para siswa baru pun rame-rame berdiri, kayak kambing yang dikumpulin buat dikurbanin.
"Oke, gue akan panggil nama kalian satu-satu, kalian cukup nunjuk tangan doang, nanti kita yang nentuin siapa sama siapa nya" cerocos senior tadi melanjutkan perintahnya
Setelah semuanya dipanggil, Elte yang terakhir belum dipanggil, elte merasa cemas, kenapa ia belum disuruh duduk. Elte melihat tunangannya sudah tenang dikursi, sebelahan sama cewek, namanya Ruri masruri, anaknya manis.
"Oke, semuanya sudah diatur tempat duduknya, silakan kalian kenalan dulu sama temen baru kalian" perintah seorang senior yang pertama berteriak.
Elte, masih berdiri didepan, ia pun memberanikan dirinya buat bertanya.
"Maaf kak, saya belum kebagian tempat duduk" ucap elte sopan.
"eh, bos. ada satu monyet belom kebagian kursi tuh" ucap salah satu senior, dengan suara cemprengnya sambil cengengesan.
"oh masih ada ya, kirain sudah habis" senior yang dipanggil bos melihat elte sambil cengengesan
"iya kak, saya belum kebagian tempat duduk" elte menjawab dengan sopan
"Nama kamu siapa... " tanya senior tersebut yang membuat elte tersadar akan alasan dirinya belum dipanggil.
"Huff... pasti mau meledek nama saya dengan wajah saya" ratap elte dalam hati.
"Elte yawarakai kak... " jawab elte
"Hahahahaha..." seketika suasana kelas menjadi ribut oleh tawa para senior dan beberapa siswa baru. Mereka tertawa karena nama elte yang bernuansa jepang tidak sesuai dengan wajah pribuminya yang berkulit sawo matang agak gosong.
"Hahahaha.... nama kamu kok bernuasa jepang.... kamu dari jepang ya" tanya senior tadi dengan tawa lebarnya
"Tidak kak... suku saya campuran bugis, makassar dan jawa kak..." jawab elte yang kembali mengundang tawa seisi ruangan kecuali tunangannya.
"Hahahaha... mungkin ni anak ada darah jepangnya bos... mungkin saja seorang samurai atau shinobi" ejek seorang senior yang banyak diam
"Wow shinobi ya..hhmmm... coba kamu lompat salto sekarang sambil memeluk lutut saat diudara" lanjut senior tadi yang seorang pencinta manga dan anime jepang.
"Iya kak.." jawab elte dan kemudian melakukan salto sesuai permintaan seniornya dan selanjutnya suasana kelas seketika hening melihat gaya salto yang hanya mereka bisa lihat di televisi.
Setelah beberapa saat terdiam, Roni prasetyo, senior yang dipanggil bos oleh teman-temannya merasa ditantang dan kemudian berteriak : "LO KIRA LO SIAPA NYET? JANGAN KIRA LO BISA SALTO TERUS GUE BAKAL BIARIN LO KURANG AJAR", senior itu membentak elte sambil mendorong badan elte sampe tersandar ke papan tulis.
Elte merasa bingung dengan sikap seniornya yang tiba-tiba membentak. Ia lalu berkata : "Santai kak, aku kurang mengerti salahku dimana" nada suara elte sedikit meninggi karena tidak ingin lagi di bully diluar aturan MOS.
"ooo.. lo ngelawan" pelotot roni.
Beberapa senior lain sudah mulai berdiri. Para siswa baru cuma bengong melihat suasana kelas mulai kurang kondusif.
"Maaf kak, aku nggak mau cari ribut, cuma aku kurang mengerti maksud kakak apaan" ucap elte santai.
Roni merasa tidak terima dengan jawaban elte, dia langsung menarik kantong baju seragam elte sampai robek dan menggantung kebalik. Lalu dia tertawa kencang, "heee,... melihat dari muka pribumi lo, pasti lo anak orang nggak punya, disini itu sekolah buat anak orang kaya, mungkin orang tua lo udah jual diri buat ngurusin sekolah lo" ledek roni membuat wajah sawo matang elte menjadi merah padam karena menahan amarah.
"Buuk..." seperti itulah kira-kira suara tendangan elte ke wajah roni yang langsung jatuh pingsan.
Keempat senior yang lain segera mengelilingi elte dengan gaya kuda-kuda khas karate. Sementara beberapa siswi baru termasuk yuni berteriak panik melihat kejadian tersebut.
Beberapa guru yang sedang berjalan di dekat ruangan kelas elte mendengar teriakan para siswi dan segera ke lokasi kejadian. Sesampainya di kelas, ia melihat empat orang senior bersiap-siap mengeroyok seorang murid baru.
Para guru lalu menghentikan mereka dan membawa roni ke ruang Unit Kesehatan Sekolah atau UKS sedangkan elte dan keempat senior di bawah ke ruang Bimbingan dan konseling atau BK.
Setibanya elte dan keempat seniornya di ruang BK, mereka mulai di sidang oleh beberapa guru BK. Elte menjawab semua pertanyaan guru BK dan mengakui kesalahannya karena menggunakan kekerasan.
Keempat senior tadi memilih berdamai dan tidak memperpanjang masalah, namun dalam hatinya, mereka berniat ingin mengeroyok elte. Sang prontagonis kita hanya bisa menghembuskan nafas pasrah saat membaca pikiran keempat seniornya.
Sebelum kembali ke ruang kelas, elte dihukum berlari mengelilingi lapangan bola seluas 90 x 45 meter sebanyak sepuluh putaran.
Elte memutuskan untuk berlari, tanpa bantuan elemen cahaya atau persepsi internal, agar tubuhnya berkeringat dan tidak membuat orang lain curiga, seperti saat gurunya tetsu yang melihat keanehan dirinya berlari terus menerus tanpa kelelahan.
Setelah berlari mengelilingi lapangan, elte menjadi merasa gerah dan ingin buang air kecil, elte pun pergi ke toilet untuk buang air kecil dan cuci muka agar bisa segar kembali.
Saat ditoilet elte membuka pintu salah satu toilet untuk buang air kecil. Dan saat elte membuka pintu kamar mandi itu, terlihat sosok seorang perempuan manis lagi jongkok di kloset. Elte sempat membeku beberapa saat dan mereka berdua saling bertatap-tatapan beberapa saat. Hingga akhirnya gayung berisi air melayang ke wajah elte. Tunangan dari yuni itu pun langsung lari kembali ke kelas. Rasa ingin buang air kecil dan rasa gerah menghilang begitu saja setelah kejadian itu.
Sesampai di kelas ia disuruh duduk oleh ibu tari mentari, guru wali kelas mereka. Elte disuruh ke pojok belakang menempati sisa kursi yang masih kosong. Kursi itu adalah tempat duduk favorit para siswa karena posisi itu merupakan lokasi paling strategis untuk melakukan banyak aktifitas, seperti akitfitas tidur, menyontek, melirik gebetan, membaca komik dan masih banyak lagi keuntungannya duduk di pojok belakang.
Tari mentari adalah guru baru yang masih merasa demam panggung saat berbicara di depan para siswa.
Suaranya sangat kecil dan hanya bisa terdengar jika suasana kelas sangat hening. Hal itu membuat mata para siswa semakin berat. Tanpa sadar suasana kelas mulai berisik karena beberapa siswa memilih bergosip untuk mengusir rasa kantuk yang mulai melanda.
"Tok... tok... tok" seperti itulah kira-kira suara pintu kelas yang sedang diketuk dari luar.
Bu tari beranjak dari kursinya menuju pintu dengan iringan tatapan dari para siswa yang penasaran dengan pelaku ketukan.
Saat pintu terbuka, terlihat lima orang siswa yang mengaku sebagai panitia pendamping MOS yang baru. Mereka diberikan perintah oleh kepala sekolah untuk bertukar posisi dengan panitia pendamping sebelumnya.
Kaki elte seketika lemas melihat salah satu senior pendamping kelasnya adalah perempuan yang barusan ia lihat di toilet siswa.
Ia sendiri masih bingung kenapa perempuan itu memilih buang air di toilet cowok, mungkin saja saat itu toilet cewek sedang penuh dan perempuan itu sudah tidak tahan ingin buang air.
Elte secara refleks menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat oleh perempuan itu. Dalam pikirannya sempat terlintas ingin segera membuat dirinya transparan namun segera ditepisnya karena akan membuat heboh jika ada yang melihatnya tiba-tiba menghilang.
Bu tari mentari lalu memperkenalkan kelima siswa senior tersebut sebagai pendamping MOS yang baru. Setelah selesai memperkenalkan mereka, ia lalu ijin pamit ke para siswa baru lalu melangkah keluar kelas dengan bibir tersenyum lega.
Senior pendamping yang baru, terdiri atas tiga orang siswa laki-laki dan dua orang siswi perempuan. Saat sang guru wali kelas telah meninggalkan kelas, senyuman sopan dan berwibawa dari para senior itu seketika lenyap berganti senyum cengengesan.
Seorang senior mengetuk meja guru dengan cukup keras sambil berteriak : "Woi... denger ya semuanya.... hari ini kami mau lo elo semuanya, para siswa baru, letakkan tas kalian di atas meja... hari ini kami akan melakukan razia... awas ya kalo ada yang berani membawa rokok, narkoba, senjata tajam, komik manga, komik manhua, komik mahwah atau CD porno."
Semua siswa baru mengikuti perintah seniornya. Beberapa siswa baru terlihat ketakutan dan meneteskan keringat dari keningnya. Ia lalu melirik ke kanan dan ke kiri mencari mangsa. Ekor matanya melihat elte yang duduk disampingnya masih menundukkan kepalanya.
Siswa baru itu diam-diam melempar tas elte dengan sebuah novel lalu terjatuh di lantai. Beberapa siswa baru membalikkan kepalanya melihat elte yang terkejut karena novel itu hampir mengenai kepalanya.
Mendengar suara benda jatuh dan beberapa siswa baru berbalik kebelakang. Seorang senior lalu pergi ke pojok belakang menuju ke meja elte. Senior itu melihat sebuah buku novel tergeletak di lantai di bawah kaki elte.
Ia lalu mengambil dan membaca judul novel itu dengan suara keras : "Desahan di atas Ranjang yang Ternoda". Semua siswa baru seketika tersentak mendengar judul novel yang terdengar mesum itu.
Yuni, elte bahkan senior yang mendengar judul novel tersebut ikut terkejut. "Apa-apaan nih..." bentak senior itu marah namun hatinya sedikit gembira mendapatkan bahan bacaan baru untuk aktifitas olahraga lima jari di rumahnya nanti.
Perempuan yang dilihat oleh elte di toilet itu pun ikut terkejut mendengar judul novel itu dan wajahnya seketika memerah karena marah, malu dan kesal saat melihat wajah elte yang masih kebingungan. Tanpa sadar ia menghentakkan kakinya di lantai dan mengundang perhatian seluruh kelas termasuk elte.
Elte melihat perempuan itu mengobrol dengan para senior sambil menunjuk wajahnya. Beberapa senior laki-laki menatap wajah elte dengan wajah marah setelah mendengar perempuan itu berbicara.
"Gue denger, ada siswa baru yang sok-sok an sudah berani cari masalah di hari pertama ini" kata senior laki-laki yang sedang duduk di meja guru. Ia lalu berteriak sambil menunjuk ke arah elte : "lo yang disana maju sini".
"Iya kak" jawab elte lemas sembari berjalan menuju ke depan kelas.
"Denger semua ya, ini contoh yang tidak baik. Di hari pertama sudah berani buat ulah. Tidak hanya berani gangguin sama ngegodain senior ceweknya, lo juga berani bawa novel porno di kelas" bentak senior itu menatap elte dengan tajam.
"Maaf kak, sumpah gak sengaja" jawab elte yang hanya fokus dengan kesalahannya yang tidak sengaja melihat ******** perempuan itu di toilet. Ia tidak fokus lagi dengan tuduhan seniornya tentang novel porno yang dituduhkan kepadanya.
Seketika punggung elte terasa dingin seakan-akan ada aura pembunuh di belakangnya. Ia lalu mengaktifkan zona persepsinya untuk mendeteksi siapa orang yang berani menargetkannya.
Saat tahu pemilik niat itu adalah tunangannya sendiri, kaki elte semakin lemas menyadari kesalahpahaman yang muncul di pikiran yuni.
"Yah setidaknya perempuan itu hanya mengatakan kalau aku hanya sekedar mengganggu dan menggombal dia, bukan cerita tentang kejadian sebenarnya saat aku tidak sengaja melihat dia sedang buang air kecil di toilet." Pikir elte menghibur dirinya.
Walaupun sedikit lega, tapi sore itu menjadi sore yang sangat memalukan bagi elte. Ia dikerjain habis-habisan oleh para senior didepan para siswa baru lainnya. Elte menjadi bahan canda tertawaan oleh semua.
Elte tidak membalas para seniornya karena ejekan para senior tersebut hanya menuju ke dirinya dan bukan ke orang-orang yang ia sayangi. Apalagi minggu ini memang momen MOS dan perpeloncoan untuk siswa baru.
Selama beberapa hari menjalani MOS, elte melihat beberapa siswa cewek kalau melihatnya dengan tatapan aneh. Begitulah keadaan menyedihkan elte saat menjalani MOS yang memalukan. Setiap hari selalu saja dikerjain oleh para seniornya.
"Yah setidaknya momen ini kelak bisa jadi cerita tersendiri dimasa depan nanti.... ada beberapa hal yang memang harus dilawan dan dihadapi namun ada juga hal yang hanya bisa pasrah diterima layaknya siswa baru yang normal." pikir elte menghibur hatinya sendiri.
Hal yang cukup menyedihkan bagi elte adalah sikap yuni yang menjaga jarak saat di sekolah. Walaupun yuni telah mengetahui kejadian yang sebenarnya dari cerita elte, namun ia tetap menjaga jarak karena kini elte memiliki citra negatif di sekolah barunya sebagai siswa mesum. Dan yuni belum siap dikenal sebagai tunangan dari siswa mesum tersebut.