
Sebulan telah berlalu, kini elte akan bersiap-siap mengikuti masa orientasi siswa atau yang dikenal dengan sebutan MOS.
Elte dan yuni akan memasuki sekolah menengah pertama di SMP Neg. 12345 yang merupakan SMP terfavorit di ibu kota negara.
Pak jaya membawa bu yuyun, yuni, elte dan bu ani ke apartemennya yang ada di dekat kantor pusatnya di ibu kota negara.
Yuna kini tinggal di rumah walikota setelah dinikahi dan dikawini oleh yuda akibat candaan pak jaya. Setelah merasa terancam dengan statusnya sebagai calon menantu, ia segera memohon ke orang tuanya untuk melamar tunangannya.
Pak karya masih menemani istrinya bu yeyen untuk mengurus ijin pindah dari rumah sakit dan kampus tempat ia bekerja. Mereka berencana ikut pindah ke ibukota.
Bu yeyen diminta oleh kakak iparnya untuk menjadi dokter kepala di rumah sakit yang ia baru bangun karena pak jaya berencana membuka bisnis baru di bidang kesehatan dan pengobatan sesuai dengan rencana awalnya bersama bu yuyun.
Suami bu yeyen juga membantu istrinya agar bisa ikut mengajar di fakultas kedokteran di universitas yang sama dengan dirinya. Mereka berencana akan tinggal di apartemen yang berbeda dengan kakaknya tapi masih di gedung yang sama.
Di depan gerbang sekolah SMP 12345, sebuah mobil mewah hitam berhenti dan turunlah sepasang anak yang menarik perhatian semua orang.
Yang satu adalah seorang anak perempuan manis dan cantik dengan kulit putih bersih, rambut hitam sebahu, mata imut dan sebuah lesung pipit di wajahnya.
Yang satunya lagi seorang anak lelaki dengan wajah manis berkulit sawo matang agak gosong tapi bersih dan rapi. Anak lelaki itu terlihat lebih gosong karena sering melakukan olahraga di taman depan gedung tempat tinggalnya.
Saat mereka berdua berjalan bersama terkesan seperti putri raja yang sedang ditemani dengan budaknya.
Kedua anak yang baru pamitan dengan orang tua yang mengantarnya adalah elte dan yuni. Di bahu mereka telah tersampir sebuah tas yang terbuat dari plastik kresek dan di dalam tas tersebut, terdapat beberapa tugas MOS yang harus mereka kumpul pagi ini seperti dari air desa (air putih), pulpen cita-cita (pulpen merk pilot), buku terang (buku merk Sinar Dunia), air yang dihormati (susu bendera), dan lain sebagainya.
Pak jaya dan bu yuyun sempat kebingungan dengan tugas-tugas tersebut. Namun elte yang sebelumnya sudah searching di warnet memberi tahukan arti dari kode-kode MOS itu.
Pada kegiatan MOS tersebut, yuni dan peserta perempuan lainnya diperintahkan oleh panitia osis untuk memakai pita sedangkan elte dan peserta yang laki laki, memakai topi yang terbuat dari bola.
Dan untuk semua peserta didik baru baik yang perempuan maupun yang laki laki diperintahkan untuk memakai kaos kaki berwarna merah pada kaki sebelah kanan dan kaos kaki berwarna putih pada kaki sebelah kiri.
Pada hari pertama elte dan semua peserta didik baru mengikuti apel pembukaan. Dan pada masa MOS itu bagi elte sangat menyenangkan karena panitia osisnya selalu mengajak para peserta untuk bermain game atau kuis.
Yang cukup menarik dari serangkaian acara MOS adalah waktu demo dari unit kegiatan ekstrakurikuler yang begitu banyak dan seru ketika dilihat. Ada osis, pramuka, pmr, paskibra, studi club keilmuan, karate, basket dan futsal.
Hal yang paling mengesalkan saat MOS adalah saat perkenalan diri. Banyak murid dan juga panitia tertawa karena nama elte yawarakai yang menggunakan bahasa jepang, tidak sesuai dengan kondisi fisiknya yang asli pribumi.
Namun rasa kesal itu sedikit lenyap saat giliran yuni memperkenalkan diri. Dengan percaya diri, yuni memperkenal elte sebagai tunangannya yang sudah diatur oleh keluarga, yuni sedikit takut dengan murid-murid ibu kota negara yang terkenal cantik dan berpotensi menjadi Perebut Hati Orang.
Banyak murid laki-laki yang seketika patah hati karena cintanya pada pandangan pertama terasa layu sebelum berkembang.
Tanpa disadari oleh elte, ada sepasang mata menatap dirinya dengan tatapan benci.
Tak terasa elte dan semua peserta didik baru telah melakukan kegiatan MOS hingga hari terakhir dan mereka semua mengikuti upacara apel penutup.
Elte awalnya merasa tegang karena MOS yang ia baca dari internet, banyak berisi dengan kegiatan perpeloncoan, penindasan, perundungan, pengintimidasian atau pembullyan terhadap para murid baru.
Namun karena sekolah yang ia masuki banyak berisi dengan anak pejabat dan orang kaya, maka pihak sekolah memutuskan untuk ikut campur mengawasi proses kegiatan MOS saat sedang berlangsung.
Setelah seminggu Masa Orientasi Siswa, kegiatan belajar mengajar pun di mulai. Elte dan yuni mendapatkan kelas yang terpisah karena diacak oleh para guru.
Pada kelas satu, para murid belum bisa dibagi berdasarkan kemampuannya, nanti naik ke kelas dua baru menggunakan istilah kelas unggulan.
Pada minggu pertama kegiatan belajar mengajar, hanya diisi dengan perkenalan saja pada guru guru yang akan mengajar dan pada teman-teman kelas.
"Selamat pagi anak anak semua ...... kenalkan nama saya toni bintang dan kalian semua bisa memanggil saya, pak toni ...... saya adalah wali kelas kalian mulai dari sekarang... "
"Minggu lalu kalian sudah melalui masa orientasi siswa atau MOS, di masa itu kalian sudah diberi tugas oleh panitia untuk mencari tanda tangan senior dan guru-guru kalian. Minggu depan kita akan mulai memasuki proses belajar mengajar."
"Selain sebagai wali kelas kalian, saya juga akan menjadi guru Mafia kalian" pak toni terdiam menunggu anak-anak muridnya kaget dengan guyonannya, tapi semua murid sudah mengetahui candaan klasik itu.
"Guru Mafia bukan berarti saya guru jahat ya... hahahahaha..... guru mafia itu kepanjangan dari guru matematika, fisika, kimia ......... hahahahaha..." pak toni tertawa dengan candaannya sendiri.
Selanjutnya pak toni mengisi waktu di kelas dengan menceritakan pengalaman hidupnya, Ia sangat bangga, karena ia satu-satunya guru di sekolah itu yang pernah kuliah di tiga jurusan yang berbeda di fakultas MIPA, yakni jurusan matematika, jurusan Fisika, dan jurusan Kimia.
Pak toni merupakan salah satu guru andalan yang sangat cerdas, ia sebenarnya pernah ditawari untuk mengajar di level SMA bahkan di universitas tempatnya kuliah, namun pak toni lebih memilih mengajar di sekolah tempat ayahnya bekerja sebagai security selama bertahun-tahun.
Pak toni sangat senang menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh suka duka sebagai anak satpam di sekolah itu, tidak lupa ia juga selalu menyisipkan lelucon yang terdengar tidak lucu oleh para murid dan diikuti dengan tawa lepasnya.
Beberapa murid mulai merasa mengantuk karena bosan, elte sendiri bahkan harus melakukan kultivasi nasi pepes, membangkitkan elemen cahaya, untuk mengembalikan staminanya, yang terasa terserap oleh tawa pak toni.
Waktu istirahat pun menghampiri, memberikan spirit tersendiri bagi para murid yang terserang kantuk, termasuk Elte.
"Oke... anak-anak, kita istirahat sejenak ... setelah istirahat kita akan memulai pemilihan ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris dan bendahara kelas." Pak toni menutup cerita pengalaman hidupnya yang ia harapkan bisa menjadi pemicu semangat belajar buat anak didiknya kelak.
Di luar kelas, yuni sudah menunggu elte untuk makan bersama di kantin.
Saat sudah tiba di kantin, yuni menanyakan pesanan elte dan ikut mengantri giliran, didepan ibu kantin.
Beberapa senior yang terkenal suka membully, mulai mendatangi elte. Ia mengambil segelas es teh milik seorang murid culun dan menyiram kepala elte.
"Hahahaha.....Oh ini ya... budak yang sudah ditunangkan dengan putri raja..... bukannya ini anak yatim yang dulunya suka memulung sampah... hahahaha" kata seorang anak murid baru yang datang bersama para senior tadi.
Semua mata yang ada di kantin tertuju ke arah elte, termasuk mata yuni, mata ibu kantin dan mata pegawainya ibu kantin. Hanya satu pasang mata yang tidak terpengaruh oleh kejadian tersebut, yaitu sepasang mata imut dari seekor kucing yang sedang fokus mengamati ikan goreng ibu kantin.
Mata elte dan mata yuni terbuka lebar melihat anak yang barusan ngomong. Elte lalu teringat dengan kasus pembullyan yang ia rasakan waktu SD, dan dengan kemampuannya sekarang, ia tidak akan membiarkan dirinya di bully lagi.
"Lho... ini kan dadang wiranto, anak mantan walikota yang bapaknya masuk penjara karena kasus korupsi dan skandal video porno..." teriak elte pura-pura kaget dan membuat semua orang yang ada di kantin ikut kaget, termasuk yuni, ibu kantin dan pegawai ibu kantin. Kucing yang sedang fokus mengintai ikan goreng pun ikut kaget karena saat ibu kantin kaget ia segera menutup pintu lemari makanan.
Dadang tidak menyangka anak yang dulu sering ia bully sekarang berani melawannya. Bahkan membuka aib keluarganya. Ia lalu menyuruh para senior yang ia sudah bayar sebelumnya untuk menghajar elte.
"Kakak senior yang terhormat, kalian bisa saja memukul saya, tapi perlu kalian tahu bahwa saya adalah anak angkat dari pak jaya wijaya yang juga ayah kandung dari tunangan saya."
"Beliau adalah pimpinan perusahaan entertainment dan memiliki banyak wartawan atau kuli tinta yang tentunya akan siap mengangkat berita pemukulan ini ke media cetak"
"Kakak-kakak senior pasti tidak ingin kan dipanggil oleh orang tua kalian untuk mengklarifikasi berita tersebut"
Elte mencoba menakuti para seniornya dengan cara yang ia anggap paling aman. Melawan dengan cara berkelahi pasti tidak akan selesai karena melahirkan rasa dendam.
"Heee..... benarkah... " kata senior yang tadi menyiram elte dengan es teh.
"Yah benar.... kalo tidak percaya silahkan searching di internet tentang berita pertunangan kami yang diadakan oleh pak jaya sendiri. Mungkin kamu juga akan mendapatkan berita tentang video skandal dari orang tua anak itu" kata elte sambil menunjuk dadang yang sudah berwajah pucat.
Beberapa anak segera membuka handphonenya dan mulai berselancar di dunia maya.
"Wah bener nih... ada beritanya" kata salah satu murd yang ada di kantin.
Mendengar suara gosip yang mulai bertebaran, dadang memutuskan untuk kabur kembali ke kelas. Para senior pun mulai gentar dengan ancaman yang belum pernah ia dapat selama hidupnya.
Beberapa anak murid yang menyaksikan kejadian tersebut merasa kagum atas cara elte yang sangat dewasa menyelesaikan tantangan dari senior yang suka membully itu.
Ibu kantin dan pegawainya juga merasa salut atas kedewasaan anak itu, seingat mereka, jika para senior itu datang mengganggu di kantin biasanya berakhir kurang baik, kalo bukan si anak yang di bully itu kabur, biasanya akan terjadi perkelahian konyol dan tidak berimbang.
Tidak lama kemudian, yuni datang ke meja elte dan menyarankan untuk membersihkan dirinya ke toilet. Namun karena waktu istirahat tinggal sedikit, ia meminta yuni agar makan dulu supaya kuat menerima pelajaran di kelas.
Elte mengira wali kelas yuni memiliki perilaku seperti pak toni yang bisa memaksanya menggunakan kultivasi nasi pepes dengan elemen cahaya untuk mengembalikan staminanya.
Setelah makan di kantin, elte mengantar tunangannya kembali ke kelas. Para pegawai bu kantin yang masih jomblo hanya bisa saling menguatkan karena melihat keromantisan anak smp kelas satu itu.
Setelah mengantar tunangannya di kelas, elte berencana ke toilet yang ada di belakang sekolah terlebih dulu untuk membersihkan diri lalu ke kembali ke kelasnya.
Saat keluar dari pintu toilet, beberapa anak muda yang tidak memakai seragam sekolah memanjati pagar sekolah dan menghadang elte.
"Wooiii anak kecil..... gue denger kalo lo anak orang kaya ya, ..... bagi duit dong buat rokok...." kata salah satu preman uang nampak seperti pimpinannya.
Elte hanya terdiam dan berpikir bahwa sepuluh preman yang terlihat berumur diatas dua puluh tahun itu, tidak mungkin nekat masuk ke sekolah kalo hanya sekedar ingin memalak.
Tunangan dari anak bungsu pemilik perusahaan entertainment itu merasa yakin bahwa preman-preman itu pasti dibayar oleh seseorang untuk mencari masalah dengannya.
Sayangnya ia belum bisa kembali membaca pikiran orang lain sehingga ia tidak tahu persis orang yang menyuruhnya, elte mencurigai kalo bukan si dadang, pasti para senior tadi.
"Woee.... pe.a. ...lo budek ya...." bentak preman itu mulai kesal menunggu. [pe.a. \= pendek akal atau goblok]
Beberapa anak yang masih di toilet, buru-buru menyiram hajatnya dan segera pergi dan mengintip dari kejauhan.
Elte hanya terus terdiam menperhatikan para preman itu. Ia berpikir harus sedikit memberi pelajaran buat preman itu dan menginterogasi mereka agar menyampaikan siapa yang menyuruh mereka.
Elte lalu melakukan rotasi energi dan mengaktifkan kekuatan tubuh baja, tubuh kapas dan pukulan ledakan, dengan porsi energi kecil yang dianggap cukup menghadapi manusia biasa.
Melihat anak itu cuman terdiam sambil memasang muka bodohnya, salah satu preman yang tadi membentak, mulai melayangkan pukulannya.
Ssyuuuuttttt...... seperti itulah kira-kira bunyi pukulan yang meleset karena elte menghindar.
Dengan mengaktifkan tubuh kapas hasil manipulasi elemen gravitasi, elte mampu melihat gerakan cepat serta mampu bergerak ringan dan lincah.
Pukulan yang meleset menyebabkan preman itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Melihat pimpinannya terjatuh, kesembilan preman yang lain ikut mengeroyok elte.
Elte hanya terus menghindar dan sesekali menangkis pukulan atau tendangan menggunakan tubuh baja hasil manipulasi elemen kristal.
Sesekali elte menggunakan elemen cahayanya untuk mengembalikan staminanya saat melawan keroyokan para preman itu.
Elte menggunakan porsi energi secukupnya agar ia bisa menggunakan beberapa kemampuan elemen bersamaan.
Sepuluh menit telah berlalu, para preman itu mulai merasa kelelahan mengeroyok elte yang terus menghindar dan menangkis.
Elte ingin memukul para preman itu agar bisa segera ia interogasi, namun ekor matanya menangkap beberapa murid lain mulai berdatangan untuk menonton. Bahkan ada yang sengaja membawa popocorn dan cemilan lainnya agar merasa nyaman saat menonton.
Melihat seorang security berlari ke arah mereka, para preman itu memutuskan untuk kabur dengan memanjat kembali pagar di belakang sekolah.