WUMMM

WUMMM
67. Pembalasan Dendam.



Dini hari di sebuah ibu kota di salah satu bagian pulau di sulawesi tempat elte dilahirkan dan dibesarkan, di sebuah gedung kecil di pinggir kota, sembilan preman sedang terkapar di lantai sambil meringis kesakitan. Tidak jauh dari mereka seorang pria paruh baya dengan tubuh kurus dan sebuah luka codet diwajahnya sedang merokok santai sambil menatap rembulan lewat jendela gedung tersebut.


"Aaiiihhhhh...... sepertinya aku kembali ke titik awal sebagai preman.... aku akan mencari tahu dan membalasnya sepuluh kali lipat" kata pria itu lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Sesekali tangannya menjentik rokok tersebut agar abu pada ujung rokoknya terjatuh ke lantai gedung.


Salah satu preman berusaha berdiri dan menghanpiri pria paruh baya itu. Sambil meringis ia memegang perutnya yang masih terasa melilit akibat pukulan pria paruh baya itu.


"Wah... wah... wah.... nggak nyangka banget ya... mantan walikota kita ternyata jago berkelahi... sepertinya suasana penjara sangat berkontribusi dalam kemampuanmu.... luka codet itu sangat cocok di wajahmu yang kini sudah berubah tirus..." sindir preman itu kepada anto wiranto yang telah berhasil kabur dari penjara.


"Hahahahahaha..... sepertinya kau belum mengenaliku dengan baik rupanya.... menghadapi sembilan preman kecil seperti kalian bukanlah hal yang sulit.... apalagi saat aku masih jadi preman" kata mantan walikota itu membuat kening preman tadi berkerut.


"Saat masih jadi preman..?" Kata preman itu kebingungan.


Mantan walikota itu masih menatap rembulan di langit. Malam itu ia melihat sang rembulan sedang kesepian tanpa ada satupun bintang menemaninya. Langit malam terlihat bersih namun terasa ada yang mengganjal. Tanpa ditemani sang bintang, bulan terlihat menakutkan. Begitu pula dengan perasaan ayah dari sugeng dan dadang. Kebebasannya saat ini harus ia bayar dengan status buronan. Namun ia sudah memiliki rencana agar dirinya bisa bebas dari jeratan hukum.


Mantan suami dari anti wiranti itu lalu menghembuskan nafasnya dan memalingkan wajahnya ke salah satu preman yang masih berdiri bingung memikirkan perkataan pria paruh baya itu.


"Kehidupan kecilku sangat keras.... umur sepuluh tahun aku sudah terlibat perkelahian dengan kekerasan. Tidak tanggung-tanggung aku selalu membuat lawanku mengalami cidera serius dan menjadi cacat." Kata sang mantan walikota itu kepada preman yang masih menatap anto dengan siaga.


"Masa mudaku diwarnai dengan pergaulan bebas, sudah beberapa kali aku berpindah geng dan mencari lawan bertarung. Beberapa kali aku nekat menjadi begal merampok orang dengan kekerasan demi dapat diterima menjadi anggota geng yang lebih besar lagi."


"Hingga pada umur tujuh belas tahun, aku menjadi preman yang paling disegani di ibu kota negara."


"Aku lalu menjebak seorang gadis kaya dan berhasil merebut bisnis orang tuanya. Dengan menggunakan tubuh dari gadis kaya itu yang kini menjadi istriku, aku menjebak beberapa pengusaha kaya lainnya agar mau bekerja sama dengan bisnisku."


"Setelah menguasai bisnis di beberapa bidang aku lalu menggunakan kekayaanku untuk menjadi anggota dewan dan pindah ke kota ini. Setelah bertahun-tahun terjun ke dunia politik, aku pun menjadi seorang walikota" kata  mantan walikota itu mengingat masa lalunya.


"Dan walikota itu sekarang menjadi narapidana dan bahkan kini menjadi buronan polisi" lanjut preman itu menyindir sang manta walikota.


Anto terdiam sejenak lalu tertawa mendengar sindiran preman itu. Ia lalu berkata, "untuk kembali mencapai puncak kejayaanku, aku hanya perlu mengulangi masa laluku"


"Setelah membalas orang-orang yang pernah menjatuhkanku dan yang pernah meninggalkanku di kota ini, aku akan kembali ke mantan istriku"


"Aku akan merebut kembali bisnis yang telah aku besarkan." kata anton dengan tatapan berapi-api.


"Oh ya.... terus bagaimana dengan status buronanmu, aku pikir, saat kau kembali merebut bisnismu kembali, para polisi itupun akan kembali menangkapmu" sindir preman itu mengingatkan status buronan anto.


"Yah... kau benar itu sangat menyusahkan... tapi apakah kau sadar jika teknologi multimedia dan teknologi telematika kini sangat maju. Saat ini kita bisa merekayasa sebuah foto bahkan sebuah video hanya dengan mengganti wajah korban ke wajah pemeran yang ada di foto atau video tersebut."


"Aku hanya butuh untuk kembali kaya dan bisa menyewa ahli komputer untuk merekayasa video skandal yang telah menjatuhkanku menggunakan beberapa foto wajah dari orang-orang terkenal. Lalu aku akan menyewa pengacara untuk membuka kembali kasusku sebagai kasus pembunuhan karakter dan pencemaran nama baik. Setelah itu aku akan menyewa para buzzer agar membuat kasus pembunuhan karakter ini menjadi viral dan menarik simpatik masyarakat" kata anto menjelaskan rencananya.


Sang preman hanya terdiam dan memikirkan rencana anto. Ia lalu berkata, "jadi mengapa kau menceritakan masa lalu dan rencanamu, apakah kau akan mengajak kami untuk bekerja sama kembali dan masuk dalam rencanamu"


"Yah awalnya memang begitu... tapi melihat sikap awal kalian yang berani mengeroyokku aku menarik keputusanku" kata anto sambil memperlihatkan senyum liciknya.


Sang preman yang masih berpikir lalu jatuh ke lantai dengan sebuah pisau menancap di lehernya. Sejak kecil anto telah diajari seni bela diri karate dan keahlian melempar pisau oleh almarhum kedua orang tuanya.


Waktu kecil, mantan walikota itu adalah kebanggan orang tua dan sekolah dengan menjadi murid berprestasi yang selalu menyabet juara bertahan berturut-turut. Semuanya berubah sejak orang tuanya diserang dan dibunuh di depan matanya oleh orang-orang suruhan dari salah satu pejabat yang anaknya dikalahkan saat bertarung hingga KO. Mantan walikota itu pun babak belur dihajar massa. Ia bahkan difitnah telah menyerang orang tuanya sendiri hingga tewas lalu dikenakan pidana di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).


Setelah keluar dari LPKA, anto wiranto lalu berhenti sekolah dan nekat merantau ke ibu kota negara. Disana ia terlibat dalam eksploitasi anak-anak sebagai pengemis dijalanan. Karena anto memiliki seni bela diri dan sering menindas korban eksploitasi lainnya, ia dipercaya untuk mengendalikan para pengemis kecil di sebuah wilayah dekat lampu lalu lintas. Setelah beberapa bulan dipercaya sebagai koordinator pengemis cilik di jalan, ia merasa bosan dan ingin meninggalkan kelompok tersebut, namun para penjahat pelaku eksploitasi menahan dan mengancam anto wiranto. Menyadari fisiknya yang masih kecil anto pun hanya menganggukkan kepalanya mengikuti perintah para penjahat itu. Namun saat para penjahat itu tertidur akibat obat tidur yang memang menjadi salah satu persiapan anak-anak menidurkan anak bayi yang mereka pinjam, anto nekat membunuh semua penjahat itu dengan menggorok leher mereka.


Anto telah mengetahui modus kejahatan para penjahat itu. Ia akan memberi makan, anak-anak yatim piatu atau anak-anak yang kabur dari rumahnya. Setelah itu ia akan mengajak anak-anak tersebut ke ibu kota negara dan mulai memperlihatkan sikap kasar mereka. Para penjahat itu juga bekerja sama dengan beberapa baby sitter untuk membawa kabur anak bayi majikannya saat bekerja. Anak bayi itu akan diberikan obat tidur dan digunakan oleh para pengemis kecil untuk menarik simpatik masyarakat. Setelah pukul 15:00 WIB, bayi malang itu akan dikembalikan ke baby sitternya agar tidak ketahuan oleh orang tuanya. Beberapa orang tua ada yang curiga melihat anaknya yang makin gelap karena dibawa bekerja oleh pengemis kecil dibawah panas mentari namun karena faktor kesibukan pekerjaannya sehingga ia tidak bisa membuktikan kecurigaannya.


Para penjahat itu dapat bebas mengeksploitasi anak-anak tersebut tanpa takut terjerat hukum karena sudah di backup oleh beberapa oknum pejabat di kepolisian dan dinas sosial.


Masa lalu dari mantan walikota itu kembali terbayang-bayang. Ia menghembuskan nafasnya melihat jenasah preman yang telah diam terkapar tanpa nyawa. Ia lalu mengambil pisaunya dan mengambil nyawa para preman lainnya yang masih terkapar.


"Hhmmmm..... jika memang aku sudah tidak bisa lagi terjun ke dunia bisnis legal atau ke dunia politik seperti yang dulu lagi.... masih ada bisnis ilegal di duniah bawah. Bagaimana dengan kabar anak-anakku sugeng dan dadang."


"Tapi sebelum aku ke ibu kota negara, aku akan membalas semua orang yang telah menjatuhkanku dan mengkhianatiku"


Mantan walikota itu berbicara sendiri seperti orang gila. Saat pertama kali masuk penjara akibat kasus korupsi dan video skandalnya, ia kerap kali dikeroyok oleh para narapidana di penjara tersebut.


Setelah lama meninggalkan dunia preman dan beralih ke dunia bisnis dan politik, anto wiranto tidak pernah lagi latihan bela diri dan melempar senjata pisau.


Selama dipenjara, mantan walikota itu kembali berlatih dan sering melakukan pertarungan hidup dan mati di dalam penjara. Karena sering melukai lawannya hingga cacat, ia lalu diisolasi di ruangan gelap sendirian selama setahun dan menyebabkan dirinya  membentuk karakter lain dalam dirinya secara sadar yang dianggapnya sebagai gambaran ideal tentang dirinya, yang tidak bisa ia realisasikan dan hanya mampu ia idam-idamkan.


Kondisi tersebut dikenal juga dalam dunia psikologi sebagai alter ego yakni kepribadian kedua yang ada dalam diri seseorang dan memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibanding sifat utama pada orang tersebut. Alter ego biasanya muncul ketika merasa tertekan dan merasa tidak bisa melakukan hal yang ingin dilakukan. Kemudian akan ‘meminta bantuan’ kepribadian lain dalam dirinya untuk mewujudkan mimpinya tersebut.


"Jadi siapa kira-kira orang yang harus aku balas pertama kali" kata anto wiranto kepada dirinya yang lain.


"Hhmmmm... bagaimana jika aku mulai dengan pelaku penyebar video skandal dan bukti kejahatanku."


"Tapi siapakah orang yang paling mencurigakan sebagai pelaku penyebar video skandal dan bukti kejahatanku ? "


"Ya.... benar..... bagaimana jika aku mulai dengan orang yang paling mencurigakan"


Anto wiranto lalu tertawa lepas memikirkan seseorang yang paling pantas di curigai. Ia lalu mulai membayangkan pelayanan plus yang akan ia minta kepada orang tersebut.


"Mantul..... mantap betul" kata sang alter ego mendukung rencana dirinya sendiri dengan dirinya sendiri yang lain.


......... ......... ..........


Sementara itu di kamar VIP di sebuah rumah sakit milik pak jaya. Elte sedang tertidur pulas diatas pembaringannya. Di alam bawah sadarnya, ia sedang berdiskusi dengan sang phoenix.


"Maafkan aku guru, saat ini aku belum sempat meningkatkan kultivasi di hutan sesuai instruksimu sebelumnya." Kata elte sambil mengingat pesan gurunya di episode enam puluh dua untuk mulai rajin berkultivasi di hutan menyerap energi alam secara langsung di atas tanah dan di bawah langit.


"Apa yang terjadi.... mengapa kau menunda proses kultivasimu ?" Tanya sang phoenix


Elte lalu menceritakan kondisinya yang sedang cidera dan ia tidak bisa bebas memggunakan kemampuannya untuk menyembuhkan dirinya. Sang phoenix hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Guru apakah mungkin saat ini selain keluarga penjaga pusaka, masih ada orang yang bisa berkultivasi untuk mendiagnosa penyakit" tanya elte yang mengingat kejadian saat sang dokter legendaris menyembuhkan dirinya.


Sang phoenix diam sejenak lalu berkata, "iya... Bisa jadi..... walaupun manusia zaman sekarang sudah tidak memiliki dantian, namun tubuh mereka  bisa menyerap dan memancarkan aura. Bagaimanapun juga manusia era modern yang serba internet adalah keturunan dari manusia era kultivasi."


"Ada kemungkinan dantian pada tubuh manusia di era zaman sekarang, telah berevolusi menjadi bentuk yang lain. Saat pertama kali aku merasuk ke tubuhmu, aku merasakan ada tujuh lapisan aura yang ada di dalam tubuhmu. Etheric adalah lapisan pertama, yang disebut bidang aura fisik karena terhubung dengan kesehatan fisik. Lapisan kedua disebut lapisan emosional. Lapisan ketiga dikenal dengan lapisan mental, yang berhubungan dengan ego. Lapisan keempat yaitu tubuh astral berupa lapisan cinta. Lapisan kelima yaitu lapisan manifestasi atau etheric double. Lapisan tersebut mencerminkan kesehatan rohani dan menghubungkan manusia kepada alam semesta yang lebih luas. Celestial plane adalah lapisan keenam tentang intuisi. Lapisan ketujuh adalah ketheric template, yang berhubungan dengan Tuhan."


"Ada tiga belas warna aura yang mengikuti spektrum pelangi yakni merah, merah jambu, Jingga, Hijau, Kuning, Biru, Ungu, Putih, coklat, Emas, Perak, Hitam dan Abu-abu. Ketiga belas warna tersebut memiliki arti tersendiri bagi fisik dan mental dari orang tersebut. Ketiga belas warna tersebut merupakan visualisasi perasaan emosi yang masih berhubungan dengan satu atau gabungan beberapa elemen api, air, udara dan bumi"


"Warna aura di setiap manusia adalah berbeda-beda. Mengapa bisa seperti hal yang demikian? Warna aura pada manusia dapat berubah dikarenakan pada dasarnya warna aura yang di hasilkan merupakan sebuah refleksi daripada keadaan fisik dan kondisi kejiwaan seseorang."


"Misalkan saja, warna aura orang yang sedang dalam keadaan stress tentu berbeda dengan warna aura orang yang sehat secara rohani. Begitu pun dengan orang yang sakit, maka auranya pun berbeda dengan orang yang dalam kondisi sehat jasmani. Orang yang sehabis putus cinta pun memiliki aura yang berbeda dengan kondisi aura orang yang tengah kasmaran."


"Pergantian warna aura pun dapat dipengaruhi pula oleh lingkungan. Aura buruk yang dapat menjadi baik, jika dalam kondisi lingkungan yang mengelilinginya baik. Demikian pula sebaliknya."


Phoenix menjelaskan tentang lapisan dan warna aura sebagai bentuk evolusi dantian pada tubuh manusia di era modern. Walaupun aura tidak sekuat qi atau chi atau cakra atau mana atau tenaga dalam, namun dengan aura, dokter dapat mendeteksi kondisi fisik dan mental dari seorang pasien. Ahli seni bela diri dapat meningkatkan naluri dan kekebalan tubuh terhadap serangan fisik. Petapa dapat mengubah energi alam menjadi nutris bagi tubuh. Dan masih banyak lagi.


"Jadi guru.... apakah manusia zaman sekarang juga bisa berkultivasi?" Kata elte kembali menanyakan pertanyaannya dengan lebih singkat.


"Bisa.... tapi bukan untuk menampung energi alam ke dantiannya. Tetapi untuk menenangkan diri dan melancarkan gelombang aura ke beberapa lapiran aura." Jawab phoenix.


Elte kembali menganggukkan kepalanya dua kali sambil berpikir sejenak.