
Sebuah portal teleportasi terbentuk di kamar elte. Lalu dari lubang portal tersebut keluarlah sang pemiliki kamar. Elte sedikit terkejut melihat kondisi kamarnya dalam kondisi gelap karena lampu telah dimatikan. Ia melirik ke jam dinding dan melihat waktu dengan bantuan sinar rembulan yang menerobos melalui celah ventilasi kamar elte.
"Eh... sudah pukul 18:00 WIB, oh iya, seingatku terakhir kali aku dikamar ini, lampu kamar tidak kumatikan. Jadi siapa yang masuk ke kamar mematikan lampu ?... bukankah kamar sedang kukunci dari dalam ?" Elte bertanya dalam hatinya karena melihat kondisi kamarnya sedikit berbeda dengan kondisi terakhir ditinggalkan.
Sang pemilik kamar lalu memutuskan berteleportasi ke kamar tunangannya. Saat tiba di kamar yuni, elte terkejut melihat tunangannya yang baru mandi dan sedang berdiri di depan cermin dengan handuk kuning yang melilit ditubuhnya dari atas buah dada hingga paha.
"Waoowww..." elte kagum melihat tubuh tunangannya yang sedang mekar-mekarnya. Bokong yang tertutup handuk nampak montok dan mencuat ke belakang seakan memanggil elte untuk meremasnya.
"Aaaaaa tooloongg.." teriak yuni yang kaget mendengar suara kagum tunangannya. Elte segera berlari menutup mulut tunangannya dan memberi isyarat agar diam.
"Tok... tok... tok..." terdengar suara ketukan pintu dari luar dan gagang pintu bergerak naik turun karena pengetuk pintu yang di luar ingin masuk ke dalam namun pintu kamar dalam kondisi terkunci.
"Yuni sayang.... ada apa nak... apakah kamu baik-baik saja.... biarkan ibu masuk nak" kata bu yuyun yang terdengar khawatir mendengar teriakan anaknya.
"Yuni melepaskan tangan elte yang masih membekap mulutnya. Ia lalu berteriak : "aku tidak apa-apa bu... tadi ada kecoak mesum lewat saat yuni lagi ganti baju."
"Oh baiklah nak... kalo begitu ibu ke bawah dulu ya, jangan terlalu lama ya nak.... sudah mau masuk waktu makan malam" kata bu yuyun dengan lembut.
Setelah suara langkah ibunya telah menghilang, yuni melihat pakaian ninja elte sudah compang-camping karena kotor dari debu tanah dan robek di sana sini. Ia juga melihat beberapa percikan darah yang sudah mengering sebagai tanda buat yuni bahwa tunangannya telah melalui pertarungan hidup dan mati. Ia lalu melompat ke pelukan tunangannya tanpa peduli dengan keadaan elte yang kotor dengan pakaian compang-camping.
Saat melompat ke pelukan elte, tanpa sadar handuk yang melilit tubuh yuni pun terjatuh dan memperlihatkan keadaan polos yuni. Melihat hal itu, kepala atas elte seketika mendapatkan serangan bisikan dari kepala bawah.
"Hajar bosku... serang sekarang juga... buktikan kamu lelaki jantan dengan memberinya pupuk protein yang dapat membuat beran badannya naik" seperti itulah kira-kira serangan bisikan sang kepala bawah menyerang akal sehat elte.
Elte hanya bisa meneguk ludahnya beberapa kali karena di dadanya ia merasakan tonjolan dari dua buah bola kecil yang sedang berkembang. Wangi sabun dari tubuh yuni dan wangi sampo dari rambutnya membuat konspirasi pemberontakan mulai bergejolak di bawah elte.
Yuni yang merasakan adanya tonjolan di bawah perutnya sedikit terkejut. Lalu berbisik ke telinga tunangannya : "kecoak mesum...".
Ia lalu melingkarkan kedua tangannya ke dada elte dan mulai menggodanya.
"Hmmmhh .... apakah kau ingin mencicipi tunanganmu ini sekarang" kata yuni yang mulai ikut terangsang melihat tubuh tunangannya.
"Apakah kau memang sudah siap" tanya elte berbasa-basi.
"Kata ibu dan ayah kalau lulus SMA, kita sudah boleh menikah" kata yuni membisik di telinga tunangannya lalu mencium bibirnya.
Setelah cukup lama berciuman... elte lalu memeluk erat tunangannya sesaat lalu melepaskannya.
"Sejujurnya aku sudah sangat ingin melakukan itu denganmu... tapi aku akan mengambil kehormatanmu saat kau sudah sah menjadi istriku. Itu adalah salah satu nasehat orang tuaku saat masih hidup." Kata elte dengan lembut sambil membelai rambut tunangannya.
Ada sedikit rasa kecewa muncul di hati yuni atas penolakan dari tunangannya. Namun setelah mendengar alasan elte, ia menjadi bangga dan senyuman manis kembali menghiasi bibirnya.
" I'm proud of you ( aku bangga kepadamu)" kata yuni memuji tunangannya
"Hhmmm... jadi apakah kau mau memperkenalkan diriku ke teman-teman SMA bahwa aku adalah tunanganmu seperti saat SMP" tanya elte bercanda kepada tunangannya.
"Of course honey (tentu saja sayang). Tetapi setelah gelar mesummu telah menghilang... hehehe" kata yuni sambil tertawa lalu menjulurkan lidahnya.
"Hhmmmm..... tapi setelah kupikir-pikir kembali, kau tidak perlu menghilangkan gelar mesum mu" kata yuni membuat kening elte berkerut karena bingung. Elte lalu bertanya : "Kenapa...?".
"Nanti banyak siswi yang akan fans lagi padamu."kata yuni sambil memasang wajah cemberutnya.
Elte hanya bisa menghembuskan napasnya lalu menggelengkan kepalanya sambil mengacak rambut tunangannya. Ia lalu berkata : "Baiklah aku akan ke bawah untuk bergabung dengan yang lain di ruang makan".
"Oh iya.. aku baru ingat bahwa aku sudah memberitahu ke ayah dan ibu bahwa kau akan menginap di rumah teman untuk mengerjakan tugas sekolah... tentunya aneh kalau kau tiba-tiba muncul dari kamar." Kata yuni menjelaskan bahwa selama kepergian tunangannya menyelamatkan yuda, ayah dan ibunya menanyakan keberadaan elte yang tidak turun untuk makan malam saat itu.
"Oh.. jadi apakah kau yang mematikan lampu kamarku.? Bukannya aku sudah mengunci kamarnya" tanya elte yang masih penasaran dengan perubahan kondisi kamarnya.
"Oh kalau itu bukan aku pelakunya.... ayah dan paman memanggil tukang kunci untuk membuka pintu kamarmu dan mematikan lampu dan AC yang masih menyala." Jawab yuni.
"Mereka memanggil tukang kunci, karena kunci serep yang ada, tidak bisa digunakan akibat kuncinya masih tercantol di lubang kunci di pintumu." Lanjut yuni menjelaskan alasan perubahan kondisi kamar elte.
"Oh iya, aku pakaian dulu ya.." yuni baru sadar bahwa dirinya masih polos tanpa sehelai benang. Ia lalu membuka lemari mencari dalaman untuk dikenakan. Yuni lalu berbalik ke elte dan berkata : "Kamu balik badan dulu, tutup mata"
Elte yang masih menatap kagum tubuh polos tunangannya hanya bisa meneguk kembali ludahnya lalu ia menutup mata dan memutar badannya. Saat matanya tertutup, imajinasinya kembali melayang membayangkan kemolekan tubuh tunangannya.
"Kau harus bisa tetap menjaga konsentrasimu jangan sampai terganggu oleh bayangan tubuh dari wanita itu" terdengar suara burung phoenix dalam pikirannya.
"Eh.. guru.... bisa melihat juga" tanya elte dalam pikirannya sambil terkejut.
"Iya lah... kau kan masih menggunakan dantian eksternal." Jawab sang phoenix mengingatkan elte.
Yuni telah menggunakan dalaman atas dan bawah berwarna pink lalu mengambil daster dengan setelan celana pendek dengan pola batik berwana biru langit. Ia lalu melihat sebuah kostum yang ia siapkan untuk elte
"Oh iya, aku sudah buatkan kostum khusus jika kamu ingin pergi menyelamatkan orang dengan konsep kepahlawanan yang cocok untuk dirimu." Kata yuni kepada elte.
Elte terkejut melihat kostum yang dimaksud oleh tunangannya. Sebuah setelan tuxedo putih dengan dasi kupu-kupu berwarna merah, sebuah topi top hat berwarna putih dengan tali pengikat berwarna hitam, sepasang kaos kaki putih dan sepatu pantofel putih serta sebuah topeng mata karnaval berwarna merah.
"Gleekkk..." elte meneguk ludahnya membayangkan dirinya mengenakan kostum tersebut.
"Yuni.... kostum ini lebih cocok jadi pakaian saat kita nikah nanti daripada dipakai menyelamatkan orang. Kamu lihat sendirikan pakaianku ini penuh dengan sobekan dan debu tanah bahkan bekas darah kering... kalau bisa kostum yang sedikit gelap dan simple. Kalau bisa topengnya juga yang menutupi seluruh wajah." Elte mencoba menjelaskan penolakannya dengan cara selembut mungkin.
Yuni menghembuskan napas kesal sambil menghentakkan kaki kanannya di lantai. Ia sudah menggunakan tabungan dari uang jajannya hampir lima juta rupiah tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Ia melakukan hal itu untuk membelikan kostum buat tunangannya dengan konsep pahlawan bertopeng seperti yang ada di film kartun kesayangannya sailor woman.
"Baiklah.... aku akan mencari kostum yang lebih gelap dan sederhana.... terus untuk topeng, kau ingin konsep seperti apa" tanya yuni.
"Burung phoenix" suara phoenix terdengar di pikiran elte.
"Bagaimana kalau untuk topengnya menggunakan konsep phoenix, Sang burung api keabadian" kata elte kepada yuni setelah mendengar saran dari gurunya.
"Baiklah... sekarang kau keluar dari rumah dan masuk lewat pintu depan ya, aku mau gabung dulu dengan ayah dan ibu di meja makan." Ketus yuni masih kesal.
Elte yang melihat sikap yuni lalu mendekati tunangannya dan memberikan pelukan dan ciuman mesra ke tunangannya. Setelah beberapa saat, elte pamit dan membuat portal teleportasi ke ruang dimensi miliknya.
Setibanya di markas mereka, elte lalu melakukan kultivasi pelahap kilat untuk mengeluarkan dantian eksternal dari tubuhnya. Setelah itu ia meletakkan kembali dantian tersebut ke dalam peti dan menutupnya. Ia lalu pergi ke sungai di dalam hutan dekat gubuk tetsu. Setelah mandi membersihkan dirinya, ia mengganti pakaiannya dengan baju kaos warna coklat dan celana jeans hitam.
Elte lalu berteleportasi ke toilet umum yang ada di taman dekat gedung apartemennya lalu berjalan pulang. Setelah tiba di gerbang gedung apartemennya, ia pun mengetuk pintu gerbang tersebut dan dibukakan oleh sang supir.
"Elte...kau sudah pulang nak... bagaimana dengan tugas sekolahmu" tanya bu yuyun melihat kedatangan elte.
"Eh sudah bu..." elte sempat gelagapan menerima pertanyaan yang ia tidak lakukan. Untungnya yuni sudah memberitahukan tentang alasan kepergiannya.
"Kau sudah makan nak... kami semua baru selesai makan" tanya bu ani mirani dengan lembut.
"Elte kau sudah pulang ya... kebetulan dari dua hari yang lalu aku ingin memberikanmu sebuah hadiah karena telah menolong yuni sebelumnya" kata pak jaya menghampiri elte.
"Eh benarkan ... hadiah apakah itu" tanya elte dengan senyum mengembang.
"Aku dan pamanmu memutuskan untuk membelikanmu sebuah motor. Besok kau bisa mengambil SIM C mu di kantor... aku telah menyuruh sekretarisku untuk mengurus berkas administrasinya." Kata pak jaya
"Wah.... syukurlah jadi aku bisa membonceng yuni pulang dan pergi sekolah dong" ucap elte dengan wajah sumringah.
"Hmmm... sebenarnya tidak perlu, yuni akan tetap diantar jemput naik mobil... aku dengar dari yuni kalau saat ini kau punya gelar mesum di sekolah karena kesalahpahaman saat Masa Orientasi Sekoalah" pak jaya menjelaskan alasan yuni tidak perlu dibonceng ke sekolah.
Wajah elte seketika cemberut dan melirik tunangannya yang sedang menahan tawanya. Yuni lalu menghampiri tunangannya dan membelai kepalanya untuk menghilangkan wajah cemberut elte.
Pak karya dan istrinya merasa muak melihat adegan romantis dari anak baru gede itu. Tiba-tiba bu yeyen berlari ke kamar mandi dan muntah.
"Tuh kan... lihat perbuatan kalian... tante kalian jadi merasa mual melihat tingkah laku kalian" kata pak karya lalu menghampiri istrinya.
Elte lalu ikut menghampiri bu yeyen dan mengaktifkan persepsi internal untuk mendeteksi penyebab mual.
"Waahhh.... selamat paman... sepertinya tante yeyen lagi hamil" kata elte mengejutkan semua orang termasuk bu yeyen sendiri.
"Hhaaa.... anak kecil tahu apa sih..., istriku ini seorang dokter, masak dia sendiri tidak mengerti kondisi dirinya." Kata pak karya yang sensitif dengan kata hamil.
Yuna berpikir sejenak lalu naik ke kamarnya mengambil alat tes kehamilan. Ia lalu memberikannya ke bu yeyen untuk memeriksakan dirinya.
Setelah beberapa menit berlalu, bu yeyen keluar membawa testpack dengan hasilnya berupa dua garis merah yang berarti positif hamil.
"Kita harus memeriksanya ke rumah sakit sekarang, aku ingin hasil pengujian yang lebih akurat" kata pak karya dengan muka tegang dan penuh harap.
"Syukurlah hari ini kita mendapatkan dua kabar gembira.... kemarin sudah ada kabar baik dari suami yuna yang akan balik ke indonesia, sekarang ada kabar baik lagi tentang kehamilan yeyen" kata pak jaya sambil tersenyum bahagia.
Esoknya setelah mendapatkan SIM barunya, elte memutuskan untuk berkeliling ibu kota negara dengan motor barunya. Sebuah motor bebek bergigi tanpa kopling keluaran terbaru dari perusahaan dealer motor terkenal dari jepang.
Angin berhembus kencang menerpa wajah elte yang tidak ditutupi oleh kaca helm. Dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam, elte menerobos kendaraan-kendaraan di atas jalanan yang tidak terlalu macet.
"Piiippp..." elte menekan tombol klakson karena kecepatan motornya berkurang drastis menjadi sepuluh kilometer per jam. Hal itu terjadi karena di depan motornya ada dua motor yang ditunggangi oleh emak-emak berdaster sedang bergosip sambil tertawa cengengesan.
"Piiiiiiiippppppppp .... piiiiiippppppp ....." kesabaran elte lagi-lagi diuji karena emak-emak itu tidak menggubris elte yang tidak bisa melambung kedua motor tersebut karena jalanan yang pas dengan jumlah dua buah motor.
"Aahhhh.... kenapa juga tadi aku nekat mau coba jalan tikus" elte sedikit menyesalkan pilihannya untuk mencoba jalan alternatif ke sekolah.
Melihat kecepatan kedua motor emak-emak itu semakin lambat dan menguasai jalan tikus, elte memutuskan untuk memutar balik motornya dan kembali ke jalan besar yang agak sepi.
Di tengah jalan ia melihat sebuah mobil sedang menepi dengan kap mobilnya yang terbuka dengan asap yang mengepul keluar dari kap mobil tersebut. Seorang wanita paruh baya terlihat kebingungan sedangkan di dalam mobil seorang wanita muda mencoba menelpon seseorang.
Elte lalu memutuskan untuk menepi dan membantu ibu tersebut. Setelah memarkir motornya di dekat mobil tersebut ia menyapa sang ibu dengan sopan : "selamat pagi tante... ada yang bisa aku bantu"
Wanita paruh baya itu sempat melirik curiga menatap elte. Banyaknya beredar kasus begal dengan modus pura-pura baik membuat wanita itu memasang sikap waspada.
"Loh elo kan si mesum.... ngapain lo... singgah ke sini" wanita muda yang di dalam mobil, turun dan menyapa elte dengan kurang sopan.
"Eh... kak santi.... tadi di jalan aku lihat tante ini seperti dalam kesulitan dan jalanannya sangat sepi, jadi aku menyempatkan untuk singgah bertanya siapa tahu bisa membantu." Jawab elte sopan namun di dalam hatinya sedikit tersinggung dengan sikap seniornya.
"Oh...... teman sekolah diah ya.... maaf tadi kalau kelakuan tante kurang sopan dengan memasang sikap waspada... maklum nak sekarang banyak kasus begal" kata ibunya diah mengubah sorot matanya jadi lebih lembut.
Melihat sikap sopan wanita itu serta alasannya bersikap waspada, elte dapat memahami dan menerima permintaan maaf ibut tersebut.
"Boleh aku bantu melihat kondisi mobilnya tante.." tanya elte dengan sopan
"oh silahkan nak.. tolong ya diperiksa" jawab sang ibu mempersilahkan elte.
Diah hanya melihat elte sambil memutar matanya karena kesal.
Elte mengaktifkan kemampuan persepsinya untuk mendeteksi kondisi mesin mobil. Dari hasil persepsinya, ia melihat bahwa mesin mobil dalam kondisi overheat karena air radiatornya sudah habis. Dengan zona persepsi, elte mendeteksi sumber air yang ada ternyata cukup jauh dari lokasi mobil tersebut. Ia lalu meminta seniornya beserta sang ibu agar naik di mobil untuk menstarter mobil tersebut sesuai aba-aba dari elte.
Setelah yakin kedua wanita itu sudah naik mobil, elte lalu membuat portal kecil di telapak tangannya ke lubang air radiator. Portal tersebut merupakan portal teleportasi yang terhubung ke dasar laut di kutub selatan. Dengan bantuan pengendali elemen air, ia lalu menuang air laut yang dingin itu sedikit demi sedikit ke dalam radiator mobil yang sudah kering.
Setelah dirasa cukup, ia menutup radiator mobil dan memberi arahan ke wanita paruh baya yang ada dalam mobil untuk menjalankan mobil. Setelah tiga kali starter, mobil mereka kembali hidup. Kedua wanita itu sangat senang karena sebelumnya sudah menunggu dua jam dengan kondisi sinyal Hp yang kurang bagus.
"Terima kasih banyak nak... ini ada sedikit uang rokok nak" kata ibunya diah menawari uang terima kasih.
"Maaf tante aku tidak merokok" balas elte menolak dengan sopan.
"Yah.... kalo begitu... buat jajan saja nak..." bujuk wanita paruh baya itu
"Tidak usah tante.... aku juga sudah mau balik pulang ke rumah" jawab elte dengan sopan.
"Oh iya ..... kamu teman sekolah diah kan.... minggu depan kami berencana mau mengadakan pesta ulang tahunnya diah.... kalo ada waktu datang ya nak... nanti undangannya menyusul" kata ibunya diah dengan sopan.
"Siap tante... aku ijin pamit pulang.." elte lalu kembali ke motornya dan pulang tanpa pamit ke seniornya.
"Ciihhh.... sombong amat tuh anak... sudah mesum sok baik hati... dasar munafik" kata diah jengkel karena ditinggal pergi tanpa pamit dengannya.
"Kok dari tadi diah memanggil anak itu dengan panggilan mesum terus... apakah anak itu pernah berbuat kurang ajar denganmu" tanya ibunya diah
Diah sinta risanti lalu menceritakan peristiwa memalukan itu ke ibunya. Di hari itu, karena diah buru-buru ke sekolah untuk menjadi panitia MOS, ia tidak sempat sarapan pagi di rumah. Setelah Briefing bersama antara para panitia MOS, para guru dan kepala sekolah, ia lalu ke kantin untuk sarapan. Dengan semangkuk bakso dengan sambal lombok beserta segelas es teh dingin, diah menikmati sarapan paginya.
Setelah sarapan ia bergabung dengan para panitia untuk menjadi pendamping. Beberapa menit kemudian perutnya terasa melilit dan diah pun ijin ke toilet.
Saat tiba di toilet, ia melihat bahwa semua toilet cewek sedang penuh. Karena tidak tahan, ia mengintip toilet cowok dan saat itu sedang sepi. Ia memutuskan untuk masuk ke toilet cowok terdekat dan lupa mengunci pintunya dari dalam. Saat asyik-asyiknya bersemedi di dalam bilik tersebut datanglah elte membuka pintu toilet dan melihat diah yang sedang duduk di toilet.
Saat diah kembali ke teman-temannya di kelas, mereka mendapatkan instruksi untuk bertukaran tempat dengan pendamping dari gugus C yakni kelompoknya elte.
Jika saja tidak ada peristiwa tentang novel porno, mungkin saja diah akan mengakui kalau dirinya yang khilaf lupa mengunci pintu di toilet cowok. Namun mengetahui bahwa pemilik novel itu adalah pria yang sudah melihat tubuh polos bagian bawahnya, ia lalu menghasut rino agar membullynya sebagai orang mesum.
Mendengar cerita putrinya, ibunya diah hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan berkata : "Sungguh sangat disayangkan ya nak, wajahnya manis, sikapnya sopan, punya keterampilan... tapi mesum"
"Iya betul ma.... sayang banget" kata diah sedikit tersenyum mendapatkan dukungan dari ibunya.
"Tapi... kalo ternyata anak itu hanya korban fitnah dari temannya, kasihan sekali anak itu.... karena ia bisa jadi korban pembunuhan karakter.... Ada baiknya diah mencoba mencari tahu tentang kejadian itu." Lanjut ibunya diah mencoba menasehati anaknya.
"Tau ahh.... mama sih kayaknya lebih belain cowok mesum itu... lagian siapa juga sih yang mau capek-capek cari tahu kembali pemilik novel porno yang sebenarnya... lagian teman jalan diah sekarang lagi ijin nggak masuk sekolah ma, soalnya kakak kandungnya dan ayah angkatnya dikabarkan meninggal saat bertugas di kanada." Kata diah sambil mengingat teman jalannya yang selalu setia menemaninya saat menjadi panitia pendamping MOS dan teman baca di perpustakaan.
Sang ibu hanya terdiam menggelengkan kepalanya berulang kali lalu menjalankan mobilnya untuk pulang kembali ke rumah.