WUMMM

WUMMM
24. Aksi penculikan Anak



Empat tahun telah berlalu sejak sang phoenix tertidur. Elte tetap melakukan rutinitasnya belajar di perusahaan pak jaya setiap hari senin dan selasa, kemudian di hari rabu dan kamis, elte akan bekerja membantu para koki di restaurant milik teman-teman bu yuyun.


Yuna dan yuni kini memilih tidak ikut serta menemani elte karena merasa bosan dan tertekan di tempat tersebut.


Pak karya akhirnya berani melamar bu yeyen akibat hasil percomblangan yang dilakukan oleh elte. Mereka menumpang di rumah pak jaya sesuai permintaan pak jaya dan bu yuyun.


Elte sekarang tidak bisa bebas masuk ke kamar pak karya karena pintu kamar itu sekarang jarang terbuka dan di pintu tersebut terdapat tulisan "Please Do Not Disturb".


Jumat, ia gunakan untuk memberikan privat matematika dan IPA kepada calon istrinya sehingga selama naik kelas tiga dan seterusnya, mereka berdua bisa bersama belajar di kelas unggulan.


Sabtu, ia gunakan untuk memberikan privat bahasa inggris dan bahasa korea kepada calon kakak iparnya yang saat ini sedang menyusun tugas akhir.


Minggu, ia gunakan untuk belajar tinju dan pencak silat bersama pacar dan calon suami yuna yang bernama yuda prayudi nangkabrani.


Anak tunggal dari sang walikota itu, adalah seorang taruna yang telah melalui pelatihan wajib militer, dan sering dilibatkan menyelidiki kasus kejahatan, oleh para polisi yang pernah dipimpin oleh ayahnya, saat masih menjabat sebagai kapolda.


Yuna bertemu yuda saat yuna dan teman-teman angkatannya sedang kuliah Kerja Nyata atau KKN di sebuah desa dan diganggu oleh para preman kampung.


Yuda yang saat itu sedang menjalankan tugas pengabdiannya dengan membantu warga membuat WC umum, menolong yuna dan teman-temannya.


Dengan menggunakan gabungan tinju dan pencak silat, yuda menaklukan dua puluh orang preman kampung yang selanjutnya dilaporkan ke polisi setempat.


Setelah menolong yuna dan teman-temannya, yuda ijin pamit tanpa menunjukkan sikap mencari perhatian seperti yang biasa dilakukan oleh para pemuda yang tergila-gila kepada yuna.


Melihat sikap pahlawan dan sopan santun namun cuek dan terlihat cool, membuat yuna merasa penasaran terhadap yuda.


Namun sejak peristiwa tersebut, yuna tidak pernah lagi bertemu yuda di lokasi KKN, karena tugas pengabdian yuda telah berakhir sehingga dapat kembali ke kota kelahirannya.


Setelah selesai KKN,  yuna kembali bertemu dengan yuda saat acara ulang tahun kemerdekaan republik indonesia.


Saat itu yuna dipaksa untuk menemani ayah dan ibunya ke rumah walikota untuk mempersiapkan acara ulang tahun kemerdekaan.


Ternyata sang walikota berniat untuk menjodohkan anaknya dengan anak pertama pak jaya. Awalnya yuna menolak perjodohan itu namun setelah bertemu dengan yuda, dia hanya bisa terdiam menunduk malu dengan wajah memerah.


Elte yang telah memahami teori dari seni bela diri tinju dan pencak silat, masih perlu banyak latihan fisik.


Tanpa kemampuan telepati dan telekinesis, proses belajar elte jadi terlihat lambat. Yuna hanya bisa menganggap bahwa itu mungkin adalah sisi lemah elte yang selalu serba bisa.


Elte yang telah berumur sepuluh tahun lebih, berencana akan mengikuti kegiatan liburan sekolah bersama seluruh murid yang telah melalui proses Evaluasi Belajar Tahap Nasional atau Ebtanas.


Para murid yang akan pergi berlibur akan didampingi oleh para guru dan kepala sekolah.


Di dalam bus yang akan mengantar murid-murid yang akan berlibur, elte duduk di samping calon istrinya.


Lina dan lani duduk bersama dengan jarak dua kursi di depan elte dan yuni. Lina dan lani merasa jijik dan kurang menyukai elte walaupun kini elte tidak memulung lagi.


Rasa tidak suka itu disebabkan rasa jengkel karena telah berhasil memisahkan mereka dengan yuni, teman dekat mereka.


Saat naik kelas tiga, nilai yuni sangat memuaskan dan dipindahkan ke kelas unggulan bersama elte sedangkan lani dan lina masih setia di kelas urutan terakhir.


Beberapa teman sekolahnya yang dulu bersama dadang suka membully elte, telah lama ikut pindah ke ibu kota negara, sejak diturunkannya walikota lama, karena sering di bully oleh seluruh murid di sekolah itu bahkan di sekolah luar.


Setelah beberapa jam telah dilalui, mobil bus yang mereka tumpangi tiba-tiba bergerak oleng disertai suara berdecit yang muncul dari gesekan ban dan rem.


Bukan hanya mobil bus mereka yang bannya tiba-tiba bocor, tiga mobil bus lainnya mengalami hal yang sama.


Keempat mobil bus pariwisata yang sedang mengantar seratus dua puluh murid beserta sebelas guru dan kepala sekolah. Seratus dua puluh murid itu terdiri dari enam kelas dari kelas 6A, 6B, 6C, 6D, 6E dan 6F.


Setelah supir dari keempat mobil itu turun memeriksa ban mereka yang sedang bocor, dari arah depan, datang sebuah truk REO M35 dari arah depan dan berhenti di dekat mobil bus yang paling depan.


Dari dalam bus tersebut, turunlah sepuluh orang memakai pakaian hitam dan topeng Anonymous dengan membawa senjata api dan senjata tajam.


Salah seorang penjahat itu menembak ke atas dan terdengar suara tembakan yang sangat keras.


"Turun semua....turun... kalo masih mau hidup....sekarang juga turun dari mobil dan berkumpul." Teriak penjahat itu setelah menembak ke atas.


Semua penumpang yang berada di dalam bus terpaksa turun dengan ketakutan. Beberapa anak murid ada yang menangis sampai ngompol celana, bahkan ada juga murid cewek sampai pingsan.


Penjahat yang berteriak tadi lalu mengeluarkan beberapa foto murid sambil memeriksa dan mencari anak murid yang sesuai dengan foto tersebut.


Elte yang berdiri dekat penjahat itu, melihat ada sepuluh foto murid perempuan yang sedang dipegang oleh penjahat itu, dan foto yuni termasuk didalamnya.


Elte sangat khawatir apalagi ia belum bisa menggunakan telepati dan telekinesis. Ia mencoba tenang dan berpikir jalan keluarnya.


Saat semua penjahat sedang sibuk memisahkan murid perempuan yang mereka incar, elte pelan-pelan bersembunyi dan merangkak di balik semak menuju truk penjahat tersebut untuk bersembunyi di bawah truk.


Sementara itu, para penjahat juga menyita barang berharga milik para penumpang selain menangkap murid perempuan yang mereka incar.


Salah satu penjahat juga mengumpulkan smartphone para penumpang dan supir di dalam kantong plastik, dan setelah terkumpul ia buang ke jurang agar mereka nanti tidak dapat meminta pertolongan.


Setelah beberapa saat, para penjahat itu kembali ke truk mereka membawa sepuluh murid perempuan yang telah mereka incar, dan kabur meninggalkan lokasi tanpa sadar bahwa ada yang bersembunyi di bawah truk mereka.


Selama diperjalanan, elte berusaha mengingat jalan-jalan yang mereka lewati. Setelah beberapa jam, truk itu pun memasuki sebuah pabrik bekas.


Setelah mobil truk itu berhenti, lima orang yang sedang menjaga markas, datang mendatangi kesepuluh penjahat yang turun dari truk.


Para penjahat itu kemudian membawa kesepuluh murid perempuan yang telah mereka culik ke dalam ruangan khusus kemudian menguncinya dari luar.


"Bagaimana dengan tangkapan kita hari ini ? Apakah sudah sesuai dengan rencana kita ?" Salah satu penjahat yang menjaga markas bertanya ke temannya yang ikut melakukan penculikan tadi


"Yoi .... bosku.... kesepuluh murid perempuan itu wajahnya sesuai dengan foto terbaru yang telah dikirim sebelumnya." Jawab salah satu penjahat yang ikut melakukan penculikan tadi


"Jadi apa selanjut yang akan kita lakukan dengan anak-anak cantik itu"  lanjut penjahat tadi yang memiliki penyakit pedofil


"Untuk tiga hari ini, jangan macam-macam dulu dengan anak-anak itu"


"Kesepuluh anak-anak itu adalah anak-anak orang terkaya di kota ini. Besok kita akan telpon orang tuanya untuk mengirim biaya tebusan, sebesar sepuluh milyar untuk tiap anak, dan mengirimkannya ke nomor rekening  yang sudah kita beli sebelumnya" kata penjahat tadi yang menunggu di markas.


"Jadi setelah uang tebusan itu sudah di transfer, apakah kita akan melepaskan anak-anak itu" kata salah satu penjahat yang memilki penyakit pedofil, nampak kurang puas dengan rencana bosnya.


"Tentu tidaklah, sangat berbahaya untuk mengembalikan mereka, setelah mereka sudah membayar uang tebusan itu, kita akan kabur membawa kesepuluh anak-anak itu kita jual ke sindikat prostitusi di luar negeri. Jadi kita bisa dapat uang tambahan lagi, nanti kalo anak-anak susah terjual, sebelum kita serahkan, kau bisa bersenang-senang dahulu" jawab si bos yang mengerti ketidakpuasan anggotanya.


Mendengar rencana para penjahat itu yang ingin menjual calon istrinya, elte mengepalkan kedua tangannya menahan geram amarah.


Melawan kelima belas pria besar yang dilengkapi senjata tajam dan senjata api tanpa telepati dan telekinesis adalah sesuatu yang mustahil, oleh karena itu, elte memilih waktu tengah malam untuk menyerang mereka diam-diam sambil terus mengamati mereka semuanya.


"Bos.... makan malam anak-anak itu bagaimana?" Tanya salah satu penjahat


"Jangan lupa campur dengan obat tidur, malam ini kita juga perlu istirahat agar besok saat menjalankan rencana, kita dalam keadaan segar bugar" jawab si bos penjahat


"Bos.... saya dengar kalo organisasi JFO dari rusia sangat puas dengan kedelapan belas anak panti asuhan milik ibu ani mirani yang kita jual empat tahun lalu" salah satu penjahat yang sedang mencampur obat tidur ke makanan, memberikan informasi kepada bosnya.


"Aku tidak menyangka kamu cukup licik mengancam nenek tua itu dengan video pelecehan yang kau lakukan kepadanya" kata si bos dengan menggelengkan kepalanya karena beberapa anggotanya memiliki kelainan seksual seperti pedofil, oedipus complex dan gay.


Elte yang mendengar kebenaran, tentang hilangnya anak-anak panti yang selama ini sudah dianggapnya kakak, dan tentang pelecehan terhadap ibu panti, yang sudah dianggapnya ibu, membuat elte makin emosi dan tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Anak kecil yang sedang marah itu pun keluar dari bawah mobil, dengan diam-diam ia bergerak di balik bayangan gelapnya malam akibat kurangnya penerangan. Ia berencana mencari tempat penyimpanan senjata mereka, untuk mulai menyerang.


Pergerakan elte yang sebelumnya telah melepaskan sepatunya dan bergerak dibalik bayangan dinding, tidak diketahui oleh kelima belas penjahat itu. Saat berada di ujung jalan yang gelap. Elte mencari jalan tersembunyi agar tidak melalui jalan yang diterangi lampu.


Di dalam lorong ventilator yang lebarnya pas dengan elte yang sedang merangkak, ia melihat beberapa cahaya yang berasal dari cahaya lampu yang masuk ke beberapa lubang. Sumber cahaya itu di duga sebagai cahaya lampu yang berada di suatu kamar.


Elte mencoba menghampiri dan menyelidiki  beberapa lubang itu.


Di lubang pertama, ia melihat yuni dan teman-teman sekolahnya sedang makan dengan lahap karena belum makan dari siang. Elte lalu melewati mencari ruang persenjataan.


Setelah beberapa menit menyelidiki semua lubang ventilator, elte tidak menemukan ruangan tempat senjata. Sepertinya senjata-senjata itu selalu menempel di tubuh para penjahat, tebak elte.


Dari hasil penyelidikan terhadap semua lubang ventilator, ia melihat ada tiga kamar yang sedang dipakai oleh para penjahat dan tiap kamar dihuni oleh empat penjahat yang sedang tidur. Artinya masih ada tiga orang sedang bertugas menjaga .


Elte lalu kembali turun dari lubang ventilator tempat ia masuk sebelumnya, dan kembali ke truk  untuk mencari batang besi dan tali sebagai pengikat pintu agar para penjahat tidak bisa keluar kamar.


Saat memeriksa mobil, elte tanpa sengaja menemukan sebuah pistol di dashboard mobil. Setelah memastikan pistol tersebut penuh dengan peluru, elte membuka pengaman pistol agar kapan saja siap digunakan.


Dengan diam-diam, elte menghampiri salah satu kamar penjahat untuk memasang batang besi sebagai palang dan mengikatnya dengan kuat.


Setelah yakin semua pintu kamar telah dipasangi palang besi dan diikat dengan kuat.


Elte lalu menghampiri ketiga penjahat di luar kamar yang sedang ketiduran saat menjaga malam.


Setelah menguatkan hati dan pikirannya, elte dengan tangan sedikit gemetar mendekati ketiga penjahat itu diam-diam dan menembak kepala dari ketiga penjahat itu.


"Door...Door...Door..." suara tembakan terdengar nyaring membangunkan semua penjahat kecuali tiga orang yang sudah tak bernyawa itu.


Elte lalu segera ke kamar teman-temannya dan dengan batang besi yang tersisa, ia membuka paksa gembok yang mengunci pintu tersebut.


"Door....."  Berbarengan dengan terbukanya pintu ruangan yang menahan teman-temannya, elte terjatuh dan tiba-tiba merasa lengan kanannya terasa sakit dan panas, dibarengi cairan hangat dan kental berwarna merah menetes dari lengannya.


Pintu depan telah terbuka dan ke dua belas penjahat yang tadinya terkurung di dalam kamar sekarang satu per satu memasuki pintu tersebut.


Saat terdengar suara tembakan, para penjahat yang ada di dalam kamar berusaha membuka pintu kamar. Namun karena tidak bisa terbuka, mereka membuka jendela dan keluar menuju pintu depan.


Sentakan keras dari tembakan peluru mengenai lengan elte dan menjatuhkan tubuh kecil itu. Elte sempat berguling menangis kesakitan sambil memegang lengannya yang telah basah oleh darah.


Beberapa detik elte segera bangkit dan lari bersembunyi di balik truk. Ia menembaki para penjahat agar mereka tidak mendekat.


Para penjahat terkejut karena tidak menduga kalo dalang dari penembakan itu adalah seorang anak kecil.


Mereka sempat terdiam melihat anak kecil itu berguling kesakitan lalu tiba-tiba ia berlari ke belakang truk dan menembak kepala salah satu rekannya.


Mereka pun berhamburan mencari tempat bersembunyi.


Elte yang pernah belajar menembak bersama yuda, merobek bajunya dan mengikat lengannya yang tertembak dengan menggunakan tangan kiri dan mulutnya. Ia harus menghentikan peredaran darah agar tetap bisa mempertahankan kesadarannya.


Saat ia mendengar suara langkah kaki mendekat, ia akan kembali menembak hingga tanpa sadar peluru di pistolnya telah habis.


Mengetahui peluru anak kecil itu telah habis. Para penjahat yang tersisa dengan hati-hati mendekati elte yang sudah panik dan ketakutan.


Melihat elte yang sudah tidak berkutik, salah satu penjahat yang telah emosi melihat kematian rekannya, memukul dan menendang wajah dan perut elte.


Beberapa penjahat yang lain tertawa mengejek melihat elte yang sedang dipukuli dan ditendang berulang kali. 


Mendengar suara salah satu penjahat yang dikenali sebagai pelaku pelecehan ibu pantinya, emosi elte kembali muncul hingga tanpa sadar aura naga elte muncul membuat para penjahat tiba-tiba ketakutan dan terjatuh akibat tekanan gaya gravitasi yang berlipat-lipat.


Melihat para penjahat itu tersungkur ketakutan, elte mengambil senapan berlaras panjang yang terjatuh dari tangan dari salah satu penjahat.


"Door.... Door.... Door.... Door.... Door.... Door.... Door.... Door.... Door.... Door.... Door.... " elte menembak kepala dari kesebelas penjahat yang tersisa dan setelah itu elte terjatuh pingsan.


Saat subuh tiba, elte tersadar, ia segera ke kamar,  tempat teman-temannya disekap, mengetahui teman-temannya masih tidur karena pengaruh obat tidur, elte kembali keluar mencari handphone untuk ia bisa pakai memanggil bantuan.


Setelah menggeledah tubuh para penjahat dan beberapa kamar, elte tidak menemukan satupun handphone.


Handphone milik teman-temannya yang disekap juga sudah dibuang oleh penjahat. Elte juga tidak pernah dibelikan smartphone oleh pak jaya karena elte jarang keluar sendirian.


Di bagasi, elte melihat minibus hitam dengan mesin diesel matic dan disamping stir mobil tersebut, tergantung kuncinya.


Setelah memeriksa bahan bakar yang masih penuh, elte lalu mengangkat temannya dari kamar ke mobil, satu per satu.


Karena kaki elte tidak sampai ke gas jika ia duduk di kursi supir, elte memundurkan sedikit kursi supir ke belakang dan berdiri di depan stir.


Saat berdiri, elte masih bisa melihat jalan di depan dan jalan disamping kanan melalui spion. Untuk melihat spion kiri, pandangan elte sudah terhalang oleh body mobil.


Untung saja mobil yang didapatnya di bagasi adalah jenis matik sehingga tidak perlu menggunakan dua kakinya untuk menstabilkan gas dan kopling. Dalam kondisi berdiri, hal tersebut pasti  sulit dilakukan, apalagi dengan lengan kanan elte yang sulit digerakkan.


Elte lalu berdoa semoga aman mengendarai mobil untuk yang pertama kalinya.


Selama ini, elte hanya belajar naik mobil melalui simulasi hologram 3D hasil riset pak karya dan melalui kemampuan persepsinya mempelajari prinsip kerja mobil saat di laboratorium kendaraan berat yang ada di kampus pak karya.


Elte kemudian mengendarai mobil tersebut menuju kota terdekat sesuai ingatan elte saat masih bersembunyi di bawah truk.


Setelah beberapa jam minibus itu berjalan, lina terbangun akibat jalanan yang penuh lubang dan menyebabkan mobil terus bergoyang, lina mengira masih dalam tawanan para penjahat, ia pun lalu membangunkan lani dan yuni yang ada disampingnya.


Ia takut membangunkan yang lainnya karena yang lainnya duduk di kursi belakang.


Minibus itu memiliki kursi penumpang sebanyak tiga baris, dan elte meletakkan kesepuluh teman-teman di kursi-kursi tersebut. Yuni, lina dan lani, dibelakang supir, tiga orang lagi barisan  berikutnya dan empat orang di barisan belakang.


Saat yuni dan lani telah terbangun mereka juga ketakutan dan bertiga mereka terdiam pura-pura tidur.


Elte terus melajukan mobilnya menuju kota mereka. Akibat memaksakan lengan kanannya bergerak, darahnya mulai kembali menetes. Elte memaksakan kesadarannya tetap terjaga karena khawatir dengan yuna.


Saat hendak memasuki kota, wajah elte sudah sangat pucat, kesadaranya pun mulai berkurang hingga laju kendaraan mulai melambat akibat pedal gas yang mulai kehilangan tekanan.


Saat melihat mobil patroli sedang menilang pengendara motor yang melanggar, elte melambatkan mobilnya, membuka pintu samping kanan, lalu pindah ke kursi samping kiri, memakai sabuk pengaman dan menabrak mobil patroli tersebut.


Polisi yang sedang berdebat dengan seorang emak-emak berdaster tanpa helm, terkejut mendengar suara tabrakan tersebut.


Emak-emak yang melihat mobil polisi itu ditabrak, malah tepuk tangan gembira sambil mengatakan ke polisi itu bahwa tabrakan itu adalah karma karena semena-mena menindas rakyat kecil.


Emak-emak itu tidak sadar bahwa ia ditilang karena tidak bawa helm, SIM dan STNK bahkan menipu pengendara lainnya dengan menyalakan lampu sein kanan tapi malah belok kiri.


Polisi itu berlari ke minibus itu dan terkejut melihat isinya, ia segera menghubungi kantor pusat agar datang membawa ambulance.


Emak-emak yang melihat aksi polisi itu pun penasaran dan ikut melihat isi minibus, ia ikut terkejut dan bahagia karena akan mendapatkan bahan gosip baru.


Ia pun melakukan video selfi secara live di facebook dan instagramnya dengan memperlihatkan wajah simpatiknya terhadap kecelakaan yang menimpa anak-anak di dalam minibus.


Beberapa saat kemudian lokasi itu segera dipenuhi dengan beberapa motor yang ikut singgah mencari tahu apa yang terjadi karena minibus itu ditutup dan dijaga oleh polisi yang sedang patroli.


Emak-emak yang masih live di media sosial, datang ke gerombolan motor yang singgah dan menjelaskan apa yang terjadi dengan versi emak-emak itu, tentunya yang telah diberi bumbu sinetron yang emak-emak itu pernah tonton.


"Ada beberapa anak kecelakaan karena nekat membawa minibus itu... bapak ibu sekalian, ... -sepertinya anak-anak itu sedang berusaha menyelamatkan ibu gurunya yang dipaksa menikah dengan pria tua yang sudah punya dua istri.... bapak ibu" emak-emak itu menjelaskan dengan semangat kepada para pengemudi motor yang singgah bertanya.


Mobil ambulance pun datang dengan dikawal beberapa mobil polisi untuk membawa kesebelas anak yang ada di dalam bus.


Yuni, lani dan lina yang masih sadar dan pura-pura tertidur, hanya bisa terkejut dan terpaku diam setelah mengetahui siapa yang membawa mobil tersebut, seorang anak kecil yang mereka kenal dan saat ini sedang dalam kondisi kritis dan dibawa ke dalam mobil ambulance.