
Di sebuah kamar VVIP di rumah sakit yang cukup ternama, terbaring seorang pemuda dalam kondisi koma. Di hidungnya terdapat sebuah selang plastik yang terhubung ke tabung oksigen yang ada di belakang tempat tidurnya. Di dadanya terpasang beberapa elektroda yang terhubung ke sebuah kotak elektrokardiograf atau EKG yakni sebuah alat untuk memonitoring dan merekam aktifitas sinyal listrik dari jantung pemuda tersebut. Di pergelangan tangannya, terdapat sebuah selang yang terhubung ke sebuah tabung infus yang berisi cairan pengganti nutrisi selama pemuda tersebut koma. Di kedua keningnya terdapat terdapat beberapa elektroda yang terhubung ke sebuah kotak Electroencephalogram atau EEG yakni sebuah alat untuk memonitoring dan merekam aktifitas sinyal listrik dari otak pemuda itu. Di kem**uan pasien itu terdapat sebuah selang kateter yang terhubung ke sebuah plastik yang berfungsi untuk menampung air seni dari pemuda itu.
Jam berdetak dan jarumnya menunjuk ke pukul 12.00 WIB. Suara tetesan infus ikut beradu dengan suara detakan jam dinding secara harmoni.
"Ceklek" seperti itulah kira-kira suara pintu terbuka. Empat orang wanita melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu dan tidak lupa menutup kembali pintunya dengan pelan.
"Nona Lam Xiao Mei.... apakah kau bisa menolong anak sulungku yang sedang koma, aku menduga kalau ia tidak sengaja meminum obat dari nona" terdengar suara wanita paruh baya mulai berbicara dengan suara pelan dan menggunakan bahasa inggris.
Wanita bermata sipit dan berkulit putih itu hanya menganggukkan kepalanya ke arah wanita paruh baya yang juga ibu kandung dari sugeng wiranto.
Ia lalu mengambil lengan pemuda yang sedang koma itu di bagian lengan yang tidak terpasang selang infus. Ia lalu menggunakan kekuatan elemen kegelapannya untuk menghisap kembali elemen kegelapan yang ada di kepala pemuda itu. Wanita itu juga menggunakan elemen cahaya untuk menyembuhkan anak sulung dari anti wiranti.
Setelah beberapa menit berusaha menyembuhkan sugeng, wanita bermata sipit namun proporsional di wajah imutnya itu hanya dapat mengkerutkan keningnya tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia merasa bahwa elemen kegelapan itu tidak dapat ia kendalikan. Ia berasumsi jika tingkat kultivasi dari pemilik elemen kegelapan yang ada di kepala sugeng lebih tinggi dari dirinya.
Wanita bermata sipit itu lalu mengeluarkan senyuman manisnya dan meminta ijin untuk menelpon seseorang di kanada. Sepengetahuan wanita itu bahwa yang terlibat dalam pembuatan obat dengan efek koma tersebut adalah para pengguna elemen kegelapan. Dan dalam tim tersebut, ia merasa bahwa ia adalah pengguna elemen kegelapan terkuat nomor dua.
Dengan tidak mampunya ia dalam mengendalikan elemen kegelapan di kepala sugeng, ia berasumsi bahwa elemen kegelapan di dalam kepala pemuda itu adalah milik seniornya yang saat ini ada di kanada dan diakui sebagai pemilik elemen kegelapan terkuat di tim pembuat obat tersebut.
Keningnya kembali berkerut sambil menghembuskan nafas kesalnya karena panggilan teleponnya tidak aktif. Ia lalu mencoba menelpon beberapa rekannya yang lain, namun tiga orang terdekat dari seniornya itu juga tidak ada yang dapat dihubungi karena nomor teleponnya sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Setelah menyerah tidak dapat menghubungi rekannya sesama kultivator, ia lalu mencoba menelpon mitra kerjanya yang ada di kanada dan memiliki bisnis judi ilegal di lantai bawah tanah yang tersembunyi di gedung perusahaannya.
Wanita itu lagi-lagi merasa kesal karena teleponnya tidak aktif. Ia lalu mencoba menelpon rekannya sesama kultivator yang ada di texas. Setelah beberapa kali bunyi dering, panggilannya masuk dan terdengar suara rekannya bertanya : "halo, dengan siapa ini ? Kenapa nelpon tengah malam begini"
Lam xia mei sempat merasa kesal mendengar suara mengerutu dari balik telelponnya. Ia lalu tersadar bahwa ada perbedaan waktu sekitar tiga belas jam antara indonesia dengan texas. Setelah menenangkan kekesalan hatinya ia lalu berkata dalam bahasa cina : "ini aku Lam Xiao Mei, apakah kau tahu bagaimana kabar paman di kanada"
Dari balik teleponnya, wanita itu dapat mendengar suara gemerisik kasur dan bantal dengan jelas. Lawan bicara Lam Xiao mei yang ada di texas segera bangkit terduduk dari tidurnya karena panik sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya karena masih merasa mengantuk.
"Maaf kan aku nona, tadi aku langsung mengangkat panggilan telepon nona tanpa melihat identitas pemanggil di layar teleponku" terdengar suara parau dari rekan sesama kultivator yang ada di texas.
"Hhmmm..... ok tidak apa-apa, apakah kau tahu bagaimana kabar paman di kanada" kata Lam Xiao mei mengulang pertanyaannya.
"Maaf nona.... aku belum menerima kabarnya sejak beliau dan beberapa rekan pergi ke desa shinobi yang ada di jepang." Jawab anak buah Lam Xiao Mei yang ada di texas.
"Desa shinobi.... kenapa paman pergi ke desa shinobi" tanya Lam Xiao Mei kaget karena baru mendengar tentang desa shinobi.
"Beberapa hari yang lalu, salah satu rekan bisnis kita yang mengadakan pertarungan ilegal berhasil menyergap para penyusup yang dicurigai sebagai polisi khusus dan anggota intel. Saat rekan bisnis kita hampir membunuh para penyusup itu, mereka diselamatkan oleh empat orang ninja atau shinobi."
"Keempat shinobi itu sangat ahli menggunakan senjata pedang dan mampu melawan para penjaga yang ada di lokasi. Untungnya paman dan rekan kita yang lain berada di lokasi, membantu melumpuhkan keempat shinobi dan para penyusup."
"Paman sangat tertarik dengan kemampuan pata shinobi dan ingin merekrut mereka sebagai anggota baru. Dari hasil interogasi paman menggunakan kekuatan kegelapan, ia mengetahui bahwa masih banyak shinobi yang lebih hebat di desa mereka."
"Paman lalu mengajak ke tiga rekan kultivator dan seratus lebih penjahat sewaan untuk menyerang desa shinobi. Namun sampai sekarang kami belum mengetahui kabar mereka."
"Kami sempat ditelepon oleh mitra bisnis kita yang memiliki bisnis judi ilegal di lantai bawah tanah yang tersembunyi di gedung perusahaannya. Mereka mengatakan bahwa gedung mereka diserang oleh seorang shinobi berbaju norak. Mereka berhasil mengurung shinobi itu di ruangan kasino dan meminta bantuan kita."
"Kami lalu berangkat naik pesawat pribadi milik organisasi RFO untuk ke kanada dengan estimasi waktu sekitar dua hingga tiga jam perjalanan."
"Setibanya di gedung tersebut kami terkejut karena melihat gedung tersebut sudah terbakar dan hanya menyisakan tembok-tembok yang hitam legam. Kami tidak berani masuk memeriksa karena pada saat itu sudah banyak polisi kanada mengisolasi gedung tersebut dan berhasil menemukan ruang kasino dan ruang tahanan di bawah lantai."
Anak buah Lam Xiao Mei yang ada di texas menjelaskan kejadian yang ada di kanada. Wanita cantik bermata sipit itu hanya dapat terkejut mendengar cerita rekannya sesama kultivator sekaligus anak buahnya.
"Apakah kau sudah melaporkan kejadian ini di keluarga inti di markas kita" tanya Lam Xiao Mei
"Belum nona, kami hanya melaporkan ke tuan Lam Pu Mu dan tuan Lam Yip Yip yang sedang bertugas mengawasi pergerakan organisasi RFO di texas." Jawab anak buah itu.
"Hhmmmm..... baiklah terima kasih atas informasinya, maafkan aku yang telah menggangu waktu tidurmu" kata Lam Xiao Mei.
"Tidak apa-apa nona mei, justru aku yang harusnya meminta maaf karena tadi aku sempat menggerutu menweima telponmu" jawab anak buah itu.
"Hhmmm... Sepertinya aku harus meminta tolong pemilik elemen kegelapan yang lebih kuat dariku walaupun ia bukan anggota tim pembuat obat dengan efek koma." Kata wanita bermata sipit itu dalam hati.
"Nyonya anti wiranti, maafkan aku karena tidak bisa menyembuhkan anakmu hari ini, tapi aku sudah memeriksa kondisi tubuhnya. Aku akan kembali minggu depan membawa teman yang dapat menyembuhkannya." Kata Lam Xiao Mei kepada ibu anti wiranti. Ia lalu ijin mohon pamit untuk segera ke bandara dan kembali ke markasnya di cina daratan.
Ibu anti wiranti beserta dua orang karyawannya lalu mengantar Lam Xiao Mei untuk ke bandara.
Sementara itu Di Sma Neg. 55555, bel penanda waktu pulang telah berbunyi. Para siswa lalu berlomba merapikan buku dan alat tulisnya ke tas mereka masing-masing lalu setelah ketua kelas memimpin pembacaan doa pulang dan ucapan terima kasih ke guru mereka, para siswa itu pun berlomba keluar kelas untuk segera pulang ke rumah.
Setelah elte mengantar yuni menunggu jemputan supir mereka, elte lalu melangkahkan kakinya menuju motor bebek bergiginya untuk menuju kantor polisi. Setelah menekan tombol saklar starter di stang stir bagian kanan, motornya pun berbunyi dan siap mengantarkan elte ke tempat tujuannya. Saat akan melaju ke depan, seorang seniornya yang bernama hera iskandar, menghampiri elte dan berkata : "Halo elte... apakah lo siang ini berencana ke kantor polisi untuk melanjutkan latihan kemarin ?"
Elte yang terkejut karena motornya ditahan oleh seniornya yang cantik lalu memutar kunci motornya kembali ke posisi Off. Ia lalu membalas pertanyaan seniornya : "Eh kak hera... iya kak, aku berencana ke kantor polisi untuk melanjutkan pelatihan kemarin."
"Oohh... kebetulan sekali. Gue juga pengen ke sana untuk ikut latihan. Apakah boleh gue numpang di motor lo dan memboncengku ke sana ?" Tanya hera.
Elte diam sejenak lalu membalas kembali permohonan seniornya : "Maaf kak hera, tapi Helmku cuman satu kak, aku tidak punya Helm untuk kak hera, terus diperjalanankan banyak polisi mengatur lalu lintas, aku takut kita kena tilang kak."
"Oh tidak masalah... gue bisa pinjam helm ibu kantin, tunggu ya sebentar" kata hera lalu berlari pergi menuju kantin tanpa menghiraukan maksud elte yang sebenarnya ingin menolaknya secara halus. Elte hanya berdengus kesal menanggapi ulah seniornya yang sebelumnya selalu bertingkah sinis kini berubah menjadi manis.
"Yok berangkat..." kata hera setelah meminjam helm bu kantin dan langsung naik ke boncengan motor elte tanpa permisi. Elte hanya bisa pasrah menikmati dua buah tonjolan yang kini menempel di belakang punggungnya. Ia pun lalu berangkat menuju kantor polisi.
Saat mereka keluar gerbang sekolah, tanpa sengaja, mata diah sinta risanti melihat mereka berboncengan dari balik kaca mobilnya.
"Wah hera kemana tuh dibonceng sama elte.... coba ya gue juga bisa seagresif hera.... eh... gue ngomong apa sih" hera berkata dalam hatinya sambil memukul pelan keningnya beberapa kali.
"Kenapa nak...." tanya ibunya diah melihat kelakuan anaknya yang sedang memukul kepalanya berulang kali.
"Eh tidak apa-apa bu.... kita segera ke rumah ya bu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan ke kakek dan kak ardha." Kata diah ke ibu kandungnya.
Setibanya diah dan ibunya di rumah, diah lalu pergi ke rumah sebelah milik kakeknya. Setelah mengetuk beberapa kali, tantenya membuka pintu lalu mempersilahkan keponakan satu-satunya untuk masuk ke dalam. Diah sedikit kecewa karena kakaknya diah masih kuliah di kampus dan kakeknya sedang ke rumah pak gubernur untuk memeriksa rutin kesehatan ayah dari pak gubernur. Diah lalu meminta tantenya agar menghubunginya jika kakek atau kakaknya sudah pulang. Ia pun lalu ijin pamit untuk kembali ke rumahnya.
Sementata itu elte yang sudah tiba di kantor polisi lalu menuju ke ruang aula pelatihan bersama seniornya. Setibanya di ruangan, ia cukup terkejut karena jumlah polisi muda yang sebelumnya ada puluhan, kini tinggal belasan orang, tepatnya sembilan belas orang dan jika ditambah dengan hera iskandar maka genap menjadi dua puluh orang.
Saat elte mengkonfirmasi hal tersebut ke yuda, ia mendapatkan informasi bahwa yuda telah mengajukan sebuah proposal permohonan dana untuk biaya pelatihan pengembangan sumber daya manusia termasuk honor elte selaku pelatih. Proposal itu disetujui namun jumlah peserta dibagi dan dibatasi tiap gelombang. Total gelombang ada empat angkatan yang masing-masing terdiri dari belasan polisi untuk tiap gelombang. Elte hanya mengangguk senang karena dipercaya oleh pusat sebagai pelatih dan akan mendapatkan honor melatih.
Hampir dua jam, elte melatih para polisi termasuk kakak iparnya dan seniornya di sekolah. Elte menjelaskan tips dan trik dalam melempar paku. Ia juga meminta para polisi agar berlatih memanjat tali yang telah disiapkan oleh yuda di ruangan aula.
Sesuai permintaan elte, yuda memasang dua buah tali di kedua ujung gedung. Di antara kedua tali itu, terdapat dua buah jembatan tali, satu tali untuk pijakan dan satu tali untuk pegangan. Para polisi akan memanjat tali di ujung gedung lalu melintasi jembatan tali tersebut dan turun menggunakan tali yang ada diujung gedung yang satu. Elte bertujuan untuk melatih ketahanan memanjat tali, keseimbangan menyeberangi jembatan tali dan kecepatan dengan menghitung waktu melaksanakan aktifitas tersebut.
Elte menyampaikan target pelatihan adalah jika para polisi tersebut berhasil menyeberangi tali tanpa memegang tali yang membentang sebagai pegangan. Untuk keamanan, beberapa matras di letakkan di bawah tali yang membentang. Namun masih ada beberapa polisi yang teledor dan terjatuh di luar matras sehingga kakinya keseleo. Elte segera menghampiri polisi tersebut dan menyembuhkan kaki polisi yang keseleo tersebut.
Sang prontagonis beralasan bahwa dirinya pernah belajar pengobatan tradisional memijat kaki yang keseleo dari gurunya yang seorang shinobi. Polisi yang berhasil disembuhkan saat itu juga sangat terkejut merasakan kakinya dapat sembuh seperti sedia kala dalam waktu singkat.
Dengan menerapkan metode latihan S3 atau latihan Santai, Serius dan Selesai, suasana pelatihan jadi terasa lebh menyenangkan bagi para polisi.
Papan target kini dilapisi sebuah busa agar paku yang dilemparkan dapat menempel. Jaraknya pun diperpendek menjadi lima meter. Elte menyatakan bahwa hal itu hanya sementara dan target pelatihan senjata lempar adalah sepuluh meter dengan papan target tanpa busa.
Setelah latihan bersama selama dua jam, elte ijin pamit untuk ke kampus pamannya, ia juga mohon ijin karena dua hari ke depan akan mengikuti lomba karate atas desakan guru BKnya. Para polisi sepakat untuk menonton pertandingan elte sebagai bahan latihan mereka.
Sebelum ke kampus pamannya, elte menelpon bu yeyen untuk menanyakan tentang contoh obat penelitian yang sedang diriset oleh istri dari pamannya itu. Bu yeyen mengatakan kalau dirinya masih memberi kuliah dan akan selesai pukul 17:00 WIB. Sambil menunggu tantenya, elte memutuskan untuk berkunjung ke laboratorium milik pak karya sekaligus memantau perkembangan para mahasiswa yang akan mengikuti lomba robot.
Saat tiba di labotatorium, elte disambut dengan sangat hangat oleh para mahasiswa yang sudah sangat siap mengikuti lombar robot. Mereka meminta elte agar menyempatkan waktunya untuk dapat ikut menonton pertandingan mereka yang dipercepat besok hari di gedung pusat konvensi. Elte terkejut mendengar lokasi dan waktu lomba robot yang sama dengan pertandingan karate yang akan ia ikuti besok di gedung pusat konvensi.
Mendengar penjelasan elte yang akan ikut berlomba di gedung yang sama, para mahasiswa sangat senang. Mereka menjelaskan bahwa esok hari memang di gedung pusat konvensi akan dipenuhi oleh beberapa lomba dari tingkat SD, SMP dan SMA bahkan tingkat mahasiswa. Ada olimpiade Nasional untuk materi matematika, fisika dan kimia, Ada pertandingan dengan beberapa cabang olahraga sepeti karate, futsal, bulu tangkis dan sejenisnya. Ada juga lomba debat bahasa inggris dengan tema tentang isu nasional. Dan untuk kalangan mahasiswa, ada lomba robot dengan tema Wireless Fighting Robot Contest.
Setelah pukul 16:50 WIB, elte lalu mohon ijin pamit karena ada urusan yang tidak kalah penting. Elte lalu menuju ke fakultas kedokteran tempat bu yeyen mengajar. Setelah mengirim Chat ke bu yeyen, elte lalu ditelpon dan diminta untuk langsung menuju ke laboratorium tempatnya meneliti obat syaraf.