WUMMM

WUMMM
44. Kultivasi Pelahap Kilat



Seminggu telah berlalu dari insiden tersebut dan Masa Orientasi Sekolah telah berakhir. Disebuah sudut di belakang sekolah terdapat dua orang siswa kelas dua sma sedang santai merokok.


"Bro... gimana nih... kapan kita balas si monyet itu" kata roni prasetyo, senior yang wajahnya pernah di tendang oleh elte.


"Keroyoknya sih gampang bro.... tapi gue belum tahu latar belakang anak itu bro" jawab temannya yang bernama lengkap rino dwi satya


"Eh iya.... by the way nih, Gue denger gebetan lo digodain sama monyet itu bro" tanya si roni mencoba memprovokasi temannya


"Iya ... bener.. santi sendiri yang ngomong ke gue, saat kelompok gue dengan kelompok lo bertukar kelas" rino menceritakan pengalamannya saat gebetannya yang bernama Diah sinta risanti tiba-tiba marah dan berbicara dengan kelompoknya untuk mengerjai elte.


"Tumben juga gebetan lo ngomong minta tolong... dia kan anaknya pendiem dan susah dideketin" kata roni ke rino.


Saat asyik nongkrong di sudut sekolah, datanglah enam orang teman kelas roni dan rino untuk bergabung.


"Bos... kita keroyok aja tuh anak monyet kalo pulang nanti" kata salah satu temannya yang baru datang bergabung


"Jangan dulu bro... tuh anak selalu di antar jemput bersama gebetan baru gue bro... namanya yuni sukma ayu... macan bro, manis dan cantik" kata si rino mengejutkan teman-temannya.


"Lho bukannya lo sudah ngincar si santi bro.... si yuni kasih ke kita aja bro" kata teman-temanya mencoba melobi.


"Bro... Katanya lo belum tau latar belakangnya si monyet itu.... tapi kok bisa tau pulangnya sama si yuni" tanya roni dengan tatapan menyelidik.


"Sorry bro... sebenarnya gue kagak sempat nyelidikin tuh si monyet karena penasaran sama si yuni... Rencananya sih mau nawarin yuni pulang bareng... eh gue liat si yuni dijemput sama mobil bagus bareng si monyet itu bro" kata rino sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eh gimana kalo kita minta tolong aja sama kakak lo si rano prasetyo" kata rino mengalihkan pembicaraan.


"Nggak usah bro... kita berdelapan aja.... kakak gue kan sekarang juara karate sabuk hitam,... kalo ada apa-apa baru kita ke kakak gue." Kata roni menolak usulan rino.


"Trus kapan nih bos kita eksekusi tuh anak,... gue berempat saat disidang di ruang BK sudah berencana kasih pelajar sama tuh anak... belagu banget sama senior" kata teman roni dan diangguki oleh ke tiga temannya yang sama-sama ikut disidang.


(Belagu : terlalu banyak gaya/tingkah)


"Sabar aja bro... gue selidiki dulu latar belakang tuh anak, kapan pulang sendiri... oh iya, kalo nanti mau keroyokan jangan lupa pake topeng ya" kata rino ke teman-temannya.


Sementara itu di rumah pak jaya, elte mengetuk kamar yuni. Setelah tiga kali ketukan, yuni membuka pintu. Elte lalu mengajak yuni ke taman untuk berbicara.


"Yuni.... apakah kau masih Ilfil denganku" tanya elte membuka pembicaran.


(Ilfil : singkatan dari hilang feeling atau hilangnya rasa yang dimiliki oleh seseorang akibat perilaku)


"Tidak sayang.... kenapa kamu berpikir seperti itu" jawab yuni dengan sedikit menggombal elte karena merasa bersalah menjaga jarak selama di sekolah.


"Apakah kau masih malu denganku karena tuduhan itu, bukannya sudah kukatakan kalo novel porno itu ternyata milik dudung raksadinata" kata elte yang telah menggunakan persepsinya membaca pikiran teman-teman kelasnya untuk mencari pemiliki novel yang telah menjebaknya.


"Iya aku percaya sayang... tapi kan kau tidak punya bukti untuk melepaskan dirimu dari sebutan siswa mesum oleh teman-teman kelas" kata yuni menahan tawanya melihat citra elte saat SMA sangat berbeda dengan citranya di SD dan SMP.


"Setidaknya aku tidak perlu lagi menahan rasa cemburu akibat popularitasmu yang sudah hancur dimata para wanita... hahahaha" lanjut yuni sambil menutup mulutnya karena tawanya terlepas.


Elte sedikit terhibur mendengar jawaban dari tunangannya yang sedikit menggombal. Setelah berbicara beberapa menit, mereka kembali ke kamar masing-masing


Saat tengah malam, elte membuat portal dimensi dan pergi ke ruang dimensinya karena proses pembuatan dantian eksternal telah selesai.


"Guru phoenix... dantian eksternalnya telah selesai... apa yang harus aku lakukan selanjutnya" tanya elte kepada sang phoenix


"Hhhmmmm.... bagus, sekarang coba kamu mengambil dantian tersebut dan duduk bersila di atas peti itu." Kata sang phoenix memberikan instruksi


Elte lalu menuju ke peti tempat dantian di buat. Dengan menggunakan telekinesis ia membuka penutup peti tersebut. Di dalam tungku yang ada di peti itu, elte melihat sebuah bola kristal seukuran bola pingpong. Ia lalu mengambil kristal tersebut dan mengamatinya dari jarak dekat.


Sebuah dantian berwujud bola kristal bening seukuran bola pingpong dan di dalam kristal tersebut ia melihat bayangan burung phoenix dengan tubuh dipenuhi api berwarna merah terang.


Setelah puas mengamatinya. Ia lalu menutup kembali peti itu dan naik ke atasnya kemudian duduk bersila sambil memegang bola kristal di atas tangannya yang ada di depan perutnya.


"Guru... aku sudah duduk bersila di atas peti sambil memegang dantian, selanjutnya bagaimana guru ?" Tanya elte ke sang phoenix


"Bagus... sekarang lakukan kultivasi pelahap kilat untuk menyerap batu darah dan beast core yang ada di ruangan ini" kata sang phoenix melanjutkan perintahnya.


"Hhaaa ?.... kultivasi pelahap kilat ? Apa itu kultivasi pelahap kilat guru ? Yang baru kupahami adalah kultivasi nasi pepes ajaran guru leluhur" kata elte dengan kebingungan.


Sang phoenix menghembuskan napasnya lalu berkata : "Sepertinya minggu ini kamu harus berlatih dulu cara berkultivasi dengan kultivasi pelahap kilat."


"Mengapa tidak menggunakan kultivasi nasi pepes guru... kan sama-sama metode kultivasi" tanya elte


"Di dunia ini, sudah ada jutaan metode kultivasi yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing"


"Kultivasi nasi pepes memang sangat cocok bagi kultivator yang ingin terlihat seperti manusia biasa. Kelebihan kultivasi ini adalah rotasi energi dan beberapa jenis nafas yang dapat berguna dalam kondisi tertentu."


"Tapi sayangnya, kultivasi ini hanya cocok jika menyerap energi alam semesta secara langsung. Kultivasi ini tidak cocok jika digunakan untuk menyerap energi selain dari alam."


"Energi kehidupan atau qi atau chi atau cakra atau mana atau tenaga dalam, memiliki beberapa sumber energi. Seperti dari alam langsung, dari batu darah atau Blood stone, dari batu jiwa atau Spirit stone, dari Beast Core atau inti binatang yang berkultivasi, dari pil khusus penambah energi, dari transfer energi kultivator dan dari ekstrak tanaman yang bisa berkultivasi."


"Ada beberapa metode kultivasi yang cepat menaikkan tingkatan tapi tidak stabil karena pondasinya lemah dan sumber energi yang diserap juga tidak sampai seratus persen sehingga sisa beast core yang tidak bisa diserap akan terbuang sia-sia"


"Ada juga beberapa metode kultivasi yang stabil dan pondasinya kuat serta sumber energi yang diserap juga habis seratus persen tanpa sisa. Namun waktu yang dibutuhkan untuk naik tingkat sangat lama."


"Ada juga beberapa metode kultivasi yang cepat menaikkan tingkatan, yang stabil dan pondasinya kuat serta sumber energi yang diserap juga habis seratus persen tanpa sisa. Namun jenis sumber energi yang diserap haruslah sumber daya energi tertentu yang cukup langka karena sangat mahal dan tingkat tinggi."


Sang phoenix mulai menjelaskan teori berbagai jenis metode kultivasi.


"Ada sembilan belas metode kultivasi kuno yang cepat menaikkan tingkatan, yang stabil dan pondasinya kuat serta sumber energi yang diserap juga habis seratus persen tanpa sisa dengan sumber daya energi apa saja."


"Salah satu metode kultivasi kuno yang paling mudah, aman dan cocok bagi pengguna lima elemen dasar seperti dirimu adalah kultivasi pelahap kilat."


"Jika dibandingkan kecepatan dan kestabilan antara kultivasi pelahap kilat, kultivasi pada umumnya dan kultivasi nasi pepes untuk menyerap semua beast core dan bloodstone di ruangan ini, kultivasi pelahap kilat hanya membutuhkan waktu sepuluh jam dengan efisiensi daya serap seratus persen, kultivasi pada umumnya membutuhkan waktu sepuluh tahun dengan efisiensi daya serap delapan puluh persen."


"Sedangkan untuk kultivasi nasi pepes membutuhkan waktu seribu tahun dengan efisiensi daya serap hanya lima puluh persen."


"Jika seluruh beast core dan batu darah di ruangan ini kamu serap seratus persen, maka kamu akan memiliki tingkat kultivasi sebanyak dua puluh tahun."


"Kelebihan kultivasi ini juga dapat digunakan untu menyerap kultivasi hingga dantian dari kultivator lainnya sehingga orang tersebut akan kehilangan kemampuannya."


Sang phoenix terus menjelaskan tentang kelebihan kultivasi pelahap kilat. Kemudian ia mengajarkan metode kultivasi tersebut.


"Hhmmmm... kebetulan besok hari libur, pagi-pagi setelah sarapan, aku akan ke gubuk milik shifu sensei yang ada di dalam goa di tengah hutan untuk memulai proses kultivasi pelahap kilat dan latihan di hutan." Kata elte kepada sang phoenix


Esok paginya setelah sarapan, elte minta ijin keluar rumah dengan alasan pergi melatih seni bela dirinya yang bernama GaSeBeDiKuNi DaSeBeDiMi SeTiDaSiMePu. Setelah keluar gedung apartemen milik keluarga wijaya, elte lalu pergi ke toilet umum yang ada di taman. Di dalam toilet, ia membuat portal dimensi dan pergi ke ruang dimensi milik sang phoenix.


Setelah tiba di ruang dimensinya, ia lalu memindahkan semua sumber daya energi yang ada dalam ruangan ke dekat peti menggunakan telekinesis. Elte lalu membuka peti dan mengambil dantian eksternalnya.  Setelah peti ditutup kembali, ia lalu naik ke atas peti dan memulai proses kultivasi pelahap kilat.


Sejam kemudian sebuah aura muncul dan terbentuk mengelilingi tubuh elte, kemudian semua batu darah dan beast core yang ada d ruangan itu mulai terserap ke dalam aura tersebut. Perlahan aura itu mengeras dan membentuk sebuah kepompong.


Di dalam kepompong tersebut dantian eksternal ditangan elte menyerap kesadaran elte masuk ke dalamnya. Dari dalam dantian tersebut, elte melihat tubuhnya mulai terbakar dan pelan-pelan melebur.


Setelah proses peleburan selesai, elte menyaksikan terjadi proses pemurnian dan penyaringan dirinya dari kotoran tubuh, setelah itu tubuh elte yang sudah melebur dan sudah dimurnikan lalu bergabung dengan energi kehidupan yang berasal dari sumber daya energi yang sudah diserap sebelumnya oleh aura.


Setelah terjadi proses penggabungan, tubuh elte kemudian masuk ke dalam dantian dan membentuk gumpalan di depan kesadaran elte. Setelah beberapa saat gumpalan dari tubuh elte kembali keluar pelan-pelan dari dantian dan membentuk tubuh elte. Mulai dari pembentukan tulang dan gigi, pembentukan urat syaraf dan sumsum tulang belakang, pembentukan organ dalam seperti jantung, hati, otak dan sejenisnya, Pembentukan kulit dan bulu rambut.


Setelah tubuh elte terbentuk dan terlihat seperti tulang-tulang terbalut kulit, sumsum tulang belakangnya mulai menghasilkan darah ke seluruh tubuh elte dan mulai mengaktifkan semua organ di dalam tubuhnya agar kembali bekerja.


Sekumpulan darah mulai membentuk otot di tubuh elte sehingga tubuh elte kembali normal. Setelah tubuh elte kembali normal, kesadaran elte terdorong keluar dari dalam dantian, masuk kembali ke dalam tubuh elte.


Kepompong yang kini berubah menjadi telur besar, pelan-pelan bergetar lalu muncul beberapa retakan. Dari dalam retakan tersebut, elte berusaha keluar dalam kondisi tanpa sehelai benang sedikit pun.


Setelah tubuh elte telah keluar seluruhnya dari telur tersebut, kulit telur tersebut terbakar sendiri menjadi debu lalu menghilang.


Elte merasakan tubuhnya sangat lengket dan bau akibat kotoran tubuhnya sendiri yang dikeluarkan saat proses penyaringan.


Ia lalu mengambil perlengkapan mandi dan sebuah sarung untuk menutup tubuhnya kemudian ia  membuat portal dimensi dan pergi menuju ke gubuk tetsu. Setelah tiba di gubuk tetsu, ia lalu berlari menggunakan tubuh kapas menuju sungai di dalam hutan untuk mandi membersihkan dirinya.


Setelah mandi ia mengembalikan peralatan mandi dan sarung dalam ruang dimensi dan mengeluarkan seperangkat pakaian untuk digunakan.


Elte kemudian menghabiskan sisa waktunya untuk berlatih mencoba kekuatan dantian eksternalnya yang kini ada di dalam tubuhnya.


Ia merasakan perbedaan yang sangat besar. Kini ia bisa mengeluarkan serangan api yang cukup mematikan dan serangan air yang dapat menghanyutkan lawan. Ia bisa membuat serangang es seperti para penyerang di museum, lalu mengeluarkan petir yang sangat besar. Ia kini bisa mengeluarkan aura naga dan gelombang elektromagnet bersamaan.


Elte mencoba berimprovisasi menggunakan gabungan elemen dan terus berlatih. Ia mencoba membuat sebuah tombak dan pisau yang keras dengan membentuknya menggunakan elemen es dan melapisinya dengan elemen logam dan elemen kristal.


Beberapa tombak dan pisau yang telah dibuat, ia simpan di dalam ruang dimensinya sebagai cadangan senjata.


Setelah puas berlatih, elte kembali ke ruang dimensi miliknya untuk menyimpan dantian eksternalnya kembali ke dalam tungku yang ada di dalam peti batu. Sebelum keluar dari ruangan dimensinya, elte tidak lupa menutup peti batu tersebut dengan telekinesis.


Elte memutuskan untuk kembali ke rumah dengan berlari dari hutan ke gedung apartemen pak jaya.


Saat diperjalanan pulang, elte mendengar suara perempuan yang berteriak minta tolong. Ia lalu memutuskan untuk menghampiri sumber suara tersebut.


Di pinggir hutan, elte melihat sebuah mobil mewah dan beberapa motor di sampingnya. Beberapa meter di belakang mobil tersebut, ia melihat dua orang wanita berusaha melepaskan diri dari enam orang pria yang ingin mengambil kehormatannya.


"Ehemm..." elte mengejutkan semua penjahat yang sedang tertawa sambil merobek pakaian wanita tersebut.


"Eh lo... jangan ikut campur urusan orang" kata salah satu penjahat itu sambil mengeluarkan senjata api


Elte lalu mengambil sebuah paku dari ruang dimensinya dan melemparkan paku itu ke tangan penjahat yang sedang memegang senjata api.


"Aaduuuhh... tanganku" teriak penjahat itu karena di telapak tangannya sekarang telah menancap sebuah paku lima sentimeter dengan darah yang berceceran dari tangannya.


Elte tidak memasukkan elemen peledak ke dalam paku tersebut karena tidak ingin mencari perhatian dari kedua wanita itu.


Kelima penjahat yang melihat temannya kesakitan, seketika mengambil senjata api dan menembak elte.


Elte yang sudah sejak dari hutan mengaktifkan tubuh kapas bergerak menghindari peluru dari senjata api para penjahat. Ia lalu mengambil lima paku dari ruang dimensinya, tiga paku di tangan kanan dan dua paku di tangan kiri.


Ia lalu melemparkan kelima paku itu bersamaan dan mengenai tangan kelima penjahat itu sedang memegang senjata.


"Waaduuuhh... tanganku" teriak kelima penjahat itu karena di telapak tangannya sekarang telah menancap sebuah paku lima sentimeter dengan darah yang berceceran dari tangannya.


Elte lalu berlari menendang wajah keenam penjahat yang sedang kesakitan hingga pingsan.


Saat ia berbalik hendak menolong kedua wanita itu, ia sangat terkejut karena salah satu wanita itu adalah perempuan yang pernah ia lihat di toilet.


"Eehhh.. kak santi... " kata elte sambil melihat kedua wanita itu yang masih menangis trauma dengan baju yang telah sobek dan memperlihatkan dalamannya.


Elte lalu berjalan menuju para penjahat yang pingsan dan mengambil dua jaket dari penjahat itu. Ia lalu menyerahkan kedua jaket itu kepada dua wanita yang masih menangis sesenggukan.


Setelah menyerahkan kedua jaket itu, ia meminta agar seniornya menelpon polisi dan ambulance. Mendengar kata ambulance wanita satunya tersentak dan berdiri menuju mobil mereka dimana ada seorang pria tua sedang pinsan dengan dada yang penuh darah. Wanita itu menangis histeris memanggil kakeknya yang sudah sekarat.


Elte yang baru menyadari ternyata masih ada korban lain, segera berlari ke mobil tersebut dan mengeluarkan sang kakek, agar berbaring lurus di atas tanah. Ia lalu merobek baju pria tua itu sehingga terlihat bekas tembakan di dada kanannya.


Sesaat elte bingung dengan kondisi yang tidak memungkinkannya untuk menggunakan kemampuan penyembuhannya. Ia lalu meminta wanita tersebut mencari air serta menelpon polisi dan ambulance dengan alasan pria tua itu masih ada harapan.


Setelah wanita itu kembali masuk ke mobil ia segera menggunakan persepsi internal untuk memeriksa kondisi sang kakek. Ia melihat peluru itu telah membuat paru-paru sebelah kananya bocor dan menyebabkan terjadi pendarahan yang sangat parah.


Elte lalu menggunakan elemen cahaya untuk menyembuhkan beberapa organ vital yang telah terluka termasuk paru-paru kanannya yang sudah bocor. Ia juga menggunakan telekinesis untuk menarik peluru ke posisi yang tidak membahayakan namun tetap di dalam tubuh sang kakek. Tidak mungkinkan luka tembakan tapi pelurunya tidak ada.


Langkah akhir, elte menggunakan gabungan persepsi internal dan elemen cahaya untuk memicu sumsum tulang belakang sang kakek, memproduksi sel darah merah menggantikan darah yang sudah banyak keluar.


Beberapa saat setelah elte menyembuhkan sang kakek, wanita itu kembali membawa air. Elte yang kelelahan lalu meminum air itu hingga habis dan mengucapkan terima kasih.


"Loh kok diminum... bukannya air ini untuk kakek saya." kata wanita itu sedikit emosi


Elte yang menyadari keteledorannya meminta maaf dan berusaha menenangkan wanita itu


"Eh.. maaf, kakek anda juga sedang pingsan dan tidak mungkin bisa minum, tapi tadi aku sudah cek kondisi beliau, untunglah lukanya tidak fatal."


Wanita itu lalu mengambil kain yang ada di mobil dan menyelimuti kakeknya. Elte melihat kondisi seniornya masih syok karena trauma hampir diperkosa. Ia masih belum menyadari keberadaan junior yang pernah melihatnya ditoilet.


Beberapa saat kemudian ia mendengar suara sirine ambulance dan dari kejauhan ia melihat beberapa mobil polisi mengawali mobil ambulance.


Elte lalu memutuskan untuk kabur agar tidak direpotkan sebagai saksi. Sebelum pergi ia sempat mengaktifkan zona persepsinya untuk memeriksa mobil wanita itu apakah ada CCTVnya atau tidak. Setelah yakin tidak ada ia pun kabur menghilang dengan hati tenang.n