
POV : JEMIMA
Jemima terkesiap ketika tiba-tiba ia berada di sebuah ruangan gelap. Tubuhnya bahkan terasa kaku sehingga ia tak dapat bergerak. Hanya ada setitik cahaya yang terlihat. Ia menoleh ke kiri dan kanan berharap ada jalan keluar dari kegelapan. Keringat dingin mengalir deras karena ia begitu ketakutan.
"Jemima....Jemima..."
Jemima terperanjat mendengar gaungan suara yang menyebut namanya. Suara yang begitu mencekam menyiratkan kemarahan.
"Semua salahmu. Kau bersalah atas semuanya...."
"Kau tidak akan tenang...selamanya...hahahaha...."
Suara itu semakin menggema menggentarkan nyali Jemima. Ia merasa sesak dan sakit kepala yang teramat sangat.
"Kau akan merasakan balasan..."
"Tidaaaaaak!!!!!"
Jemima berteriak dan tiba-tiba tersentak. Nafasnya terengah-engah dan telapak tangannya terasa dingin. Ia melihat sekitar, ternyata ia berada di kamarnya. Mimpi itu datang lagi, pikirnya kalut. Jemima melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul dua belas malam, yang berarti hari telah berganti. Ia menarik nafas panjang. Lagi-lagi ia mimpi buruk setiap tanggal ulang tahunnya. Sudah beberapa tahun belakangan ia selalu dihantui mimpi buruk di hari kelahirannya itu. Jemima sudah mengantisipasi dengan tidur menyalakan lampu dan menyalakan musik yang lembut agar mimpi menyeramkan itu tidak datang namun tidak berhasil.
Jemima lalu meraih segelas air putih di atas nakas dan meminummya sampai habis. Ia mengatur nafasnya agar dapat kembali normal. Syukurlah tak butuh lama ia dapat menenangkan diri meski jantungnya masih berdebar kencang. Hari ini, tiga puluh Oktober ia tepat berusia dua puluh delapan tahun. Ibunya mengatakan Jemima lahir tepat pada pergantian hari yakni pukul dua belas malam. Ulang tahunnya selalu menyenangkan meski hanya dirayakan sederhana bersama keluarga. Namun sejak enam tahun lalu berubah menjadi menakutkan karena mimpi buruk yang selalu datang. Mimpi dengan suara bergema yang menyalahkan Jemima atas suatu keadaan. Jemima mengusap air matanya yang mulai mengalir. Dadanya terasa sesak karena tidak kuat menahan gejolak perasaan. Saat ini yang ingin ia lakukan adalah pulang dan memeluk ibunya. Ia rindu aroma tubuh ibunya yang selalu membuatnya merasa semuanya baik-baik saja. Sayangnya ia tidak bisa. Keadaan memaksanya untuk bisa menenangkan diri sendiri. Jemima lalu turun dari kasur dan membuka lemari pakaian, mencari sepotong baju milik ibunya yang sengaja ia bawa. Ia kembali bersiap tidur dengan memeluk baju sang ibu yang kini basah karena air matanya.
"Ibu, jaga aku," ucapnya lirih. Matanya lalu terpejam setelah lelah menangis.
***
Jemima tiba di Hotel Intercontinental dan langsung disambut oleh beberapa bodyguard yang bersiap membukakan pintu mobil dan mengawalnya hingga masuk ke dalam hotel. Hari ini Jemima bernyanyi di acara pernikahan anak seorang pengusaha batu bara dari Kalimantan. Ia sendiri takjub karena mereka tidak keberatan membayarnya mahal untuk mengalunkan suara merdunya menghibur undangan yang datang. Kata Tita ini adalah pernikahan anaknya yang pertama sehingga harus spesial dan mewah.
Jemima telah siap dengan gaun indah yang membalut tubuh langsingnya. Telinganya tak henti mendengar pujian para staff yang mengagumi pemampilannya yang bak peri.
"Biasanya aku akan sombong setelah mendadani seseorang menjadi cantik. Tapi kali ini aku tidak bisa. Polesanku hanya pemanis karena wajahmu sempurna. You're so unreal," ujar Dion, make up artis yang selalu mendandaninya.
"Kau selalu berlebihan," balas Jemima tersipu.
Ia lalu bersiap-siap untuk tampil setelah diberi arahan oleh wedding organizer yang bertugas. Beberapa detik kemudian orang-orang bersorak dan bergegas mendekat ke panggung setelah Jemima muncul dan menyapa semuanya.
Jemima lalu menyanyikan lagu pertama untuk sang pengantin, A Whole New World. Suara lembutnya seketika menghipnotis para undangan dan keluarga pengantin yang turut bernyanyi. Jemima pun larut dalam suka cita membawakan lagu selanjutnya. Ia seolah membagi energi positif pada semua orang yang menonton sehingga penampilannya betul-betul dinikmati dan diresapi. Bahkan pengantin perempuan meneteskan air mata karena terharu akan lagu dan suara Jemima yang menghidupkan suasana pernikahannya. Jemima mengerti. Ia lalu dibantu staff wedding organizer untuk turun dari panggung dan berjalan menuju pelaminan. Tentu saja hal itu membuat suasana semakin riuh karena Jemima mengajak pasangan pengantin untuk bernyanyi bersamanya.
"I'm so honored bisa hadir di sini di pernikahan kalian yang indah. Stop crying baby. Let's sing with me," ucap Jemima sambil merangkul Stevia, sang pengantin perempuan yang tak berhenti meneteskan air mata. Kata Tita, Stevia memang penggemar berat Jemima sejak awal debutnya.
Tepuk tangan bergemuruh setelah Jemima menyelesaikan bait terakhir dari lagunya. Ia pun lalu bersiap untuk turun setelah foto bersama dengan pengantin dan keluarga, namun tiba-tiba tangannya di raih oleh Stevia.
"Jemima, you're such an angel. Terimakasih sudah bernyanyi untukku hari ini. Aku kira aku adalah pengantin paling berbahagia hari ini," ucap Stevia dengan mata berbinar.
Jemima tersenyum tulus dan memeluk Stevia. "Terimakasih juga sudah mengundangku. Aku turut bahagia untukmu,"
"Happy birthday, dear Jemima," ujar Stevia setelah Jemima melepas pelukannya. "Semoga kau selalu bersinar dan menghangatkan orang-orang di sekitarmu,"
Jemima tersentuh mendengar ucapan selamat Stevia. Sungguh ia terharu karena ulang tahunnya diingat oleh penggemar. Tak mau sampai meneteskan air mata, Jemima segera turun dan berpamitan.
***
Alezo menggerutu kesal karena terpaksa menemani Kamila ke pernikahan anak sahabatnya. Ia tidak dapat menolak karena jadwalnya memang sedang kosong. Kamila bahkan mewanti-wanti untuk mengenakan tuxedo karena ini adalah pernikahan mewah yang dihadiri banyak orang penting. Apa bedanya jika aku mengenakan batik, pikir Alezo. Setelah tiba ia seketika bersyukur karena hampir seluruh undangan pria mengenakan tuxedo sepertinya. Alezo seperti anak hilang karena tidak ada yang ia kenali. Sesekali ia tersenyum merespon sapaan orang-orang yang mengenalinya dan berfoto bersama. Beruntung mereka tetap menjaga sikap sehingga Alezo tidak merasa terganggu.
"Wow, Alezo masih mau menemani ibunya meski sudah terkenal. Sungguh anak berbakti," ujar salah seorang kerabat Kamila.
"Beruntung sekali rasanya dapat bertemu Alezo di sini. Kau jauh lebih tampan," Timpal suara lainnya.
"Sayang sekali anakku tidak ikut karena dia sangat mengidolakan Alezo,"
"Hai semuanya.."
Alezo hampir tersedak mendengar sapaan bintang tamu yang menyapa para undangan. Ia refleks berbalik dan matanya melebar saat mendapai Jemima berada di atas panggung. Bibirnya tanpa sadar mengucapkan 'wow' karena terpesona dengan penampilan Jemima yang mengenakan gaun. Perlahan musik mulai mengalun dan suara Jemima menyapa ramah rongga telinga semua orang yang ada. Tak terkecuali Alezo. Ia bagaikan terhipnotis dengan visual dan suara merdu Jemima. Ini kali pertama Alezo melihat langsung Jemima bernyanyi di panggung. Sungguh pancaran kecantikan Jemima jauh terlihat lebih mempesona. Alezo seketika merasa semua orang di ballroom menghilang, dan hanya ada dirinya dan Jemima yang bernyanyi. Matanya tak berkedip dan bibirnya menyunggingkan senyum.
Alezo tersadar saat ia terdorong karena seseorang tak sengaja mendorongnya. Ia menggelengkan kepala seolah tersadar dari sebuah mantra. Ia menarik diri dan mundur ke belakang karena tak kuasa menahan kekagumannya akan Jemima. Tak lama kemudian penampilan Jemima selesai dan sang diva menghilang di balik panggung. Alezo seketika merasakan kekecewaan dalam hatinya. Ia masih ingin melihat Jemima, namun ia sendiri tidak tahu bagimana caranya. Ini sudah ketiga kalinya ia tak sengaja berada di tempat yang sama dengan Jemima, apa ini sebuah pertanda bahwa sudah saatnya ia mendekati gadis itu?
***
"Oh my God..." seru Jemima ketika tim dari Magnolia datang ke apartemen dengan membawa banyak hadiah dari penggemarnya. Jauh lebih banyak dari tahun kemarin, pekiknya dalam hati. Jemima begitu sumringah saat menata hadiah-hadiah yang ia terima. Semuanya menggemaskan dan begitu cantik. Menerima hadiah dari penggemar menjadi hal yang paling menyenangkan bagi Jemima setiap ulang tahunnya karena ia merasa begitu dicintai. Dalam hati ia tulus mendoakan agar semua penggemarnya selalu diberi kebahagiaan dan ia berjanji akan selalu memberikan yang terbaik.
Setengah jam kemudian kamar tamu yang ia jadikan tempat menyimpan hadiah sudah hampir penuh, padahal kata Tita masih ada beberapa yang belum datang. Jemima memperhatikan tumpukan hadiah dan tanpa terasa air matanya menetes.
"Hey, ini hari ulang tahunmu. Kenapa kau menangis?" Tanya Tita sambil merangkul bahu Jemima.
"Aku...aku merasa begitu berarti karena penggemarku," ucap Jemima terisak.
"Mereka mencintaiku walau aku tidak mengenal mereka. Sungguh aku ingin sekali berterimakasih dan memeluk mereka satu persatu jika bisa...."
Tita langsung memeluk Jemima yang tak bisa menahan tangisnya. Ia mengusap punggung Jemima yang ia tahu tak selalu kuat menopang perjalanan hidupnya. Bukan hal mudah bagi Jemima untuk mencapai yang ia dapatkan sekarang, dan Tita bersyukur menjadi saksi perjuangan Jemima yang hampir membuatnya menyerah. Magnolia tidak pernah main-main dalam mendidik artisnya untuk menjadi sempurna. Bahkan Tita sendiri begidik ngeri membayangkannya karna ia tidak akan sanggup.
"You deserve this, sweetheart," bisik Tita tulus di telinga Jemima. "Happy birthday. I love you,"
Jemima semakin mengeratkan pelukannya pada Tita. Saat ini hanya Tita yang ada di sampingnya, dan Jemima tak mau kehilangan managernya itu sampai kapanpun.
"Promise you won't leave me," lirih Jemima.
"I'll never go," balas Tita setelah melepas pelukan mereka.
Jemima lalu mengusap air matanya dan tersenyum.
"Baiklah. Karena sudah semua, saatnya kau berfoto dengan hadiah-hadiahmu,"
Seperti anak kecil Jemima berloncatan di antara hadiah miliknya. Ia tidak sabar ingin mengunggahnya ke media sosial untuk berterimakasih pada para penggemarnya itu.
***
Jemima kembali sendirian di apartemen. setelah teman-temannya pulang. Ia memang mengundang beberapa teman dekatnya untuk sekedar makan malam dengan Najla sebagai sponsor. Sahabatnya itu mengirim banyak makanan dari restoran sebagai permintaan maaf tidak berada di samping Jemima saat sahabatnya itu ulang tahun karena ia sedang di luar kota. Tita sebenarnya sudah menawarkan diri untuk menginap agar Jemima tidak kesepian di hari ulang tahunnya itu, namun Jemima menolak karena ia tahu Tita pasti lelah.
Sepeninggal teman-temannya, Jemima memilih duduk menghadap balkon apartemennya. Pemandangan lampu kota yang begitu indah dari ketinggian selalu menjadi favoritnya. Jemima lalu melirik lemari kaca tempat ia menyimpan piala penghargaan dari dunia musik. Piala yang berjejer rapi itu menjadi saksi perjalanan Jemima sebagai penyanyi papan atas. Ia mungkin tersenyum bahagia ketika menerima piala dan memberikan pidato kemenangan. Namun dibalik itu ada duka dan luka yang ia lewati untuk meraih suka. Jemima memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Ia menarik nafas dan berterimakasih pada dirinya yang sudah berjuang dan bertahan. Kini ia hidup menjalani mimpinya, dimana patutnya ia bangga dan bahagia. Sayangnya di antara suka cita yang ia rasakan, ia masih merasa ada ruang kosong yang menganga. Ada serpihan hatinya yang hilang entah kemana sehingga kadang membuatnya rapuh.
Jemima melirik ponselnya yang tidak berhenti menerima notifikasi dari media sosialnya. Ia menerima banyak ucapan ulang tahun dari penggemar dan juga rekan-rekannya sesama entertainer. Namun sayangnya orang yang ia harapkan untuk memberinya selamat justru tidak menghubunginya sama sekali. Siapa lagi kalau bukan Alezo. Jemima akhirnya menyimpulkan bahwa memang Alezo tidak memiliki perasaan padanya. Itu berarti tidak ada harapan bagi Jemima.
Jemima bersiap untuk tidur setelah selesai memakai skincare di wajahnya. Ia segera naik ke tempat tidur setelah mengoleskan lotion ke tangan dan kakinya. Temaram lampu tidur membuat Jemima yang memang tak terbiasa begadang ini semakin mengantuk.
"Ah hampir saja lupa," ujar Jemima sambil meraih handphonenya. Ia harus memasang alarm karena besok ia ada jadwal pemotretan sebuah brand sepatu dengan Alezo.
Mata Jemima sontak melotot ketika ia membuka instagram setelah memasang alarm. Postingan foto Alezo muncul di berandanya. Tanpa caption namun cukup membuat Jemima bertanya-tanya. Alezo meunggah pesawat kertas yang menjadi properti mereka saat syuting, dimana itu menjadi ikon film mereka. Ceritanya pesawat kertas itu dibuat oleh Raya, tokoh yang Jemima perankan. Raya membuat pesawat kertas yang berisi ucapan kerinduan pada Saga, kekasihnya yang diperankan Alezo. Jemima teringat pada sebuah wawancara saat promosi film, Alezo mengatakan ia membawa pulang pesawat kertas yang Raya tulis. Saat itu Jemima mengira Alezo hanya bercanda untuk keperluan promosi. Ternyata ia benar menyimpannya. Jemima membuka kolom komentar dan ternyata sudah dipenuhi dengan komentar netizen.
"Oh Tuhan ternyata Alezo benar menyimpan pesawat kertasnya!"
"Apa ini caramu mengucapkan ulang tahun pada @jemimatsamara?"
"Kau mengunggah pesawat kertas buatan Jemima saat ulangtahunnya. Aku yakin kalian berpacaran,"
"Tanpa caption tapi kami mengerti maksudmu, Alezo😝"
Jemima membaca satu persatu komentar yang bernada sama. Hampir semua menganggap Alezo secara tersirat mengucapkan ulang tahun untuknya. Jemima teringat ia pernah mengatakan bahwa pesawat kertas adalah properti syuitng yang paling membuatnya terkesan karena ia sendiri yang menuliskan pesan dan melipatnya saat wawancara dengan Vow Magazine minggu lalu. Apa benar Alezo sengaja mengunggahnya sebagai bentuk ucapan ulang tahun atau tidak, Jemima tidak dapat menebaknya. Namun dalam hati kecilnya Jemima berharap hal itu benar.