Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 7



POV : ALEZO


"Jadi, kau akan memperpanjang kontrakmu, bukan?" Tanya Samuel penuh harap pada Alezo.


Samuel mengundang Alezo secara khusus ke restoran Prancis untuk membahas kontrak Alezo di agensinya.


Alezo menghela nafas. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Aku kira ini hanya makan siang biasa," ucapnya tersenyum.


"Memang makan siang biasa. Ah kau ini. Aku jadi merasa buruk," canda Samuel lalu menyesap wine.


"Sejujurnya aku belum memikirkan melanjutkan atau tidak kontrakku yang tersisa enam bulan lagi itu," ucap Alezo yang membuat Samuel ketar-ketir.


"Dengar, Alezo. Aku mungkin terdengar sangat terobsesi padamu. Namun kau pasti paham kenapa aku begitu berharap kau bertahan dengan Hexagon," tukas Samuel setenang mungkin.


Alezo terdiam. Dia menatap mata Samuel yang usianya terpaut lebih tua lima belas tahun darinya itu. Sorot mata pria paruh baya itu terlihat penuh harap, seolah Alezo adalah penyelamat nyawanya. Raut wajah Samuel yang sudah mulai dipenuhi kerutan itu tampak memohon agar tidak ditinggalkan oleh Alezo.


"Hexagon adalah rumah keduaku," ucap Alezo sejurus kemudian yang mengundang binar di mata Samuel.


"Setidaknya itu yang kurasakan sampai setahun lalu," lanjutnya.


"Maksudmu?"


Alezo berdehem. "Apa kau secara terang-terangan menjadikanku sapi perah?"


Samuel terhenyak. Ia tidak menyangka Alezo akan mengatakan ucapan yang membuatnya tertampar.


"Kau memaksaku menerima semua pekerjaaan tanpa bisaku pilah. Bahkan aku tidak punya waktu untuk menghibur diriku sendiri,"


"Bukan...bukan begitu maksudku. Namamu sedang bersinar. Tentu aku menginginkan kau selalu terang," jelas Samuel yang kini terlihat gusar.


"I know, Sam. Aku sebenarnya bisa mengerti maksudmu. Tapi aku bukan robot. Aku manusia yang bisa merasakan jenuh. Kau mengabaikan itu!" tegas Alezo.


Samuel menghela nafas. Sebenarnya ia merasa bersalah ketika memaksa Alezo terus menerima tawaran pekerjaan. Namun ia tidak punya pilihan lain karena ia harus mempertahankan reputasi Hexagon. Agensi akan di cap buruk jika sang artis menolak banyak tawaran. Imbasnya artis-artis di agensi yang sama juga akan kehilangan tawaran pekerjaan karena mengira di larang oleh agensinya.


"Aku...aku minta maaf soal itu. Tapi aku tidak bermaksud menjadikanmu sapi perah demi keuntungan,"


Alezo menaikkan sebelah alisnya, menunggu kalimat Samuel selanjutnya.


"Maafkan aku memaksamu untuk mengambil peran di Salju Pertama Desember sehingga jadwalmu menjadi semakin padat hingga akhir tahun tanpa di rubah," ujar Samuel sungguh-sungguh.


Alezo terdiam. Film Salju Pertama Desember memang sukses besar, padahal awalnya Alezo menolak mentah-mentah. Ia terbebani dengan jadwal syuting yang lama dan berada di luar kota. Bahkan ia sendiri tak yakin mampu membangun chemistry dengan lawan mainnya karena ia akhirnya menerima karena terpaksa. Tidak ada respon khusus saat ia mengetahui bahwa lawan mainnya adalah Jemima Tsamara, diva muda beparas rupawan yang menjadi idola semua orang. Alezo hanya sekali memperhatikan akun media sosial Jemima sebelum mereka bertemu untuk bertemu pertama kali untuk membaca naskah. Siapa sangka saat pertama kali mata mereka berjumpa dan senyum manis Jemima menyapanya, Alezo merasa begitu bersemangat untuk syuting. Ia bahkan mengutuk dirinya yang hampir menolak film itu. Jika ia tak di sana, mungkin ia tidak akan pernah bertemu dan berinteraksi dengan Jemima. Tubuh dan bibir mereka tidak akan bersentuhan. Asataga kenapa aku selalu memikirkan itu, pikir Alezo.


"Ah...sudahlah. Karena tidak bisa di rubah, tidak perlu di bahas," tukas Alezo cepat mengusir pikirannya.


"Jika kau memperpanjang kontrak, aku tidak sungkan memberi apa yang kau inginkan. Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Bahkan jika kau menikah pun tidak masalah," ucap Samuel sungguh-sungguh.


"Kau terdengar seperti seorang ayah yang memberi izin anaknya untuk menikah,"


"Sungguh syarat apapun yang kau inginkan akan ku kabulkan,"


Alezo tersenyum tipis. Sebenarnya ia pun tidak berniat meninggalkan Hexagon yang sudah membesarkan namanya, tidak pula bermaksud memeras Samuel. Ia hanya ingin menyampaikan keluh kesah agar bosnya itu bisa memahami dirinya.


"Kau tidak akan pulang dengan rasa kecewa," ujar Alezo sambil mengangkat gelas wine dan mengajak Samuel untuk bersulang.


"Kau yang terbaik!" Seru Samuel girang lalu mengangkat gelasnya.


***


Alezo baru saja di rumah ketika ponselnya berdering. Ia segera mengangkatnya setelah membaca nama si penelepon di layar.


"Yes, Ma?"


"Mama akan datang malam ini dan menginap karena besok ada arisan di hotel dekat rumahmu," ujar Kamila, sang pemilik suara di ujung sana.


"Apa kau sibuk? Mama butuh beberapa bahan untuk membuat cake. Bisa kah kau membelinya di supermarket? Mama tidak sempat membelinya karena ada pertemuan dengan istri gubernur,"


Alezo menghela nafas. Dalam hati ia mengomel karena Kamila selalu memintanya berbelanja setiap akan datang dan menginap. Kenapa tidak membuat cake di rumah saja, pikir Alezo.


"Hmm baiklah kirimkan daftar belanjaannya,"


Alezo kembali masuk ke mobil untuk berbelanja ke supermarket. Ia menertawakan dirinya sendiri yang di usia tiga puluh empat tahun masih  menurut disuruh berbelanja oleh ibunya. Bukan hanya itu. Kamila sering kali menganggap ia masih kecil dan memarahinya setiap Alezo beradegan atau berpose mesra dengan artis yang menjadi lawan mainnya.


"Apa orangtua gadis itu tidak marah kau menyentuh anaknya?"


"Apa kau sudah meminta izin sebelum menciumnya?"


"Astaga, apa otot perutmu itu memang harus selalu diperlihatkan?"


Begitulah komentar Kamila setiap ia menonton film Alezo. Meski demikian Kamila adalah orang nomor satu yang paling mendukung karirnya, bahkan membujuk Reno agar tidak memarahi Alezo yang tidak melanjutkan pendidikan kedokterannya.


Alezo tiba di supermarket dan segera berkeliling mencari daftar barang yang dikirimkan Kamila melalui pesan. Ia tersenyum lega di balik masker yang menutupi wajahnya ketika menemukan rak bahan kue dan segera mencari yang ia butuhkan. Tangan Alezo baru saja akan meraih bungkusan tepung ketika ia mencium aroma wangi parfum yang sangat ia kenal. Matanya seketika memperhatikan sekitar. Tanpa sadar Alezo berjalan berusaha mencari sumber aroma yang membuatnya langsung teringat akan seseorang. Langkahnya semakin lebar ketika merasakan wangi yang semakin kuat, pertanda sang pemilik sudah dekat. Ia lalu terhenti di belakang seorang gadis yang mengantri di kasir.


Ternyata benar itu dia, pikir Alezo. Ia merasakan kakinya berat untuk kembali ke rak bahan kue untuk membeli pesanan ibunya. Alezo tidak rela kehilangan wangi yang membuatnya candu. Ia seolah merasa membeku dan tidak berani menyapa sang pemilik wangi, yakni Jemima.


Alezo melotot ketika petugas kasir membentak Jemima yang tidak membawa dompet. Hatinya sakit melihat Jemima tertunduk malu karena suara si petugas kasir begitu kencang.


"Watch your attitude," ketusnya. Tanpa pikir panjang ia memberikan kartunya untuk membayar belanjaan Jemima.


Alezo lalu menarik tangan Jemima setelah selesai membayar dan balas mengintimidasi petugas kasir yang tidak sopan itu. Semerbak aroma parfum Jemima menyeruak saat mereka berdua di dalam lift. Sungguh Alezo ingin berlama-lama menikmatinya. Sayang mereka harus berpisah karena Jemima sudah di jemput oleh supirnya. Alezo hampir tidak kuasa menahan rasa gemasnya pada Jemima yang ingin mengganti uangnya. Sungguh ia ingin mencubit pipi gadis itu jika ia tidak tahu malu.


"That's what friend is for," ucap Alezo setenang mungkin ketika Jemima berterimakasih.


Hatinya terasa sakit mengucapkan kalimat itu. Ia berusaha mati-matian agar perasaannya tidak diketahui oleh Jemima yang tak mungkin memiliki rasa yang sama dengannya. Sepeninggal Jemima, Alezo berdiri terpaku seolah tidak memiliki kekuatan untuk melangkahkan kakinya. Sungguh ia baru pertama kali begitu jatuh hati pada artis yang menjadi lawan main sepanjang karirnya. Sejujurnya Alezo selalu berdebar dan kerap terbawa perasaan setiap berpasangan dengan artis wanita manapun. Namun perasaannya seketika hilang ketika syuting berakhir dan kembali biasa saja sehingga terjalin hubungan pertemanan dengan mereka. Ia kira akan sama ketika ia bertemu dengan Jemima. Tapi dari awal syuting saja Alezo sulit berkonsentrasi karena salah tingkah. Beruntung ia dapat mengatasinya sehingga tidak terlalu ketara. Ia kira setelah syuting selesai perasaan anehnya akan mereda. Ternyata setelah berbulan-bulan tak juga sirna. Ia jatuh cinta pada Jemima. Sayangnya tidak akan mudah bagi Alezo karena Magnolia sangat protektif pada Jemima. Mereka pasti mengikat Jemima dengan aturan ketat yang tak mungkin bisa Alezo lampaui. Ia bisa saja nekat, namun karir Jemima menjadi taruhan. Semua orang tahu bahwa diva seperti Jemima harus jauh dari skandal, terutama menyangkut percintaan sehingga menjadikan Alezo tak punya pilihan.


***


"Sudah mama duga ada yang mengganjal di hatimu," ujar Kamila ketika Alezo menceritakan tentang Jemima.


Alezo merasa dadanya akan pecah karena tak sanggup menahan perasaan.


"I don't know how to fix it," ucap Alezo lirih.


"Don't try to fix it. It is not broken," jawab Kamila sambil menyeruput teh chamomile kesukaannya.


"Kau tidak bersalah atas perasaanmu. Bukan pula berarti kau kehilangan profesionalitasmu sebagai aktor karena jatuh cinta pada lawan mainmu,"


Alezo hanya diam mendengarkan ucapan Kamila.


"Jika memang sulit bagimu untuk meraihnya, setidaknya beritahu dia akan perasaanmu,"


"Lalu aku menjadi tertawaan," potong Alezo.


"Apa menurutmu gadis itu akan menertawakanmu?" Tanya Kamila. "Apa dia semenyebalkan itu untuk menjadikan perasaan seseorang sebagai lelucon?"


Alezo terdiam mencerna ucapan Kamila. Ia yakin Jemima bukan orang yang seperti ibunya tanyakan. Jemima yang ia kenal ssngat menghargai orang lain. Setidaknya itu yang ia lihat saat mereka syuting bersama.


"Aku bahkan tidak berani menghubunginya karena takut ia tahu perasaanku," ujar Alezo lirih.


Kamila meletakkan cangkir tehnya di atas meja.


"Lalu kau merutuki perasaanmu tanpa melakukan apapun? Alezo, kau akan tersiksa jika begitu. Mama rasa kalian sama-sama dewasa. Setidaknya kau lega jika kalian mengetahui perasaan masing-masing. Kau pun bisa segera move on jika memang tidak ada harapan bagi kalian untuk bersama,"


Alezo menghela nafas. Kamila benar. Ia hanya menyiksa diri sendiri karena menyimpan perasaan tanpa diungkapkan. Meski nantinya menyakitkan, itu tidak akan lama jika dibandingkan sakitnya memendam rasa dan dihantui rasa penasaran.


"Mam...you're the best,"


***