Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 34



POV : Alezo


Alezo baru saja mengaduk coklat panas yang akan ia suguhkan untuk Jemima ketika ia tersentak teringat akan sesuatu.


"Albumnya," gumam Alezo lalu bergegas menuju kamar, berharap Jemima tidak melihat album foto yang baru ia keluarkan tadi pagi.


Bodohnya Alezo ia tidak ingat meletakkannya di meja kamar, dan malah menyuruh Jemima ke kamarnya.


Sayangnya Alezo terlambat. Ia membuka pintu kamar dan mendapati Jemima berdiri menatap album foto yang tergeletak di lantai. Oh Tuhan, matilah aku jerit batin Alezo.


"Mima..."


Alezo tak berdaya menanggapi Jemima yang memaki dan berteriak kepadanya. Hatinya hancur melihat Jemima bersimbah air mata dan tak ingin disentuh olehnya. Sungguh Alezo rela menerima pukulan dan umpatan Jemima, tetapi ia tidak sanggup melihat betapa terpuruknya kekasihnya itu saat ini setelah mengetahui semuanya.


"Astaga Jemima!" Seru Alezo saat Jemima jatuh ke lantai tak sadarkan diri.


Ia secepat kilat meraih tubuh Jemima dan menggendongnya ke tempat tidur. Alezo menatap pilu Jemima yang memejamkan mata. Perlahan ia menyeka air mata Jemima dengan tangannya. Ia mengusap lembut pipi sang kekasih yang ia yakini sangat terkejut mengetahui fakta orangtuanya lah yang menyakiti ibu Jemima di masa lalu. Alezo sebenarnya belum siap memberitahu Jemima karena ia sendiri ketakutan. Ucapan kebencian Jemima yang tidak rela keluarga sahabat ibunya hidup bahagia terngiang-ngiang di telinga Alezo. Bagaimana ia bisa sanggup mengatakannya  pada Jemima? Ternyata kebahagiaan yang ia rasakan sejak dulu menyisakan duka bagi orang lain yang dikhianati kedua orangtuanya. Di saat ia hidup dengan kemudahan bahkan kemewahan, ternyata ada seseorang yang terseok-seok menjalani kehidupan.


"Maafkan aku, Mima...." ucap Alezo penuh sesak.


Alezo tersentak ketika mendengar suara Kamila yang memanggilnya. Ia pun lalu menyelimuti Jemima dan bergegas keluar kamar menemui Kamila.


"Di mana Jemima?" Tanya Kamila yang menenteng tasnya.


"Tidur di kamarku," jawab Alezo kikuk.


Kamila mengangguk lalu tersenyum. "Mama akan pulang. Sampaikan salam mama pada Jemima,"


Alezo menggangguk. Ada perasaan aneh saat berhadapan dengan sang ibu. Rasanya sulit dipercaya Kamila yang begitu lemah lembut dan penyayang pernah begitu jahat di masa lalu.


"Ah satu lagi," ucap Kamila yang tiba-tiba berbalik setelah berjalan menjauh beberapa langkah.


"Jangan lakukan itu sebelum kalian menikah. Kendalikan dirimu," pesan Kamila sungguh-sungguh.


Alezo tercekat. Tentu ia tidak akan melakukan itu toh Jemima bahkan tak ingin lagi disentuh olehnya.


"Come on, Mom. Aku bukan pria mesum," balas Alezo kesal yang disambut tawa Kamila.


Kamila berlalu meninggalkan Alezo yang masih terpaku. Tubuhnya seolah membeku. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Jemima ketika ia tersadar nanti.


***


Alezo mulai gusar ketika Jemima tak kunjung sadar selama satu jam. Wajah Jemima yang semakin pucat membuat Alezo berpikir ia harus membawa Jemima ke rumah sakit. Ia tidak bisa meminta bantuan Neil karena sahabatnya itu sedang praktek dan baru akan selesai sore nanti. Alezo tidak ingin kondisi Jemima semakin memburuk sehingga ia segera keluar kamar untuk menyiapkan mobil.


Alezo seketika merasa lega ketika mendapati Albar yang baru pulang muncul di balik pintu. Ia bisa meminta bantuan Albar untuk membaw Jemima ke rumah sakit.


"Kenapa wajahmu?" Tanya Albar heran melihat wajah pias Alezo.


"I need your help,"


"What? Jangan yang aneh-aneh," jawab Albar curiga.


"Dengar. Jemima ada di kamarku. Dia pingsan. Kita harus membawanya ke rumah sakit," jelas Alezo setenang mungkin agar Albar tak bereaksi berlebihan.


"HAH?! Apa...apa yang kau lakukan padanya? Alezo kau gila. Oh Tuhan akan ku adukan kau pada mama dan papa!"


Alezo tak mengindahkan ucapan Albar. Ia segera berlari ke kamar untuk membawa Jemima. Sementara Albar yang masih kebingunguan tak urung menuju mobilnya untuk bersiap. Albar kemudian membukakan pintu dan membantu Alezo yang membopong Jemima masuk ke mobil.


"Apa yang terjadi?" Tanya Albar saat sudah menjalankan mobil.


Alezo menghela nafas. Bagaimana ia menceritakannya pada Albar.


"Akan ku ceritakan nanti," jawab Alezo. Hatinya mencelos menatap Jemima yang masih terpejam di pangkuannya.


Berkat bantuan Neil, begitu tiba di IGD Global Medika mereka sudah ditunggu oleh petugas medis untuk membawa Jemima. Alezo membaringkan Jemima di ranjang pasien dan membiarkan petugas medis membawa Jemima.


"Aku akan tetap di sini bersamamu," ujar Albar yang sudah berada di belakangnya.


Alezo menoleh. "Tidak perlu. Kau pulanglah,"


Albar mengggeleng. "Tidak sampai kau memberitahuku apa yang terjadi," ujarnya lalu kembali masuk ke mobil untuk memarkirkannya.


Sementara Alezo berjalan lunglai menuju IGD. Rasa bersalah memenuhi benaknya sehingga ia tak mampu berpikir jernih. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah berdoa agar tidak ada hal serius yang menimpa Jemima.


***


Alezo menoleh saat mendengar suara pintu dibuka. Ternyata Albar yang ternyata benar-benar menungguinya. Ia lalu duduk di sofa, menunggu Alezo untuk menghampirinya.


"What happened?" Tanya Albar begitu Alezo duduk di hadapannya.


Alezo menarik nafas mencoba menenangkan dirinya agar dapat menceritakannya pada Albar. Meski gemetar, Alezo akhirnya menyelesaikan kalimatnya.


"What the hell...." seru Albar pelan. Ia benar-benar terkejut mendengar cerita Alezo tentang keluarga Jemima dan orangtua mereka di masa lalu.


Kini Albar tak kalah gusar dengan Alezo. Ia memandang iba pada Jemima yang terbaring lalu beralih menatap Alezo yang frustasi.


"Apa mama dan papa sudah tahu?"


Alezo menggeleng. Ia belum terbayang bagaimana memberitahu kedua orangtuanya. Bahkan dalam hatinya ada perasaan marah. Namun tentu tidak bisa diluapkan.


Sejurus kemudian mereka mendengar Jemima mengigau. Alezo refleks segera bangkit dan mendekati ranjang Jemima.


"Ibu...ibu...jangan pergi...ibu...maafkan aku..."


Tiba-tiba Jemima tersentak dan bangun.


"Ibuku, mana ibuku. Aku ingin pergi dengan ibu. Ibu...dimana...ibu..."


Jemima terus meracau dengan nafas tersengal. Alezo berusaha menenangkan dengan meraih tubuh sang kekasih dan mengusapnya punggungnya.


"Mima...hey...tenanglah...Jemima..." ucap Alezo berkali-kali.


Jemima lalu menoleh ke arah Alezo dan seperti tersadar akan sesuatu. Ia dengan keras menepis tangan Alezo di pundaknya.


"Kau...beraninya kau menyentuhku," desis Jemima. "Pergi! Jangan mendekatiku, brengsek! Pergi!"


Jemima berteriak histeris dan seketika membuat Alezo panik. Beruntung perawat dan dokter segera datang tak lama Albar menekan tombol nurse call.


Alezo pasrah ketika dokter memintanya untuk keluar demi kenyamanan Jemima. Ia menoleh sekali lagi pada Jemima yang masih menangis berteriak memanggil ibunya. Hati Alezo benar-benar remuk melihat Jemima begitu menderita, dan ia menjadi penyebabnya.


***


"Kau pulang lah. Aku akan menjaga Jemima di sini," tukas Tita saat ia tiba di rumah sakit setelah Alezo meneleponnya.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang," cetus Alezo yang diliputi rasa berasalah.


Tita menghela nafas. Ia pun sebenarnya syok saat mendengar cerita Alezo. Apalagi Jemima.


"Jemima butuh waktu untuk menerima kenyataan. Sebaiknya kau tidak muncul dulu di hadapannya," saran Tita.


Tita benar, pikir Alezo. Tentu sulit bagi Jemima, dan tak mudah bagi Alezo. Tidak akan rumit jika mereka hanya orang asing yang tak saling mengenal. Namun mereka adalah kekasih dan Alezo bersumpah bahwa ia mencintai Jemima sepenuh hatinya. Alezo pun akhirnya beranjak dan keluar kamar, melangkah gontai meninggalkan Jemima meski hatinya meronta ingin tetap di sana.


***


Alezo dan Albar saling diam saat mereka sarapan di meja makan. Dua kakak beradik itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanya dentingan suara sendok beradu dengan piring yang terdengar.


"Mama selalu menasehati kita agar tidak pernah menyakiti wanita dan selalu setia. Apa itu karena mama merasa bersalah atas masa lalunya?," tanya Albar memecah keheningan.


Alezo meraih gelas lalu menenggak habis air di dalamnya.


"Entahlah," jawab Alezo. Pikirannya masih dipenuhi dengan kondisi Jemima di rumah sakit.


Meski Tita sudah mengabarinya bahwa Jemima sudah membaik dan sudah makan, Alezo masih belum tenang jika ia tidak melihatnya sendiri.


"Apa masih memungkinkan bagi kalian untuk bersama?"


Alezo menatap Albar yang bertanya. Seketika ia tersadar akan kelanjutan hubungannya dengan Jemima. Rasanya mustahil Jemima akan menerimanya setelah apa yang terjadi. Alezo merasakan darahnya berdesir ketika membayangkan ia harus berpisah dengan Jemima. Tidak, Oh Tuhan aku tidak akan sanggup melepasnya, batin Alezo.


Alezo beranjak tanpa menjawab pertanyaan Albar.  Ia memilih pergi untuk menenangkan diri. Tangan Alezo baru saja akan meraih gagang pintu ketika pintu terbuka bersamaan dengan munculnya Kamila.


"Alezo, bisa kau jelaskan siapa yang sedang di rawat di kamar President Suite? Nama pasiennya dirahasiakan atas perintahmu. Menteri Perdagangan akan memesan kamar tersebut untuk anaknya yang akan melahirkan," cerocos Kamila begitu berhadapan dengan Alezo.


Alezo membisu. Entah kenapa ia melihat Kamila seperti orang asing.


"Hey, jawab mama," tegur Kamila karena Alezo tak kunjung menjawab.


"Jemima," jawabnya. "Dan itu karena mama,"


***