
POV : Neil
"Well...ehm...jadi...kalian berpacaran?" Tanya Neil sambil menunjuk Alezo dan Jemima dan duduk di hadapannya saat ini.
"Exactly," jawab Alezo, sementara Jemima tersenyum menimpali.
Mereka kini berada di ruangan Neil di rumah sakit Global Medika. Alezo mengajak Jemima untuk bertemu Neil selagi mereka di sana karena tidak mudah untuk bertemu Neil karena jadwal mereka yang sama-sama sibuk.
Neil menghela nafas. Jemima idolanya kini menjadi pacar sahabatnya. Beruntung sekali si brengsek ini, pikir Neil. Ia ingin berteriak mengatakan ia patah hati namun rasanya pasti akan memalukan. Tetap tenang adalah jalan ninja bagi Neil.
"Apa aku orang pertama yang kalian beri tahu?"
"Tidak. Kau yang kedua. Orang pertama adalah manajerku," kali ini Jemima bersuara.
"Ah...ya..." tukas Neil. "Lalu kalian repot-repot mendatangiku ke rumah sakit untuk mengatakan hal ini?" Selidik Neil.
"Tentu tidak, bodoh. Asma ayahku kambuh dan sekarang sedang di rawat. Selagi ada di sini tidak ada salahnya aku ingin bertemu dengan dokter spesialis bedah jantung terbaik sahabatku ini,"
"Cih! Menggelikan," umpat Neil sambil berekspresi jijik yang mengundang tawa Jemima.
"Bagaimana keadaan ayahmu? Aku harus menjenguknya," tanya Neil. Ayah Alezo adalah konsulennya saat menempuh pendidikan spesialis jantung sehingga ia merasa wajib untuk menjenguk sang guru.
"Sudah lebih stabil. Kau bisa menjenguknya nanti,"
"Baiklah karena kalian sudah mengunjungiku, ayo minum kopi. Kopi cafe rumah sakit ini adalah yang terbaik," ajak Neil sambil membuka jas putih dan melepas stetoskop yang menggantung di lehernya.
Jemima dan Alezo pun berdiri dan berjalan mengikuti Neil. Baru beberapa langkah tiba-tiba Neil berhenti sehingga Jemima tak sengaja menabrak punggungnya. Neil lalu berbalik dan melipat kedua tangannya.
"Tunggu. Ada yang perlu aku pastikan," ucap Neil yang membuat dahi Jemima dan Alezo berkerut.
"Alezo adalah temanku, dan kau adalah pacarnya. Itu berarti....ehm...bisa dibilang saat ini kita berteman?" Tanya Neil pada Jemima dengan telunjuk yang bergantian menunjuk Jemima dan dirinya.
Meski tidak tahu maksud Neil, Jemima tetap mengangguk mengiyakan.
"Yesshh," tukas Neil sambil mengepalkan tangannya.
Alezo dan Jemima saling berpandangan heran.
"Aku akhirnya bukan sekedar penggemar, tetapi naik level menjadi temanmu," ucap Neil riang dengan senyum lebar. "Ah, aku harus mengunggah foto kita bersama di instagramku suatu hari. Orang-orang akan iri padaku!"
Alezo mendesis. Ia tahu Neil mengidolakan Jemima tapi tak menyangka Neil bersikap norak.
"Bagaimana kau bisa menjadi dokter spesialis dengan otakmu itu?" Ketus Alezo yang ditimpali tawa renyah Jemima yang terhibur dengan interaksi duo sahabat itu.
Mereka bertiga lalu berjalan menuju cafe Global Medika yang lebih seperti cafe estetik. Beruntung saat hari kerja suasana cafe sangat sepi sehingga Jemima dan Alezo dapat leluasa membuka masker mereka tanpa khawatir ada yang akan mengambil foto diam-diam.
Jemima bertepuk tangan kecil ketika es kopi susu pesanannya datang. Ia tidak sabar ingin segera meminumnya karena hari ini ia belum bertemu kopi.
"Apa praktekmu sudah selesai hari ini?" Tanya Alezo saat mereka mulai makan.
"Sudah. Hari ini giliranku jaga malam jadi akau akan di sini sampai besok pagi," jawab Neil lalu menyuapkan sesendok nasi.
"By the way. Berarti kalian akan backstreet?" Neil balik bertanya.
"Begitulah. Aku dan Jemima tidak ingin membuat kehebohan. Berita tentang kami akhir-akhir ini sedang ramai. Aku tidak mau itu semakin berlarut jika orang-orang tahu kami berkencan," jawab Alezo.
Neil mengangguk meski dalam hati ia prihatin dengan kehidupan artis yang dikendalikan agensi bahkan untuk hubungan percintaan.
"Aku berpikir akan sangat sulit bagi kalian untuk dapat leluasa bertemu,"
Jemima tersenyum. "Resiko. Mau tidak mau kami harus menghadapinya,"
Neil baru saja akan membuka mulut untuk suapan ke tiga tiramisu cakenya ketika mendengar pengumuman code blue.
Code blue code blue.
Departemen Kardiotoraks
Ruangan ICU
Code blue code blue.
Departemen Kardiotoraks
Ruangan ICU
Neil sontak meletakkan sendoknya lalu berdiri dan langsung pergi, meninggalkan Alezo dan Jemima yang ternganga melihatnya melompat dan berlari secepat kilat.
"Apa dia memakai roket di sepatunya?" Tanya Jemima takjub.
***
Neil keluar ruangan ICU dengan perasaan lega. Pasiennya yang ia operasi tadi siang tiba-tiba kritis. Setengah mati ia berusaha menyelamatkan pasien yang masih anak-anak itu. Untungnya Tuhan masih mendampingi Neil sehingga melalui izinNya tangan Neil berhasil mengembalikan detak jantung sang pasien. Jangan tanya betapa ketakutannya Neil. Baru kemarin malam pasiennya meninggal di meja operasi, dan ia akan gila jika harus kembali kehilangan pasiennya. Ia sudah hampir sepuluh tahun menjadi dokter namun selalu tidak kuat menghadapi kematian pasien. Bahkan dulu Neil selalu menangis tersedu-sedu sendirian ketika ada pasien meninggal saat awal bekerja di rumah sakit sebagai dokter magang. Beruntung saat ini ia sudah mulai bisa mengendalikan diri. Ia tetap terpukul namun bisa menerima bahwa kepergian pasien sudah kehendak Tuhan bukan karena kesalahannya. Yang terpenting ia sudah berusaha sekuat tenaga mengerahkan seluruh kemampuan dan ilmunya.
Neil membuka kaleng soda yang ia ambil dari kulkas ruangannya. Ia lalu menenggaknya cepat untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Ah..." desahnya lega. Neil menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah ke sofa. Ia berpikir untuk memesan tukang pijat online saat pulang ke rumah besok.
Neil baru akan memejamkan matanya ketika ia teringat sesatu. Ia sontak bangkit dan mencari ponselnya untuk menhubungi Alezo yang tadi ia tinggalkan di cafe tanpa pamit.
"Bro, kau sudah pulang? Sorry tadi aku meninggalkanmu dan Jemima. Pasienku kritis," jelas Neil meminta maaf.
"It's OK. Aku mengerti. Larimu kencang sekali by the way," canda Alezo.
Neil tertawa. "Aku pun kagum dengan kecepatan lariku,"
Setelah obrolan singkat Neil lalu memutus sambungan. Ia kembali menenggak minuman soda dan menghabiskan isinya. Neil berencana akan untuk menjenguk Reno, ayah Alezo ketika ia mendengar pintunya diketuk.
"Masuk," ucap Neil.
Tak lama kemudian sosok yang mengetuk pintu muncul di hadapannya.
"Selamat malam, Dok. Maaf menggangu," ucap Dira, perawat departemen kardiotoraks.
"Oh, it's OK. Ada apa, Ners?"
"Hm...ada yang ingin bertemu dengan Dokter," jawab Dira kikuk.
Neil mengernyitkan dahi. Ia merasa tidak memiliki janji dengan siapapun untuk bertemu. Lagipula ia jarang mengajak siapapun untuk bertemu di rumah sakit.
Kebingungan Neil berganti dengan keterkejutan saat sosok perempuan muncul di samping Dira. Sang perawat pun pamit setelah mengantarkan tamu tersebut.
Neil masih mematung berhadapan dengan Zura yang berdiri di hadapannya. Perempuan cantik bertubuh semampai itu pun sama, membisu meski matanya berani beradu dengan milik Neil.
"Duduklah," ujar Neil mempersilahkan Sandara.
Gadis itu menurut. Ia mengambil tempat di sofa bersebrangan dengan Neil. Dress di atas lutut yang ia kenakan membuat pahanya sedikit terekspos, sehingga ia lalu menggunakan tas untuk menutupinya.
"Aku tau kau pasti terkejut dengan kedatanganku," ujar Zura memecah keheningan.
Tentu saja, pekik Neil dalam hati. Siapa yang tidak terkejut jika mantan kekasih di masa lalu yang sudah tidak berkomunikasi sama sekali bertahun-tahun tiba-tiba muncul? Apalagi saat perpisahan itu terjadi Neil-lah pihak yang paling terluka nyaris membuatnya gila.
Neil mengangguk. "Begitulah," jawabnya. Ia lalu membetulkan letak kacamatanya.
Neil susah payah menahan jantungnya yang berdebar tak karuan. Pesona kecantikan Zura dari dulu tidak pernah gagal membiusnya. Tatapan mata Zura pun tak berubah. Masih terasa begitu teduh sehingga membuat Neil takut akan tenggelam di dalamnya. Bibir ranum Zura pun selalu mengundang matanya untuk melirik dan berhayal untuk mengecupnya.
"Lalu bagaimana...ehm...maksudku kenapa kau ada di rumah sakit?" Tanya Neil mencoba berani beradu pandang dengan Zura.
"Hmm...papaku di rawat di sini. Aku melihat namamu di daftar nama dokter spesialis jantung. Awalnya aku mengira itu hanya nama yang sama denganmu. Ternyata...itu kau," jelas Zura. Suaranya yang bergetar menandakan ia pun gugup.
Neil terdiam. Salim, ayah Zura ternyata sedang di rawat. Pikirannya menerawang membayangkan bagaimana dulu Salim memperlakukannya saat menjalin hubungan dengan Zura. Hinaan, cacian dan umpatan Salim masih terekam jelas di benaknya. Luka karena sakit hati itu pun masih terasa perih jika disentuh. Neil bersikeras mencoba bertahan dengan Zura meski tanpa restu Salim yang lebih ingin anak gadisnya berhubungan dengan pengusaha asal Dubai, anak kerabatnya. Sampai suatu hari ternyata Zura justru memilih memutuskan hubungan mereka.
"Mungkin Papa benar. Kau bukan yang terbaik untukku. Buktinya kau hampir tidak memiliki waktu bersamaku. Bahkan tidak ada ucapan selamat ulang tahun dan kejutan untukku!" Cerca Zura kala saat itu.
Sementara Neil yang masih menempuh pendidikan dokter spesialis tidak berbohong dengan kondisinya yang sibuk. Ia harus belajar, bimbingan dan harus sering ikut operasi bersama dokter konsulen. Untuk diri sendiripun Neil kesusahan mengatur waktunya. Namun ia selalu berusaha mencuri waktu untuk sekedar makan siang atau makan malam dengan Zura. Sialnya saat ulang tahun Zura, bertepatan saat ia jaga malam dan ada pasien darurat sehingga ia harus mengoperasi. Neil kira ia sudah mengirim ucapan yang sudah ia ketik di aplikasi pesan, ternyata ia tidak sempat menekan tombol 'send' karena ia harus berlari ke ruang operasi.
Neil mememohon agar Zura tak meninggalkannya setelah ia menjelaskan apa yang ia alami. Sayangnya Zura bersikukuh tak bisa lagi melanjutkan hubungan mereka. Gadis itu melenggang meninggalkan Neil yang terlihat lusuh dengan scrub dan nametag yang tergantung di lehernya tanpa mengetahui bahwa Neil baru saja dimarahi habis-habisan oleh dokter konsulen pembimbingnya. Sepeninggal Zura, Neil hanya bisa mematung di lorong rumah sakit yang sepi tempat mereka bertemu. Jika mengabaikan akal sehat Neil sangat ingin menangis dan berteriak. Zura satu-satunya yang ia harapkan menjadi penyemangat kini memilih pergi, sehingga ia kembali sendiri mengejar mimpi yang tak mudah, menjadi dokter spesialis jantung.
"Apa kau sehat-sehat saja?" Tanya Zura yang menyadarkan Neil dari lamunannya.
"Oh...ya. As you see. Aku selalu sehat. Semoga kau pun begitu," jawab Neil berusaha memberikan senyum.
"Kau terlihat berbeda," cetus Zura lagi. Ia seolah terpana dengan sosok Neil yang jauh berbeda dari sebelum mereka berpisah.
Tentu saja. Neil yang dulu bertubuh kurus dan selalu terlihat kelelahan kini menjelma menjadi pria bertubuh kekar dengan wibawa yang mempesona. Auranya sebagai seorang dokter begitu terasa, menenangkan dan memberi harapan.
"People changed," balas Neil menghela nafas, tidak sadar bahwa Zura memperhatikan otot bisepnya yang tercetak jelas dibalik lengan bajunya.
"Ah, ya..." tukas Zura tergagap. "Apa kau sibuk? Aku...aku ingin makan malam. Bisa kah kau menemaniku makan di sini?"
Neil terdiam. Ia menatap mata Zura seolah meminta penjelasan maksud kedatangannya. Lalu kini sang mantan ingin mereka makan bersama. Apa menurut Zura ia tidak pernah terluka sehingga ia datang seolah mereka adalah teman lama yang baik-baik saja?
"Aku akan malam di luar dengan rekanku. Jika kau mau makan, makanan di cafe rumah sakit ini sangat enak. You should try," jawab Neil sambil berdiri, mengisyaratkan ia akan pergi.
"Setidaknya antarkan aku ke sana," pinta Zura yang turut berdiri. Matanya menatap Neil seolah memohon.
"Baiklah. Come on," ajak Neil yang berjalan lebih dulu, membiarkan Zura mengikutinya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Neil mengutuk lift yang tidak seperti biasa sangat sepi. Hanya ada dia dan Zura di dalam lift sehingga suasana terasa begitu canggung. Jarak cafe yang hanya lima lantai terasa lama bagi Alezo.
"Apa kau sudah menikah?" Tiba-tiba Zura bertanya memecah keheningan.
Neil tercekat. Ia sama sekali tidak bertanya tentang hal pribadi pada Zura namun gadis itu justru melakukannya. Neil memilih tak menjawab, membiarkan Zura bertanya-tanya sendiri.
"Neil...." ulang Zura yang ternyata menantikan jawabannya.
Neil menoleh ke arah Zura yang berdiri di belakangnya.
"Aku tidak akan menikah," cetus Neil digin. Ia lalu kembali mengalihkan pandangannya pada pintu lift.
Tak menunggu lama Neil segera keluar begitu pintu lift terbuka dengan Zura yang mengikuti langkahnya.
"Cafe di sebelah sana," ucap Neil sambil menunjuk ke arah kiri dengan tangan kanannya
Ia kemudian berlalu tanpa memberi kesempatan pada Zura untuk mengucapkan terimakasih. Neil terus melangkah menuju pintu keluar dengan pikiran tak menentu. Ia setengah mati melupakan Zura dan begitu keras pada dirinya selama pendidikan spesialis. Dan kini saat ia bangkit dan berhasil, Zura seolah diantarkan semesta untuk kembali di hadapannya.
"****!"