Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 26



POV : Jemima


Ya sebentar!" Sahut Jemima berteriak saat bel apartemennya berbunyi berkali-kali.


Ia lalu mengintip dari door view dan mendapati Najla berdiri sambil berdiri berkacak pinggang. Jemima lalu membuka pintu dan mempersilahkan sahabatnya itu masuk.


"Kenapa tidak memberitahu kau akan ke mari?" Tanya Jemima pada Najla yang langsung menyelonong masuk dan duduk di sofa.


"Aku kesal padamu," tukas Najla dengan wajah cemberut.


"Kesal? Apa aku ada salah padamu?" Tanya Jemima panik. Otaknya seketika berpikir keras mengira-ngira apa yang telah ia lakukan pada Najla.


"Apa kau ada rahasia?" Selidik Najla kali ini sambil melipat tangannya di dada seolah menginterogasi Jemima.


"Rahasia...rahasia apa maksudmu? Sepertinya kau sudah tau semuanya bahkan rahasia terburukku,"


Najla memutar kedua bola matanya. Ia lalu menangkup pipi Jemima dengan kedua tangannya.


"Kau berkencan dengan Alezo, bukan?" Tanya Najla dengan wajah smirk.


Jemima melotot. Ia spontan menarik wajahnya dari tangan Najla dan berteriak.


"Aaaaa!"


"Kenapa merahasiakannya dariku?! Apa aku orang lain bagimu, hah? Jawab, jawab, jawab!" Cecar Najla sambil mengacak-ngacak rambut Jemima tanpa ampun.


"Najla stop. Astaga hentikan!" Jemima membalas Najla dengan menggelitiknya.


Sungguh Jemima dan Najla persis seperti anak PAUD yang sedang bertengkar. Apalagi teriakan mereka yang cempreng, jauh berbeda dengam suara mereka saat bernyanyi.


"Stop....stop...aku bisa mati!" Pekik Najla yang tidak tahan lagi menaham geli.


Mereka lalu berhenti saling menyerang lalu kembali duduk sambil merapikan rambut masing-masing.


"Katakan padaku. Kau berkencan dengan Alezo, bukan?"


Jemima mengangguk. "Aku bukan tidak ingin memberitahumu. Hanya belum sempat," Jemima beralasan.


"Ssshh menyebalkan," desis Najla sambil beranjak dan berjalan menuju kulkas lalu meraih sekaleng minuman soda.


"Tunggu, darimana kau mengetahuinya? Hanya Tita yang baru kuberi tahu," tanya Jemima curiga membuat Najla yang sedang menenggak minumannya tersedak.


Najla memutar otaknya untuk mencari alasan darimana ia mengetahui kabar Jemima berkencan. Ia tidak mungkin mengatakan Neil yang memberitahu karena teman barunya itu memohon agar tidak menyeret namanya.


"Ehm...itu...sebenarnya aku hanya menebak dan kau mengakuinya," tukas Najla berlagak santai.


"Hey aku ingin ke kamar mandi," lanjutnya berpura-pura karena ingin menghindari Jemima. Dalam hati ia pun mengutuk dirinya sendiri yang tidak memikirkan alasan sebelum melabrak Jemima.


Najla baru saja akan membuka pintu kamar mandi ketika Jemima meraih bahunya sehingga membuatnya seketika berbalik.


"Katakan padaku. Siapa yang memberitahumu atau aku akan...." ucap Jemima sengaja menggantung kalimatnya sambil membentuk angka dua dengan jari dan mengerakkannya sebagai ancaman ia akan menggeletik Najla.


"Tidaaaak!" Pekik Najla ketakutan lalu secepat kilat berlari.


Sayangnya Jemima dengan mudah menangkap Najla dan kembali menggelitik pinggang sahabatnya itu.


"Baiklah baiklah. Neil yang memberitahuku. Ampuun!" Pekik Najla menyerah.


Jemima lalu melepaskan tangannya saat mendengar jawaban Najla. "Neil? Neil sahabat Alezo yang seorang dokter?"


Najla menggangguk. "Dia tidak sengaja memberitahuku,"


"Bagaimana kalian saling mengenal? Lalu kenapa bisa membicarakan aku dan Alezo?" Jemima memberondong Najla dengan pertanyaan.


"Dia tetanggaku di apartemen baru. Kami berteman dan dia tanpa sengaja keceplosan karena melihat foto kita berdua di apartemenku," jelas Najla.


Jemima mengganguk. Sungguh dunia begitu sempit, pikirnya. Bagaimana bisa kebetulan sekali sahabat Alezo bertetangga dengan Najla sahabatnya.


"Tunggu. Apa kalian sedekat itu hingga Neil masuk ke apartemenmu?" Selidik Jemima bagaikan detektif.


Najla menelan ludah. Ia tidak mungkin menceritakan kejadian memalukan dimana ia pingsan dua kali dan ditolong oleh Neil.


"Itu karena...hmm..." Najla tidak punya ide untuk melanjutkan ucapannya.


Ponsel Jemima tiba-tiba berbunyi sehingga membuat Najla terselamatkan. Tak menunggu lama Jemima segera menerima telepon dari Arfan, produsernya.


"Baiklah, aku kesana sekarang," tukas Jemima saat Arfan memintanya untuk datang ke studio rekaman Magnolia.


"Apa kau membawa mobil? Bisakah kau mengantarku ke Magnolia?" Tanya Jemima pada Najla.


"Oh, ya. Tentu bisa! Aku akan mengantarmu," tukas Najla cepat karena ia lega Jemima sudah melupakan pertanyaannya.


***


"Arfan kau pasti bercanda. Stop it," ujar Jemima pada Arfan, produsernya saat mereka berada di studio rekaman.


Jemima kira Arfan meneleponnya untuk datang ke studio rekaman untuk merekam lagu yang akan dimasukkan ke album barunya yang akan di rilis empat bulan lagi. Namun ternyata Arfan mengatakan bahwa peluncuruan albumnya ditunda, yang sayangnya sang produser tidak dapat memberikan waktu yang pasti.


Arfah menghela nafas lalu mengusap keningnya. "Entah bagaimana aku bisa menjelaskannya padamu," ujar pria yang selalu mengenakan hoodie dan masker itu. Bahkan Jemima sendiri jarang melihat wajahnya.


"Arfan, album ini sudah hampir selesai kita kerjakan. Penggemarku juga sudah sangat menantikan karna terakhir aku mengeluarkan album satu tahun lebih yang lalu. Itu akan sangat mengecewakan mereka dan tentu melukai perasaanku!" Cecar Jemima gusar.


"Apa yang bisa aku lakukan jika itu sudah insruksi Kalina," tukas Arfan yang membuat Jemima tersentak.


"What?! Kalina yang minta untuk menunda peluncuran albumku?!"


Arfan menggangguk lemah. Sungguh ia pun merasa berat atas perintah Kalina. Ia paham betul Jemima adalah seorang diva yang tentu harus produktif menciptakan karya agar terus melekat di hati penggemarnnya. Andai Jemima tau, Arfan pun sebenarnya sudah berdebat sengit dengan Kalina namun ia kembali tak bisa berbuat apa-apa karena sang CEO menggunakan kuasanya.


"Katakan padaku alasannya," pinta Jemima menahan debur jantungnya.


"Blossom," jawab Arfan.


Jemima mengernyitkan dahi, meminta penjelasan lebih.


"Kalina memintaku untuk fokus menggarap Blossom. Debut mereka sukses besar sehingga popularitas mereka harus terus di maintain dengan mengeluarkan karya untuk promosi,"


Jemima tertawa sinis. Konyol, pekiknya dalam hati.


"Lalu apa peluncuran albumku mengganggu mereka? Lagi pula mereka sebuah girl group, dan aku solois. Tidak akan bersinggungan sama sekali!" Protes Jemima sengit.


"Kalina khawatir peluncuran albummu akan meredupkan promosi Blossom karena orang-orang akan lebih fokus padamu. Kau tahu sendiri agensi lain bahkan menunda comeback artis-artis mereka saat kau merilis lagu," jelas Arfan panjang lebar.


"Dan Kalina tidak ingin Blossom akan tenggelam karenamu,"


Kalina menelan ludah. Kali ini ia merasakan telapak tangannya mendadak dingin sangking jantungnya berdetak tak karuan menahan marah dan kecewa.


"Jadi aku disingkirkan demi menaikan nama Blossom? What a ****!" Umpat Jemima dengan air mata berlinang.


"Dan kau tidak memperjuangkanku sedikitpun, hah? Bukankah kau berjanji akan terus mendukungku hingga kita berada di puncak bersama-sama?"


Arfan melepas masker dan hoodienya, hal yang sangat jarang ia lakukan. Produser pencipta lagu-lagu hits para artis Magnolia berusia awal kelapa empat itu mengusap wajahnya gusar. Jemima menyadari wajah Arfan tampak pias.


"Kau kira aku dengan senang hati melalukannya?" Balas Arfan dengan tatapan nanar.


"Kau kira aku tidak tertekan dengan perintah Kalina? Produser mana yang tidak frustasi menunda karya yang sudah ia siapkan sejak lama?"


Jemima terdiam. Ia tahu Arfan tidak mungkin sengaja melakukannya. Semua ulah Kalina. Ia tidak menyangka Kalina betul-betul menjegal langkahnya sejauh ini. Apa kebenciannya pada Jemima sebegitu dalam? Faktanya Jemima tak melakukan apapun yang merugikannnya.


"Aku harus bicara pada Kalina," cetus Jemima seraya beranjak dari sofa namun Arfan menahan lengannya..


"Jangan lakukan hal bodoh," larang Arfan sungguh-sungguh.


"Dia keterlaluan, Arfan! Dia boleh tidak menyukaiku namun jangan menghalangi karirku! Dia membatalkan pekerjaanku di luar negeri dan sekarang menunda albumku. Lalu aku hanya diam saja?"


Arfan berdiri lalu meraih kedua bahu Jemima yang sudah ia anggap sebagai adik kecilnya itu.


"Bersabarlah. Kalina mampu melakukan apa saja dengan kuasanya. Kau tidak ingin dia lebih menggila lagi padamu, bukan?"


Jemima mendengus kesal. Arfan benar. Kalina bisa semakin nekat jika Jemima memberontak. Bagaimanapun Jemima adalah bawahan yang harus tunduk pada atasan.


Jemima menghapus air matanya yang terus mengalir karena rasa kesal yang membuncah. Ia lalu keluar studio dengan perasaan hancur. Sialnya ia berpapasan dengan para anggota Blossom yang berlawanan arah dengannya. Tanpa ada sapaan hangat, keempat juniornya itu hanya memandang sekilas pada Jemima seolah tak mengenalnya.


"Damn you bitches," gumam Jemima  mengumpat.


Ia lalu mempercepat langkahnya menuju lobby setelah menghubungi supirnya yang sudah ia minta untuk menyusul ketika ia tiba di Magnolia bersama Najla.


Di perjalanan Jemima tidak mampu lagi menahan tangisnya. Ia menangis tersedu-sedu dengan perlakuan tidak adil yang ia terima dari agensinya sendiri. Kalina begitu nyata membenci Jemima dan tanpa ragu mencoba merecoki karirnya. Yang paling menyakitkan adalah ia tak mampu berbuat apa-apa selain menerima. Jemima memiliki firasat buruk akan karirnya ke depan. Kontraknya dengan Magnolia masih tiga tahun lagi. Jemima hanya bisa berharap Kalina tak akan menjabat lama atau ia akan terus tertekan.


"Ibra...andai kau masih ada," gumam Jemima gundah


***