Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 23



POV : Jemima


Pendar sinarmu menyilaukan mataku


Menghentikanku menggapai ragamu


Bahkan bayanganmu enggan ku sentuh


Memaksaku pergi dengan hati yang tak utuh


Kau tak tergapai olehku


Meski jiwaku meronta meminta kau ada


Namun bersanding denganmu bukan takdirku


Jalanmu jalanku takkan pernah sama


Sepenggal lirik lagu miliknya terngiang-ngiang di telinga Jemima. Entah kenapa Tak Tergapai, judul lagu yang ia rilis dua tahun lalu seperti mewakili perasaannya saat ini. Jemima melangkah gontai setelah turun dari mobil Alezo tadi. Ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Sekuat tenaga ia menahan air matanya yang sudah mendesak keluar agar Alezo berpikir dia baik-baik saja.


"I'm OK. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan," ucap Jemima saat Alezo menahannya untuk turun dari mobil karena kekasihnya itu merasa khawatir ia akan bersedih.


Nyatanya tidak. Jemima tidak baik-baik saja. Ada yang mengganjal perasaannya dan begitu menyiksa.


Jemima menyalakan shower setelah membuka seluruh pakaiannya. Perlahan pancuran air membasahi kepala dan tubuhnya. Rasa hangat yang menjalar terasa menenangkan walau tak menghapus kesedihannya yang membuncah. Jemima meraih sabun lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh. Ia menggosok kencang kulitnya seolah ingin membersihkan seluruh kotoran hingga terasa agak perih. Begitupun saat ia menuangkan sampo terlalu banyak untuk membasuh rambutnya. Jemima ingin busa yang melimpah mengenyahkan apapun yang menempel di kepalanya.


Jemima meraih bath robe setelah membilas tubuhnya yang penuh busa. Ia keluar dari kamar mandi dan duduk di meja rias. Jejeran produk perawatan kulit dengan harga selangit tersusun rapi seperti menanti giliran digunakan oleh Jemima. Biasanya Jemima selalu antusias mengoleskan berbagai serum itu karena ia sangat peduli akan kulit wajahnya. Namun kali ini ia seperti tak berselera.


Jemima melepaskan handuk yang melilit kepalanya. Ia lalu menyisir rambut panjangnya yang basah sambil terus menatap cermin.


Pikirannya melayang. Kehangatan keluarga Alezo menyambutnya bagaikan oase di tengah tandusnya jiwa Jemima yang sebatang kara. Alezo memiliki keluarga yang sempurna. Jemima terpana memperhatikan bagaimana Kamila dan Reno terlihat begitu saling mencintai meski mereka sudah menginjak usia senja. Kamila benar-benar melayani Reno saat mereka makan malam, dan Reno dengan suka rela memberikan potongan jamur truffle miliknya karena Kamila menyukainya. Sungguh pasangan yang penuh cinta. Dan yang semakin membuat Jemima tak berani bersuara, ternyata ayah Alezo itu adalah pemilik Global Medika, rumah sakit terbesar dan terlengkap dengan standar internasional. Begitupun dengan Albar, adik Alezo pun begitu mengagumkan dengan karirnya sebagai arsitek muda namum tetap sopan pada Jemima sebagai kekasih kakaknya. Alezo dan Albar tumbuh menjadi seorang gentleman sudah pasti adalah hasil didikan Kamila dan Reno.


Jemima menghela nafas dan memejamkan mata. Perasaanya memang sudah tidak menentu sejak Alezo mengajak ke rumahnya untuk bertemu Kamila dan Reno. Ia sudah mengira pasti akan ada pembahasan tentang keluarganya. Ternyata benar, dan Jemima tidak dapat mengatakan apa-apa selain mengungkapkan yang sebenarnya. Ia yatim piatu. Tidak ada sanak keluarga yang menjadi walinya. Di dunia Jemima hanya ada dirinya. Ia menjadi bintang di panggung mewah menghibur penggemar yang mencintainya, padahal ia sendiri tak punya tempat bersandar.


Jemima lalu melepas bath robe dan memakai piyama. Ia merebahkan tubuhnya di tempat ridur menatap langit-langit kamarnya. Tak terasa air mata mulai mengalir dan membasahi bantalnya. Ia merasa terlalu rendah untuk bersama Alezo yang terlalu sempurna. Kekasihnya itu berasal dari keluarga utuh bergelimang harta dan dipenuhi kasih sayang. Ia bahkan dapat merasakan percikan cinta mereka. Lalu apa ia pantas di antara mereka dengan cerita keluarganya yang bagaikan mimpi buruk bagi semua orang?


***


Lima belas tahun yang lalu...


Jemima mengendap-ngendap masuk ke kamar ibunya dengan membawa sebuah kue blackforest. Hari ini Dinar, ibunya berulang tahun dan Jemima serta ayahnya, Edo, ingin memberikan kejutan. Ia juga sudah menyiapkan balon dan hiasan ulang tahun untuk membuat dekorasi. Edo sengaja mengajak Dinar ke luar agar Jemima bisa menghias kamar.


"Ah aku butuh gunting," ujar Jemima sambil berkeliling kamar berusaha mencari gunting namun tetap tidak ketemu.


Ia menggaruk kepalanya bingung. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah kotak merah yang terletak di bawah kolong tempat tidur.


"Mungkin ibu menyimpannya disana," tukas Jemima yakin.


Ia lalu meraih kotak tersebut dan membukanya. Sayang ternyata isinya hanya barang-barang usang. Jemima tak menemukan gunting yang ia cari. Tiba-tiba tangannya tanpa sengaka menyentuh sebuah foto. Dahinya mengernyit melihat sosok pria di dalam potret tersebut. Ini bukan ayah, batin Jemima. Ia lalu membalik foto tersebut dan mendapati tulisan yang membuatnya bagai tersamber petir.


Selamanya cinta ini untukmu


Kau takkan pernah terganti


Ragaku bersamanya


Namun hatiku sepenuhnya untukmu


Cintaku tak bisa kuberikan padanya


Sayangku, apa suatu saat kau akan kembali padaku?


Mata Jemima terasa panas membaca tulisan yang ia tau betul itu adalah milik Dinar. Jantungnya bergemuruh mengetahui fakta ibunya mencintai pria yang bukan ayahnya. Rasa marah dan jijik seketika membakar tubuh Jemima. Bagaimana bisa ibu menyukai pria lain sementara Jemima tau betul sang ayah sangat mencintai ibunya. Lalu apa yang akan terjadi jika ayah melihat foto ini? Jemima meletakkan kembali foto tersebut ke tempat semula dan merapikannya seolah tak ada yang baru menyentuhnya. Dengan gontai ia terpaksa melanjutkan menghias kamar orangtuanya itu walau ia tak lagi bersemangat memberi kejutan pada ibunya.


Beberapa hari setelah itu Jemima menjaga jarak dengan ibunya. Entah kenapa ada sisi hatinya yang begitu terluka setiap teringat foto yang ia temukan. Ia pun iba pada Edo yang selalu berusaha membahagiakan Dinar dan dirinya. Lucunya, Dinar benar-benar terlihat bagaikan seorang istri bahagia yang mencintai suaminya, padahal Jemima tau itu hanya berpura-pura.


"Kenapa kau tidak menghabiskan nasi gorengmu? Apa tidak enak?" Tanya Dinar pada Jemima yang menyudahi sarapannya padahal makanannya masih tersisa banyak.


Jemima menggeleng. "Aku sudah kenyang, Bu," dustanya. Padahal ia hanya merasa canggung berlama-lama duduk di meja makan bersama Dinar.


"Kalau begitu bawalah roti dan susu. Kau akan lapar di tengah-tengah pelajaran. Tunggulah ibu siapkan," ujar Dinar lalu menghilang ke dapur.


Tak lama kemudian Dinar kembali dengan kotak bekal dan satu botol susu coklat dan dan meletakkannya ke dalam tas Jemima.


"Hati-hati di jalan, anakku sayang. Hari ini ibu akan masak ayam goreng kesukaanmu," ucap Dinar lalu mengecup kedua pipi Jemima.


Biasanya Jemima akan melompat kegirangan jika Dinar memasak ayam goreng, namun kali ini ia hanya tersenyum simpul. Entahlah. Dinar terasa asing di mata Jemima sejak fakta ibunya  mencintai pria lain itu ia ketahui.


***


Jemima pulang sekolah dengan berjalan kaki. Saat hampir sampai di rumahnya ia mendengar keributan. Suara teriakan yang ia yakini itu milik Edo terdengar hingga ke luar. Jemima kemudian berlari menuju rumahnya. Ia hampir terkena lemparan gelas kaleng yang dilempar Edo saat membuka pintu.


"Ibu!" Pekik Jemima panik saat melihat Dinar terduduk di sudut ruangan dengan pipi memar dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Ayah!! Ayah jangan pukul Ibu. Ayah! Berhenti! Ayah!!" Jemima meraung-meraung sambil memeluk kaki Edo yang gelap mata. Ia tidak tahan melihat Dinar yang tak tersungkur tak berdaya.


Kilatan mata Edo yang terbakar emosi terlihat begitu menakutkan bagi Jemima ketika ayahnya itu menoleh ke arahnya. Tanpa terduka ia menendang Jemima yang memeluk kakinya sehingga gadis itu tersungkur dan kepalanya membentur tembok.


"Jemi..." lirih Dinar mencoba meraih anak perempuannya yang kesakitan.


"Dia pasti bukan anakku! Kau pasti sudah hamil lebih dulu dengan pria itu. Keparat kau beralasan persalinan mu prematur. Padahal memang dia bukan darah dagingku!" Suara Edo menggelegar begitu menakutkan. Ia bagai monster yang siap membunuh siapa saja.


Jemima bergidik. Otaknya masih sempat mencerna apa yang terjadi. Apa Edo mengetahui foto yang kemarin ia lihat? Seketika Jemima terkesiap. Ia teringat tak meletakkannya kembali ke bawah kolong kasur. Tentu saja kotak itu dengan mudah terlihat dan ditemukan Edo.


"Tidak...Jemima anakmu, Mas...Anak kita...Dia darah dagingmu..." Dinar tertatih mencoba menenangkan suaminya.


Buk!!!


Edo menendang perut Dinar setelah mendengar ucapan sang istri yang dianggapnya tidak masuk akal. Dinar seketika terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Ibu...ibu..." Jemima bergerak pelan mendekati Dinar yang sekarat lalu memeluknya


"Kau ingin aku percaya pada ucapanmu, hah?! Percaya bahwa Jemina anakku, hah?" Sentak Edo sambil mendorong kencang kepala Jemima.


Edo lalu pergi ke dapur meninggalkan anak dan istrinya yang kesakitan dan ketakutan. Ia kembali membawa balok kayu untuk menghajar Dinar yang dianggapnya wanita ******. Edo mengayunkan balok kayu tersebut dan menghantam lengan Dinar.


"Ayah!! Sudah, Ayah! Ibu bisa mati!" Jemima berteriak sambil berdiri dan merentangan tangannya menghadang Edo.


"Minggir kau, anak haram. Kau bukan anakku!" Edo menghempas tubuh Jemima dan kembali ingin menghajar Dinar.


Tepat saat balok kayu hampir mengenai Dinar, tiba-tiba terdengar teriakan orang-orang yang masuk ke rumah dan serta merta menghentikan aksi Edo. Ayahnya itu baru akan kabur ketika ia berhasil di ringkus oleh warga yang mendengar huru-hara yang terjadi. Jemima dan Dinar segera di bawa ke rumah sakit karena keadaan mereka yang mengkhawatirkan, terutama Dinar yang sudah tak sadarkan diri.


***


Jemima bersorak dalam hati ketika Dinar akhirnya membuka matanya. Sejak tiba di rumah sakit Jemima tak mau sedetikpun meninggalkan ibunya. Ia setia duduk di samping kasur Dinar dan menggenggam tangan ibunya itu. Jemima tidak bisa berhenti mengutuk dirinya yang teledor menyimpan kotak yang berisi rahasia Dinar. Ia lah penyebab ibunya menjadi seperti ini.


"Jemima..." ucap Dinar pelan dengan selang oksigen dan infus yang melingkarinya.


"Iya, Bu. Aku di sini," jawab Jemima pilu. Ia tidak kuat melihat kondisi Dinar.


"Bagaimana keadaanmu? Apa tubuhmu ada yang sakit?" Lirih Dinar.


Jemima menggeleng. "Saat ini keadaan ibu yang lebih penting,"


"Kemarilah, Nak..." ucap Dinar meminta Jemima mendekatinya.


Jemima lalu berpindah ke sisi kanan kepala Dinar. Sungguh hatinya sakit melihat mata ibunya yang lebam.


Dinar susah payah menggerakkan tangannya untuk meraih wajah Jemima. Ia lalu mengelus pelan wajah putri satu-satunya itu.


"Jemima...kau bukan anak haram. Kau anak ibu dan ayah. Edo ayah kandungmu, ibu menjamin itu. Kau tidak perlu memikirkannya...." ujar Dinar terbata.


Jemima menangis. Sungguh sekarang ia tidak memikirkan hal itu. Yang ia tau Dinar adalah ibu yang sangat menyayanginya. Ia tidak peduli siapapun ayahnya. Edo yang selama ini adalah sosok ayah yang penyayang telah berubah menjadi monster. Jemima takut, tak mau lagi bertemu Edo.


"Ibu istirahat, ya. Aku baik-baik saja. Ibu harus cepat sembuh," ucap Jemima mengelus punggung tangan Dinar dan mengecupnya.


"Kau jangan lupa makan," sahut Dinar kemudian tertidur.


***


Jemima terpaku menatap nisan bertuliskan nama Dinar. Rintik hujan yang mulai membasahi bumi tak membuat Jemima beranjak. Ia masih duduk bersimpuh dengan air matanya terus mengalir tanpa mempedulikan orang-orang yang mengusap punggung dan kepalanya. Jemima tak menyangka tadi malam adalah percakapan terakhirnya dengan Dinar sebelum sang ibu akhirnya menghembuskan nafas karena cedera kepalanya. Entah berapa kali Jemima pingsan saat diberitahu ibunya meninggal. Dunianya terasa runtuh dan ketakutan seketika menyergap. Bagaimana ia akan melanjutkan hidup tanpa ibunya? Siapa yang akan merawatnya, memasak dan menguncir rambutnya?


Jemima tiba-tiba berteriak di depan pusara sang Ibu. Ia menepuk kencang dadanya karena merasa menjadi penyebab ibunya meninggal. Andai ia tidak menemukan kotak rahasia ibu, andai dia menyimpannya ke tempat semula. Sungguh ia memilih menerima ibunya mencintai pria lain daripada harus meninggalkannya seperti ini. Tubuh Jemima ambruk memeluk tanah merah yang kini menjadi peristirahatan sang ibu. Jika bisa meminta ia pun ingin terkubur di sana.


***


Jemima menatap nanar rumahnya sebelum ia di bawa pergi oleh Danti, adik ibunya. Hatinya begitu hancur mengingat bagaimana sebelumnya rumah itu terasa hangat dan penuh kasih sayang. Namun semuanya tak lagi sama. Jemima masih mengingat jelas bagaimana Edo menganiaya Dinar dengan brutal di sana, yang tentu saja mengganggu mentalnya.


Di perjalanan, Jemima membuka buku harian milik Dinar yang ia temukan di tumpukan baju miliknya. Ia tertegun membaca tiap kalimat yang tertera di sana. Dadanya terasa sesak membaca curahan hati Dinar yang begitu memilukan.


Dua belas tahun berlalu sejak kau berpaling ke sahabatku. Tidak sedikitpun memori tentang kau terhapus dalam benakku. Cinta itu masih sama, sayang itu belum sirna meski pengkhianatanmu meninggalkan luka yang menganga. Aku kira mimpi kita berumah tangga dan tinggal di rumah mungil dengan halaman luas akan terwujud. Nyatanya kau merajut mimpi lain dengan sahabat yang kukenalkan padamu. Penyesalan terbesarku adalah mengenalkan kalian berdua. Kalian dua orang yang berharga dalam hidupku tega menjalin cerita.


Kini aku menyiksa diri menikahi pria yang tak kucintai sama sekali. Dia memberiku anak perempuan yang cantik. Itu mimpimu, bukan? Memiliki anak perempuan yang cantik sepertiku, katamu. Aku menyayangi anakku sepenuh jiwa, namun tidak dengan suamiku yang terpaksa ku terima lamarannya agar aku dapat melupakanmu. Nyatanya aku masih memikirkanmu, berharap kita kembali bersama, merajut mimpi yang terlanjur kusut..


Jemima menutup buku setelah membaca tulisan Dinar di halaman belakang itu. Ternyata pria itu adalah kekasih yang sangat Dinar cintai namun direnggut oleh sahabatnya sendiri. Jemima menghapus air matanya yang mulai mengalir tanpa mampu ia bendung. Ia mungkin masih kecil tapi ia paham arti pengkhianatan. Detik itu juga ia mengutuk sahabat dan mantan kekasih sang ibu, menyumpah agar hidup mereka menderita.


Belum empat puluh hari kepergian Dinar, Jemima harus menjadi yatim karena lapas tempat ayahnya di penjara terbakar. Seluruh tahanan tewas terpanggang, tak terkecuali Edo.


***


Jemima memijit kepalanya yang selalu terasa pusing jika ia mengingat ibu dan ayahnya. Ia meraih air putih di atas nakas dan menenggaknya habis. Jemima tercenung. Dengan kisah tragis kedua orangtuanya, Jemima merasa tidak pantas menjadi pendamping Alezo. Hubungan mereka sebaiknya memang sebatas rekan kerja agar tak melibatkan keluarga di sana, dan dapat berlindung di balik titelnya sebagai seorang diva yang sepadan dengan Alezo.


***