Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 12



POV : Jemima


Jemima turun dari mobil begitu tiba di rumah Najla. Tangannya menenteng box pizza dan kantong berisi beberapa botol beer. Ia menolak bantuan Gery yang ingin membantu membawakannya.


"Pulanglah. Aku menginap di sini," titah Jemima pada Gery yang berencana menunggunya pulang.


"Aku akan menginap di hotel sekitaran sini," tukas Gery dingin.


Jemima memutar matanya. Ia penasaran bayaran Gery karena pria itu seolah benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk Jemima.


"Tidak perlu...."


"Tidak ada yang menjamin keamananmu di sini,"


Baiklah, pikir Jemima. Ia mengangguk tanda setuju. Sejurus kemudian ia segera berlari menuju pintu masuk rumah Najla. Jemima tak sabar ingin menghabiskan malam bersama teman-temannya.


"Guuuyssss!!" Pekik Jemima begitu membuka pintu.


"Jemima! Ah akhirnya kau datang!" Najla segera menyambut Jemima diikuti Brie dan Calla.


"Oh Tuhan sudah berapa lama kita tidak bertemu?" Calla memeluk Jemima erat. Tidak lupa ia mengecup pipi Jemima.


"Aku tidak percaya untuk bisa bertemu denganmu aku harus menunggu lama," timpal Brie merengut. Ia sungguh merindukan Jemima.


"Bagaimana bisa kakakku ini terasa sangat jauh. Hiks..." ujar Calla tak kalah dramatis.


Mereka lalu berjalan bersama-sama menuju kamar Najla dengan riang. Sungguh momen mereka berempat sangat langka karena kesibukan masing-masing. Mereka berempat sama-sama artis Magnolia yang menjalani masa trainee bersama. Bahkan mereka berempat sempat dilatih sebagai girl group yang menjadi awal kedekatan mereka. Namun Magnolia akhirnya mendebutkan mereka masing-masing sebagai solois yang berbeda genre. Tentu saja keputusan Magnolia selalu tepat. Mereka berempat bersinar dan memiliki penggemar tersendiri. Jemima sang diva pop, Najla si princess hip-hop, lady jazz Brie, dan Calla sang soprano. Sungguh mereka berempat adalah berlian bagi Magnolia. Tentunya tidak ada iri pada Jemima meski lebih unggul dari mereka. Mereka saling menyayangi dan selalu menghormati Jemima yang lebih tua sebagai kakak mereka.


"Apa kalian sedang berdiet? Aku membawa tiga box pizza," ucap Jemima saat mereka sudah mengganti pakaian dengan piyama.


"Persetan dengan diet. Aku ingin makan banyak dan minum sebanyak mungkin!" Seru Brie yang langsung membuka box pizza dan mencomotnya.


"Malam ini kita adalah geng cantik. Lupakan sejenak tentang pekerjaan," timpal Najla tergelak.


Mereka pun larut dalam obrolan seru yang sudah lama tidak mereka lakukan karena belenggu pekerjaan. Rasanya begitu menyenangkan ketika mereka bisa menikmati waktu santai tanpa memikirkan tuntutan agensi yang begitu banyak aturan.


"Jadi kau sekarang dijaga bodyguard setelah kejadian itu?" Tanya Najla sambil membuka beer keduanya.


Jemima mengangguk. "Terasa berlebihan namun aku masih takut membayangkan jika terjadi sesuatu lagi,"


"Tidak berlebihan. Kau memang membutuhkannya demi keselamatanmu. You are a diva, Sister," tukas Calla yang memang paling muda di antara mereka.


"By the way. Your bodyguard is so fuckin damn hot," seru Calla. "Gery benar-benar definisi pria hot. Dia tipe idealku,"


Mereka tergelak mendengar ucapan Calla yang memang jarang naksir seorang pria. Ternyata tipe idealnya adalah pria berwajah blasteran Turki dengan tubuh tinggi kekar yang dipenuhi otot. Terang saja ia tidak merespon Teza, vokalis band tampan yang terang-terangan mendekatinya. Ia beralasan Magnolia tidak mengizinkannya berkencan, padahal sebenarnya karena tubuhnya yang tidak kekar.


"Karena dia keturunan Arab, pasti dia memiliki bulu dada yang lebat!" celetuk Brie yang mengundang gelak tawa.


"Hmm aku belum pernah melihatnya. Sepertinya ada," tukas Jemima. "Cal, are you OK with that bulu dada?"


"Oh I love that. That's the point,"


Mereka lalu menghujani Calla dengan bantal karena ucapan genitnya. Mereka lalu tertawa lepas sampai sakit perut.


"Anyway. Aku ingin bertanya ada Jemima," tiba-tiba Brie bertanya.


Jemima mengangkat alisnya sambil menenggak kaleng beer yang kedua.


"Bagaimana rasanya berciuman dengan Alezo?"


Jemima tersedak. Ia terbatuk beberapa kali mendengar pertanyaan Brie.


"Ah, iya. Aku baru akan membahasnya. Aku berteriak saat kalian berpelukan dengan Alezo shirtless! Oh God dada Alezo begitu bidang dan otot lengannya seperti akan meledak!" Calla tidak kalah heboh.


Sementara Najla yang mengerti bahwa Jemima menyuikai Alezo tidak ikut bicara. Ia pura-pura menepuk-nepuk punggung Jemima yang masih terbatuk.


"Apa topik malam ini adalah membahas tubuh pria?" Tuding Jemima gemas.


"Tunggu. Kau pernah mengatakan kalau kau belum pernah berciuman, bukan? Berarti Alezo adalah ciuman pertamamu? Oh...waw!" Brie semakin menjadi menggoda Jemima


"Oh my God stop it. Aku terlalu malu membahasnya," elak Jemima yang tak menyadari pipinya memerah.


Efek beer yang mereka minum mulai terasa. Najla, Calla dan Brie mulai tidak fokus dengan ucapan mereka. Sementara Jemima merasa kepalanya agak berat. Ia lalu teringat ponselnya yang tidak ia sentuh sejak pertemuannya dengan Ibra tadi sore dan dilanjutkan meeting dengan sebuah brand di Magnolia. Dengan sedikit terhuyung Jemima mengambil tasnya dan mengambil ponsel. Matanya terbelalak karena ada banyak missed call dari Alezo. Ia merutuki kebodohan dirinya yang bisa-bisanya lupa bahwa ia berkencan dengan Alezo dan harus memberi pria itu kabar.


Jemima berjalan menuju kamar mandi untuk menghubungi Alezo sementara sahabat-sahabatnya telah tertidur pulas. Ia tidak ingin suaranya mengganggu mereka. Ah lebih tepatnya, Jemima tidak ingin mereka tahu bahwa ia dan Alezo berpacaran. Belum saatnya, pikir Jemima.


Hari menunjukkan pukul sebelas malam ketika ia menekan nomor Alezo. Tak lama kemudian Alezo menjawab panggilannya dengan suara seolah sedang tergesa.


"Jemima. Oh my God kemana kau seharian?" Cecar Alezo yang membuat Jemima terkejut. Ia bahkan belum menyapa.


"Aku...aku meeting seharian dan sekarang menginap di rumah Najla. Sorry..."


"Apa rumah Najla dekat dengan Global Medika?" tanya Alezo yang terdengar panik.


"Apa? Ya, dekat. Hanya sekitar sepuluh menit. Ada apa?" Jemima mulai berdebar.


Ia mendengar Alezo menghela nafas seolah mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan ucapannya.


"Dengar. Kau datang ke sini sekarang. Akan kuberi tahu setelah kau tiba. Pastikan kau bersama Gery,"


"Tapi...."


"Jemima, now,"


Jemima tidak menunggu lama setelah teleponnya dengan Alezo terputus.  Ia bergegas berganti pakaian dan menelepon Gery untuk menjemputnya. Untung pria itu tidak pulang ke rumah, pikirnya. Jemima meninggalkan kamar Najla dan sahabat-sahabatnya yang sudah tertidur pulas dan berjanji dalam hati untuk menelepon mereka setelah mengetahui apa yang terjadi. Jemima segera membuka pintu rumah dan terkesima ketika Gery sudah tiba. Tidak penting bertanya bagaimana bisa pria itu datang secepat kilat meski ia penasaran.


"Apa yang terjadi?" Tanya Gery penasaran karena Jemima terlihat begitu panik.


"Entahlah. Aku dihubungi untuk datang ke sana. Sepertinya sesuatu yang buruk. Oh Tuhan, apa itu...."


Kurang dari sepuluh menit Jemima telah sampai di Global Medika. Ia langsung menuju UGD sesuai intruksi Alezo. Jemima bernafas lega begitu menemukan Alezo yang sedang berdiri gusar.


"Alezo!" Panggil Jemima. "Apa yang terjadi?"


"Ibra kecelakaan," jawab Alezo. "Dan sekarang sedang kritis,"


Jemima terkesiap. Ia menutup mulutnya pertanda ia sangat terkejut. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah. Tidak, tidak mungkin. Ia baru bertemu Ibra tadi siang dalam keadaan baik-baik saja dan penuh haru kebahagiaan. Ibra, yang tadi ia panggil ayah kini dalam kondisi hidup dan mati.


"Ia menabrak truk di bahu jalan. Mobilnya hancur dan....dan dia terluka parah,"


Ucapan Alezo semakin membuat Jemima tak kuasa menahan tangisnya. Oh Tuhan, kenapa itu bisa terjadi begitu cepat? Apa yang membuat Ibra menabrak? Beribu pertanyaan bersarang di benak Jemima.


"Sekarang dimana Ibra? Bagaimana keadaannya? Oh Tuhan...Ibra..."


"Dia sekarang sedang di operasi. Neil yang bertugas di dalam. Ibra ternyata memiliki penyakit jantung dan sudah terpasang ring..."


Jemima terduduk lemas mendengar ucapan Alezo. Bagaimana bisa Ibra sang CEO yang terlihat sehat dan segar di usia lima puluh tahun itu ternyata memiliki penyakit jantung. Dan kini ia berjuang di meja operasi dan  para dokter bertarung dengan malaikat maut untuk menyelamatkan nyawanya karena kecelakaan dahsyat yang ia alami.


Alezo duduk di samping Jemima dan menenangkannya. Ia paham Jemima pasti terguncang karena gadis itu sempat bercerita bahwa Ibra sangat protektif padanya. Alezo memahami pasti ada sesuatu yang membuat Ibra begitu menjaga Jemima.


"Apa kau menyimpan nomor keluarganya?" tanya Alezo.


Jemima menggeleng. Ia tidak pernah mengenal keluarga Ibra kecuali mengetahui Ibra memiliki seorang istri.


"Aku akan menghubungi Daisy sekretarisnya," tukas Jemima.


Seperti dugaan Jemima, Daisy berteriak histeris saat ia memberi tahu kondisi Ibra. Daisy mengatakan akan segera ke rumah sakit dan mengabari istri Ibra.


Jemima tulus berdoa agar Ibra selamat. Percakapan mereka tadi siang terus terngiang di telinganya. Kenyataan  bahwa Ibra menganggapnya anak dan bermimpi Jemima memanggilnya ayah benar-benar membuat hatinya terenyuh. Kenapa Ibra tidak memberitahunya lebih awal sehingga Jemima tidak akan merasa bersalah karena pernah salah sangka.


Daisy dan istri Ibra datang bertepatan saat Neil keluar dari ruang operasi. Ini pertama kalinya ia bertemu Ivone, istri Ibra yang jarang terlihat. Sosok perempuan paruh baya sederhana dengan wajah ayu ini lah ternyata yang mendampingi Ibra dan kehilangan anak mereka.


"Bagaimana suami saya, Dokter?" Ivone lansung mencecar Neil yang terlihat pucat, pertanda ia telah bekerja keras.


Neil menarik nafas. "Bapak Ibra datang dalam kondisi terluka parah. Kepala dan dadanya nya terbentur keras sehingga menyebabkan pendarahan internal di area dada. Saya dan tim dokter berupaya menghentikan pendarahan namun..."


"Namun pasien tidak bertahan..." sambung Neil dengan suara tertahan.


Jemima terhenyak. Ia mencerna ucapan Neil. Pasien tidak bertahan, artinya Ibra meninggal? Ia terperanjat karena Ivone berteriak histeris dan Daisy berusaha menenangkannya.


"Table death?" Sayup-sayup Jemima mendengar suara Alezo bertanya pada Neil yang dijawab dengan anggukan kepala.


Jemima masih terpaku dan tubuhnya terasa membeku. Seketika ia tak dapat mendengar apapun. Tubuhnya bagai terlempar ke sebuah ruang hampa dan terasa melayang. Ia seperti dejavu. Sudah kesekian kalinya ia menghadapi kematian seseorang yang berarti dalam hidupnya. Kenapa terjadi lagi? Bagaimana kejadian ini bisa berulang? Apa ini kutukan? Jemima merasakan telinga berdengung kencang dan pandangannya mulai kabur. Ia masih dapat melihat wajah lezo yang mengguncang bahunya namun semakin lama semakin memudar. Jemima pun terjatuh tak sadarkan diri.


***


Jemima tersadar dan membuka matanya. Ia melihat sekeliling dan menyadari ia berbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang melingkari tangan kanannya. Otaknya masih berusaha mengingat apa yang terjadi. Ia lalu menghela nafas setelah menyadari alasan kenapa ia berada rumah sakit.


"Ibra...Ibra..." gumam Jemima menahan sesak di dadanya.


Ia berusaha duduk meski kepalanya terasa berat. Sejurus kemudian pintu terbuka dan sosok Alezo muncul dengan wajah khawatir.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Alezo.


"Bagaimana Ibra?"


Alezo terdiam. Tatapan mata Jemima cukup menjelaskan bahwa kekasihnya itu terguncang. Ia lalu menggenggam tangan Jemima untuk menenangkannya.


"Ibra akan dimakamkan pagi ini," jawab Alezo hati-hati.


Jemima seketika menangis. Ternyata Ibra benar-benar pergi. Ia masih berharap jika ucapan Neil salah. Namun itulah kenyataannya. Ibra meninggal dunia setelah megungkan perasaannya pada Jemima.


"Aku ingin ke pekaman," ucap Jemima.


"Baiklah. Kita akan pergi bersama. Aku akan memanggil suster untuk melepas infusmu,"


Jemima mengangguk. Entah bagaimana ia menguatkan diri di pemakaman Ibra, yang jelas ia harus datang.


"Aku akan mengantarmu ke pemakaman," ucap Alezo setelah mereka berada di lobby rumah sakit.


"Tidak. Aku akan pergi bersama Gery dan teman-temanku," tolak Jemima yang memang sudah menghubungi Najla, Brie dan Calla. Mereka bertiga sama terkejutnya bahkan Brie menangis paling kencang.


"Baiklah. Kita bertemu di sana,"


Jemima tak menjawab. Ia langsung masuk ke mobil begitu Gery datang. Jemima bahkan tak menoleh ke arah Alezo ketika mobilnya perlahan merangkak meninggalkan rumah sakit sangking perasaannya begitu kalut.


***


Televisi dan media hampir semuanya mengabarkan tentang kepergian Ibra Taruma sang CEO agensi terbesar Magnolia. Bahkan pemakaman Ibra diliput ratusan wartawan dan dihadiri banyak artis hingga para petinggi. Tentunya Jemima tak luput dari incaran wartawan yang ingin mewawancarainya.


"Mohon doakan Ibra,"


Hanya kalimat itu yang mampu ia lontarkan karena hatinya terlalu hancur untuk berbicara di depan kamera. Jemima memilih tinggal sejenak setelah orang-orang pergi meninggalkan makam. Ia duduk di samping Ivone yang masih tersedu mengusap nisan bertulisankan nama Ibra.


"Aku sungguh turut berduka," ucap Jemima pelan.


Ivone menoleh. Ia menatap nanar Jemima yang mengenakan kerudung hitam.


"Jemima....kau..."


"Ibra tidak berdusta ketika menceritakan bahwa kau bagaikan Rininta putri kami,"


Jemima tercekat. Bahkan ternyata Ibra menceritakannya pada Ivone.


"Aku sudah lama meminta Ibra untuk dipertemukan denganmu. Namun ia tidak mengizinkan karena takut akan reaksiku,"


Jemima hanya diam mendengarkan Ivone. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Katanya, cara kami menyayangimu adalah dengan mengantarkanmu mencapai impian agar kau bahagia. Aku rasa dia berhasil...namun kenapa ia harus pergi..."


Tangis Ivone kembali pecah. Jemima mengelus punggung Ivone lalu memeluknya berharap dapat menenangkan wanita itu. Ia merasa lega setidaknya sempat mewujudkan keinginan Ibra yang ingin dipanggil 'ayah' oleh Jemima.


"Semoga kau berbahagia disana dan bertemu putrimu yang kau rindukan, Ayah..." batin Jemima.