
Happy Sunday. Happy reading. Alhamdulillah aku sudah sembuh! Terimakasih kemarin yang doain. Jangan lupa like setelah selesai, ya. Means a lot for me. I love you all.
"Wah...apa ruang kerja CEO harus seluas ini?" Gumam Neil saat pertama kali masuk ke ruangan CEO.
Ia terpana memperhatikan interior ruangan yang didesain mewah dan elegan. Neil kemudian berjalan mendekati meja kerja dan di sana sudah terletak papan nama bertuliskan nama dan jabatannya.
Dr. Neil Samudra, Sp.BTKV
CEO
Neil mengelus papan nama itu dan tersenyum kecil. Dalam hati sebenarnya masih ada rasa ragu namun ia harus menyelamatkan dirinya dari luka patah hati. Ia akan menyibukkan diri hingga ia lupa akan bayangan Najla. Bahkan baru saja terlintas di benaknya ia akan pindah ke apartemen yang lebih dekat dari Global Medika, agar tak ada kemungkinan lagi ia akan bertemu Najla.
"Aku harus mengabari Maura," ucap Neil sumringah.
Maura, adiknya pasti akan terkejut jika mengetahui kini ia menjabat sebagai CEO. Neil yakin Maura akan menangis tersedu-sedu karena terharu, seperti saat ia menjalani sumpah dokter dulu.
Neil baru saja akan menekan nomor ponsel Maura ketika pintuny di ketuk. Ia pun lalu meletakkan ponselnya di meja.
"Masuk,"
Sejurus kemudian seorang gadis muda berpakaian rapi masuk sambil membawa beberapa berkas.
"Siang, Dokter Neil. Saya Friska, sekretaris yang akan mendampingi Dokter," ucap gadis itu tersenyum manis.
Neil tercengang. Ia mempunyai sekretaris? Apa pekerjaannya sebagai CEO sesibuk itu hingga ia didampingi oleh sekretaris?
"Ow...ya. Ehm, baik,"
"Dokter bisa memanggil saya di line telepon nomor satu jika memerlukan sesuatu,"
Neil mengangguk walaupun masih kebingungan.
"Dan ini jadwal Dokter seminggu ke depan sudah saya rekap. Ada beberapa agenda di luar kota. Biasanya Prof Romel selalu meminta saya untuk ikut," jelas Friska sambil menyerahkan berkas yang ia bawa pada Neil.
Neil meraih berkas itu lalu membacanya. Matanya sontak terbelalak melihat jadwal yang begitu padat.
"Oh God, apa Prof Romel sesibuk ini?" Tanya Neil.
Friska tersenyum. "Begitulah. Jadwal tersebut juga sudah saya sesuaikan karena Dokter Neil tetap ingin praktek, bukan? Saya buatkan jadwal hari Selasa dan Kamis, sore hingga malam,"
Neil menelan ludah. Ia memang ingin menyibukkan diri, namun tidak sesibuk ini!
"Oh...ya. Thankyou Friska. Mohon bantuannya untuk ke depan," tukas Neil.
"Anytime," jawab Friska lugas.
Ia kemudian berpamitan dan berjalan menuju pintu keluar. Meninggalkan Neil yang tiba-tiba merasa menyesal menerima tawaran menjadi CEO.
"Well. Aku harus mulai kerja sekarang!" Seru Neil sambil berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di kursi.
Neil sibuk mempelajara beberapa berkasi ketika Friska kembali masuk ke ruangannya.
"Permisi Dokter, ada tamu yang ingin bertemu," ucap Friska sambil mempersilahkan tamu tersebut masuk.
Neil terhenyak beberapa detik saat mendapati tamu yang dimaksud adalah Jemima. Gadis itu datang sendirian dan tentu membuat Neil bertanya-tanya.
"Hi, Mr. CEO," goda Jemima sambil duduk di kursi berhadapan dengan Neil.
"Jemima...bagaimana kau ada di sini?" Tanya Neil.
Jemima tersenyum dan menghela nafas, jelas sekali gadis itu memiliki maksud tertentu untuk bertemu Neil.
"Aku tidak bisa menghubungi Alezo. Aku kira dia di rumah sakit, namun ternyata tidak. So, aku teringat padamu untuk menanyakan keberadaannya,"
'Jemima mencari Alezo? Bukankah hubungan mereka berakhir?' batin Neil.
"And I was surprise that you are the CEO," lanjut Jemima.
"Ah...sebenarnya ini hari pertamaku. You know, aku masih nol besar di pekerjaan ini," tukas Neil sambil mengibaskan pulpen yang ia pegang.
"So...dimana Alezo?" Tanya Jemima lagi.
Neil menelan ludah. Haruskah ia beritahu bahwa Alezo saat ini berada di pesawat menuju New York untuk mengobati patah hati karena gadis itu memutuskan hubungan mereka?
"Neil. Aku sudah berdamai dengan masa lalu yang terjadi di antara orangtua kami. Aku sudah bertemu dengan ibu Alezo dan membicarakannya. Ternyata ada hal yang terlewat olehku sehingga sebenarnya orangtua Alezo tidak terlalu bersalah. Mereka semua berada di dalam keadaan yang sulit kala itu," jelas Jemima.
"Dan aku pun menyadari. Alezo tidak terlibat apapun dan seharusnya aku tidak menyiksa diri kami sendiri hanya karena aku yang masih menyimpan dendam," lanjut Jemima.
Neil menyimak dengan seksama seluruh ucapan Jemima. Dalam hati ia merasa lega karena itu artinya Alezo dan Jemima dapat kembali bersama. Ia tahu betul mereka saling mencintai, namun terhalang luma masa lalu.
"Jemima. Aku paham betul bagaimana besarnya cinta Alezo padamu. Dia seperti orang gila saat hubungan kalian berakhir," ujar Neil.
Jemima mengangguk. "My fault..."
"No. Jangan salahkan dirimu. Tidak ada yang salah dari hubungan kalian. Kalian cukup kembali bersama, dan tidak ada lagi yang akan terluka," sela Neil.
"Alezo...memutuskan pergi ke New York hari ini. Dia pasti sedang di pesawat sehingga kau tidak bisa menghubunginya,"
Neil mengangguk. "Ya. Dia mengambil cuti selama sebulan,"
Jemima terdiam. Neil yakin gadis itu pasti kebingungan. Ia pasti tak akan tenang menunggu kabar dari Alezo dan resah sepanjang hari.
"Ehm...baiklah. Terimakasih sudah memberitahuku," ucap Jemima sambil beranjak dan bersiap pergi.
"You're welcome. Dia pasti akan menghubungimu," ucap Neil mencoba menghibur.
Jemima mengangguk lalu berpamitan keluar, sementara Neil menatap sendu punggung gadis itu.
"Apa dia akan menyusul ke New York?"
***
Tepuk tangan seketika memenuhi auditorium Magnolia ketika Mahen resmi menjawab sebagai CEO menggantikan Kalina yang kini di penjara. Seluruh direksi dan staff sepakat menginginkan Mahen untuk memimpin Magnolia. Apalagi setelah apa yang dialami Jemima dan Najla, Magnolia harus berbenah untuk menjaga keselamatan para artis dari orang jahat yang mungkin menjadi musuh dalam selimut.
"Well, uhm. Aku harap aku bisa bekerja sebaik mungkin untuk Magnolia dan kita semua. Aku butuh kerjasama seluruh staff agar kita bisa menjaga keamanan dan kenyamanan di Magnolia agar tidak terulang lagi kejadian yang menimpa Jemima dan Najla," ucap Mahen dalam pidatonya.
"Dan aku tidak akan memberi ampun jika aku kembali menemukan ular seperti Kalina dan Tanaya di sini. I'll kill you," lanjut Mahen yang membuat semua orang menelan ludah dan saling pandang.
"So. Ada peraturan yang ku rubah dan aku harap semua bisa mengikuti aturan ini,"
Semua staff dan artis terdiam menunggu peraturan apa yang akan dibuat oleh Mahen, mengingat Mahen sangat tegas dan berubah dingin sejak kasus Kalina dan Tanaya
"Aku mencabut larangan berkencan dan hal-hal pribadi lainnya bagi para artis. Magnolia hanya mengurus urusan pekerjaan kalian. Sisanya kalian urus sendiri,"
Sorak sorai seketika terdengar usai Mahen berkata demikian. Setelah terbelenggu dengan aturan tidak boleh berkencan akhirnya mareka terbebas.
Mahen tersenyum melihat luapan kegembiraan para artis. Sudah seharusnya Magnolia tidak membatasi kehidupan pribadi artis-artisnya karena mereka juga manusia. Terkadang tekanan pekerjaan membuat mereka lelah sehingga tentu membutuhkan seseorang untuk bersandar agar tidak larut dalam stres.
"But...tentu ada konsekuensinya. Jangan membuat skandal memalukan. Magnolia mungkin akan tetap menerimamu. Namun publik tidak akan pernah mentolerir skandal. Aku yakin kalian sudah dewasa untuk memahami ini,"
"Mahen! We love you!" Sorak sebuah suara yang mengejutkan Mahen.
Seketika semua orang mengikuti berteriak mengatakan bahwa mereka mencintai Mahen sehingga membuatnya tak tahan menahan senyum bahagia.
***
Alezo menghempaskan tubuhnya di kasur setelah membersihkan diri. Perjalanan panjang ternyata benar-benar membuatnya lelah. Ia kemudian menarik selimut untuk bersiap tidur. Matanya melirik ponsel yang sedari berangkat belum ia nyalakan. Alezo benar-benar ingin sendiri tanpa ada yang mengganggunya. Apalagi ia sedang bersiap untuk menyembuhkan patah hati di sini. Sungguh ia tak ingin mendengar suatu apapun tentang Jemima yang bisa dengan mudah membuatnya berubah pikiran. Tak lama kemudian Alezo pun terlelap karena terlalu lelah.
***
Alezo terbangun setelah tidur selama sepuluh jam. Ia sendiri terkejut saat melihat jam yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Jet lag benar-benar membuat tubuhnya seolah pingsan.
Alezo turun dari kasur kemudian membuka jendela. Pemandangan New York dari ketinggian kamar hotel memang selalu memukau. Ia tersenyum kecil. Apa ia perlu pindah ke sini selamanya dan meninggalkan karir keartisannya? Apa ia memang harus mengorbankan segalanya demi melupakan Jemima?
Alezo lalu merain ponsel di atas nakas lalu menyalakannya. Tak lama kemudian ponselnya seketika diserbu notifikasi dari semua sosial medianya.
"What happen?" Gumamnya heran.
Alezo kemudian membuka instagram dan mendapati komentar netizen yang tak berhenti disematkan pada fotonya.
'Astaga Alezo! Ini benar-benar kabar bahagia!'
'Oh God. You made my day, dude!'
'You're the luckiest man ever!'
'Broke my heart. But I'm tearing happy for you both,'
'I know ini akan terjadi. Aaaaaaakkkk'
Alezo menggaruk kepalanya karena tak mengerti maksud komentar netizen. Sepertinya terjadi sesuatu di negaranya yang melibatkan Alezo. Ia kemudian membuka aplikasi streaming untuk mencari berita terkait dirinya. Alezo pun sontak terbelalak ketika mendapati Jemima yang sedang di wawancara oleh media.
"Ya. Aku dan Alezo berkencan. Aku mengakui kami terlibat cinta lokasi saat syuting Salju Pertama Desember. Kami sudah saling jatuh cinta saat itu namun baru berani mengakuinya beberapa kemudian," ucap Jemima sumringah seolah mengatakan sebuah kabar gembira.
"Lalu saat tertangkap kamera Spill The Tea apa kalian sudah berkencan?" Tanya seorang wartawan.
"Ya. Ah, rasanya benar-benar tersiksa harus berkencan diam-diam. Akhirnya kami memutuskan untuk mengumumkan bahwa kami berpacaran," jawab Jemima.
"And where is he now?"
"Alezo sedang berada di New York untuk sebuah urusan penting. Dia akan segera kembali," jawab Jemima sambil tersenyum melihat ke arah kamera.
Alezo tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Ia bahkan mengulangnya beberapa kali hingga akhirnya ia sadar bahwa Jemima mengumumkan pada publik bahwa mereka berpacaran. Bukankah Jemima terakhir bertemu memutuskan hubungan mereka? Lalu kenapa dia melakukan ini? Bagaimana dengan cerita masa lalu orangtua mereka yang sangat mereka benci? Bagaimana dengan Magnolia, apa agensinya tidak akan memberi sanksi karena pengakuan Jemima.
Terlalu banyak pertanyaan di benak Alezo sehingga membuatnya tak tenang. Ia kemudian dengan ragu menekan nomor ponsel Jemima untuk bertanya langsung pada gadis itu. Setelah menunggu beberapa saat, panggilannya pun dijawab oleh Jemima.
"Halo...Jemima..." sapa Alezo.
"Alezo...pulanglah. Aku merindukanmu,"
***