Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 47



"Hey brengsek! Kalian sudah gila tidak membiarkan ku ke toilet!" Seru Alezo karena para penculik tidak membolehkannya untuk ke kamar kecil.


Tak lama kemudian pria yang menghajar Alezo datang dengan gestur tergesa dan membanting pintu begitu ia tiba.


"Jaga sikapmu kalau kau ingin selamat, bodoh!" Bentaknya pada Alezo.


"Aku hanya ingin buang air, sialan. Setidaknya jangan perlakukan kami seperti anjing yang buang air sembarangan," sahut Alezo tak gentar.


Pria itu menggertakkan giginya, namun tak urung melepaskan ikatan tali yang membelit tubuhnya. Alezo menghela nafas begitu tubuhnya bebas. Rasanya benar-benar sesak ketika diikat. Ia lalu berdiri dan menuruti langkah si pria yang akan mengantarkannya ke toilet. Alezo kemudian melirik ke arah Jemima yang memandangnya dengan tatapan khawatir.


"Lakukan dengan cepat!"


Alezo mendelik. Rasanya ia ingin sekali menghajar pria itu membabi buta sangking kesalnya. Alezo kemudian masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Sesungguhnya itu hanyalah akal-akalan Alezo. Tujuannya adalah untuk mengetahui dimana mereka berada dan ada berapa penjahat yang menahan mereka di sana. Ternyata mereka di sekap di sebuah gudang dan sepertinya ada beberapa kawanan penjahat. Namun saat ini pria itu hanya sendirian.


Alezo masih berpikir keras mencari cara untuk keluar ketika mendengar si pria nenerima telepon. Ia pun memasang telinganya untuk mendengar percakapan yang bisa ia jadikan petunjuk.


"Mereka sudah kuberi makan,"


"Ya, Jemima dalam keadaan baik. Kami tidak menyentuhnya sama sekali. Hanya saja pria sialan itu benar-benar menyusahkan!"


Alezo tercenung. Pria itu sedang membicarakannya dan Jemima.


"Si brengsek itu terus memancing emosiku. Harusnya kau tidak membawanya agar pekerjaan kita lebih mudah!"


Alezo mengerti. Ternyata mereka hanya mengincar Jemima dan tidak berencana membawanya. Hanya saja keberadaannya di Serenade Park tentu akan mengancam rencana mereka.


"Setelah mereka dibebaskan dalam lima hari, uangnya akan langsung ditransfer, bukan? Jika tidak aku akan membocorkan pada media. Aku tidak main-main dengan ucapanku,"


Dahi Alezo berkerut. Mereka sudah berencana melepaskan ia dan Jemima dalam lima hari. Lalu apa yang menjadi jaminannya? Menghindari kecurigaan, Alezo keluar dari kamar mandi saat pria itu masih berbicara melalui telepon yang tentu membuatnya kaget dan cepat-cepat memutuskan panggilan.


"Aku sudah selesai," ujar Alezo datar yang direspon dengan tatapan sinis.


Ia kemudian menuruti perintah si pria yang nenyuruhnya berjalan duluan. Beberapa langkah sebelum masuk ke ruangan tempat ia di sekap, Alezo secepat kilat berbalik dan meninju wajah si pria dan menendangnya hingga ia tersungkur.


"Argghh bangsat!!" Pekik si pria yang berusaha berdiri.


Sayangnya Alezo lebih dulu menendangnya dan menghantam leher belakangnya sehingga pria itu tak sadarkan diri.


"Itu untuk pembalasanku, sialan," umpat Alezo.


Ia lalu mengambil pistol yang dipegang pria itu untuk berjaga-jaga dan segera menghampiri Jemima untuk melepaskannya.


"Alezo! Bagaimana bisa?!" Tanya Jemima terkejut.


Alezo tak menjawab, ia fokus melepaskan tali yang membelit tangan Jemima. Setelah terlepas, ia lalu membawa Jemima keluar untuk membebaskan diri. Beruntung pria itu masih tak sadarkan diri dan Alezo dengan cepat menemukan pintu keluar.


"Alezo, kita akan kemana?" Tanya Jemima panik.


Alezo memperhatikan sekitar dengan seksama. Cahaya yang minim membuatnya ragu untuk menentukan jalan.


"Ikuti aku," titah Alezo setelah memutuskan arah untuk mereka lewati.


Alezo menduga mereka berada di sebuah pabrik besar yang sudah terbengkalai. Bangunan tua seolah mengepung mereka yang meraba-raba mencari jalan keluar. Alezo hanya mengandalkan instingnya karena hanya temaram bulan yang menerangi langkah mereka.  Tiba-tiba Alezo terperanjat mendengar deru suara mesin mobil menuju ke arah mereka. Ia refleks membawa Jemima berlari ke arah tumpukan kontainer untuk bersembunyi.


"Jangan bersuara," bisik Alezo pada Jemima yang gemetar.


Gadis itu mengangguk lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Alezo semakin gugup ketika suara mesin mobil semakin mendekat. Ia memegang erat pistol yang ia bawa dan bersiap untuk menembak jika terdesak. Untungnya Alezo mahir menggunakan pistol karna ia dilatih saat syuting film. Siapa yang menyangka ia akan memegang pistol di dunia nyata.


Setelah memastikan suara mobil menjauh, Alezo kembali menarik tangan Jemima untuk pergi. Setelah beberapa lama terus berjalan menyusuri kegelapan, mereka tiba di halaman pabrik tersebut. Mata Alezo fokus mencari jalan keluar sementara Jemima memeluk lengan kirinya erat.


Alezo baru saja akan menarik tangan Jemima untuk berlari setelah menemukan gerbang ketika suara mobil kembali terdengar. Sepertinya para penculik itu sudah mengetahui bahwa mereka kabur.  Tak ayal Alezo mengajak Jemima kembali bersembunyi di dalam sebuah mobil tua yang terparkir. Alezo bernafas lega mobil itu tak dikunci hingga ia dan Jemima dapat masuk ke dalamnya


"Alezo, aku takut...." ujar Jemima bergetar.


"Tenanglah, aku berjanji kita akan selamat keluar dari sini," ucap Alezo berusaha menenangkan Jemima meski ia pun berdebar tak karuan.


Mereka berdua menunduk di lantai mobil. Alezo mendengarkan suara mobil untuk memastikan jarak mereka. Sialnya suara mobil itu justru mendekat dan terdengar para penculik itu turun.


"Brengsek, kabur kemana mereka?!" Seru suara pria pertama.


"Pasti belum jauh. Mereka akan sulit pergi dari area ini," sahut rekannya.


"Mereka tidak akan kabur jika kau tidak bodoh hingga bisa dikibuli oleh aktor sialan itu,"


"Bangsat. Jangan menyalahkanku. Kau yang berinisiatif membawanya bersama Jemima. Sudah ku larang, bukan?!"


"Hey. Apa kau punya pilihan ketika dia berada di sana tepat saat kita akan menculik Jemima? Satu-satunya cara adalah dengan membawanya agar kita tidak ketahuan!"


Sial, mereka malah bertengkar di sini, batin Alezo. Ia menoleh ke arah Jemima. Tubuh gadis itu gemetar, pertanda ketakutan yang ia rasakan tidak main-main.


"Mereka pasti bersembunyi. Tidak mungkin mereka bisa meninggalkan tempat ini secepat itu,"


Ucapan pria pertama sontak membuat darah Alezo berdesir. Jangan sampai mereka memeriksa mobil ini, batin Alezo.


"Kau cari kesana, dan aku ke sebelah situ. Jika pria itu melawan habisi dia. Tidak akan jadi masalah karena target kita adalah Jemima,"


Derap langkah mereka terdengar oleh Alezo. Keduanya menjauh, berarti tak ada yang mendekat ke mobil. Tak lama kemudian suasana mendadak hening. Sepertinya mereka sudah pergi, batin Alezo. Ia lalu mengintip dan tidak mendapati kedua pria itu.


"Mima, kita akan pergi sekarang," bisik Alezo.


Gadis itu hanya mampu mengangguk mengiyakan titah Alezo. Perlahan Alezo membuka pintu mobil tersebut dan keluar  mengendap bersama Jemima. Mata Alezo kemudian menangkap pintu gerbang untuk jalan keluar. Ia pun kembali menarik tangan Jemima agar mengikuti langkahnya.


Tangan Alezo hampir mencapai gagang pintu gerbang ketika tiba-tiba sebuah cahaya lampu menyorot mereka.


"Berhenti di sana atau kalian kutembak!"


Alezo terhenyak sementara Jemima berteriak. Mereka ketahuan. Penculik itu menemukan mereka dan kini menodongkan pistol ke arah Alezo dan Jemima.


"Berdiri di belakangku, Mima," titahnya.


Tak lama kemudian satu pria lainnya datang, sehingga kini mereka lebih kuat untuk melumpuhkan Alezo.


"Menyerahlah, artis sialan. Aku tidak yakin pria yang berdandan sepertimu bisa menarik pelatuk pistol itu!" Ledek salah satu pria yang seketika membakar emosi Alezo.


"Kami bisa membunuhmu detik ini juga, sialan.


"Kalian hanya membutuhkan Jemima, bukan?" Tantang Alezo.


"Lima hari. Kalian akan menyekap kami selama lima hari. Siapa yang menyuruh kalian, hah?!"


Dua pria itu terdiam mendengar ucapan Alezo.


"Sama sekali bukan urusanmu. Menyerahlah dan kami akan membiarkanmu hidup,"


"Alezo...aku takut..." gumam Jemima.


Alezo menoleh sebentar pada Jemima lalu kembali menantang dua pria itu.


"Katakan siapa yang menyuruh dan membayar kalian untuk menculik Jemima, penjahat sialan!"


Salah satu pria penculik itu tertawa sinis. Ia lalu berjalan mendekati Alezo dan Jemima.


"Kau berani karena pistol di tanganmu, bukan? Bodoh. Lain kali pastikan pistol yang kau rebut ada pelurunya. Apa yang kau harapkan dari pistol kosong,"


Alezo terkejut. Ia refleks menurunkan pistolnya dan detik itu pula pria itu menyerang Alezo hingga pistolnya terjatuh.


Alezo yang lengah seketika rubuh setelah menerima pukulan pada wajah dan perutnya bertubi-tubi.


"Alezo!!!!!" Pekik Jemima.


***


Kantor Magnolia dipenuhi orang-orang saat hari kedua menghilangnya Jemima. Mereka adalah para penggemar Jemima yang mendesak agar Magnolia segera menemukan Jemima. Najla menelan ludah melihat kerumunan orang yang sudah berkumpul sejak pagi dari jendela studio. Ia yang harusnya berlatih tidak dapat mulai karena Ailee, koreagrafernya terjebak dan tidak dapat masuk ke kantor Magnolia.


Najla menoleh ke arah pintu masuk karena mendengar seseorang membukanya. Ternyata Brie dan Calla. Dua sahabatnya itu lalu masuk dan berjalan mendekati Najla dengan wajah muram.


"Hey kalian..." sapa Najla. "Ow...!!" Najla hampir terdorong karena Brie dan Calla tiba-tiba memeluknya bersamaan.


"Aku takut terjadi sesuatu pada Jemima..." isak Brie di pelukan Najla.


"Apa dia akan baik-baik saja..." timpal Calla.


Najla menghela nafas. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan mereka berdua. Pikirannya pun kalut, bahkan ia kehilangan selera makan.


"Tenanglah. Polisi akan segera menemukan mereka berdua," ujar Najla setelah pelukan mereka terlepas.


"Mereka berdua? Maksudmu Jemima bersama siapa?"


Najla menegang. Ia kelepasan. Tidak ada yang tahu Jemima menghilang bersama Alezo kecuali ia dan Neil.


"Najla....kau menutupi sesuatu?" Tanya Calla yang curiga.


"Ah...itu...aku salah bicara..." ucap Najla tergagap.


Calla menghela nafas. "Tidak. Kau paling tidak bisa berbohong. Katakan. Jemima bersama siapa?"


Oh Tuhan matilah aku, batin Najla. Ia bukannya tidak mempercayai Brie dan Calla. Jemima yang meminta agar merahasiakan hubungannya dengan Alezo. Ia pun tau mereka berkencan dari Neil yang kelepasan, artinya Jemima pun berencana merahasiakannya dari Najla. Lagipula hubungan mereka sudah berakhir sejak Jemima mengetahui siapa orang tua Alezo.


"Jemima menghilang bersama...Alezo," jawab Najla ragu-ragu.


"What?! Bagaimana bisa?


"Maksudmu, mereka berdua diculik? Namun kenapa media hanya memberitakan Jemima?"


"Sssstt... pelankan suara kalian," bisik Najla sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Beruntung tidak ada orang di studio selain mereka bertiga.


Najla terpaksa menceritakan bahwa Jemima dan Alezo awalnya berkencan dan saat ini sudah berakhir. Ia pun tidak mengerti kenapa mereka berdua bisa bersamaan berada di Serenade Park di malam saat mereka menghilang.


"It feels weird karena kalian berdua tidak memberitahu kami tentang Alezo dan Jemima," tukas Calla saat Najla selesai bercerita.


"Apa kalian tidak mempercayai kami? Astaga, aku selalu bercerita tentang aktor mana yang sedang mendekatiku," timpal Brie.


Najla menggeleng. "Bukan begitu. Jemima pasti punya alasan. Aku juga tidak sengaja mengetahuinya dari teman Alezo yang ku kenal. Itu pun karena dia kelepasan," jelas Najla panik karena tidak ingin membuat dua sahabatnya itu salah paham.


Calla dan Brie saling berpandangan. Sebagai sahabat mereka berdua merasa kecewa karena tidak dipercayai. Namun untungnya logika mereka menang. Saat ini yang terpenting adalah menemukan Jemima dan Alezo.


"Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu menemukan mereka?" Tanya Brie meski ia tak yakin akan ada yang bisa menjawab.


Najla dan Calla kompak menggeleng lenah.


"Tunggu. Aku penasaran mereka berdua datang bersamaan ke Serenade Park atau bertemu di sana," ucap Brie tiba-tiba.


"Memangnya kenapa?" Tanya Najla.


"Kau bilang mereka sudah putus dan hubungan mereka tidak baik, bukan? Pasti akan canggung jika mereka berada di dalam satu mobil,"


"Lalu?"


"Ada kemungkinan Jemima ke sana dengan supirnya. Dia tidak mungkin menyetir sendiri setelah kejadian kemarin,"


Dugaan Calla masuk akal dan Najla mengerti maksudnya.


"Kita harus menemui supir Jemima, harusnya dia tahu sesuatu,"


Mereka bertiga saling berpandangan. Sebuah petunjuk sudah didapatkan.