Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 6



POV : JEMIMA


Jemima menghela nafas lega saat tidak mendapati fotonya di akun instagram Spill The Tea. Tadi malam ia diantar oleh Alezo setelah ia beristirahat di rumah sang aktor karena kejadian di cafe. Tidak sia-sia Alezo bertukar mobil dengan Neil agar tidak mengundang paparazi nakal yang bisa bertemu dengan mereka kapan saja. Jemima bahkan mengenakan kerudung milik Kamila,  yang tertinggal di rumah Alezo agar sosoknya semakin tersamarkan.


Tanpa sadar ia tersenyum mengingat bagaimana Alezo begitu mengkhawatirkan keadaannya. Berkali-kali Alezo bertanya memastikan apakah Jemima baik-baik saja jika pulang ke rumah sementara tidak ada yang menemani. Di perjalanan pun Alezo merebahkan kursi agar Jemima dapat bersandar dengan nyaman. Bukan salahnya jika ia merasakan getaran lain karena perlakuan Alezo. Wanita mana yang tidak berdebar diperlakukan bagai gelas kristal oleh seorang pria tampan seperti Alezo? Jemima bahkan berusaha keras mengenyahkan pikiran nakalnya yang membayangkan betapa nyamannya membenamkan wajah di dada Alezo yang bidang atau terkurung di antara bahu kekar dengan otot lengan yang menggoda itu. Apalagi Alezo hanya mengenakan t-shirt hitam yang menambah aura maskulinnya. Sayangnya Jemima harus mengubur harapan karena setelah mengantarnya, Alezo tidak menghubungi atau mengirim pesan hingga pagi ini. Sungguh ternyata sikap Alezo hanya bentuk kepedulian sebagai teman, bukan pasangan. Senyum Jemima seketika sirna setelah tersadar.


Setelah menghabiskan setangkup roti gandum dan susu low fat sebagai menu sarapannya, Jemima segera berangkat menuju kantor Magnolia, agensinya. Senin akhir bulan adalah jadwal para staff dan artis meeting membahas pekerjaan.


Butuh sekitar setengah jam dari apartemen Jemima untuk sampai di kantor Magnolia. Ia segera turun dari mobil setelah berpesan pada drivernya untuk menunggu. Kedatangan Jemima selalu disambut hangat oleh para staff Magnolia.


"Morning Jemi..."


"Hai dear..."


"Pagi Jemi..."


Jemima menerima sapaan demi sapaan yang ia balas dengan senyuman dan lambaian tangan. Ia lalu bergegas menuju aula utama tempat meeting dilaksanakan. Di luar sana banyak yang mengira jika berhasil menjadi artis berarti mendapatkan perlakuan spesial dari agensi. Padahal faktanya mereka tak ubahnya seperti karyawan yang bekerja untuk perusahaan. Honor mereka yang terdengar bombastis tentu saja dibagi dengan agensi, dan baru akan dibayarkan setiap akhir bulan persis seperti gajian. Beruntung Magnolia selalu mengutamakan artis-artisnya dengan pembagian empat puluh persen untuk perusahaan dan enam puluh persen untuk sang artis. Dengan catatan, ada aturan wajib yang tidak boleh mereka langgar.


Seperti yang Jemima alami saat syuting Salju Pertama Desember. Magnolia melarangnya menerima kiriman makanan dan hadiah dari fansnya yang sebenarnya sudah menjadi tradisi saat seorang artis sedang melakukan syuting. Alasannya demi menjaga keekslusifan dan keamanan Jemima sebagai diva yang tidak bisa sembarangan berinteraksi dengan fans. Satu-satunya yang boleh Jemima terima adalah kiriman makanan dari Najla, sahabatnya sesama solois di Magnolia. Itupun karena Najla memaksa pada Ibra, bos mereka karena tidak tega melihat Jemima. Bahkan Magnolia melarang para pemain dan staff film mengunggah foto bersama Jemima. Padahal hampir semua pemain pendukung dan staff mengidolakan Jemima. Kesempatan langka dapat bertemu Jemima dalam jarak dekat, namun momen itu tidak bisa diabadikan. Beruntung mereka semua menyukai Jemima yang ramah dan selalu menghidupkan suasana syuting sehingga setidaknya mereka bisa sekedar menyapa. Mereka tidak habis pikir pada Magnolia yang terlalu ketat menjaga Jemima.


Jemima kini telah siap untuk meeting. Ia bergabung bersama rekan-rekan sesama solois dan grup. Ia duduk bersebelahan dengan Najla yang telah tiba lebih awal. Ia menghela nafas saat Hera, sang talent manager yang memimpin meeting mengatakan bahwa Jemima menerima banyak tawaran untuk bermain film ataupun serial setelah kesuksesan Salju Pertama Desember. Namun Magnolia memutuskan menolak karena tidak ingin merubah citra Jemima sebagai penyanyi.


"Harus ada jeda cukup jauh jika kau kembali bermain film," ucapnya dingin.


Sungguh tidak masalah bagi Jemima. Tapi cara bicara Hera yang selalu ketus terasa memuakkan. Setelah tiga puluh menit, Hera pun selesai dengan penyampaiannya. Jemima tidak sabar untuk keluar namun ia urungkan karena Hera tiba-tiba berbalik.


"Satu lagi. Rahasiakan dengan baik jika kalian memiliki hubungan. Jangan sampai berita tentang hubungan kencan lebih mendominasi daripada karya kalian,"


Setelah berkata demikian tanpa sengaja mata Hera dan Jemima bertemu. Jemima langsung bertanya-tanya apa ucapan Hera ditujukan untuknya karena berita kencannya dengan Alezo masih hangat dibicarakan.


"Apa yang dia bicarakan," umpat Najla kesal lalu menarik tangan Jemima untuk keluar. "Ayo!"


Mereka berdua lalu berjalan menuju cafetaria. Sudah lama rasanya merea tidak bertemu karena kesibukan masing-masing sehingga perlu menghabiskan waktu berdua sejenak.


Berbeda dengan Jemima, konsep penampilan Najla swag dengan dance yang energic, dimana ia di labeli sebagai Swag Queen. Meski berbanding jauh dengan Jemima yang anggun, mereka dapat bersahabat dan saling menyayangi karena melewati masa menjadi trainee bersama.


"Kau tahu, aku menonton filmmu tiga kali," ujar Najla yang membuat Jemima terkejut.


"Seriously?"


"Ya. Aku suka jalan ceritanya. Aku kira film tantang gerakan revolusi dan politik akan sangat membosankan. Ternyata justru di sana kekuatannya. Kau dan Alezo seperti tidak berakting. Kalian terlihat benar-benar seperti menjalahi kehidupan nyata," puji Najla tak main-main.


"Walaupun adegan romancenya sedikit, tapi betul-betul mengena karena seolah kalian memenangkan cinta,"


Jemia tertawa. Dalam ia bersyukur mendengar ucapan Najla. "Ah, kau membuatku terharu,"


"Tidak salah rasanya jika banyak sutradara yang ingin mengajakmu bermain di film mereka,"


"Aku hanya melakukan yang terbaik dan berusaha sekuat tenagaku," balas Jemima merendah.


"Hm...lalu...apa rumormu berkencan dengan Alezo benar? Aku hanya penasaran..." tanya Najla hati-hati, khawatir Jemima akan marah.


"Tidak," jawab Jemima menggeleng.


"Apa kalian tidak terbawa perasaan? Aku bahkan tidak bisa bernafas melihan kalian berdua berciuman. Aku kira Ibra tidak akan mengizinkanmu,"


Jemima terdiam. Lagi-lagi ia diingatkan adegan mesranya dengan Alezo yang sampai saat ini pun masih membuatnya berdebar ketika membayangkannya.


"Sebagai manusia bohong jika aku tidak terbawa perasaan," ucap Jemima jujur. "Namun perasaan itu segera ku tepis karena aku harus profesional..."


"I see..."


"Apalagi kau tahu Alezo sudah sering bermain film dengan artis-artis lain namun tidak pernah terlibat cinta lokasi sama sekali," lanjut Jemima. "Rasanya memalukan jika aku masih menyimpan perasaan,"


Nada bicara Jemima terdengar seperti memendam kekecewaan. Raut wajahnya yang mendadak sendu cukup membuat Najla paham bahwa sahabatnya itu menyimpan rasa pada Alezo, namun sekuat tenaga ia kubur dalam-dalam.


"Alezo bersikap manis dan benar-benar menjagaku selama syuting. Aku selalu merasa hampir gila setiap kami harus bertatapan," lanjut Jemima.


Jemima menerawang membayangkan tatapan hangat Alezo yang selalu membuat jantungnya berdebar. Mata Alezo seolah menyiratkan sesuatu yang Jemima harap itu adalah perasaan suka padanya. Ia sudah tidak sanggup memendam sendiri perasaannya tanpa bercerita pada seseorang. Jemima membutuhkan asupan pendapat orang lain tentang apa yang ia rasakan pada Alezo, dan itu pada Najla sahabatnya.


"Lalu setelah syuting berakhir apa dia menghubungimu? Kalian pasti memiliki grup chat, bukan?" Tanya Najla.


Jemima menggeleng. Alezo tidak pernah menghubunginya secara pribadi. Komunikasi mereka hanya lewat grup.


"Ah, sepertinya dia benar-benar seprofesional itu, menganggapmu sekedar rekan kerja,"


"Rumor kami berkencan sebenarnya membuatku risih karena seolah meledekku," ucap Jemima sambil tertawa.


"Penggemar kalian benar-benar seperti pasukan cupid yang ingin membuat kalian menjadi sepasang kekasih,"


Dua sahabat itu lalu tertawa lepas. Mereka lalu larut dalam pembicaraan seru sambil menikmati es kopi sampai akhirnya Najla harus pergi ke studio untuk  berlatih dance lagu terbarunya.


***


Jemima merasa haus setelah selesai berlatih vokal dan bernyanyi beberapa lagu. Ia segera keluar studio dan berjalan cepat menuju lobby sambil menelepon supirnya. Hari masih menunjukkan pukul tiga sore sehingga Jemima ingin berbelanja. Kulkasnya sudah mulai kosong sehingga Jemima harus mengisinya. Setelah memenangi debat dengan Tita yang memaksa untuk ikut, akhirnya Jemima bisa pergi dengan tenang.


"Jangan pulang terlalu malam dan telepon aku jika kau kesulitan. Aku segera meluncur,"


Ucapan Tita membuat Jemima menggelengkan kepala. Ia lebih seperti kakak yang cerewet daripada manager. Tentu saja Tita selalu pasang badan jika terjadi sesuatu pada Jemima. Tidak heran jika Jemima dengan sukacita membelikannya sebuah mobil sebagai hadiah ulang tahunnya lima bulan lalu karena Tita sudah membantunya sejak awal ia debut sebagai penyanyi. Jangan kira Tita menjadi melunak karena diberi mobil. Pandangannya pada Jemima tidak berubah, yakni adik kecil yang harus ia urusi dan marahi jika salah.


"Nah...selesai," ucap Jemima setelah memasukkan sebuah semangka ke troli. Ia lalu berjalan girang menuju kasir.


Jemima mengantri dengan sabar untuk membayar. Namun tiba-tiba ia tersentak karena mendengar obrolan pelanggan di depannya.


"Aku harap Jemima dan Alezo benar-benar berpacaran di dunia nyata," ucap perempuan berambut keriting pada temannya yang memakai kerudung


"Sepertinya susah. Kau tahu sendiri Magnolia selalu protektif pada artis-artis mereka. Apalagi Jemima," balas si kerudung.


"Padahal aku yakin mereka pasti saling suka. Apa kau menonton behind the scene film mereka? Mereka berdua selalu tertangkap saling mencuri pandang!"


"Ah benar. Aku ingat bahkan Alezo membetulkan rambut Jemima dan berkali-kali memuji aktingnya,"


Jemima menelan ludah. Bisa-bisanya ia mendengar langsung orang yang sedang membicarakannya. Ternyata rumor berkencannya dengan Alezo masih menjadi topik hangat netizen. Ia lalu membenarkan masker dan topinya takut-takut jika ia akan dikenali.


Jemima menghela nafas lega akhirnya duo netizen yang membicarakannya selesai membayar. Ia pun lalu meletakkan belanjaannya di meja kasir. Jemima mendadak panik karena tidak menemukan dompetnya. Ia menepuk jidat karena teringat ia meninggalkan dompetnya di dashboard mobil. Tidak masalah selagi ada handphone, pikir Jemima. Ia bisa membayar dengan scan QR mobile banking. Sungguh Jemima ingin berteriak karena ternyata handphonenya mati. Ia melirik ke arah petugas kasir yang hampir selesai menghitung belanjaannya.


"Totalnya satu juta tujuh ratus lima puluh ribu lima ratus rupiah,"


Jemima menarik nafas. Dengan suara bergetar dan tangan yang terasa dingin ia akhirnya ia berbicara pada petugas kasir.


"Maaf sebelumnya. Ternyata dompetku ketinggalan di mobil dan handphoneku mati..." ucap Jemima lirih. "Aku akan ke parkiran, bisa kah kau menyimpannya untukku? Aku tak akan lama..."


Tanpa diduga ternyata si petugas parkir justru membentak Jemima.


"Menyusahkan! Sebelum berbelanja pastikan kau membawa uangmu. Kau tau parkiran dari sini memakan waktu lama. Tidak akan lama katamu?" Sentak si petugas kasir bertubuh tambun itu sengit.


Suara besarnya memancing orang-orang melihat ke arah mereka. Jemima hampir menangis karena tidak menyangka ia akan dibentak dan dipermalukan.


"Hey. Watch your attitude. I'll pay for her,"


Tiba-tiba seorang pria muncul di belakang Jemima dan menyodorkan sebuah kartu hitam pada petugas kasir. Jemima menoleh dengan matanya yang berkaca-kaca menahan tangis. Siapa pria bermasker ini, pikirnya.


"Aku akan bicara pada manager toko soal attitudemu," ujar sang pria misterius setelah menerima kembali kartunya.


"Maafkan saya, Tuan. Saya salah. Tidak akan saya ulangi. Jangan sampaikan pada atasan saya, Tuan..." petugas kasir yang tadi begitu bengis mendadak seperti pelayan raja yang sedang memohon ampunan.


"Tentu tidak akan kau ulangi. Karena ku pastikan nona ini tidak akan datang lagi jika kau masih di sini,"


Pria itu lalu membawa belanjaan Jemima dan mengamit lengan gadis itu. Setelah menjauh dari kasir Jemima menarik tangan dan menghentikan langkahnya.


"Siapa kau? Ah...maksudku sebelumnya terimakasih. Aku akan mengganti semuanya," ucap Jemima.


Pria itu lalu berbalik dan memperhatikan sekitar.


"Ini aku," ucap sang pria sambil menurunkan maskernya.


Jemima sontak menutup mulutnya.


"Alezo..." bisik Jemima. "Bagaimana kau ada di sini?"


"Ssst...Jangan di sini. Ayo,"


Alezo kembali menarik tangan Jemima untuk segera berjalan. Jemima pasrah mengikuti Alezo yang tidak terlihat kesusahan sama sekali membawa belanjaannya yang banyak dan sudah pasti berat. Harusnya ia membawa troli, pikir Jemima.


"Apa kau membawa mobil? Lantai berapa parkiranmu?" Tanya Alezo saat mereka di dalam lift.


"Aku dengan supir,"


Alezo lalu menekan tombol lobby. Mereka hanya berdua di lift dan Jemima setengah mati untuk bersikap biasa saja melawan debur jantungnya yang tak karuan. Ia melihat pantulan bayangan mereka di pintu lift dan menyadari bahwa tubuhnya terlihat begitu mungil berada di samping Alezo. Pantas saja saat syuting adegan ciuman ia merasa kesulitan karena harus berjinjit. Sial, lagi-lagi aku membayangkan ciumannya dengan Alezo, pikir Jemima. Ia memejamkan mata dan menggelengkan kepala untuk menepis ingatannya itu.


"Kau kenapa," tanya Alezo heran.


"Hah? Hm...aku...aku malu dengan kejadian tadi. Bisa-bisanya aku meninggalkan dompet padahal akan berbelanja. Apakah orang-orang di saja dan kasir itu ingat padaku?" Ujar Jemima asal.


Alezo tertawa. "Mereka bahkan tidak tahu wajahmu,"


Ah benar saja. Jemima mengenakan topi dan masker. Bagaimana orang akan tahu dirinya? Pintu lift terbuka dan mereka berdua lalu berjalan menuju lobby. Jemima sebenarnya kebingungan bagaimana caranya ia menghubungi Pak Dudi, supirnya karena handphonenya mati dan ia tidak hafal nomornya jika harus meminjam ponsel Alezo. Saat mereka sudah keluar lobby, tiba-tiba ia dikagetkan dengan panggilan seseorang.


"Non!"


Jemima menoleh. Ia sontak bersyukur karena ternyata Pak Dudi muncul. Ternyata Pak Dudi sudah menelepon untuk mengatakan dompetnya tertinggal namun handphone Jemima tidak aktif sehingga ia berinisiatif menunggu di dekat lobby. Jemima lalu meminta sang supir  mengambil belanjaan dari tangan Alezo untuk membawanya ke mobil.


"Aku berhutang padamu. Berikan aku nomor rekeningmu untuk menggantinya," ucap Jemima pada Alezo sebelum mereka berpisah.


Alezo mengibaskan tangan. "Tidak perlu,"


"Hey jangan begitu. Kau sudah menyelamatkanku dan tidak suka berhutang. Apa kau mau uang cash saja?"


"That's a friend is for," ucap Alezo santai.


Friend. Ternyata benar. Alezo peduli kepadanya sebatas teman. Jemima menggigit bibir bawahnya. Hatinya terasa sakit karena harapannya sendiri.


"Well. Kalau begitu akan ku bayar dengan cara lain," tukas Jemima kemudian. "Thankyou for helping me again, friend,"


Jemima kemudian melambaikan tangan pada Alezo sebelum pergi menuju mobilnya. Ia merasa malu karena Alezo seolah menampar perasaannya karena menganggapnya hanya sebagai teman, tidak lebih. Ternyata mengantarnya pulang setelah Prestige Award, menolongnya saat kejadian cafe yang terbakar lalu merawatnya dan kali ini membayarkan belanjaannya benar-benar dilakukan Alezo karena ia menganggap Jemima adalah temannya, lebih tepatnya sekedar rekan kerja. Untuk dikatakan teman pun sebenarnya hubungan mereka tidak sedekat itu.


Jemima memandang keluar jendela di sepanjang perjalanan pulang. Rintik hujan semakin membuatnya hanyut dalam perasaan. Andai ia tidak menerima tawaran bermain film, ia tidak akan pernah bertemu dengan Alezo secara langsung dan bahkan bersentuhan. Sebelumnya selama ini Jemima hanya sekedar melihat Alezo di televisi atau di sebuah acara. Tidak ada rasa yang luar biasa kala itu. Namun semuanya berubah ketika mereka syuting bersama. Jemima yang tak terbiasa dekat dengan pria manapun tiba-tiba harus berdekatan dalam waktu lama dengan Alezo. Bahkan adegan ciumannya adalah ciuman pertama bagi Jemima. Lalu bagaimana ia tidak gila memeluk tubuh Alezo dan merasakan lekuk ototnya? Tanpa sadar Jemima meneteskan air mata. Ini pertama kalinya ia jatuh hati pada seorang pria, namun keadaan tidak memihaknya. Alezo benar-benar tokoh fiksi yang tak akan menjadi nyata bagi Jemima.