
POV : Jemima
Jemima menjatuhkan badannya di sofa sepeninggal Alezo. Ia masih terisak karena dada yang begitu sesak. Sungguh hati kecilnya meronta tidak tega melihat Alezo yang berlutut di hadapannya, memohon agar mereka tetap bersama. Namun egonya bersikeras mengusir pria yang sempat ia kira mewarnai dunianya. Bagaimana bisa ternyata Alezo justru menyembunyikan awan hitam yang menurunkan hujan dalam hidupnya. Jemima padahal sudah jauh berjalan meninggalkan luka masa kecilnya. Namun Alezo menjadi batu sandungan yang membuat ia terjatuh dan berdarah lagi.
Alezo adalah cinta pertamanya. Pria pertama yang membuatnya merasakan getaran cinta yang seolah menjadikan ia rela menerima atau melakukan apa saja asal Alezo ada di sisinya. Hayalan Jemima bahkan melambung tinggi dimana kelak mereka akan menikah. Ia merutuk saat ia merasa rendah diri karena merasa tidak sepadan dengan keluarga Alezo yang sempurna, sementara ia sebatang kara dan menyimpan masa lalu yang suram. Rasanya begitu menyakitkan justru orangtua Alezo yang memyebabkan sang ibu menderita dan berdampak padanya.
"Kenapa harus seperti ini, Alezo..." lirih Jemima.
Ia mengkasihani dirinya sendiri yang baru pertama kali merasakan cinta namun langsung dihantam patah hati teramat dalam.
Jemima menghapus air matanya setelah lelah menangis. Matanya sudah terlalu bengkak sehingga pandangannya mengecil. Ia lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, meski rasanya ia merasa rapuh untuk sekedar berdiri.
***
Jemima berkali-kali menarik nafas panjang menenangkan dirinya. Sayangnya ia tetap tidak dapat mengontrol debar jantungnya yang berdetak tak karuan. Wajahnya begitu tegang, begitu ketara sehingga membuat Tita tidak tahan untuk menegurnya.
"Jemima...calm down," ujar Tita menenangkannnya.
"Bagaimana aku bisa tenang. Ini pertama kali aku melakukan catwalk di runway!" Seru Jemima berbisik.
Jemima saat ini berada di belakang panggung bersiap untuk melenggang di atas runway sebagai muse untuk Xavixa, sebuah brand fashion wanita yang mendapuknya sebagai main model. Jika bisa menolak Jemima tidak akan menerima pekerjaan ini karena ia tak bernah membayangkan menjadi seorang model. Namun tentu saja Magnolia tidak mau rugi karena Xavixa sanggup membayar mahal untuknya. Jemima rela bergabung dengan para model Magnolia di kelas modelling agar penampilannya tidak memalukan. Magnolia benar-benar menjualku, pikir Jemima kala itu.
"Jemima my dear..." sapa Vixa, sang desainer ramah yang langsung mengulurkan tangannya meraih baju Jemima dan memeluknya.
"Oh, hai Vixa," balas Jemima terkesiap, tak menyangka Vixa mendatanginya.
"Dress ini benar-benar sempurna membalut tubuhmu. Dari awal menciptakannya aku selalu membayangkan sosokmu mengenakannya suatu hari. And...voila. Mimpiku terwujud," ucap Vixa.
Jemima seketika salah tingkah mendengar pujian Vixa. Ia merasa canggung karena para model seketika meliriknya.
"Ah, tidak. Karyamu memang luar biasa. Sebuah kehormatan bagiku mengenakannya," tukas Jemima.
Tak lama kemudian Jemima dan para model bersiap untuk tampik di atas runway. Jemima akan tampil terakhir sebagai kejutan. Siapa yang akan menyangka Jemima sang diva akan berlenggak-lenggok di atas catwalk?
"Oh Tuhan sebentar lagi giliranku," gumam Jemima resah.
Ia benar-benar terbebani dengan fakta bahwa pergelaran desain Xavixa selalu ramai oleh audience dari kalangan atas, yang sebagian besar adalah sosialita dan pejabat negara. Jika ia tampil untuk bernyanyi mungkin akan beda cerita. Toh ia bahkan sudah pernah tampil di depan presiden. Namun untuk berjalan di atas runway benar-benar hal baru untuknya.
Jemima menarik nafas begitu memulai langkahnya. Ia dapat melihat reaksi audience yang tidak menyangka akan kehadirannya. Jemima mencoba tenang dan melemparkan senyum manis meski ia dapat merasakan tangannya dingin. Jemima berusaha mengabaikan sorakan audience yang memanggil namanya agar dan terus berjalan seperti yang ia pelajari.
"Tinggal sedikit lagi dan aku sampai," batin Jemima ketika ia hampir tiba di titik awal.
Jemima bersorak riang dalam hati begitu selesai. Ia merasa lega, setidaknya ia tidak terpeleset atau jatuh. Tak lama kemudian ia bergabung kembali dengan para model dan berjalan mendampingi Vixa sang desainer yang menerima standing applause atas koleksi terbarunya itu.
Jemima memilih untuk pulang daripada menerima tawaran Vixa untuk makan malam bersamanya. Ia harus mencari alasan karena Vixa benar-benar memaksanya karena dress yang dipakai Jemima seketika sold out karena banyak yang langsung memesannya.
"Kau membuatku harus bekerja keras untuk menambah produksi dress ini. You are such a magic. Xavixa belum pernah seperti ini sebelumnya," ujar Vixa berterimakasih.
Jemima tersenyum. Suatu kebanggan juga bagi dirinya sendiri karena ia memiliki pengaruh besar.
"Tita, beri tahu aku jika Magnolia memecatnya. I'll take this queen," ujar Vixa pada Tita yang baru muncul di belakang Jemima.
"You should take me too," gurau Tita yang memancing derai tawa di antara mereka bertiga.
Tak lama kemudian mereka pun berpisah. Jemima bergegas menuju mobil karena sudah tidak tahan ingin merebahkan diri.
"Well. Jadwalmu kosong hingga minggu depan setelah syuting talkshow besok. Kau bisa beristirahat atau berlibur jika kau mau," ujar Tita usai memeriksa jadwal pekerjaan Jemima.
Jemima tak menjawab. Ia sibuk merendahkan sandaran kursi agar dapat merebahkan diri. Harusnya ia senang karena dapat menenangkan diri. Namun entah kenapa ia tak begitu gembira.
"Kau saja yang liburan dengan keluargamu," sahut Jemima yang membuat Tita mengernyitkan dahi.
"Lalu kau? Aku tidak akan tenang meninggalkanmu. Apalagi setelah apa yang kau alami...." ujar Tita hati-hati sambil memperhatikan ekspresi wajah Jemima.
"Don't worry about me. Kau sudah terlalu sibuk mengurusku. I'm fine," ucap Jemima meyakinkan Tita.
"Apa tidak masalah?" Tanya Tita yang mulai tertarik.
Tita sontak memeluk Jemima. Sebenarnya ia memang berencana untuk liburan ke pulau, namun tidak tega meninggalkan Jemima setelah apa yang terjadi padanya dan Alezo. Ia baru merasa lega saat. Jemima mengatakan ia baik-baik saja.
***
Jemima melangkah ragu memasuki sebuah club. Ini pertama kalinya ia mengunjungi club, setelah menolak ajakan Najla berkali-kali. Najla benar, club ini benar-benar eksklusif dan privat, sehingga ia tidak perlu khawatir ada paparazzi yang akan mengambil fotonya. Jemima nekat datang ke sini padahal ia sendiri tidak yakin akan sanggup meminum banyak alkohol.
Jemima merasa lega karena ternyata ada banyak yang datang sendirian. Ia menduga-duga, apakah mereka juga sedang kalut sama sepertinya? Jemima memilih posisi meja di sudut setelah memesan minuman. Ia memperhatikan orang-orang di sekitar, berharap tidak ada teman yang mengenalnya. Jemima butuh waktu sendiri, sedang tidak ingin ditemani. Bahkan ia berbohong saat Najla ingin datang ke apartemennya.
"Aku mengantuk karena kelelahan," begitu alasan Jemima pada sahabatnya itu.
Jemima mulai menuangkan minuman ke gelas dan menenggaknya. Otaknya yang tak berhenti memikirkan Alezo membuatnya gusar. Ia tidak dapat mendustai perasaannya yang mencintai pria itu. Namun ia pun tak dapat membunuh perasaan sakit mengingat apa yang dialami ibunya di masa lalu.
Bayangan bagaimana ia bertemu dengan Alezo lalu jatuh cinta kepadanya menari di benak Jemima. Ia bahkan tidak bisa berhenti membayangkan pelukan dan ciuman Alezo yang membuainya. Jemima tak menyangkal merindukannya.
"Ah aku pasti sudah gila," gumam Jemima menyalahkan dirinya.
Jemima tanpa sadar hampir menghabiskan satu botol minuman. Alkohol yang mulai bereaksi membuat tubuhnya terasa hangat dan pikirannya mulai melayang. Jemima pun kembali memesan minuman karena tubuhnya masih memberi sinyal untuk terus minum. Saat bartender membawakan minuman, Jemima tak menunggu lama untuk menuangkan ke gelas dan menenggaknya.
"Hey. Apa kau sendirian?" Tiba-tiba seorang pria duduk di hadapan Jemima.
Jemima memindai pria tersebut dengan matanya yang mulai berkunang-kunang. Efek alkohol yang memabukkan mulai terasa ditubuhnya.
"Who are you?" Tanya Jemima sejurus kemudian.
"Stranger. But yeah, I don't bite," sahut sang pria. "Aku Bastian,"
Jemima mengangguk. Kesadarannya mulai tak stabil namun ia terus menenggak minumannya. Ia seolah tak peduli dengan Batian yang menatapnya lekat.
"Wow. Kau kuat dengan alkohol ternyata,"
Jemima tak merespon. Ia bahkan tak menolak ketika Bastian menarik tangannya untuk turun ke dance floor. Jemima benar-benar mabuk dan tidak bisa mengontrol dirinya. Ia mulai menggerakkan tubuhnya ketia disc jockey memainkan musik. Bahkan ia tak menyadari Bastian semakin menempelkan tubuhnya pada Jemima.
"You're so sexy," ucap Bastian di telinga Jemima ketika gadis itu semakin liar.
Jemima hanya tersenyum menanggapinya. Badannya tak berhenti bergerak mengikuti dentuman musik. Jemima sempat menepis tangan Bastian yang mulai merangkulnya namun tak kuasa mengelak. Ia bahkan menurut ketika Bastian memposisikan diri mereka berhadapan dan melingkarkan tangan Jemima di pundaknya. Sesungguhnya Jemima risih, namun kepalanya terlalu berat untuk menolak. Jemima kehilangan akal dan Bastian mengambil kesempatan. Tangan nakalnya meremas bokong Jemima, lalu berpindah meraih dada gadis itu. Tiba-tiba sebuah dorongan keras menghantam Bastian dan membuatnya terhuyung.
"Brengsek. Who the hell are you?!" Seru Bastian tak terima pada pria bertopi yang mendorongnya.
"Yang jelas bukan pria mesum sepertimu, bastard!" balas pria itu sambil berlalu.
Jemima kemudian merasakan badannya ditarik oleh seseorang. Matanya mengerjap beberapa kali mencoba memastikan siapa yang membawanya. Sayangnya percuma. Otaknya tak bisa mencerna apapun karena efek alkohol. Setidaknya Jemima masih sadar kini ia berada di dalam sebuah mobil, dan seseorang tengah memasangkan safety belt padanya.
"Mana minumanku," gumam Jemima meracau.
Ia lalu menoleh ke arah kursi pengemudi dan menyipitkan matanya.
"Kau...kenapa kau mirip dengan Alezo," tanya Jemima.
Pria itu tak menjawab. Ia hanya menatap nanar pada Jemima. Wajah gadis itu memerah dan matanya terlihat sayu.
Jemima tiba-tiba menghambur ke dada pria itu dan mengangkat kepalanya sehingga mata mereka beradu pandang.
"Alezo...aku mencintaimu. Aku ingin hidup denganmu. Tapi orangtuamu brengsek," Jemima kembali meracau sambil meremas hoodie yang dikenakan pria itu.
Jemima tiba-tiba meraih bibir pria itu dan mengulumnya. Ia mencumbu liar bibir sang pria dan menempelkan dadanya. Pria itu tak dapat menghindar dan kewalahan menerima ciuman dan menopang tubuh condong Jemima. Pria itu pun kemudian terbawa suasana. Ia membuka safety belt lalu mengangkat tubuh Jemima dan memangkunya, menikmati cumbuan Jemima yang membuatnya seperti kehilangan akal.
Lima menit berlalu dan Jemima masih belum melepaskan bibirnya. Sang pria terpaksa menghentikan Jemima yang sudah acak-acakan. Bajunya bahkan hampir melorot. Pria itu kembali mendudukkan Jemima di kursi penumpang dan berniat segera mengantarkan gadis itu pulang.
"Hey kenapa berhenti? Aku masih ingin," ujar Jemima yang kembali mencondongkan tubuhnya lalu mengecup leher sang pria.
"Stop it, Jemima..."
Pria itu, Alezo, tidak punya pilihan selain menyentak Jemima dan kembali memasang safety belt. Ia laju menyalakan mesin mobil lalu menginjak gas, bergerak perlahan meninggalkan club sialan itu. Sementara Jemima yang mabuk seketika tertidur setelah meracau tak jelas. Tentunya ia tak ingat apapun yang ia lakukan.