Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 9



POV : Jemima


Jemima tiba di studio untuk pemotretan brand sepatu. Ia langsung di sambut hangat oleh kru yang bertugas. Jemima bersorak ketika ia di suguhi es kopi susu brand favoritnya.


"Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku snagat membutuhkan cafein saat ini?" Canda Jemima yang disambut tawa oleh semua orang.


Ia lalu berganti pakaian dan make up artist mulai mendandaninya. Jemima dijelaskan bahwa hari ini ada tiga tema pemotretan, yakni sporty, casual dan formal.


Jemima tiba-tiba terkesiap saat mendengar suara Alezo yang baru tiba. Ia menarik nafas dan berusaha untuk bersikap normal agar perasaannya tidak terlalu ketara.


"Hai," sapa Jemima sesantai mungkin saat Alezo masuk ke ruang make up.


Alezo membalas sapaan Jemima dengan lambaian tangan dan tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.


"Always es kopi," ucap Alezo pada Jemima yang menyedot sedang menyedot es kopinya dengan nikmat.


Jemima tertawa. Ia memang pencinta kopi dan hampir setiap hari meminumnya saat mereka syuting sehingga Alezo masih ingat betul.


"Ini mereka yang memberiku. Bukan aku yang membelinya," balas Jemima riang. "Apa kau sudah mengambil punyamu?"


"Apa punyamu cukup? Kau boleh mengambil jatahku," canda Alezo terkekeh. Ia harus merelakan lengannya terkena pukulan gemas Jemima.


Dalam hati Jemima berpikir. Alezo bisa bercanda sesantai ini dengannya saat mereka berada dalam pekerjaan. Namun setelah usai, Alezo seperti berubah  menjadi orang yang berbeda. Tidak banyak bicara sehingga terkesan dingin.


"Kalian berdua pasangan brand ambassador favoritku sepanjang masa," ucap Antoni, sang pemilik brand sepatu, Nextown setelah pemotretan selesai. Orang terkaya nomor sebelas di Indonesia itu sengaja datang untuk melihat langsung proses pemotretan brandnya yang sudah mendunia itu.


"It's a honor menjadi bagian dari  Nextown," balas Alezo.


"Terimakasih telah mempercayakan kami," timpal Jemima.


"Popularitas kalian luar biasa. Aku ingin Nextown menjadi bagian dalam perjalanan karir kalian," puji Antoni sungguh-sungguh.


Setelah obrolan singkat, mereka pun berpisah. Jemima dan Alezo lalu berganti pakaian dan bersiap untuk pulang. Seperti biasa Jemima dengan senang hati melayani kru yang ingin berfoto dengannya begitupun Alezo. Mereka pun meninggalkan studio bersama begitu selesai dan detik itu pula Alezo kembali dingin padanya Jemima. Ia bahkan berjalan lebih dulu dan sibuk dengan ponselnya.


Jemima tiba di parkiran dan terkejut ketika melihat keributan. Ia terperanjat karena ternyata kaca mobilnya terkena lemparan batu.


"Pak ini ada apa?" Tanya Tita panik pada supir Jemima.


"Ada yang sengaja melempar batu, Non," jawab Pak Dudi dengan ekspresi ketakutan.


"What?!" Pekik Jemima. Ia berjalan mendekati mobilnya. Benar saja kaca mobilnya pecah berserakan dan ada sebuah batu besar di jok belakang. Jemima seketika merinding karena ada orang yang sengaja berbuat jahat.


"Ada apa?" Tiba-tiba Alezo sudah berdiri di belakang Jemima. Ia pun terkejut melihat kondisi mobil Jemima.


Alezo refleks menarik tubuh Jemima agar menjauh.


"Sebaiknya langsung bawa ke bengkel sekarang," ucap Alezo.


"Benar. Aku akan ikut dengan Pak Dudi untuk mengurus asuransi mobilmu. Kau sebaiknya pulang. Alezo, bisa kah kau mengantarnya? Aku tidak berani membiarkannya Jemima pulang sendiri dengan taksi," ucap Tita bergegas.


Alezo mengangguk. Tita langsung masuk ke dalam mobil bersama Pak Dudi untuk pergi ke bengkel meninggalkan Jemima yang masih terpaku.


"Ayo," ucap Alezo menyadarkan Jemima. Ialu mengikuti Alezo menuju mobilnya.


Di perjalanan Jemima masih memikirkan kondisi mobilnya. Bagaimana mungkin sesorang tega memecahkan kaca mobilnya dengan sengaja. Jemima akan berpikir itu pencurian jika ada barang yang hilang. Nyatanya dompetnya yang tertinggal berisi uang tunai tidak diambil padahal letaknya terlihat jelas. Lalu apa maksudnya?


"Hey, are you OK?" Tanya Alezo karena Jemima diam seribu bahasa.


"Ah...aku hanya kepikiran," ucap Jemima.


"Beruntung kau belum masuk ke mobil,"


Jemima menghela nafas. "Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya,"


Beberasa saat kemudian mereka tiba di apartemen Jemima. Ia lalu turun setelah berterimakasih pada Alezo yang akhir-akhir ini entah kenapa kebetulan selalu ada saat ia membutuhkan bantuan. Jemima melangkah gontai menuju unitnya. Ia ingin segera sampai dan mencuci muka menghapus make up. Jemima mengernyitkan dahi ketika ada sebuah kado di depan pintu apartemennya. Ia tidak mendapati nama pengirim pada kado berwarna hitam dengan pita merah itu, hanya tertulis namanya sebagai penerima. Jemima membawa masuk kado tersebut dan langsung membukanya, berharap ia menenukan nama pengirim di dalamnya.


"Aaaaaaa!!!" Jemima berteriak kencang setelah membuka kado misterius itu.


Bagaimana tidak. Kado itu berisi sebuah boneka beruang putih yang tercabik-cabik dengan mata yang hampir lepas. Jemima terduduk lemas dan melihat sekeliling apartemennya takut-takut ada orang yang menyelinap. Ia mulai menangis karena rasa takut yang amat sangat.


Jemima semakin terperanjat ketika belnya berbunyi. Ia menutup mulut karena ketakutan. Tidak ada temannya yang mengatakan akan tiba dan Tita tidak mungkin selesai secepat itu mengurusi mobilnya. Siapa yang datang? Belnya tidak berhenti walau Jemima tidak merespon.


"Jemima, it's me. Apa kau di dalam?" ucap suara seorang pria di depan pintunya.


Alezo? Apakah itu benar suaranya? Pelan-pelan ia mendekati pintu dan mengintip dari door view. Jemima seketika membuka pintu ketika mendapati sosok Alezo.


"Alezo!" Jemima refleks memeluk Alezo.


Ketakutan membuat ia tidak bisa berpikir normal.


Alezo yang terkejut dapat merasakan tubuh Jemima bergetar.


"Hey what happen?" Tanya Alezo yang tak urung menepuk punggung Jemima. Ia melihat sekitar mewaspadai ada kamera yang menangkap mereka.


Alezo berinisiatif mengajak Jemima masuk meski belum mengerti apa yang terjadi. Ia lalu mendudukkan Jemima di sofa dan ikut duduk disampingnya.


"Ada apa? Kenapa kau sangat ketakutan?"


Jemima tak menjawab. Ia menunjuk kado yang baru ia buka. Alezo langsung mengambil kado tersebut dan melihat isinya. Pantas Jemima ketakutan karena tidak ada orang waras yang mengirimkan boneka dalam keadaan hancur kecuali dengan maksud tidak baik.


"What it this? Apa kau tau pengirimnya?"


"Aku tidak menemukan apapun. Di sini aman,"ucap Alezo.


Jemima mengangguk. "Kenapa kau bisa ada di sini? Maksudku, aku bersyukur kau datang..."


"Ah...ini. Lagi-lagi kau meninggalkan sesuatu. Kali ini gelangmu," jawab Alezo sambil menyodorkan gelang kesayangan Jemima.


Jemima menerima gelang dan merutuki dirinya yang begitu ceroboh. Ia memang membuka pengait gelangnya sebentar lalu lupa memasangnya kembali.


"Thanks," ucapnya lemah. Jemima mendadak merasa pusing karena kejadian yang dia alami. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


Alezo yang melihat keadaan Jemima lalu beranjak menuju pantry. Ia memperhatikan dengan seksama mencari sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali dengan secangkir coklat hangat lalu memberikannya pada Jemima.


"Minumlah. Maaf jika aku lancang membuatnya di pantrymu. Kau perlu minuman hangat agar merasa lebih baik,"


Jemima menatap Alezo beberapa detik lalu meraih cangkir dari tangan Alezo. Ia menyesapnya pelan dan menghirup aroma coklat kesukaannya. Sungguh ia merasa lega dan aman karena Alezo ada di sampingnya sekarang. Tentu saja jantungnya tidak karuan karena lagi-lagi Alezo memberinya perhatian. Bukan salahnya jika ia jatuh hati dan ingin memiliki.


"Sebaiknya kau butuh pengamanan ekstra. Baiknya kau laporkan yang terjadi hari ini pada Magnolia," saran Alezo.


Jemima mengangguk. Tentu ia harus melaporkan pada Ibra dan meminta agar ia diberi perlindungan ekstra demi keselamatannya. Perasaannya mengatakan ada orang yang tidak menyukainya.


"Apa kau butuh istirahat? Kau bisa tidur. Aku akan menunggu di sini setidaknya sampai sore untuk memastikan tidak ada lagi hal aneh yang terjadi,"


Jemima menyerah. Ia tidak sanggup menerima perhatian Alezo yang membuatnya berharap. Jemima tidak ingin terus tersiksa dengan angan yang tak mungkin tergapai. Ia tidak sanggup jika harus patah hati.


"Pulanglah," ucap Jemima dingin. "Aku baik-baik saja,"


Ia lalu beranjak untuk menuju kamarnya meninggalkan Alezo yang kebingungan. Baru beberapa langkah ia hampir terjatuh karena kepalanya terasa berputar. Alezo refleks menangkap tubuhnya dan kini ia berada di dalam pelukan Alezo.


"Kau tidak baik-baik saja,"


Jemima menggeliat melepaskan tubuhnya dari Alezo. Air matanya sudah mendesak keluar.


"Cukup, Alezo," pekik Jemina tiba-tiba. "Berhenti memberiku perhatian seperti ini. Kau hanya menganggapku teman tapi sikapmu membuatku berharap lebih. Berharap akan sesuatu yang mustahil,"


Alezo terdiam. Ia tak berkutik saat Jemima menghempaskan tangannya yang berada di bahu gadis itu.


"Mima..."


"Pergi, Alezo! Jangan membuatku gila karena perasaanku padamu. Aku bodoh. Aku terbawa perasaan sejak kita bersama hingga saat ini. Aku berharap memilikimu di dunia nyata. Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Jadi berhenti bersikap seperti ini, Alezo!"


Tubuh Alezo menegang melihat Jemima yang menangis. Mata Jemima yang tergenang air membuatnya lemah, hingga tak kuasa untuk menahan dirinya untuk memeluk gadis itu. Ia memeluk Jemima erat, seolah tak ingin membiarkannya melepaskan diri. Jemima yang kebingungan tak dapat bergerak karena rengkuhan Alezo begitu kuat.


Alezo meraih pipi Jemima dengan kedua tangannya setelah pelukan mereka terlepas. Ia bersumpah Jemima adalah wanita tercantik yang pernah ia temui selama hidupnya. Alezo menghapus air mata Jemima dengan jempolnya dan merapikan rambutnya yang berantakan.


"Apa maksudmu...." tanya Jemima masih dengan isak tangis yang terdengar.


"Apa kau mengira hanya kau yang tersiksa?" Tanya Alezo.


"Kau bilang dirimu bodoh? Aku lebih bodoh karena mengabaikan perasaanku padamu dari sejak awal kita bertemu,"


Jemima mematung. Ia mencerna ucapan Alezo yang tidak ia mengerti.


"Jemima...kau tahu sesusah apa aku menahan perasaanku untukmu? Kau tahu betapa tersiksanya aku saat kita berpisah karena pekerjaan kita berakhir? Kau tahu betapa bahagianya aku ketika kita terlibat pekerjaan bersama?"


Suasana hening sejenak. Jemima menunduk menatap dada Alezo yang bidang di hadapannya.


"Aku jatuh cinta padamu, Jemima..."


Ucapan Alezo seketika membuat Jemima mengangkat kepalanya. Kini matanya dan Alezo saling menatap satu sama lain.


"Kau..."


"Aku mencintaimu. Aku terlalu takut menyatakannya karena aku tidak sanggup jika patah hati. Dan kini aku merasa bersalah karena kau pun tersiksa dengan perasaanmu..."


Alezo lalu meraih pinggang Jemima dan mendekatkan jarak mereka.


"Aku berusaha bersikap dingin padamu untuk menutupi perasaanku. Tapi nyatanya aku tidak mampu untuk tidak memperhatikanmu..."


Jemima tak sanggup berkata-kata setelah Alezo menyatakan perasaanya. Entah ia harus sedih atau bahagia. Ia pun tak berkutik saat Alezo menunduk mendekatkan wajahnya. Sepersekian detik kemudian bibir mereka menyatu. Jemima pasrah ketima Alezo mulai menggerakkan bibirnya, memberikan getaran hebat dalam tubuhnya yang kini kembali terkurung di lengan kekar Alezo. Ia mematung membiarkan Alezo mencumbu bibirnya.


Jemima masih terdiam ketika Alezo menarik wajahnya. Ia masih berpikir apa ini mimpi atau kenyataan. Ternyata nyata, pikir Jemima yang dengan jelas merasakan tangannya kini digenggam oleh Alezo.


"Apa kau masih menyuruhku pergi?" Tanya Alezo tersenyum, menggoda Jemima.


Jemima menggeleng pelan. Alezo tidak kuat menahan tawanya melihat ekspresi wajah Jemima yang seketika seperti anak kecil, begitu menggemaskan. Ia kembali memeluk Jemima dan mengecup pucuk kepala dan menghirup aroma rambutnya. Alezo merasa ia adalah pria paling bahagia dan beruntung di dunia saat ini. Perasannya berbalas dengan sang pujaan yang selama ini hanya ia pendam dalam diam. Memiliki Jemima seutuhnya adalah asa yang begitu ingin ia gapai, dan sekarang gadis itu berada di pelukannya.


"Aku kira aku tidak akan pernah lagi memelukmu seperti ini," ucap Jemima.


"Kau bisa memintaku untuk memelukmu kapanpun sekarang," balas Alezo.


"Jadi...sekarang kita adalah kekasih?" Tanya Jemima lugu.


Alezo menaikkan sebelah alis matanya mendengar pertanyaan Jemima lalu tertawa.


"Apa aku harus secara formal memintamu menjadi kekasihku seperti remaja?"


Jemima tersipu. Ia kembali mengeratkan pelukannya dan menikmati aroma tubuh Alezo yang membuat candu. Ketika merasakan Alezo kembali mengecup kepalanya, Jemima yakin pria itu kini miliknya.