Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 49



Neil segera turun dari mobil setelah memberhentikannya tepat di samping Alezo dan Jemima. Albar yang bersamanya pun ikut turun dan berjalan cepat mendekati kakakknya.


"Astaga Alezo wajahmu!" Seru Albar yang tak tega melihat Alezo yang babak belur.


"I'm fine. Tolong bantu Jemima. Dia sangat lemas," ujar Alezo.


Neil dengan sigap mengangkat tubuh Jemima lalu membawanya ke dalam mobil sementara Alezo membopong Alezo.


Beruntung Neil sudah menyiapkan air mineral lalu memberikannya pada Jemima dan Alezo.


"Apa kalian baik-baik saja? Kita akan ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan kalian berdua," ucap Neil.


Ia lalu menyalakan mesin mobil dan bergegas tancap gas untuk meninggalkan tempat itu sebelum para penjahat  kembali. Apalagi kondisi Alezo dan Jemima yang terlihat begitu lemah. Ia tentu harus segera memberikan pertolongan pertama.


"Bagaimana kalian bisa ke sini?" Tanya Alezo setelah menghabiskan satu botol air mineral.


Neil dan Albar tak menjawab. Mereka sama-sama bingung bagaimana menjelaskannya pada Alezo. Apalagi Jemima yang tampak begitu syok.


Tiga jam lalu...


Najla tidak puas dengan pengakuan Pak Dudi, supir Jemima. Ia melihat dengan jelas pria paruh baya itu gemetar, seolah ketakutan. Setelah berpisah dengan Brie dan Calla, ia memutuskan untuk membuntuti Pak Dudi dan segera menghubungi Neil.


"Neil, aku mencurigai supir Jemima. Aku sedang mengikutinya. Aku akan mengirimkan live locationku,"


"Baiklah, aku segera berangkat," ujar Neil yang tak menunggu lama langsung meraih kunci mobil.


Beruntung ternyata Albar yang berpamitan pulang masih berada di lobby sehingga ia pun mengajak adik Alezo itu.


Najla tiba lebih dulu di sebuah rumah kontrakan dimana Pak Duri berhenti. Ia bertemu dengan seorang pria misterius yang mengenakan masker. Dari kejauhan Najla melihat Pak Dudi menerima sebuah amplop dari pria tersebut.


"Astaga benar-benar mencurigakan," gumam Najla.


Mobil Najla kembali bergerak mengikuti Pak Dudi yang mengendarai motor. Ia bernafas lega ternyata Neil sudah menyusul dan saat ini sudah berada di belakangnya.


Mereka tiba di sebuah rumah sederhana dimana Pak Dudi berhenti dan masuk ke dalam. Tak menunggu lama Najla langsung turun diikuti Neil dan Albar. Kedatangan mereka tentu mengejutkan Pak Dudi yang terlihat begitu pucat.


"Katakan sejujurnya. Dimana Jemima?" Tanpa basa basi Najla langsung menembak pria baruh baya itu dengan pertanyaan.


"Maksud...maksudnya bagaimana Nona Najla?"


"Anda pasti tahu sesuatu tentang Jemima. Cepat katakan," cecar Najla dengan muka masam.


"Saya...saya...tidak tahu Nona Jemima di bawa ke mana..." jawab Pak Dudi.


Najla menaikkan sebelah alisnya lalu tertawa sinis.


"Jemima dibawa ke mana? Ow...berarti ia dibawa pergi?" Selidik Najla yang puas karena Pak Dudi kelepasan.


Pria paruh baya itu gemetar. Ia menutup mulutnya dengam tangan dan terlihat begitu ketakutan. Najla dapat melihat butiran keringat sebesar biji jagung mengalir di dahinya.


"Katakan. Siapa yang membawa dan dimana mereka sekarang. Atau aku akan menelepon polisi," ancam Najla geram.


"Jangan, Nona... Jangan... Ampun..." ucap Pak Dudi memohon.


Ia bahkan berlutut sehingga membuat Najla kebingungan.


"Nona...saya terpaksa melakukannya. Saya butuh uang untuk bayar hutang, Nona. Saya salah..." ucap Pak Dudi sambil mengatupkan kedua tangannya.


Najla terbelalak. Ternyata kecurigaannya benar. Supir Jemima terlibat dalam menghilangnya sahabatnya itu. Sialan, umpatnya dalam hati. Padahal Jemima memperlakukan pria itu dengan baik bahkan sering memberinya banyak uang.


"Dimana mereka sekarang, brengsek?" Tanya Albar tiba-tiba. Ia hampir akan mendorong Pak Dudi jika tak dihalangi oleh Neil.


"Saya tidak tahu, Tuan... Sungguh..." ratap Pak Dudi.


"Kenapa Anda tega pada Jemima?!" Sentak Najla menahan sesak.


"Mereka mengatakan hanya beberapa hari dan tidak akan menyakiti Nona Jemima. Itu alasan saya, Nona,"


Najla medengus kesal. Matanya memerah menahan tangis membayangkan betapa menyedihkannya nasib Jemima dikhianati orang kepercayaannya.


"Kau pasti berhubungan dengan para penculik Jemima. Berikan padaku nomor ponsel mereka," tukas Neil.


Tak menunggu lama Pak Dudi mengeluarkankan ponselnya dan memberikan apa yang Neil minta. Neil pun lalu mengirimkannya pada Maura dan meminta adiknya itu untuk melacak nomor tersebut.


Neil dan Albar pun bergerak cepat saat Maura memberikan koordinat lokasi, sementara Najla mengamankan Pak Dudi dengan meminta bantuan Mahen, komisaris Magnolia yang sejak awal memang begitu mengkhawatirkan Jemima.


Jika Neil mengatakan bahwa supirnya terlibat, tentu Jemima tidak akan baik-baik saja karena akan semakin membebani pikirannya.


"Apa berita tentangku ada di mana-mana?" Tanya Jemima setelah hening beberapa saat.


"Begitulah," jawab Neil sambil terus menyetir.


"Penculik itu mengatakan mereka menculikku untuk mengalihkan isu korupsi..." ucap Jemima getir. "Bagaimana mereka bisa setega itu..." isaknya.


Alezo lalu meraih bahu Jemima dan menepuknya pelan untuk menenangkan gadis itu meski tak membantu.


Neil menarik nafas. Terang saja Maura mengatakan polisi satuannya tidak serius mencari Jemima. Ternyata pemerintah sendiri ikut andil dalam rencana penculikan Jemima. Sebobrok itu kah dunia politik sehingga menghalalkan cara apapun untuk menutupi kesalahan dan menggelabui rakyat?


"Apa kita bisa mengungkap kasus ini kepada publik? Sungguh ini benar-benar keterlaluan," cetus Alezo.


"Entahlah..." sahut Neil sambil terus melajukan mobil.


"Aku harus mengungkapnya," cetus Jemima tiba-tiba yang membuat semua orang terpana.


"Putar balik," titahnya kemudian.


***


Kalina memutuskan sambungan telepon dengan Frans, pria yang memberinya uang  milyaran tempo hari untuk membawa Jemima. Pria suruhan Menteri Wilayah Perbatasan itu dengan santainya mengatakan Jemima menghilang yang tentu saja membuatnya kebakaran jenggot.


"Kau tidak rugi, bukan? Kau mengatakan bahwa kau pun tidak menyukai gadis itu. So, tidak ada masalah," ujar Frans.


"Kau gila! Kesepakatan kita kau akan mengembalikan gadis itu dalam lima hari dan menjamin segala sesuatunya akan berjalan lancar!" Seru Kalina berapi-api.


Frans tertawa di ujung telepon yang terdengar begitu menjijikkan bagi Kalina.


"Everything ran smoothly, Kalina. Dari awal kau tau tujuan kami mengalihkan isu. We don't care about Jemima. Dan jika gadis itu kembali pun media akan menyorotinya tanpa henti. That's our goal," lanjutnya sambil melanjutkan tawa.


Kalina menggertakkan gigi. Sungguh ia merasa geram karena Frans cuci tangan atas yang telah terjadi.


"Kenapa eksekutormu tolol sekali. Jika ia tidak membawa Alezo gadis itu tidak akan mampu untuk kabur," sergah Kalina gusar.


"Jangan mengatai orang-orangku! Pria itu ada di lokasi dan kami akan ketahuan jika tidak membawanya!" Balas Frans emosi.


"Kau yakin dia tidak tahu apapun tentang rencana penculikan itu?" Selidik Kalina yang khawatir jika hal itu terungkap.


"Tentu saja! Mereka tidak akan mengetahuinya. Sudahlah, tenangkan dirimu,"


Kalina menggertakkan gigi. Sungguh ia geram pada Frans yang mencuci tangan atas apa yang telah terjadi. Dalam hati ia benar-benar berharap jika memang rencana mereka tidak akan terbongkar atau tamatlah riwayatnya.


Kalina tersentak ketika Mahen masuk ke ruangannya dengan tergesa. Ia datang bersama Pak Dudi, supir Jemima yang telah mengaku bekerja sama dengan penculik. Mahen lalu mendorong Pak Dudi hingga ia hampir terjatuh.


"Ada apa?" Tanya Kalina keheranan.


"Dia sudah mengaku menerima uang untuk membatu penculikan Jemima," seru Mahen emosi.


Darah Kalina berdesir. Ia tidak tahu jika supir Jemima juga terlibat. Frans tidak menjelaskan padanya bagaimana ia akan menculik Jemima. Jika supir Jemima ketahuan, apa ia juga akan terungkap sebagai orang yang membantu rencana penculikan itu?


"Sungguh aku akan melaporkanmu ke polisi," ujar Mahen sambil mengeluarkan ponselnya.


Mahen baru saja akan menekan nomor telepon polisi ketika menerima notifikasi instagram  bahwa Jemima menunggah video di lamannya..


"Jemima?" Gumam Maheh yang langsung membukanya.


"Hai. This is Jemima. Aku baru saja membebaskan diri dari penculikan yang menimpaku. Aku tidak sendirian, para penculik itu juga membawa Alezo. Here he is. Kami disekap di sebuah pabrik tua dan ini para penculik yang sudah aku dan Alezo lumpuhkan dengan susah payah,"


Video Jemima kemudian menunjukkan  dua penculik yang terikat di lantai.


"Para penculik ini mengakui penculikanku direncanakan untuk mengalihkan isu korupsi Menteri Wilayah Perbatasan. Berita tentangku saat ini sedang dibicarakan di seluruh media, bukan? Mereka menjadikanku korban karena CEO agensiku Magnolia setuju menerima bayaran tinggi untuk menyerahkanku. Rencana mereka menyekapku selama lima hari. Sayangnya aku berhasil melepaskan diri sebelum itu, dan polisi sedang dalam perjalanan. Satu lagi...Kalina, you are such a whore! I'll see you after this!"


Mahen terbelalak menonton video Jemima. Ia lalu beralih menatap Kalina yang tampak begitu tegang dan pucat.


"What is this, Kalina?" Tanya Mahen meminta penjelasan pada sang CEO


Kalina tercekat. Ia merasakan tubuhnya kaku tak dapat digerakkan karena rasa takut yang menjalar. Sementara Mahen mengumpat dan melemparkan vas bunga yang ada di meja lalu melemparkannya ke samping Kalina sehingga pecah berkeping-keping.


"You're a such a whore," ujar Mahen mengulangi ucapan Jemima.


Ia pun lalu keluar ruangan lalu mencabut kunci pintu yang tergantung.


"Tunggulah di sini bersama rekanmu hingga polisi datang," seru Mahen lalu mengunci pintu dari luar, meninggalkan Kalina dan Pak Dudi yang ketakutan.


***


Kantor Magnolia Entertainment seketika dipenuhi ratusan orang setelah menyaksikan video Jemima. Mereka bersorak memaki Kalina yang dengan tega memberikan Jemima untuk diculik untuk pengalihan isu politik. Orang-orang yang datang tidak hanya penggemar Jemima, namun penggemar artis lain yang bernaung di agensi Magnolia. Mereka khawatir idola mereka kelak akan bernasib sama dengan Jemima yang menjadi korban keserakahan Kalina sang CEO.


Tak lama kemudian terdengar sirine mobil polisi yang menembus masuk ke area kantor Magnolia. Beberapa polisi kemudian turun dan masuk ke dalam gedung untuk membawa Kalina yang sudah diamankan oleh Mahen.


"Tangkap Kalina!"


"Kalina such a whore!"


Teriakan netizen  semakin ramai ketika Kalina muncul saat digiring oleh polisi tangan diborgol. Mereka bahkan melemparkan sesuatu ke arah Kalina karena rasa kesal yang membludak karena bagaimana bisa seorang CEO agensi terbesar tega menyerahkan artisnya untuk diculik.


Ditengah hiruk pikuk netizen yang menyerbu Magnolia, seseorang dari dalam gedung memperhatikan dari kejauhan.


"****. Lalu bagaimana nasibku dengan Blossom?"


***