Why Can't I Hold You?

Why Can't I Hold You?
BAB 79



Bab 79


“Girls, can you guys stop crying?” cetus Jemima yang kebingungan karena Najla, Bria dan Calla yang terisak bersama-sama di tempat tidurnya.


“Aku akan menikah. Kenapa kalian menangisiku seolah aku meninggal?” lanjutnya gemas.


Jemima memang baru saja memberitahu para sahabatnya bahwa ia akan segera menikah dengan Alezo dua minggu lagi. Jangan tanya bagaimana reaksi mereka. Tentu saja heboh karena tak menyangka. Tak sampai setengah jam mereka semua bersamaan tiba di apartemen Jemima. Awalnya mereka melompat kegirangan mengucapkan selamat. Namun dengan cepat berganti dengan tangisan karena Brie yang tiba-tiba mengungkit perjalanan persahabatan mereka yang penuh cerita, dan tak menyangka salah satu dari mereka akan menikah. Padahal jangankan menikah, memiliki kekasih saja dulu tak pernah terbayangkan karena peraturan Magnolia yang melarang mereka berkencan.


“Najla, tangisanmu paling kencang. Bukankah kau tak mengingat tentang kita?”selidik Jemima yang keheranan.


“Aku menangis karena menyesal tidak mengingatnya,” jawab Najla.


Jemima, Brie dan Calla seketika mengerjapkan mata lalu saling memandang setelah mendengar kalimat Najla. ‘Masuk akal,’ pikir mereka dalam hati.


“Ehm…Aku hanya terlalu terharu,” ucap Bria setelah hening sejenak.


“Seperti mimpi. Kita semua tau bagaimana cerita dan perjuanganmu. Lalu sekarang kau akan menikah dengan pria yang kau cintai membuatku…membuatku…oh Tuhan Jemima you deserve this!!” seru Calla yang membuat para sahabatnya terperanjat dengan suaranya yang tiba-tiba meninggi.


Jemima tertawa kecil. Dalam hati sebenarnya ia terharu. Para sahabatnya ternyata begitu menyayanginya.


“Well…aku berdoa agar kalian juga kelak akan menikah dengan pasangan yang kalian cintai,” tukas Jemima.


“Amin!” seru Najla tiba-tiba yang membuat ketiga temannya memandangnya.


“Ah…kau pasti ingin menikah dengan dokter itu,” tukas Calla. “Huh…membuatku iri,”


Brie lalu mendekat pada Calla dan merangkulnya.


“Tenanglah. Kau pelan-pelan akan jatuh cinta pada Zack,”


“Zack? Who’s Zack?” tanya Jemima.


“Pria yang dijodohkan dengan Calla. Anak sahabat ayahnya. He’s hot but Calla belum yakin,”


“Ah…keluarga konglomerat seperti kalian sepertinya akrab dengan perjodohan, seperti di film-film,” celetuk Jemima.


“Begitulah,” desah Calla. “Aku mangkir dari perusahaan dan memilih menjadi penyanyi. Sebagai konsekuensi, aku harus menerima perjodohan,”


“Lalu kau, apa juga sudah dijodohkan?” tanya Najla pada Brie, mengingat mereka berdua adalah sepupu.


Brie tersenyum malu-malu lalu menyeka rambut di telinganya.


“Ehm…ya. Tapi kami saling menyukai. Kami sudah bertemu sejak kecil dan aku mengaguminya,”


“Menyebalkan. Kau begitu beruntung!” seru Calla yang disambut derai ketiga temannya.


Jemima kemudian memberikan papper bag berisi gaun indah yang ia siapkan untuk para sahabatnya. Jemima sengaja menyiapkannya karena mereka adalah orang-orang spesial dalam hidupnya dan harus menjadi bagian penting dalam hari pernikahannya.


“Oh my Godness!” Seru Calla setelah membuka gaun yang ia terima.


“Jemima…This is so beautiful!” Brie tak kalah heboh karena gaun berwarna tosca itu begitu cantik dan mewah.


“I can’t wait to wear this!” timpal Najla.


Jemima tersenyum puas karena gaun pilihannya ternyata disukai. Ia pun sama, tak sabar ingin melihat para sahabatnya yang akan terlihat cantik sempurna di hari pernikahannya.


***


Neil menggaruk kepalanya melihat saldo rekeningnya di mesin ATM. Ia kembali menghitung jumlah nol, dan hitungannya tetap sama.


“Kenapa uangku banyak sekali?” gumam Neil masih keheranan.


Ia ingat betul tabungannya baru menyentuh angka dua milyar yang baru terkumpul sejak ia menjadi dokter. Lalu darimana datangnya dua milyar lagi?


Neil segera beranjak setelah menyadari ia sudah cukup lama di depan ATM. Ia berjalan menuju parkiran, tak sabar untuk tiba di mobil dan segera pulang. Mengisi seminar lalu berlanjut rapat direksi dan satu operasi darurat cukup membuat Neil lelah. Perutnya pun sudah keroncongan, pertanda ia harus segera makan.


Neil tiba di apartemen setelah satu jam perjalanan. Begitu sampai di unitnya Neil segera menekan kunci sandi pintu. Betapa terkejutnya Neil ketika mendapat sesosok wanita berpakaian putih berdiri di depan pintu.


“Aaaah! Oh Tuhanku!” Pekik Neil.


“Aaaaah!!”


Tunggu, kenapa perempuan itu juga berteriak? Jadi dia manusia? Bukan hantu?


“Neil! Kau mengagetkanku!”


“Harusnya aku yang mengatakan itu, Najla,” cetus Neil.


Ia mengusap dada mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar, lalu menjatuhkan badannya di sofa.


“Kenapa kau di sini?” tanya Neil penasaran.


“Aku bosan. Tadi siang aku latihan di studio Magnolia lalu bertemu Jemima dan lainnya. Setelah itu…aku sendirian,”


Neil mengangguk. Ia kemudian mengusap rambut Najla yang kini sudah berada di pangkuannya. Sejurus kemudian Najla berpindah dan kini duduk di samping Neil dan memeluknya erat.


“Neil…ada yang ingin ku katakan,” ucap Najla.


“Apa itu?” Tanya Neil penasaran karena Najla tidak pernah meminta sesuatu.


“Hmm…tapi aku malu,”


Beberapa detik kemudian Najla hanya diam, membuat Neil semakin berdebar tak sabar.


“Aku ingin…tinggal bersamamu mulai hari ini!” seru Najla riang.


“What? Ah…maksudku, mulai sekarang? Hari ini?”


“Ya,” jawab Najla yang kemudian melepaskan pelukannya. “Kenapa kau begitu terkejut?”


Neil menelan ludah. Tempo hari saat ia melamar gadis itu mereka memang sudah membicarakan ingin tinggal bersama. Namun Neil tak mengira Najla menginginkannya secepat itu.


“Kau tidak mau? Kau berubah pikiran?” cecar Najla dengan ekspresi memelas.


“Bukan…bukan begitu, Najla. Aku hanya terkejut,” sanggah Neil.


“Tentu aku mau tinggal bersamamu,” lanjut Neil. “Aku kira kau tidak akan secepat ini menginginkannya?”


“Aku kesepian, Neil. Entahlah, akhir-akhir ini aku selalu murung setiap pulang bekerja. Rasanya aku sudah bosan hidup sendiri,” jawab Najla.


Neil terhenyak. Ternyata Najla selama ini terbelenggu sepi yang membuatnya tak nyaman. Mereka memang tinggal berdekatan, namun tetap saja ada jarak.


“Apa tidak masalah dengan Magnolia?” tanya Neil hati-hati.


Najla memutar bola matanya. Gadis itu kemudian bangkit dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil soda.


“Magnolia tidak ada urusan dengan kehidupan pribadiku, Neil. Bahkan jika kita menikah besok pun tak akan menjadi masalah!”


Nada bicara Najla terdengar ketus, membuat Neil tertampar. Dia sudah melamar Najla, namun masih membiarkan gadis itu hidup sendiri.


“Baiklah, kita tinggal bersama mulai hari ini,” ucap Neil tersenyum.


Ia lalu merentangkan tangan mengundang Najla ke dalam pelukannya. Gadis itu pun tak ayal segera berlari kecil menghambur ke dada Neil yang langsung memeluk gadis itu erat. Sungguh, memeluk Najla selalu memberinya energi dan rasa hangat yang begitu nyaman. Ia pun seketika kewalahan karena Najla mengecup pipinya bertubi-tubi.


“By the way, apa ada uang yang masuk ke rekeningmu?” tanya Najla tiba-tiba.


Neil terhenyak. “Tunggu, jadi kau yang mengirim uang itu?”


“Ah jadi sudah masuk? Syukurlah,”


“Apa maksudnya kau mengirum uang sebanyak itu?!”


“Hmm…aku sudah menjual apartemenku. Dan aku memberikan rekeningmu untuk pembayaran,” jelas Najla tanpa beban.


“What?!” Sungguh, Neil benar-benar terkejut mendengar penjelasan Najla.


“Jika uangnya ada padaku bisa-bisa akan habis dalam sekejap,”


Neil menggelengkan kepala usai Najla berkata demikian. Ia baru saja akan berbicara namun sang kekasih sudah berlari menuju kamarnya dan menutup pintu.


***


Satu hari menjelang pernikahannya Jemima merasa sangat berdebar. Besok hidupnya akan berubah. Dirinya tak lagi ia miliki sendiri, namun akan menjadi milik Alezo sebagai seorang suami. Tak ada keraguan sedikitpun dalam diri Jemima, namun tak ia pungkiri ada sisi hatinya yang merasa sedih. Sedih melepas masa-masa yang ia lalui, dimana Jemima tak punya tempat bergantung selain pada dirinya sendiri. Ia kira ia akan bahagia tanpa cela ketika akan menikah dengan Alezo. Nyatanya, ada perasaan sendu yang menggugu.


Jemima memacu mobilnya menuju makam sang ibu. Kali ini rindunya terasa berbeda. Ada gejolak yang mendesak ingin bertemu sang ibu barang sebentar. Tentu mustahil. Tuhan tak pernah mengembalikan apa yang telah ia panggil.


Jemima berlutut mengusap nisan sang ibu, berdoa dalam hati memohon dengan sungguh-sungguh akan kebahagiaan wanita yang melahirkannya ke dunia di atas sana.


“Ibu…besok aku akan menikah,” gumam Jemima kemudian.


“Aku yakin ibu akan datang meski aku tak dapat melihat ibu,” lanjutnya.


Usai berkata demikian, entah darimana datangnya seekor kupu-kupu putih hinggap di batu nisan. Jemima lalu teringat bahwa dulu sering ada kupu-kupu putih di halaman rumah mereka yang dipenuhi bunga mawar milik sang ibu. Kupu-kupu itu tetap diam meski tangan Jemima menggapainya, bahkan menurut saat gadis itu berhasil memegangnya.


“Cantik sekali,” gumam Jemima takjub.


Ia pun beranjak setelah sinar matahari semakin terik, dan kupu-kupu putih itu pun terbang dan dengan sekejap menghilang dari pandangan Jemima.


“Aku baru tahu bahwa kupu-kupu terbang secepat itu,”


***